22.4 C
Bogor
Tuesday, March 31, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 49

Masuk Swasta, Siswa Miskin Diguyur Bantuan Rp3 Juta

0

Bogor | Jurnal Bogor

Carut marut Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025 di Kota Bogor, membuat Komisi IV DPRD memanggil Dinas Pendidikan (Disdik) agar peristiwa serupa tak terulang pada 2026 ini.

Sekretaris Komisi IV, Subhan mengatakan, berdasarkan rapat bersama dengan Disdik, pada SPMB 2026 akan dibuatkan sistem terintegrasi antara sekolah negeri dan swasta.

“Disdik akan mengupayakan kerjasama dengan sekolah swasta untuk menampung calon siswa yang tidak diterim di negeri. Sebab, nantinya dalam sistem terintegrasi itu akan ada tiga pilihan sekolah untuk calon siswa, dua di antaranya negeri dan satu swasta,” ujar Subhan kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).

Nantinya, kata Subhan, calon siswa yang tak diterima di negeri bisa masuk ke swasta, dan akan diberi bantuan oleh pemerintah sebesar Rp3 juta per tahun untuk membayar SPP.

“Kuota untuk bantuan siswa disediakan 2 ribu slot. Karena itu nantinya Nomor Induk Siswa (NIS) akan terintegrasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) agar tepat sasaran. Sebab, bantuan ini diperuntukan bagi siswa miskin,” ucap politisi Partai Demokrat itu.

Kata Subhan, di Kota Bogor terdapat sebanyak 72 SMP swasta, dan 54 sekolah di antaranya disebut kualitasnya sama dengan sekolah negeri.

“Pilihan sekolah swasta yang masuk dalam sistem itu, tetap berdasarkan zonasi. Jadi nggak bisa ngacak,” ucapnya.

Selain itu, Komisi IV juga mendukung penuh upaya Disdik menambah ruang kelas baru (RKB) di luar dua sekolah SMP Negeri 22 dan 23.

“Jadi ada tiga SMP Negeri yang akan ditambah RKB, tentunya akan menambah jumlah rombel di sekolah. Kami akan mensupport secara anggaran agar bisa direalisasikan,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Bank BJB Buka Ruang Debitur

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Penundaan pembayaran dari kas daerah pada awal tahun anggaran 2026 ini, Bank bjb Kantor Cabang Cibinong menyatakan komitmennya untuk mendampingi para debitur, khususnya para kontraktor penyedia jasa pemerintah yang terdampak.
Kepala Kantor Bank BJB Cabang Cibinong, Budi Jamaludin, menjelaskan bahwa pihaknya memahami situasi adanya penyesuaian administrasi dan jadwal pembayaran sejumlah proyek daerah pada tahun anggaran 2025. Hal ini diakui berdampak pada arus kas (cash flow) sebagian kontraktor yang menerima pembiayaan dari bank bjb.
“Bank bjb memahami adanya penyesuaian administrasi dan jadwal pembayaran sejumlah proyek daerah pada tahun anggaran 2025 yang berdampak pada arus kas sebagian kontraktor penerima pembiayaan,” ujar Budi Jamaludin kepada Jurnal Bogor saat dikonfirmasi, Minggu (11/1).


Sebagai langkah antisipasi, Budi menegaskan bahwa bank bjb tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) serta tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Saat ini, pihak bank tengah melakukan penelaahan mendalam terhadap progres pekerjaan proyek sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Lebih lanjut, bank bjb juga membuka pintu komunikasi seluas-luasnya bagi para debitur untuk merumuskan solusi keuangan yang tepat.
“Kami membuka ruang komunikasi dengan debitur yang terdampak guna membahas dan merumuskan solusi terbaik, sehingga keberlangsungan usaha seluruh pihak yang terkait dapat tetap terjaga,” tambahnya.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa kewajiban debitur tetap berjalan beriringan dengan kemampuan finansial mereka, sekaligus menjaga stabilitas ekosistem pembangunan di daerah. Para debitur diharapkan dapat segera berkoordinasi dengan pihak bank untuk membahas langkah-langkah strategis yang diperlukan demi menjaga keberlangsungan usaha dan kepentingan bersama.n Herry Setiawan

Moralitas APBD Harus Pro RakyatPrioritaskan Belanja Pemerintah Sebagai Daya Ungkit Ekonomi Rakyat

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Bupati Bogor Rudy Susmanto meminta agar seluruh jajaran pengguna APBD harus mengutamakan kepentingan rakyat. Pesan itu disampaikannya saat memimpin rapat koordinasi bersama jajaran Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Bogor, Kamis (7/1/2026).
“Anggaran daerah bukan sekadar angka, tetapi instrumen untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Setiap kebijakan yang kita ambil harus berorientasi pada kepentingan publik,” tegas Bupati Bogor Rudy Susmanto.
Rudy memimpin rakor TAPD yang bertujuan menyatukan persepsi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. Termasuk penekanan terhadap komitmen Pemkab Bogor dalam menghadirkan kebijakan anggaran yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam arahannya, Rudy menekankan setiap keputusan yang diambil dalam proses penganggaran merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara moral dan administratif.
“Oleh karena itu seluruh jajaran TAPD saya minta untuk memastikan setiap program dan kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat serta selaras dengan arah pembangunan daerah,” tegas Rudy.
Melalui rapat koordinasi itu, Pemkab Bogor berupaya memastikan proses perencanaan dan penganggaran daerah dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berlandaskan prinsip kehati-hatian.
“Dengan demikian, setiap rupiah anggaran daerah diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bogor,” pungkas Rudy Susmanto seperti dikutip dari rilis yang diberikan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bogor yang dikutip Jurnal Bogor.
Angka APBD Tidak Pernah Netral
Sebelumnya hal serupa sudah disampaikan oleh Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Bogor periode 2019-2024, Yuyud Wahyudin kepada Jurnal Bogor, Senin (5/1/2026). Yuyud menyampaikan kritik keras kepada Pemkab Bogor terkait gagal bayar atau tunda bayar pekerjaan Tahun Anggaran 2025 pada 31 Desember 2026.
Kritikus dan mantan anggota DPRD ini menegaskan bahwa angka tidak pernah netral karena APBD sering dipresentasikan sebagai instrument keberpihakan. Angkanya dibahas berbulan-bulan melibatkan DPRD dan diumumkan sebagai bukti kinerja pemerintah.
“Angka itu tidak pernah netral karena diperdebatkan di DPRD sebagai representasi publik. Namun pengalaman Bogor menunjukan kenyataan pahit karena angka bisa patuh pada prosedur tetapi gagal memenuhi keadilan. Bagi birokrasi, tahun anggaran selesai saat sistem tutup dan laporan dikirim,” kata Yuyud.
Yuyud juga mengemukakan harus ada desain kebijakan yang menempatkan prosedur di atas keadilan fiskal. Negara tidak boleh menjadikan sistem sebagai dalih untuk menghindari tanggungjawab. Pertanyaan yang sah diajukan publik, kata Yuyud adalah belanja apa yang diprioritaskan? Siapa yang diputuskan untuk dibayar lebih dulu? Setiap kebijakan anggaran selalu bersifat politis, dan karenanya selalu punya dampak sosial.
Pemikir kritis asal Leuwiliang, Bogor, lalu memberi saran agar anggaran belanja negara baik nasional maupun daerah harus memiliki moralitas. Anggaran publik bukan sekadar dokumen keuangan.
“Anggaran negara adalah kontrak moral antara negara dan rakyat. APBD punya moralitas kepada publik. Satu prinsip harus ditegakkan tanpa kompromi. APBD tidak boleh dianggap selesai selama kewajiban negara belum ditunaikan. Tanpa itu, kita hanya akan terus menyaksikan laporan keuangan yang rapi di atas kertas, sementara keadilan fiskal compang-camping di lapangan,” tandas Yuyud.
Moralitas APBD Utamakan Pertumbuhan Ekonomi
Terpisah, terjadi diskusi menarik di seputaran kompleks perkantoran Pemkab Bogor, yakni pertanyaan mana yang lebih dulu dibahas dalam merancang APBD? Apakah pengeluaran atau pemasukan ke kas daerah? Salah satu pendapat dari pria jebolan jurusan Studi Ekonomi Pembangunan universitas swasta ternama di Jakarta yang enggan disebut namanya berpendapat.
“Bahas dulu rencana pengeluarannya baru bahas pendapatan. Dari rencana belanja pengeluaran ini mana yang akan memantik pertumbuhan ekonomi masyarakat dan seberapa besar dayaungkitnya pada tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat. Ketika ternyata defisit atau minus, baru masuk utang dan itu dilegalkan dalam teori ekonomi pembangunan karena belanja negara punya moralitas untuk lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar anak sulung dari empat bersaudara.
Moralitas belanja ini harus dipastikan menjadi stimulus kesejahteraan masyarakat. Namun keputusan utang juga harus disikapi hati-hati karena ada beban biaya keuangan yang harus dikeluarkan. Antara biaya yang akan ditanggung dan pertumbuhan ekonomi masyarakat harus lebih besar pertumbuhan ekonominya.
“Fungsi utang itu leverage atau pengungkit. Kalau belanja pakai utang tapi tidak produktif maka akan sia-sia. Maka pastikan utang untuk belanja produktif yang berdampak pada produktivitas ekonomi masyarakat,” kata jebolan magister IPB.n Herry Setiawan

Kontraktor Apresiasi Itikad Baik PemkabDinas PU Kumpulkan Penyedia Jasa Bahas Pembayaran Termin

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Sejumlah kontraktor mengapresiasi keseriusan Pemkab Bogor dalam menangani tunda bayar pekerjaan proyek tahun anggaran 2025 dengan positif. Meskipun penundaan bayar itu harus mewajibkan kontraktor membayar bunga utang tambahan, namun keseriusan adalah ikhtiar utama yang layak diacungi jempol.
“Mengumpulkan para penyedia jasa oleh Pemkab Bogor ini tidak mudah. Ini layak diapresiasi positif dan saya terus terang sudah mendapat kepastian kapan pekerjaan saya dibayar dan dilunasi,” ujar Irsan (49) salahsatu penyedia jasa yang perusahaannya dipanggil Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Bogor, Rabu (7/1/2026).
Saat ditanya wartawan terkait adanya dugaan tata kelola keuangan yang kurang baik, Irsan menjawab diplomatis.
“Saya tidak dapat mengomentari hal itu karena bukan kompetensi saya menjawabnya dan bukan ranah saya menjawab itu. Saya hanya ingin masalah ini diselesaikan, dan mengumpulkan kontraktor saat ini adalah langkah yang sangat positif dan sangat saya apresiasi,” ujar jebolan jurusan Tehnik Sipil Universitas Trisakti Angkatan 1994.
Senada dengan Irsan, Direktur CV Vitaloka Junior, Rico Hermes Batlolone juga mengapresiasi positif langkah Pemkab Bogor memberi kepastian pembayaran pekerjaan tahun anggaran 2025.
“Ini sangat bagus dilakukan Pemkab Bogor. Kami sudah dapat kepastian pembayaran pekerjaan yang sudah selesai kami kerjakan sesuai kontrak yang kami tandatangani bersama PPK di Dinas Pekerjaan Umum,” tegas pengusaha muda jebolan IPB.
Rico bahkan tidak terlalu mempersoalkan pekerjaan yang dibayar di Januari dan awal Februari 2026 meskipun harusnya sudah dibayar 31 Desember 2025 lalu.
“Pembayaran yang tertunda sebulan masih bisa kami toleransi dan yang terpenting adanya keseriusan Pemkab Bogor mengatasi masalah ini. Pertemuan ini benar-benar sangat kami apresiasi positif. Salut buat Dinas PU dan Pemkab Bogor secara keseluruhan. Mereka professional dan bertanggungjawab,” tegas Rico.
Sejumlah pendapat itu terungkap dalam rapat konsolidasi yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor di Ruang Rapat Jembatan kantor DPU, Rabu (7/1/2026) sore. Sebanyak 101 penyedia jasa konstruksi diundang Kepala Dinas PU dengan tema pembahasan Pencairan Termin.
Dalam dialog itu, PPK dan Kepala Dinas PU memastikan bahwa pekerjaan yang sudah terbit Surat Perintah Membayar (SPM) sudah diserahkan ke Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor.
Di antara sejumlah SPM itu ada pekerjaan yang sudah 100 persen selesai dikerjakan dan ada yang masih berproses hingga kini dengan terbitnya SPM 80 persen, SPM 90 persen. Namun itu semua dipastikan akan dibayar Pemkab Bogor dalam waktu dekat. “Kami sudah berupaya maksimal dan kami pastikan dibayar melalui BPKAD,” kata Kepala Dinas PU Suryanto Putra.
Suryanto Putra menjelaskan, bahwa pihaknya berperan menuntaskan persoalan terhadap proyek tahun kemarin yang belum terbayarkan.
“Atas perintah Pak Bupati, agar semua ini cepat diselesaikan. Total anggaran yang belum terbayar di PU itu ada sekitar 200 Milyar dan yang sudah keluar SPM tadi ada 112,” jelas Suryanto
Lebih lanjut ia memaparkan, pihaknya terus melakukan langkah terbaik terhadap para penyedia jasa yang telah menyelesaikan kewajibannya.
“Dananya untuk bayar cukup, makanya tadi ini semua direkonstruksi dulu, dikumpulin datanya. Tetapi kalau pekerjaannya yang belum selesai 100 persen, nanti akan dibayarkan di APBD perubahan,” tandasnya.
Terpisah, penyedia jasa di Dinas Pendidikan, Agung Hari Wibowo mengatakan dapat menoleransi penundaan pembayaran tersebut. Terpenting bagi pelaku usaha adalah kepastian pembayaran agar usahanya dapat terus berjalan.
“Saya sudah diundang oleh salahsatu dinas di Pemkab Bogor dan sudah mendapat penjelasan adanya kepastian pembayaran di akhir Januari dan paling telat di awal Februari 2026 ini. Ini sangat saya apresiasi positif,” kata Agung.n Noverando H | Herry S

Bank BJB Masih Kaji Jika Ada Permohonan Relaksasi Bunga Utang Debitur

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Fenomena ganjil gagal bayar yang kemudian diubah diksinya menjadi tunda bayar oleh Pemkab Bogor memiliki konsekuensi hukum pelanggaran asas umum pemerintahan yang baik dan ancaman wanprestasi. Hal itu dikatakan Wakil Rektor 1 Universitas Djuanda (Unida), Ciawi, Bogor, Dr. Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H. kepada Jurnal Bogor, Selasa (6/1/2026).
“Gagal bayar proyek Pemkab Bogor adalah pelanggaran asas umum pemerintahan yang baik dan ancaman wanprestasi,” tegas Aal yang punya kompetensi penyusunan dokumen hukum dan penyusunan kontrak.
Gagal bayar yang kini diubah menjadi tunda bayar merupakan praktik administrasi pemerintahan yang buruk. Jika fenomena ini terbukti benar sebagai fakta jelas ada pelanggaran asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB).
“Isu gagal bayar proyek pengadaan barang/jasa oleh Pemkab Bogor hingga Januari 2026 merupakan praktik administrasi pemerintahan yang buruk. Jika fenomena ini terbukti benar sebagai sebuah fakta, ini jelas melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB),” kata Aal.
Dalam Undang-Undang Administrasi Pemerintahan ada penekanan pentingnya AUPB dalam setiap tindakan pemerintah. Dalam kasus tunda bayar ini, lanjut Aal, ada dua asas krusial yang dilanggar Pemkab Bogor.
“Pertama Asas Kecermatan. Keputusan dan tindakan pemerintah harus didasarkan pada informasi lengkap dan dipersiapkan dengan cermat. Kegagalan membayar proyek menunjukkan kurangnya kecermatan dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Kedua, Asas Pelayanan yang Baik. Pemerintah wajib memberikan pelayanan yang tepat waktu, sesuai prosedur, dan peraturan. Gagal bayar berarti Pemkab Bogor tidak memberikan pelayanan yang baik kepada penyedia yang telah memenuhi kewajibannya,” ujar Aal melalui komentar tertulisnya.
Dosen Pengantar Ilmu Hukum Unida ini mengatakan, apapun alasannya seperti kendala transfer dari pemerintah pusat ke rekening kas umum daerah, Pemkab Bogor berpotensi besar melakukan wanprestasi.
“Artinya, Pemkab Bogor berpotensi ingkar janji dengan tidak melakukan pembayaran sesuai kontrak yang sudah disepakati. Ini berujung pada konsekuensi hukum yang harus diantisipasi lebih jauh,” kata Aal sambil menjelaskan bahwa penyedia berhak mendapat kompensasi gantirugi karena keterlambatan pembayaran.
Lebih lanjut, akademisi yang pernah menulis artikel ilmiah berjudul Model Perlindungan Hukum kepada Kreditur Beritikad Baik Terhadap Putusan Non Executable pada 2024 lalu ini, menjelaskan akan lebih buruk lagi jika tunda bayar ini disebabkan oleh ketiadaan anggaran.
“Lebih parah lagi jika gagal bayar ini disebabkan ketiadaan anggaran. Ini adalah bencana perencanaan anggaran. Dalam Perpres Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dengan tegas melarang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menandatangani kontrak jika anggaran belum tersedia atau tidak cukup,” kata dosen yang juga mengajar mata kuliah Terminologi Hukum.
Oleh karena itu, pria berkepala plontos berjenggot tebal ini berharap agar Pemkab Bogor segera menyelesaikan tunggakan itu dan harus dijadikan pelajaran ke depan agar perencanaan anggaran dan pelaksanaan proyek dilakukan dengan lebih cermat.
“Agar tidak menimbulkan masalah hukum dan merugikan para penyedia jasa. Minimal ketika ada gugatan secara perdata harus ada konsekuensi yang dapat ditanggung dalam bentuk ganti kerugian yang diakibatkan oleh keterlambatan pembayaran. Itu jika ada gugatan wanprestasi,” tandas Aal.
Terpisah, Kepala Kantor Bank BJB Cibinong Budi Djamaludin saat diminta tanggapannya terhadap fenomena tunda bayar proyek tahun anggaran 2025 oleh Pemkab Bogor, terkait pertanyaan apakah akan ada relaksasi pembayaran bunga utang kepada debitur yang proyeknya tertunda dibayar masih akan berkoordinasi dengan pimpinan pusat Bank BJB.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabaraktuh. Terkait hal tersebut nanti saya konsultasikan dulu ke kantor pusat,” ujar Budi Djamaludin kepada Jurnal Bogor, Selasa (6/1/2026).
Seperti diketahui, sejumlah penyedia barang dan jasa umumnya menggunakan fasilitas pembiayaan proyek dari bank mitra pemerintah daerah yakni Bank BJB. Dengan adanya tunda bayar dari Pemkab Bogor, para penyedia jasa terdampak harus membayar bunga bank sesuai sukubunga berjalan saat ini yang akan dikenakan perbulan.
Di satu sisi, perbankan saat akan memberikan fasilitas pembiayaan kepada debitur akan melakukan konfirmasi kepada PPK sebagai pemberi kerja dalam kontrak kegiatan pemerintah. Konfirmasi dari pihak PPK akan menentukan apakah permohonan debitur akan diberikan oleh kreditur yang nilainya sesuai permohonan atau ditolak.
Namun di sisi lain, ketika debitur tertunda membayar utang ke Bank BJB, prosedur konfirmasi kepada PPK tidak dilakukan oleh perbankan, padahal akan terjadi potensi meningkatnya non performance loan (NPL) atau kredit macet dari debitur kepada kreditur, sebagai bentuk monitoring.n Herry Setiawan

Ironi Besar, Negara Gagal Penuhi Janjinya

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Bogor periode 2019-2024, Yuyud Wahyudin menanggapi kritis kegagalan Pemkab Bogor membayar tagihan kegiatan yang sudah selesai dikerjakan penyedia jasa pada 31 Desember 2025 pukul 23.59 WIB. Menurut Yuyud, terdapat ironi besar dalam menata keuangan daerah, padahal anggaran sudah disahkan dan proyek selesai dikerjakan dengan berdarah-darah namun rakyat tidak dibayar tepat waktu oleh pemerintah daerah Kabupaten Bogor.
“Ini namanya negara gagal membayar tepat waktu rakyatnya. Ironi besar dalam tatakelola keuangan daerah kita,” tegas Yuyud melalui rilis yang dikirim ke Jurnal Bogor, Senin (5/1/2026).
Menurut Yuyud, kasus gagal bayar ratusan proyek oleh Pemkab Bogor di tahun anggaran 2025 dengan sisa kas daerah Rp51 Miliar bukan persoalan teknis administrasi biasa. Ini suatu peringatan keras tentang krisis operasional kebijakan anggaran.
“Sebab dalam negara hukum kegagalan membayar kewajiban bukan urusan sepele remeh temeh. Itu adalah pengingkaran janji publik,” kritik jebolan IPB.
Kritikus dan mantan anggota DPRD ini menegaskan bahwa angka tidak pernah netral karena APBD sering dipresentasikan sebagai instrument keberpihakan. Angkanya dibahas berbulan-bulan melibatkan DPRD dan diumumkan sebagai bukti kinerja pemerintah.
“Angka itu tidak pernah netral karena diperdebatkan di DPRD sebagai representasi publik. Namun pengalaman Bogor menunjukan kenyataan pahit karena angka bisa patuh pada prosedur tetapi gagal memenuhi keadilan. Bagi birokrasi, tahun anggaran selesai saat sistem tutup dan laporan dikirim,” kata Yuyud yang baru dianugerahi tokoh Koperasi Kabupaten Bogor 2025 karena berhasil merintis koperasi Khairu Ummah yang kini beromset ratusan miliar rupiah.
Yuyud mengatakan bahwa bagi rakyat kecil, kontraktor lokal, pekerja proyek, tukang bangunan belum pernah benar-benar berakhir karena hak yang belum dibayarkan. Maka di sinilah letak kesalahan fatal Pemkab Bogor karena APBD kehilangan norma etiknya kepada rakyat. “Ini jelas kegagalan etika karena APBD telah kehilangan norma etiknya,” ujarnya yang mengaku sangat prihatin atas kasus ini.
Lantas kemudian, lanjut Yuyud, alasan klasik Pemkab Bogor diungkap ke publik bahwa ada kegagalan sistem transfer dari pusat ke daerah, keterlambatan administrasi pengajuan dari kontraktor ke pemkab. “Itu semua adalah alasan klasik yang mengungkap gejala birokrasi yang lebih taat pada mesin daripada kewajiban negara pada rakyatnya,” kata Yuyud.
“Jika sistem ditutup sementara rakyat belum dibayar, maka masalahnya bukan pada rakyat, melainkan pada desain kebijakan yang menempatkan prosedur di atas keadilan fiskal. Negara tidak boleh menjadikan sistem sebagai dalih untuk menghindari tanggungjawab,” kata Yuyud.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Djatnika mengatakan Pemkab Bogor akan membayar semua tagihan yang sudah menjadi Surat Perintah Membayar (SPM) yang sudah diterbitkan dinas terkait. Komentar ini ditanggapi keras Yuyud Wahyudin bahwa kas habis adalah keputusan politik.
“Kas daerah yang menipis bukan fenomena alam. Ia adalah hasil dari pilihan. Ketika kewajiban pembayaran proyek tidak tertunaikan, pertanyaan yang sah diajukan publik adalah belanja apa yang diprioritaskan? Siapa yang diputuskan untuk dibayar lebih dulu? Mengapa kewajiban kontraktual justru menjadi korban. Tidak semua kebijakan anggaran yang keliru adalah korupsi. Namun setiap kebijakan anggaran selalu bersifat politis, dan karenanya selalu punya dampak sosial. Dalam kasus ini, dampaknya jelas! Ekonomi lokal terguncang dan kepercayaan publik tergerus!”.
Lebih lanjut, Yuyud menuliskan bahwa negara sebagai debitur selama ini absen dari sanksi. Suatu ironi terbesar dari kasus seperti ini adalah ketimpangan perlakuan. Rakyat yang telat bayar pajak dikenai denda. Penyedia yang telat menyelesaikan pekerjaan dikenai penalti.
“Namun ketika negara telat membayar, siapa yang menanggung akibatnya? Jawabannya hampir selalu sama, rakyat kecil kembali diminta bersabar. Negara pun berubah menjadi debitur besar tanpa sanksi, bersembunyi di balik regulasi yang ia ciptakan sendiri. Ini ironi terbesar negara dalam hal ini Pemkab Bogor nyata melakukan itu,” ujar cendikiawan muslim Bogor Barat ini.
Menurut pemikir kritis asal Leuwiliang ini, ada krisis yang lebih luas dari Bogor bahwa kasus gagal bayar Pemkab Bogor ini seharusnya tidak dibaca sebagai kegagalan satu daerah, melainkan sebagai cermin problem nasional, budaya anggaran yang mengejar serapan, bukan pemenuhan kewajiban.
“Selama APBD diperlakukan sebagai daftar belanja yang harus dihabiskan sebelum 31 Desember, bukan sebagai janji negara yang harus ditepati, maka gagal bayar hanya tinggal menunggu waktu di daerah mana pun,” kata Yuyud.
Kendati demikian, Yuyud memberi saran agar anggaran belanja negara baik nasional maupun daerah harus memiliki moralitas. Anggaran publik bukan sekadar dokumen keuangan.
“Anggaran negara adalah kontrak moral antara negara dan rakyat. Ketika kontrak itu dilanggar, yang rusak bukan hanya neraca keuangan, tetapi legitimasi kekuasaan itu sendiri. Jika negara ingin kembali dipercaya, maka satu prinsip harus ditegakkan tanpa kompromi. APBD tidak boleh dianggap selesai selama kewajiban negara belum ditunaikan. Tanpa itu, kita hanya akan terus menyaksikan laporan keuangan yang rapi di atas kertas, sementara keadilan fiskal compang-camping di lapangan,” tandas Yuyud.n Herry Setiawan

Dewan Nilai Ada Kelalaian Fatal

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Bogor, Achmad Yaudin Sogir menanggapi keras kelemahan pengelola keuangan Pemkab Bogor sehingga berakibat gagal bayar kegiatan kepada para penyedia jasa di 31 Desember 2025 pukul 23.59 WIB. Sogir menduga ada kesalahan manajerial keuangan di Pemkab Bogor.
“Ada kesalahan manajerial di keuangan Pemkab Bogor. Belanja daerah gegabah, Bappedalitbang serampangan dalam perencanaan. Ada ketidakmatangan dalam manajerial keuangan dan perencanaan,” ujar pria yang akrab disapa Sogir kepada Jurnal Bogor, Ahad (4/1/2026).
Sogir menambahkan bahwa di 2026 Bappedalitbang yang kini berganti nama menjadi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapedarida) dilarang copypaste dari perencanaan sebelumnya. Harus benar-benar matang antara ketersediaan anggaran, potensi pendapatan dan rencana kegiatan di 2026.
“Baperida dilarang copypaste perencanaan, termasuk di dinas teknis seperti DPUPR. Ini kan kebiasaan lama, selalu copypaste perencanaan, tidak menyesuaikan antara ketersediaan anggaran, potensi pendapatan dan rencana kegiatan di 2026. Stop main-mainlah di Bogor ini, keramat!” tegas Sogir.
Sogir menjelaskan kondisi keuangan di 31 Desember 2025 sesuai hasil rapat pada Jumat (2/1/2026) di Gedung DPRD Kabupaten Bogor, terdapat 3.000 berkas pengajuan yang harus dibayarkan pada 31 Desember 2025 paling akhir pukul 23.59 WIB. Namun faktanya hanya sebagian kecil yang diproses dan dibayarkan karena memang tidak tersedia anggaran.
“Memang kita rapat dengan jajaran eksekutif di Dewan di hari Jumat (2/1/2026). Mereka bilang ada kesalahan sistem transfer dari pusat ke daerah. Ada juga yang bilang ada human error. Informasi sebenarnya ya kami hanya disajika ada kesalahan sistem transfer dari pusat ke daerah. Dari 3.000 berkas hanya sebagian kecilnya yang diproses akhirnya ya gagal bayar,” tegas politikus PKB dapil 1 ini.
Di sisi lain, Sogir menegaskan bahwa Pemkab Bogor harus secara ksatria dan gagah berani menyampaikan ada kesalahan manajemen keuangan. “Harusnya ksatria, gagah berani sampaikan apa adanya, jangan sembunyikan kesalahan. Kalau memang salah ya salah. Inikan seperti ada yang ditutupi sehingga ada peristiwa gagal bayar,” tegas kyai asal NU.
Sogir mengingatkan bahwa Bupati Bogor Rudy Susmanto harus mengukur diri dengan kamampuan anggaran yang ada. Kabupaten Bogor ini sangat luas dan kompleks permasalahannya, tidak bisa dikerjakan dalam satu malam. Apalagi, lanjut Sogir, pembangunan digenjot dengan hawanafsu yang membabibuta.
“Bupati Bogor Rudy Susmanto harusnya dapat mengukur diri. Jangan pakai hawanafsu. Harus terukur. Kabupaten Bogor ini sangat luas dan tidak bisa pembangunan dilakukan dalam satu malam seperti Sangkuriang. Mengelola anggaran negara ini tidak bisa dengan nafsu, harus dengan perencanaan yang matang dan terkelola dengan baik dan terbuka termasuk ke semua anggota DPRD,” tandas Sogir yang mengaku diperintahkan Ketua DPC PKB Kabupaten Bogor Edwin Sumarga untuk menjelaskan kondisi gagal bayar Pemkab Bogor di 31 Desember 2025.
Sogir mengakui bahwa pembangunan di bawah kepemimpinan Rudy Susmanto memang sangat luarbiasa terlihat perbedaannya. Di wilayah Dapil 1 saja, ada banyak sekali penataan dan pembangunan sehingga membuat Cibinong dan sekitarnya mampu mengalahkan gemerlap kota-kota tetangganya.
“Bupati Rudy harus diakui telah sangat berhasil memoles Kabupaten Bogor, khususnya sementara ini di Cibinong dan sekitarnya. Sangat gemerlap, indah dan mewah bahkan kemilaunya mampu meredupkan kemilau kota-kota tetangga Cibinong. Itu harus kita akui bersama bahwa beliau layak disebut Bapak Pembangunan Kabupaten Bogor,” kata Sogir.n Herry Setiawan

Laga Persib Vs Persija, Polres Bogor Bikin Bobotoh dan The Jakmania Guyub

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Guna menjaga kondusifitas selama laga Persib dan Persija berlangsung, Polisi Resort (Polres) Bogor gelar nonton bareng dengan suporter kedua klub Liga 1 tersebut, di Aula Sanika Satyawada (SS) Mako Polres Bogor, Cibinong, Minggu (11/1).

Kegiatan nobar dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 150 orang yang terdiri dari pejabat utama Polres Bogor serta perwakilan suporter Persib dan Persija.

Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto mengatakan, bahwa kegiatan nonton bareng ini merupakan sarana untuk memperkuat kebersamaan, persatuan dan sportivitas antar pendukung klub sepak bola.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mempererat silaturahmi serta menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif, khususnya menjelang dan selama pertandingan berlangsung. Ini bentuk pendekatan humanis Polri kepada masyarakat,” tegas Wikha.

Pertandingan dimulai dengan kick off babak pertama pada pukul 15.00 WIB. Pada menit awal pertandingan, tepatnya pukul 15.05 WIB, Persib Bandung berhasil mencetak gol pembuka yang membawa keunggulan sementara 1–0 atas Persija Jakarta.

Babak pertama berakhir pada pukul 16.20 WIB dengan skor sementara 1–0 untuk keunggulan Persib Bandung. Selanjutnya, seluruh peserta kegiatan melaksanakan makan bersama sebagai wujud kebersamaan dan mempererat hubungan antara Polri dan para suporter.

“Tidak ada euforia kemenangan yang berlebihan, artinya dengan sewajarnya. Dengan itu juga tidak menyakiti pihak lain yang memicu aksi tidak diinginkan. Artinya berbeda dukungan tetapi saling berdampingan itu indah,” kata Wikha.

Pertandingan berakhir pada pukul 17.27 WIB dengan skor akhir tetap 1–0 untuk kemenangan Persib Bandung. Kegiatan nonton bareng secara keseluruhan selesai pada pukul 17.30 WIB dan berjalan dengan aman serta lancar.

“Kami berharap ini dapat menumbuhkan semangat sportivitas, persaudaraan, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Bogor,” tutup Wikha. n Noverando H

Capai 60 Persen, Pembuatan MCK di Batutulis Dikebut

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Pembangunan infrastruktur sanitasi MCK dan toilet di Batutulis, Nanggung, Kabupaten Bogor yang tengah dikerjakan masyarakat di lingkungan mereka kini hampir rampung.

Diawali swadaya masyarakat dalam pembuatan sumur gali dan septictank, sedangkan bahan materialnya berasal dari bantuan PT Antam TBK, UBPE Pongkor yang mendukung jalannya pembangunan sarana MCK tersebut.

Perwakilan PT. Antam beberapa waktu lalu, saat menyambangi lokasi pembangunan tersebut Dul mengatakan, keinginan masyarakat untuk pembangunan MCK tersebut begitu kuat.

MCK dapat dimanfaatkan orang banyak, meskipun pembangunan MCK dikerjakan oleh masyarakat di lingkungan sekitar.

“Masyarakat sangat membutuhkan fasilitas MCK,” ujarnya.

Sebelumnya warga sekitar bergotong royong dengan membuat septictank hingga malam hari mengingat ada saja yang masih BAB ke kali.

“Maka MCK terutama toilet salah satu fasilitas penting untuk kesehatan dan kebersihan masyarakat di lingkungan,” pungkas masyarakat sekitar, Dede.

** Arip Ekon

Burung Kontes Merpati di Ciampea Dihargai Puluhan Juta

0

Ciampea l Jurnal Bogor
Harga burung merpati dapat melambung tinggi terutama merpati balap. Menariknya, jika juara harganya pun sangat fantastis mencapai puluhan juta hingga miliaran.

Seperti merpati yang diterbangkan peserta di komunitas Persatuan Merpati Tinggi Indonesia (PMTI) Bogor Barat di ajang lomba ring putaran pertama yang dihelat di Lapak Ciampea, Kabupaten Bogor, Sabtu (10/1/2026), harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Salah satu peserta tersebut, Bolang mengaku merpati miliknya sempat menjadi incaran sesama penghobi hingga dihargai Rp20 jutaan. Burung merpati yang bernama Dominic itu telah banyak tawaran namun tak dijual.

“Pernah ditawar 20 juta, namun gak dijual harganya belum ada yang cocok,” katanya.

Menjaga burung tetap energik, Bolang berujar kunci utama performa merpati terletak pada perawatan dan kesehatan. “Pola perawatan dan latihan itu penting, intinya kesehatan. Kalau merpati fit, kerjanya maksimal,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Lapak Ciampea, Aan, menyebut kegiatan ini berjalan meriah.

“Ini kegiatan perdana, pesertanya sekitar 82 sampai 84 dan semuanya semangat,” ujarnya.

Peserta lomba mayoritas berasal dari wilayah Leuwiliang, Ciapus, dan Dramaga. “Yang jadi juara tentu yang tercepat dan terbagus,” tutupnya.

Sementara, Ketua PMTI Bogor Barat, Aria Suryadinata, menyampaikan bahwa jumlah peserta pada lomba perdana ini mencapai puluhan burung peserta menjadikan Bogor Barat sebagai wilayah dengan peserta terbanyak.

“Alhamdulillah, lomba ring putaran pertama PMTI Bogor Barat diikuti 82 peserta. Ini terbanyak,” kata Aria.

Dalam lomba tersebut, burung merpati bernama Dominic dari tim MBC keluar sebagai juara pertama. Sementara posisi juara dua diraih oleh burung bernama Iney JR.

Aria menjelaskan, prestasi dalam lomba menjadi penentu nilai jual burung merpati. “Kalau burung sudah berprestasi, berarti sudah ada angka harganya,” ujarnya.

Ia juga menilai, sejak terbentuknya PMTI Bogor Barat, komunitas merpati mulai tertata dan terorganisir dengan baik.

Ke depan, PMTI Bogor Barat akan menggelar lomba secara berkeliling di enam lapak yang ada di wilayah Bogor Barat, yakni Ciampea, Cibungbulang, Pamijahan, dan Leuwisadeng.

“Besok juga kita akan mengadakan event lagi di sini, ada doorprize. Putaran lomba ini akan terus berjalan di beberapa lapak,” katanya.

Menurut Aria, jenis burung merpati yang bagus adalah burung yang berprestasi. Ia juga menyebutkan rencana PMTI Bogor Barat untuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar merpati-merpati di wilayah Bogor Barat dapat dicek kesehatannya.

Soal harga, Aria menyebut nilai burung merpati sangat bervariasi. “Harganya ada yang puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, bahkan puluhan juta. Kalau di tingkat nasional, ada yang sampai miliaran,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat melirik komunitas merpati di Bogor Barat karena dinilai memiliki nilai ekonomi dan perputaran UMKM bagi masyarakat. PMTI Bogor Barat juga menargetkan lahirnya bibit-bibit unggul yang nantinya bisa diikutkan ke lomba tingkat nasional.

** Arip Ekon