30.4 C
Bogor
Saturday, April 11, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 466

Terapkan Genta Organik, P4S Tani Makmur Pasuruan Ikut Andil Selamatkan Rp150 Triliun

0

Pasuruan | Jurnal Bogor
Rangkaian kunjungan kerja Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP berlanjut ke Jawa Timur. Kali ini, kunjungan dilakukan bersama tim dari BBPP Ketindan, BBPP Batu, Polbangtan Malang dan di kawal oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kab.Pasuruan, singgah di P4S Tani Makmur, Pasuruan, Jawa Timur Selasa (26/9).

Dedi Nursyamsi

P4S Tani Makmur sangat menarik perhatian terutama dalam penerapan Gerakan Tani Pro Organik (Genta Organik), hal ini diimplementasikan dengan menggunakan produk hasil P4S Tani Makmur sendiri seperti, agensi pupuk hayati, bio control trichoderma, dan parasitoit.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasi atas inovasi-inovasi yang dilakukan dalam pertanian.

“Pertanian membutuhkan inovasi agar dapat menghasilkan pangan untuk masyarakat dan tentunya memberikan penghasilan lebih untuk petani. Bertani itu menguntungkan,” sebut Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, yang berkunjung ke P4S Tani Makmur memuji penerapan Genta Organik.

“Parasitoit mengendalikan hama penggerek batang ini, sangat inovatif dan membuat saya kagum ya, jika menggunakan bio control seperti ini saja kita bisa menyelamatkan 12 juta ton beras dalam satu musim tanam yang setara dengan sekitar 156 triliun rupiah,” tegas Dedi.

Dedi juga mengajak seluruh petani untuk menggunakan metode Smart Farming agar dapat terus menggenjot produktivitas dan menekan ongkos produksi.

Ketua P4S Tani Makmur, Khofifah, sempat menjelaskan mekanisme penggunaan dan komposisi takaran yang tepat secara singkat kepada Kepala BPPSDMP.

Penjelasan tersebut direspon baik oleh Dedi. “Semoga hadir Khofifah – Khofifah lain di seluruh  Indonesia agar kebutuhan pangan di indonesia akan tetap tercukupi dan bisa ekspor,” tandas Dedi.

** bbpmkp

Kolaborasi dengan Pemdes dan DLH, PT Antam Dukung Kampung Ramah Lingkungan

0

Nanggung l Jurnal Bogor
PT Antam Tbk UBPE Pongkor menyatakan mendukung Kampung Ramah Lingkungan (KRL) yang diverifikasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Selasa (26/9/2023). DLH  memverifikasi lapangan KRL Bumi Lestari di Kampung Tegal Lega Permai RW 07, Desa Kalongliud, Nanggung, Kabupaten Bogor.

Menurut CSR Manager PT Antam Tbk, UBPE Pongkor Arif Rahman Saleh, program ramah lingkungan erat berkaitan dengan PT Antam dengan melakukan kemitraan yang telah berjalan beberapa tahun lalu dan telah menjalankan sejumlah program.

“Pegawai PT Antam  sekitar 40 hingga 50 persen  itu, bermukin di lingkungan RW 07. Tahun ini Desa Kalongliud  terdapat beberapa kegiatan  salah satunya  program Kampung Ramah Lingkungan yang dipusatkan di Kampung Tegal Lega Permai RW 07,” ujar CSR Manager PT Antam Arif Rahman Saleh.

Dia menjelaskan alasan RW 07 karena salah satu yang menjadikan kampung ramah lingkungan karena bagian masyarakat yang bermukim di lingkungan tersebut tak sedikit yang berasal dari karyawan PT Antam.

“Banyaknya pegawai PT Antam yang bermukim, jadi kami mempunyai tanggung jawab untuk mengelola lingkungan di RW 07,” jelasnya.

Dengan demikian, PT Antam menyatakan mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan Pemerintah Desa Kalongliud dengan dibentuknya kampung  ramah lingkungan.

“Hal ini kami sependapat terutama sampah-sampah itu harus dikelola. Sebab, kalau tumpukan sampah itu dibiarkan ujung-ujungnya warga yang tinggal disini yang terkena dampak. Semoga  program ini kedepan terus berjalan dengan baik,” harapnya.

Menurutnya, mau tidak mau, ada program atau tidak, sampah ini harus dikelola. Namun sampah akan lebih mudah bila pengelolaannya dimulai dari rumah tangga. Gerakan kampung ramah lingkungan ini juga sejalan dengan program PT Antam.

“Sebenarnya sampah ini tidak menjadi masalah kalau dikelola dengan baik, bahkan bisa menghasilkan nilai ekonomi,” ungkapnya.

“PT Antam tentu saja mendukung dan mensupport untuk berkolaborasi dengan pemerintah desa begitu juga Dinas Lingkungan Hidup dalam mensukseskan RW 07 untuk menjadikan kampung  yang ramah lingkungan,” tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Kalongliud, Muspika Nanggung, manajemen CSR PT Antam Pongkor, para ketua RW, tokoh agama dan masyarakat.

** Arip Ekon

Ramadhan Sananta Tiba di Tiongkok

0

Hangzhou | Jurnal Bogor
Tim U-24 Indonesia menyambut kedatangan Ramadhan Sananta yang sudah tiba di Tiongkok hari ini, Selasa (26/9).

Ramadhan Sananta

Sananta tiba bersama dengan Ketua Komite Ad Hoc – Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji dan dijemput oleh beberapa ofisial tim.

“Saya harus siap 100 persen, karena kalau kita dipanggil, harus siap berikan segalanya. Senang juga bisa bergabung dengan teman-teman yang lain,” ucap Sananta setibanya di Tiongkok dilansir dari laman resmi PSSI, Selasa, 26 September 2023

Adapun, dirinya berharap di laga babak 16 besar melawan Uzbekistan nanti bisa bermain sebaiknya.

“Doakan kami supaya bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara, terutama untuk saya agar bisa memberikan 100 persen,” ujarnya.

Sementara itu menurut Sumardji, perjalanannya dari tanah air menuju ke Tiongkok bersama Sananta berjalan dengan baik, aman dan lancar. “Dengan adanya Sananta yang datang bergabung di tim U-24, saya berharap bisa mengubah kekuatan tim, memberikan semangat juga ke pemain lain, lalu bisa lolos ke babak berikutnya,” ungkapnya.

Tim asuhan Indra Sjafri itu akan melawan Uzbekistan di babak 16 besar, setelah menang tipis 2-1 atas Hongkong. Babak 16 besar akan digelar tanggal 28 September 2023.

** asep syahmid

Skuad Timnas U-17 Cepat Adaptasi di Jerman

0

Jakarta | Jurnal Bogor
Pelatih tim U-17 Indonesia, Bima Sakti menegaskan bahwa para pemainnya cepat beradaptasi dengan lingkungan di Jerman, itu setelah mereka tinggal selama satu minggu lebih di sana, sehingga tidak ada kendala dalam menerapkan arahan dari pelatih.

“Karena kita latihan di suhu 8-9 derajat celcius, tapi Alhamdulillah para pemain cepat beradaptasi,” Bima Sakti usai latihan dilansir dari laman resmi PSSI, Selasa (26/9).

Selama minggu pertama di Jerman, menu latihan yang diberikan oleh pelatih adalah menyerang.

“Kita banyak latihan menyerang selama seminggu ini, untuk minggu depan kita akan mantapkan satu lawan satu dan bagaimana satu lawan satu butuh support dari pemain gelandang,” ungkap Bima.

Dalam waktu dekat, Tim U-17 akan melakoni laga melawan tim lokal, TSV Meerbusch U-17, pada Rabu (27/09) malam waktu setempat. Ini menjadi uji coba pertama tim asuhan Bima Sakti selama di Jerman.

“Yang pasti kita akan memakai beberapa formasi (untuk ujicoba), yang formasi biasanya kita pakai, beberapa variasi lagi. Ini biar para pemain lebih mengerti lagi dengan dua formasi yang berbeda,” tutup Bima.

** asep syahmid

Tidak Layak Huni, Rumah Janda di Ciderum Butuh Perbaikan

0

Caringin | Jurnal Bogor
Hunian seorang janda berusia 51 tahun, di Kampung Ciletuh, RT 04 RW 08, Desa Ciderum, Caringin, Kabupaten Bogor sangat memprihatikan. Dengan begitu, kehadiran pemerintah untuk membantu janda anak dua ini sedang dinantikan.

Bernama lengkap Diah Qoisah (51) seorang ibu rumah tangga, yang sudah ditinggal suaminya sekitar 10 tahun yang lalu, saat ini tengah berjuang keras untuk menghidupi kedua anaknya yaitu Silvia (19) dan Sefti (15).

Dengan penghasilan yang pas-pasan Diah tidak dapat memperbaiki rumah yang dia tinggali, meski dia selama ini mendapat bantuan sosial PKH dan BPNT.

Tetangga Diah, Baping mengatakan, kondisi rumah yang tinggali oleh ibu dua anak ini cukup memprihatinkan. Namun tidak mematahkan semangatnya untuk terus berjualan gorengan yang digelutinya 10 tahun yang lalu selama ditinggal pergi suaminya.

“Dengan kondisi rumah yang sudah tidak layak huni Bu Diah terus bertahan dan berjuang demi kedua anaknya,” katanya, Selasa (26/09/2023).

Dia mengaku kondisi rumah yang sudah tidak layak huni tampak dari penopang genteng  yang sudah keropos, membuat dirinya sering was-was saat berada di dalam rumah, terlebih saat hujan deras melanda.

“Saat hujan dan angin kencang, suka was-was kalau sedang di dalam rumah. Sekiranya kalau ada bantuan dari pemerintah kita merasa bersyukur sekali,”  tuturnya.

** Andres

Musrenbangdes Desa Sukaluyu Prioritaskan Peningkatan Infrastruktur

0

Nanggung | Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Sukaluyu, Nanggung, Kabupaten Bogor melakukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) Penyusunan RKPDesa Tahun 2024 di aula desa, Senin (26/9/2023).

Musrenbangdes yang dihadiri unsur masyarakat mendapatkan sejumlah usulan prioritas seperti jalan dan TPT yang diharapkan dapat dilaksanakan, khususnya peningkatan infrastruktur karena Desa Sukaluyu mayoritas masyarakatnya petani.

Sekretaris Desa Sukaluyu Iip Maulana mengatakan, sebelum melaksanakan Musrenbangdes pihaknya malaksanakan musdus di wilayah masing-masing dusun, disana mereka musyawarah dan mengusulkan setiap kegiatan untuk tahun 2024.

“Saya tekankan kepada para kepala dusun, untuk membuat usulan sesuai dengan prioritas, jadi tidak semua usulan itu harus dimasukkan tetapi yang harus prioritas dulu,” katanya, Senin (26/09/2023).

Dia menjelaskan, usulan tersebut masuk ke desa yang kemudian dicatat dan penetapannya di Musrenbangdes sesuai dengan hasil usulan musdus. “Jadi untuk penetapan RKPDes itu dilaksanakan pada saat Musrenbangdes,” beber Iip.

Menurut Iip, hampir semua dusun memiliki titik yang akan dibangun, kendati nanti akan dilihat prioritas yang harus diutamakan dan disesuaikan dengan anggaran dan harus diverifikasi bersama BPD.

Dia berharap, tahun depan anggaran di desa dapat ditingkatkan mengingat banyak PR pembangunan untuk kemajuan desa.

“Setiap usulan yang prioritas itu dapat dilaksanakan dan yang belum menjadi prioritas itu juga akan dilaksanakan. Walaupun sumbernya bukan dari APBDes, kita upayakan bisa bersumber dari mana saja, pemerintah  desa akan upayakan, supaya usulan-usulan setiap dusun itu tercover,” pungkasnya.

** Andres

Elly Rachmat Yasin Bersama Dwi Aryanti dan 10 Para Caleg DPRD PPP se-Dapil 3 Berikan Bantuan Kursi Roda

0

Bogor | Jurnal Bogor

Elly Rachmat Yasin, Anggota DPR RI bersama Dwi Aryanti, Caleg DPRD Prov Jabar dan 10 para Caleg DPRD Kabupaten Bogor se- dapil 3 dari partai persatuan pembangunan (PPP), memberikan bantuan 17 kursi roda kepada warga yang mengalami kesulitan berjalan, Selasa (26/9/2023).

“Serah terima kursi roda ke warga itu, untuk para penerima manfaat di dapil 3. Penyerahan kami lakukan di posko pemenangan pileg 2024 dapil 3 yang berlokasi Cibogo – Megamendung,” kata Dwi Aryanti, Caleg DPRD Prov Jabar Dapil VI dari PPP Kabupaten Bogor kepada wartawan.

Menurut Dwi, bahwa pemberian bantuan ini berkat kebersamaan para caleg DPRD Kabupaten Bogor dari se – dapil 3, agar dapat meringankan beban yang dialami oleh warganya yang membutuhkan dan terkendala biaya jika harus membeli kursi roda tersebut secara langsung.

“Pemberian bantuan ini saya harap bisa sedikit meringankan beban bapak ibu, warga kami yang membutuhkan. Apalagi jika memang warga tersebut kesulitan untuk membeli secara langsung, oleh karena itu wajib kita berikan bantuan,” jelasnya.

Ia berharap agar bantuan kursi roda tersebut dapat dipergunakan untuk memudahkan aktifitas para penerimanya yang kondisi tidak sehat.

“Semoga bantuan kursi roda ini bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan harian lainnya. Setidaknya bisa mengurangi beban mereka,” harapnya.

Salah satu penerima bantuan kursi roda, Sulaeman warga asal Cisarua sangat gembira saat mendapatkan bantuan kursi roda tersebut.

“Alhamdulillah saya bahagia banget diberi bantuan ini. Terimakasih untuk Ibu Elly Rachmat Yasin dan Ibu Dwi serta 10 para caleg dapil 3 semoga kebaikannya bisa bermanfaat dan diberikan kesuksesan dan kelancaran selalu,” ujarnya.

** yev

Kesan Membanggakan Pegawai Dispora Menjadi Wasit Catur Asian Games 2023

0

Hangzhou | Jurnal Bogor

Masyarakat olahraga Kabupaten Bogor terutama keluarga besar Dispora Kabupaten Bogor tengah diselimuti rasa bangga.

Endar Sakti Lubis, salah satu pejabat di Dispora Kabupaten Bogor dan menjadi delegasi wasit asal Indonesia yang tengah bertugas jadi wasit catur pada event Asian Games 2023 di Hangzhou, China.

Menururnya, ia berada di Hangzhou dari tanggal 21 September sampai 8 Oktober untuk bertugas jadi wasit catur pada Asian Games 2023.

Endar menambahkan, jadi wasit pada event Asian Games tidak mudah, karena harus ada syarat yang telah ditetapkan.

” Persyaratan jadi wasit Asian Games, yang bersangkutan harus bergelar wasit Internasional, direkomendasikan oleh Federasi Catur Asia dan Federasi masing masing negara dan wasit yang bersangkutan tidak memiliki masalah selama bertugas menjadi wasit,” tegas Endar Sakti Lubis, Selasa, 26 September 2023

Selama berada di China, Endar mengaku Cuaca di China sangat sejuk cenderung hujan, saat ini sedang musim semi, jadi tidak panas. Suhu kira-kira 15 sampai 18 derajat Celcius.

Selain itu, kata Endar, tidak ada adaptasi khusus terkait cuaca.

” cuaca di China sejuk di musim semi dan tidak ekstrem seperti musim dingin bersalju misalnya,” tambahnya

Lebih lanjut, kata Endar, Kota kota yang ada di China sangat tertata dengan rapih, peruntukan untuk bangunan dan lahan pertanian tertata dengan baik.

” Jalan untuk kendaraan roda empat terpisah dengan kendaraan roda dua, jadi rapih dan tidak semrawut serta jarang macet,” pungkasnya.

** asep syahmid

Jawara BIA, SiBadra Tetap Bekerja Full 24 Jam

0

Inovasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor menuai hasil. Melalui, SiBadra (Sistem Informasi Berbagai Aduan dan Saran), yang mampu merespons laporan warga selama 24 jam penuh, berhasil menjadi salah satu jawara di event Bogor Innovation Award (BIA) 2023.

Setiap usaha pasti membuahkan hasil. Begitu juga dengan ikhtiar Diskominfo dalam menyerap aspirasi, aduan, keluhan tentang pelayanan, pembangunan di Kota Bogor melalui aplikasi SiBadra mendapat respon positif dari warga Kota Bogor.

Saat ini warga Kota Bogor cukup mudah menyampaikan unek-unek soal pelayanan, informasi, permasalahan di Kota Bogor cukup melalui smartphone.

Tak heran bila program inovasi ini, bertengger di posisi kedua dalam kategori Perguruan Tinggi dan Lembaga atau Pelaku Usaha.

Kepala Diskominfo Kota Bogor, Rahmat Hidayat mengatakan, SiBadra berjalan efektif menyelesaikan permasalahan yang dirasakan masyarakat. Melalui channel SiBadra, keluhan dan laporan yang disampaikan warga dapat direspons tak lebih dari dua hari.

“Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memiliki operator SiBadra yang akan merespons setiap laporan yang masuk. Di Diskominfonya sendiri operator SiBadra bekerja full 24 jam, jadi semua laporan pasti akan ditanggapi,” terangnya.

Laporan itu nantinya akan ditindaklanjuti oleh para OPD terkait. Rahmat mengklaim, masalah itu akan langsung diselesaikan, terkecuali membutuhkan anggaran, sehingga butuh waktu untuk penganggaran terlebih dahulu.

Ia menyebut, laporan yang masuk di SiBadra juga menjadi atensi dari Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Rahmat mengungkapkan, Bima Arya sering meninjau langsung laporan-laporan itu dan terkadang menggelar inspeksi mendadak atau sidak dari laporan yang diterima.

“Setiap briefing dievaluasi oleh Pak Wali. Beliau minta ke kami pengaduan yang disampaikan. Aduan mana yang belum ditindaklanjuti ini jadi bahan evaluasi Wali Kota juga,” ungkap dia.

Rahmat mengatakan, seluruh masalah atau saran yang berkaitan dengan pelayanan Pemerintah Kota Bogor dapat disampaikan melalui SiBadra. Misalnya soal pohon melintang, rambu lalu lintas, lampu penerang jalan umum yang mati, jalan rusak, sampah, kemacetan dan Pedagang Kaki Lima (PKL).

Selain itu, SiBadra juga dapat menjadi wadah pelaporan masalah BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI), pengamen, pengemis, sarang lebah yang mengganggu, kebakaran, hingga kekerasan seksual.

Dirinya membeberkan, sejak dirilis pada tahun 2019 lalu, SiBadra saat ini sudah memiliki 100 ribu pengguna (versi Android) dan 20 ribu anggota (versi IOS).

Selain berbentuk aplikasi, SiBadra saat ini juga dapat diakses melalui Whatsapp di nomor 081196000060.

“Jika dibandingkan dengan sosial media, SiBadra lebih efektif dan terverifikasi karena yang bisa melaporkan hanya warga Kota Bogor dan jelas identitasnya. Laporan yang masuk juga terekam server kami dan apabila tidak ditanggapi selama 2 hari akan masuk ke akun milik Wali Kota dan jadi bahan evaluasi,” jelasnya.

SiBadra ini juga efektif dalam melaporkan praktik-praktik tidak baik di sekolah. Seperti saat Wali Kota Bogor, Bima Arya menerima laporan dugaan pungutan liar (Pungli) bisa langsung melapor ke nomor khusus laporan pungli di sekolah : 0852 1845 3813.

Kaum Pribumi Dalam Cengkraman Oligarky Aseng

0

Jurnalinspirasi.co.id – Bagus sekali artikel ini, menarasikan tentang sejarah dinamika ummat Islam Indonesia yang tertindas di negerinya sendiri dari masa ke masa.  

Hegemoni etnis China-Tionghoa (aseng) memang terus  berlanjut mewarnai kehidupan bangsa dan negara Indonesia, baik era pra dan maupun post Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945,  terus berlanjut.

Peristiwa pelanggaran HAM penggusuran etnis Melayu Islam Rempang, Kepulauan Riau dari habitat dan ekosistem aslinya, 16 Kampung Tua masyarakat adat Melayu, adalah salah satu fakta yang menjelaskan fenomena cengkraman oligarky.

Satu dasa warsa terakhir, poros Jakarta-Peking semakin menunjukan eksistensinya, dimana para oligarky China Tiongkok begitu kuat hegemoninya dalam mengarahkan, menentukan dan bahkan mendikte rezim yang berkuasa saat ini membuat kebijakan publik dan regulasi di bidang perekonomian, investasi dan bisnis mengikuti kemauan para Oligarky. Dalam praktik pelaksanaan regulasinya bertentangan dengan tujuan bernegara sebagaimana isi Pembukaan UUD 1945, dan sila-sila Pancasila sebagai sumber norma dan kaidah hukum NKRI.

Saya kira kita harus pelajari sejarah mengapa peminggiran (marginalisasi) ummat Islam Indonesia terus terjadi, seperti yang dialami etnis Melayu Islam pulau Rempang, Kepulauan Riau, baru-baru ini.

Faktor-faktor atau variabel apa yang sebenarnya yang membuat nasib ummat terabaikan begini ? Terzholimi digusur dari habitat asli (endegonus people) dengan cara paksa, militeristik dan biadab. Apa yang dilakukan rezim berkuasa saat ini dalam pengembangan investasi dan bisnis adalah cara-cara primitif dan kuno, yang tak sesuai dengan norma dan kaidah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang telah dirumuskan, disepakati atau diputuskan menjadi komitmen dilaksanakan bersama dari masing-masing negara anggota PBB, termasuk Indonesia di dalamnya.

Kaum intelektual muslim Indonesia seperti ICMI, Muhammadyah, NU, Kahminas, Persis, Matul5 Anwar, Perti, Al Irsyad, PUI, dan banyak lagi ormas Islam yang lain, kita harus memahami gejala sosial politik dan ekonomi (investasi dan bisnis perdagangan dan industri serta perbankan) akhir-akhir ini, terutama satu dasa terakhir di era Jokowi, yang menempatkan umat Islam Indonesia pada lapisan bawah (low class), termarginalkan atau bahkan paling bawah (lowest class) dalam strata sosial berbasis ekonomi.

Hal ini terus berlangsung gejala sosial hingga kini, lihat dan pelajari dari data penguasaan atau kepemilikan aset produktif seperti lahan perkebunan Sawit (baca salah satu diantaranya kasus kriminal Surya Darmadi, CEO Duta Palma), property dll, dan sangatlah tidak pantas ketimpangan sosial ekonomi ini terjadi sebagaimana ditunjukan angka gini ratio sangat tinggi berkisar 0.38-0.42, sinyal lampu merah. Ketimpangan sosial yang sangat tinggi. Ini namanya ketidakadilan sosial, dengan istilah agama Islam namanya “penzholiman”.

Gejala pergeseran aset publik (negara dan komimunal/hak ulayat) bergeser ke pemilik pribadi si aseng seperti yang terjadi dalam pengelolaan lahan perkebunan sawit dan konsesi lahan tambang yang pro private coorporacy. Dampaknya tidaklah heran, konsentrasi ekonomi dan aset nasional berada dan milik pada segelintir orang dari kaum oligarky aseng. Hal ini sangat bertentangan dengan Sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Gejala sosial negatif ini aneh bin ajaib, dimana ulama, kiyai, ustadz dan santri (kaum pribumi) telah berjuang habis-habisan berkorban darah dan nyawa untuk merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI. Kok sekarang bisa menjadi tamu dan merasa asing di negerinya sendiri. Nauzubillahi minzalik.

Kita harus ingat peristiwa puncak perlawanan rakyat pada tgl 10 November 1945 di Surabaya, dan peristiwa bersejarah dan simbol perlawanan pribumi Indonesia  (yang zaman VOC disebut kaum Inlander, warga kelas 3 dimasa itu), kok kini Indonesia sudah merdeka, masih dikuasai etnis China-Tionghoa lagi.

Anak-cucu kita wajib diingatkan bahwa setiap tgl 10 November kita peringati Hari Pahlawan Nasional, yang didahului Hari Santri Nasional sebagai apresiasi  terhadap adanya fatwa jihad KH Hasyim Asya’ri, tokoh ulama dan pendiri Nahdhatul Ulama (NU), Pahlawan Nasional kita.

Almukarrom syech (KH) Hasyim Asya’ri telah memberikan energi perlawanan-berperang yang dahsyat ketika itu, Bung Tomo memekikan kalimatullah  “Allahu Akbar” berkali-kali di RRI Surabaya untuk menggelorakan semangat berperang menumpas penjajahan tentera sekutu/KNIL yang ingin “comeback” menguasai Tanah Air Indonesia.

Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah SWT Indonesia pun Merdeka.

Bahkan yang sering merusak tatanan sosial masyarakat bangsa ini adalah kaum China-pengusa besar yang disebut kaum oligarky, yang hidup mewah yang menimbun dan bergelimang harta hasil dari perbuatan haram dan melanggar hukum seperti suap- menyuap dan sogok-menyogok elite politik (korupsi, kolusi), permafiaan dalam perdagangan ekspor impor-juga politik-hukum, mafia bandar perjudian elektronik, penyalahgunaan narkoba, etc.

Sistem penegakan hukum nasional kita menjadi lumpuh, upaya penegakan hukum (law enforment) tajam kebawah dan tumpul ke atas, hukum tidak lagi menegakan kebenaran, akan tetapi bergeser kepada siapa yang mau dan mampu membayar, yang umumnya terlibat kaum oligarky yg memiliki uang yang banyak tak berseri, seperti yang banyak diberitakan di media massa dan media sosial.

Maaf, kebanyakan para aktornya adalah para oknum  dari kaum Chinese-Tionghoa karena memang mereka hidup tidak beragama, tidak bertuhan (ateis, komunis). Bagi mereka, yang machiafelis dan pragmatis, sah-sah saja mereka berperilaku menyimpang dari norma agama (haram), sosial dan budaya Indonesia tersebut yang tidak bermoral dan beretika tersebut, sehingga mereka berhasil menjadi konglomerat, pengeksploitasi SDAL secara besar-besaran (overexploitation) yang merusak ekosistem alam dan lingkungan, dan penimbun harta yang kaya raya, sehingga membuat hidup rakyat pribumi melarat dan marginal.

Kaum pribumi secara pelan dan pasti kehilangan aset produktifnya untuk bisa hidup yang layak seperti tanah (hutan dan perkebunan), air dan udara.

Status sosialnya dalam masyarakat Indonesia dulu hingga sekarang tetap sebagai warga masyarakat “kelas tiga” (inlander), yakni bekerja menjadi buruh, jongos, kacung, kuli dan pesuruh serta budak majikannya, terutama dalam pemenuhan kehidupan ekonomi, usaha bisnis dan investasi di negeri.  Hidup mereka dalam cengkraman kaum oligarky yang menguasai dan menguras sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (SDAL) Indonesia, karena mereka menciptakan para pemimpin Indonesia sejak doeloe hingga zaman Now sebagai mitra “boneka China”, bukan boneka India sebagai mana syair lagu Melayu tempo doeloe yang merdu itu.

Ingat pesan Bung Karno “Jasmerah” jangan melupakan sejarah. Terutama sejarah perjuangan bangsa untuk melepaskan dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang,  terutama penjajahan dewasa ini di bidang ekonomi kapitalis, berupa penguasaan, cengkraman oligarky-etnis China (aseng) yang telah menguasai hampir semua lini bidang ekonomi di negeri ini.

Kaum elite politik (the ruling party) baik di birokrasi Pemerintahan, apalagi para wakil rakyat di Parlemen baik di pusat dan maupun di daerah wajib memahami dan menghayati hal ini,  sebuah kesadaran sejarah nasib sial dan malang dari kaum pribumi (inlander) di Indonesia terulang kembali.

Kita harus bekerja keras untuk mensosialisasikan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar dan kesadaran publik terhadap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita sebagai WNI yang baik, janganlah lengah, abai dan tetap selalu waspada akan ATHG tersebut, terutama intervensi dan aneksasi oleh kekuatan “Aseng dan Asing” kini dihadapan mata.

Produk perundangan-undangan spt UU Minerba, UU Cipta Kerja (omnibuslaw), UU IKN dll, sebenarnya tak  akan bisa keluar menjadi landasan legislasi dan kebijakan publik (public policy) nasional dewasa ini yang pro oligarky, jika para elite politik memiliki kesadaran sejarah perjuangan kebangsaan kaum pribumi tersebut. Kaum elite politik seharusnya senantiasa mengingat pesan dan amanat Sang Proklamator RI Ir.Soekarno… “Jasmerah”, jangan melupakan sejarah, kalau ingin menjadi bangsa yang besar dan bermartabat, serta berdaulat.

Berikutnya, saya merekomendasikan artikel sejarah “nasib-sial kaum pribumi Indonesia”, yang notabenenya “kaum sarungan”, ulama, ustadz, intelektuil, dan santri janganlah terus dipinggirkan, menjadi kaum tertindas (mustaafin) sepanjang masa. Kita kaum pribumi harus hidup  merdeka yang sesungguhnya dalam segala aspek kehidupan “ipoleksosbudhankam” di negeri ini.

Kita sangat berharap di masa depan, akan lahir para pemimpin negeri yang berkuasa dan berwenang (the ruling party) baik di eksekutif (presiden), legislatif (DPR dan DPRD) dan maupun yudikatif (penegak hukum) di pusat dan daerah, yang berkomitmen tinggi terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan dasar dan falsafah negara Pancasila dan landasan konstitusi UUD 1945. Mereka membuang jauh-jauh perbuatan kriminal KKN, dan tidak menjadi jongos dan antek para oligarky lagi, hidup bersih dan berdedikasi dalam memajukan kehidupan bangsa yang  bermartabat.

Harapan kita Kepala Negara dan Pemerintahan NKRI seperti Presiden dan Wapres RI-nya, dan juga Kepala Daerah seperti Gubernur, Bupati dan Wali Kota, kita berharap jangan lagi menjadi antek, jongos, kacung, boneka  dari para Oligarky dengan pola kerja KKN-nya yang merusak tatanan sosial kebangsaan, sehingga kaum pribumi, terutama umat Islam Indonesia menjadi warga yang tidak terhormat dan tidak bermartabat di Negeri-NKRI miliknya sendiri. Kini negeri ini seolah-olah milik kaum “asing based on aseng” sebagai mana gejala sosial yang kian tampak jelas, dan terus berlangsung hingga saat ini.

Harapannya kita harus mau dan mampu melepaskan belenggu cengkraman para oligarky dalam berbagai wajah dan bentuknya, agar Indonesia Emas tahun 2045 yang akan datang dapat terwujud sebagai negara maju dan moderen, rakyatnya terbebas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Semoga Allah SWT memberkahi kehidupan berbangsa dan bernegara yg adill dan berkemakmuran, terutama kaum pribuminya Indonesia sebagai soko gurunya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat, rakyatnya makmur yang berkeadilan dan sejahtera, Aamiin.
Save Rakyat, bangsa dan NKRI.
Wassalam

====✓✓✓

Penulis:
Dr Ir.H.Apendi Arsyad, M.Si
(Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Pendiri-Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor, Pegiat dan Pengamat Sosial)