jurnalinspirasi.co.id – Bulan Agustus 2025, yang seharusnya diwarnai sukacita Kemerdekaan, Justeru tidak bisa dirasakan oleh Warga RW 10 Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur Kota Bogor.
Warga Kelurahan Katulampa kedaulatannya dirusak oleh oknum pengusaha yg dilindungi oknum aparat.
Hal Tersebut karena terjadinya penutupan Akses Jalan yang sudah puluhan tahun digunakan oleh Warga, kini diserobot dan ditutup oleh Salah satu Pengusaha di Kota Bogor.
Penutupan jalan tersebut sontak membuat warga marah dan kecewa, karena Jalan yang berada di samping Sekolah Alam Ibnu Hajar tersebut sudah mereka gunakan selama puluhan tahun.
Sugiyono Ketua RW 10 Kelurahan Katulampa bersama warga RW 10, dengan sopan dan santun mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan dengan menyampaikan surat resmi nomor 149/006/RW10/KTL/VIII/2025 tertanggal 26 Agustus 2025 kepada Lurah Katulampa agar diberikan tanggapan serta penguatan oleh aparatur pemerintah agar tidak berpihak kepada Pengusaha yang melakukan penyerobotan tanah yang menjadi Jalan akses warga RW 10 selama ini.
Dalam surat tersebut, Pengurus RW 10 Kelurahan Katulampa menyampaikan bahwa, jalan disamping Sekolah Alam Ibnu Hajar yang memiliki Lebar satu meter tersebut adalah akses umum yang digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari. Sehingga penutupan paksa jalan tersebut menghambat lalu lintas lingkungan dan transportasi warga setempat dan selama ini digunakan sebagai jalan dari RW 10 menuju jalan utama ke akses fasilitas pendidikan, kesehatan dan transportasi umum” Ujar Sugiyono dalam surat yang disampaikan kepada Lurah Katulampa.
Kemudian, Warga juga menyayangkan bahwa penutupan jalan tersebut tanpa sosialisasi dan informasi dari Aparatur Pemerintahan.
Melalui surat tersebut, Ketua RW 10 Kelurahan Katulampa memohon kepada Lurah Katulampa agar menampung aspirasi dan keberatan warga, kemudian membuka kembali akses Jalan di samping Sekolah Alam Ibnu Hajar sebagaimana fungsinya untuk kepentingan umum serta meminta kepada Lurah Katulampa apabila terdapat alasan kuat penutupan jalan tersebut, agar disosialisasikan kepada warga, sehingga tidak dilakukan penutupan secara sepihak.
Agus, selaku Ketua LPM Kelurahan Katulampa ketika diajak warga untuk melihat langsung keadaan dilokasi, membenarkan bahwa jalan tersebut merupakan jalan yang sudah puluhan tahun digunakan oleh warga RW 10 Kelurahan Katulampa. Dan beliau berjanji akan berdiskusi dengan Lurah Katulampa untuk menampung aspirasi warga.
“Sedang menyamakan persepsi dan frekuensi dengan Lurah,” bebernya.
Hasbulloh, Tokoh Masyarakat Bogor Timur, Kota Bogor memberikan perhatian khusus pada proses penutupan Jalan Tersebut.
“Seharusnya aparatur pemerintahan setempat yaitu Lurah, segera responsif terhadap persoalan warga,” ungkapnya.
“Saya mendorong pemerintah kota Bogor baik tingkat Kelurahan, Kecamatan maupun walikota Bogor, jangan abai terhadap persoalan rakyat, apalagi Terkait dengan akses Jalan,” katanya.
Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono resmi menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputra Pratama langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/2025).
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas jasa luar biasa Wamentan Sudaryono dalam sektor pertanian nasional. Selama menjabat sebagai Wamentan, ia dinilai berhasil memperkuat program ketahanan pangan nasional, memperluas akses petani terhadap pupuk dan sarana produksi, serta mendorong berbagai kebijakan yang berpihak kepada petani.
Wamentan Sudaryono atau akrab disapa Mas Dar ini menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia memaknai penghargaan tersebut sebagai penyemangat untuk terus memajukan sektor pertanian di Indonesia.
“Saya lahir dari keluarga petani. Penghargaan ini saya persembahkan untuk para petani Indonesia yang tidak pernah berhenti bekerja keras memberi makan bangsa,” kata Wamentan Sudaryono usai menghadiri Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/2025) siang.
Ia menilai anugerah yang diterima sebagai semangat baru untuk melangkah lebih kokoh dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera melalui sektor pertanian.
Pria lulusan National Defence Academy (NDA) Of Japan ini juga menegaskan akan terus memperkuat kerja nyata di lapangan melalui program prioritas pangan strategis, modernisasi pertanian, hingga pengembangan petani muda.
“Ini tidak hanya penghargaan semata. Tapi pendorong bagi kami untuk terus melakukan upaya terbaik untuk mencapai swasembada pangan dan menyejahterakan petani,” pungkasnya. (Restu/BBPMKP)
Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman resmi menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna langsung dari Presiden RI, Prabowo Subianto, di Istana Negara pada Senin (25/8/2025).
Tanda kehormatan ini diberikan atas jasa luar biasa dalam bidang pertanian melalui program swasembada pangan, subsidi alat dan benih bagi petani, serta pengendalian impor strategis. Bintang Mahaputera Adipurna adalah kelas pertama dari tanda kehormatan Bintang Mahaputera. Kelas ini merupakan kelas tertinggi dari Bintang Mahaputera.
Mentan Amran menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk seluruh petani Indonesia.
“Jadi ini adalah penghargaan bagi petani Indonesia yang diberikan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia,” kata Mentan Amran usai Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia di Istana Negara.
Mentan Amran mengatakan penganugerahan tersebut merupakan apresiasi atas kontribusi nyata jajaran insan pertanian dalam mendorong ketahanan pangan nasional, peningkatan produksi pangan strategis, serta keberpihakan pada petani di seluruh Indonesia.
Seperti diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Mentan Amran selama ini konsisten menjalankan program-program strategis, mulai dari peningkatan produktivitas pangan, penguatan hilirisasi komoditas, hingga modernisasi pertanian dengan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Beberapa keberhasilan sektor pertanian di antaranya tidak adanya impor beras hingga Agustus 2025 di tengah krisis pangan global. Produksi pangan khususnya padi menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data FAO, USDA, dan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional melonjak dari 30,62 juta ton pada 2024 dan diperkirakan mencapai 33,8–35,6 juta ton pada 2025.
Cadangan beras pemerintah juga mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun, yakni 4,2 juta ton, jauh melampaui stok tahun lalu yang hanya sekitar 1 juta ton.
Dengan diterimanya penghargaan ini, Mentan Amran mengungkapkan komitmen jajaran Kementan untuk terus memperkuat langkah nyata dalam mewujudkan visi Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
“Kami akan terus bekerja keras untuk memastikan pangan Indonesia cukup, berdaulat, dan mampu menyejahterakan petani,” ungkap Mentan Amran.
Sebelumnya, Mentan Amran pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Istana Negara, pada November 2020 silam.
Selain itu, atas dedikasinya di bidang pembangunan pertanian, pada tahun 2007, Mentan Amran juga menerima penghargaan Satya Lencana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
PEKANBARU – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) terus berkomitmen meningkatkan kualitas SDM sawit melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS). Salah satunya dengan mendorong penguatan kelembagaan pekebun agar lebih tangguh, mandiri dan berdaya saing.
Komitmen itu diwujudkan lewat Pelatihan Penguatan Kelembagaan Angkatan I di Pekanbaru, Riau, 24 Agustus–3 September 2025. Kegiatan ini diikuti 69 peserta dari empat kabupaten sentra sawit: Kuantan Singingi, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Rokan Hulu.
Dalam pelaksanaan, BPDP menggandeng Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) sebagai UPT Kementerian Pertanian yang fokus pada manajemen, kepemimpinan, dan kelembagaan.
Langkah ini sejalan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan pentingnya membangun SDM pertanian yang kuat, baik teknis maupun kelembagaan.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan tantangan pembangunan sawit tak cukup hanya dengan peningkatan produksi.
“Penguatan kelembagaan jadi kunci karena menjadi wadah petani untuk berkembang bersama, membangun jejaring, dan meningkatkan nilai tambah secara kolektif,” ujarnya.
Pelatihan ini membekali peserta dengan materi strategis, mulai dari pengembangan kelembagaan pekebun, manajemen kemitraan, kepemimpinan kelompok, administrasi keuangan, perencanaan ekonomi rumah tangga, hingga pengelolaan sawit berkelanjutan. Peserta juga melakukan kunjungan lapang ke kelompok tani.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Baginda Siagian, menambahkan bahwa dengan penguatan kelembagaan, pekebun bisa lebih efisien, produktif, dan berbagi pengetahuan dengan yang belum ikut pelatihan. Inilah semangat kolektif yang kita bangun.
Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP, Inneke Kusumawaty. Menurutnya, kelembagaan yang kuat akan jadi motor kemandirian pekebun, memperluas jejaring usaha, dan meningkatkan nilai tambah. Pelatihan ini, lanjutnya, juga mengasah kepemimpinan, komunikasi, manajemen kelompok, serta semangat wirausaha.
Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi menilai pelatihan ini relevan untuk menjawab tantangan produktivitas dan kelembagaan yang masih lemah di Riau sebagai sentra sawit terbesar di Indonesia. Ia berharap peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh agar kelembagaan sawit rakyat makin tangguh dan berkelanjutan.
Kepala Bagian Umum BBPMKP, Sutrisno Sipahutar, menambahkan, yang kita bangun bukan hanya kemampuan teknis, tapi juga kepemimpinan, kerja sama, dan cara mengelola usaha. Dengan begitu, kelembagaan sawit rakyat bisa semakin kuat.
Lewat kolaborasi BPDP dan BBPMKP ini, diharapkan kelembagaan pekebun sawit Riau tumbuh lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus melahirkan kader-kader pekebun yang mampu menjadi motor penggerak di komunitasnya.
jurnalinspirasi.co.id – Aksi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat menyampaikan aspirasi di Balaikota Bogor pada Kamis (21/8/2025), dinilai sebagai ekspresi kekecewaan terhadap kepemimpinan Wali Kota Bogor saat ini.
Demisioner Ketua HMI MPO Cabang Bogor 2023–2024, Irfan Yoga, menyayangkan sikap Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang dianggap terlalu reaktif dalam menanggapi peristiwa tersebut. Menurutnya, esensi aspirasi mahasiswa tidak semestinya direduksi hanya pada persoalan coretan di dinding.
“Sebagai mahasiswa, saya hanya ingin mengingatkan Pemkot dan Polresta Bogor, ekspresi berupa coretan di dinding bukanlah poin utama dari penyampaian aspirasi. Yang lebih penting adalah bagaimana Pemkot melakukan evaluasi total atas kepemimpinan hari ini, yang memang banyak menuai kritik dari berbagai kalangan,” tegas Irfan.
Irfan menjelaskan, vandalisme dalam sebuah aksi tidak bisa serta-merta dilihat sebagai tindak kriminal. Lebih jauh, ia menilai aksi itu merupakan simbol kekecewaan yang lahir akibat ruang dialog yang tertutup.
“Meskipun cara yang ditempuh mahasiswa bisa dikritisi, Pemkot tetap harus bijak melihat akar masalah yang mendorong lahirnya aksi tersebut. Jika pemerintah hanya menanggapi dari permukaan, maka substansi tuntutan mahasiswa akan semakin kabur,” jelasnya.
Ia mendorong agar Pemkot Bogor lebih membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa. Menurutnya, dialog terbuka akan menghadirkan solusi konstruktif dan menjadikan mahasiswa mitra kritis yang produktif bagi pembangunan Kota Bogor.
“Seharusnya Pemkot membuka ruang dialog, duduk bersama dengan kawan-kawan mahasiswa. Dengan begitu, mahasiswa bisa menyampaikan keresahannya secara langsung dan konstruktif, tanpa harus melampiaskan melalui coretan di dinding Balaikota,” pungkasnya.
jurnalinspirasi.co.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Branch Office Bogor Dewi Sartika menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan berintegritas dengan melaporkan oknum pekerja yang diduga melakukan tindakan fraud kepada pihak berwenang.
Penangkapan terhadap oknum tersebut dilakukan pada awal Agustus 2025 di Bogor oleh aparat penegak hukum.
Pemimpin BRI Branch Office Bogor Dewi Sartika, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa langkah tegas ini sejalan dengan prinsip Zero Tolerance to Fraud yang diterapkan BRI di seluruh unit kerja.
“BRI tidak akan mentolerir setiap tindakan fraud di lingkungan kerja. Kami telah melaporkan kasus ini kepada pihak berwenang dan mendukung penuh proses hukum yang berjalan. Tindakan ini adalah wujud komitmen kami menjaga kepercayaan nasabah dan menjunjung tinggi tata kelola perusahaan yang baik,” ujar Fahmi Hidayat.
BRI memastikan bahwa atas kejadian tersebut tidak ada nasabah yang dirugikan, serta telah memberikan sanksi tegas berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada oknum yang terlibat.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BRI dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), memperkuat pengawasan internal, serta mendorong budaya kerja yang profesional dan berintegritas di seluruh lini bisnisnya.
BRI mengapresiasi tindakan cepat dan profesional aparat penegak hukum dalam memproses laporan ini sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
jurnalinspirasi.co.id – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) berunjuk rasa di Balai Kota Bogor pada Kamis (21/8/2025).
Unjuk rasa sendiri sempat diwarnai kericuhan lantaran massa ingin menerobos penjagaan aparat untuk masuk ke Balaikota untuk bertemu Wali Kota Bogor Dedie A Rachim.
Aksi saling dorong dengan petugas pun terjadi lantaran tak berhasil menerobos masuk, massa membakar maskot berupa orang-orangan sawah.
Selain itu, massa juga mencoret-coret tembok Balai Kota untuk menyuarakan kekecewaannya terhadap pemerintahan Dedie A Rachim.
Ketua DPC GMNI Kota Bogor Yunandra Soswakil meminta Pemkot bertanggung jawab atas tragedi TPAS Galuga yang merenggut nyawa pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Mahasiswa menilai bahwa peristiwa itu merupakan bentuk kegagalan dalam pengelolaan sampah.
“Meninggalnya petugas DLH menunjukan lalainya pemerintah terhadap aspek keselamatan kerja. Nyawa melayang karena kelalaian sistematik,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa GMNI menuntut Pemkot Bogor untuk bertanggung jawab menuntaskan persoalan utang yang terjadi di RSUD Kota Bogor.
Lebih lanjut, kata dia, GMNI akan kembali melakukan aksi serupa dengan massa yang lebih banyak lagi, apabila tuntutan mereka tak digubris.
jurnalinspirasi.co.id – Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) berhasil menyelenggarakan PEST ACADEMY yang ke-4 di Yogyakarta pada 19 hingga 20 Agustus.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 400 peserta, termasuk tamu undangan dan sponsor, menjadikannya salah satu konferensi terbesar dalam industri pengendalian hama di Indonesia.
PEST ACADEMY ini mendapat dukungan penuh dari Asian Pest Management Association (APMA), yang ditandai dengan kehadiran sekitar 75 delegasi dari berbagai negara, termasuk Singapura, Malaysia, Thailand, India, Filipina, dan Sri Lanka.
Mengusung tema “Bisnis Pest Management yang Berkelanjutan,” acara ini menampilkan sesi-sesi yang diisi oleh narasumber berkompeten dari kalangan akademisi, pemerintah, praktisi, dan principal. Salah satu sorotan utama adalah kehadiran keynote speaker terkemuka dari Amerika Serikat, Prof. Chow-Yang Lee, yang memberikan wawasan mendalam tentang inovasi dan praktik terbaik dalam pengendalian hama.
Jasa pengendalian hama di Indonesia merupakan sektor yang sangat menjanjikan, dengan banyak masyarakat, khususnya kelas menengah atas, yang masih belum sepenuhnya menyadari keberadaan dan manfaat dari layanan ini. ASPPHAMI berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan pengendalian hama, sembari terus memperbaiki kualitas jasa yang diberikan oleh anggotanya.
Dengan semangat menyongsong Indonesia Emas 2045, ASPPHAMI berharap dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan industri pengendalian hama yang profesional dan berkelanjutan.
Lagi dan lagi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor kelompok 30 sukses melaksanakan program kerjanya. Kali ini, pada Kamis (21/8/2025), mereka menggelar talkshow bertema “Stop Pernikahan Dini sebagai Awal Pencegahan Stunting”.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Warga Kelurahan Puspanegara kecamatan Citereup ini menghadirkan warga sekitar sebagai peserta. Tujuannya, memberikan edukasi mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini, salah satunya dengan menekan angka pernikahan dini.
Dalam paparannya, Cindy Puspa selaku pemateri menekankan bahwa stunting bukan hanya masalah anak, melainkan tanggung jawab bersama. Ia menjelaskan, faktor usia dan kesiapan mental remaja juga berperan besar dalam mencegah terjadinya stunting.
“Zaman sekarang banyak orang tua yang merasa malu jika anaknya belum menikah, padahal kesiapan mental itu sangat penting. Jika anak dipaksa menikah di usia muda, risiko munculnya stres, depresi, hingga kecemasan bisa terjadi, dan hal ini turut memicu stunting pada generasi berikutnya,” jelas Cindy.
Melalui kegiatan ini, KKN UIKA kelompok 30 berharap masyarakat semakin sadar bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni menunda pernikahan dini dan mempersiapkan generasi muda dengan baik.
Kota Bogor memperkuat inovasi pendidikan berbasis karakter melalui Aksi dan Implementasi Gerakan Seribu Kata Positif (Serbukatif) yang digelar di Ballroom Hotel Pajajaran Suite Jalan Bogor Nirwana Residence, Kota Bogor, Kamis (21/8/2025).
Sejak pertama kali digagas pada tahun 2019, Serbukatif lahir dari kegelisahan sederhana yaitu bagaimana agar anak-anak terbiasa menggunakan kata-kata baik dalam keseharian mereka.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa gerakan Serbukatif merupakan metode sederhana, namun efektif dalam memperkuat pendidikan karakter.
Untain positif yang termaktub di berbagai mata pelajaran sebagai pengingat bagi guru, siswa, dan orang tua.
“Seribu kata positif ini menjadi pembelajaran di sekolah, kita tempelkan di semua mata pelajaran sebagai pengingat kepada para guru, orangtua, dan siswa bahwa bukan hanya masalah akademis saja yang penting dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sikap, perilaku, ucapan dan perkataan menjadi bagian dari kita untuk berusaha membangun karakter yang baik,” ucap Dedie Rachim.
Dedie Rachim menambahkan, bahwa sejak awal digagas, Serbukatif sudah diujicobakan di 80 sekolah dan mendapat tanggapan positif.
Oleh karena itu, kini program Serbukatif akan dikelola ke Dinas Pendidikan (Disdik) agar benar-benar melembaga dalam sistem pembelajaran Kota Bogor.
“Tujuannya agar tidak perlu menjadi mata pelajaran baru, atau masuk di dalam kurikulum, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran. Kita membangun karakter dan pikiran yang sehat, perkataan yang baik, serta jiwa dan semangat yang kuat untuk bisa membangun generasi emas Indonesia di tahun 2045,” ujarnya.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor sekaligus penggagas Serbukatif, Yantie Rachim, menyampaikan awal mula gerakan ini berasal dari kekhawatiran ia dengan generasi muda yang makin terpapar gadget, game online, dan bahasa kasar.
“Kita tidak melarang mereka untuk bermain game atau lainnya, tapi program ini dibentuk untuk menguatkan mereka agar tidak berkata yang negatif. Jadi kita harus menguatkan mereka dengan perkataan yang positif karena kita bukan hanya membangun manusia saja tapi juga membangun karakter dan adab ke depannya,” jelas Yantie Rachim.
Yantie Rachim juga menyampaikan bahwa dalam implementasi program Serbukatif, ia memilih duta Serbukatif dari tiap kecamatan yang berasal dari murid Sekolah Dasar (SD). Duta ini nantinya akan menjadi pelopor sekaligus pelapor yang menjaga teman-temannya dalam berkata negatif.
Kehadiran Serbukatif juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Perwakilan dari Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Helga Kurnia, menyebut gerakan ini patut ditiru daerah lain.
“Saya terpukau melihat Serbukatif di Kota Bogor, ini sebuah inovasi yang patut ditiru oleh daerah lain. Gerakan ini bisa berkembang lebih luas, misal dibuat buku lalu guru-guru bisa ikut menulis dan memperkaya gerakan ini,” katanya.
Ia menyampaikan harapannya agar program Serbukatif semakin banyak yang mengikuti di sekolah dan terus digunakan sampai ke rumahnya masing-masing sehingga pendidikan di Kota Bogor akan semakin maju.
Dukungan juga datang dari berbagai kalangan. Komisioner dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor, Geri, menilai Serbukatif sebagai jawaban atas kekhawatiran anak-anak yang kian terikat dengan gadget pasca pandemi.
“Dengan Serbukatif, anak-anak dibiasakan untuk mengucapkan hal-hal positif. Orangtua juga harus mencontohkan, karena pola asuh sangat mempengaruhi,” ujarnya.
Para guru dan kepala sekolah pun turut merasakan dampak nyata dari gerakan ini. Kepala Sekolah SD Kedung Halang 5, Sumarna menuturkan bahwa di sekolahnya ada Taman Serbukatif yang diresmikan oleh Yantie Rachim. Taman itu kemudian dijadikan sebagai sarana edukasi, dimana anak-anak diminta untuk menulis kata-kata positif disana setiap hari mereka melewati taman itu.
“Serbukatif ini memberi pengaruh besar bagi sekolah kami. Satu edukasi yang kami lakukan, ketika salah seorang anak berkata negatif atau kasar, kami akan membawanya ke taman itu dan anak harus membaca tulisan yang ada disitu agar mereka ingat kata positif yang telah mereka tuliskan,” jelasnya.
Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bogor, Siti Amalia, juga menyampaikan perubahan yang ia rasakan ketika menerapkan program Serbukatif dalam pembelajarannya.
“Saya mengamati perubahan anak-anak dari SD ke SMP, dan memang benar bahwa kita harus menanamkan kata-kata positif di diri mereka. Karena menurut saya, pengaruh gadget itu sangat luar biasa dan Serbukatif hadir untuk mengingatkan kita akan kata positif yang harus kita lakukan,” ucap Siti.
Begitu pula guru dari SDN Cipaku Perumda, Widia Ningrum Sari, menyebut bahwa anak-anak pramuka di sekolahnya bahkan membuat video seribu kata positif dan kini menjadi duta Serbukatif.
“Dengan adanya aksi serbukatif ini menjadikan SDN Cipaku Perumda itu sekolah yang berkata-kata positif, karena dengan satu kata positif ternyata bisa membuat seribu kata kebaikan,” katanya.
Kebanggaan juga dirasakan langsung oleh para siswa yang terpilih sebagai Duta Serbukatif. Siswa SDN Gunung Batu 1, Raden Zara Moira yang terpilih sebagai Duta Serbukatif Kecamatan Bogor Barat menyampaikan rasa bangganya karena bisa terpilih menjadi Duta Serbukatif. Ia mengatakan bahwa kata positif favoritnya adalah semangat.
“Kalau semangat, kita jadi lebih antusias belajar. Aku mau mengajak teman-teman untuk jangan ngomong kasar, selalu sopan, dan hormat pada guru maupun orang yang lebih tua,” ujar Zara.
Sementara rekannya, Arjuna Maylodhra Barlian Sudarwis, mengatakan bahwa kata positif favoritnya adalah percaya diri.
“Kata positif yang paling bagus menurutku adalah percaya diri, karena percaya diri itu artinya percaya pada kemampuan diri kita sendiri. Sebagai duta, aku juga harus berkata sopan dan menghormati guru,” ucapnya.
Selain itu, turut dikukuhkan pula para Duta Serbukatif 2025 dari lima wilayah lainnya. Dari Bogor Utara, terpilih Muhammad Faeyza Shakil dan Syadiva Ghitapaty Wirasa dari SDN Banjarjati 9. Sementara Bogor Timur diwakili oleh Zahir Mukti Al Zein dan Jihan Assyfatu Hasna dari SDN Katulampa 1.
Bogor Tengah menghadirkan dua putra-putri terbaiknya, yakni Georgio Gabe Butarbutar dan Gabriela Aulia Rahardjo dari SD Regina Pacis. Dari Tanah Sareal, Jagat Bagja Purwamardika bersama Shakura Sanum Kaisala dari SDN Kebon Pedes 3. Sedangkan dari Bogor Selatan diwakili oleh Haidar Madani dan Nafisa Syawalia Nur Hamid dari SDN Cipaku Perumda.
Tidak hanya itu, Kota Bogor juga menetapkan dua siswa sebagai Duta Serbukatif tingkat kota, yakni Georgio Gabe Butarbutar dari SD Regina Pacis dan Aisha Gwyneth Thahirah dari SDN Gunung Gede.
Sebagai bentuk apresiasi, kegiatan ini juga memberikan penghargaan untuk nominasi video terbaik. Empat sekolah berhasil meraih gelar tersebut yaitu yaitu SDN Kebon Pedes, SDN Kampung Sawah, SDN Sukadamai 2, dan SDN Kedung Halang 5.