31.3 C
Bogor
Sunday, May 3, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1711

Perlukah Influencer Corona?

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Dana Rp72 miliar untuk influencer atau pegiat media sosial yang memiliki followers cukup banyak di akun media sosialnya bakal digelontorkan untuk menangkal dampak virus corona terhadap sektor pariwisata Indonesia. Namun rencana ini mendapat sorotan dari para anggota DPR RI. Salah satunya yakni Fraksi PKS, Mardani Ali Sera. Menurut Mardani, pemerintah harus transparan dalam menggunakan dana tersebut, selain itu juga harus jelas tolak ukurnya seperti apa.

“Pertama perlu jelas dan transparan penggunaan dana Rp72 M itu. Kedua, harus jelas alat ukur keberhasilannya. Ketiga, destinasi apa yang diprioritaskan. Keempat, tanpa konektivitas dan kedalaman experiencing kita tidak punya diferensiasi hingga walau dikerahkan influencer tetap stand out aming the crowd,” kata Mardani, Rabu (26/2).

Selain itu, anggota DPR Fraksi Gerindra, Fadli Zon juga turut menyoroti masalah ini. Menurut Fadli, pemerintah tidak perlu melakukan hal itu. Sebab, influencer dinilai bukan solusi untuk mengatasi pariwisata yang terancam akibat virus corona. “Salah mendiagnosa akhirnya bisa salah resep. Gitu lho. Kalau orang salah diagnosa, akan salah resep. Menurut saya bukan itu harusnya ya, membayar influencer itu untuk menghadapi dampak dari corona virus itu bukan itu,” kata Fadli.

Fadli menilai langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah membangun kepercayaan masyarakat. Dengan membangun kepercayaan itu, dengan sendirinya sektor pariwisata Indonesia akan tetap berkembang di tengah bayang-bayang ancaman virus corona. “Harus menimbulkan suatu trust dan confident bahwa kita Indonesia adalah negara yang memang bebas dari corona virus ini,” ujar Fadli.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah mengalokasikan anggaran Rp298,5 miliar untuk menggaet wisatawan mancanegara.
Hal ini dilakukan untuk menggenjot kunjungan wisatawan asing yang saat ini lesu karena virus corona. Rp72 Miliar diantaranya untuk influencer dan media relation.

Namun menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, anggaran sebesar Rp 72 miliar untuk promosi wisata tidak hanya digunakan untuk membayar influencer. Ia mengatakan, anggaran tersebut juga dipakai untuk berbagai komponen lainnya yang dapat mendukung promosi pariwsiata termasuk travel agent dan travel operator. Menurut dia, promosi pariwisata ini ditargetkan untuk menarik wisatawan mancanegara ke destinasi wisata Indonesia yang saat ini tengah lesu akibat wabah virus corona.
“Ini lebih ke international market. Ini yang Rp72 miliar itu bukan untuk influencer aja, ada banyak komponen promosi. Jadi 72 itu untuk promosi, fam trip, untuk pengenalan destinasi wisata. Salah satunya, influencer,” jelas dia di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Rabu (26/2).
Influencer yang akan digunakan nantinya berasal dari berbagai negara yang memiliki potensi tinggi menyumbang pariwisata Indonesia seperti Amerika, Eropa, Australia, Timur Tengah, dan juga India. Kendati demikian, belum diketahui berapa banyak influencer yang akan dilibatkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.
“Saya belum hitung. Karena kita mesti tanya influencer-nya kan, misal kita pilih dari Amerika, kita cari influencer Amerika dong. Gitu dong. Masa kita mau pengaruhi market Amerika, tapi pakai influencer dari Indonesia. Kan gak ngaruh,” ujar dia.
Pemerintah nantinya akan mempertimbangkan berbagai hal terlebih dahulu sebelum melibatkan influencer. Salah satunya yakni mempertimbangkan biaya promosi oleh influencer serta media yang digunakan oleh influencer tersebut. “Misalnya si A, engagement-nya berapa, viewers nya berapa di YouTube atau Instagram. Nah dari gitu-gitu lah yang akan kita lihat. Yang paling bagus, akan kita approach,” kata Wishnutama.
Wishnutama mengatakan program ini segera dilaksanakan pada Maret mendatang. Saat ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif masih menunggu anggaran dari Kementerian Keuangan.

Asep Saepudin Sayyev |*

Anies Abaikan Rapat dengan DPR

0

Jakarta, Jurnal Inspirasi

Komisi V DPR RI mengagendakan rapat dengan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Banten Wahidin Halim. Namun, hanya Basuki yang hadir. Gubernur Anies Baswedan lebih memilih mengunjungi kawasan terdampak banjir di Pulo Gadung, Jakarta Timur ketimbang rapat di Komisi V DPR pada, Rabu (26/2).
“Meninjau penuntasan penanganan banjir di Jalan Perintis Kemerdekaan Pulo Gadung,” tulis Anies lewat Instatory akun Instagram @aniesbaswedan, Rabu (26/2).
Anies terlihat mengunjungi lokasi banjir di Pulogadung bersama belasan jajarannya. Beberapa di antaranya ialah Kepala Dinas Bina Marga DKI Hari Nugroho dan Kepala Dinas Lingkungan dan Kebersihan DKI Andono Warih.
Banjir melanda sejumlah wilayah DKI Jakarta pada Selasa (25/2). Ribuan warga terdampak hingga mengungsi ke posko yang disediakan Pemprov DKI Jakarta. Banjir juga terjadi di wilayah Jawa Barat dan Banten. Dampaknya tak kalah besar dari banjir yang melanda Jakarta. Berkenaan dengan itu, Komisi V DPR lalu memanggil Gubernur DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono selaku perwakilan pemerintah pusat juga diundang.
Namun, tidak ada gubernur yang hadir. Anies Baswedan, Ridwan Kamil dan Wahidin Halim tidak kunjung datang. Hanya Basuki dan jajarannya yang memenuhi undangan Komisi V DPR. Anies diwakili oleh Asisten Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang Pemprov DKI Jakarta Vera Revina Sari, Ridwan diwakili oleh Sekda Pemprov Jabar Setiawan Wangsaatmaja, serta Wahidin diwakili oleh Sekda Pemprov Banten Al Muktabar.
“Rapat yang begitu pentingnya seperti ini, Pak Menteri saja sudah berkenan hadir, seluruh mitra kota berkenan hadir, kenapa yang lainnya tidak, untuk apa kita hadir di sini kalau yang berkepentingan saja tidak ada di sini,” ujar anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDIP Sadarestuwati.
Banjir sendiri masih menggenangi sejumlah wilayah di DKI Jakarta pada Rabu pagi (26/2). Sebagian rute kereta commuter line tidak bisa dilalui lantaran rel tergenang air. Sejumlah jalan juga tergenang. Meski tidak sampai membuat akses terputus, para pengendara sepeda bermotor tetap harus ekstr hati-hati saat melintas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan masih ada 142 yang terendam banjir pada Rabu pagi (26/2). Turun dari hari sebelumnya yang mencapai 236 RW terdampak banjir.

Sementara Asisten Deputi Bidang Tata Ruang DKI Jakarta Vera Revina Sari menjelaskan alasan Anies tidak hadir karena sedang meninjau titik-titik banjir di Jakarta. “Pak Anies tidak bisa hadir saat ini karena beliau masih di lapangan, meninjau dampak banjir yang kemarin,” kata Vera di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

Menurutnya, kegiatan peninjauan lokasi titik banjir tak bisa ditinggalkan Anies. Vera mengatakan banjir yang terjadi di Jakarta sejak Selasa (25/2) memang tidak terduga. Menurut Vera, Anies akan memenuhi undangan DPR andai banjir tidak melanda Jakarta. “Enggak bisa (ditinggal), karena kan dampak-dampaknya masih terasa sekarang. Jadi pas saja, mungkin undangannya sebelumnya. Tapi pas tiba-tiba kemarin ada banjir. Kalau kemarin enggak banjir, Insya Allah Pak Anies hadir,” tutur dia.

Komisi V DPR memutuskan menunda rapat pembahasanan penanganan banjir di DKI Jakarta dan sekitarnyai. Anies diwakili Deputi Tata Ruang DKI Jakarta Fera Revinasari, Ridwal Kamil diwakili Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja, dan Wahidin diwakili Sekda Banten Al Muktabar.

Asep Saepudin Sayyev |*

Pembongkaran Taman Topi Belum Jelas

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mempersiapkan pembangunan alun-Alun di atas lahan eks Taman Topi arau Taman Ade Irma Suryani, yang akan memakan biaya Rp15 miliar dari APBD Provinsi Jawa Barat. Kepada wartawan, Kepala Bidang Pertamanan Dinas Perumkim Kota Bogor Feby Darmawan mengatakan bahwa saat ini sedang dimulai persiapan pembangunan pagar pembatas di sekeliling Taman Topi. Pagar pembatas itu dari mulai masjid Agung terus melingkari ke Nyi Raja Permas.

“Sebelum dilakukan pembangunan, dimulai memasang pagar dulu. Setelah itu kita lagi mau lelangkan konsultas pengawasnya dan sudah masuk ke ULP,” kata Feby, baru-baru ini.

Saat ini, sambungnya, Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) sedang asistensi. Kata dia, lantaran proyek ini bersumber dari bantuan keuangan dari Provinsi Jawa Barat, otomatis akan dilelangkan lebih dahulu untuk konsultan pengawasnya.

Setah itu, baru disusun dokumen Amdal dan dokumen untuk lokasi alun-alunnya. Akan dilakukan juga tim penaksir bongkaran bangunan. Berdasarkan papat terakhir dengan BPKAD untuk listrik dan PDAM semuanya sudah diputus oleh PT Exotika, sehingga nanti pada saat pelaksanaan pada saat pembongkaran sudah clear semuanya.

“Kalau soal waktu pembongkaran itu belum tahu kalau bongkarannya karena sekarang sedang ditaksir dulu. Taksiran bangunan-bangunannya nanti tim dari BPKAD turun menaksir bangunan A, B, C, dan utilitas lainnya disana. Itu ada barang icon, nanti pihak PT Exotika yang membongkar,” jelasnya.

Ia menyatakan bahwa nantinya patung Kapten Muslihat bakal diganti, dan bakal dilengkapi dengan jogingg track, lapangan serta plaza.

“Plaza itu nanti ada di enterence area dekat tempat masuk lalu ada tourism information center, ada juga teater mini, playground anak dan tempat permainan lain,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, Alun-Alun bakal terhubung dengan Masjid Agung. “Jadi saat hari besar keagamaan, Alun-Alun bisa dipergunakan. Kemudian, tempat itu bakal terkoneksi dengan stasiun. Tapi, info dari PT KAI, itu dipergunakan hanya khusus jalur VVIP,” tukasnya.

Fredy Kristianto

Kasus Jiwasraya, Jampidsus Pilih Bungkam dan Kejagung Periksa Para Saksi

0

Bogor | Jurnal Bogor

Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Adi Toegarisman memilih bungkam saat ditanya terkait kasus dugaan korupsi asuransi PT Jiwasraya (Persero), yang merugikan keuangan negara sebesar Rp17 triliun. Hal itu terjadi saat yang bersangkutan mengunjungi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bogor dalam rangka meningkatkan program Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM), Rabu (26/2).

“Saya kesini (kantor Kejari) bukan untuk membahas soal kasus (Jiwasraya)  oke,” ujar Jampidsus sambil berlalu meninggalkan sejumlah awak media.

Sementara itu, seperti dilansir CNBC Indonesia pada Rabu (26/2) malam, Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali mememeriksa para saksi dalam kasus Jiwasraya. Selain beberapa Bank, baik BUMN maupun swasta, sejumlah saksi dari internal Jiwasraya juga turut diperiksa.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono menyatakan bahwa para saksi tersebut akan dimintai informasi mengenai keterkaitan dengan para tersangka.

“Penyidik terus mencari informasi yang dapat mengungkap kasus ini, termasuk dari para saksi yang dihadirkan hari ini,” ujar Hari di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Rabu (26/2).n Fredy Kristianto

Berikut 6 Saksi yang diperiksa:

1.Bambang Wicaksono (Sales Asuransi Jiwa Tugu Mandiri)

2.Avi Yasa Dwipayana (eks. Dirut PT. Trimegah) ;

3.Rony Agung Suseno (Direktur PT. Hanson Internasional) ;

4.I Putu Sutama, SE. MM. (Eks. General Manager Tehnik PT. AJS) ;

5.Udhi Prasetyanto (Eks. Kepala Bagian SDM PT. AJS Tahun 2009 s/d 2017) ;

6.Ronang Andrianto (Kepala Bagian Hukum PT. AJS)

Tarif Parkir Pengunjung Samsat Disoal

0

Cibinong, Jurnal Inspirasi

Wajib Pajak (WP) di Kabupaten Bogor mengeluhkan tarif parkir. Pasalnya, tarif yang dibandrol oleh pengelola parkiran diatas tanah milik provinsi Jawa Barat tersebut nilainya cukup fantastis. Seperti yang diungkapkan salah satu WP  berinisial ET. Ia mengatakan, ketika dirinya yang hendak membayar pajak kendaraan miliknya berjenis roda empat itu, ia yang hanya memparkirkan di parkiran kantor pelayanan publik tersebut dianggap sangat mahal.

“Mahal banget parkir disini, cuman 20 menit saja masa sudah kena biaya Rp5 ribu saja, apalagi satu jam,” kata ET kepada Wartawan, kemarin. Ia berharap, kepada pihak terkait dapat menertibkan parkiran yang berada diatas tanah milik kantor pelayanan publik bagi masyarakat tersebut. “Tolong instansi yang berwenang dapat menegur pihak pengelola parkir yang membandrol harga cukup mahal,” ungkapnya.

Menurutnya, lahan yang dijadikan parkir oleh segelintir oknum itu disinyalir menyalahi aturan yang ada, dengan mengkomersilkan lahan milik pemerintah provinsi Jawa Barat.

“Parkir disini seharusnya kan gratis, karena ini lahan milik pemprov Jabar, kok malah dijadikan lahan usaha. Apa hal itu tidak menyalahi aturan yang ada.Tolong dong pihak terkait dapat mendengarkan aspirasi dan keluhan dari kami sebagai Wajib Pajak Kendaraan,” terangnya.

Sementara itu, Kanit Regident Satlantas Polres Bogor, Iptu Dicky A Pranata menjelaskan, pihaknya tidak turut serta dalam pengelolaan parkir masyarakat yang ingin bayar pajak kendaaraan di Samsat. “Itu parkiran bukan saya yang urus. Bukan saya yang pegang, tanya Dishub. Parkiran itu adanya di tanah Dishub” kata Iptu Dicky.

Noverando H

Aleg DPR RI Desak Audit Investigatif Proyek Baitul Faizin

0

Cibinong, Jurnal Inspirasi

Setelah kaum mahasiswa, anggota DPR RI juga menyikapi jebolnya atap atau plafon Masjid Agung Baitul Faizin di Komplek Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor yang baru selesai direnovasi pada Tahun 2019 lalu.


Mulyadi yang merupakan Anggota Legislatif (Aleg)Fraksi Gerindra itu menegaskan, jebolnya atas atau plafon masjid Agung Baitul Faidzin di Komplek Pemkab Bogor tersebut, harus adanya audit dan investigasi.

“Intinya apa yang saya sampaikan belum lama ini terbukti, harus ada audit investigatif terhadap setiap proses penggunaan anggaran di Kabupaten Bogor,” tegas Mulyadi kepada Wartawan, melalui sambunhan teleponnya, Rabu (26/2).

Ia mengatakan, ambruknya atap masjid baitul faizin yang baru selesai direnovasi pada tahun 2019 lalu itu, harus dijadikan momentum untuk meruntuhkan indikasi mafia proyek khususnya di Kabupaten Bogor.

“Masjid saja sebagai cerminan pembangunan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas iman serta ketaqwaan masih dibangun asal asalan, apalagi sektor lain,” katanya.

Politisi Gerindra yang juga merupakan Caleg Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Bogor ini menambahkan, dalam persoalan ini sekali lagi stakeholder Kabupaten Bogor harus segera menguatkan sinergi untuk mengawal perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. 

“Jangan sampai pembangunan kehilangan Ruh, pembangunan asal-asalan tanpa manfaat dalam meningkatkan kwalitas kehidupan masyarakat banyak. Dalam perihal ini, saya minta penegak hukum berwenang harus responsif dan bekerja profesional, jangan terjebak kepada pengkondisian yg justru pada akhirnya merugikan masyarakat,” ujarnya.

Sekedar diketahui, atap atau plafon Masjid Baitul Faizin di Komplek Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor yang baru selesai direnovasi pada tahun 2019 lalu, jebol.

Bangunan yang memakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2017 hingga senilai Rp 26 miliar dan belum diresmikan oleh Bupati Bogor itu dikerjakan oleh PT Multi Gapura Pembangunan Semesta. 

Noverando H

Bakri Hasan: Kavling Buah di Cariu tak Berizin

0

Cariu, Jurnal Inspirasi

Maraknya pengusaha kavling buah atau perkebunan di Kecamatan Cariu menjadi bahan perbincangan baru-baru ini. Selain dari persoalan tanah dengan warga yang mandek dan bermasalah juga keberadaan usaha kavling tersebut dipertanyakan legalitasnya. Bakri Hasan Sekcam Cariu mengatakan bahwa di Kecamatan Cariu terdapat 3 perusahaan kavling perkebunan campuran yang semuanya belum mengantongi izin.

“Seluruh kavling yang ada di Kecamatan Cariu ada 3 perusahaan kavling, aitu BBL atau lebih dikenal dengan sebutan Lantaburo yang ada di Desa Karyamekar dengan ploting izin lokasi seluas 20 hektare, Bukit Swiss seluas 4,5 hektare di Desa Mekarwangi, serta Andalus di Desa Cibatutiga dan Mekarwangi,” kata Bakri di ruang kerjanya, Rabu (26/2).

“Untuk BBL sendiri sudah mengantongi izin lokasi yang diperuntukan untuk perkebunan campuran, kalau untuk Andalus dan Bukit swiss sampai saat ini belum mengantongi izin apapun. Menurut manajemen Bukit Swiss bahwa mereka akan mengurus ternyata belum sampai saat ini, ” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya sudah ada rapat dengan dinas perizinan pintu satu Kabupaten Bogor. Aturan yang berlaku yaitu untuk kegiatan perkebunan minimal memiliki luas 2000 meter apabila ingin di komersilkan. Namun kenyataannya saat ini hanya berkisar 100-500 meter/kavling buah yang di pasarkan. Sedangkan untuk izin 100-500 meter itu adalah izin perumahan. “Jadi tidak mungkin pemda mengeluarkan izin untuk para pengusaha kavling perkebunan buah campuran disini (Cariu-red). Saya sebagai aparat pemerintah Kecamatan Cariu sangat senang dan sangat membuka kesempatan bagi para pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya disini, tapi dengan catatan silahkan urus perizinan sesuai prosedur yang ada,” kata dia.

“Kita ambil contoh kasus Kampung Kurma, sudah sering saya arahkan dan ingatkan silakan buat izin sesuai prosedur atau silakan buat izin perumahan, terlepas nanti mau ditanami apa kan tidak menyalahi aturan. Hanya saja mungkin yang menjadi bahan pertimbangan mereka (pengusaha kavling-red) adalah pemberian fasos-fasum. Jika izin perkebunan kan gak perlu pake fasos-fasum sedangkan jika izin perumahan harus ada fasos-fasum yang diberikan kepada Pemerintah Daerah,” jelas Bakri.

Menurutnya, secara prosedur pengusaha kavling yang ada disini menabrak aturan yang ada. Seperti BBL yang sudah mengantongi izin lokasi tapi tidak sesuai dengan peruntukan di lapangannya. “Saya meyakini jika izin lain tidak akan bisa tembus untuk ditempuh, begitu pun soal status tanah, seharusnya pihak perusahaan membeli tanah masyarakat kemudian dilakukan pelepasan hak jadi atas nama perusahaan. Barulah ditawarkan kepada para konsumen, jadi konsumen kavling membeli tanah atas nama perusahaan, tapi kenyataan di lapangannya kan tidak seperti itu, Kecamatan tidak dilibatkan sebagai PPAT.”

“Saya mengimbau kepada para pengusaha kavling kebun yang ada khususnya di Kecamatan Cariu untuk segera mengurus izin sesuai prosedur yang ada yang berlaku di Kabupaten Bogor,dan kepada para Kepala Desa yang wilayahnya menjadi tempat kavling kebun agar hati-hati dan mengkroscek status tanah. Jangan sampai merugikan masyarakat hingga timbul suara-suara sumbang seperti Desa Karyamekar kemarin.”

“Jadi saya berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi, adanya pengusaha di wilayah Cariu saya apresiasi karena selain dapat mendongkrak kemajuan wilayah juga dapat mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar tapi semua harus sesuai prosedur yang berlaku, tidak menabrak aturan yang ada,” pungkas Bakri Hasan penuh harap.

“Pada intinya semua usaha kavling yang ada di Kecamatan Cariu belum mengantongi izin, karena kavling buah itu ukurannya tidak segitu (100m-500m,red) makanya tidak masuk kedalam peraturan juga. Kavling yang memiliki ukuran 100m-500m adalah kavling perumahan, jadi Pemda Bogor tidak akan mungkin mengeluarkan izin perkebunan dengan luasan segitu, karena itu akan keluar dari koridor aturan yang ada,” tandasnya.

Nay Nur’ain

Kabupaten Bogor Dirundung Sekolah Negeri dan Madrasah Rusak

0

Gunung Sindur, Jurnal Inspirasi

Tampaknya di Kabupaten Bogor ini sekolah rusak bukan hal yang aneh dan mencengangkan.  Kerusakan yang terjadi pada infrastruktur bangunan sekolah selalu sering ditemui di berbagai daerah, baik itu bangunan sekolah negeri apalagi madrasah  yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Untuk sekolah negeri, bangunan ruang kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN 01 Jampang Kecamatan Gunungsindur mendapatkan perhatian serius dari sejumlah pihak. Seperti yang diketahui 3 ruang kelas di sekolah tersebut dalam kondisi rusak dan sangat mengkhawatirkan.

“Jadi konstruksi dinding bangunan memang sudah rusak. Diduga ada perubahan pondasi akibat pergeseran tanah.  Memang perlu segera ada perbaikan,” ungkap Camat Gunungsindur Yodie MS Ermaya saat dikonfirmasi, kemarin.

Pemcam Gunung Sindur kata Yudi, usulan perbaikan atau rehab total gedung sekolah tersebut memang sudah diusulkan dalam Musrenbang Kecamatan Gunungsindur. Bahkan menurutnya, usulan tersebut sudah masuk SIMRAL dan usulan skala prioritas kegiatan pada tahun anggaran 2021.

“Namun jika memungkinkan dan bisa mendapatkan persetujuan, kami berharap ada perbaikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Agar kenyamanan proses belajar mengajar bisa lebih aman dan nyaman,”ujarnya.

Menanggapi hal itu  anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Ruhiyat Sujana berharap, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor segera memberikan perhatian dan penanganan terhadap kondisi kerusakan di SDN 01 Jampang tersebut. “Kami akan berusaha untuk meninjau langsung kondisinya. Namun, kami harap Disdik segera memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini,” pintanya.

Politisi Partai Demokrat ini mengungkapkan, keterlambatan penanganan terhadap kondisi sekolah – sekolah negeri ini, merupakan catatan penting untuk evaluasi kinerja Disdik ke depan. Dia mengatakan, seringkali “rewel” ke pihak Disdik terkait penyempurnaan data base sekolah yang harus menjadi skala prioritas pembangunan.

“Disdik pun mengakui hal itu. Harusnya database sekolah rusak itu lengkap dan detail. Sehingga sekolah – sekolah yang sangat perlu diperbaiki dan dibangun tidak sampai tertinggal,” ungkapnya.

RS sapaannya, menegaskan, kinerja Disdik terkait pemeliharaan dan perbaikan sarana pendidikan perlu terus ditingkatkan guna menjamin proses pendidikan generasi bangsa tidak terganggu. Dia juga mengkritisi, kelemahan database yang lemah sehingga skala prioritas pembangunan dan perbaikan sekolah belum merata. Menurutnya, kasus SDN Jampang 01 ini bisa jadi contoh.

“Banyak proyek rehab di sekolah lain yang kondisinya masih lumayan bagus, tapi justeru sekolah ini (SDN 01 Jampang) seperti terlewatkan. Kami berterimakasih rekan – rekan media bisa memantau hal ini,” pungkasnya.

Cepi Kurniawan

PTSL Ada Lagi Biayanya 150 Ribu

0

Ciampea | Jurnal Bogor

Kementrian ATR/ BPN tahun 2020 ini kembali menerapakan program Pendaftaran Tanah Sistemastis Lengkap (PTSL) diberbagai daerah termasuk Kabupaten Bogor, dan hampir setiap desa mendapatkan Program itu salah satunya Desa Tegal Waru, Kecamatan Ciampea yang mendapatkam kuota 2600 bidang.

Kades Tegal Waru Nunung Nuriyah mengatakan, di desanya itu untuk tahun ini diperuntungan untuk warga  rumahnya belum memiliki sertifikat ada 2600 bidang masing-masing RT diberikan kuota 50 PTSL.

“Ada 2600 bidang yang akan dibagikan PTSL ini masing-masing RT 50 bidang dengan biaya yang sudah ditentukan oleh Pemerintah itu Rp 150.000 untuk biaya patok dan matrai,”kata  Nunung, kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Sambung Nunung meskipun dari pemerintah pusat sudah ditetapkan Rp  150.000. Tapi, jika yang menerima itu tidak memiliki alas hak dasar sebagai dasar pembuatan PTSL tentu itu akan ada administrasi lainya. “Kan itu gak ada dasar sama sekali  jadi harus dibuat surat -surat sebagai dasar untuk dibuatkan sertifikatnya,”kata Nunung.

Ditanya soal masih banyaknya warga Tegal Waru yang tak belum memiliki sertifikat tentu menjadi keperihatinan ia pun untuk tahun ini memilih rumah bersetifikat. “Masih banyak untuk tahun ini saya sasarkan bagi warga yang kurang mampu yang rumahnya belum bersetifikat,”kata Nunung.

Alasanya kata Nunung ia memilih itu agar nantinya setelah jadi, sertifikat itu bisa dijadikan modal untuk pengajuan pinjaman ke bank konvensional. “Karena selama ini warga banyak yang terjerat dengan bank emok yang mereka hampir tiap hari harus membayar Cicilannya,” pungkasnya.

Cepi Kurniawan

Desa Kopo Tangani Sampah Lingkungan

0

Cisarua, Jurnal Inspirasi

Keberadaan sampah di wilayah Puncak tetap menjadi hal yang penting untuk ditangani. Pasalnya, wilayah Puncak merupakan kawasan tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga desa desa yang ada di kecamatan itu kerap menuai kritikan dari para wisatawan terhadap keberadaan sampah yang selalu menjadi pemandangan di setiap sudut perkampungam.

Desa Kopo tadinya merupakan desa yang menjadi sorotan terhadap leberadaan sampahnya. Namun, secara pelan-pelan ditangani secara serius hingga sampah di desa itu mulai tertangani secara terkoordinir. Untuk menanganinya, pemerintahan desa dengan mengalokasikan dana desa dan telah membuat sebuah bak penampungan berukuran 8 X 8 meter yang terletak di simpangan Kampung Cidokom, jalan Cikopo Selatan.

“Sudah selesai pembangunan bak sampah tersebut. Tadinya lokasi itu sangat kumuh oleh sampah yang dibuang dari berbagai wilayah. Sekarang lokasi tersebut diawasi oleh petugas dari desa yang sekaligus menangani untuk pembakaran disana. Dengan demikian, kita bisa lihat sendiri lokasi itu kini tidak lagi kotor,” ujar staf Desa Kopo, Gugun Gunawan.

Sementara itu, di desa lain masih di Kecamatan Cisarua, mereka menangani berbagai cara. Desa Batulayang dan Jogjogan, dua desa itu menangani sampah melalui bank sampah. Warga bisa menabung sampah ke desa dengan berbagai kontribusi yang didapatkannya. Ada yang dibayar dengan uang, pulsa listrik bahkan ada juga yang dananya dipersiapkan untuk umroh ke Tanah Suci. “Sampah kita tangani dengan mendirikan bank sampah yang dipayungi okeh perdes melalui badan usaha milik desa. Dari nabung sampah itu, warga bisa umroh,” ujar Sekretaris Desa Jogjogan, Jejen Jaenudi.

Dadang Supriatna