31 C
Bogor
Saturday, April 11, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1421

Semua Berperan Penting Dalam Mendukung Kesembuhan ODGJ

0

Ciomas | Jurnal Inspirasi

Siapapun dapat terlibat dan berperan penting terhadap kesembuhan pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Psikiater atau dokter spesialis kejiwaan, dr. Yuniar, P.K,Sp.Kj (K), mengatakan bahwa pasien ODGJ dapat disembuhkan atau dipulihkan, tergantung bagaimana peranan dan dukungan lingkungan setempat.

“Masalah gangguan jiwa itu tidak hanya masalah obat, namun juga masalah sosial, masalah keluarga, dan masalah ketidak tahuan masyarakat terhadap pengobatan kami yang masih beranggapan bahwa gangguan jiwa itu hanya bisa dihadapi dengan ‘orang pintar’ atau lain sebagainya. Peran keluarga sangat penting, jika keluarganya ‘bagus’. Namun jika (keluarganya) dari awal sudah menolak, pasien tersebut akan semakin paranoid terhadap lingkungan sekitarnya. Gejala yang muncul juga tergantung bagaimana keluarga memperlakukan, sebab peran keluarga yang paling terdekat,” ujar dr. Yuniar, P.K,Sp.Kj (K), di Puskesmas Ciomas, baru-baru ini.

“Padahal kita tahu bahwa gangguan jiwa itu bisa disembuhkan, jika tidak disembuhkan mungkin dipulihkan. Sebab 2 kategori sembuh dan pulih itu berbeda, dikatakan sembuh yaitu ketika ia benar-benar tidak lagi mengkonsumsi obat, tapi jika dipulihkan yaitu ia masih mengkonsumsi obat namun fungsinya kembali seperti biasa. Kita selalu berharap kesembuhan, namun jika tidak sembuh kita berusaha untuk memulihkan dan menjaganya dengan baik,” jelasnya.

Oleh karena itu, Psikiater tersebut menegaskan bahwa ODGJ tetaplah manusia sebagaimana mestinya mereka harus diperlakukan dengan baik. Masyarakat tidak berhak merenggut kebebasan atau mengesampingkan hak pasien ODGJ dengan berstigma buruk. Sebab mereka tetap memiliki hak, salah satunya adalah hak untuk sembuh. Hal ini sesuai dengan UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, secara umum disebutkan bahwa terjamin setiap orang dapat hidup sejahtera lahir dan batin serta memperoleh pelayanan kesehatan dengan penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

“Siapapun tidak bisa memilih, tidak ada orang yang ingin sakit, ia datang memang pada orang yang sudah ditakdirkan untuk sakit. Maka dari itu, kita sebagai orang yang sehat harus mendukung, jangan sampai mereka itu tidak dianggap atau di kesampingkan hak-haknya, salah satunya adalah hak untuk sehat, hak untuk usaha, hak untuk dapat berdaya di masyarakat. Karena ODGJ itu tidak hanya satu peran dari kesehatan saja, harus dari keluarganya, harus dari Dinas Sosialnya. Pilihannya adalah Rumah Sakit atau Dinas Sosial. Dinas Sosial juga tidak bisa merangkul semua karena keterbatasan, yang paling utama adalah pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

“Dengan adanya kita disini, kita memberdayakan dan melibatkan apabila ada keluarga yang menolakpun akan kita dekati, lalu kita akan minta RT/RW setempat untuk terlibat. Karena ini sudah ada UU Kesehatan Jiwa, dimana apabila gangguan jiwa tidak diobati maka masyarakat akan mendapatkan sanksi atau hukuman. Artinya dia melanggar hak-hak asasi pasien tersebut. Jadi, orang yang seharusnya bisa mendapatkan pengobatan, bisa mendapatkan aset kesehatan, aset sosial, aset dukungan dan lain sebagainya. Jadi, itu sudah tercantum pada UU Kesehatan Jiwa,” tegasnya.

Sementara itu, Kabupaten Bogor memiliki program sosial untuk mendukung kesembuhan pasien ODGJ. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk memberikan kesempatan kepada pasien agar dapat mendapatkan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya.

“Selain itu, kita juga ada program sosial dari Kabupaten Bogor, jika pasiennya sudah baik maka psikiater akan merekomendasikan bahwa ia membutuhkan dukukan yang lain. Dukungan tersebut yaitu salah satunya dengan membuka usaha, untuk pemberdayaan di masyarakat, atau untuk dikembalikan ia sebagaimana fungsinya. Sebab jangan sampai ada stigma di masyarakat jika ODGJ itu tidak bisa bekerja lagi, atau menjadi beban untuk keluarganya. Oleh karena itu, kita berniat untuk memandirikan kembali pasien ODGJ ini kepada masyarakat dan diterima oleh masyarakat,” tutup dr. Yuniar, P.K,Sp.Kj (K).

** M. Fadhil Mauludi [MG/UIK-Jb]

HADITS HARI INI

0

21 November 2020
05 Rabi’ul Akhir 1442 H

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al Makkiy, telah menceritakan kepada kami Amru bin Yahya dari kakeknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing.

Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga ya Rasulullah ?”.
Beliau menjawab:

Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa qirat (keping dinar) milik penduduk Makkah.

HR Bukhari No. 2102.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kantor dan Mes Karyawan Pabrik Pengolahan Obat Nyamuk Ludes Terbakar

0

Kemang | Jurnal Inspirasi

Diduga akibat arus pendek listrik sebuah bangunan perkantoran dan Mes Karyawan pabrik pengolahan bahan baku obat nyamuk ludes terbakar yang berlokasi di jalan raya Jampang Karihkil, Desa Tegal Kecamatan Kemang, pada Jumat malam (20/11), pukul 20.30 WIB.

Kronologi kejadian, awal mula terlihat kepulan asap tebal yang membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah, diduga pabrik pengolahan bahan baku obat nyamuk tersebut terbakar akibat konsleting listrik. Dalam kejadian tidak hanya bangunan pabrik ludes melainkan sejumlah uang untuk gajian pegawai ikut terbakar, tidak ada korban jiwa hanya kerugian material.

“Kejadian pukul 20.30, api langsung menjalar ke semua ruangan karena bangunan terbuat dari kayu mengakibatkan ludes terbakar,” kata Manajer Pabrik, Emus kepada wartawan, Jumat malam (20/11).

Ia mengaku, selain menghanguskan bangunan, uang untuk gaji karyawan pun ikut terbakar yang tersimpan di laci pabrik.

“Alhamdulilah kalau korban tidak ada hanya bangunan permata dan ada uang gaji buat karyawan ikut terbakar,”kata Emus.

Hal senada diungkapkan Sekdes Desa Tegal Ahmad Jaenudin bahwa dari hasil laporan pihak Pabri selain banguna ada uang gaji karyawan yang ikut terbakar.

“Tadi katanya ada 200 juta buat gajih karyawan yang juga ikut terbakar,”kata Sekdes.

Sementara itu, Komandan Regu Damkar Sektor Parung Suherman mengaku, api berasal dari arus pendek sehingga cepat menjalar karena bangunan terbuat dari kayu.

“Kita dibantu 10 unit damkar dibantu dari unit damkar Kota Depok, dan api bisa dipadamkan sekitar tiga jam kemudian,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

KH. Adian Husaini: Ngajak Berbuat Baik Itu Dakwah

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama pimpinan OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) dan anggota forum zakat dari berbagai lembaga seperti Bazma Pertamina, PPPA Darul Quran, MTT Foundation, serta lembaga lainnya, menggelar pertemuan di aula gedung Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor (FAI UIKA), Jumat (20/11).

Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00- 10.00 WIB. Acaranya dibuka Ketua Umum FOZ Bambang Suherman, keynote speaker KH. Didin Hafidhuddin, diisi oleh Ketua Umum DDII KH. Adian Husaini yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Forum Zakat Agus Budiyanto.

Ketua Umum DDII KH. Adian Husaini menyampaikan pesan keharusan menjadi da’i. “Harus jadi da’i, karena itu memang kewajiban, semampunya, menulis itu dakwah, mengajak orang berbuat baik itu dakwah,” ujar Adian kepada Jurnal Bogor.

Hal ini berawal saat Adian menyinggung program DDII mengenai da’i pedalaman. Adian menjelaskan, “Selama bertahun-tahun Dewan Dakwah mengirim da’i ke daerah-daerah pedalaman karena memang susah diakses media transportasi dan komunikasi, sekarang lebih mudah. Kita banyak di Mentawai, Serang, di Maluku, dan sebagainya,” ujar Adian.

“Permasalahannya ibadah harian, mereka ngaji tidak bias, shalat gak bisa, wudhu tidak bisa, program ini dari tahun 68 kita sudah mengirim ke daerah. 30% yang kita kirim akhirnya menetap, ada program juga dai pulang kampong,” lanjut Adian.

Adian menegaskan lagi  bahwa berdakwah bisa dilakukan dimana saja. ”Gak harus di daerah-daerah, dimana saja, profesi apa aja yang penting mengajak berbuat baik,” jelas Adian.

**Eliyani [MG/UIK-Jb]

Toko Sembako di Pasar Anyar Terbakar

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Sebuah toko sembako di Pasar Kebon Kembang, tepatnya diseberang PGN, Jalan MA Salmun, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada Jumat (20/11) terbakar. Informasi yang diperoleh dari

Polmas (polisi masyrakat) Bogor Raya, Dody (46), kebakaran itu terjadi pada pukul 18:45 WIB. Penyebab utama kebakaran berasal dari korsleting listrik.

Dari pantuan Jurnal Inspirasi, sebagian api masih berkobar di dalam toko dan petugas kebakaran saat ini sedang  melakukan pemadaman oleh unit Damkar gabungan Kota dan Kabupaten Bogor. Polisi kini sedang menjaga  lokasi kebakaran dan mengatur lalu lintas untuk mempermudah akses kendaraan pemadam kebakaran menuju lokasi kebakaran.

Ilham Sadjali [MG/UIK-Jb]

Puskesmas Ciomas Tangani Pendampingan Pasien ODGJ oleh Dokter Spesialis Kejiwaan

0


Ciomas | Jurnal Inspirasi

Pelayanan dan pendampingan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) tidak hanya berada di rumah sakit saja, namun juga ada di Puskesmas, salah satunya di Puskesmas Ciomas. Psikiater atau dokter spesialis kejiwaan Puskesmas Ciomas, dr. Yuniar, P.K,Sp.Kj (K), mengatakan bahwa pelayanan ini salah satu program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor yang sudah berlangsung sejak 2017 lalu.

Program tersebut diadakan setiap dua bulan sekali. Dengan adanya program di Puskesmas Ciomas ini, untuk memberi pelayanan dan pendampingan psikiater kepada pasien ODGJ, sekaligus untuk menjembatani hasil riset pada akhir tahun lalu. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, kegiatan ini dipersiapkan pukul 08.00 WIB dan berlangsung dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai.

“Jadi, seperti yang kita ketahui bahwa angka ODGJ di Bogor sudah cukup tinggi dan tidak semua selesai di rumah sakit. Butuh keberlangsungan pengobatan, terapi, karena pengobatan ini berjangka panjang. Dengan kondisi (pandemi) yang sekarang ini menumpuk di rumah sakit juga tidak sehat, padahal sebetulnya pasien ODGJ sudah bisa ditangani di Puskesmas,” ujar dr. Yuniar, P.K,Sp.Kj (K), Kamis (19/11).

“Program kegiatan ini juga sudah sejak 2017 lalu, yang seharusnya sampai bulan April 2020 tapi kita terakhir di bulan Februari karena terjeda pandemi. Jadi kegiatan yang terlewat pada awal tahun itu di pindahkan ke akhir tahun sekarang ini. Sebetulnya kami turun dua bulan sekali, bukan per bulan seperti sekarang ini. Namun karena pandemi dan kita mengejar target, akhirnya dikebutkan menjadi per bulan,” jelasnya.

Selain itu, akses yang sulit juga membuat tergeraknya Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk memudahkan masyarakat atau pasien ODGJ agar dapat mendatangi pusat pelayanan yang tepat dan terdekat.

“Di beberapa daerah juga memiliki akses yang sulit, mengambil obat harus ke kota dengan jarak yang jauh, jadi banyak orang membutuhkan obat namun pengobatannya tidak tuntas. Maka dibuatlah program psikiater yang berada di Kota Bogor maupun di Kabupaten Bogor, diberikan jatah untuk bisa mendampingi puskesmas-puskesmas, terutama diprioritaskan kepada Puskesmas yang memiliki pasien ODGJ lebih dari 50 orang per wilayah. Jadi, dengan seperti itu kita dapat mengetahui permasalahan di lapangan,” ungkapnya.

Sementara itu, terdapat kader-kader PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) dan IPSM (Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat) yang hadir pada program tersebut. Di antaranya yaitu Neng Jalu dan Anita. Mereka dari Kabupaten Bogor yang dipercayai mendampingi di Kecamatan Ciomas, dan telah lama mendampingi PDM (Penyandang Disabilitas Mental). Mereka pun mengungkapkan, salah satu tujuan program ini untuk menerbar semangat dan kesembuhan pasien.

“Saya mendampingi PDM ini sudah 3 tahun, dan hari ini kebetulan ada pendampingan kesehatan jiwa disini (Puskesmas Ciomas). Hari ini 15 pasien, biasanya lebih, mungkin tidak hadir karna tadi sudah saya coba hubungi. Jadwal kami lakukan setiap bulan sekali dari Dinas Kesehatan. Tujuan dan harapan kami dengan diadakannya pelayanan ini, (maaf) untuk kesembuhan mereka, untuk memberikan semangat, karena apa yang sudah kami dampingi terhadap PDM ini alhamdulillah bisa sembuh.”

“Selain itu, mereka juga bisa mandiri kembali. Tahun 2018 pun kami se-Kabupaten Bogor berhasil mengajukan bantuan UEP (Usaha Ekonomi Produktif) dari program Kemensos. Jadi, mereka (pasien PDM) yang sudah sembuh kami ajukan dan mendapatkan modal untuk membangun usaha. Dan alhamdulillah, untuk di Kecamatan Ciomas ini kami berhasil mendampingi 3 orang yang mendapatkan UEP,” ujar Neng Jalu.

Tidak hanya itu, salah satu pengurus RW pun turut hadir mendampingi pasien ODGJ. Ia pun menyambut baik dan berharap agar pasien bisa mandiri karena akses yang mudah dan lebih dekat.

“Kebetulan saya juga kader di dua Posyandu, sekaligus sebagai ibu RW. Kita sebagai kader semua dilibatkan agar sama-sama tahu segala permasalahan yang ada di RW kita. Dengan begini, mudah-mudahan pasien bisa mandiri, sehingga kedepannya kita tidak harus jauh-jauh mendampingi berobat ke daerah Bogor Kota. Disana juga pasti mengantri dari pagi hari, kalo disini tidak harus mengantri lama,” ujar Ecin, RW 04 Ciapus, Kota Batu.

** M. Fadhil Mauludi [MG/UIK-Jb]

Rempah – rempah Petani Indonesia Jadi Bahan Utama Kue Tradisional Jerman

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Produk rempah – rempah yang dihasilkan petani Indonesia seperti kayumanis, kapulaga, cengkeh, pala dan bunga pala (fuli) menjadi bahan utama pada Lebkuchen (roti jahe tradisional Jerman). “Tanpa rempah – rempah ini tidak akan bisa dibuat Lebkuchen dan tidak akan berasa seperti Lebkuchen. Ini berarti Lebkuchen khas Numberg tidak akan ada, “ tutur. Martin NOS pemilik Konditorei Rittinghouse di Numberg Jerman.

Testimoni yang dikutip dari tayangan Atase pertanian KBRI di Brussel mengenai produk pertanian Indonesia di benua Eropa yang menampilkan keunggulan rempah Indonesia, Martin NOS menuturkan rempah – rempah Indonesia seperti kayumanis, kapulaga, cengkeh, pala, bunga pala (fuli) menjadi sangat penting di Jerman khususnya di Numberg terutama saat natal.
Selain untuk Lebkuchen, Ia mengaku menggunakan rempah – rempah lainnya dari Indonesia untuk membuat bermacam – macam kue.

“ Kayumanis Indonesia mempunyai karakteristik aroma yang khas yang membuat kue sangat harum dan beraroma sedap, “ ungkapnya.

Hal senada disampaikan Thomas Linhardt pemilik toko tanpa kemasan Zero Hero di Erlangen Jerman, menuturkan menyukai produk Indonesia karena mempunyai kualitas yang sangat bagus sehingga memuaskan pelanggannya.

“ Apabila pelanggan puas, kami juga puas dan kami ingin melanjutkan dan meningkatkan kerjasama ini. Kami memerlukan Kemukus, lada hitam, lada putih, pala, bunga pala, cengkeh dan produk premium lainnya dari Indonesia yang organic karena kita bersertifikat organic, “ tuturnya.

Dimasa pandemik Covid 19, permintaan rempah – rempah dari Indonesia ke Eropa lebih tinggi dari sebelumnya. Konsumen Uni Eropa yang selalu menginginkan produk yang sehat dan aman, menjadi peluang bagi petani Indonesia untuk memantapkan diri di pasar Eropa dengan kualitas premium.

Atase Pertanian KBRI di Brussel dan Wilayah Kerjanya Wahida Maghraby mengatakan akses pasar Uni Eropa hanya bisa ditembus dengan mengirimkan produk berkualitas tinggi terutama organik.

“ Konsumen UE sangat mengapresiasi produk berkualitas sehingga sangat penting bagi Indonesia untuk bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan ekspektasi konsumen UE, “ ujarnya.

Hadir sebagai narasumber dalam webinar Brokoli ( Ngobrol Asyik Via Online), yang diselenggarakan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor, Rabu (16/11) lebih jauh Wahida mengungkapkan kunci untuk memasuki pasar UE adalah produk dengan prinsip sustainable dan ramah lingkungan, organik dan fair trade.

Webinar yang membahas berbagai hal seperti kategori produk organik yang diterima di UE, persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat memasuki pasar UE, sertifikasi organik, prosedur ekspor, produk-produk yang digemari dan karakteristik yang harus dimiliki produk tersebut, serta peluang dan tantangan ini mendapatkan respons positif masyarakat dimana lebih dari 196 orang terdaftar sebagai peserta.

Sesi tanya jawab berlangsung sangat aktif memperlihatkan antusiasme tinggi para peserta. Salah satunya D. Naloanro, pelaku usaha yang sudah lama mengekspor produk organik ke Eropa. Anro yang juga Ketua Sustainable Spices Initiative mengungkapkan bahwa pasar produk organik sangat terbuka di Eropa, Jusru kesulitan yang dihadapi adalah kekurangan pasokan dari Indonesia. Anro menyarankan pemerintah segera menyiapkan pemetaan dan perencanaan komoditas organik di level petani produsen agar keberlangsungan pasokan dapat terjaga.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengharapkan dalam lima tahun ke depan ekspor pertanian meningkat sebanyak tiga kali lipat. Untuk mendukung ekspor tersebut Mentan SYL mengungkapkan, Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program strategis Gerakan Tiga Kali Ekspor (GraTieks). Melalui program ini, sektor pertanian diharapkan menjadi penopang kemajuan ekonomi.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menuturkan tujuan Kementan menggenjot ekspor sungguh luar biasa. Ditengah situasi pandemi yang sangat mengganggu segala sektor sendi dan sendi kehidupan, produk Domestik Brutto pertanian tetap positif. Kata Dedi bicara ekspor tidak hanya produktivitas tapi kualitas dan kontinuitas menjadi variabel – variabel penting yang menjadi penentu keberhasilan ekspor Indonesia.

** Regi/PPMKP

Naturalisasi Ciliwung Libatkan Asing

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan menggandeng Pemerintah Victoria Australia, Monash University mengenai kerjasama program naturalisasi Sungai Ciliwung.

“Semua bentuk kerjasama dalam kaitan percepatan program Naturalisasi Sungai Ciliwung menjadi prioritas kerjasama Bogor dan Victoria Government,” ujar Wali Kota Bima Arya, Kamis (19/11).

Dalam waktu dekat, kerjasama yang akan direalisasikan adalah rencana hibah septictank komunal yang bisa merubah kotoran menjadi kompos dari salah satu perusahaan di Pemerintah Victoria ke Kota Bogor.

Hal ini merupakan bagian dari manajemen pengelolaan limbah dan infrastruktur yang mendukung kebersihan sungai ciliwung.

Bima Arya menceritakan pengalamannya satu pekan lalu bersama beberapa kepala perangkat daerah dan Komunitas Peduli Ciliwung menyusuri sungai Ciliwung, mulai dari Bogor ke Jakarta selama dua hari menggunakan perahu karet.

Menurutnya, cukup banyak persoalan yang ditemui, tidak hanya persoalan sampah, ada juga limbah industri dan yang lainnya.

Sementara itu, Perwakilan Pemerintah Victoria untuk Asia Tenggara, Rebecca Hill diawal memperkenalkan diri ke beberapa kepala daerah di kawasan Asia tenggara, termasuk Kota Bogor.

Dia mengungkapkan apresiasinya mengenai komitmen Kota Bogor atas kerja sama dengan Pemerintah Victoria dalam program Naturalisasi Sungai Ciliwung.

“Kami merasa senang Pemerintah Victoria dapat terlibat dan kami tahu kedepan kerja sama yang dijalani dengan Jawa Barat dan Kota Bogor sangat penting, karena memberikan tantangan. Fokus naturalisasi sungai berdasarkan perspektif yang berkelanjutan, perspektif kehidupan yang lebih baik dan perspektif ekonomi. Inilah yang menjadi alasan kami memberikan dukungan program tersebut,” pungkasnya.

Fredy Kristianto

Pemkot Masih Cari Solusi Sehatkan PDJT

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mencari solusi untuk menyehatkan kembali Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT).

“Pemerintah masih belum memilih langkah memailitkan karena kita masih mencari solusi untuk menggandeng pihak ketiga menyehatkan kembali PDJT,” ujar Bima kepada wartawan, Kamis (19/11/2020).

Menurut dia, sebenarnya sejak beberapa tahun lalu sudah ada pihak ketiga yang tertarik menjalin kerjasama dengan PDJT.

“Tapi kan kondisi sekarang berbeda, lebih sulit. Tapi kita tetap akan usahakan itu,” katanya.

Bima juga mengatakan, bila pihaknya akan memenuhi semua hal yang dibutuhkan dalam rangka menyehatkan PDJT.

“Pak Wakil sedang fokus disitu, berkoordinasi bersama dengan anggota dewan untuk membicarakan solusi bagi PDJT, kalau diperlukan audensi-audiensi dan sebagainya saya kira sudah ada, semua tidak ada masalah,” jelasnya.

Bima menegaskan bahwa PDJT sejak 2014 lalu sudah hancur karena gaji karyawan lebih besar daripada pemasukannya.

“Pengeluaran lebih besar dari penerimaan. Karyawan banyak, fasilitas banyak,” tegasnya.

Atas dasar itu, kata Bima, ketika itu pihaknya sempat membentuk tim penyehatan PDJT. Namun, terlalu berat karena hutang kewajiban terhadap karyawan sangat besar.

“Sedangkan nggak mungkin dianggarkan lewat Penyertaan Modal Pemerintah (PMP). Makanya dicari kerjasama dengan pihak ketiga,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub), Eko Prabowo mengatakan bahwa Kota Bogor akan mendapatkan bantuan BTS dari Kemenhub senilai Rp81 miliar.

“Tapi karena PDJT sedang sakit, mesti diagnosa penyakitnya. Caranya adalah dengan mengubah status badan hukum sebagai dasar mendiagnosa penyakit. Bila dipailitkan akan kurang arif, sebab PDJT adalah bagian dari penataan transportasi Kota Bogor,” ujar Eko.

Dengan adanya bantuan BTS, kata Eko, nantinya tak perlu lagi ada kekhawatiran PDJT akan kembali merugi. Sebab, BOK, keuntungan badan hukum sudah dihitung oleh Kemenhub. Apalagi, rencananya sebanyak lima koridor akan dihidupkan kembali untuk membantu mengurai kepadatan kawasan Puncak.

“Koridor 1,2,3,7 dan 8 akan dihidupkan. Rute tengah kota juga bakal ada dimulai dari Jalan Kapten Muslihat, Dramaga hingga Bubulak,” katanya.

Selain itu, pemerintah pusat juga akan membayar feeder-feeder yang ada di koridor tersebut. “Soal mekanismenya apakah pakai tab atau tidak masih dirumuskan,” katanya.

Eko menambahkan, 2021 mendatang pihaknya juga akan membeli 10 bus dengan anggaran senilai Rp10 miliar.

Fredy Kristianto

RTRW Mandek, PDRB Terancam Turun

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor terancam turun, apabila revisi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tak kunjung rampung. Sebab, para investor masih menunggu pengesahan RTRW baru untuk memulai pembangunan.

“RTRW mutlak kita kebut. Kalau sudah selesai sosialisasikan ke investor dan pengembangan perumahan, karena dengan adanya pembangunan, ada ekonomi yang masuk. Kalau sudah ada pembangunan infrastruktur atau fisik PDRB akan meningkat dan pendapatan meningkat,” ujar Sekretatis Daerah Kota Bogor, Syarifah Sofiah, baru-baru ini.

Syarifah menuturkan, selain memikirkan RTRW, juga harus bersama-sama memikirkan pembangunan pusat-pusat ekonomi baru atau wilayah pembangunan baru.

Kota Bogor ini, tengah kotanya menjadi kota heritage yang tidak boleh dirubah, karena ada nilai sejarah. Pusat ekonomi atau pembangunan baru bisa disebar di wilayah lainnya yang memiliki potensi.

“Di Suryakencana sudah ada Pecinan, nanti katanya akan ada Kampung Arab, ini bisa jadi wisata baru. Anak-anak muda Kota Bogor ingin kotanya berubah. Kita sudah ada julukan Heritage City, Smart City, Green City, City of Runner, kota ramah keluarga dan yang terbaru dari IPB Science City. Ini ekonomi yang bisa dibangun, walaupun di Covid-19 tidak banyak yang bisa dilakukan, tapi harus dipersiapkan dari sekarang,” terangnya.

Sekda menambahkan, sebagai kota yang hidup dari jasa dan perdagangan, Pemkot Bogor dituntut untuk bisa mendatangkan wisatawan. Kalau hanya mengharapkan dengan benah kampung namun tanpa akses yang memadai Kota Bogor akan ketinggalan dengan destinasi wisata di Kabupaten Bogor.

“Jadi kita harus buat yang lebih spesifik, buat paket-paket wisata. Kami prediksi 2021 wisatawan ke Kota Bogor 7,7 juta jumlahnya memang lebih kecil dari sebelum Covid-19 yang mencapai 9 juta wisatawan,” katanya.

Sementara itu, Pemkot Bogor pada 21 Oktober 2020 telah melakukan pembahasan lintas sektor bersama kementerian terkait.

“Kita sudah klarifikasi langsung ke kementerian soal RTRW. Tapi sampai sekarang persetujuan berita acara belum diserahkan. Padahal, itu penting untuk menaikanberita acara menjadi persetujuan substansi menteri,” ujar Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Rudy Mashudi.

Rudy menegaskan bahwa persetujuan substansi menteri merupakan prasyarat agar dapat diparipurnakan di DPRD. “Soal revisi RTRW, kami dapat rekomendasi gubernur pada akhir 2019. Tapi karena pandemi Covid-19 jadi terhambat,” ucapnya.

Hambatan lainnya, sambung Rudy, lantaran seluruh daerah di Indonesia mengajukan revisi RTRW dalam waktu yang bersamaan. “Itu juga salah satu kendalanya,” imbuhnya.

Menurut dia, pemkot sudah beberapa kali melaksanakan praloket dan sudah melakukan koreksi berkali-kali soal RTRW yang akan direvisi serta asistensi di kementerian, seiring disahkannya Undang Undang Omnibus Law.

“Padahal, salah satu poin omnibus law adalah mempercepat pengesahan RTRW dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Makanya kami meminta pusat memberikan kepastian berapa lama persetujuan substansi menteri keluar. Kami berharap akhir November nanti semuanya bisa rampung,” kata Rudy.

Ia mengakui bahwa tersendatnya revisi RTRW akan menjadi hambatan tersendiri bagi pemkot untuk menggeber pembangunan infrastruktur. Rudy menambahkan bahwa pemkot melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) telah menyarankan agar pusat membuat Peraturan Pemerintah soal penyelenggaraan penataan ruang. “Jadi nanti persetujuan RTRW bisa dikonsentrasi ke provinsi, dan saat ini kebijakan itu sedang dibuat,” tandasnya.

Fredy Kristianto