25.2 C
Bogor
Wednesday, April 22, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1316

Seluruh Kades di Dramaga Bakal Diperiksa Inspektorat

0

Dramaga | Jurnal Inpirasi

Kepala desa (Kades)  di Kecamatan Dramaga ramai-ramai bakal dilakukan pemeriksaan reguler oleh Inspektorat Kabupaten Bogor mulai dari penggunaan Anggaran Dana Desa (ADD), Dana Desa (DD) BPHRD termasuk review anggaran yang diberikan Bupati Bogor sebesar Rp 1 miliar.

“Pemeriksaan itu meliputi 10 desa yang ada di Kecamatan Dramaga jadi di masing masing desa pemeriksaanya dari mulai 1-6 Maret 2021,” kata Camat Dramaga Ivan Pramudia, Senin (22/2/2021).

Selain pemeriksaan soal beberapa pengguna anggaran bantuan dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten juga bantuan anggaran Samisade senilai 1 miliar akan jadi bahan pemeriksaan pihak inspektorat. “Termasuk review Samisade nanti akan dilakukan pemeriksaan oleh pihak inspektorat,” singkatnya.

Lebih lanjut Ivan mengimbau  agar kepala desa menyesuaikan dengan ketentuan peraturan Bupati Bogor. “Saya imbau kepada para kepala desa jangan bermain main soal anggaran dan tetap ikuti ketentuan peraturan yang ada,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Aktivis Sebut Jalan Berlubang di Bogor Barat Akibat Truk Tambang

0

Ciampea | Jurnal Inspirasi

Intensitas hujan yang cukup tinggi belakang ini selain menyebabkan beberapa bencana alam, tingginya curah hujan juga membuat banyak ruas jalan cepat rusak. Apalagi jalan provinsi di wilayah Bogor Barat,  dan beberapa jalan provinsi di Kabupaten Bogor lainnya yang dilintasi truk tronton  kini mulai rusak. Karena  selain disebabkann karena curah hujan banyak truk tronton bermuatan material tambang, pasir batu hingga tanah merah.

Ketua Aliansi Gerakan Jalur Tambang (AGJT) Junaedi menuturkan, persoalan kerusakan infrastruktur jalan pastinya akan terus terjadi di Cigudeg, Parung Panjang, Rumpin maupun Gunung Sindur. Hal ini diakibatkan banyaknya aktivitas truk tambang dalam mendistribusikan hasil tambang secara berlebih.

“Jalan yang ada  sekarang hanya memperlancar distribusi tambang dan jalan jadi rusak bisa mengakibatkan kecelakaan, polusi dan kemacetan di jalan,” tegasnya.

Junaedi mengatakan, dari hasil kajian dan pendataan  pihaknya di Kabupaten Bogor pada tahun 2018 banyak truk yang mengakut material tambang dari wilayah Kabupaten Bogor bagian Barat, Timur , dan Utara.

“Terbanyak perusahaan tambang ada di wilayah Cigudeg hampir 20 perusahaan tambang, Rumpin 11 perusahaan, Cariu 2 perusahaan dan 1 perusahaan tambang  di wilayah Parung Panjang belum lagi banyak galian liar,” bebernya.

Sementara Kabid Dalops Dishub Kabupaten Bogor Bisma Wisuda mengatakan untuk jalan provinsi bukan kewenangan Dishub Kabupaten Bogor melainkan Provinsi Jabar. “Dinas provinsi selama ini melaksanakan cek di terminal tipe B Provinsi, tapi nanti pasti saya akan koordinasi dengan dishub provinsi atas banyak jalan rusak yang diduga akibat truk tronton,” kata Bisma.

Hal serupa diungkapkan Kepala UPT Jalan dan Jembatan Wilayah Ciampea, Bondan bahwa pihaknya tidak ada kewenangan untuk memperbaiki jalan rusak di jalan provinsi. “Itu jalan provinsi dan kewenangan UPT Jalan Provinsi di Paledang, Kota Bogor,” kata Bondan.

Ia pun tak menampik cuaca ekstrem saat ini memang mengakibatkan jalan jalan cepat mudah rusak, bukan hanya jalan provinsi jalan kabupaten juga cepat rusak. “Apalagi jika jalan itu dilintasi kendaraan yang memiliki tonase lebih,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Klaster Keluarga Kian Meningkat di Kecamatan Ciampea

0

Ciampea | Jurnal Inspirasi

Kasus Covid-19 masih bertambah di wilayah Kabupaten Bogor. Kali ini tim kesehatan dari Puskesmas Pasir melakukan rapid antigen terhadap empat keluarga yang berada di 4 wilayah Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea. Kondisi ini masuk kedalam kategori klaster keluarga.

“Ada 4 kasus baru di Desa Cinangka yakni 1 orang dari komplek Griya Salak Asri, 1 orang di komplek Griya Salak Endah, 1 orang di Kampung Sawah dan 1 orang di Kampung Cinangka,” kata Ketua RT 02, RW 09 Wildan Hidayat saat dikonfirmasi, Senin (22/2/2021).

Ia menjelaskan, empat keluarga langsung dilakukan rapid antigen yang dilakukan tim dari Dinas Kesehatan dari Puskesmas Pasir. “Akibat banyak dan titiknya berbeda para medis pun sampai kelelahan. Tracing ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan pemukiman sekitar,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Truk Pasir Cilegon Hantam Pagar Tembok Rumah Warga

0

Gunung Sindur | Jurnal Inspirasi

Sebuah truk tronton bernomor polisi B 9039 DY menabrak pagar tembok rumah warga di Jalan Padurenan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Senin (22/2) pagi, pukul 06.30 Wib. Sopir truk tronton pengangkut material pasir, Rustam (36) mengatakan saat itu ia berangkat dari Cilegon mengangkut pasir namun di jalan raya Pedurenan, Gunung Sindur rem tidak berfungsi.

Untuk menghindari adanya korban jiwa akhirnya kemudi dibuang ke sebelah kiri dan menghantam pagar tembok rumah warga. “Karena remnya ngelos saya hilang kendali. Akhirnya truk menabrak pagar tembok rumah warga, alhamdulillah saya tidak ada luka cuma syok,” kata Rustam kepada wartawan, kemarin.

Saksi mata Ajum  (45) mengatakan  truk tersebut melaju sedikit kencang dari arah Serpong melintasi jalan raya Pedurenan, Gunung Sindur. “Truk oleng diduga alami rem blong dan menabrak tembok pagar rumah warga, sehingga truk pun terguling,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Achmad Fathoni: Longsor di Bojongkulur Jadi PR Dinas

0

Gunung Putri | Jurnal Inspirasi

Anggota DPRD Kabupaten Bogor Komisi III, Achmad Fathoni meninjau lokasi bencana longsor yang terjadi di Perumahan Bumi Mutiara, Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri. Dia menyatakan banyaknya pengembang yang membangun perumahan di posisi lebih datar dari perkampungan menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor di lokasi perumahan.

“Banyak lokasi perumahan yang posisinya berada di bawah kampung karena biasanya lahannya dicut and fill dulu baru dibangun lalu efeknya karena terlalu terjal begini,” tuturnya Senin (22/2).

Masih menurut Fathoni, Tembok Penahan Tanah (TPT) yang dibangun para pengembang tidak mampu menahan pergeseran tanah. Sementara di perumahan tersebut, tinggi TPT hanya setengah dari tinggi tanah yang ada.

Menurutnya, banyak TPT yang dibangun pengembang yang tidak dikerjakan dengan aman atau sesuai dengan kapasitas tinggi tanah dan itu pun ditinggalkan si pengembang yang belum diserahkan resmi ke pemerintah.

“Jadi PR kita, nanti coba kita dorong ke dinas bersama-sama. Yang pertama urusan tebing yang belum terselesaikan terbangun dan kedua masalah sistem drainase,” tegas politisi PKS itu.

Dalam kunjungan non resminya itu, Fathoni didampingi Kepala Dusun (Kadus) IV, Ahmad Wahyudi. Menurut Wahyudi, longsor terjadi di dua titik yakni di RT 03/32 dan di RT 1/32 di perumahan Bumi Mutiara pada Sabtu(20/2) dini hari.

“Ada beberapa RW terutama di perumahan Bumi Mutiara yang TPT-nya rawan itu mulai dari RW 32, 33 sampai 35 karena ketinggian tanah bisa mencapai 10 meter dan terjal,” tuturnya.

Sementara, sambung Wahyudi, dari ketinggian tanah yang ada, TPT hanya mencapai ketinggian setengahnya. “Sehingga ketika hujan, air menggerus tanah ke bawah dan tidak ada saluran air sehingga terjadi longsor,” tandasnya.

** Nay Nur’ain

Satpol PP Turunkan Reklame di Jalan Raya Leuwisadeng

0

Leuwisadeng l Jurnal Inspirasi

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Leuwisadeng menertibkan sejumlah spanduk yang sudah habis masa pasangnya di sepanjang  jalan Raya Leuwisadeng, Senin (21/2). “Penertiban reklame tersebut dilakukan untuk mewujudkan ketertiban dan keindahan di setiap wilayah jalan raya leuwisadeng,” ujar Kasi Trantib Kecamatan Leuwisadeng, Cecep Tarmiji kepada Jurnal Bogor.

Menurutnya, dengan adanya penertiban seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk menaati peraturan yang telah ditetapkan. “Reklame yang terpasang di pinggir jalan itu, sengaja kami tertibkan karena telah habis masa berlakunya,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan,  pihaknya menjadwalkan selama satu pekan untuk terus membersihkan reklame tersebut.

** Arip Ekon

Kementan Gandeng Kapten Siapkan Petani Muda Magang di Jepang

0

Malang | Jurnal Inspirasi

Program ketahanan pangan yang diluncurkan pemerintah harus mendapat dukungan dari berbagai kalangan termasuk dari kalangan milenial. Dengan Program Petani Milenial diharapkan bisa menciptakan suplai yang konsisten dan berkualitas sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada awal peluncuran program ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyiapan tenaga kerja harus dilakukan. “Kita membutuhkan petani milenial yang siap bersaing secara global. Untuk itu, kemampuan tenaga tani harus disiapkan, salah satunya melalui program magang,” katanya,

Untuk itu dalam upaya meningkatkan kemampuan para petani milenial, Kementerian Pertanian menggandeng Komunitas Penyedia Tenaga Kerja Internasional Indonesia (Kapten) telah bersepakat mengirimkan petani muda untuk magang di Jepang.

Demikian halnya arahan dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi, Kapten dipilih menjadi mitra karena sudah lama malang melintang di dunia pertanian.”Kapten tahu bagaimana mengelola para tenaga magang di luar negeri, apalagi di Jepang. Dan Indonesia memang punya kompetensi dalam mengelola tenaga magang ke negara-negara yang sudah maju, utamanya tentu saja ke negara yang sudah maju pertaniannya misalnya Jepang, Taiwan, Korea dan sebagainya,” katanya.

Dedi yakin dengan kerja sama ini kemampuan tenaga tani Indonesia akan meningkat pesat. “Pasti nanti outputnya juga akan meningkat pesat. “Sekarang target Pak Menteri itu 1.000 orang berangkat ke Jepang. Itu istimewa. Sebab kalau tahun-tahun lalu itu paling sekitar 200-an, tapi tahun ini harus 1.000,” ujarnya.

Dedi berharap akselerasi ini memberikan dampak positif. Karena, sektor pertanian menjadi tumpuan  pembangunan ekonomi nasional. Dalam kondisi Covid-19 sektor lain mengalami kemunduran, tapi sektor pertanian masih mampu tumbuh secara signifikan.

“Oleh karena itu, kita harus siapkan petani milenial untuk terjun ke bisnis pertanian, baik level Indonesia maupun di level internasional, salah satu caranya dengan magang ke Jepang.

Hal lain menurut Prof. Dedi, Jepang memiliki etos kerja yang baik dan memiliki budaya kerja keras. “Saya tahu persis bagaimana etos kerja orang Jepang. Bayangkan, tahun 45 Jepang adalah negara paling bangkrut di dunia gara-gara kalah perang dunia ke-2. Jepang dibombardir sekutu di Hiroshima dan Nagasaki akhirnya dia menyerah tanpa syarat. Saat itu utangnya di mana-mana. Tapi 25 tahun kemudian, sekitar  tahun 70-an Jepang sudah menguasai dunia melalui sektor elektronik,” terangnya.

Dedi menilai hal itu dimungkinkan karena memang etos kerjanya luar biasa. Menurutnya, petani Jepang bekerja ke lapangan sebelum matahari terbit dan baru pulang ke rumah setelah matahari terbenam berarti jam kerja kan lebih dari 12 jam.

“Bukan hanya petaninya, semua pekerjaan pun begitu. Apalagi karyawan di industri-industri karyawan termasuk di pemerintah artinya etos kerjanya luar biasa,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut kerja sama Kementan, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu,  Dr. Wasis Sarjono beserta jajarannya melakukan koordinasi dan sekaligus penandatangan MoU dengan pihak Kapten DPW perwakilan Kapten Jawa Timur yang diketuai oleh Aziz, dalam rombongan hadir pula Hudi dari Ponorogo, Untung Madiun, Edy Tulungagung, Doni Kediri, Annas dan Mukhsin dari Blitar, Samsul Surabaya dan Bagus Jombang. Koordinasi berkaitan dengan usaha Peningkatan Kompetensi Petani Muda melalui Program Magang Jepang dan Specified Skilled Worker (SSW).

Sementara Ketua  Dewan Pengurus  Komunitas Penyedia Tenaga Kerja International (Kapten) Jawa Timur, Aziz, mengatakan bahwa Kerjasama kapten dengan Jepang  bukan saja baru tahun 2020 namum sudah dilakukan sejak 1996 melalui Kementerian Tenaga Kerja,  dan sampai saat ini kami telah mengirimkan 10 ribu lebih dan dua ribuan telah menjadi wirausahawan.

Selanjutnya menurut Aziz seorang peserta magang Jepang, peserta tersebut harus dibekali teknis tentang komoditi yang akan ditekuni. Penyiapan SDM magang Jepang tentu harus dengan format khusus, dimana bahasa, budaya, fisik, mental, disiplin menjadi menjadi persyaratan penting. Mereka yang siap bekerja perlu sehat, perlu mental yang bagus dan yang terakhir itu adalah soal bagaimana kesiapan tentang kerohanian.

Lebih lanjut Aziz menyampaikan bahwa Kapten menyampaikan terima kasih kepada Kementan atas dibangunnya kerjasama dalam hal penguatan SDM. “Kami siap bekerjasama mulai dari hulu hingga hilir, mulai proses pemberangkatan sampai terlibat di bidang pengawasan dan perlindungan di negara penerima,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu Kepala BBPP Batu, menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan magang Jepang merupakan kegiatan super prioritas, oleh karena itu perlu kolaborasi dengan pihak terkait, seperti Kapten, perguruan tinggi maupun P4S atau Ikamaja. sehingga harapan Kementerian Pertanian untuk menumbuhkan 1000 petani milenial dapat diwujudkan.

**T2S/BBPP Batu

Indocement Lakukan Vokasi Otomotif di SMK Budiniah

0

Citeureup | Jurnal Inspirasi

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melakukan vokasi ke SMK Budiniah Citeureup, Kabupaten Bogor. Upaya ini untuk mendorong peningkatan sumber daya manusia (SDM) muda di tengah pandemi Covid-19. Pelajar dari sekolah tersebut diharapkan siap terjun dan bersaing di dunia industri khususnya di bidang otomotif.

Webinar ini diikuti oleh siswa kelas X dan XI SMK Budiniah pada Selasa (9/2) lalu dan SMK Budiniah sendiri merupakan salah satu SMK yang bekerjasama dengan Indocement dalam hal vokasi.

CSRS Division Manager, Gadang Wardono mengungkapkan program CSR Indocement terus berinovasi di tengah kondisi pandemi ini yang dilaksanakan atas kerjasama dengan Gerakan Masyarakat Mandiri (GEMARI).

“GEMARI sendiri adalah suatu program dari CSR Indocement di bidang pelatihan dan plasma teknik sepeda motor yang di mana pengelolaannya adalah mitra dari desa mitra Indocement Kompleks Pabrik Citeureup,” ujarnya melalui keterangannya, Senin (22/2).

Kegiatan ini melibatkan instruktur berpengalaman yang terbiasa memberikan edukasi pelatihan teknik sepeda motor di GEMARI yaitu Suhendar sebagai putra daerah Desa Lulut (salah satu desa mitra Indocement) dan juga instruktur praktik, Teguh.

Selain mendapatkan materi mengenai teknik dasar motor, peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai pelaksanaan K3 dan bulan K3 melalui narasumber Totok Tri Santoso dari Safety Department Indocement.

Menurut Gadang, program ini diapresiasi dengan sangat baik oleh guru dan siswa SMK Budiniah mengingat materi yang dipaparkan sangat aplikatif di dunia industri dan langsung dipandu oleh instruktur yang sudah pengalaman dalam bidang otomotif.

“Indocement berharap, kedepannya industri besar lainnya, khususnya di Kabupaten Bogor dapat turut berkontribusi pada peningkatan SDM muda melalui kegiatan vokasi ke SMK-SMK di sekitar lokasi industri, sehingga SDM muda Indonesia akan siap terjun ke industri dan bersaing secara global,” paparnya.

** Nay Nur’ain

Dua Balita di Leuwisadeng Alami Gizi Buruk

0

Leuwisadeng l Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kecamatan Leuwisadeng  dan Pemerintah Desa Leuwisadeng serta pihak Puskesmas Sadengpasar menangani dua anak yang menderita gizi buruk. Kasi Pendidikan dan Kesehatan dari Kecamatan Leuwisadeng Engkos Kosasih menuturkan, hasil pengecekan kedua penderita gizi buruk tersebut adalah adalah Aulia L berusia 7 bulan warga Kampung Bantarjaya RT 05 RW 01 dan Muhamad Gojali berusia 9 bulan 29 hari warga asal Pasirawi RT 05 R 05, Desa Leuwisadeng.

“Kedua penderita gizi buruk ini sebelumnya  telah ditangani tenaga medis di Puskesmas Sadengpasar. Setelah itu menjalani perawatan dengan diberikan asupan gizi,” kata Engkos Kosasih kepada wartawan, Senin (22/2).

Menurutnya, pendataan bagi kedua anak penderita gizi buruk ini merupakan tindak lanjut untuk pengembangan warga kedepan agar terwujud Bogor Sehat. “Secara nyata semua harus terlibat untuk membantu kesembuhan kedua penderita gizi buruk tersebut,” ujar Engkos.

Sementara itu, bidan Desa Leuwisadeng Dewi Ratih Purnamasari mengatakan, penderita gizi buruk  atas nama Muhamad Gojali kini telah ditangani pihak RSUD Leuwiliang. “Sudah 6 hari Gojali dirawat di RSUD,” terang Dewi.

Sedangkan penderita gizi buruk yang bernama Aulia  sebelumnya telah ditangani di Rumah Sakit Hermina Bogor. “Aulia sebelumnya selama 2 bulan telah ditangani di RS Hermina. Kini Aulia dilakukan rawat jalan ke dokter spesialis anak,” ungkapnya.

Dewi menjelaskan, selain menderita gizi buruk kedua anak tersebut menderita TB paru, Aulia mengidap penyakit penyerta TB Milier, sedangkan Muhamad Gojali mengidap TB biasa. Ia menyebutkan, sejauh ini pihak keluarga Aulia berlatar belakang ekonomi keluarga mampu, maka itu Aulia dilakukan pengobatan  oleh keluarganya.

Sementara Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Ipit Patmawati yang selama ini mendampingi  penderita gizi buruk atas nama Muhamad Gozali, menuturkan, Gozali masih dalam penangan pihak RSUD dan belum dizinkan pulang. “Informasinya M.Gozali kesehatanya menurun, jadi belum diizinkan pulang oleh tim medis,” jelas Ipit.

Kabar M. Gozali diketahui menderita gizi buruk sekitar sudah satu mingguan dan sekarang ini diproses pembuatan BPJS. “Sudah direkomendasikan pihak Dinsos  untuk pembuatan langsung kartu BPJS PBI,” kata dia.

 ** Arip Ekon

Kementan dan DPR RI Dorong Petani Keluar dari Cara Bertani Konvensional

0

Majalengka | Jurnal Inspirasi

Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan produktivitas serta kualitas hasil pertanian,  Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi IV DPR RI terus berupaya mendorong petani keluar dari cara bertani konvensional.  Cara ini memicu biaya produksi menjadi lebih mahal dan berakibat kelebihan yang diperoleh petanipun menjadi kecil. Tak hanya itu kualitas dan produktivitaspun menurun karena kondisi tanah berkurang kesuburannya.

Hal ini menjadi bahasan Anggota Komisi IV dan Badan Musyawarah DPR RI Sutrisno dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Petani Penyuluh Kementerian Pertanian Aspirasi Komisi IV DPR RI, Angkatan III dan IV di Majalengka, Minggu (21/02/2021).

“Kondisi ini membuat produk Indonesia sulit bersaing dengan produk luar. Kenapa mahal? Karena petani masih menerapkan cara – cara konvensional dalam berusaha tani,“ ujarnya.

Didampingi Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor, Yusral Tahir, Sutrisno mencontohkan penanganan panen yang masih manual, sehingga menelan  beban tenaga kerja. Ada pula petani yang masih menggunakan ilmu Katon.

“Upah buruh tani terus mengalami kenaikan, ada juga yang pake ilmu katon menyebabkan pemupukan terlambat, sehingga berpengaruh pada produksi, “ bebernya dihadapan 200 Petani dan Penyuluh   peserta bimtek Kabupaten Majalengka.

Untuk bisa bersaing di pasar dalam dan luar negeri, petani hendaknya memperhatikan variabel – variabel yang mempengaruhi produktivitas, yakni bibit berkualitas, menjalankan teknologi dan  mekanisasi pertanian. Selain itu pemupukan yang benar dan pengendalian hama.

“Variabel yang mempengaruhi produktivitas itu  pertama adalah bibit harus berkualitas, teknologi harus dijalankan, pengolahan tidak bisa lagi dengan manual harus dengan mekanisasi, pemupukan harus benar, penanganan hama harus juga dijalankan dengan benar,“ sebutnya.

Untuk bibit saat ini Komisi IV DPR RI bersama Kementan tengah memperjuangkan agar ada pengembangan penangkaran bibit didaerah – daerah agar bisa cepat dengan harga yang murah.  Guna mengembalikan kesuburan tanah yang saat ini dinilai sudah jenuh dan asam juga untuk mendorong produktivitas maka tahun 2021 dikeluarkan juga kebijakan penggunaan pupuk organik oleh petani.  Sementara untuk menghemat biaya produksi, petani diminta memanfaatkan bantuan fasilitas alsintan yang bisa menghemat tenaga kerja serta mempercepat proses produksi.

“Kami di komisi IV sepakat, kondisi tanah sudah jenuh akibat setiap tahun dihantam an organik. Dulu lahan sawah itu lumpurnya bisa sampai sedengkul, sekarang paling diatas mata kaki, karena tanah mengeras, “ ujarnya.

Sementara itu Kepala PPMKP Yusral Tahir berharap setelah mengikuti bimtek produktivitas yang diusahakan petani meningkat hingga dua kali lipat dari sebelumnya. “Kita harus menjadi orang yang beruntung, hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Dalam pertanian itu dicapai dengan produksi yang terus meningkat,“ ujarnya.

Kementerian Pertanian di era Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus berupaya meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia. Disamping pemberian bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, Mentan terus mendorong para petani menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster.

“Fakta kontribusi positif pertanian terhadap produk domestik brutto (PDB) menunjukkan sektor pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan. Memberikan solusi. Karena semua orang butuh makan. Syaratnya adalah kita harus mau berkeringat, serius dan fokus,” tegas Syahrul.

Untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di manca negara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan  terus mendorong kreativitas generasi muda dalam meningkatkan produksi yang layak ekspor. Cara ini dapat meningkatkan jumlah eksportir terutama dikalangan generasi milenial.

“Upaya strategis peningkatan dan percepatan ekspor komoditas pertanian menjadi modal bagi bangsa Indonesia,” kata Dedi.

** Regi/PPMKP