Kepala Desa Kiarasari Ahyar Suryadi meresmikan pembukaan wisata baru Bukit Stevia yang berlokasi di Kampung Cilongok Gunung Leutik, Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Desa Kiarasari juga telah melakukan penghijauan di area wisata baru tersebut.
“Ini upaya menjaga wilayah hutan tetap asri, 200 pohon kayu kami tanam. Bagaimana caranya untuk menghidupkan lingkungan dalam menjaga keasriannya dalam menjaga ekosistem alam bermacama jenis pohon kami tanam di lingkungan ini,” ujar Ahyar Suryadi disela peresmian dibukanya wisata Bukit Stevia, Kamis (24/6).
Ahyar menjelaskan, wilayah yang dikelolanya dimanfaatkan sektor wisatanya dan hasilnya nanti untuk lingkungan di wilayah Desa Kiarasari.
Sementara Ketua Desa Wisata Rojak mengatakan, setelah identifikasi untuk Desa Wisata pihaknya menemukan bukit yang mana menjadi titik pandang Desa Kiarasari. “Kebetulan di Gunung Leutik ada satu bukit yang menarik untuk menjadi tempat titik pandangnya Kiarasari,” ungkapnya.
Menurutnya, dibukanya wisata Bukit Stevia itu hasil swadaya murni warga Kampung Cilongok Gunung Leutik di lingkungan RW 06 yang mana kegiatan kelompok Pokdarwus ini telah dikukuhkan. “Pembukaan sampai hari ini kurang lebih tiga bulan. Kesadaran warga disini cukup tinggi dalam menjaga budaya gotong royong,” ujarnya.
Sementara mengenai fasilitas wisata kata dia masih dalam tahap proses swadaya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Progresnya adalah bagaimana kedepan menjadi wisata yang ramah dan produktif tentunya mengutamakan prinsip-prinsip pembangun yang berkelanjutan.
“Stevia salah satu destinasi yang berada diatas bukit, meski ditengah moderinisasi kami harap bagaimana masyarakat sadar untuk menjaga lingkungan. Dorongan Pemdes maupun Pemkab Bogor untuk mendukung partisipatif swadaya di masyarakat,” pungkasnya.
Kepala Desa Gunung Putri Daman Huri menyatakan tidak akan main-main dengan pelaku pencemaran lingkungan seperti dugaan yang dilakukan PT Sinar Banten Indonesia (SBI) di wilayahnya. Kades sendiri pada Rabu (23/6) telah mendapat surat pemberitahuan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk kembali melakukan pengambilan sampel di lokasi pembuangan limbah PT SBI.
“Saya tidak main – main dengan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT SBI, namun saya juga meminta agar DLH mendukung ketegasan saya terhadap pelaku – pelaku pencemar lingkungan, jangan kami pihak pemdes sudah keras dan tegas tapi petinggi – petingginya justru lemah dan main mata,” ungkap A Heri, Kamis (24/6).
Pada penjelasannya kepada DLH yang diwakili oleh Kasie Pemulihan, Daman Huri memberikan ultimatum bahwa dirinya sebagai kepala desa tidak akan main – main untuk melanjutkan pelaporan jika ada permainan dari instansi manapun.
Dia menambahkan, jika kasus pencemaran yang dilakukan PT SBI ini didiamkan dan tidak ada proses hukum, nantinya akan ada kasus -kasus lain yang sama. Akan menjadi percuma adanya DLH juga jika penindakannya tidak tegas.
“Saya harapkan DLH bekerja sesuai kolidor sesuai dengan hasil lab yang dikeluarkan, satu hal yang harus diingat, pemdes masih memiliki sampel jadi ketika nanti ada sesuatu dari hasil lab yang dikeluarkan oleh DLH maka kami akan melakukan lab tandingan,” tegasnya.
Dia menegaskan, owner PT SBI sudah mengakui dihadapannya bahwa limbah yang dibuangnya itu adalah limbah B3. “Jadi jika nanti hasil lab menyatakan non B3 kami pastikan akan kami tindak siapapun yang bermain dalam kasus pencemaran limbah yang dilakukan PT SBI ini,” tandasnya.
“Hasil pengambilan sampel yang pertama saja kami Pemdes belum diberitahukan, ini mau mengambil sampel ke-2, kan jadi pertanyaan warga, ada apa denganmu, ” jelasnya.
Daman Huri mengatakan, DLH sudah memilih Desa Gunung Putri menjadi pilot project Kampung Ramah Lingkungan, oleh karena itu dia meminta agar DLH juga mendukung untuk memberikan efek jera kepada pencemar lingkungan. “Kan ada sanksi administrasi dan sanksi hukumnya. Kami harap DLH segera memberikan hasil pengambilan sampel pertama yang sudah keluar untuk kami umumkan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Seorang pasien terkonfirmasi positif Covid-19 asal Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, meninggal dunia saat tengah isolasi mandiri di kediamannya pada Selasa (22/6).
Lurah Ciluar, Deny Ardiansyah mengatakan bahwa sebelum meninggal dunia laki-laki berusia 65 tahun itu telah sepekan menjalani isolasi mandiri. Diketahui, kondisi pasien memburuk karena memiliki penyakit bawaan dan akhirnya meninggal dunia.
Mulanya, kata dia, laki-laki berinisial B dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 setelah menjalani tes antigen mandiri pada 17 Juni 2021. Sebab, sehari sebelumnya mengalami demam serta sakit tenggorokan. “Kemudian beliau melaksanakan tes mandiri,” ujar Deny kepada wartawan, Kamis (24/6).
Kata dia, puskesmas sempat menyarankan pasien untuk dilakukan perawatan. Namun, pasien menolak dan lebih memilih isolasi mandiri di rumah. “Beliau tidak ingin dibawa ke RS karena gejalanya juga tidak terlalu parah dan beliau juga minum obat rutin,” ungkapnya.
Namun, beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan pasien terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia. “Beliau punya komorbid, faringitis akut dan gangguan ginjal,” ungkapnya.
Kata dia, pasien sudah dimakamkan sesuai protokol kesehatan oleh petugas tempat pemakaman umum (TPU) Kayu Manis khusus jenazah pasien positif pada Rabu (23/6).
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, pasien sebelumnya sempat bepergian Kota Malang dan Solo selama delapan hari. “Selama di Solo dan Malang hanya berkunjung ke rumah keluarga. Di Malang selama 2 hari dan di Solo 6 hari,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Bogor Utara Marse Hendra Saputra mengatakan, pihak keluarga yang kontak erat dengan pasien dalam pengawasan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor.
“Rabu (23/6) sempat diinfokan oleh kelurahan dan puskesmas. Kemaren saya bantu komunikasikan ke pemakaman dan RSUD untuk peti mayat,” tukasnya.
Adalah kenyataan, masih banyak muslim yang belum mengenal huruf hijaiyah sehingga belum bisa membaca Al Quran. Untuk membantu mereka mampu baca Al Quran, Pemerintah Kota Bogor mengemas program Bogor Mengaji. Program ini digelar serentak di 68 kelurahan dan menyasar 2.000 orang pra lansia sebagai peserta.
Menurut Kabag Kesejahteraan Masyarakat, Setda Kota Bogor, Asep Kartiwa, gerakan ini sementara masih bersifat swadaya masyarakat sehingga tidak menggunakan APBD. Menurutnya, program ini merupakan gerakan masyarakat yang diinisiasi jajaran pimpinan pemkot. Oleh karenanya, “Kalau ada yang ingin berinfaq dan shodaqoh membantu program Bogor Mengaji bisa disalurkan melalui Baznas Kota Bogor,” katanya.
Dalam kaitan itulah beberapa waktu yang lalu, KORPRI Kota Bogor membantu program ini dengan menyalurkan bantuan kepada Baznas Kota Bogor,. “Korpri memiliki peran dan tanggungjawab untuk mengarahkan seluruh anggota dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan serta pengabdian masyarakat dalam berbagai bidang,” ungkap Dody Ahdiat, Ketua Dewan Pengurus Korpri Kota Bogor. Pada kesempatan yang sama, Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah juga menyalurkan zakat mal untuk mendukung Bogor Mengaji.
Sahib Khan
Di dalam pelaksanaannya, di setiap kelurahan dibuat dua kelas belajar. Masing-masing kelas terdiri dari 15 orang untuk laki-laki dan perempuan dengan sasaran utama pra lansia yang akan dilaksanakan selama 6 bulan. “Untuk waktu pelaksanaannya diserahkan ke wilayah masing-masing,” lanjut Asep seraya menjelaskan pra lansia sebagai sasaran program ini. Menurutnya pengajian bagi anak-anak masih banyak tempat dan pilihan. Tapi tidak demikian untuk pra lansia atau para lansia, sehingga ia berharap melalui program ini para pra lansia dan lansia di Kota Bogor bisa lebih semangat lagi belajar Al-Quran.
Lalu seperti apa yang terjadi di masyarakat? Berdasarkan pengamatan Camat Tanah Sareal, Sahib Khan, di beberapa kelurahan yang masuk wilayahnya, warga antusias mengikuti program ini. Sekitar 80% dari target peserta sudah tercapai untuk belajar 2 kali pertemuan dalam sebulan. Para pengajar pun sudah melaksanakan tugasnya.
Antusiasme khususnya ditunjukan para ibu-ibu. Sedangkan di kalangan bapak-bapak “Masih slow response,” katanya. Sahib menilai, bahwa program ini terkendala oleh minat para bapak yang tampaknya masih enggan mengikuti kegiatan belajar mengaji. Padahal, “Saya yakin masih ada diantara bapak-bapak yang belum bisa membaca Al Quran tapi dengan berbagai hambatan mereka masih enggan ikut program ini,” tuturnya. Sahib menduga, para bapak kesulitan ikut program ini karena juga masalah waktu, sehingga perlu ditawarkan waktu yang pas bagi mereka. Tetapi juga ada kemungkinan diantara mereka masih malu untuk ikut belajar.
Untuk mengatasi hambatan itu, maka menarik apa yang terjadi di Masjid Al Madinah, Perumahan Mutiara Bogor Raya, Katulampa. Di masjid ini justru program belajar mengaji diawali oleh peserta yang semuanya kaum bapak. Awalnya di masjid ini kegiatan belajar mengaji diselenggarakan pengurus DKM untuk peserta anak-anak. Belakangan anak-anak itu diminta untuk mengajak bapak-bapaknya ikut belajar. Lambat laun beberapa orang bapak mulai tergerak untuk ikut belajar yang dibimbing imam masjid.
“Sebelum pandemi, kami para bapak mulai terbiasa kumpul di masjid, belajar membaca Al Quran bada Subuh dilanjut sarapan pagi dan olahraga bersama, alhamdulilah banyak yang tertarik,” ungkap Adi, Ketua DKM Al Madinah. Selain itu, beberapa pengurus melakukan pendekatan pribadi untuk mengajak warga lainnya ikut belajar. Sekarang memang sudah tidak bisa lagi sarapan dan olah raga bersama, tetapi kegiatan belajarnya tetap berlanjut. Sejak bergulir pada tahun 2016, sekarang ada sekitar 40 warga yang aktif ikut belajar.
Adi Nurdiyansyah
Sekitar 10 orang diantaranya tergolong sudah mampu baca Al Quran dengan baik dan benar. “Kepada mereka kami menawarkan untuk nantinya bergantian menjadi imam shalat,” lanjutnya. Sedangkan bagi pemula disediakan kelas khusus dan kini ada sekitar 10 orang pesertanya. Kegiatan ini berlangsung secara swadaya. Pengurus DKM hanya mengeluarkan Rp 600 ribu per bulan untuk mendukung kegiatan dan selebihnya merupakan infaq dan sedekah para peserta.
Dengan adanya program Bogor Mengaji, kini giliran kaum ibu yang tergerak aktif. “Alhamdulillah pesertanya mencapai target, bahkan ada sekitar 10 orang yang masuk waiting list,” kata Adi. Kepada mereka rencananya akan dibantu melalui program mandiri yang dikelola DKM. Kelas ibu-ibu ini direncanakan akan tetap berlanjut, kendatipun program Bogor Mengaji nanti sudah selesai. “Tapi saya berharap Bogor Mengaji bisa terus berlanjut karena pengajarnya berkualitas dan metode yang dipakai juga bagus,” katanya.
Harapan yang sama disampaikan oleh Sahib. Bahkan ia mengusulkan agar program ini didukung APBD, karena program ini merupakan stimulan supaya warga kelak bergerak secara mandiri. “Ke depan program ini juga perlu didukung dengan melibatkan pesantren atau lembaga dakwah dalam hal pengadaan pengajarnya atau pelayanan belajar privat bagi mereka yang memerlukan,” katanya. Ia yakin banyak pihak yang memiliki sumberdaya memadai untuk membantu dan mendukung gerakan mengajak warga mau belajar baca Al Quran.
Lebih lanjut Sahib mengingatkan, “Ini gerakan amal jariyah, sehingga selayaknya didukung oleh siapapun agar ke depan tidak ada lagi kaum muslim yang tidak bisa baca Al Quran.” Di ranah ini, segala sesuatunya memang tidak bisa ditangani sendiri oleh pemerintah. Maka mari beramal dengan mendukung Bogor Mengaji berjalan sukses!
Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menutup sementara kantor pelayanan dan loket pembayaran di kantor pusat Jalan Siliwangi 121 pada Kamis-Jumat (24-25/6).
Hal ini sebagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19 di lingkungan Tirta Pakuan.
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Rino Indira Gusniawan mengatakan, Tirta Pakuan menutup sementara seluruh aktivitas kantor pelayanan, termasuk loket pembayaran dan pelayanan selama dua hari. Kantor rencananya kembali dibuka pada Senin, 28 Juni 2021.
“Selama proses penutupan ini, seluruh area kantor akan dibersihkan dengan disinfektan dan sinar Ultraviolet. Kami ingin pastikan seluruh area kantor benar-benar bersih saat dibuka nanti,” ujar Rino, Rabu (23/6).
Meski area perkantoran ditutup sementara, Tirta Pakuan memastikan pelayanan air bersih ke seluruh pelanggan berjalan normal.
“Pelayanan sama sekali tidak berpengaruh, tetap 24 jam. Air tetap mengalir seperti biasa. Pelanggan juga masih bisa menyampaikan keluhan atau keperluan administrasi lainnya melalui Call Center atau akun media sosial resmi perusahaan,” beber mantan Direktur Umum Tirta Pakuan itu.
Pelanggan masih dapat melaporkan temuan pipa bocor, gangguan pengaliran, cek tagihan melalui layanan Call Center 24 jam di nomor 0251-8324111 atau chat WA 08111182123. Serta akun Instagram @perumdatirtapakuan Facebook Perumda Tirta Pakuan dan Twitter @perumdatpkb.
Bagi pelanggan yang ingin membayar tagihan airnya, Rino menyarankan menggunakan layanan pembayaran online melalui ATM, Mobile Banking dan loket PPOB di dekat tempat tinggal pelanggan. Bisa juga melalui layanan aplikasi e-commerce.
Pelanggan juga dapat mengunjungi tenant Tirta Pakuan di Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor di Plaza Keboen Raya.
Dirut juga mengintruksikan para pegawai yang menjalani work from home (WFH) untuk tetap siaga, dan tidak keluar rumah untuk mencegah penularan Covid-19.
MA, bocah lima tahun yang hanyut saat saat berenang di Sungai Ciliwung, Kampung Pendeuy, Ciawi, Kabupaten Bogor ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di pintu air Manggarai, Rabu (23/6) sekitar pukul 16.00 WIB.
Komandan Regu (Danru) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Maruli Sinambela membenarkan penemuan korban tersebut. “Betul, korban ditemukan mengambang,” ujar Maruli kepada wartawan, Rabu (23/6) malam.
Maruli mengatakan, saat ini jenazah MA sudah dievakuasi ke RSCM. Bocah malang itu kenali oleh sang ayah yang melihat adanya bekas luka di dahi, pipi dan jari. “Korban akan langsung dibawa ke rumah duka,” katanya.
Sebelumnya, dua bocah berinisial MA dan ML hanyut saat berenang dalam acara perpisahan sekolah yang berlangsung Kampung Peundeuy pada Minggu (20/6) lalu.
ML ditemukan tak bernyawa 500 meter dari lokasi kejadian. Peristiwa naas itu bermula saat MA dan ML sedang mengikuti acara kenaikan kelas atau perpisahan kelas yang biasa disebut Samenan.
Namun, kedua anak itu pergi dari acara tanpa diketahui orangtua, guru dan teman-temannya. Mereka diketahui berenang di sungai lantaran ditemukan pakaian keduanya di bantaran sungai.
Pembangunan alun-alun Kota Bogor dan pembangunan tahap pertama Masjid Agung Kota Bogor sudah mulai dikerjakan. Hal ini terlihat dengan dilakukannya groundbreaking oleh Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto, Rabu (23/6).
Wali Kota Bogor Bima Arya mengungkapkan dua proyek prioritas Pemkot Bogor ini pun ditargetkan rampung pada pertengahan Desember nanti. Konsep alun-alun Kota Bogor dan Masjid Agung Kota Bogor memiliki keunikan dengan terintegrasi dan menjadi satu kesatuan.
“Konsepnya adalah terintegrasi, jadi tidak terpisah. Masjid akan menjadi kesatuan dengan alun-alun Kota Bogor. Kalau masjid Insyaallah pertengahan Desember batas waktunya, kalau alun-alun sama juga,” kata Bima.
Untuk Masjid Agung, Bima menjelaskan kalau dibangun secara bertahap dan masih akan dilanjutkan pada tahun depan, menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2022 Kota Bogor.
“Tahun ini selesai dan akan dilanjut tahun dengan dengan menggunakan anggaran dari APBD 2022,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang akhirnya melanjutkan lagi pembangunan Masjid Agung, setelah tertunda selama lima tahun dan dilakukan secara bersamaan dengan pembangunan alun-alun.
Atang mengaku, DPRD melalui komisi terkait akan mengawasi jalannya proses pembangunan agar sesuai dengan standar spesifikasi dan kualitas yang ditentukan, serta berharap tidak ada lagi kesalahan ataupun kegagalan pembangunan.
“Hari ini sangatlah membahagiakan dengan akan dimulainya pembangunan kembali Masjid Agung. Kita semua sudah menunggu sangat lama. Apresiasi kepada Pemerintah yang sudah berhasil memulai pembangunan ini”, jelas Atang.
“Harapan kita adalah pembangunan ini bisa dijalankan sesuai dengan spesifikasi dan kualifikasi yang sudah ditentukan, serta selesai tepat waktu”, ujarnya.
Tak hanya itu, Atang berharap Masjid Agung dan alun-alun nantinya bisa menjadi tempat berkumpulnya kegiatan positif warga Kota Bogor.
“Sebagai ikon baru Kota Bogor, semoga bisa menjadi ruang terbuka hijau yang bisa dimanfaatkan oleh warga Kota Bogor. Keluarga berkumpul, berolahraga, sekaligus bisa beribadah bagi yang muslim di Masjid Agung dan mendoakan keberkahan buat Kota Bogor,” pungkasnya.
Seringkali kita dengar kata ini, insecure yang artinya tidak percaya diri dengan apa yang ada pada dirinya. Perasaan yang selalu cemas tentang diri seseorang di depan banyak orang. Yang selalu disandingkan dengan kata ini seperti fisik, pendidikan, pekerjaan dan masih banyak lagi.
Fisik yang biasanya menjadi pusat perhatian orang terlebih dahulu, apalagi ketika pertama kali bertemu. Memang tak semua orang seperti itu, tapi sebagian orang. Akhir-akhir ini banyak yang merasa insecure dengan fisik, baik laki-laki maupun wanita.
Ada juga yang merasa insecure dengan pendidikan seseorang, yang bisa melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Tak apa memang apabila insecure dengan pendidikan seseorang yang berhasil hingga ke perguruan tinggi, namun jika belum bisa mewujudkannya pun tak apa tetap harus bersyukur. Karena kesuksesan seseorang tak pernah ada yang tahu, banyak juga orang-orang sukses yang hanya sekolah hingga Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan bahkan ada yang hanya Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama.
Tak hanya itu, pekerjaan juga bisa menjadikan seseorang insecure. Entah pekerjaannya yang menghasilkan upah yang besar atau bekerja di suatu perusahaan yang terkenal. Mungkin memang itu adalah sebuah keinginannya namun tak sampai. Hingga menimbulkan rasa insecure pada dirinya. Dalam hidup memang harus ada yang tidak diapa-apakan. Itulah pentingnya bersyukur, apapun yang dilalui dalam hidup akan terasa nikmat dan indah.
Hal yang wajar apabila seseorang merasa insecure, akan tetapi jangan sampai juga berlarut-larut dalam rasa itu. Karena akan terus membawa diri kamu merasa tidak bersyukur. Kamu berharga dari apa yang kamu lihat. Hidup memang terkadang tidak selalu seperti apa yang kamu inginkan, akan tetapi akan lebih berwarna jika kamu selalu bersyukur dalam menjalaninya.
Jika kamu terus menerus merasa kecewa dan selalu menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang sempurna, kamu akan selalu dibayangi dengan perasaan insecure. Hal itu tidak akan baik bagi kamu karena bisa menyebabkan depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan dan juga kelelahan.
Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi insecure, mulai yang berasal dari luar ataupun dari dalam. Hidup itu untuk nyata bukan untuk sempurna, jadi jalani hidup sesuai dengan apa yang kamu punya maka kamu akan bahagia.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Polresta Bogor Kota akan melanjutkan kebijakan Ganjil Genap pada akhir pekan ini. Langkah itu diambil menyusul adanya peningkatan kasus positif Covid-19.
Diketahui, angka terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Bogor pada Selasa (22/6) mencapai 230 orang. Jumlah tersebut merupakan rekor baru untuk kasus corona sejak pandemi pada Maret 2020 lalu.
Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan bahwa kebijakan Ganjil Genap akan terus dilanjutkan, karena efektif mengurangi mobilitas warga.
Menurut dia, penerapan Ganjil Genap bukan untuk kelancaran lalu lintas. “Sekali lagi tujuannya untuk mengurangi mobilitas warga,” ucapnya.
Sementara itu, Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Condro Purnomo menjelaskan, alasan kembali diberlakukannya Ganjil Genap adalah kondisi di Kota Bogor saat ini berada pada garis bawah zona orange.
Dengan adanya Ganjil Genap, Kapolresta berharap dapat menekan peningkatan angka Covid-19 di kota Bogor.
“Penerapan Ganjil Genap ini hanyalah salah satu dari berbagai poin yang telah diputuskan oleh satgas Covid-19 Kota Bogor untuk menekan angka covid,” pungkasnya.
Setelah sekian tahun berdiri, pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jalan Villa Bogor Indah, Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara akhirnya ditertibkan, Rabu (23/6). Diantara sekian banyak PKL tersebut juga berdiri di wilayah Sukaraja, Kabupaten Bogor.
Dari hasil pendataan, ada sekitar 153 PKL yang berjualan di jalur dua wilayah tersebut. Dengan rinciannya, 53 pedagang berada di wilayah Kota Bogor, dan 100 pedagang lainnya berdiri di wilayah Kabupaten Bogor.
“Sudah jelas bahwa badan jalan, saluran air, taman dan tempat – tempat yang sudah ditentukan tidak dapat dialihkan untuk kepentingan lain. Sudah ada Perda tentang Ketertiban Umum,” tegas Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat rapat sebelum penertiban PKL di kawasan tersebut.
Saat proses penertiban berlangsung, sambung Dedie, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga memastikan bekas lapak pedagang dibersihkan secara total. Pun dengan normalisasi saluran air serta pengamanan ruang milik jalan pasca penertiban dilakukan.
“Untuk relokasi, memang saat ini belum ada. Tapi, pemerintah kota tentu berpikir. Karena ini konteksnya bukan relokasi dan penertiban ini sudah dilakukan beberapa kali dan tidak berhasil. Akhirnya kita geser ke urusan data,” tegas Dedie.
Dedie juga mengatakan, penertiban ini merupakan satu dari sekian ratus titik yang juga sudah ditertibkan. Hal ini juga merupakan wujud komitmen dari Pemkot Bogor dalam memberikan kenyamanan warga masyarakat. Hingga saat ini sudah ada 115 titik PKL yang sudah ditertibkan.
“Kita ingin memberikan rasa optimal dalam rangka memberikan kenyamanan bagi masyarakat kota ataupun kabupaten Bogor yang sudah bertahun – tahun meminta operasi gabungan penertiban ini,” sambung Dedie lagi.
Menambahkan dalam rapat, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah mengatakan, jika memang dikawasan tersebut sudah lama tidak dilakukan penertiban. Sehingga membuat para pedagang nyaman berjualan disana.
“Jadi memang daerah ini berbatasan, jadi menyelesaikannya juga bersama – sama dengan wilayah Kabupaten Bogor,” singkat Syarifah.
Terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor, Agustian Syah mengatakan, bahwa dalam penertiban diturunkan sebanyak 250 personel gabungan dari kota dan kabupaten Bogor. Dari 153 pedagang yang terdata, di antaranya sudah membongkar sendiri lapaknya.
“Hampir 90 persen mereka sudah bongkar sendiri kemarin. Kita menerapkan pola-pola komunikasi humanis kepada para PKL. Untuk pascanya, tim gabungan akan monitoring lalu ada beberapa penanaman dan pemasangan pot di kawasan bekas pedagang,” pungkasnya.