Caringin | Jurnal Bogor – Kerusakan Irigasi Palayangan di Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, khususnya para petani di Desa Ciherang Pondok. Saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air bagi Desa Ciderum dan Desa Ciherang Pondok belum mendapat penanganan maksimal sehingga menyebabkan krisis air berkepanjangan.
Dampak paling parah dirasakan warga di RW 01, RW 02, dan RW 03 Desa Ciherang Pondok. Sejumlah wilayah mengalami kesulitan memperoleh pasokan air, baik untuk mengairi lahan pertanian maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akibat minimnya pasokan air sejak beberapa tahun terakhir, puluhan hektare sawah yang sebelumnya produktif beralih fungsi menjadi lahan perkebunan. Namun, perubahan tersebut belum mampu menjadi solusi karena tanaman di lahan kebun juga banyak mengalami gagal panen akibat kekurangan air.
Ketua RT 06 RW 03 Desa Ciherang Pondok, Aep Saepudin, mengatakan persoalan kekeringan bukanlah hal baru. Menurutnya, warga telah merasakan dampak kerusakan irigasi sejak 2022 dan hingga kini belum ada perubahan yang berarti.
“Sudah sekitar empat tahun masyarakat mengalami dampaknya. Sawah yang dulunya produktif sekarang banyak berubah menjadi kebun karena air sulit didapat. Bahkan sekarang kebun yang tadinya menjadi harapan warga juga terus mengalami gagal panen,” ujar Aep, Sabtu (4/7/2026)
Ia menjelaskan, dampak kerusakan irigasi tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Sumur-sumur milik warga juga mulai mengalami penyusutan debit air, bahkan sebagian mengering saat musim kemarau.
“Banyak sumur warga yang mulai kering. Ini menjadi masalah besar karena masyarakat juga membutuhkan air untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” katanya.
Menurut Aep, masyarakat selama bertahun-tahun berharap adanya penanganan serius terhadap kerusakan Irigasi Palayangan. Namun hingga kini, warga mengaku belum melihat solusi nyata yang mampu mengatasi persoalan tersebut secara menyeluruh.
Hal senada disampaikan Ketua RW 03 Desa Ciherang Pondok, Ujang Suganda. Ia menilai penanganan kerusakan irigasi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum belum dilakukan secara optimal.
“Selama ini kami melihat belum ada keseriusan dalam penanganan Irigasi Palayangan. Padahal dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat secara umum. Air merupakan kebutuhan utama,” tegas Ujang.
Ia mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa perbaikan menyeluruh, luas lahan pertanian produktif yang hilang akan terus bertambah. Dampaknya, perekonomian masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian akan semakin terpuruk.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kerusakan Irigasi Palayangan. Selain mengancam keberlangsungan sektor pertanian, kerusakan irigasi tersebut juga berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih. Yudi


