Tidak Pernah Dapat Bantuan, Bocah PAUD Ikut Orangtua Jadi Pemulung

0

Cigombong | Jurnal Bogor

Muhamad Anwar Maulana, anak berusia 6 tahun yang bertempat tinggal di Kampung Cukangaleuh RT 01 RW 08, Desa Cisalada, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, harus membantu orangtuanya mencari nafkah sebagai pemulung. Bocah yang masih duduk di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu, setiap hari ikut bersama ayahnya bernama Muhamad Nurvi Ardiansyah mencari barang bekas untuk bisa dijual.

Muhamad Anwar Maulana mengaku kasihan terhadap orangtuanya yang setiap hari mencari rezeki sebagai pemulung, sehingga sehabis belajar di PAUD dirinya ikut membantu ayahnya tersebut.

 “Kasihan saja dengan ayah, setiap hari mencari barang bekas untuk bisa dijual,” ungkapnya kepada wartawan saat ditemui di Jalan Cigombong.

Muhamad Anwar Maulana mengatakan, dirinya tidak malu membawa karung untuk ikut membantu orangtuanya mulung. Karena, sudah menjadi pekerjaan ayah untuk menafkahi ibu, kakak dan adiknya yang masih balita. “Saya tidak malu bantu ayah. Walaupun sudah dilarang ikut tapi saya tetap mau membantu,” ujarnya.

Muhamad Nurvi Ardiansyah mengungkapkan, dirinya tidak pernah menyuruh atau memaksa anaknya untuk ikut mulung barang bekas di jalan.  “Anak saya yang minta ikut. Bahkan, sehabis sekolah PAUD anak saya yang ngajak untuk pergi mulung,” akunya.

Ayah tiga anak ini pun menceritakan, dari hasil mencari barang bekas, baik itu botol plastik, kardus dan barang lainnya yang laku dijual, dikumpulkan terlebih dahulu. Setelah barang bekas tersebut terkumpul, langsung dibawa ke pengepul untuk dijual.

“Dalam satu minggu itu, penghasilan yang didapat dari menjual barang bekas sebesar 100 ribu,” jelasnya.

Dari penghasilan sebesar itu setiap minggunya, Nurvi dan keluarganya harus bisa mengelola keuangan agar mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Mau bagaimana lagi, uang itu harus cukup dalam satu minggu,” ucapnya.

Terkait bantuan apa saja yang sudah diterimanya dari pemerintah, Nurvi mengaku selama ini keluarganya belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun  bantuan sosial lainnya.

“Terkadang perasaan iri itu ada saat saya melihat warga mendapatkan bantuan dari pemerintah, mulai bantuan uang, sembako atau yang lainnya. Tapi saya hanya bisa pasrah saja dan mungkin belum rezeki,” paparnya.

Nurvi mengakui, beberapa bulan lalu pernah didatangi pegawai dari Pemerintah Desa (Pemdes) Cisalada dan meninjau lokasi rumah. Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada informasinya lagi.

“Staf desa memfoto kondisi rumah dan akan diajukan untuk dibantu merehab. Saya sudah senang waktu mendengarnya, mudah-mudahan apa yang dikatakannya itu benar terjadi,” harapnya.

Sementara, Sekretaris Desa (Sekdes) Cisalada, Busro mengatakan, Muhamad Nurvi Ardiansyah merupakan warga baru di Kampung Cukangaleuh, sehingga belum terdata pihak desa.

“Untuk identitasnya juga masih berdomisili di tempat lama dan belum mempunyai Kartu Indentitas Penduduk (KTP) Desa Cisalada. Nanti kami akan data kembali melalui RT dan RW agar mendapatkan bantuan,” tukasnya.

** Dede Suhendar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here