Mahasiswa IPB University Dorong Desa Benteng Regenerasi Sektor Pertanian 

0

Ciampea | Jurnal Bogor 

Pemerintah Desa (Pemdes) Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor kedatangan sejumlah mahasiswa IPB University yang akan melaksanakan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan 2022 melalui pemberdayaan pemuda melalui Sanggar Tani Muda untuk mendorong regenerasi sektor pertanian yang dilaksanakan mulai Juli hingga November 2022 mendatang.

Dosen Pembimbing Mahasiswa, Hastuti mengatakan, mahasiswa IPB University akan melakukan kegiatan peningkatan regenerasi pemuda untuk meningkatkan pertanian di Desa Benteng yang fokus di RW 1, RW 3, RW 4 dan RW 5 yang memang basisnya adalah palawija.

“Jadi, nantinya mau melakukan sosialisasi untuk meningkatkan motivasi generasi muda ke pertanian,” kata Hastuti kepada wartawan baru-baru ini.

Hastuti mengatakan, dengan upaya meningkatkan peran pemuda khususnya di wilayah Desa Benteng untuk meningkatkan sumber daya yang ada agar mampu memenuhi kebutuhan pangan yang ada di wilayah itu sendiri.

“Jadi, mengurangi impor, walaupun kita tahu itu persoalan nasional tetapi kita harus melakukan upaya-upaya yang bisa kita tingkatkan di level-level kecil misalkan desa seperti ini. Di desa juga perlu adanya upaya-upaya peningkatan sumber daya manusia yang nantinya tertarik ke pertanian sehingga pertanian kita bangkit dan kita bisa swasembada misalkan. Mungkin susah untuk meniadakan impor tetapi minimal mengurangi,” katanya.

Hastusi menyampaikan, banyaknya kendala yang juga dipaparkan dalam kegiatan tersebut mulai dari permodalan, kelembagaan dan sumber daya manusia. Sehingga, para mahasiswa IPB tersebut membahas salah-satu kendala terkat SDM agar tertarik pada sektor pertanian.

“Tapi, yang mau mahasiswa kami ini garap atau mau memecahkan solusi adalah SDM. Jadi, kalau kita lihat persoalan di pertanian memang banyak tetapi dari tiga tadi yang saya sebutkan mulai dari modal, kelembagaan, sumber daya alam dan topik yang akan dibahas mahasiswa yang saya bimbing ini terkait SDM-nya bahwa saat ini para petaninya sudah tua-tua tidak ada usia muda atau produktif. Usia produktifnya sudah pergi ke pabrik misalkan, mau cari yang instan-instan tapi pertanian ditinggalkan sehingga pertanian itu digeluti oleh yang diluar usia produktif,” katanya.

Salah satu solusinya, Hastuti mengatakan, adalah memang pasar. Artinya, kalau pasar pertanian itu menarik akan membuat kaum millenial menjadi lebih semangat dan meningkatkan minat pertanian itu sendiri.

“Jadi, sebagai petani rasional sekali bahwa harga pertanian itu menjadi sesuatu yang meningkatkan motivasi si pelaku usaha untuk terlibat, salah satunya itu harga ditingkatkan kemudian untuk saat ini pemasaran digital diperlukan, hal seperti itu yang kami coba perkenalkan,” katanya.

Terkait peran penting pemerintah seperti Pemerintah Desa setempat, Hastuti menyampaikan, bahwa di wilayah Desa Benteng tersebut sudah melakukan banyak hal. Salah satunya dengan melibatkan Karang Taruna Desa Benteng untuk aktif di sektor pertanian.

“Kedepannya itu akan dilakukan Program Peningkatan Ketahanan Pangan setahu saya. Itu, dijalankan oleh para pemuda, itu juga menjadi salah satu untuk memotivasi. Tapi, lagi-lagi memang secara rasionalnya kita sepertinya percaya kalau para petani itu sudah menguasai dari sisi hulunya hanya tinggal bagaimana peningkatan nilai tambahnya saja dari prodaknya. Karena kita percaya kalau produk pertanian itu punya nilai tambah pasti harganya meningkat. Nah, kalau harga itu sudah meningkat itu menjadi penarik para pelaku generasi pemuda ini untuk terlibat di pertanian,” katanya.

Dia berharap persoalan regenerasi sumber daya pertanian itu bukan hanya terjadi di Desa Banteng tetapi secara nasional juga punya masalah itu. Jadi, dengan adanya program mahasiswa ini menimbulkan minat, motivasi bagi pemuda di Desa Bentang untuk kembali ke pertanian karena memang potensi pertaniannya didominasi komoditas palawiya.

“Tapi pak Kades bilang lebih dari 50 persen lahannya adalah pertanian. Artinya, kita sumber daya alamnya bisa. Tapi, manusianya mau tidak terlibat?. Nah, saat ini kita kan tantangannya di era digital ini. Mellenial ini perlu terlibat karena perlu misalkan pemasaran digital atau pertanian menggunakan teknologi. Nah, itulah perlu regenerasi itu perlu nyemplung (terjun) ke pertanian,” katanya. 

** Andres

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here