Tangga Pedestrian Ranggagading Diprotes Warga

0

JURNAL INSPIRASI – Proyek penataan kawasan Suryakencana atau tepatnya di Jalan Ranggagading menuai protes warga. Hal itu lantaran jalan tersebut ditutup. Padahal, jalan tersebut merupakan jalur alternatif menuju Kampung Cincau, Kelurahan Gudang.

Berdasarkan pantauan lapangan, terlihat diujung Jalan Ranggagading dibuat tangga sehingga tidak ada akses jalur kendaraan.

Salah seorang warga Asep mengatakan bahwa Jalan Ranggading sudah ada sejak zaman Belanda, dan merupakan akses mobilitas warga. Namun, kini ditutup dengan dibangunnya tangga setinggi kurang lebih sekitar tiga meter.

“Dari zaman dulu, Jalan Ranggagading itu menjadi jalan umum bagi warga Kampung Cincau yang hendak menuju ke Jalan Suryakencana. Jadi tahu mengapa sekarang dibuat tangga yang tinggi. Sehingga mobil dan motor tidak bisa melalui jalan itu lagi,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/12).

Baca Juga Kementerian Perdagangan Lepas Ekspor Produk Kokola Group

Hal senada diungkapkan, Januar salah seorang pemilik toko yang berlokasi di sekitar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan. Ia mengeluhkan keberadaan tangga tersebut lantaran kendaraan pengirim barang ke tokonya, harus berputar dulu ke Sukasari lantas menuju Bondongan lalu masuk ke arah Pasar Cunpok.

“Akibatnya, sekarang sudah jarang mau berkirim barang ke toko saya. Apalagi di Pasar Cunpok yang sempit sering macet,” katanya.

Sementara itu, salah seorang perwakilan Sekretariat Paguyuban Kampung Tengah (Sepakat), Hardi mengatakan, pihaknya mewakili masyarakat tidak pernah menyatakan persetujuannya untuk penataan Suryakencana, termasuk Jalan Ranggagading.

“Para pemilik usaha di sekitar Jalan Ranggading dan warga masyarakat sepanjang Kampung Cingcau, berharap tangga yang tinggi tersebut, segera dibongkar karena tidak jelas manfaatnya dan lebih banyak merugikan,” imbuhnya.

Terpisah, saat dikonfirmasi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas Pekerjaam Umum dan Penataan Ruang (PUPR) proyek Suryakencana Dadan Hamdani menjelaskan bahwa dalam perencanaan revitalisasi penataan kawasan Suryakencana khususnya di Jalan Ranggagading memang dikonsepkan menjadi pedestrian seperti di Jalan Bata. 

Karena itu, sambung Dadan, Jalan Ranggagading dibangun pedestrian menggunakan beton stemkonkrit sampai pertigaan tepatnya depan Sekolah Tinggi Kesatuan yang ujung jalannya memang ditutup dengan dibangun tangga.

“Pertimbangannya kalau masih menjadi jalan utama akses keluar masuk mobil, penempatan para pedagangnya harus diatur kembali, termasuk parkir dan sebagainya. Kalau dijadikan pedestrian seperti di Jalan Bata tidak ada akses mobil, parkir dan sebagainya,” ungkapnya.

Disinggung mengenai adanya protes warga, ia menegaskan bahwa sebelum pembangunan berjalan sudah dilakukan sosialisasi kepada warga sekitar dan tidak ada keluhan maupun protes dari warga tersebut.

“Padahal, waktu sosialisasi sebelum pembangunan warga tidak mengeluhkan terkait akses, mereka setuju. Tetapi mungkin warga yang mengeluh ini tidak hadir saat sosialisasi,” imbuhnya.

Baca Juga Menkominfo Ajak Masyarakat Sukseskan Presidensi G20 Indonesia

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembangunan Kebinamargaan Dinas PUPR Kota Bogor ini menambahkan, lantaran sudah dibuat tangga yang cukup tinggi, sehingga bila dibangun ramp untuk akses kendaraan ke Kampung Cincau akan cukup sulit.

Dadan menegaskan, pihaknya tidak bisa mengindahkan harapan warga, apabila pembuatan tangga harus segera dibongkar karena masih mengejar progres utama pembangunan di area lain seperti Jalan Kampung Cincau dan Jalan Roda.

“Mungkin harapan warga untuk membuka akses akan dikaji terlebih dahulu setelah pembangunan penataan kawasan Suryakencana sudah selesai, tidak bisa dibongkar begitu saja,” paparnya.

**Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here