Harga Minya Goreng dan Cabai Masih Bertahan Tinggi

0
Kedua komoditas ada kenaikan harga yakni cabai dan minyak goreng.

JURNAL INSPIRASI – Dua komoditas bahan pangan di pasar tradisional milik plat merah Kabupaten Bogor yang ada di wilayah selatan, awal bulan November hingga saat ini masih tinggi. Kedua komoditas yang harganya naik itu, yakni Cabai dan minyak goreng.

Kenaikan harga bahan pangan yang menjadi kebutuhan setiap hari itu, membuat warga pun mulai menjerit. Indah Pujiastuti, seorang ibu rumah tangga mengatakan, setiap hari membutuhkan 3 kilogram minyak goreng untuk kebutuhan usaha cateringnya.

“Naiknya minyak goreng di luar dugaan, karena terjadi saat harga-harga kebutuhan lainnya justru sedang stabil. Selain minyak, Cabai pun ikut naik, tapi memang tidak terlalu tinggi,” ungkapnya kepada wartawan.

BACA JUGA: Jalan Ace Tabrani Tidak Bisa Dilalui Kendaraan Tertutup Longsor

Pedagang gorengan yang mangkal di pintu perempatan Ciawi, Wawan Yusuf mengatakan, saat ini harga minyak goreng curah menembus Rp19 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya paling mahal Rp15 per kilogram. “Wajar saja kami para pedagang kecil menjerit,” akunya.

Dalam sehari, kata Wawan, untuk kebutuhan usahanya sekitar 3-5 kilogram minyak goreng curah. Dengan naiknya harga, membuat biaya operasional membengkak. Meski begitu, Wawan tetap menjual dagangannya seperti biasa dan tidak menaikan harga jual dagangannya.

“Untuk harga masih sama. Saya menjual Rp1.000 per biji. Dari ukuran pun sama, tidak dikurangi takaran atau pun bentuknya. Intinya daripada tidak ada yang beli,” jelasnya.

Sementara, Wakil Ketua Bidang Kelembagaan DPD Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Bogor, Cecep Dinar Hidayat mengatakan, sejak akhir Oktober hingga awal November 2021, terjadi perubahan harga bahan pangan, paling mencolok adalah minyak goreng.

BACA JUGA: Penghuni Huntara Minta Pemkab Segera Bangun Rumah Layak Huni

“Harga minyak goreng curah yang semula Rp15 ribu per liter kini naik Rp20 ribu. Bahkan, harga minyak goreng kemasan per liter yang semula per liter Rp15 ribu kini naik dua kali lipat Rp28 ribu. Bahkan minyak goreng yang sudah punya brand harganya Rp35 ribu per liter,” kata dia.

Dia mengaku tidak mengetahui apa penyebab harga minyak goreng melonjak tinggi. Namun dengan cuaca ekstrim seperti sekarang, dia khawatir akan membuat komoditi pangan lainnya berubah harga.

“Pengalaman yang sudah-sudah, ketika cuaca seperti sekarang akan menyebabkan harga sembako naik.

BACA JUGA: Longsor Tutup Jalan Kabupaten, Akses Warga di Kiarasari Sempat Terputus

Peningkatan harga sembako ini biasanya dimulai dari cabai dan bawang, harganya bisa dua kali lipat dari harga normal,” katanya.

Untuk komoditi cabai merah dan rawit, bila cuaca buruk seperti ini biasanya bisa mencapai Rp50-60 ribu per kilogram. Demikian pula untuk bawang, kondisinya akan sama. Padahal harga normal cabai rawit dan merah cuma Rp25 ribu per kilogram. “Tapi Alhamdulilah sekarang ini masih normal harganya,” ucapnya.

**dedesuhendar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here