Produk Prancis Mulai Diboikot

0
320

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Umat Islam di seluruh dunia mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap Islam dan Muslim. Negara di Timur Tengah telah mulai melakukan pemboikotan Boikot seperti di Kuwait dan Qatar. Beberapa postingan di media sosial menunjukkan para pekerja mengeluarkan keju olahan Kiri dan Babybel Prancis dari rak supermarket di Kuwait. Pekan Budaya Prancis, yang merupakan acara tahunan Prancis-Qatar, juga dikabarkan akan ditunda tanpa batas waktu.

Di Doha, para pekerja di jaringan supermarket Al Meera mulai mengeluarkan selai St. Dalfour buatan Prancis dan ragi Saf-Instant dari rak mereka. Al Meera bersaing dengan jaringan supermarket Prancis, Monoprix dan Carrefour untuk mendapatkan pangsa pasar di sektor grosir Qatar yang menguntungkan.

Al Meera dan operator grosir lainnya, Souq Al Baladi, merilis pernyataan pada Jumat malam, mengatakan bahwa mereka akan menarik produk Prancis dari toko sampai pemberitahuan lebih lanjut. Mereka juga menyebut komentar Macron sebagai pemicu tindakan pemboikotan mereka.

Nayef Falah Mubarak Al-Hajraf, Sekretaris Jenderal Dewan Kerjasama Teluk menyebut bahwa kata-kata Macron tidak bertanggung jawab dan dapat meningkatkan penyebaran budaya kebencian. Melalui Twitter resminya, Universitas Qatar juga menyinggung penyalahgunaan yang disengaja terhadap Islam dan simbol-simbolnya.

Lembaga Islam Mesir, al-Azhar juga turut mengecam pernyataan rasis presiden bernama lengkap Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron itu. Para sarjana Universitas Al Azhar menyebut pernyataan Macron bertentangan dengan esensi Islam yang sebenarnya. Kecaman juga datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (24/10), mengatakan bahwa presiden Prancis membutuhkan “pemeriksaan mental.”

“Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini, pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental,” kata Erdogan dalam pidatonya yang dikutip TRT World, Minggu (25/10).

Di hari yang sama, Kementerian Luar negeri Yordania mengatakan pihaknya mengutuk segala bentuk publikasi karikatur Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi dan upaya diskriminatif dan menyesatkan yang berusaha menghubungkan Islam dengan terorisme.

Partai oposisi Front Aksi Islam Yordania juga meminta Presiden Prancis untuk meminta maaf atas komentarnya dan mendesak warga kerajaan untuk memboikot barang-barang Prancis.

Sebelumnya pada Rabu (21/10), Macron menuduh Muslim melakukan separatisme dan bersumpah untuk tidak menyerah pada kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Komentar ini muncul sebagai tanggapan atas pembunuhan Samuel Paty, seorang guru berusia 47 tahun, yang diserang dalam perjalanan pulang dari sekolah menengah pertama tempat dia mengajar di Conflans-Sainte-Honorine, 40 kilometer barat laut Paris, setelah guru tersebut memperlihatkan kartun Nabi Muhammad didepan murid-muridnya.

Padahal kartun itu telah melecehkan Nabi Muhammad dan dikecam umat Islam di seluruh dunia. Pemuka Islam di Prancis tidak membenarkan kasus pembunuhan itu, tapi tidak juga membebaskan prilaku pelecehan terhadap Nabi Muhammad.

** ass

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here