Bendungan Peres Mangkrak

0
88

n Hasil Panen Padi Petani Jelek

Leuwisadeng l Jurnal Inspirasi

Mangkraknya bangunan bendungan Peres yang terletak di Kampung Pasirgintung RT 02 RW 04 Desa Batutulis,  Kecamatan Nanggung mengakibatkan pasokan air untuk lahan pertanian khususnya ke areal  Blok Sawahlega seluas 60 hektare di wilayah Desa Kalong 1 dengan Kalong 2, Kecamatan Leuwisadeng jadi terhambat.

Sekretaris Desa Kalong 1 Yayat Supriatna mengatakan, bangunan bendungan Peres awal dibangun pada Oktober hingga pertengahan Januari 2019. Namun hingga sekarang belum ada pembangunan lanjutan. ” Lahan pertanian kekeringan karena tidak adanya pasokan air,” kata Yayat kepada Jurnal Bogor, Selasa (6/10).

Terhambatnya air irigasi ke areal persawahan semakin parah menyusul pasokan air yang kian menipis seiring belum adanya pembangunan lanjutan bendungan Peres.” Selama berjalan pembangunan, berapa kali jebol karena gerusan air, kalau tidak salah  anggaran pembangunan bendungan itu senilai 2,1 miliar,” tutur Yayat. 

Kini, kekeringan sudah terjadi di seluruh wilayah pesawahan di dua desa. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu produksi padi karena gagal panen. ” Warga petani sejauh ini masih menanam padi, meski  hanya mengandalkan pasokan air hujan,” ujar Yayat.

Sementara pesawahan yang terancam dilanda kekeringan akibat kerusakan irigasi yakni pesawahan di wilayah Desa Kalongliud dan Hambaro seluas 45 hektare karena Bendungan Cibongas di Kampung Babakanliud, Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung rusak. Lalu pesawahan Blok Sawahlandeuh yang tergabung Kelompok Tani Sejahtera seluas 15 hektare sama sekali belum adanya bangunan irigasi. Serta pesawahan di wilayah Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiang seluas 200 hektare karena kerusakan irigasi kali Cigatet di Kampung Parungpanjang, Desa Leuwiliang.

Menyikapi adanya kerusakan irigasi, Komisi II DPRD Kabupaten Bogor H. Usep Saefullah dari Fraksi PAN (bukan Usep Supratman, Ketua Komisi I dari PPP seperti diberita sebelumnya-red), meminta dinas terkait untuk segera menjawab persoalan irigasi yang sudah lama jebol seperti di Kampung Parungpanjang, Desa Leuwiliang, Kecamatan Leuwiliang.

Dia meminta irigasi yang jebol itu untuk segera dilakukan  penanganan, karena pemanfaatannya sangat besar untuk mengairi kepasawahan warga petani sekitar 200 hektare di 13 RW diwilayah Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang.

Usep Saefullah prihatin, karena sumber air bagi warga petani merupakan hal penting untuk menopang kebutuhan ketahanan pangan.” Saat ini irigasi yang jebol itu belum ada tindakan, padahal dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, ketahanan pangan wajib kita jaga dan terus dilakukan penguatan,” bebernya.

Sebelumnya Kepala UPT Infrastruktur Irigasi Kelas A Wil. IV, Ruddy Supandi mengemukakan, bahwa kerusakan irigasi  kali Cigatet yang bersumber dari saluran air Kali Cianten sudah disurvei dan dilaporkan ke Dinas PUPR Kabupaten Bogor. Sedangkan untuk bendungan Peres  hingga sekarang belum ada lagi tindak lanjut pengerjaan. “Untuk kelanjutan kegiatan bendungan Peres sudah teranggarkan di perubahan anggaran ABT tahun 2020. Pengerjaannya sama kontraktor, tapi penujukan langsung,  karena PL-nya jadi terbagi 2 kontraktor,” kata dia.

** Arip Ekon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here