Cibinong | Jurnal Bogor Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara mengungkapkan alasan pemerintah daerah menaikkan Bantuan Keuangan (Bankeu) desa menjadi Rp 1,5 miliar pada 2026. Menurut dia, kenaikan ini dilakukan karena keterbatasan jangkauan bupati dan wakil bupati dalam menangani permasalahan di setiap wilayah.
Sastra menjelaskan, kepala desa berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah untuk melayani masyarakat di tingkat paling bawah.
“Mata bupati dan wakil bupati terbatas, maka butuh kepala desa yang mengetahui situasi yang ada di desanya,” ujar Sastra, Rabu (21/1/2026).
Pemerintah Kabupaten Bogor dan DPRD Kabupaten Bogor telah menyepakati pemberian Bankeu tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.
Sastra meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada bupati dan wakil bupati untuk fokus membangun Kabupaten Bogor dalam lima tahun ke depan.
“Hayu berikan kesempatan pada bupati dan wakil bupati bagaimana semua bisa menyelesaikan masalah di Kabupaten Bogor,” kata Sastra. (*)
Megamendung | Jurnal Bogor Melalui program bantuan keuangan pusat, sejumlah desa yang ada di Kabupaten Bogor, kini warganya sedang mendapat pelayanan untuk pembuatan sertifikat tanah miliknya. Melalui PTSL bagi desa yang sudah ditunjuk oleh pemerintah untuk menjalankan program tersebut, kini mereka sedang mendapatkan pelayanan dari tim desa setempat.
Pantauan di beberapa desa di Kecamatan Megamendung dan Cisarua, hingga saat ini pengukuran masih terus berlangsung. Banyak bidang tanah milik warga membuat petugas ukur dari BPN yang didampingi petugas desa harus ekstra kerja keras. Mereka memastikan batas-batas tanah antara warga yang satu dengan yang lainnya, petugas harus sabar dan agar tepat saat pengukuran masing-masing pemilik tanah harus ada di tempat.
“Pengukuran memakan waktu yang tidak sebentar, kadang saat hendak diukur pemilik tanah atau warganya tidak ada di tempat. Dengan demikian, petugas harus bolak balik ke lokasi. Ini perlu dilakukan guna tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Terkait pembuatan sertifikat ini, dilakukan secara gratis. Karena program tersebut merupakan program dari pemerintah melalui bantuan keuangan, ” ujar Kusnadi, Kepala Desa Kuta, beberapa waktu lalu.
Sementara itu kendala lain saat pengukuran yakni persoalan pertanahan satu per satu bermunculan. Persengketaan antara pemilik tanah, khususnya tanah dari warisan cukup mendominasi. Hal ini menyebabkan persoalan yang harus diselesaikan oleh pemerintahan desa.
“Adanya pembuatan sertifikat ini persengketaan tanah antara warga yang satu dengan yang lainnya pada bermunculan. Untuk melanjutkannya, mereka yang bersengketa harus dibereskan terlebih dahulu, ” pungkas Omen.
Cisarua | Jurnal Bogor Akibat curah hujan yang cukup tinggi yang turun di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor mengakibatkan para petani sayuran banyak yang mengalami kerugian atau gagal panen. Khususnya para petani kol, kubis, cesim dan beberapa jenis tabanan sayuran lainnya karena tidak tahan oleh tingginya curah hujan.
Pantauan di beberapa lokasi lahan pertanian milik warga, misalnya Kosim, ia mengaku kewalahan menghadapi musim hujan tahun ini.
Tanaman kol, pakcoy juga terung tidak bisa dipanen secara maksimal. Hama ulat dan pembusukan akibat cuaca dingin membuat sayuran itu mati sebelum waktu panen. Untuk menghindari kerugian yang fatal, mereka kini memanen sayurannya dengan mempercepat waktu panen.
“Musim hujan bagi petani dengan sistem di alam terbuka banyak sekali risikonya. Kegagalan panen akibat pembusukan dan hama ulat sayuran yang kita tanam merupakan risiko yang benar-benar harus kita hadapi. Tidak sedikit disaat cuaca seperti ini, banyak petani yang menahan diri untuk aktivitas pertaniannya, ” ujar Kosim, petani asal Garut.
Dampak dari rendahnya hasil panen, sejumlah jenis sayuran kini mengalami kenaikan harga. Khususnya untuk cabai, tomat dan beberapa jenis sayuran lainnya harganya mengalami kenaikan 50 persen dari harga biasa.
“Jika sekarang ini memiliki buah cabai yang bagus, petani tersebut akan mengalami keuntungan yang besar. Harga cabai keriting di pasaran mencapai 70 ribu per kilo gramnya, ” imbuh dia.
Untuk mengantisipasi supaya para petani itu tetap memiliki penghasilan, tidak sedikit mereka yang menunda dulu lahan pertaniannya. Jadi tukang bangunan sementara adalah satu satunya jalan usaha untuk mendapatkan penghasilan.
“Sudah satu bulan ini saya bekerja menjadi tukang bangunan. lahan pertaniannya kita tunda dulu, nanti kalau sudah cuacanya membaik, baru kita bercocok tanam lagi, ” tutur Mulyadi.
Cijeruk | Jurnal Bogor Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, menyebabkan longsor pada ruas jalan milik Pemerintah Kabupaten Bogor. Longsor terjadi dengan panjang sekitar 6 meter dan tinggi tebing mencapai 5 meter, sehingga mempersempit akses jalan penghubung Kampung Cibalung–Cipaok–Lengis.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kecamatan Cijeruk bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor segera melakukan penanganan awal dengan memasang rambu peringatan lalu lintas di sekitar lokasi longsor guna mengantisipasi kecelakaan dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
Camat Cijeruk, M. Sobar Mansoer, mengatakan peristiwa longsor terjadi sekitar pukul 04.00 WIB di Kampung Cibalung, RT 02 RW 02. Setelah menerima laporan dari pemerintah desa, pihak kecamatan langsung berkoordinasi dan melaporkan kejadian tersebut kepada PUPR Kabupaten Bogor.
“Sebagai penanganan awal, kami bersama PUPR memasang guardrail, terpal penutup tebing, serta rambu peringatan untuk mencegah terjadinya longsor susulan,” ujar Sobar, Selasa (20/01/26).
Ia juga meminta agar kendaraan bertonase berat, khususnya truk bermuatan besar, untuk sementara tidak melintasi jalur tersebut demi mengurangi beban jalan yang berpotensi memicu longsor lanjutan.
“Kami mengimbau pemerintah desa untuk memasang spanduk larangan bagi truk bermuatan berat agar tidak melewati jalur ini, demi keselamatan bersama,” tambahnya.
Selain itu, Sobar mengingatkan masyarakat agar tetap waspada mengingat bulan Januari merupakan puncak musim hujan dan wilayah Kecamatan Cijeruk termasuk daerah rawan bencana longsor.
“Kami mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah Kecamatan Cijeruk siap siaga 24 jam dan akan segera menindaklanjuti setiap laporan kebencanaan yang masuk,” pungkasnya.
Cisarua | Jurnal Bogor Keberadaan tiang listrik di badan Jalan raya Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, tepatnya di dekat SPBU Kopo Kecamatan Cisarua, cukup membahayakan bagi para pengendara.
Tiga hari yang lalu pengendara sepeda motor asal Cianjur mengalami kecelakaan menabrak tiang listrik tersebut. Pengendara bernama Supardi asal Cilaku, itu terpaksa harus dilarikan ke RSUD Ciawi untuk menjalani perawatan luka di bagian kakinya.
“Sering tiang listrik itu menelan korban kecelakaan, khususnya para pengendara sepeda motor. Kejadian kecelakaan rata-rata pada malam hari. Terlebih jika terjadi antrean mobil ke arah atas, kondisi tersebut merupakan waktu yang rawan. Pengendara sepeda motor guna menghindari kemacetan mereka mengambil jalur kiri yang akhirnya terjebak oleh tiang listrik tersebut hingga terjadi kecelakaan dengan menabrak tiang listriknya, ” tutur Agus, warga Kopo.
Untuk menghindari lebih banyaknya terjadi kecelakaan, warga dan para pengendara meminta supaya pihak PLN Cipayung memindahkan tiang listriknya.
“Tadinya tiang listrik itu berada di daerah milik jalan tidak berdiri di badan jalan. Karena dilakukan pelebaran jalan beberapa waktu silam, akhirnya kini tiang listrik tersebut berada di posisi 1,5 meter di badan jalan, ” imbuh Agus.
Dikatakan tokoh Cisarua, pihak PLN seharusnya mengikuti program pemerintah yang melakukan pelebaran jalan raya Puncak pada waktu itu.
“Setiap ada pelebaran jalan di wilayah Puncak, pihak PLN selalu membiarkan tiang listrik selalu menjadi masalah. Kegiatan pelebaran jalan tidak diikuti dengan pemindahan tiang listriknya. Yang akhirnya kini cukup membahayakan bagi para pengendara. Jika hal itu dibiarkan, korban kecelakaan akibat tiang listrik akan terus bertambah, ” pungkas Heru.
Cibungbulang l Jurnal Bogor Pemerintah Desa Cimanggu II bersama Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, melakukan pengecekan aliran sungai untuk dijadikan budidaya ikan air tawar. Upaya ini untuk menciptakan ekonomi kreatif untuk menggali potensi desa dengan konsep ecovillage yang menjadi salah satu role model dalam memanfaatan aliran sungai di Desa Cimanggu II, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Tim kelompok (Katim) Perikanan Tangkap Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Yuyun Yuningsih mengatakan, program ecovillage ini diharapkan menjadi role model baru di lingkungan masyarakat.
“Iya memanfaatkan sungai-sungai menjadi sumber air yang tidak dimanfaatkan, karena masih banyak sumber-sumber air yang bagus,” ujarnya, Selasa (20/01/25).
Menurutnya, kegiatan monitoring ini selain mengecek lokasi sungai juga melihat ketersediaan air.
“Disini meskipun kemarau tapi tidak sampai kering, masih bisa mengairi,” bebernya.
Ia mengatakan bahwa, selain pemberian bibit ikan, nantinya masyarakat bisa menikmati hasil dalam program ecovillage.
“Ecovillage ini mau kita dibangun untuk di tahun 2026 untuk memanfaatkan perairan di lingkungan masyarakat. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan sumber air tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cimanggu II, Edi Sukarya mengatakan bahwa program ecovillage menjadi role model baru dalam dunia perikanan di wilayahnya.
“Tentunya dengan program ini kami bisa lebih optimalkan sektor perikan di wilayah kami,” ujarnya.
Ia mengatakan, wilayahnya memiliki beberapa titik mata air yang nantinya bisa dijadikan lokasi ecovillage.
“Sungai wilayah kami memiliki beberapa mata air dan tentunya dengan program ini nantinya bisa mengoptimalisasikan aliran sungai menjadi sumber mata pencarian masyarakat,” pungkasnya.
Cigudeg l Jurnal Bogor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor menggelar Fun Futsal PCNU Cup 2026 yang berlangsung di Lapangan Futsal Karadenan Square.
Momentum tersebut dijadikan ajang silaturahmi sekaligus mempererat sinergi antarorganisasi kepemudaan dan keagamaan di Kabupaten Bogor.
Pada turnamen itu, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Cigudeg bersama Karang Taruna (Katar) bersinergi dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Cigudeg dengan mengirimkan tim futsal terbaiknya hasil seleksi dari wilayah Cigudeg.
Ketua DPK KNPI Kecamatan Cigudeg yang belum lama terpilih, Wawan Dharmawan, mengatakan bahwa keikutsertaan KNPI pada PCNU Cup bukan semata-mata soal kompetisi, melainkan sebagai wadah membangun kebersamaan dan memperkuat peran pemuda melalui kegiatan positif.
“KNPI Kecamatan Cigudeg berkomitmen mengirimkan tim futsal terbaik sebagai bentuk partisipasi aktif pemuda dalam kegiatan PCNU Cup. Ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga momentum silaturahmi, kebersamaan, dan mempererat sinergi antarorganisasi di Cigudeg,” ujar Wawan, Senin (20/1/2026).
“Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda Cigudeg siap berkontribusi secara positif, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjaga nama baik daerah dan organisasi,” ujarnya lagi.
Ia menambahkan, sinergi antara KNPI, Karang Taruna, dan MWC NU diharapkan mampu melahirkan semangat kolaborasi yang berkelanjutan, khususnya dalam mendorong kegiatan kepemudaan yang sehat, sportif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tangerang Selatan I Jurnal Bogor Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Bahrus Syafa’ah, Jalan SDN Inpres, Gg. Dzikir, Kp. Rawa Lele, Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (15/1/2026) malam. Ratusan jamaah tampak memadati area Lapangan Bahrus Syafa’ah Jombang Rawa Lele, untuk menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-13 Pondok Pesantren Safinatul Qodiri.
Mengangkat tema besar “Dengan Hati Merangkul Umat, Merajut Kebersamaan”, perhelatan akbar ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu dan keberkahan. Hadirnya tokoh-tokoh ulama kharismatik menambah kental nuansa spiritual dalam acara yang berlangsung hingga tengah malam tersebut.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, Aminuddin, S.Sos., M.M., mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan panjang pesantren ini.
Menurutnya, usia 13 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan bukti konsistensi dalam syiar Islam.
“Alhamdulillah, tahun ini mencapai usia yang ke-13 tahun. Usia yang cukup matang dalam perjuangan menegakkan agamanya Allah SWT,” ujar Aminuddin di sela-sela acara.
“Besar harapan kami, perhelatan ini dapat menghadirkan suasana rukun, baik intern umat Islam maupun antarumat beragama. Kerukunan adalah pondasi utama menjaga keutuhan NKRI,” tambahnya.
Filosofi Angka dan Pertolongan Allah
Puncak acara diisi dengan pesan menyentuh dari sang pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Safinatul Qodiri, Abuya Kyai Habib Umar Bin Abdul Hadi Al-As’Ary. Dalam sambutannya, beliau membedah makna mendalam di balik angka-angka perjalanan pesantren yang sarat akan filosofi spiritual.
Beliau memaparkan bahwa perjalanan dakwahnya dimulai di Pondok Pucung selama 10 tahun sejak 2008, kemudian dilanjutkan di Jombang Rawa Lele selama 7 tahun. Total 17 tahun perjalanan ini dimaknai sebagai pengingat akan 17 rakaat dalam salat lima waktu.
“Di Rawa Lele ini sudah 7 tahun. Dalam bahasa Jawa, tujuh itu Pitu, yang artinya Pitulunge (pertolongan) Gusti Allah SWT,” tutur Abuya Kyai Habib Umar dengan nada teduh.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa hitungan 13 tahun berdirinya yayasan (sejak 2013) juga memiliki korelasi dengan hitungan Jawa ‘Jumat Pon’ yang berjumlah 13. Dalam tradisi perhitungan Jawa, angka 13 ini bertemu pada fase ‘Bejo’ (Sandang, Pangan, Bejo, Loro, Pati) atau keberuntungan.
“Perjalanan 7 tahun di Rawa Lele adalah ‘Pitu’, simbol Pitulunge (pertolongan) Gusti Allah. Dengan semangat merangkul umat melalui hati, kita rajut kembali kebersamaan untuk menjaga persatuan negeri,” tandas Abuya Kyai Habib Umar.
Oase Kerukunan di Tengah Masyarakat
Tak hanya menjadi ajang doa bersama, Harlah ke-13 ini juga menjadi simbol kuatnya sinergi antara ulama, umaro (pemerintah), dan masyarakat. Kehadiran berbagai pejabat instansi pemerintah dan tokoh masyarakat menunjukkan bahwa Ponpes Safinatul Qodiri telah menjadi pengejawantahan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Turut hadir memberikan tausiyah, Pengasuh PP. Nurussalam & Walisongo, Tuban, Jawa Timur, KH. Abraham Naja MN. S.H., M.H (Gus Naja) serta Sultan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja. Kehadiran para tokoh ini mempertegas misi pesantren untuk merangkul umat dengan cinta tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Melalui momentum Harlah ini, Ponpes Safinatul Qodiri mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai wadah pemersatu bangsa yang berangkat dari hati.
Cibinong | Jurnal Bogor Pakar hukum pidana dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) Yenti Garnasih memberi komentar pedas atas operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada Senin (19/1/2026). KPK melakukan OTT kepada Walikota Madiun Provinsi Jawa Timur, Maidi dan Bupati Pati Provinsi Jawa Tengah, Sadewo. Menurut Yenti, OTT tersebut menjadi bukti bahwa korupsi masih merajalela dan orang semakin tidak takut pada hukuman sebagai koruptor. “Ini ada masalah besar, kenapa korupsi menjamur, kenapa terkesan tidak takut, tidak malu dihukum sebagai koruptor,” tegas Yenti kepada Jurnal Bogor saat dimintai tanggapannya terkait OTT tersebut. Yenti melanjutkan bahwa UU Tindak Pidana Korupsi kini makin melemah sementara KUHAP yang baru justru memberi keleluasaan kepada koruptor dengan alasan kemanusiaan karena tidak dipajang saat konferensi pers proses OTT. “Undang-undangnya yang melemah. KUHAP baru yang memberi keleluasaan tidak boleh dipajang nampaknya juga membuat mereka semakin berani dan tidak segan-segan nekat merampok uang anggaran pembangunan, atau menerima pelicin,” kata mantan ketua pansel komisioner KPK. Yenti menduga vonis hukuman kepada koruptor dianggapnya terlalu rendah dan tidak memberi efek jera. “Hukumannya terlalu rendah dan tidak menjerakan. Lembaga Pemasyarakatannya juga istimewa karena terpisah di LP Sukamiskin bukannya dicampur dengan pelaku kejahatan yang lain,” ujar perumus rancangan KUHP dan KUHAP yang akhirnya mulai diterapkan di 2026. Yenti berharap agar ada upaya pencegahan melalui sistem tata kelola pemerintahan dan sistem penyelenggaran pemilu. “Perlu dipikirkan juga, pidana yang berat untuk tipikor. Segera revisi UU tindak pidana korupsi sesuai dengan amanat UN CAC 2003,” tandas Ketua Umum Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia (MAHUPIKI).n Herry Setiawan
Citeureup | Jurnal Bogor Kepala Desa Tajur Kecamatan Citeureup, Ade Safrudin mengatakan saat ini terus menggenjot menggerakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tajur yang bergerak di bisnis ritel. Bisnis ritel itu sangat bersentuhan dengan masyarakat setempat dan berasal dari warga setempat. “Alhamdulillah saat ini bisnis BUMDes Tajur terus berjalan. Pengelola BUMDes belanja dari warga seperti dari peternak petelur ayam yang ada di wilayah kami,” ujar Ade Safrudin kepada Jurnal Bogor, Senin (19/1/2026). Ade yang terpilih sebagai Kepala Desa Tajur di Pilkades 2019 menjelaskan saat ini bisnis ritel menjadi tulang punggung BUMDes. Khususnya dalam memberi pemasukan dan membantu roda perekonomian warga Desa Tajur. “Bisnis ritel kami sudah berjalan sejak 2019 sampai sekarang dengan berjualan telur ayam, ada juga aneka produk makanan khas Tajur seperti Sukun dan produk sembako lainnya. Khususnya telur ayam itu berasal dari warga desa Tajur sendiri,” ujarnya. Tak hanya itu, Desa Tajur kini juga memiliki workshop berupa alat peraga pendidikan bagi anak usia dini yang sudah masuk dalam e katalog. Produk mebeler juga tersedia di workshop yang berada di desa berbatasan dengan Desa Pasir Mukti, Citeureup di sebelah barat. “Selain produk sembako, ada juga workshop penghasil alat peraga pendidikan untuk anak usia dini. Di workshop ini semua pekerjanya berasal dari warga desa Tajur. Alhamdulillah workshop ini memberi manfaat kepada warga kami,” kata Ade.n Firdaus