26.4 C
Bogor
Tuesday, September 29, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 73

Sidang LNG Pertamina: Terdakwa Tegaskan Tak Ada Unsur Korupsi

0

Jakarta | Jurnal Bogor — Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan liquefied natural gas (LNG) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta kembali menghadirkan keterangan terdakwa Hari Karyuliarto dan Yeni Andayani.

Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Suwandi, dengan anggota Ramauli Hotnaria Purba dan Hiashinta Fransiska Manalu, Hari menegaskan bahwa pengadaan LNG dari Corpus Christi tidak memerlukan persetujuan dewan komisaris maupun Menteri BUMN selaku RUPS.

Menurutnya, praktik tersebut juga berlaku pada sejumlah kontrak LNG lainnya di Pertamina.

“Tidak hanya pengadaan LNG dari Corpus Christi. Kontrak dengan Eni Muara Bakau B.V., Woodside Energy Trading Singapore, dan Total Gas & Power Asia Private Limited juga tidak memerlukan izin dewan komisaris maupun RUPS,” ujar Hari di persidangan, pada Senin (6/4/2026).

Ia pun mempertanyakan mengapa hanya kontrak LNG Corpus Christi yang dipersoalkan, sementara kontrak lain tidak.

Kuasa hukum Hari, Wa Ode Nur Zainab, menjelaskan bahwa proses negosiasi kontrak berlangsung sebelum kliennya menjabat sebagai Direktur Gas Pertamina. Selain itu, Hari disebut telah tidak lagi bekerja di Pertamina sejak 2018, sedangkan impor LNG baru terjadi pada 2019.

“Volume, harga, dan spesifikasi LNG yang diimpor sama persis dengan yang tercantum dalam kontrak pembelian,” ujarnya.

Ia menambahkan, dugaan kerugian negara yang disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merujuk pada Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang menurutnya terjadi pada tahap penjualan LNG oleh Pertamina.

Kerugian tersebut disebut muncul pada periode 2020–2021 saat pandemi COVID-19 menekan sektor industri dan menurunkan harga energi global.

Wa Ode menegaskan kontrak antara Pertamina dan Corpus Christi merupakan pembelian putus. Artinya, seluruh risiko dan keuntungan berada di pihak Pertamina.

Hari juga mengungkapkan bahwa dalam pemeriksaan di KPK, dirinya telah menyerahkan bukti bahwa pengadaan LNG tersebut menghasilkan keuntungan. Namun, menurutnya, dokumen tersebut tidak digunakan dalam laporan BPK.

“Waktu itu disampaikan oleh pihak BPK bahwa bukti itu akan menjadi bahan pertimbangan. Namun dalam laporan hasil pemeriksaan, dokumen tersebut tidak digunakan,” tegasnya.

Dalam sidang sebelumnya, mantan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyebut bahwa secara kumulatif periode 2019–2024, impor LNG dari Corpus Christi justru mencatat keuntungan sebesar US$97 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.

Dipersoalkan: Unsur Korupsi
Usai persidangan, Hari menegaskan tidak ada unsur mens rea atau niat jahat dalam pengadaan LNG tersebut.

“Tidak ada kickback, tidak ada benturan kepentingan, dan tidak ada persekongkolan. Sampai hari ini tidak ada bukti yang menunjukkan hal tersebut,” ujarnya.

Kuasa hukum menilai perkara ini lebih tepat dikategorikan sebagai keputusan bisnis atau aksi korporasi, bukan tindak pidana korupsi.

Menurut Wa Ode, dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi harus terdapat unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain melalui perbuatan melawan hukum, seperti suap atau pemufakatan jahat.

“Fakta-fakta seperti itu tidak muncul dalam persidangan. Yang dipersoalkan justru keputusan bisnis, seperti back-to-back, price review, dan strategi perdagangan,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa pihak yang disebut diperkaya dalam perkara ini tidak pernah dihadirkan di persidangan. Jika Corpus Christi dianggap diuntungkan, seharusnya dapat dihadirkan melalui mekanisme Mutual Legal Assistance (MLA).

“Corpus Christi menerima uang karena menjual LNG kepada Pertamina, bukan karena kongkalikong,” kata Hari.

Menutup keterangannya, Hari menyatakan tetap menghormati proses hukum yang berjalan dan berharap majelis hakim dapat memutus perkara secara objektif dan adil.

“Saya berharap majelis hakim melihat fakta-fakta persidangan dan memutus perkara ini dengan adil,” ujarnya. (*)

Lapor KDM Dulu Baru ‘Action’

0

Jurnal Bogor – Jalan rusak di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, terutama di Kampung Cadas Leueur disikapi Pemkab Bogor ‘slow down’. Ujung-ujungnya warga melapor ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM. Padahal jalan ini merupakan akses utama ke kawasan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Jika kerusakan jalan bukan di lokasi yang tak ada keberadaan perusahaannya memang bisa dimaklumi, tentunya hanya mengandalkan APBD.

Namun jika kerusakan berada di Desa Bantar Karet, apakah Antam tidak peduli mengucurkan dana CSR-nya untuk melakukan perbaikan? Bukan hanya sekedar tambal sulam yang kemudian rusak lagi. Kabarnya pihak Antam justeru menunggu Pemkab Bogor mengirimkan surat.

Warga yang kesal justeru ingin segera ada perbaikan karena jalan tersebut terkesan dibiarkan, baik oleh Pemkab maupun oleh Antam hingga warga meminta bantuan KDM agar jalan tersebut tidak lagi menghambat aktivitas warga karena jalan ini telah dipenuhi lubang dan bebatuan. KDM pun meminta warga bersabar karena perbaikan telah dialokasikan dalam APBD Kabupaten Bogor 2026 dan kini disebutkan dalam proses lelang.

Namun yang menjadi catatan, mengapa warga harus menanti bertahun-tahun dan mesti lapor Gubernur dulu baru Pemkab Bogor merespons?. Jika ada pembicaraan Pemkab-Antam, barangkali warga tak merasa jengkel diabaikan dan bisa segera merasakan adanya perhatian. Barangkali juga tak mesti pakai APBD, cukup dengan dana CSR atau kombinasi dari keduanya. Karena Antam mesti ada tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar, termasuk dalam pemeliharaan jalan. 

Mesti ada upaya saling bantu Pemkab-Antam agar warga tak dirugikan dengan kondisi jalan yang rusak parah. Jika mengedepankan ego masing-masing, lubang-lubang jalan itu akan tetap menganga.

**

Penulis: Asep Saepudin Sayyev

Dah Nahkodai PDI Perjuangan, Kota Bogor, DID Perkuat Program Prorakyat

0

Bogor | Jurnal Bogor

DPD PDI Perjuangan Jawa Barat terus memperkuat konsolidasi internal partai dengan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Bogor.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif dan Legislatif DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Agus Rustandi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi partai secara menyeluruh hingga ke akar rumput.

“Ini bagian dari konsolidasi organisasi. Kita sudah menuntaskan konsolidasi dari tingkat DPC, PAC di kecamatan, hingga ranting di desa dan kelurahan,” ujarnya saat kegiatan penyerahan SK di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Bogor.

Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan ke depan, fokus kerja partai akan diarahkan pada pembentukan kepengurusan di tingkat anak ranting, yakni di level RT dan RW.

Menurutnya, penguatan struktur hingga lapisan terbawah menjadi kunci dalam memenangkan kontestasi politik mendatang.

“Teman-teman DPC bersama PAC akan fokus menyusun kepengurusan anak ranting. Target minimal kita jelas, yaitu mengembalikan delapan kursi yang sempat hilang,” kata Agus.

Ia menambahkan, untuk mencapai target tersebut, seluruh kader diminta terus aktif turun ke masyarakat serta menjaga soliditas internal partai.

Kehadiran langsung di tengah masyarakat dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan publik.

“Bagaimana kita bekerja, terus turun ke bawah, hadir di tengah masyarakat, itu yang utama,” tegasnya.

Agus juga menilai dinamika internal partai di Kota Bogor menunjukkan perkembangan positif. Ia melihat adanya peningkatan semangat dari para kader dan pengurus di berbagai tingkatan.

“Kalau melihat geliatnya cukup bagus. Ada peningkatan semangat, dan mudah-mudahan ini tetap dijaga, baik soliditas antar pengurus maupun antar kader,” tambahnya.

Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata (DID) mengatakan dengan diserahkannya SK baru, ia akan memulai melakukan kerja-kerja politik yang menyentuh langsung ke masyarakat.

Ia juga menyatakan kesiapan untuk menjalankan target yang telah ditetapkan oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Dadang juga mengatakan penyerahan SK ini menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi sekaligus menyusun strategi pemenangan.

“Dengan penyerahan SK oleh DPD ini akan memperkuat kita dalam menggelar program yang pro-rakyat. Pertama kita kuat secara legalitas, kemudian kita akan melaksanakan instruksi dari ketua umum Ibu Megawati Soekarnoputri demi kemenangan partai,” ujar Dadang.

Sebelum penyerahan SK secara simbolis, DPC PDI Perjuangan Kota Bogor juga menggelar kegiatan sosial dengan menyalurkan bantuan sembako kepada ratusan warga.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara langsung sebagai bentuk kepedulian partai terhadap masyarakat.

Dengan telah diserahkannya SK kepengurusan ini, seluruh struktur partai di Kota Bogor diharapkan dapat langsung bergerak cepat, terorganisir, dan fokus pada upaya memenangkan PDI Perjuangan dalam kontestasi politik mendatang.

Acara dihadiri oleh Pengurus DPD Jawa Barat, DPC, serta Fraksi DPRD Kota Bogor. Selain itu Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Ranting juga sayap, badan serta satgas juga turut hadir. Dalam momen ini DPC PDI Perjuangan Kota Bogor juga mengundang para senior partai dan warga sekitar.

** Fredy Kristianto

Dipanggil KONI Jabar Dedi Bachtiar Mangkir

0

Bandung | Jurnal Bogor
Ketua KONI Kabupaten Bogor tak memenuhi panggilan KONI Jawa Barat atas adanya surat mosi tidak percaya yang dilayangkan sejumlah Cabang Olahraga (Cabor) di Bumi Tegar Beriman.

Wakil Ketua I KONI Jabar, Andrian Tejakusuma mengatakan, bahwa pemanggilan terhadap Dedi Bachtiar selaku Ketua KONI Kabupaten Bogor akan kembali dilayangkan oleh pihaknya.

“Pemanggilan pertama tidak hadir, makanya kami akan kembali melakukan pemanggilan terhadap Ketua KONI Kabupaten Bogor tersebut,” ujar Andrian kepada Wartawan melalui sambungan teleponnya, Senin (6/4).

Ia menambahkan, bahwa pihaknya akan kembali melakukan pemanggil lanjutan pada pekan ini, maksimal sebanyak tiga kali.

“Kamis (9/4) akan dipanggil kedua kali. Kalau yang bersangkutan tidak kembali memenuhi panggilan, kami akan panggil lagi dengan batas maksimal tiga kali,” kata Andrian.

Ia mengungkapkan, pihaknya akan langsung turun ke Kabupaten Bogor ketika pemanggilan tidak dipenuhi hingga batas akhir yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) KONI.

“Kami akan langsung mengkroscek ke anggota KONI Kabupaten Bogor atas adanya surat mosi tidak percaya yang telah diterima oleh KONI Jabar,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa pihaknya akan ambil langkah kebijakan sesuai aturan terhadap adanya mosi tidak percaya.

“Kalau benar mosi tidak percaya itu dari anggota KONI Kabupaten Bogor, kami akan lakukan karteker. Makanya, kami lakukan pemanggilan terhadap Ketua KONI Kabupaten Bogor itu untuk mengecek kebenaran adanya surat mosi tidak percaya tersebut,” paparnya. n Noverando H

Petani dan Peternak Terdampak Perang

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Sejumlah petani dan peternak mengaku terdampak perang Iran melawan Amerika dan Israel. Para petani merasakan kebutuhan plastik untuk green house kini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan peternak dengan adanya kenaikan harga pakan.

“Harga plastik naik 50 persen dari harga biasanya. Jika harga plastik tersebut mahal, usaha petani akan sangat terancam, ” ujar salah seorang petani di Cisarua, Akip.

Green house sendiri merupakan model pertanian yang bisa mempertahankan kualitas produk pertanian menjadi bagus, yang cukup berbeda dengan cara konvensional.

“Melalui green house pertanian kita berjalan secara teratur. Cuaca atau iklim bisa stabil. Dengan demikian, hasil pertanian kita berjalan bagus. Tetapi adanya kenaikan plastik kita menjadi pesimis, ” imbuh dia.

Tidak hanya plastik yang mengalami kenaikan. Sektor peternakan ayam juga kini terkena imbasnya. Harga pakan yang mengalami kenaikan 20 persen dirasakan sangat memberatkan para peternak.

“Sejak terjadinya perang Iran, harga pakan mengalami kenaikan sebesar 20 persen. Pemerintah harus ambil sikap, supaya pata petani atau peternak tetap bisa beroperasi tanpa kerugian, ” pungkas Indra, salah seorang peternak ayam telur.

** Dadang Supriatna

Sampah di Puncak Dominan dari Tempat Wisata

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Kondisi sampah di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor sebagian besar dihasilkan dari tempat-tempat wisata yang ada di dua kecamatan yakni Cisarua dan Megamendung. Di dua kecamatan itu terdapat tempat wisata dan perhotelan yang menghasilkan sampah dsetiap harinya. Terlebih, hari libur volume sampah dari tempat wisata tersebut mengalami peningkatan.

“Sampah dari tempat wisata, yang terkadang dibuang oleh pengunjungnya secara sembarangan bisa disaksikan kita semua. Seperti, jika terjadi libur panjang dimana banyak pengunjung ke tempat wisata menimbulkan kekotoran di kawasan wisata itu. Mulai dari areal masuk hingga ke pinggirannya banyak ditemukan serakan sampah plastik”, tutur Sopian warga Cusarua.

Warga lain menanggapi, Kabupaten Bogor saatnya untuk serius melakukan penanganan sampah di setiap desanya. Melalui pengelolaan sampah terpadu, dinilai sangat tepat untuk menangani sampah desa desa yang ada di dua kecamatan itu. Selama ini, berdasarkan keterangan dari beberapa desa, sampah yang berasal dari masyarakat diangkut oleh DLH Ciawi.

“Kabupaten Bogor harus serius untuk melakukan penanganan sampah di setiap desa. Karena, sesuai perkembangan dunia tempat wisata di Cisarua dan Megamendung akan berdampak terhadap tingginya volume sampah di wilayah ini. Jadi, berkembangnya dunia pariwisata harus dibarengi oleh penanganan lingkungan khususnya sampah, “, pungkas Jatnika.

** Dadang Supriatna

Pohon Bambu Tumbang Tutup Akses Jalan Barengkok–Pabangbon Leuwiliang

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor – Hujan deras yang mengguyur wilayah Leuwiliang menyebabkan rumpun pohon bambu berukuran besar tumbang dan menutup akses Jalan Raya Barengkok–Pabangbon, Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Akibat kejadian tersebut, arus lalu lintas menuju Kecamatan Nanggung sempat terganggu lantaran sebagian badan jalan tertutup batang bambu yang melintang.

Saat ini, petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Infrastruktur Jalan dan Jembatan (IJJ) Wilayah Leuwiliang telah melakukan penanganan di lokasi.

Staf UPT IJJ Leuwiliang, Mudrikah Maulana, mengatakan penanganan darurat dilakukan atas instruksi langsung pimpinan menyusul kondisi cuaca ekstrem.

“Iya, akibat cuaca ekstrem, pohon bambu tumbang dan sempat menutupi akses jalan raya menuju Kecamatan Nanggung,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kondisi jalan sempat terhambat karena separuh badan jalan tertutup.

“Tidak ada korban. Hanya separuh jalan tertutup pohon, dan saat ini sudah berhasil ditangani,” katanya.

Dalam proses evakuasi, petugas sempat mengalami kendala karena ukuran batang bambu yang besar serta akar yang rapat hingga menutup sebagian jalan. Penanganan pun dilakukan menggunakan mesin pemotong dan alat berat.

“Memang cukup sulit karena batangnya besar dan akarnya rapat. Jadi harus menggunakan alat berat. Alhamdulillah sekarang sudah bisa ditangani,” pungkasnya. Arip Ekon

Kades Dramaga Bantu Warga Pabangbon Gunakan Mobil Siaga

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Dramaga dan Muspika Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor patut diapresiasi atas kepeduliannya terhadap warga meskipun bukan asal wilayahnya. Kejadiannya ketika seorang warga berinisial Y (56), warga Kampung Pabangbon Baru, Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, mengembuskan napas terakhir di wilayah Lingkar Dramaga saat dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjalani pengobatan rutin.

Peristiwa itu terjadi ketika keluarga berupaya membawa Y ke RSUD Cibinong guna melakukan kontrol kesehatan. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di pertigaan Jalan Babakan Raya, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, kondisi korban memburuk.

Melihat situasi tersebut, sejumlah aparatur dari Muspika Kecamatan Dramaga segera memberikan pertolongan pertama di lokasi. Korban kemudian dialihkan ke RS Karya Bhakti Pratiwi (KBP) yang dinilai lebih dekat untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya.

Setibanya di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RS KBP, tim medis langsung melakukan tindakan penyelamatan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan korban dinyatakan meninggal dunia.

Pihak keluarga mengungkapkan bahwa almarhum telah lama berjuang melawan penyakit komplikasi, yakni tuberkulosis tulang dan paru-paru. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan. Rencana kontrol ke RSUD Cibinong pada hari kejadian pun menjadi harapan untuk memantau kondisi kesehatannya.

“Rencananya pagi ini kami ingin kontrol ke RSUD Cibinong, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Camat Dramaga dan petugas IPSM yang sudah membantu,” ujar salah satu anggota keluarga, Senin (6/4/2026).

Sementara itu, petugas Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Dramaga, Herni, menyampaikan bahwa proses penanganan di rumah sakit berjalan dengan baik. Namun, kendala sempat muncul saat hendak memulangkan jenazah. Mobil siaga dari Desa Pabangbon dinilai terlalu jauh untuk dijangkau dalam waktu cepat. Sebagai solusi, pihak IPSM berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Dramaga meminta bantuan mobil siaga setempat.

“Alhamdulillah, kami mendapat bantuan dari Kepala Desa Dramaga untuk penggunaan mobil siaga desa, sehingga jenazah bisa segera dipulangkan ke rumah duka di Pabangbon,” pungkasnya.

** Arip Ekon

Sekolah Online di Bogor Batal, Pemerintah Pilih Tatap Muka

0

Bogor | Jurnal Bogor – Kebijakan pendidikan di Bogor kembali menjadi perhatian setelah pemerintah daerah memutuskan membatalkan rencana sekolah online yang semula digagas untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Wacana ini muncul sebagai respons atas lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, namun akhirnya dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak.

Pada awalnya, sekolah daring dianggap solusi praktis untuk mengurangi mobilitas harian siswa dan guru. Dengan berkurangnya perjalanan ke sekolah, konsumsi BBM di sektor transportasi diyakini bisa ditekan. Namun, pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh memiliki konsekuensi serius, terutama dalam hal interaksi sosial, motivasi belajar, dan pemerataan akses teknologi.

Dikutip dari harian pikiran rakyat, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Herry Karnadi, kegiatan belajar mengajar mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) akan tetap dilaksanakan secara tatap muka. ”Jadi, tidak ada kebijakan sekolah jarak jauh atau daring,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Ia mengatakan bahwa kebijakan untuk tetap melaksanakan sekolah tatap muka ini sesuai dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana memberlakukan kembali pembelajaran daring sebagai strategi penghematan energi.

Wacana sekolah daring demi efisiensi BBM dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak. Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh sering menimbulkan learning loss, menurunkan motivasi belajar, serta memperlebar kesenjangan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan. Selain itu, interaksi sosial yang penting bagi pembentukan karakter tidak dapat tergantikan oleh layar komputer. Karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya berorientasi pada kepentingan anak dan kualitas pembelajaran, bukan semata pada angka efisiensi

Di lapangan, orang tua murid menyambut baik pembatalan kebijakan ini. Ibu Tritia Anita (34 tahun), wali murid SD Negeri Taman Pagelaran Bogor, mengungkapkan bahwa anaknya lebih fokus belajar tatap muka. “Kalau daring, sering terganggu sinyal dan anak jadi malas. Sekarang saya lega karena sekolah tetap berjalan normal,” ujarnya.

Testimoni ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap ketimpangan akses teknologi yang masih nyata. Para guru juga menilai pembatalan kebijakan sebagai langkah bijak. Guru SD Negeri Dewi Sartika 2 di Bogor, Dinda Nirmala (25 tahun), mengatakan bahwa interaksi langsung di kelas tidak bisa digantikan oleh layar komputer. “Mengajar bukan hanya soal materi, tapi juga membangun karakter dan kedekatan emosional. Itu sulit dilakukan secara daring,” jelasnya.

Sebagai alternatif, pemerintah kini mendorong solusi lain untuk efisiensi energi tanpa mengganggu pendidikan. Di antaranya adalah penggunaan kendaraan untuk mengurangi konsumsi BBM, digitalisasi administrasi birokrasi agar lebih hemat energi, serta investasi panel surya di sekolah-sekolah. Langkah ini diharapkan mampu menekan penggunaan BBM sekaligus menjaga kualitas pembelajaran.

Pembatalan sekolah daring di Bogor menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh dilepaskan dari konteks sosial dan psikologis anak. Efisiensi energi memang mendesak, tetapi harus dicari di sektor lain yang tidak mengorbankan hak anak untuk belajar. Pendidikan tetap menjadi prioritas utama, karena dari sanalah masa depan bangsa dibentuk.

Dengan demikian, keputusan pemerintah daerah Bogor membatalkan kebijakan sekolah online demi penghematan BBM adalah langkah yang tepat. Anak-anak tetap bisa belajar dengan optimal, sementara solusi energi dicari melalui jalur yang lebih relevan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan, sekaligus mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas hidup generasi penerus.

Laporan: Nusrat Synthia Riagustiani – Universitas Negeri Jakarta

CFD Tegar Beriman Jadi Ajang Edukasi Lingkungan Hidup

0

Jurnal Bogor | Cibinong – Kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, tidak hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi bagi masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan hidup. Berbagai kegiatan kampanye pengelolaan sampah digelar untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Salah satunya melalui kegiatan karnaval daur ulang yang diikuti sejumlah komunitas dan pegiat lingkungan. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar mulai memilah dan mengolah sampah rumah tangga sehingga dapat memberikan manfaat.

Ival, salah satu peserta karnaval daur ulang, menyatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah.

“Saya mengikuti kegiatan karnaval daur ulang. Melalui kegiatan ini kami ingin mengedukasi masyarakat, khususnya di momentum CFD, bahwa sudah saatnya kita mulai memilah dan mengolah sampah yang kita hasilkan sehari-hari agar menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Ia berharap upaya edukasi tersebut dapat membantu Kabupaten Bogor dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan bersama.

“Semoga upaya ini dapat membantu Kabupaten Bogor dalam menyelesaikan persoalan sampah, bahkan ke depan bisa mencapai zero waste, sehingga lingkungan kita menjadi lebih asri,” tambahnya.

Selain itu, para aktivis lingkungan juga menggelar kampanye sederhana yang melibatkan langsung partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan program penukaran botol plastik bekas dengan souvenir yang disediakan di lokasi CFD.

Aktivis lingkungan hidup Kabupaten Bogor, Bambang Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan melalui langkah-langkah sederhana.

“Hari ini kami hadir di CFD untuk mengajak warga lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Salah satunya dengan program menukar botol air kemasan bekas dengan souvenir yang sudah disediakan di sini,” kata Bambang.

Menurutnya, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi budaya baru di CFD, sehingga masyarakat tidak hanya datang untuk berolahraga atau bersantai, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi budaya di CFD, tidak hanya sekedar jalan-jalan atau olahraga, tetapi juga menumbuhkan kepedulian lingkungan melalui hal-hal kecil, seperti memanfaatkan botol plastik untuk didaur ulang,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor juga turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengolahan sampah organik. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah pengolahan sampah menggunakan teknik maggot.

Pendamping Lingkungan Hidup wilayah Kecamatan Cibinong dari Dinas Lingkungan Hidup, Ahmad Danial, menjelaskan bahwa metode tersebut dinilai lebih cepat dibandingkan proses pengomposan konvensional.

“Di CFD kali ini kami memberikan edukasi tentang pengolahan sampah organik atau sampah basah yang sering menjadi permasalahan. Kami memperkenalkan pengolahan sampah organik dengan teknik maggot, karena metode ini lebih cepat dibandingkan kompos dan bisa diproses hanya dalam beberapa jam,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan sampah di Kabupaten Bogor saat ini menjadi perhatian serius, terutama karena kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang sudah melebihi daya tampung.

“Harapannya, persoalan sampah di Kabupaten Bogor yang saat ini menjadi perhatian serius—terutama karena volume sampah di TPA Galuga sudah over capacity—dapat diatasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat,” katanya.

Melalui kegiatan CFD, pihaknya berharap masyarakat dapat mulai mengelola sampah dari rumah dengan cara memilah sampah organik dan anorganik sehingga limbah yang dihasilkan dapat diolah dan memberikan manfaat.

“Melalui CFD ini kami mengedukasi warga agar dapat mulai mengolah sampah dari rumah, terutama dengan memilah sampah rumah tangga. Dengan begitu, limbah yang dihasilkan juga bisa memberikan manfaat,” pungkasnya. (*/dr)