26.5 C
Bogor
Monday, February 9, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 59

Mantra Kaya Purbaya “Dia Sudah Kaya, Mari Kita Kaya Bersama”

0

Oleh: Herry Keating
(Wartawan Jurnal Bogor)

jurnalinspirasi.co.id – Awal November 2025, panggung politik ekonomi nasional kembali diguncangkan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di depan Anggota Komite IV DPD RI yang membidangi APBN, pajak, perimbangan keuangan pusat dan daerah, lembaga keuangan mikro, kecil dan menengah termasuk memberikan pertimbangan hasil pemeriksaan BPK RI.

“Mari kita kaya bersama, itu tujuan kita. Kalau kaya sendiri, dia sudah kaya, dia sudah kaya. Tapi kan sebagian besar masyarakat kita nggak begitu. Itu bukan keberhasilan kita kalau kita cuma bikin kaya sebagian orang. Jadi tujuan kita adalah memaksimalkan uang yang kita ada, policy yang kita ada, kekuatan ekonomi dan politik yang kita ada, untuk memakmurkan masyarakat kita,” kata Purbaya seolah jadi mantra di hadapan Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung dan Anggota Komite IV DPD RI, Senin 3 November 2025.

Pernyataan ini seolah memukul para politikus mandiri (main sendiri) yang kini menghuni DPD RI. Tanpa partai hanya berbasis konstituen namun memiliki kekayaan fantastis. Itu terlihat dari para senator DPD yang menyampaikan aspirasi saat berdialog dengan Purbaya. Tamsil Linrung dikenal sebagai politikus PAN di Pemilu 2004, lalu pindah ke PKS hingga bercerai pada 2019 lalu menjadi politikus mandiri.

Mantra menjadi kaya ala Purbaya juga seakan memukul para pejabat yang tanpa malu ingin memperkaya diri sendiri untuk berbagai tujuan. Padahal pejabat tak perlu menjadi kaya sudah dicontohkan para pendiri Republik Indonesia. Kisah Mohammad Hatta yang tak mampu membeli sepatu Bally hingga akhirnya hanya menyimpan poster sepatu Bally di balik dompetnya. KH Agus Salim yang juga tak mampu membayar listrik rumahnya dan tak mau mengganggu tokoh bangsa lainnya untuk meminta bantuan. Masih banyak contoh pendiri negara yang memilih hidup sederhana daripada mengejar kekayaan selain dua tokoh di atas.

Berbanding terbalik dengan pejabat saat ini yang justru berlomba-lomba menumpuk kekayaan. Mantan Kepala Badiklat Mahkamah Agung Dr. Zarof Ricar, SH, S.Sos, M.Hum yang ditangkap Kejagung dan ditemukan uang hampir Rp 920 miliar dan 51kg emas yang disimpan di rumahnya. Satu contoh pejabat yang memperkaya diri sendiri.

Mantra menjadi kaya ala Purbaya ini memang masih sebatas mantra. Dalam KBBI mantra dijelaskan sebagai susunan kata puitis berima yang memiliki kekuatan mistis dan gaib. Lho kok gaib? Karena baru sebatas pernyataan belum jadi kenyataan meskipun secara psikologis mantra-mantra Purbaya sering dilontarkan di publik dalam berbagai kesempatan.

Bahkan karena mantra Purbaya dalam Sarasehan Ekonomi di hadapan Presiden Prabowo dan semua pejabat perekonomian dihadiri para pegiat ekonomi pada 8 April 2025 mampu menghipnotis presiden hingga akhirnya diangkat menjadi menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani. Hanya Purbaya yang memberi data dan pemaparan optimistik menghadapi geliat ekonomi Tanah Air di tengah goncangan ekonomi dunia.

Dengan mantra Purbaya yang optimistik menghadapi ekonomi dunia berhasil menghipnotis Presiden Prabowo. Sajian datanya bahkan diambil sejak 1980an, krisis moneter 1997 dan 1998 hingga siklus 10 tahunan yang terjadi di 2008 dan berujung saat pandemi 2020-2021.

Mantra Purbaya dengan kekuatan magis data ekonomi percaya diri bahwa ekonomi Indonesia tidak perlu bergantung pada suntikan modal asing atau investor. Ekonomi Indonesia sendiri sudah mampu bergerak sendiri dan akan mampu menarik investasi lebih besar jika pengelolaan ekonomi dalam negeri sudah lebih baik.

Mantra kaya Purbaya saat ini memang baru sebatas mantra kekayaan. Namun dengan analisa dan data ekonomi yang sudah dikerjakan puluhan tahun telah berhasil menarik optimisme publik Tanah Air. Meskipun belum menunjukan pencapaian target signifikan pertumbuhan ekonomi yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja dan membuat kaya rakyat Indonesia.

Namun mantra Purbaya telah berhasil menunjukan indikasi pergerakan ekonomi selama 2 bulan terakhir sejak menjabat menteri keuangan awal September 2025. Fresh money yang selama ini mengendap di Bank Indonesia sudah dipindahkan ke bank-bank Himbara dengan nilai bervariasi dengan total kucuran uang sebesar Rp 200 triliun. Tujuannya meningkatkan likuiditas sistem perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Buktinya Bank BRI sudah mampu menyalurkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp55 triliun. Kucuran kredit oleh Bank BRI disalurkan untuk kredit pertanian, perdagangan, UMKM dan pembiayaan program pemerintah dengan total pembiayaan Rp1.416,6 triliun dengan pertumbuhan 6,0% YoY di akhir Triwulan II 2025. Dengan total kredit melalui KUR UMKM mencapai Rp1.137,84 triliun atau setara 80,32% dari total portofolio pembiayaan BRI.

Bahkan mantra Purbaya juga sudah mulai menggeliatkan ekonomi pemerintah daerah yang ternyata ada yang sengaja menyimpan uang di bank dalam bentuk deposito dengan nilai triliunan. Mantra Purbaya ini yang kemudian mengungkap ada APBD Pemprov Jabar yang disimpan dalam bentuk giro di perbankan dan Pemprov DKI terbukti menyimpan uang senilai Rp14 triliun dalam bentuk deposito. Ada juga Gubernur Kalsel yang mengaku menyimpan APBD dalam bentuk deposito di perbankan.

Mantra Purbaya bermaksud agar dana di perbankan segera dikucurkan ke tengah masyarakat dalam bentuk pembangunan fisik dan non fisik sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi.

Betul bahwa APBN/APBD hanya pemantik yang nilainya 10 persen dari geliat perekonomian. Namun dengan 10 persen ini diyakini secara ekonomi mampu menggerakkan efek bola salju yang membesar dan menggelembungkan ekonomi makro. Jika pemda tidak mampu menggunakan anggaran untuk menjalankan program pemerintah, Purbaya kembali mengeluarkan mantra.

“Kalau nggak dipakai, akan saya tarik dananya untuk saya alokasikan ke sektor produktif lain,” kata Purbaya.

Lantas bagaimana dengan pengelolaan anggaran di pemerintah daerah? Di Kabupaten Bogor misalnya, ada kebijakan tidak mengeluarkan uang muka dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan pemerintah. Sasusnya bertujuan agar proyek pemerintah dijalankan oleh kontraktor yang punya modal. Tapi apakah kebijakan ini sudah sejalan dengan mantra Purbaya? Apalagi sasus terakhir, pekerjaan sudah lebih dari 50 persen dan tagihan progres susah cair, entah oleh birokrasi atau karena memang kinerja pejabatnya kurang gercep dalam menyerap anggaran.

Meskipun begitu, mantra Purbaya ini harus juga menyentuh ke level tata kelola anggaran di daerah. Dengan memastikan penyerapan anggaran tepat waktu, tepat sasaran dan tepat guna. Pengelolaan keuangan daerah jelas menjadi backbone pertumbuhan ekonomi nasional. Ritual Purbaya dalam membongkar adanya penyimpanan anggaran di perbankan pasti sudah memicu kesadaran kepala daerah untuk menggunakan anggarannya sebagai pemantik mengayakan atau memakmurkan rakyat di daerah.

Saat ini harus disadari kenyataan kepala daerah dalam menggunakan anggaran masih belum memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi, efisiensi, efektivitas, keadilan, berkeadilan dan disiplin anggaran. Prinsip pengelolaan anggaran ini yang musti terus ditekan dilaksanakan Purbaya di tingkat daerah. Problem sumbatan birokrasi dalam penyerapan anggaran. Tumpukan aturan yang menyulitkan pelaku UMKM mendapat kemudahan dan netralitas aturan. Ini juga musti jadi perhatian Purbaya bersama jajarannya.

Mantra Purbaya baru akan terasa 6 bulan ke depan. Apalagi target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo 8%. Optimisme Purbaya mampu mencapai target itu di 2028. Meskipun bisa jadi lebih cepat dari prediksinya secara ekonomi berdasar survei dan sensus BPS. Target pertumbuhan juga akan nampak di akhir tahun 2025 apakah mantra-mantra Purbaya yang diiringi dengan ritual kebijakan moneter dan fiskal akan sesuai dengan roadmap yang sudah tersaji dalam kitab primbon begawan ekonomi dunia. Kita akan saksikan dan rasakan bersama dampaknya pada kantong dan isi rekening bank yang saat ini masih kembang kempis. Apakah mantra-mantra Purbaya untuk kaya bersama seluruh lapisan masyarakat Indonesia secara proporsional akan terbukti? Tetaplah bekerja, berkarya dan berharap. Harapan yang akan membawa kemajuan dan optimisme kehidupan lebih baik seperti mantra Purbaya.

(**)

Warga dan Pengusaha Apresiasi Camat Megamendung

0

jurnalinspirasi.co.id – Langkah Pemkab Bogor yang sedang mengembalikan kawasan Puncak, Cisarua dan Megamendung dari kerusakan dengan melakukan penanaman pohon di lahan-lahan kritis, dan di sepanjang aliran sungai Ciliwung juga Cisadane, mendapat respons positif dan dukungan dari kalangan pengusaha pariwisata.

Pemerintah Kecamatan Megamendung yang terus merespons terhadap instruksi dari Bupati Bogor Rudy Susmanto di setiap upaya kegiatan yang berbasis lingkungan tidak bertepuk sebelah tangan. Para pelaku usaha pariwisata mengatakan mereka akan mendukung terhadap program tersebut.

Sikap para pengusaha tersebut, merujuk kepada langkah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang sudah memberikan kebijakan dan berpihak kepada masyarakat para pekerja pariwisata yang kini bisa bernapas lega. Penindakan KLH dengan menyegel sejumlah tempat wisata, pada Selasa (4/11), segel-segel itu sudah bisa dicabut setelah sebelumnya dilakukan pencabutan sanksi administrasi kepada sejumlah pelaku KSO.

“Segel milik KLH sudah dicabut, ini merupakan komitmen KLH pada tanggal 28 Oktober lalu. Para pengusaha akan melaksanakan berbagai bentuk kegiatan untuk penyelamatan lingkungan berupa penanaman pohon. Keputusan KLH ini dengan sangat jelas menyelamatkan para pekerja pariwisata dari PHK massal.  Dengan demikian, para pekerja pariwisata yang tempatnya sempat ditindak KLH, kini mereka bernapas lega. Mereka bisa beraktivitas dengan tenang, ” tutur Jatnika, pengurus salah satu tempat wisata yang kini sudah dicabut segelnya.

Selain mereka akan melaksanakan program KLH dan instruksi dari Pemkab Bogor, para pengusaha juga cukup mengapresiasi terhadap langkah-langkah yang sudah dilaksanakan Pemerintah Kecamatan Megamendung hingga didapatkan keputusan KLH yang berpihak kepada nasib para pekerja juga pengusaha.

“Langkah Pemerintah Kecamatan Megamendung selama terjadi gonjang ganjing antara KLH dan pengusaha, juga nasib para pekerja itu sangat kami hargai. Camat Megamendung, Pak Ridwan  sudah melakukan tugasnya secara profesional, hingga mampu mengondusifkan wilayah dengan tidak melanggar norma-norma hukum hingga didapatkan suatu hasil yang berpihak kepada masyarakat, ” pungkas Jatnika.

(Dadang Supriatna)

Terinspirasi Hutan Organik, Rudy Susmanto Targetkan Setiap Kecamatan Punya Hutan Kota

0

jurnalinspirasi.co.id – Bupati Bogor, Rudy Susmanto berkomitmen memperluas ruang hijau melalui pembangunan hutan kota di seluruh kecamatan mulai tahun 2026. Program ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Rudy Susmanto ke Hutan Organik milik keluarga Hj. Rosita yang terletak di Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Rabu (5/11).

Hadir Wakil Bupati Bogor, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Kapolres Bogor, Dandim 0621 Kabupaten Bogor, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Danlanud ATS, Camat, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor. Di lokasi tersebut, Rudy bersama Wakil Bupati dan Forkopimda melakukan penanaman pohon.

Bupati Bogor menyampaikan bahwa langkah tersebut terinspirasi dari semangat keluarga Hj. Rosita yang secara mandiri membangun dan merawat hutan organik di atas lahan seluas 30 hektar selama dua dekade terakhir.

“Kami sangat bangga dan terinspirasi. Satu keluarga saja bisa mengubah lahan tandus menjadi hutan hijau produktif. Ini bukti bahwa menjaga alam tidak selalu butuh modal besar, tetapi ketulusan, komitmen, dan kerja keras,” ujar Rudy. (*)

Mulai Januari 2026 Uji KIR kendaraan Di Jabar Tak Lagi Lewat Dishub, Cukup Di Bengkel Resmi

0

jurnalinspirasi.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat merencakan mengubah peraturan uji kendaraan bermotor atau KIR yang selama ini dilakukan di unit Dinas Perhubungan (Dishub). Nantinya, pengujian berkala kendaraan ini cukup di bengkel resmi.

Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi pun segera menerbitkan beleid untuk mengatur hal tersebut. Dia mengatakan, Dinas Perhubungan Provinsi dan Kabupaten/Kota terlebih dahulu akan membuat nota kesepakatan dengan dealer dan bengkel resmi untuk menggelar uji KIR.

“Saya akan membuat peraturan untuk mengarahkan KIR itu enggak usah di KIR di Dishub, KIR-nya adalah di bengkel resmi,” katanya, dikutip lembur pakuan chanel Rabu (5/11).

Menurutnya, selama ini uji KIR terlalu administratif, dan penghapusan biaya KIR diharapkan menghilangkan peluang oknum petugas untuk menarik keuntungan dari praktik tersebut.

“Di KIR kemudian dan setujui. Apalagi sekarang loh dengan tidak boleh ada biaya di KIR, itu makin malas orang KIR. Penyelenggara pemerintahnya juga malas bikin KIR karena enggak ada lebihnya,”.

Kang Dedi menegaskan, bengkel resmi kendaraan nantinya akan menerbitkan surat keterangan. KIR baru bisa dilakukan setelah surat tersebut diterbitkan. Sebab, jika terus menggunakan sistem seperti saat ini, kebanyakan dalam praktinya hanya surat kendaraan yang diperiksa.

“Jadi misalnya mobil Toyota, mobil Hino, ya di bengkel Toyota dan Hino bukan Dinas Perhubungan, karena selama ini yang masuk bukan mobilnya tapi surat-suratnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Kanng Dedi mengatakan, jika kendaraan tersebut mengalami kecelakaan, maka yang wajib bertanggung jawab adalah bengkel resmi kendaraan tersebut. Pasalnya, uji KIR dilakukan dari bengkel resmi yang mengetahui kondisi dari kendaraan yang telah dikeluarkan.

“Sehingga nanti jika mobilnya mengalami kecelakaan maka yang bertanggung jawab adalah bengkel resmi dari perusahaan mobil tersebut,” kata KDM.

Kang Dedi menegaskan, aturan ini ditargetkan bisa terbit pada Januari 2026. Mengingat, saat ini masih dalam kajian dan pemantapan dari rencana tersebut. (ded)

Menikmati Glamping Nyaman di Kaki Gunung Salak: “Terrace Garden Hadirkan Liburan Bernuansa Alam yang Berkesan”

0

Jurnal Bogor – Di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas harian, kebutuhan untuk beristirahat dan menikmati suasana tenang semakin dicari. Salah satu destinasi yang kini mulai menjadi pilihan bagi warga Bogor dan luar daerah adalah Terrace Garden, sebuah penginapan berkonsep glamping yang berlokasi di Ciapus, Jalan Babakan, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Mengusung suasana alami dengan latar panorama Gunung Salak, Terrace Garden tidak hanya menghadirkan pengalaman menginap yang nyaman, namun juga menawarkan suasana menyatu dengan alam yang menenangkan.

“Di sini tamu bisa stay, hangout, sampai healing dalam satu tempat,” ujar Adelia, staf Terrace Garden.

Glamping Modern dengan Sentuhan Kenyamanan Rumah. Terdapat 8 kamar glamping yang terdiri dari tipe Deluxe dan Deluxe Connecting Room. Harga kamar dibanderol: Weekday: Rp 550.000, Weekend: Rp 650.000. Sementara untuk kamar connecting dengan kapasitas 4 orang, pengunjung juga bisa menambah extra bed seharga Rp 200.000 yang sudah termasuk sarapan.

Setiap kamar dilengkapi fasilitas modern, meliputi:
Smart TV, AC, Free WiFi, Peralatan mandi dan room essentials, Hair dryer, electric kettle, hingga slippers.

Kenyamanan yang ditawarkan ini membuat pengalaman glamping terasa lengkap dan tidak meninggalkan unsur kemewahan.

Cafe & Resto dengan Suasana Sejuk. Salah satu daya tarik Terrace Garden terdapat pada area café dan resto yang dikelilingi tanaman hidup, menghadirkan kesejukan dan kesan natural.

Menu andalan di antaranya: Ayam Andaliman, Gurame, Sop Iga, Hidangan Western, Nasi Liwet

Sementara minuman yang disajikan mulai dari kopi, lemon tea, hingga chipresso, dengan harga yang ramah di kantong. Makanan mulai Rp 35.000 – Rp 60.000, Snack Rp 25.000 – Rp 50.000, Minuman Rp 18.000 – Rp 35.000

Fasilitas lengkap untuk liburan dan acara.
Terrace Garden dilengkapi kolam renang anak dan dewasa dengan pemandangan terbuka, area karaoke, kids playground, serta games corner, menjadikan tempat ini cocok untuk keluarga.

Bagi pengunjung yang ingin mengadakan acara, Terrace Garden mampu menampung hingga 300 orang, untuk keperluan, Family gathering, Corporate meeting, Intimate celebration

“Untuk rombongan lebih dari 100 pax, kami menyediakan pilihan menu lokal hingga internasional,” jelas Adelia.

Disukai Pengunjung dari Berbagai Daerah
Menariknya, pengunjung Terrace Garden tidak hanya dari Bogor, tetapi juga dari luar daerah, bahkan hingga Palembang. Hal ini tidak terlepas dari suasana tenang, udara segar, dan konsep glamping modern yang menyatu dengan pemandangan alam.

Terletak di kaki Gunung Salak, Terrace Garden menjadi ruang jeda dari hiruk-pikuk kota, menawarkan momen istirahat yang bukan sekadar melepas lelah, tetapi juga memulihkan kembali energi jiwa. Yudi

Miris, Ratusan ASN Pemkot Belum Terima Gaji

0

jurnalinspirasi.co.id – Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) diari empat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor belum terima gaji. Hal itu dibenarkan oleh Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Evandhy Dhani.

Menurut dia, hal itu terjadi lantaran Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) crash, sehingga informasi soal penganggaran tak bisa dimasukan.

“SIPD crash tak hanya di Kota Bogor. Tetapi terjadi di seluruh Indonesia sejak Senin (3/11/2025),” ujar pria yang akrab disapa Evan itu, saat dihubungi wartawan, Rabu (5/11/2025).

Akibat SIPD crash, kata Evan, penggajian terhadap ribuan ASN Pemkot Bogor dilakukan secara manual sejak Senin (3/11/2025).

“Dimanualkan. Tapi perlu waktu lebih dari biasa memang. Tadi pagi sisanya tinggal empat SKPD yang sedang proses, dari total keseluruhan 35,” ungkapnya.

Diketahui, SIPD adalah sistem untuk mengintegerasikan proses pengelolaan pemerintah daerah mulai dari perencanaan penganggaran, pelaksanaan hingga pelaporan. Sistem itu bertujuan guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan daerah melalui sistem elektronik terpadu.

** Fredy Kristianto

50 Juta Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis

0


jurnalinspirasi.co.id – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat capaian bersejarah dengan lebih dari 50,5 juta peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan di seluruh Indonesia.

Partisipasi besar pada Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo ini sekaligus mengungkap gambaran kesehatan masyarakat, yakni tingginya proporsi warga dewasa yang kurang aktivitas fisik mencapai 95,8 persen, serta temuan signifikan pada kesehatan gigi, obesitas, dan tekanan darah.

Program CKG yang berlangsung sejak 10 Februari hingga 4 November 2025 mencatat partisipasi publik yang luar biasa. Dari 53,6 juta pendaftar, sebanyak 50,5 juta orang telah mengikuti pemeriksaan Kesehatan.

Kegiatan CKG umum mencatat 34,3 juta kehadiran peserta, sementara CKG sekolah diikuti oleh 16,2 juta peserta yang hadir.

Meski capaian tersebut membanggakan, data CKG menunjukkan tantangan besar di bidang kesehatan masyarakat. Berdasarkan data akhir Oktober 2025, pada kelompok dewasa, hampir seluruh peserta masuk kategori kurang aktivitas fisik (96%), disusul karies gigi (41,9%), obesitas sentral (32,9%), overweight dan obesitas (24,4%).

Temuan ini mengonfirmasi bahwa penyakit tidak menular masih menjadi ancaman utama bagi kelompok produktif.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, keberhasilan partisipasi masyarakat menunjukkan meningkatnya kesadaran publik, sekaligus membuka ruang besar untuk memperkuat program promotif dan preventif.

“Pencapaian lebih dari 50,5 juta peserta merupakan tonggak penting bagi upaya kesehatan nasional. Namun data CKG juga memberi peringatan serius bahwa aktivitas fisik dan pola hidup sehat harus semakin menjadi prioritas bersama,” ujar Menkes Budi di Jakarta, Selasa (5/11).

Menkes menegaskan bahwa CKG bukan sekadar pemeriksaan massal, tetapi merupakan instrumen strategis untuk deteksi dini dan tatalaksana dini untuk penyakit. Semakin dini penyakit ditangani dan diobati maka peluang sembuh menjadi lebih baik sehingga seseorang akan terhindar dari penyakit katastropik dan kecacatan bahkan kematian.

“Program ini bukan hanya soal jumlah peserta, tapi bagaimana hasilnya kita gunakan untuk memperkuat kebijakan, layanan kesehatan, dan intervensi di masyarakat,” tambah Budi.    

Temuan serupa juga terlihat  pada kelompok usia lain. Pada bayi baru lahir, ditemukan risiko kelainan saluran empedu (18,6%), berat badan lahir rendah (6,1%), dan penyakit jantung bawaan kritis (5,5%).

Pada balita dan anak prasekolah, masalah gigi tidak sehat (31,5%), stunting (5,3%), dan wasting (3,8%) masih mendominasi. Sementara di kalangan remaja dan pelajar, ditemukan aktivitas fisik kurang (60,1%), karies gigi (50,3%), dan anemia (27,2%) menunjukkan pola hidup tidak aktif sudah terbentuk sejak usia muda.

Pada kelompok lansia pun tak luput dari perhatian. Sebanyak 96,7% tercatat kurang aktivitas fisik dan 37,7% mengalami hipertensi

Budi menambahkan, hasil CKG akan digunakan untuk memperkuat kebijakan kesehatan dan promosi gaya hidup sehat di masa mendatang.

“Kita ingin masyarakat bukan hanya sembuh dari penyakit, tapi mampu menjaga kesehatannya secara berkelanjutan,” ujar Menkes Budi.

Menurut Menkes, keberhasilan pelaksanaan CKG tidak lepas dari kolaborasi tenaga medis, tenaga kesehatan, serta dukungan puskesmas dan pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

“Kami mengapresiasi kerja keras dan dedikasi seluruh petugas kesehatan yang terlibat serta  pemerintah daerah. Tanpa mereka, mustahil program sebesar ini bisa berjalan sukses dan berdampak luas,” ujarnya. ded

Cara Aman konsumsi Air Mineral untuk Minum

0

jurnalinspirasi.co.id – beberapa lama ini Video Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang lebih dikenal KDM (kang Dedi Mulyadi), melakukan sidak ke perusahaan air minum menjadi viral di jejaring media sosial. Dalam video tersebut, terlihat percakapan antara KDM dan pihak perusahaan air minum tersebut, mengenai pengambilan sumber air berasal dari sumur bor.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai asal dan kualitas air mineral yang dikonsumsi setiap hari. Banyak masyarakat kini lebih berhati-hati dalam memilih air minum kemasan.

Air mineral selama ini dikenal sebagai sumber cairan penting bagi kesehatan tubuh manusia. Namun, tidak semua produk air mineral memiliki standar kualitas yang sama.

Para ahli menilai penting bagi masyarakat memahami asal sumber air sebelum dikonsumsi. Air yang baik seharusnya mengandung mineral alami pegunungan dan bebas dari kontaminan.

Pakar Hidrologi BRIN, Rachmat Fajar Lubis mengatakan, air pegunungan biasanya memiliki kualitas yang lebih stabil.“Air mineral yang ideal berasal dari sumber terlindung dan kadar mineralnya seimbang,” kata Rachmat.

Menurutnya, sumber air tanah bisa berasal dari mata air alami atau sumur bor. Meski kualitasnya mirip, air permukaan lebih rentan terhadap paparan bakteri dan polutan.

Ia mengatakan, masyarakat tetap bisa menggunakan air tanah sebagai air minum dengan pengolahan yang benar. Air perlu disaring terlebih dahulu lalu direbus hingga mendidih untuk membunuh bakteri.

“Jangan langsung mengonsumsi air tanah tanpa pengolahan. Proses sederhana seperti penyaringan dan perebusan sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, air tanah dan air mineral adalah sumber daya terbarukan namun terbatas. Tekanan terhadap sumber air meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat bijak dalam mengelola konsumsi air. “Karena air tidak hanya untuk kita saja tapi juga untuk anak cucu kita nantinya,” ujar Rachmat.

Kasus ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan air minum. Pemerintah daerah diminta memastikan kualitas air yang beredar aman dan sesuai standar kesehatan.

Dengan meningkatnya kesadaran publik, diharapkan masyarakat lebih kritis terhadap produk air minum. Transparansi sumber air menjadi langkah penting demi menjaga kesehatan bersama. DR

Kabupaten Bogor Raih Predikat “Sangat Baik” Penilaian Kualitas Data Ekosistem Data Jabar

0

jurnalinspirasi.co.id – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Bogor berhasil meraih predikat “Sangat Baik” dalam penilaian kualitas data yang dilakukan melalui Ekosistem Data Jabar. 

Penilaian ini bertujuan memastikan bahwa data yang dikumpulkan, disimpan, dan digunakan dalam sistem informasi maupun aplikasi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota adalah valid, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penilaian kualitas data merujuk pada prinsip Satu Data Indonesia (SDI) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2019, yang menekankan pentingnya data berkualitas, mudah diakses, dan dapat dibagi pakai antar instansi pusat dan daerah. SDI juga menekankan standar data yang meliputi konsep, definisi, klasifikasi, ukuran, dan satuan data.

Kepala Bidang Persandian Dan Statistik Iskandar Zulkarnain menjelaskan bahwa, manajemen kualitas data merupakan bagian penting dari tata kelola data. Penilaian dilakukan berdasarkan lima dimensi kualitas data, yakni Conformity & Metadata, Uniqueness, Consistency, Timeliness, dan Completeness.

Menurutnya, setiap dimensi memiliki bobot penilaian yang berbeda, dengan Conformity & Metadata dan Consistency masing-masing 30% dan 25%, serta Timeliness dan Completeness 10% masing-masing.

Berdasarkan hasil penilaian dataset perangkat daerah Kabupaten Bogor per 18 Juni 2025, diperoleh skor total 95,47 dengan rincian, Conformity & Metadata 100 %, Uniqueness 100 %, Consistency 100 %, Completeness 100 % dan Timeliness 54,65 %.

Beberapa rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan kualitas data meliputi, Timeliness: Pastikan dataset terbaru tersedia dalam lima tahun terakhir dan berikan keterangan pada data yang sudah tidak diproduksi.

Conformity & Metadata: Lengkapi deskripsi kolom, kesesuaian kode wilayah, nilai pengukuran, tingkat penyajian, dan cakupan dataset. Uniqueness Hapus data duplikat. Consistency Perbaiki kesesuaian penulisan satuan, kode dan nama wilayah, serta pengurutan dataset dari tahun terlama ke terbaru. Serta Completeness, Pastikan tidak ada cell data kosong dan semua atribut terisi sesuai judul kolom.

“Dengan pencapaian ini, kami tentunya akan terus mengoptimalkan tata kelola data untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat, layanan publik yang lebih baik, serta perencanaan pembangunan berbasis data (data-driven decision making),” katanya.

Katanya Penilaian kualitas data ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan Provinsi Jawa Barat sebagai Provinsi Digital, di mana Core Data, Satu Data, Open Data, Satu Peta, dan Dashboard Jabar memfasilitasi pengelolaan data yang terstandar dan dapat diakses oleh masyarakat serta pemerintah.

Hari Kesehatan Nasional ke-61, RSUD R. Moh Noh Nur Ajak Warga Mengenal Hipertensi dan Stroke

0

jurnalinspirasi.co.id – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, RSUD R. Moh Noh Nur menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertema “Mengenal Hipertensi & Stroke” di area rawat jalan, depan Poliklinik Saraf, Selasa (4/11/25).

Acara yang menghadirkan dr. Abraham Daryl Rustandar, Sp.N, dokter spesialis saraf RSUD R. Moh Noh Nur, ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya hipertensi dan stroke, sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan pembuluh darah dan gaya hidup sehari-hari.

Dalam paparannya, dr. Abraham menekankan pentingnya menjaga tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol tetap normal agar terhindar dari risiko stroke.

“Stroke bisa dicegah dengan pemeriksaan rutin dan pola hidup sehat. Hindari makanan tinggi garam dan lemak, berhenti merokok, serta rajin berolahraga,” jelasnya.

Suasana edukasi semakin menarik saat sesi tanya jawab dibuka. Salah satu peserta, Pak Muhammad, dengan antusias mengajukan tiga pertanyaan sekaligus kepada narasumber. Ia bertanya :

“Kenapa sekarang usia 30-an sudah banyak yang terkena stroke, Dok? Mengapa laki-laki lebih sering mengalami stroke dibandingkan perempuan? Dan bagaimana kiat-kiat agar kita bisa mendeteksi penyakit stroke secara dini sebelum terlambat?”

Menjawab pertanyaan tersebut, dr. Abraham menjelaskan, “Itu bisa terjadi karena penyakit seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol, kegemukan, atau penyakit jantung. Dulu biasanya muncul di usia 45 tahun ke atas, tapi sekarang usia 30 pun bisa kena karena gaya hidup tidak sehat sejak muda,” terangnya.

Ia memberi perumpamaan sederhana agar mudah dipahami, “Tubuh kita itu seperti kendaraan. Kalau dari muda sudah sering dipaksa tanpa perawatan, cepat aus juga selang-selangnya,” ujarnya disambut tawa ringan peserta.

Masih dalam kesempatan yang sama, dr. Abraham menambahkan bahwa laki-laki memang memiliki risiko stroke lebih tinggi.

“Faktor gaya hidup seperti merokok, stres, kurang tidur, kurang olahraga, dan pola makan yang buruk lebih sering terjadi pada laki-laki. Itu yang membuat angkanya lebih banyak,” katanya.

Sementara untuk mendeteksi stroke sejak dini, dr. Abraham mengingatkan pentingnya memperhatikan gejala awal.

“Kalau sering pusing, mulut mencong, bicara pelo, atau salah satu sisi tubuh terasa lemah, jangan ditunda. Segera ke rumah sakit untuk diperiksa,” imbaunya.

Kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HKN ke-61 dengan tema nasional “Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju.”

RSUD R. Moh Noh Nur terus berkomitmen memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat agar semakin sadar pentingnya pencegahan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan stroke.

(yev/rls)