27.4 C
Bogor
Thursday, October 1, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 106

Gen Z Tamansari Diajak Peduli Kesehatan Mental Lewat Diskusi Tematik

0

Tamansari | Jurnal Bogor – Karang Taruna Kecamatan Tamansari menggelar diskusi tematik mengenai kesehatan mental bersama generasi muda (Gen Z), Sabtu (7/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di wilayah Kecamatan Tamansari tersebut mengangkat tema “Jika Diammu adalah Cara Mu Menjaga Kesucian, Aku Ridho Menjadi Asing”. Tema ini diangkat sebagai bentuk keprihatinan atas fenomena yang banyak terjadi di kalangan anak muda saat ini, yakni kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial ketika menghadapi berbagai persoalan.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Tamansari, Dadeng Heri, menyampaikan bahwa tidak sedikit generasi muda yang memilih berdiam diri dan menjauh dari keramaian saat menghadapi masalah, sehingga perlahan merasa asing dari kehidupan sosial di sekitarnya.

“Tema ini kami angkat karena melihat fenomena anak muda sekarang, ketika dihadapkan dengan sekelumit permasalahan, mereka cenderung menarik diri dari keramaian dan berdiam diri, seolah-olah menjadi asing dari kehidupan yang ramai.

Namun, apakah benar penarikan diri atau pengasingan diri dari lingkungan akan menghadirkan ridho dari Sang Pencipta, atau justru sebaliknya, berdiam diri dan mengasingkan diri malah menambah permasalahan,” ujar Dadeng Heri.

Melalui diskusi tematik ini, Karang Taruna Kecamatan Tamansari berharap generasi muda dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan mental, membangun keberanian untuk berbagi cerita, serta tidak ragu mencari bantuan dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain sebagai ruang dialog, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi Gen Z agar mampu menyikapi tekanan hidup secara lebih sehat, positif, dan konstruktif. Karang Taruna Tamansari berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang mendorong tumbuhnya generasi muda yang tangguh secara mental dan sosial. Yudi

Bhayangkari Ranting Ciomas Gelar Pertemuan Rutin, Pembina Tekankan Hidup Sederhana

0

Ciomas | Jurnal Bogor – Bhayangkari Ranting Ciomas menggelar pertemuan rutin pada Sabtu (7/2/2026) bertempat di Aula Polsek Ciomas, Kabupaten Bogor.

Kegiatan tersebut dihadiri Kapolsek Ciomas AKP Hendra Kurnia selaku Pembina Bhayangkari Ranting Ciomas, Ketua Bhayangkari Ranting Ciomas Uum Hendra, para pengurus Bhayangkari, serta seluruh anggota Bhayangkari Ranting Ciomas.

Dalam kesempatan tersebut, AKP Hendra Kurnia menitipkan pesan kepada seluruh Bhayangkari agar senantiasa mendukung karier dan memberikan semangat kepada suami dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.

Selain itu, Pembina Bhayangkari juga mengingatkan agar seluruh anggota menerapkan pola hidup sederhana dan tidak bergaya hedon. Para Bhayangkari juga diminta untuk bijak dalam bermedia sosial serta terus menjaga dan mempererat tali silaturahmi antar sesama Bhayangkari.

Pertemuan rutin ini diharapkan dapat memperkuat kebersamaan, soliditas, serta peran Bhayangkari dalam mendukung tugas-tugas kepolisian, khususnya di wilayah hukum Polsek Ciomas. Yudi

Menjaga Mimpi dari Keresahan, Geosentra Tamansari Membumikan Kembali Seni Tradisional Sunda

0

Tamansari | Jurnal Bogor

Di sebuah sudut sejuk kawasan Tamansari, Kabupaten Bogor, sekelompok seniman tradisi memilih untuk tidak menyerah pada zaman. Dari kegelisahan akan semakin pudarnya seni karuhun, lahirlah sebuah mimpi sederhana namun bermakna besar. Mereka menamainya Ngimpi Guligah mimpi yang lahir dari keresahan.

Kini, mimpi itu tumbuh menjadi Geosentra (Geologi Seni Tradisional).

Geosentra resmi berdiri pada Desember 2022. Komunitas ini menjadi ruang berkumpul para pelaku seni musik tradisional Sunda di Kecamatan Tamansari yang memiliki satu kegelisahan yang sama, yakni bagaimana menjaga warisan leluhur agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

“Ngimpi artinya mimpi, guligah artinya resah. Ini memang mimpi yang muncul dari kegelisahan kami sebagai seniman tradisi,” tutur Dadeng Heri S Ketua Geosentra, saat ditemui di Galeri Karang Taruna Kecamatan Tamansari, Sabtu (7/2/2026).

Seiring perjalanannya, komunitas ini kemudian bermitra dengan Geopark Bogor Halimun Salak. Dari sinilah nama Ngimpi Guligah berubah menjadi Geosentra. Kata geo dimaknai sebagai bumi, sementara sentra berarti pusat seni tradisional.

Maknanya sederhana, namun dalam: membumikan kembali seni tradisional Sunda, agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Di bawah naungan Karang Taruna Kecamatan Tamansari, Geosentra perlahan membangun perannya sebagai ruang edukasi, ekspresi, sekaligus perjumpaan lintas generasi. Salah satu kegiatan utamanya adalah edukasi alat seni tradisional Sunda, mulai dari celempung, karinding, bangkong reang, hingga kacapi suling.

Anak-anak, pelajar, hingga pengunjung yang datang ke kawasan geopark diajak mengenal langsung bunyi-bunyi alam yang lahir dari bambu, kawat, dan kayu alat musik sederhana yang menyimpan filosofi panjang tentang kehidupan orang Sunda.

Tak hanya belajar, pengunjung juga disuguhi penampilan seni tradisional, khususnya kacapi dan celempung, yang kerap mengalun dalam berbagai kegiatan komunitas.

Saat ini, Geosentra diperkuat oleh delapan pelaku seni. Tiga orang memainkan celempung, satu pemain kacapi, dua pemain karinding, satu pemain bangkong reang, serta seorang sinden yang menghidupkan suasana lewat tembang Sunda.

Di balik jumlah yang tidak besar itu, semangat yang dibawa justru terasa kuat.

Geosentra juga membuka ruang diskusi dan ekspresi seni di Galeri Karang Taruna Kecamatan Tamansari. Tempat ini menjadi ruang aman bagi para seniman muda untuk bertanya, berlatih, dan mengekspresikan kegelisahan mereka melalui seni tradisi.

Kehadiran Geosentra bahkan menarik perhatian dunia akademik. Sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila, serta beberapa kampus lainnya, menjadikan komunitas ini sebagai objek penelitian.

Di sisi lain, Geosentra juga menjalin kemitraan dengan Desa Wisata Sukajadi, memperkuat posisi seni tradisional sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Aktivitas Geosentra saat ini terpusat di Geopark Information Center, Hotel Highland, kawasan Tamansari. Dari tempat inilah, bunyi celempung, petikan kacapi, dan getar karinding kembali diperdengarkan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai denyut kehidupan seni tradisi yang terus bergerak.

Bagi Dadeng dan kawan-kawan, Geosentra bukan sekadar komunitas. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Sebuah mimpi yang lahir dari keresahan, namun terus dijaga agar tetap bernapas di bumi Sunda. Yudi

ITB Dewantara Gelar Wisuda ke-19, Luluskan 148 Wisudawan dan 13 Entrepreneur Baru

0

Bogor | Jurnal Bogor
Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Dewantara kembali menggelar Wisuda ke-19 yang berlangsung khidmat di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Pada wisuda tahun ini, ITB Dewantara secara resmi meluluskan Sarjana angkatan ke-34 sebanyak 148 wisudawan dari tiga jurusan yaitu Akuntansi, Manajemen Bisnis, dan Manajemen Pemerintahan.
Prosesi wisuda dihadiri oleh Ketua Yayasan Dewantara Yoga Dewantara, S.Ikom, Pembina Yayasan Dewantara Ir. H. M. Sidik Permana, Rektor ITB Dewantara Dr. Yasnimar Ilyas, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Dr. Lukman, S.T., M.Hum, para orang tua wisudawan, serta tamu undangan lainnya.

Dalam wisuda tersebut, ITB Dewantara memberikan apresiasi kepada 11 wisudawan berpredikat cum laude dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,85. Bahkan, salah satu wisudawan berhasil meraih IPK sempurna 4,00. Selain capaian akademik, ITB Dewantara juga mencatatkan prestasi dengan melahirkan 13 entrepreneur baru dari lulusan tahun ini.

Rektor ITB Dewantara, Dr. Yasnimar Ilyas, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar para lulusan berprestasi dan wirausahawan muda tersebut mampu menjadi motor penggerak perubahan ekonomi, khususnya di Kabupaten Bogor.

“Semoga para wisudawan cum laude dan 13 lulusan yang telah menjadi entrepreneur ini dapat menjadi bibit perubahan ekonomi di Kabupaten Bogor,” ujarnya.

Rektor juga menambahkan bahwa saat ini ITB Dewantara telah dipercaya oleh Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai salah satu perguruan tinggi yang bekerja sama dalam program Satu Desa Satu Sarjana.

“Targetnya nanti minimal satu desa dapat melahirkan satu sarjana. Kabupaten Bogor memiliki 416 desa yang tersebar di 40 kecamatan, dan ITB Dewantara siap berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia unggul untuk mendukung program tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, berpesan kepada seluruh wisudawan agar senantiasa menjaga nama baik almamater serta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Ia juga mengapresiasi langkah transformasi ITB Dewantara yang kini telah membuka dua program studi baru, yakni Bisnis Digital dan Sistem Teknologi Informasi.

Semoga ke depan ITB Dewantara semakin banyak meluluskan wisudawan dengan kompetensi dan ilmu terapan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari perwakilan orang tua wisudawan. Hendrawan, salah satu orang tua wisudawan, mengungkapkan rasa puas dan bangganya setelah anaknya menempuh pendidikan di ITB Dewantara.

“Saya sangat puas anak saya kuliah di ITB Dewantara. Sekarang cara berpikirnya sudah mandiri dan dewasa. Sejak kuliah di sini, anak saya menjadi lebih bertanggung jawab. Alhamdulillah, bahkan sebelum diwisuda, anak saya sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan di Kabupaten Bogor,” tuturnya.

ITB Dewantara dikenal sebagai perguruan tinggi yang menerapkan sistem perkuliahan fleksibel untuk menjangkau berbagai latar belakang mahasiswa. Mulai dari kelas reguler pagi (Senin–Kamis), kelas karyawan sore (Senin–Kamis), hingga kelas akhir pekan (Jumat dan Sabtu) bagi mahasiswa yang memiliki kesibukan kerja tinggi.

Salah satu wisudawan, Asni Khairunissa, turut membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan di ITB Dewantara.
“Kuliah di Dewantara waktunya fleksibel dan dosennya komunikatif semua,” ujarnya.

Dengan capaian akademik, lahirnya entrepreneur muda, serta kepercayaan pemerintah daerah dalam program pembangunan sumber daya manusia, ITB Dewantara terus menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen mencetak lulusan unggul, adaptif, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional.

(Wawan Hermawanto)

Maling Embat Tas Pedagang Buah Terekam CCTV

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor
Dua orang maling terekam kamera CCTV di kios pedagang buah di Jalan Ace Tabrani di lokasi yang berdekatan dengan KUM di Desa Kalong 1, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Sabtu (7/2/2026) dini hari.

Tayangan video yang berdurasi 70 detik itu, terlihat kedua pelaku yang berboncengan dengan menggunakan kendaraan bermotor warna hitam.

Gerak gerik satu orang maling yang memakai masker dilepas di leher itu turun dari motor hingga menghapiri dengan berpura-pura sebagai pembeli di kios buah itu.

Kejadian itu dini hari, para pedagang dikios buah itu dalam keadaan tertidur.

Dengan santainya hingga aksi maling itu menggasak dan membawa kabur tas milik pedagang buah.

Pemilik kios buah Ameng menjelaskan, kedua maling itu beraksi Sabtu sekitar pukul 4: 300 dini hari, saat pekerja atau pedagang di kios itu tengah tertidur karena keadaan sudah pagi mendekati adzan subuh.

Kedua maling itu, mengambil tas yang berisikan identitas penduduk dan uang milik pekerja.

“Isi tas yang dibawa kabur maling itu, KTP berikut uang milik pekerja di kios buah itu,” terangnya.

** Arip Ekon

Jelang Porprov, 596 Atlet Kota Bogor Dites Fisik

0

Bogor | Jurnal Bogor

KONI Kota Bogor terus melakukan berbagai persiapan untuk mencapai target 100 medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat (Jabar) pada November mendatang.

Salah satunya dengan melaksanakan tes fisik bagi 596 atlet yang akan dibagi dalam empat sesi. Dimulai pada 7 sampai 8 Februari di Aula KONI, kemudian 16-17 Februari di Indoor A.

Wakil Ketua I KONI Kota Bogor, Yudi Wahyudi mengatakan bahwa tes fisik akan dilaksanakan dengan spesifik sesuai karakteristik cabang olahraga (cabor).

“Tes fisik ada yang dilakukan dengan delapan item, lima, tiga, dan empat. Sesuai komponen kenutuhan kondisi fisik dan karakteristik cabor,” ujar Yudi kepada wartawan, Sabtu (7/2).

Yudi menjelaskan, pada tes fisik sesi pertama pada 7 Februari diikuti oleh 15 cabor terukur. Kemudian di sesi kedua 8 Februari bakal diikuti 15 cabor beladiri.

“Untuk sesi tiga 16 Februari ada 14 cabor kombinasi terukur dan pemainan. Sedangkan di tanggal 17 Februari akan ada 12 cabir beregu,” jelasnya.

Menurut dia, apabila hasil tes fisik baik, maka atlet akan berangkat. Namun, bila penilaian cukup bakal menjadi pertimbangan untuk diberangkatkan.

“Kalau nilai tesnya kurang, otomatis bakal terdgradasi. Jadi dari total atlet tersebut, takkan semua bisa diturunkan dalam Porprov,” kata Yudi.

Lebih lanjut, kata dia, berdasarkan data awal Porprov sebelumnya ada 1.301 , setelah dites fisik yang bisa berangkat hanya 447 atlet.

“Pada Porprov kali ini, data awal atlet 1.336, berkuramg menjadi 1.074, berkurang lagi jadi 831, dan saat ini sementara di 596 atlet,” katanya.

Yudi menambahkan, dalam tes fisik tak hanya atlet yang nilainya kurang yang terdegradasi. Tetapi juga mereka yang potensial, ada kemungkinan terdegradasi.

** Fredy Kristianto

JM Ngamuk Ada Meteran Listrik di Zona Zero PKL

0

Bogor | Jurnal Bogor

Keberadaan meteran listrik prabayar di kawasan terlarang Pedagang Kaki Lima (PKL) membuat Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin (JM) ngamuk.

“Ini simbol pembiaran sekaligus pengakuan terselebung terhadap aktivitas PKL yang berjualan di trotoar dan bahu jalan,” ucap Jenal dengan nada kesal

Temuan itu didapati Jenal Mutaqin saat turun langsung dalam aksi bersih-bersih bersama jajaran Forkopimda Kota Bogor di Jalan Mayor Oking, tepat di depan Stasiun Bogor, Jumat (6/2). Di lokasi tersebut, ia menemukan sejumlah meteran listrik prabayar terpasang di tiang listrik yang berada di zona merah PKL.

Kondisi tersebut membuat orang nomor dua di Kota Bogor itu geram. Pasalnya, pemasangan instalasi listrik tersebut diduga melibatkan fasilitas resmi dari PLN, padahal area tersebut merupakan ruang publik yang secara aturan dilarang untuk aktivitas perdagangan.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya @jenalmutaqin_17, Jenal Mutaqin langsung menghubungi pihak PLN dari lokasi kejadian. Ia meminta klarifikasi terkait dasar hukum serta mekanisme pemasangan sambungan listrik di kawasan terlarang tersebut.

“Ini ada meteran listrik (token) terpasang di tiang listrik. Mekanismenya bagaimana? Kok bisa dikeluarkan izinnya?” ujar Jenal Mutaqin dengan nada tegas saat berbicara melalui sambungan telepon, Jumat (6/2).

Pihak PLN secara singkat berkilah bahwa pemasangan listrik dilakukan berdasarkan permohonan yang masuk ke dalam sistem mereka. Namun, jawaban tersebut dinilai tidak menjawab substansi persoalan.

Jenal Mutaqin menegaskan, PLN tidak boleh hanya berpatokan pada proses administratif semata, melainkan wajib melakukan verifikasi lapangan serta menyinkronkan kebijakan dengan aturan tata ruang dan ketertiban umum Pemerintah Kota Bogor.

Menurutnya, keberadaan meteran listrik justru memperkuat anggapan PKL seolah-olah memiliki izin resmi untuk berjualan di lokasi yang seharusnya steril dari aktivitas ekonomi informal.

Jenal secara tegas meminta PLN segera melakukan evaluasi menyeluruh dan mencabut seluruh instalasi listrik yang memfasilitasi lapak-lapak PKL ilegal di sejumlah titik strategis Kota Bogor.

“Ini kan tempat jualan PKL, kenapa bisa keluar izinnya? Harus segera dievaluasi. Saya minta segera dicopot di beberapa titik, mulai dari Alun-alun, Jalan Dewi Sartika, hingga Jalan Mayor Oking depan Stasiun Bogor,” tegasnya.

** Fredy Kristianto

Relawan Pengatur Lalu Lintas Luka Berat Terserempet Kereta

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pria lansia bernama Ating (60), yang sehari-hari mengatur lalu lintas di perlintasan sebidang commuter line di Kebon Pedes, terserempet kereta pada Jumat (6/2) sekitar pukul 16.27 WIB.

Akibatnya, Ating mengalami luka berat pada bagian kepala sebelah kiri. Beruntung, korban masih dalam keadaan hidup.

Kapolsek Tanah Sareal, Kompol Doddy Rosjadi, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kecelakaan bermula saat korban berada di sekitar rel dan diduga kurang waspada ketika kereta melintas.

Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi di jalur rel Bogor–Jakarta, tepatnya di KM 51/200, Jalan Dadali, Kelurahan Tanah Sareal. Saat kejadian, kereta melaju dari arah Bogor menuju Jakarta, sementara korban berada di area lintasan.

“Peristiwa bermula saat korban sedang berada di area lintasan. Diduga kurang waspada saat kereta melintas dari arah Bogor menuju Jakarta, korban terserempet hingga terpental,” ucap Kompol Doddy saat dikonfirmasi.

Saat ini, kata dia, korban tengah menjalani perawatan intensif di RS PMI Bogor. Kapolsek menyebut bahwa Ating merupakan warga Jembatan 2 Cilebut, Kabupaten Bogor. Saat kejadian, korban diketahui mengenakan atribut khas relawan pengatur lalu lintas yang biasa membantu pengguna jalan melintasi perlintasan tersebut.

“Saat kejadian, korban mengenakan atribut khas relawan pengatur lalu lintas,” katanya.

** Fredy Kristianto

Salah Prediksi SILPA, Pemkot Refocusing Rp92 M

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor salah memprediksi Sisa Lebih Penghitungan Anggaran (Silpa) tahun 2025. Akibatnya, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) terpaksa melakukan refocusing anggaran sebesar Rp92 miliar pada tahun anggaran 2026 ini.

Diketahui, pada 2025 Pemkot Bogor memprediksi akan terjadi SILPA sebesar Rp122 miliar. Namun, setelah dilakukan penghitungan ulang SILPA hanya sebesar Rp30 miliar. Sehingga, refocusing terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan cashflow.

Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi mengatakan bahwa pihaknya bukan melakukan refocusing melainkan pergeseran anggaran kegiatan non prioritas di akhir tahun.

“Kegiatan non prioritas digeser ke akhir tahun. Langkah ini diambil agar cashflow kita balance,” ujar Denny kepada wartawan, Jumat (6/2).

Denny memastikan, kendati dilakukan pergeseran anggaran, tetapi untuk program janji kampanye wali kota tetap akan dijalankan atau diprioritaskan.

“Itu hanya untuk kegiatan non prioritas, kalau program strategis tidak akan diganggu sama sekali,” tegas mantan Ketua Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kota Bogor itu.

Lebih lanjut, kata Denny, kegiatan non prioritas akan dilaksanakan di akhir tahun bila memungkinkan atau dengan menggunakan APBD Perubahan 2026.

Ketika disinggung apakah langkah tersebut diambil lantaran Pemkot Bogor tak mau seperti Pemkab Bogor yang gagal membayar proyek tahun anggaran 2025. Denny mengatakan bahwa kebijakan pemerintah murni untuk mengamankan cashflow.

“Nggak, nggak seperti itu. Intinya agar cashflow kita balance saja,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Tugu Kujang Direkomendasikan Jadi Cagar Budaya

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor telah melakukan evaluasi, kajian, dan penelitian terkait status administratif Tugu Kujang.

Penelitian tersebut dilaksanakan selama lebih dari satu tahun dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Di samping itu, Disparbud Kota Bogor bersama TACB juga telah melakukan konsultasi dengan Kementerian Kebudayaan RI terkait mekanisme pengajuan status Cagar Budaya terhadap objek yang belum berusia 50 tahun, seperti Tugu Kujang.

Ketua TACB Kota Bogor, Taufik Hassunna, mengatakan bahwa Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menyampaikan TACB Kota Bogor tidak dapat merekomendasikan Tugu Kujang sebagai Cagar Budaya karena usianya belum melewati 50 tahun.

“Namun, Kemenbud menyampaikan bahwa jika TACB tetap ingin mengajukan Tugu Kujang sebagai Cagar Budaya dengan nilai khusus, maka pengajuan tersebut harus melalui TACB Provinsi Jawa Barat,” ujarnya, Kamis (5/2) saat ditemui dalam pembukaan pameran keris dan kujang yang dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon.

Selanjutnya, Disparbud Kota Bogor bersama TACB Kota Bogor mengajukan sebagaimana yang telah disarankan oleh Kemenbud RI untuk dievaluasi, dikaji, dan diteliti oleh TACB dan Disparbud Provinsi Jawa Barat.

Taufik mengatakan bahwa seluruh pihak, baik masyarakat maupun Pemkot Bogor, Disparbud, TACB, bersama warga, juga menginginkan Tugu Kujang masuk dalam daftar Cagar Budaya.

Namun, lanjut Taufik, dalam merekomendasikan hal tersebut terdapat kriteria yang telah ditetapkan oleh undang-undang yang harus dipenuhi untuk selanjutnya dapat ditetapkan dan memperoleh nomor registrasi di tingkat nasional.

“Karena bagaimanapun juga kita tidak bisa memungkiri bahwa Tugu Kujang telah menjadi ikon Kota Bogor,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi substantif TACB Jawa Barat dalam surat kepada Disparbud Kota Bogor tertanggal 6 Januari 2026, dinyatakan bahwa:

  • Secara usia, Tugu Kujang baru berusia 43 tahun dan belum memenuhi ketentuan Undang-Undang Cagar Budaya, yaitu minimal 50 tahun.
  • Tugu Kujang belum dapat dibuktikan mewakili gaya masa tertentu yang telah berlangsung sekurang-kurangnya 50 tahun.
  • Belum tersedia narasi sejarah dan kajian ilmiah yang kuat untuk menunjukkan adanya arti khusus.
  • Berdasarkan pertimbangan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tugu Kujang belum didukung oleh penelitian sejarah yang memadai untuk membuktikan arti khususnya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Meski demikian, Pemkot Bogor dan TACB Kota Bogor akan terus melakukan kajian dan penelitian untuk mempersiapkan rekomendasi ketika usia Tugu Kujang memasuki 50 tahun atau sekitar enam tahun mendatang.

Selama menunggu proses tersebut, Pemkot Bogor tetap berkomitmen penuh untuk terus menjaga Tugu Kujang sebagai aset kebudayaan dan estetika kota yang menjadi kebanggaan warga Bogor.

** Fredy Kristianto