29.7 C
Bogor
Saturday, September 5, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

AMBS Angkat Bicara Warga Ancam Tak Bayar Pajak

0

Megamendung | Jurnal Bogor – Kasus dugaan korupsi terkait Upah Pungut Pajak (UPP), Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), serta mutasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor terus menjadi sorotan publik.

Warga Kabupaten Bogor mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tidak ragu menetapkan tersangka dalam perkara tersebut.

Desakan itu disampaikan warga yang tergabung dalam Presidium Masyarakat Bogor Bersatu (PMBB) saat menggelar aksi unjuk rasa di Gedung Merah Putih KPK, Jumat (4/9/2026). Aksi tersebut diikuti seratusan warga dan tokoh masyarakat dari wilayah barat, tengah, utara, timur, dan selatan Kabupaten Bogor.

Mereka tergabung dalam sejumlah organisasi, di antaranya LSM Pelita Pasundan, LSM Pakuan Padjadjaran, LSM PASi, Klinik Hukum 165, serta Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS).

Sejak perkara ini bergulir pada Rabu (19/8/2026), KPK telah melakukan sejumlah tindakan penyidikan, di antaranya menyita uang sekitar Rp1,5 miliar, memeriksa sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Bogor di Gedung Merah Putih, melakukan gelar perkara, serta menggeledah sejumlah kantor, termasuk Bappenda, BKSDM, dan Disdik.

Namun hingga Jumat (4/9/2026), KPK disebut masih menggunakan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) umum dan belum mengumumkan penetapan tersangka.

“Sampai hari ini belum ada tersangkanya. Ada apa ini? KPK jangan ragu-ragu, segera tetapkan tersangkanya. Termasuk jika Bupati juga terbukti terlibat, juga harus ditindak. Hukum jangan hanya tumpul ke bawah. Jangan sampai KPK diisukan masuk angin dan diintervensi,” tegas Ketua PMBB, Oman Rohman Pribadi alias Opri.

Sementara itu, perwakilan warga Bogor Selatan, Azet Basuni, dalam orasinya menegaskan bahwa Kabupaten Bogor sebagai wilayah yang berada di sekitar kediaman Presiden RI Prabowo Subianto seharusnya terbebas dari praktik tindak pidana korupsi.

“Oleh karenanya penyidik KPK jangan membiarkan para koruptor ini tetap bergentayangan di Bumi Tegar Beriman. Sikat semua yang terlibat tanpa pandang bulu,” ujar Azet.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat maupun pegawai di Kabupaten Bogor merasa tidak nyaman. Ia juga menyoroti munculnya sikap pesimistis masyarakat terhadap kewajiban membayar pajak akibat merebaknya dugaan praktik korupsi.

“Penyidik KPK harus segera menetapkan tersangka. Kalau belum, kami enggan membayar pajak. Ini fakta. Berdasarkan pengakuan sejumlah petugas pemungut pajak di tingkat desa, mereka mengaku selama ini juga dipotong upah pungutnya sebesar Rp50 ribu. Tidak ada penjelasan untuk apa pemotongan itu. Mereka juga bingung,” tegasnya.

Warga berharap KPK dapat mengusut perkara tersebut secara transparan dan menyeluruh serta menindak seluruh pihak yang terbukti terlibat berdasarkan alat bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Dadang Supriatna

Mahasiswa KKN Posko 32 UIKA Gandeng BPRS Botani Dorong Literasi Keuangan Syariah Warga Bantarsari

0

Rancabungur | Jurnal Bogor
Mahasiswa KKN Posko 32 Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menggandeng PT BPRS Botani Bina Rahmah dalam kegiatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat di Desa Bantarsari, Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jumat (28/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Bantarsari tersebut diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri atas masyarakat dan panitia.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua materi utama, yakni pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) serta literasi dan inklusi keuangan syariah. Edukasi keuangan syariah diberikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan dan layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dalam sesi literasi keuangan syariah, masyarakat mendapat penjelasan mengenai konsep dasar keuangan syariah, prinsip transaksi sesuai syariat, serta manfaat menggunakan layanan keuangan syariah. BPRS Botani juga memperkenalkan sejumlah produk, di antaranya tabungan syariah, deposito syariah, dan pembiayaan syariah.

Masyarakat juga diperkenalkan dengan program Tabungan Umroh 10 Free 1 sebagai salah satu alternatif perencanaan keuangan untuk mempersiapkan kebutuhan ibadah umrah. Program tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat membangun kebiasaan menabung sekaligus merencanakan tujuan keuangan secara lebih terarah.

Ketua KKN Posko 32 UIKA, M. Erlanda Azzikry, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Literasi keuangan syariah penting agar masyarakat dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan dan memahami pilihan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan serta prinsip syariah,” ujar Erlanda.

Ia menambahkan, keterlibatan BPRS Botani dalam kegiatan tersebut dapat menjadi penghubung bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai layanan keuangan syariah secara langsung.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengabdian Mahasiswa KKN Posko 32 UIKA di Desa Bantarsari. Edukasi mengenai keuangan syariah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan serta mengenal layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kegiatan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Bantarsari.

(Fahmi/cc-uika)

PP 20/2026 dan Wajah Baru Pajak UMKM

0

Oleh: Malia
(Mahasiswa S2 Akuntansi Universitas Pamulang )

Pajak UMKM tetap 0,5 persen. Namun, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026, wajah kebijakan pajak UMKM mulai berubah. Perubahannya bukan pada tarif, melainkan pada siapa yang berhak memperoleh fasilitas, bagaimana pemerintah mencegah penyalahgunaan, dan seberapa siap pelaku usaha memenuhi tuntutan administrasi yang semakin tertib.

Hal ini penting karena UMKM bukan sekadar angka dalam statistik penerimaan negara. Di baliknya ada usaha keluarga, pedagang, produsen rumahan, hingga bisnis kecil yang menjadi sumber penghasilan dan membuka lapangan kerja. Karena itu, perubahan aturan pajak akan berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan usaha.

Pertanyaannya kemudian, apakah wajah baru pajak UMKM ini akan menjadi jalan menuju usaha yang lebih tertib dan profesional, atau justru menjadi beban baru bagi mereka yang sedang berjuang untuk tumbuh?

Tarif Tetap, Sasaran Berubah

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah tarif. PP 20/2026 tidak menaikkan PPh Final UMKM menjadi 0,5 persen. Tarif tersebut tetap berlaku bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Batas omzet Rp4,8 miliar dalam satu tahun juga tetap menjadi salah satu ketentuan utama.

Bagi wajib pajak orang pribadi, bagian omzet sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun juga tidak dikenai PPh. Jadi, anggapan bahwa pemerintah baru menaikkan pajak UMKM menjadi 0,5 persen tidak tepat.

Perubahan penting justru terletak pada sasaran fasilitas.

Fasilitas PPh Final 0,5 persen diarahkan kepada wajib pajak orang pribadi, perseroan perorangan, dan koperasi dengan ketentuan tertentu. Sementara itu, CV, firma, PT selain perseroan perorangan, serta BUMDes/BUMDesma tidak lagi menjadi penerima baru fasilitas tersebut, dengan tetap memperhatikan ketentuan peralihan.

Dengan demikian, pemerintah sedang berusaha memastikan fasilitas pajak benar-benar diterima oleh usaha yang menjadi sasaran.

Menutup Celah Penyalahgunaan

Salah satu perhatian dalam kebijakan baru adalah firm splitting, yaitu memecah satu kegiatan usaha menjadi beberapa entitas agar masing-masing terlihat sebagai usaha kecil dan tetap memperoleh fasilitas pajak.

Sebagai ilustrasi, sebuah kegiatan usaha memiliki omzet Rp8 miliar. Jika sengaja dipecah menjadi dua entitas dengan omzet masing-masing Rp4 miliar, secara angka keduanya masih berada di bawah batas Rp4,8 miliar.

Jika praktik seperti ini dilakukan untuk mempertahankan fasilitas pajak, tujuan insentif menjadi tidak tercapai. Fasilitas yang seharusnya membantu usaha kecil justru dapat dinikmati usaha yang secara ekonomi lebih besar.

Karena itu, upaya pemerintah menutup celah penyalahgunaan patut diapresiasi. Namun, menutup celah jangan sampai berarti menutup jalan bagi usaha kecil yang benar-benar tumbuh secara wajar.

Tidak Semua CV atau PT Itu Besar

Bentuk badan usaha tidak selalu mencerminkan kemampuan ekonomi.

Ada CV yang dikelola keluarga dengan beberapa karyawan dan omzet terbatas. Ada pula usaha yang memilih bentuk CV atau PT karena membutuhkan legalitas untuk mengikuti tender, bekerja sama dengan perusahaan lain, memperoleh pembiayaan, atau memperluas pasar.

Artinya, memiliki bentuk badan usaha tertentu tidak otomatis berarti sebuah usaha sudah besar.

Persoalan tersebut semakin terlihat jika kita membedakan omzet dan laba.

Bayangkan dua usaha sama-sama memiliki omzet Rp2 miliar dalam setahun. Usaha pertama memperoleh keuntungan Rp400 juta, sedangkan usaha kedua hanya memperoleh keuntungan Rp100 juta karena biaya bahan baku, distribusi, sewa, dan operasionalnya lebih besar.

Omzet keduanya sama, tetapi kemampuan ekonominya berbeda.

Maka muncul pertanyaan sederhana: apakah omzet selalu cukup untuk menggambarkan kemampuan sebuah usaha dalam menanggung beban pajak?

Pertanyaan ini bukan berarti UMKM harus dibebaskan dari pajak. Justru, pertanyaan tersebut diperlukan agar kebijakan pajak mampu menemukan keseimbangan antara kemudahan, keadilan, dan kepastian.

Ada Biaya untuk Menjadi Tertib

Pengetatan fasilitas memang dapat membantu mencegah penyalahgunaan. Namun, ketika sebagian badan usaha harus beralih ke sistem perpajakan yang membutuhkan administrasi dan pembukuan lebih baik, ada konsekuensi yang tidak boleh diabaikan: biaya kepatuhan.

Biaya kepatuhan bukan hanya pajak. Ada biaya untuk mencatat transaksi, menyusun laporan keuangan, menggunakan perangkat lunak, hingga kemungkinan menggunakan jasa akuntan atau konsultan.

Bagi perusahaan besar, beban tersebut mungkin relatif mudah ditangani. Namun bagi usaha kecil dengan keuntungan tipis, tambahan biaya administrasi dapat menjadi persoalan serius.

Sejumlah pengamat pajak melihat pengetatan fasilitas sebagai langkah untuk mencegah pemecahan usaha. Namun, terdapat pula kekhawatiran bahwa biaya kepatuhan dapat meningkat bagi CV atau PT kecil yang sebenarnya menjalankan usaha secara wajar.

Karena itu, ketika pemerintah meminta UMKM semakin tertib, pemerintah juga perlu memastikan bahwa biaya untuk menjadi tertib masih dapat dijangkau oleh UMKM.

Suara Pelaku UMKM Perlu Didengar

Bagi pelaku usaha, pajak bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Pajak berkaitan dengan uang yang digunakan untuk membeli bahan baku, membayar karyawan, membayar sewa, menjaga persediaan, dan mempertahankan arus kas.

Kekhawatiran pelaku UMKM terhadap bertambahnya administrasi karena perubahan aturan juga perlu diperhatikan. Usaha dengan keuntungan besar mungkin lebih mudah menanggung beban tersebut, tetapi usaha kecil dengan margin tipis dapat merasakan dampaknya secara langsung.

Tentu, kondisi ini bukan alasan bagi UMKM untuk menghindari kewajiban. UMKM justru perlu semakin tertib dan profesional.

Namun, pemerintah juga perlu menjawab pertanyaan sederhana:

Jika UMKM diminta naik kelas, apakah tangga untuk naik kelas sudah disediakan?

Pendampingan menjadi penting. Jangan sampai pelaku usaha hanya menerima aturan baru tanpa mendapatkan pengetahuan dan fasilitas yang cukup untuk memahaminya.

Akuntansi sebagai Jalan Naik Kelas

Di sinilah akuntansi memiliki peran penting.

Bagi sebagian UMKM, pencatatan keuangan masih dianggap sebagai pekerjaan tambahan yang hanya dibutuhkan ketika berurusan dengan pajak. Padahal, akuntansi adalah alat untuk memahami kesehatan bisnis.

Dengan pencatatan yang baik, pengusaha dapat mengetahui keuntungan sebenarnya, mengendalikan biaya, menentukan harga jual, memantau persediaan, mengelola utang, dan menjaga arus kas.

Pembukuan bukan sekadar alat untuk membayar pajak. Pembukuan adalah alat untuk memahami bisnis sendiri.

Karena itu, perubahan kebijakan pajak seharusnya menjadi momentum meningkatkan literasi akuntansi UMKM. Pemerintah dapat mendukungnya melalui pelatihan pembukuan sederhana, aplikasi pencatatan yang mudah digunakan, pendampingan perpajakan, serta konsultasi bagi usaha yang harus beralih ke sistem perpajakan umum.

Dunia pendidikan dan profesi akuntansi juga dapat mengambil peran. UMKM membutuhkan pendampingan yang praktis dan mudah diterapkan, bukan sekadar teori.

Wajah Baru yang Tetap Berpihak

PP 20/2026 menunjukkan upaya pemerintah mencari keseimbangan antara kemudahan bagi UMKM dan pencegahan penyalahgunaan fasilitas pajak.

Menutup celah firm splitting merupakan langkah penting. Namun, pemerintah juga perlu memastikan bahwa usaha kecil yang menjalankan bisnis secara wajar tidak justru kesulitan karena perubahan administrasi.

Keadilan pajak bukan berarti semua usaha harus diperlakukan persis sama. Keadilan juga berarti mempertimbangkan kondisi, kemampuan, dan beban yang harus ditanggung wajib pajak.

Karena itu, keberhasilan PP 20/2026 tidak cukup diukur dari penerimaan pajak atau berkurangnya penyalahgunaan fasilitas. Kita juga perlu melihat apakah UMKM menjadi lebih tertib mencatat transaksi, lebih memahami kewajiban perpajakan, lebih profesional mengelola usaha, dan tetap mampu berkembang.

Pada akhirnya, wajah baru pajak UMKM seharusnya bukan wajah yang menakutkan. Ia harus menjadi wajah kebijakan yang lebih tertib, lebih adil, dan mampu mendorong UMKM naik kelas.

Pemerintah perlu menutup celah penyalahgunaan tanpa menutup jalan pertumbuhan. Pelaku usaha perlu memperbaiki administrasi dan pembukuan. Dunia pendidikan, akuntansi, dan perpajakan perlu ikut menyediakan pendampingan.

Sebab keberpihakan kepada UMKM bukan berarti membiarkan mereka terus bergantung pada kemudahan.

Keberpihakan berarti memberikan aturan yang jelas, beban yang wajar, pendampingan yang nyata, dan kesempatan untuk berkembang.

UMKM tidak membutuhkan belas kasihan. UMKM membutuhkan ekosistem yang membuat mereka mampu tumbuh, tertib, dan naik kelas.

***

Harga Relatif Terjangkau, Buah Cempedak di Bunar Cukup Laris

0

Cigudeg l Jurnal Bogor
‎‎Pedagang buah cempedak di jalan raya nasional, tepatnya di Desa Bunar, Cigudeg, Kabupaten Bogor banyak diburu pembeli.‎

‎Pantauan Jurnal Bogor, Rabu (2/9/2026), pedagang buah musiman terlihat berjejer. Mereka menjual beragam jenis buah lokal  seperti manggis durian maupun buah campedak.‎

‎‎Salah satu pedagang  buah musiman Mulyana mengaku, saat pasokan buah cempedak  melimpah lapak dagangannya kerap dikunjungi pembeli yang melintas di jalur itu.‎

‎Buah cempedak sendiri didatangkan dari petani  wilayah desa setempat, yakni Desa Bunar. ‎Cempedak tersebut banyak diserbu pembeli karena berkualitas bagus, namun menawarkan harga yang relatif terjangkau mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per buah.‎

‎”Sudah lima hari ini cempedak yang dijual alhamdulillah buah cempedaknya cukup laris. ‎Cempedak terjual emang gak menentu ya, kadang seharinya bisa habis 200 buah atau 150 buah cempedak,” kata Mulyana kepada Jurnal Bogor, Rabu (2/9/2026).‎

‎Mulyana yang akrap dipanggil Ave menjelaskan, dengan memanfaatkan  potensi lokal, maka bermacam jenis buah seperti durian, manggis hingga buah cempedak itu didapat dari wilayah Desa Bunar.‎

‎Sementara, salah satu pembeli asal BSD Tangerang Sutinah mengaku tertarik dengan banyaknya pedagang buah buah lokal  saat melintasi di jalan tersebut.‎

‎Sutinah tak sendirian, ia sengaja turun dari motornya hanya untuk membeli buah cempedak.‎

‎”Abis dari Leuwiliang, sekalian beli oleh-oleh buah cempedak,” tukasnya.

(Arip Ekon)

Paskibra Cihud Terima Penghargaan

0

Ciampea l Jurnal Bogor
‎‎Pemerintah Desa Cihideung Udik (Cihud), Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor memberikan penghargaan kepada pasukan pengibar bendera (Paskibra)  dan petugas upacara, Selasa (1/9/2026).

‎Penghargaan tersebut diberikan sekaligus digelarnya tasyakuran puncak HUT Kemerdekaan RI ke-81.‎

Paskibra dan petugas upacara Desa Cihud

‎Acara berlangsung khidmat di aula Kantor Desa Cihideung Udik. Turut  hadir berbagai unsur masyarakat desa antara lain perwakilan BPD, LPM, para Ketua RT se-Desa Cihud, TP PKK, MUI, Babinkamtibmas, Babinsa, jajaran Pol PP, serta para tokoh agama dan masyarakat.‎

‎‎Kepala Desa Cihideung Udik H. Denny ‎menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan untuk memeriahkan puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI sekaligus sebagai wujud apresiasi dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi mendukung pelaksanaan rangkaian kegiatan kemerdekaan di Desa Cihideung Udik.‎

‎Selain syukuran bareng,  perangkat RT, RW,  BPD yang sebelumnya menjadi petugas upacara, termasuk petugas Paskibra diberikan penghargaan.‎

‎‎”Kami berharap semangat kebersamaan dan kekompakan seluruh elemen masyarakat  Cihideung Udik menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan peringatan kemerdekaan tahun ini. Semoga Cihud Udik maju, mandiri dan berkualitas ” tukasnya.‎

‎Usai tasyakuran HUT RI, Kepala Desa Cihud H  Denny mendapat ucapan selamat ulang tahun ke-50  dari perangkat desa, BPD, kader PKK , anggota Paskibra , Babinsa, dan Babinkamtibmas Desa Cihud.‎

‎Sementara itu, Ketua BPD Desa Cihud Samsiar mengungkapkan baru pertama kalinya petugas upacara HUT RI dari unsur perangkat RT, RW dan BPD.‎

‎Hal tersebut membuktikan bahwa Desa Cihud sangat kompak dalam membangun wilayah dan wujud syukur atas kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pahlawan.‎

‎”Saya juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-50 untuk Kepala Desa Cihud H Denny semoga dibawah kepemimpinannya Desa Cihud semakin maju dan berkembang,” tukasnya.‎‎

‎‎Sebelumnya,  Pemdes Cihideung Udik melaksanakan upacara HUT RI ke 81 di Lapangan Gang Abot, RT 02 RW 09 pada 17 Agustus 2026 lalu.‎

‎Masyarakat Cihud merayakan Hari Kemerdekaan RI dengan cara yang sederhana, namun bermakna dimana para pemimpin wilayah menjadi petugas upacara bendera.‎

‎Bahkan, mereka tampil mengenakan busana bergaya Kapten Muslihat, menambah kesan gagah dan penuh semangat perjuangan.‎

‎Sedangkan kelompok paduan suara yang diisi oleh ibu-ibu desa tampil memukau dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai pelosok Nusantara.‎

‎Penampilan ini bukan sekadar keindahan semata, melainkan cerminan hidup semangat Bhinneka Tunggal Ika — persatuan dalam keberagaman — yang tumbuh subur dan dijaga erat oleh masyarakat desa ini.‎ 

‎Puncak kebanggaan warga terlihat saat seluruh elemen masyarakat berarak menuju lapangan upacara sambil bersama-sama membentangkan bendera Merah Putih raksasa sepanjang 209 meter.

(Arip Ekon)

Habis 2 Ton Dalam Sepekan, Ayam Potong di Blok Paris Diminati Pembeli

0

Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Pedagang ayam potong yang berlokasi di Jalan Raya Ace Tabrani KM 05 Blok Paris di Desa Parakanmuncang, Nanggung, Kabupaten Bogor telah menjual 5 ton ayam potong dalam sepekan. ‎Tak hanya ayam potong, termasuk kebutuhan sembako dan sayur mayur banyak dibeli masyarakat.‎

‎Pantauan Jurnal Bogor,  tak sedikit pemotor  maupun warga  sekitar itu  datang hanya untuk berbelanja kebutuhan rumahan.‎

‎Diketahui, beberapa bulan terakhir penjualan  ayam potong di pasaran per kilonya dengan harga 43 ribu. Nani (35) salah satu pembeli  mengaku sudah kedua kalinya datang  hanya untuk membeli ayam potong tersebut.‎

‎”‎Hampir tiap hari melintas di jalur itu, karena tempatnya strategis, bisa untuk parkir juga, jadi sekalian belanja salah satunya beli ayam potong. ‎Dari harga memang agak berbeda, seperti ayam saja, dari 43 ribu disini kami beli per kilonya cuman 40  ribu,” ujarnya.‎

‎Sementara salah satu pedagang ayam di area Blok Paris, mengakui kewalahan  lantaran sejak dibukanya dari pagi hingga sore hari pembeli terus berdatangan dari wilayah Kecamatan Nanggung.‎

‎”Minat pembeli cukup banyak, dalam sepekan bisa habis terjual 2 ton ayam potong,” tukasnya.

(Arip Ekon)

Marketing Bukan Sekadar Jualan: Melihat Pekerjaan di Balik Layar Promosi Industri Kosmetik

0

Oleh: Windy Adawiyah
(Program Study Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda)

ABSTRAK

Marketing sering dipahami sebagai kegiatan menjual produk atau membuat konten untuk menarik perhatian konsumen. Namun, pengalaman penulis selama melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di PT Adev Natural Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas marketing memiliki proses yang lebih kompleks. Kegiatan KKL yang dilakukan pada Divisi Marketing memberikan pengalaman dalam berbagai aktivitas, mulai dari pencarian referensi dan produksi konten, penyuntingan foto dan video, riset kompetitor, hingga penyusunan marketing campaign. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk melihat bahwa kegiatan promosi tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menghasilkan konten, tetapi juga riset, perencanaan, pemahaman terhadap audiens, serta strategi komunikasi yang terarah. Keterlibatan dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027” semakin memperlihatkan bahwa promosi perlu dirancang melalui tahapan komunikasi yang memiliki tujuan dan indikator keberhasilan. Tulisan ini merupakan artikel opini yang merefleksikan pengalaman KKL penulis untuk membahas pekerjaan di balik aktivitas marketing yang sering kali tidak terlihat oleh audiens. Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis berpendapat bahwa marketing bukan sekadar aktivitas menjual atau membuat konten, melainkan proses komunikasi yang menghubungkan tujuan perusahaan dengan kebutuhan dan karakteristik audiens.

PENDAHULUAN

Perkembangan industri kosmetik tidak hanya menunjukkan semakin besarnya peluang bisnis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dunia usaha terus berkembang dan menciptakan ruang bagi munculnya berbagai pelaku usaha baru. Kondisi tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Menurut saya, pertumbuhan industri tidak cukup hanya dilihat dari semakin banyaknya perusahaan atau produk yang muncul, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mampu menciptakan aktivitas bisnis yang produktif dan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk berkembang. Dalam situasi tersebut, komunikasi pemasaran menjadi salah satu bagian penting yang membantu perusahaan memperkenalkan layanan, membangun hubungan dengan calon pelanggan, dan mendukung kegiatan promosi (United Nations, n.d.).

PT Adev Natural Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa maklon kosmetik dan personal care. Selama melaksanakan KKL di Divisi Marketing, saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari mencari referensi konten, melakukan produksi dan penyuntingan foto maupun video, melakukan riset kompetitor, hingga ikut dalam penyusunan marketing campaign. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa sebuah kegiatan promosi tidak muncul begitu saja, tetapi melalui berbagai proses komunikasi yang saling berkaitan.

Hal yang paling mengubah cara pandang saya adalah ketika terlibat dalam proses pembuatan konten. Sebelum sebuah foto atau video dapat digunakan untuk kebutuhan media sosial, terdapat proses pencarian referensi, pengamatan terhadap konsep konten, penentuan ide, pencarian talent, hingga produksi. Setelah itu, materi masih harus melalui proses penyuntingan agar sesuai dengan konsep yang telah direncanakan. Dari proses tersebut, saya melihat bahwa konten yang tampak sederhana di media sosial sebenarnya merupakan hasil dari proses berpikir dan perencanaan.

Menurut saya, hal tersebut penting untuk dipahami karena perkembangan media sosial membuat kegiatan marketing sering kali dinilai hanya berdasarkan apa yang terlihat di layar. Konten yang menarik memang dapat membantu menarik perhatian audiens, tetapi tampilan visual saja tidak cukup. Komunikasi pemasaran juga membutuhkan pesan yang sesuai dengan tujuan perusahaan dan karakteristik audiens. Penelitian mengenai komunikasi pemasaran digital pada industri kecantikan juga menunjukkan bahwa strategi pemasaran melalui media sosial tidak hanya berkaitan dengan keberadaan produk, tetapi bagaimana pesan dan konten digunakan untuk menjangkau serta membangun hubungan dengan konsumen.

Pengalaman melakukan riset kompetitor semakin memperkuat pandangan tersebut. Dalam kegiatan KKL, saya mencari dan membandingkan informasi mengenai produk kompetitor melalui platform penjualan daring, termasuk jenis produk, harga, ukuran, dan karakteristik penawarannya. Bagi saya, kegiatan ini menunjukkan bahwa marketing tidak dapat hanya berangkat dari keinginan perusahaan untuk menjual sesuatu. Sebelum menentukan cara berkomunikasi dengan calon konsumen, pemasar juga perlu memahami kondisi pasar dan persaingan yang ada.

Pandangan tersebut kemudian semakin terlihat ketika saya terlibat dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027”. Campaign tersebut tidak dirancang hanya dengan tujuan membuat promosi terlihat menarik, tetapi disusun berdasarkan tahapan komunikasi yang berbeda, mulai dari membangun awareness, memberikan edukasi, mengarahkan audiens menuju konsultasi, hingga mendorong conversion. Bagi saya, proses tersebut menjadi contoh nyata bahwa promosi membutuhkan strategi dan tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas.

Dari pengalaman tersebut, saya berpendapat bahwa marketing seharusnya tidak dipahami hanya sebagai aktivitas menjual atau membuat konten. Marketing merupakan proses komunikasi yang membutuhkan riset, perencanaan, kreativitas, dan pemahaman terhadap audiens. Justru pekerjaan yang tidak terlihat oleh konsumen—seperti mencari informasi, menganalisis kompetitor, merancang pesan, dan menentukan tahapan campaign—memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana sebuah promosi dijalankan.

Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan pandangan mengenai pekerjaan di balik kegiatan marketing berdasarkan pengalaman selama menjalani KKL di PT Adev Natural Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi saya untuk melihat bahwa keberhasilan sebuah promosi bukan hanya ditentukan oleh seberapa menarik konten yang ditampilkan, tetapi juga oleh seberapa matang proses komunikasi yang mendasarinya.

KONTEN YANG TERLIHAT SEDERHANA TIDAK LAHIR SECARA SEDERHANA

Salah satu hal yang paling mengubah pandangan saya selama menjalani KKL di Divisi Marketing PT Adev Natural Indonesia adalah proses di balik sebuah konten. Sebagai orang yang melihat media sosial dari sisi audiens, saya sebelumnya cenderung menganggap konten sebagai sesuatu yang sudah selesai ketika muncul di layar. Setelah terlibat langsung dalam prosesnya, saya menyadari bahwa sebuah foto atau video yang terlihat sederhana sebenarnya melewati beberapa tahapan sebelum dapat digunakan sebagai materi promosi.

Proses tersebut dimulai dari pencarian referensi. Saya perlu mengamati berbagai konten untuk melihat topik, konsep visual, cara penyampaian pesan, hingga bentuk konten yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Setelah referensi diperoleh, proses dilanjutkan dengan menentukan konsep, mencari talent, serta melakukan pengambilan foto dan video. Dalam kegiatan KKL, saya juga terlibat dalam pengambilan konten untuk produk Lumosca dan produksi konten di area laboratorium PT Adev Natural Indonesia.

Setelah proses produksi selesai, pekerjaan belum berakhir. Materi yang telah diperoleh masih perlu melalui tahap penyuntingan. Foto maupun video dipilih dan disusun kembali berdasarkan kebutuhan konten, termasuk menyesuaikan bagian yang digunakan, urutan materi, durasi, serta elemen pendukung lainnya. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa proses membuat konten bukan sekadar persoalan menghasilkan gambar atau video yang bagus, tetapi juga bagaimana materi tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang sesuai dengan kebutuhan pemasaran.

Menurut saya, bagian inilah yang sering tidak terlihat oleh audiens. Ketika sebuah konten sudah muncul di Instagram, orang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, sebelum sampai ke tahap tersebut terdapat proses berpikir yang menentukan apa yang ingin disampaikan dan bagaimana pesan tersebut dikemas. Penelitian mengenai komunikasi pemasaran digital juga menunjukkan bahwa konten media sosial dapat digunakan untuk membangun keterlibatan audiens melalui berbagai bentuk, seperti konten promosi, hiburan, edukasi, percakapan, dan konten musiman.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya bahwa kreativitas dalam marketing tidak berdiri sendiri. Ide yang menarik tetap membutuhkan perencanaan agar dapat diterjemahkan menjadi pesan yang sesuai dengan tujuan komunikasi. Sebuah konten mungkin terlihat sederhana ketika sudah dipublikasikan, tetapi kesederhanaan tersebut justru dapat menjadi hasil dari proses yang cukup panjang.

Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting selama KKL. Marketing bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang memahami apa yang ingin dikomunikasikan dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan. Konten hanyalah bagian yang terlihat dari sebuah proses komunikasi pemasaran yang jauh lebih besar.

MARKETING DIMULAI SEBELUM KONTEN DIPUBLIKASIKAN

Setelah terlibat langsung dalam proses produksi konten, saya mulai melihat bahwa pekerjaan marketing sebenarnya dimulai jauh sebelum sebuah konten dipublikasikan. Bagi saya, tahap yang sering dianggap sederhana seperti mencari referensi dan menentukan konsep justru menjadi bagian penting karena pada tahap inilah arah komunikasi mulai ditentukan.

Selama KKL di PT Adev Natural Indonesia, pencarian referensi menjadi salah satu kegiatan yang saya lakukan sebelum produksi konten. Referensi tidak hanya dicari untuk menemukan visual yang menarik, tetapi juga untuk melihat bagaimana suatu topik dapat dikemas, bagaimana pesan disampaikan, dan bentuk konten seperti apa yang dapat dikembangkan. Dari sini saya belajar bahwa seorang marketer perlu memiliki kemampuan untuk mengamati sebelum menentukan apa yang akan dibuat.

Menurut saya, proses tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dalam marketing seharusnya tidak muncul secara asal. Ide memang dapat datang dari mana saja, tetapi ide yang digunakan untuk kepentingan promosi perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi dan kebutuhan audiens. Penelitian mengenai strategi social media marketing juga menempatkan strategi konten sebagai bagian dari proses pemasaran yang bertujuan menghasilkan dan menyebarkan konten yang bernilai bagi audiens, bukan sekadar mempromosikan produk secara langsung.

Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa pekerjaan seorang marketer memiliki sisi analitis yang cukup kuat. Ketika mencari referensi, kita sebenarnya sedang mengamati apa yang sudah dilakukan oleh pihak lain, bagaimana suatu pesan dikemas, dan kemungkinan pendekatan apa yang dapat digunakan. Setelah itu, ide tersebut perlu diolah kembali agar sesuai dengan identitas dan kebutuhan perusahaan. Jadi, kreativitas bukan berarti meniru sesuatu yang sudah ada, melainkan menemukan cara untuk mengembangkan sebuah gagasan menjadi komunikasi yang relevan.

Menurut saya, pemahaman seperti ini penting terutama di tengah perkembangan media sosial yang membuat siapa pun dapat memproduksi dan mempublikasikan konten dengan cepat. Kemudahan tersebut terkadang membuat proses perencanaan terlihat tidak penting. Padahal, semakin banyak konten yang muncul setiap hari, semakin penting pula bagi perusahaan untuk memiliki alasan yang jelas mengenai mengapa sebuah konten dibuat dan pesan apa yang ingin disampaikan.

Pengalaman di PT Adev Natural Indonesia membuat saya melihat bahwa konten yang baik bukan hanya konten yang berhasil mendapatkan perhatian, tetapi juga konten yang memiliki arah. Ada perbedaan antara sekadar membuat konten karena sedang mengikuti tren dengan membuat konten karena mengetahui apa yang ingin dicapai melalui konten tersebut. Bagi saya, perbedaan tersebut terletak pada proses perencanaan.

Karena itu, saya berpendapat bahwa marketing tidak seharusnya dinilai hanya dari hasil akhir yang terlihat di media sosial. Proses yang terjadi sebelum publikasi justru memiliki peran besar dalam menentukan apakah sebuah pesan dapat disampaikan dengan baik. Riset, pencarian referensi, penentuan konsep, dan pemahaman terhadap audiens merupakan bagian dari pekerjaan marketing yang mungkin tidak terlihat oleh publik, tetapi menjadi dasar dari komunikasi yang dilakukan perusahaan.

Pengalaman tersebut juga membuat saya memahami bahwa komunikasi pemasaran tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara atau membuat visual yang menarik. Seorang marketer perlu mampu membaca situasi, mengolah informasi, dan menentukan pendekatan komunikasi yang sesuai. Dengan demikian, sebelum sebuah konten berbicara kepada audiens, sebenarnya tim marketing sudah terlebih dahulu “berbicara” melalui proses riset dan perencanaan.

RISET KOMPETITOR: BAGIAN MARKETING YANG SERING TIDAK TERLIHAT

Jika produksi konten merupakan bagian marketing yang paling mudah dilihat oleh audiens, riset kompetitor justru menjadi salah satu pekerjaan yang hampir tidak terlihat. Padahal, menurut saya, kegiatan ini memiliki peran penting dalam membantu perusahaan memahami kondisi pasar sebelum menentukan cara berkomunikasi dengan calon konsumen.

Selama menjalani KKL di PT Adev Natural Indonesia, saya mendapatkan pengalaman melakukan riset terhadap produk kompetitor melalui platform penjualan daring. Informasi yang diamati antara lain jenis produk, harga, ukuran, serta karakteristik penawaran yang ditampilkan kepada konsumen. Data tersebut kemudian dibandingkan untuk memperoleh gambaran mengenai produk-produk yang berada dalam persaingan yang sama.

Awalnya, saya melihat kegiatan tersebut sebagai pekerjaan mengumpulkan informasi. Namun setelah menjalaninya, saya menyadari bahwa riset kompetitor sebenarnya mengajarkan cara melihat sebuah produk dari sudut pandang pasar. Ketika membandingkan beberapa produk, kita tidak hanya melihat siapa yang menjual produk serupa, tetapi juga dapat mengamati bagaimana suatu produk ditawarkan, bagaimana harga ditempatkan, dan apa yang mungkin menjadi daya tarik bagi konsumen.

Menurut saya, inilah salah satu bagian marketing yang sering terlupakan. Perusahaan tentu perlu mengetahui kelebihan produknya sendiri, tetapi pengetahuan tersebut akan lebih bermakna ketika dibandingkan dengan kondisi pasar. Tanpa memahami apa yang ditawarkan kompetitor, perusahaan dapat kesulitan menentukan pembeda yang ingin ditonjolkan dalam komunikasinya.

Riset kompetitor juga membuat saya memahami bahwa kegiatan marketing membutuhkan kemampuan membaca informasi. Data yang ditemukan di marketplace tidak otomatis menjadi strategi. Informasi tersebut harus diamati, dibandingkan, dan dipahami terlebih dahulu agar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan. Dengan kata lain, pekerjaan marketing tidak hanya membutuhkan kreativitas untuk menghasilkan ide, tetapi juga kemampuan analitis untuk memahami lingkungan tempat ide tersebut akan digunakan.

Bagi saya, proses ini memiliki hubungan yang kuat dengan komunikasi pemasaran. Pesan promosi yang disampaikan kepada audiens seharusnya tidak berdiri sendiri, karena audiens juga menerima berbagai pesan dari perusahaan lain. Ketika banyak produk menawarkan kategori dan manfaat yang serupa, perusahaan perlu memahami bagaimana membuat komunikasinya memiliki pembeda dan tetap relevan bagi target audiens.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat bahwa seorang marketer sebenarnya perlu memiliki dua kemampuan sekaligus: kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang menarik dan kemampuan untuk memahami konteks. Kreativitas tanpa pemahaman pasar dapat menghasilkan komunikasi yang menarik tetapi belum tentu tepat sasaran. Sebaliknya, informasi pasar tanpa kreativitas mungkin hanya berhenti sebagai data. Keduanya perlu berjalan bersama.

Karena itu, saya berpendapat bahwa riset kompetitor bukan pekerjaan tambahan yang hanya dilakukan ketika dibutuhkan. Riset merupakan bagian dari proses marketing yang membantu perusahaan memahami posisi produknya dan menentukan bagaimana komunikasi dapat dibangun. Meskipun hasilnya tidak selalu terlihat langsung oleh konsumen, informasi dari proses tersebut dapat menjadi dasar bagi keputusan-keputusan marketing yang muncul di permukaan.

CAMPAIGN MEMBUKTIKAN BAHWA PROMOSI MEMBUTUHKAN STRATEGI

Pengalaman saya dalam membuat konten dan melakukan riset kompetitor akhirnya membawa saya pada pemahaman yang lebih luas ketika terlibat dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027”. Jika sebelumnya saya melihat marketing melalui aktivitas yang lebih teknis seperti mencari referensi, mengambil gambar, dan melakukan editing, melalui campaign ini saya mulai melihat bagaimana berbagai aktivitas tersebut ditempatkan dalam sebuah strategi yang memiliki tujuan.

Campaign “Start Your Brand 2027” ditujukan kepada calon pemilik brand yang ingin memulai atau mengembangkan bisnis kosmetik. Karena targetnya bukan sekadar menjangkau sebanyak mungkin orang, komunikasi dalam campaign dirancang melalui beberapa tahapan. Pada tahap awal, komunikasi diarahkan untuk membangun awareness, mengangkat pain point dan dream, serta memberikan edukasi. Setelah audiens mulai mengenal dan memahami informasi yang disampaikan, komunikasi dilanjutkan dengan product education, client story, objection handling, dan social proof. Pada tahap akhir, komunikasi diarahkan pada urgency, countdown, offer, dan closing.

Menurut saya, pembagian tahapan tersebut menunjukkan bahwa promosi tidak harus selalu dimulai dengan ajakan untuk membeli. Ada proses yang perlu dibangun terlebih dahulu. Calon konsumen mungkin belum mengenal perusahaan, belum memahami layanan yang ditawarkan, atau bahkan belum yakin bahwa mereka membutuhkan layanan tersebut. Karena itu, komunikasi perlu disesuaikan dengan posisi audiens sebelum diarahkan pada tindakan.

Hal tersebut sejalan dengan prinsip komunikasi pemasaran terpadu yang menempatkan penentuan target audiens dan tujuan komunikasi sebagai bagian awal dalam perencanaan campaign. Pesan kemudian dirancang berdasarkan tujuan dan tahapan yang ingin dicapai dari audiens. Bagi saya, konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami setelah melihat penerapannya secara langsung dalam penyusunan campaign.

Campaign juga menunjukkan kepada saya bahwa setiap konten seharusnya memiliki alasan mengapa konten tersebut dibuat. Konten awareness memiliki fungsi yang berbeda dengan konten yang bertujuan mendorong conversion. Begitu pula konten edukasi memiliki peran yang berbeda dengan konten yang memberikan penawaran. Ketika seluruh konten tersebut disusun dalam satu campaign, masing-masing memiliki fungsi untuk membawa audiens menuju tujuan komunikasi yang telah ditentukan.

Hal yang menarik bagi saya adalah adanya target 300 qualified leads dalam campaign tersebut. Target tersebut menunjukkan bahwa kegiatan promosi tidak hanya dinilai dari seberapa banyak konten yang berhasil dibuat atau seberapa menarik tampilannya. Ada indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian campaign, mulai dari awareness, engagement, lead generation, hingga conversion. Dengan adanya target dan indikator tersebut, kegiatan marketing menjadi lebih terarah karena keberhasilannya dapat dievaluasi berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa kreativitas dan strategi tidak dapat dipisahkan. Kreativitas dibutuhkan untuk membuat pesan menarik, tetapi strategi dibutuhkan agar pesan tersebut memiliki arah. Sebuah konten dapat terlihat bagus, tetapi jika tidak mengetahui siapa yang ingin dijangkau dan tindakan apa yang diharapkan dari audiens, konten tersebut berpotensi kehilangan tujuan.

Menurut saya, inilah alasan mengapa marketing tidak seharusnya hanya dilihat dari hasil yang tampak di permukaan. Ketika sebuah campaign berhasil menghadirkan banyak konten yang terlihat menarik, kita mungkin hanya melihat bagian akhirnya. Padahal, terdapat proses menentukan target, menyusun pesan, membagi tahapan komunikasi, membuat konten, dan menentukan indikator keberhasilan di belakangnya.

Keterlibatan dalam penyusunan “Start Your Brand 2027” membuat saya melihat bahwa marketing pada akhirnya adalah tentang bagaimana menghubungkan pesan perusahaan dengan kebutuhan audiens. Bukan sekadar bagaimana perusahaan ingin menjual, tetapi bagaimana perusahaan dapat menyampaikan alasan yang relevan agar audiens mau mengenal, mempertimbangkan, dan akhirnya mengambil tindakan.

Dari sini, pengalaman KKL saya semakin memperkuat pandangan bahwa marketing bukan sekadar jualan. Di balik sebuah promosi terdapat strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun hubungan dengan audiens secara bertahap. Bagi saya, justru proses perencanaan inilah yang membuat pekerjaan marketing menjadi lebih kompleks sekaligus menarik.

KESIMPULAN (palatino linotype, 12, bold, spasi 1.5)

Pengalaman menjalani Kuliah Kerja Lapangan di PT Adev Natural Indonesia membuat saya melihat marketing dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, marketing mudah dipahami sebagai kegiatan menjual produk atau membuat konten untuk menarik perhatian konsumen. Namun, keterlibatan secara langsung di Divisi Marketing menunjukkan bahwa terdapat proses yang jauh lebih kompleks di balik sebuah kegiatan promosi.

Mulai dari mencari referensi, merancang konsep, melakukan produksi dan penyuntingan konten, melakukan riset kompetitor, hingga terlibat dalam penyusunan marketing campaign, setiap kegiatan memiliki tujuan dan pertimbangan masing-masing. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa marketing membutuhkan perpaduan antara kreativitas, kemampuan analisis, riset, dan komunikasi.

Menurut saya, bagian terpenting dari marketing justru sering kali tidak terlihat oleh audiens. Ketika sebuah konten muncul di media sosial, audiens hanya melihat hasil akhirnya, sementara proses untuk menentukan pesan, memahami target audiens, mengamati kompetitor, serta menyusun strategi terjadi jauh sebelumnya. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa konten yang menarik bukanlah satu-satunya ukuran dalam kegiatan pemasaran. Konten juga perlu memiliki arah dan tujuan yang jelas.

Keterlibatan dalam marketing campaign “Start Your Brand 2027” semakin memperkuat pandangan tersebut. Campaign yang memiliki target audiens, tahapan komunikasi, serta indikator keberhasilan menunjukkan bahwa promosi membutuhkan strategi yang terencana. Dengan demikian, marketing bukan hanya tentang bagaimana membuat orang tertarik terhadap suatu produk atau layanan, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi yang relevan sehingga audiens dapat bergerak dari tahap mengenal hingga mengambil tindakan.

Sebagai mahasiswa Sains Komunikasi, pengalaman KKL ini juga memberikan pemahaman bahwa ilmu komunikasi memiliki penerapan yang luas di dunia kerja. Konsep komunikasi pemasaran yang sebelumnya dipelajari secara teoritis dapat ditemukan secara langsung dalam aktivitas sehari-hari di Divisi Marketing. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana pesan tersebut dirancang, dikemas, dan diarahkan kepada audiens.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa marketing memang bukan sekadar jualan. Marketing adalah proses komunikasi yang membutuhkan pemahaman terhadap audiens, kondisi pasar, kreativitas dalam menyampaikan pesan, serta strategi untuk mencapai tujuan. Apa yang terlihat sebagai sebuah unggahan sederhana di media sosial sebenarnya dapat menjadi hasil dari rangkaian proses panjang di balik layar. Justru proses tersebutlah yang membuat marketing tidak hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga menantang untuk dijalankan.

REFERENSI

Amelia, N., Dharta, F. Y., & Arindawati, W. A. (2023). Implementasi bauran promosi sebagai strategi komunikasi pemasaran Memopro Wedding Organizer dalam meningkatkan konsumen Memopro. NIVEDANA: Jurnal Komunikasi dan Bahasa, 4(1), 223–239. https://doi.org/10.53565/nivedana.v4i1.864

Maharani, P. A., & Yuniati, Y. (2025). Strategi komunikasi pemasaran digital melalui penggunaan Instagram sebagai media komunikasi pemasaran. Jurnal Riset Public Relations, 5(1). https://doi.org/10.29313/jrpr.v5i1.6754

Putri, M. A., Saeni, R., & Mursalim. (2021). Strategi komunikasi pemasaran PT. Shavira Barokah Utama dalam memasarkan produk skincare. KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(1). https://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/view/28255

Safitri, E., Auliana, L., Sukoco, I., & Barkah, C. S. (2022). Kajian literatur peran Integrated Marketing Communication (IMC) dalam mempertahankan loyalitas konsumen. Jurnal Aplikasi Bisnis, 19(2), 259–267. https://doi.org/10.20885/jabis.vol19.iss2.art6

Sofyan, A. A. A., & Mulyana, D. (2024). Strategi komunikasi pemasaran melalui media sosial Instagram dalam menarik minat beli konsumen. Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital, 4(1), 9–14. https://doi.org/10.29313/jrjmd.v4i1.3640

United Nations. (n.d.). Goal 8: Decent work and economic growth. https://www.un.org/sustainabledevelopment/economic-growth/

Pemkot Bogor Raih Penghargaan Implementasi Program 3 Juta Rumah dari Kemendagri dan Kementerian PKP

0

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendapatkan penghargaan Terbaik Pertama tingkat Kota dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sebagai Pemerintah Daerah Berprestasi Kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah melalui program bantuan pemerintah pada pelaksanaan bedah rumah

Program bedah rumah di Kota Bogor ini diakselerasi dengan berbagai program bantuan pemerintah, termasuk melalui alternatif pembiayaan dengan melibatkan CSR dari pihak swasta.

Penghargaan ini diterima oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dalam kegiatan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II yang dihadiri Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian di Bali, Jumat (28/8/2026).

Pada sesi wawancara bersama Tempo, Dedie Rachim menyampaikan bahwa Pemkot Bogor sudah memiliki program bantuan perumahan bagi masyarakat kurang mampu melalui hunian vertikal berupa rumah susun sewa (Rusunawa) yang dapat menampung 300 kepala keluarga di dua lokasi, yakni wilayah Menteng, Kecamatan Bogor Barat, dan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara.

“Dua Rusunawa ini memang sangat membantu kita dan sangat sejalan dengan apa yang dicanangkan pemerintah pusat, bahwa kebutuhan perumahan untuk masyarakat kalau tidak dibantu, diakselerasi oleh pemerintah tentu masyarakat yang menengah ke bawah akan merasa kesulitan untuk memiliki rumah sendiri, ya. Tetapi dengan model sewa, ya ini juga kelihatannya cukup baik dan respon masyarakat positif,” ungkap Dedie Rachim.

Di samping Rusunawa, Pemkot Bogor pada periode 2019 hingga 2024 juga memiliki program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang sudah memperbaiki 26.000 rumah.

Program perbaikan rumah ini pada tahun 2025 hingga 2026 tetap dilanjutkan dan ditingkatkan melalui data dari pihak wilayah serta Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor.

Tak hanya RTLH, Dedie Rachim juga meningkatkan program dengan konsep bedah rumah. Jika bantuan RTLH hanya sebesar Rp7 juta hingga Rp11 juta, maka program perbaikan rumah melalui bedah rumah memiliki anggaran yang dialokasikan sebesar Rp100 juta, sehingga penanganannya lebih komprehensif.

“Dengan program Bedah Rumah, Insyaallah akan lebih sempurna, baik dari pencahayaannya, kemudian sirkulasi udaranya, kemudian juga dari kualitas bangunannya. Jadi memang tentu ini perlu masukan dari masyarakat dan aktifnya pemerintah daerah, terutama di tingkat kelurahan bersama RT/RW untuk tadi, betul-betul bisa memetakan siapa yang membutuhkan supaya tepat sasaran,” ujarnya.

Sebab, lanjut Dedie Rachim, dalam program ini yang berhak menerima bantuan adalah masyarakat yang berada pada kategori desil 1 hingga 5 dan memiliki alas hak yang jelas.
Dedie Rachim meyakini bahwa peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan melalui berbagai program keberlanjutan dari kepemimpinan terdahulu yang terus diperbaiki sesuai kebutuhan zaman.

Untuk itu, dalam program bantuan rumah ini pihaknya juga sepakat bahwa berbagai program yang sudah baik perlu dilanjutkan dan ditingkatkan.

“Jadi artinya memang konsistensi pemerintah untuk terus memastikan bahwa masyarakat Kota Bogor atau masyarakat di kabupaten/kota ini mendapatkan perhatian dari kepala daerah,” ungkapnya.

Di samping program yang sudah berjalan dan sedang disiapkan, saat ini Pemkot Bogor juga sudah menyiapkan empat titik lokasi yang diajukan kepada Kementerian PKP melalui bantuan dari Kemendagri untuk dibangunkan hunian vertikal bagi masyarakat.

“Nah, kalau kemudian ini terbangun, maka paling tidak target dari pemenuhan 3 juta rumah bagi masyarakat Indonesia dari Kota Bogor juga semakin dapat dirasakan oleh masyarakat. Jadi mohon bersabar karena pemerintah masih terus bekerja,” ujarnya.

Untuk tahun 2025, Pemkot Bogor telah merealisasikan bantuan sosial RTLH BST dan BSTT kepada 2.122 rumah, dengan rincian sebanyak 257 rumah berada di kawasan kumuh dan 1.856 rumah di kawasan luar kumuh.

Sementara itu, pada 2026, RTLH sebanyak 1.138 unit dengan rincian 216 unit di kawasan kumuh, 922 unit di luar kawasan kumuh, serta 6 unit melalui program bedah rumah.
Sedangkan, melalui alternatif pembiayaan CSR Buddha Tzu Chi pada tahun 2026 sebanyak 204 unit rumah.

Dengan capaian ini, Dedie Rachim menyampaikan rasa syukur atas berbagai langkah Pemkot Bogor yang mendapat apresiasi dari pemerintah pusat melalui Kemendagri dan Kementerian PKP.

“Ini merupakan penyemangat bagi kita Pemkot Bogor dan khususnya kami ucapkan apresiasi dan terima kasih kepada dinas-dinas terkait dan para pimpinan perangkat daerah serta seluruh masyarakat Kota Bogor yang telah mendukung langkah Pemkot dalam melaksanakan berbagai program,” ujarnya.

Penataan Puncak, 79 Bangunan Cisarua Disegel

0

Cisarua | Jurnal Bogor – Penataan kawasan Puncak, khususnya wilayah Cisarua dan Megamendung, terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Salah satunya melalui penertiban bangunan yang terbukti melanggar aturan.

Senin (31/8/2026), sebanyak 79 unit bangunan yang terdiri dari warung kelontong, kios, dan bangunan ruko di Jalan Gapura, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, disegel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor bersama petugas Trantib Kecamatan Cisarua.

Penyegelan terhadap seluruh bangunan yang digunakan sebagai tempat usaha tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya penataan kawasan dan normalisasi jalan agar arus lalu lintas dapat berjalan lebih lancar.

Yudi Iskandar, petugas Satpol PP Kabupaten Bogor bidang penyegelan, mengatakan, bangunan yang disegel telah terbukti melakukan pelanggaran. Sebelum penyegelan dilakukan, pihaknya telah memberikan surat teguran sesuai prosedur, mulai dari teguran pertama hingga teguran ketiga.

“Langkah yang kita lakukan hari ini adalah penyegelan terhadap 79 unit bangunan yang terbukti melanggar. Sebelum dilakukan penyegelan ini, sesuai prosedur kita sudah memberikan surat teguran mulai dari teguran pertama hingga teguran ketiga,” ujar Yudi, Senin (31/8/2026).

Selama proses pemberian surat teguran, petugas juga meminta pemilik bangunan untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Dari hasil pemantauan di lapangan, sejumlah pemilik toko telah melakukan pembongkaran.

Menurut Yudi, pembongkaran secara mandiri diharapkan dapat mengurangi potensi kerugian bagi para pemilik bangunan.

“Kita apresiasi bagi mereka yang sudah melakukan pembongkaran sendiri. Dan bagi mereka yang membangkang, mau tidak mau akan dilakukan pembongkaran secara paksa,” tegasnya.

Yudi menambahkan, setelah proses penyegelan dilakukan, pihaknya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari Bupati Bogor. Penertiban tersebut merupakan bagian dari program penataan kawasan Puncak.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Cisarua, Nur Indrawan, mengatakan penataan kawasan tidak hanya menyasar bangunan, tetapi juga fungsi badan jalan dan drainase.

“Semuanya akan difungsikan sesuai peruntukannya. Mulai dari badan jalan tidak boleh dipakai untuk parkir liar, begitu juga drainase harus berfungsi dengan baik. Saluran drainase tidak boleh ditutupi oleh sampah dan material lainnya,” katanya.

Menurutnya, kondisi drainase yang tidak berfungsi dengan baik dapat menimbulkan persoalan ketika hujan turun. Karena itu, penataan kawasan membutuhkan peran petugas dan instansi terkait sesuai bidangnya masing-masing.

Selama kegiatan penyegelan berlangsung, petugas Satpol PP yang didampingi UPT Tata Bangunan Ciawi berjalan dengan lancar dan kondusif. Dadang Supriatna

Kades Cigudeg: Kesampingkan Ego, Bangun Komunikasi

0

‎‎Cigudeg l Jurnal Bogor
‎Kepala Desa Cigudeg H.Andi Supriadi memiliki pandangan yang bijak perihal tugasnya sebagai kepala desa. Dia mampu mengesampingkan ego dan membangun komunikasi demi terciptanya Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor yang kondusif. Selain itu juga membuka ruang diskusi melalui bermusyawarah yang menjadi jalan terbaik  dalam mengambil keputusan.

‎”Kita harus saling menghargai perbedaan. Sebagai orang timur, karena  musyawarah bagian budaya identitas yang luhur,” kata dia.

‎‎Menurut Kades Supriadi atau yang akrab dipanggil Bram,  berbeda pandangan atau pendapat itu hal wajar. Tanpa menyela atau ego pribadi, tentu kita harus menghargai perbedaan atau pendapat orang lain.

‎”‎Tentu jangan alergi dengan kritik, sepanjang tidak menyerang personal. Karena kritik itu bentuk berdemokrasi untuk membangun. ‎Kesampingkan egosentris. Fokus  apa yang disampaikan , akan tetapi bukan sibuk menyiapkan bantahan atau kalimat yang mengarah  personal,” jelasnya.

‎‎Sebab itu, lembaga desa kata dia, memiliki peranan penting untuk menyerap aspirasi sesuai potensi desa. Tak hanya itu, Pemerintah Desa selain mengurus secara administrasi juga menyiapkan dan menyusun beragam  program  teknis maupun nonteknis.

‎‎Termasuk persiapan dengan dibuatnya Rencana pembangunan jangka menengah Desa atau  RPJMDes. “‎Membuka ruang dialog perbedaan pendapat bukan untuk memenangkan suatu argumen, akan tetapi tujuan  untuk membuka jalan dengan runtut alasan dengan rincian pemaparan,” tandasnya.

(Arip Ekon)