29 C
Bogor
Monday, August 3, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

POCAFARM Jadi Inovasi Unggulan: Mahasiswa Kimia Universitas Pakuan Dorong Pemanfaatan Limbah Ternak di Desa Kota Batu

0

Ciomas | Jurnal Bogor
Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMASKA) Universitas Pakuan menghadirkan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Tahun 2026 melalui POCATANI (Pupuk Organik Cair untuk Tani) di Desa Kota Batu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Program ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengolahan limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik cair bernilai guna dan bernilai ekonomi sebagai solusi atas permasalahan limbah ternak di desa.

Pelaksanaan program mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya Ketua RW 05, Ketua RT 04, perwakilan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), Kelompok Wanita Tani (KWT), serta Tim Penggerak PKK Desa Kota Batu. Melalui POCATANI, masyarakat tidak hanya didorong untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah ternak, tetapi juga memperoleh keterampilan dalam menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian sekaligus berpotensi menjadi peluang usaha.

Desa Kota Batu memiliki potensi peternakan kambing. Namun, limbah kotoran kambing yang dihasilkan masih menjadi permasalahan karena belum diolah secara optimal. Sebagian besar limbah hanya ditumpuk di sekitar kandang sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta menjadi sumber berkembangnya berbagai mikroorganisme yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, Tim PPK Ormawa HIMASKA menghadirkan Program POCATANI sebagai solusi inovatif melalui pemanfaatan limbah kotoran kambing menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang dipasarkan dengan brand  POCAFARM. Produk ini dihasilkan melalui proses fermentasi menggunakan bahan-bahan pendukung yang ramah lingkungan sehingga menghasilkan pupuk organik cair yang kaya unsur hara dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanaman.

Selain memberikan manfaat bagi sektor pertanian, POCAFARM juga dirancang sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis sehingga berpotensi menjadi peluang usaha bagi masyarakat, khususnya kelompok tani dan warga setempat, melalui pengolahan limbah menjadi produk yang bernilai jual. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan mengenai latar belakang program, manfaat pengolahan limbah kotoran kambing, tahapan pembuatan pupuk organik cair, hingga peluang pengembangan usaha berbasis produk POCAFARM. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah dari sektor peternakan.

Ketua Tim Program POCATANI (Muhamad Surya Awal Maulana), mengatakan bahwa POCATANI tidak hanya dirancang untuk membantu menyelesaikan permasalahan limbah peternakan, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi ekonomi dari hasil pengolahan limbah.

“Melalui POCATANI, kami ingin menunjukkan bahwa limbah kotoran kambing bukan lagi menjadi sumber permasalahan, melainkan dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. Harapannya, masyarakat dapat mengelola limbah secara mandiri sekaligus memanfaatkan POCAFARM sebagai peluang usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain memperkenalkan inovasi produk, program POCATANI juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang limbah peternakan. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat melalui penerapan teknologi sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat.

Dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat diharapkan mampu menerapkan proses pembuatan pupuk organik cair secara mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab serta memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian dan perekonomian desa.

Program POCATANI memberikan pembekalan kepada masyarakat mengenai latar belakang program, manfaat pengolahan limbah kotoran kambing, tahapan pembuatan pupuk organik cair, hingga peluang pengembangan usaha berbasis produk POCAFARM.

Program POCATANI menjadi salah satu bentuk komitmen daripada Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Pakuan dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, mitra, dan masyarakat.

Program POCATANI diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan, menjadikan limbah sebagai sumber daya bernilai ekonomis, serta mewujudkan Desa Kota Batu sebagai desa yang mandiri, produktif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

**

Eryko Bhakti Irianto Terpilih Sebagai Ketua Forum LPM Kota Bogor Periode 2026-2031

0

Bogor | Jurnal Bogor
Forum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota Bogor resmi dipimpin oleh sosok baru. Eryko Bhakti Irianto terpilih sebagai Ketua Forum LPM Kota Bogor periode 2026-2031.

Ucapan selamat dan sukses mengalir dari berbagai unsur, salah satunya dari Keluarga Besar FK-LPM Bogor Selatan yang menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Eryko Bhakti Irianto memimpin Forum LPM tingkat kota.

Riska Rahmawati Ridwan, Ketua LPM Kelurahan Pakuan dan Bendahara FK -LPM Bogor Selatan berpose bersama Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin. Foto: IST

Dengan terpilihnya kepengurusan baru, Forum LPM Kota Bogor akan menjalankan tugas selama periode 2026-2031. Sebagai mitra pemerintah, Forum LPM memiliki peran strategis dalam pemberdayaan masyarakat, peningkatan partisipasi warga, dan penguatan program pembangunan di tingkat kelurahan se-Kota Bogor.

FK-LPM Bogor Selatan dalam pernyataannya berharap kepemimpinan baru dapat membawa sinergi yang lebih kuat antara LPM Kelurahan, Kecamatan, dan Pemerintah Kota Bogor.

“Selamat dan sukses kepada Bapak Eryko Bhakti Irianto atas terpilihnya sebagai Ketua Forum LPM Kota Bogor. Semoga dapat mengemban amanah dengan baik dan membawa LPM semakin maju, mandiri, serta berdaya guna untuk masyarakat,” demikian disampaikan Riska Rahmawati Ridwan  Ketua LPM Kelurahan Pakuan dan Bendahara FK -LPM Bogor Selatan serta bagian dari  Keluarga Besar FK-LPM Bogor Selatan, Sabtu ( 01/08/2026).

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat merupakan lembaga kemasyarakatan yang dibentuk untuk mewadahi partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Di Kota Bogor terdapat 68 LPM Kelurahan yang tergabung dalam Forum LPM Kota Bogor.

Dengan kepemimpinan baru, diharapkan Forum LPM Kota Bogor dapat lebih optimal dalam mengawal program pemerintah, menggerakkan swadaya masyarakat, serta menjadi jembatan aspirasi warga ke pemerintah.

(Wawan Hermawanto)

Atlet Panahan Muda Kota Bogor Sapu 6 Emas di Kejuaraan Junior

0

Bogor | Jurnal Bogor

Atlet panahan muda Kota Bogor, Saka Yusuf Rahmadani, mencatatkan prestasi membanggakan dengan memborong enam medali pada ajang MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior 2026 yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 22-29 Juli 2026.
Dalam kejuaraan yang diikuti 906 atlet dari 29 provinsi tersebut, atlet binaan Bukit Cimanggu City Archery Club (BCC AC) itu tampil dominan di nomor Compound U-13 dengan meraih lima medali emas dan satu medali perak.

Ketua KONI Kota Bogor, Dedi Sumarna, mengapresiasi pencapaian Saka yang dinilainya menjadi bukti lahirnya atlet-atlet potensial dari Kota Bogor. Menurutnya, prestasi tersebut menjadi modal penting untuk membangun regenerasi cabang olahraga panahan.

“Selamat kepada Saka yang berhasil meraih lima medali emas dan satu medali perak pada Kejurnas Panahan di Kudus. Kami bangga karena Saka merupakan putra asli Kota Bogor yang mampu mengharumkan nama daerah sebagai bagian dari Kontingen Jawa Barat di ajang nasional,” kata Dedi.

Ia menambahkan, usia Saka yang masih 12 tahun membuat peluang pengembangannya masih sangat terbuka. KONI Kota Bogor akan terus memantau dan mendukung pembinaan agar kemampuannya terus meningkat sehingga siap menghadapi berbagai kejuaraan yang lebih bergengsi di masa mendatang.

“Potensinya sangat besar. Kami berharap pembinaan yang berkelanjutan dapat mengantarkan Saka menjadi atlet panahan andalan Kota Bogor, Jawa Barat, bahkan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Saka mengungkapkan bahwa keberhasilannya meraih enam medali tidak lepas dari kedisiplinan menjalani latihan, mematuhi arahan pelatih, serta doa dan dukungan kedua orang tuanya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Terima kasih kepada orang tua dan pelatih yang selalu mendukung saya hingga bisa meraih hasil ini. Ke depan saya ingin menjadi atlet panahan profesional dan membawa nama Indonesia berprestasi di tingkat internasional,” tutur Saka.

  • Fredy Kristianto

Melalui Gladiator Arena, Jovan Latuconsina Kampanyekan Stop Tawuran

0

Bogor | Jurnal Bogor

Wakil Ketua Umum Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), Agust Jovan Latuconsina, mengajak para pelajar yang memiliki kemampuan bertarung untuk meninggalkan aksi tawuran dan menyalurkan bakatnya melalui olahraga tinju. Pesan itu disampaikannya saat membuka Gladiator Bogor Arena II Boxing 2026 di GOR Indoor Pajajaran, Sabtu (1/8/2026).

Kejuaraan yang digelar hasil kolaborasi Pertina dengan komunitas Catatan Akhir Sekolah (CAS) tersebut diikuti 135 petinju dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, hingga Tangerang. Para peserta bertanding di berbagai kategori, mulai dari pelajar, alumni, komunitas, camp, hingga umum.

Agust Jovan menegaskan, Gladiator Bogor Arena bukan sekadar ajang adu kemampuan di atas ring, tetapi juga menjadi wadah pembinaan generasi muda agar terhindar dari aksi kekerasan di jalanan.

“Kalau punya kemampuan bertarung, jangan disalurkan melalui tawuran. Salurkan di ring tinju yang resmi, ada pelatih, ada wasit, dan semuanya dilakukan secara sportif. Kami ingin mengubah energi anak-anak muda menjadi prestasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Gladiator Bogor Arena kini memasuki penyelenggaraan kedua. Setelah tahun lalu digelar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, tahun ini kejuaraan dipindahkan ke Kota Bogor agar semakin banyak masyarakat Bogor Raya yang dapat berpartisipasi.

Menurutnya, kejuaraan tersebut juga menjadi salah satu sarana Pertina menjaring atlet-atlet potensial untuk dibina secara berkelanjutan.

Petinju yang menunjukkan prestasi maupun potensi akan diarahkan mengikuti program pembinaan Pertina sehingga memiliki kesempatan tampil pada kejuaraan tingkat daerah hingga nasional.

“Kami tidak hanya mencari juara, tetapi juga bibit-bibit petinju yang memiliki potensi. Mereka akan kami bina agar bisa berkembang menjadi atlet berprestasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Gladiator Bogor Arena II Boxing 2026, Apit Gunawan, mengatakan antusiasme peserta pada penyelenggaraan tahun ini meningkat dibandingkan edisi perdana.

Sebanyak 53 partai pertandingan digelar sepanjang kejuaraan dengan mempertemukan petinju dari berbagai latar belakang dan kelompok usia.

Menurut Apit, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui olahraga sekaligus mengampanyekan gerakan menjauhi tawuran dan penyalahgunaan narkoba.

“Semangat yang kami bawa adalah stop tawuran, jauhi narkoba, dan raih prestasi. Kami ingin olahraga tinju menjadi ruang positif bagi anak-anak muda untuk berkembang,” ucapnya.

Ia menambahkan, para juara nantinya akan mendapat kesempatan mengikuti pembinaan lanjutan bersama Pertina sebagai bekal untuk melangkah ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

** Fredy Kristianto

Kolaborasi BPDP dan  Kementan Perkuat Kapasitas Pekebun Sawit Sumatera Selatan

0

Palembang | Jurnal Bogor
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Kementerian Pertanian memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS).

Penguatan kapasitas tersebut dilakukan melalui Pelatihan Penumbuhan Kebersamaan Pekebun serta Pelatihan Manajemen dan Administrasi Keuangan bagi pekebun dari Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kegiatan berlangsung pada 29 Juli hingga 3 Agustus 2026 di Palembang.

Sebanyak 156 peserta mengikuti pelatihan yang terbagi dalam lima angkatan, terdiri atas empat angkatan Pelatihan Penumbuhan Kebersamaan Pekebun dan satu angkatan Pelatihan Manajemen dan Administrasi Keuangan.

Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pekebun dalam membangun kelembagaan yang kuat, mengembangkan kerja sama kelompok, memperluas jejaring kemitraan, serta meningkatkan kemampuan dalam mengelola administrasi dan keuangan usaha.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan sektor perkebunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga membutuhkan dukungan SDM yang kompeten dan kelembagaan yang kuat.

Peningkatan kapasitas SDM, menurutnya, menjadi bagian penting dalam mendorong produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor perkebunan Indonesia.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengapresiasi dukungan BPDP dalam pengembangan kompetensi SDM perkebunan melalui kolaborasi dengan Kementerian Pertanian.

Menurut Idha, dinamika perubahan lingkungan strategis dalam pengembangan kelapa sawit menuntut pekebun untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan dalam mengelola usaha.

“Sumatera Selatan memiliki posisi strategis dalam pembangunan industri sawit nasional dengan luas perkebunan mencapai lebih dari 1,17 juta hektare. Potensi tersebut perlu didukung oleh SDM pekebun yang mampu menerapkan pengelolaan usaha secara profesional, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Idha.

Tahun 2026 menjadi tahun kelima BPDP mempercayakan penyelenggaraan pelatihan pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit kepada BBPMKP. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan kompetensi pekebun sekaligus memperkuat kelembagaan dan tata kelola usaha perkebunan.

Sementara itu, Kepala BBPMKP Sukim Supandi mengatakan, pelatihan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta sekaligus membangun kemampuan bekerja sama serta mengembangkan jejaring kemitraan.

“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru serta mampu mengimplementasikan hasil pembelajaran di kelompok maupun kelembagaan pekebun sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Sukim.

Materi pelatihan meliputi peningkatan kesadaran dan pengelolaan kelompok, kemitraan usaha, pembangunan jejaring, pembukuan, administrasi keuangan, penyusunan proposal usaha, pengelolaan kredit dan simpan pinjam, hingga mekanisme penetapan harga tandan buah segar (TBS).

Proses pembelajaran menggunakan pendekatan andragogi melalui ceramah interaktif, diskusi, simulasi, permainan pembelajaran, dan praktik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta sekaligus mendorong penerapan hasil pembelajaran dalam pengelolaan kelompok dan usaha perkebunan.

Melalui sinergi BPDP dan BBPMKP, peningkatan kapasitas SDM diharapkan dapat memperkuat kelembagaan pekebun, meningkatkan tata kelola dan produktivitas usaha, serta mendukung pengembangan industri kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing.

(Restu/BBPMKP)

Tes Fisik Tahap II Jadi Tolok Ukur Kesiapan 525 Atlet Kota Bogor Menuju Porprov Jabar

0

Bogor | Jurnal Bogor

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor mulai menggelar tes fisik tahap II bagi 525 atlet penerima insentif (insus) sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam empat sesi, yakni pada tanggal 1, 2, 8, dan 9 Agustus 2026.

Wakil Ketua KONI Kota Bogor, Yudi Wahyudi, mengatakan tes tahap II bukan hanya mengukur kemampuan fisik atlet, tetapi juga mencakup pemeriksaan kesehatan, tes hemoglobin (HB), asesmen psikologi, hingga pengukuran berbagai komponen kondisi fisik.

“Ini bukan sekadar tes fisik. Kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan, tes HB, asesmen psikologi, serta pengukuran kondisi fisik atlet secara menyeluruh sebagai bagian dari evaluasi performa mereka,” ujar Yudi, Sabtu (1/8/2026).

Sebanyak 525 atlet dibagi ke dalam empat sesi berdasarkan kelompok cabang olahraga, yakni cabang olahraga terukur, bela diri, permainan, dan beregu. Pengelompokan tersebut dilakukan agar proses pengujian dapat berjalan lebih efektif sesuai karakteristik masing-masing cabang olahraga.

Menurut Yudi, pelaksanaan tes ini bertujuan melihat progres hasil latihan yang telah dijalani atlet selama enam bulan terakhir sejak program insentif mulai diberikan pada Januari 2026.

“Selama enam bulan terakhir atlet telah menjalani program latihan. Melalui tes tahap II ini kami ingin melihat sejauh mana progres yang dicapai, baik dalam persiapan umum maupun persiapan khusus menuju Porprov,” jelasnya.

Hasil tes fisik tahap II nantinya akan dibandingkan dengan tes tahap I untuk mengetahui perkembangan setiap atlet. Peningkatan kondisi fisik menjadi indikator bahwa program latihan yang diterapkan pelatih berjalan sesuai dengan tahapan yang direncanakan.

“Hasil tes tahap I akan kami korelasikan dengan tahap II. Kalau ada peningkatan berarti program latihan berjalan terarah sesuai setiap fase latihan. Sebaliknya, jika ada yang stagnan atau menurun, akan kami analisis berdasarkan karakteristik cabang olahraganya,” kata Yudi.

Ia menjelaskan, apabila ditemukan atlet yang mengalami penurunan performa atau belum mencapai target kondisi fisik, KONI akan mengundang pelatih dalam forum desk review untuk mengevaluasi program latihan sekaligus mengaitkannya dengan target perolehan medali masing-masing cabang olahraga.

“Kami akan melihat apakah capaian kondisi fisik tersebut sejalan dengan target medali yang ditetapkan. Dari situ akan dilakukan evaluasi bersama pelatih agar program latihan bisa diperbaiki,” ujarnya.

Tak hanya itu, atlet yang hasil asesmennya menunjukkan kondisi fisik maupun psikologis belum optimal akan mendapatkan penanganan khusus dari KONI sesuai kebutuhan masing-masing.

“Atlet yang kondisinya belum memuaskan akan diberikan penanganan khusus berdasarkan hasil asesmen fisik dan psikologi. Ini merupakan bagian dari analisis performa atlet untuk mencapai puncak prestasi saat Porprov nanti,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Ceceran Tanah Dikeluhkan, DPRD Semprot RS Pandu

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pengguna jalan yang melintas di kawasan Bangbarung, tepatnya di RW 15, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, mengeluhkan banyaknya ceceran tanah yang diduga berasal dari aktivitas cut and fill proyek pembangunan Rumah Sakit Pandu yang berada di dekat Taman Corat-Coret.

Berdasarkan pantauan di lokasi, ceceran tanah menutupi sebagian badan jalan. Kondisi tersebut membuat permukaan aspal menjadi licin, terutama saat terkena air hujan, sehingga dinilai berpotensi membahayakan pengendara, khususnya sepeda motor.

Selain mengurangi kenyamanan berkendara, material tanah yang berserakan juga dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan lalu lintas apabila tidak segera dibersihkan oleh pihak pelaksana proyek.

Sejumlah pengguna jalan berharap kontraktor pelaksana proyek lebih memperhatikan kebersihan akses jalan dengan membersihkan ceceran tanah secara berkala serta memastikan kendaraan pengangkut material tidak meninggalkan lumpur di badan jalan.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi, menegaskan bahwa pelaksana proyek tidak boleh mengabaikan kebersihan fasilitas umum selama proses pembangunan berlangsung.

“Pelaksana tidak boleh melaksanakan pembangunan dengan mengotori jalan. Jalan yang terkena ceceran tanah seharusnya rutin disemprot dan dibersihkan agar tidak mengganggu warga maupun pengguna jalan,” ujar Ahmad Aswandi.

Ia juga meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor segera turun ke lokasi untuk memberikan teguran kepada pihak pelaksana proyek sekaligus melakukan pemeriksaan terhadap seluruh aspek perizinan pembangunan.

“Satpol PP harus turun ke sana memberikan teguran hingga memeriksa seluruh perizinannya. Apalagi ini akan dibangun rumah sakit, seluruh persyaratan teknis harus dipenuhi, mulai dari dokumen AMDAL lingkungan, analisis dampak lalu lintas (Andalalin), hingga sistem pengolahan limbahnya,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Bogor Utara, Riki Robiansyah, mengatakan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus menjadi perhatian utama selama proses pembangunan berlangsung. Menurutnya, ceceran tanah di badan jalan tidak boleh dibiarkan karena membahayakan masyarakat.

“Pastinya dalam setiap pembangunan aspek K3 harus diperhatikan. Tanah yang berceceran mengganggu pengguna jalan. Apalagi sudah beberapa kali turun hujan sehingga kondisi jalan menjadi licin dan dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Riki.

Ia menambahkan, pihak Kecamatan Bogor Utara akan segera meninjau lokasi dan berkoordinasi dengan pihak pelaksana proyek agar segera melakukan langkah-langkah penanganan.

“Kami akan meninjau ke lapangan dan berkoordinasi dengan yang bersangkutan agar memperhatikan aspek K3. Harus disiapkan petugas khusus untuk membersihkan tanah yang berceceran. Kami minta persoalan ini segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Terkait proyek tersebut, Riki menyebut informasi yang diterimanya menyatakan pembangunan yang dilakukan merupakan Rumah Sakit Pandu. Ia juga mengatakan perizinan pembangunan tersebut telah diterbitkan sejak tahun 2019.

** Fredy Kristianto

Jadi Akses Warga Ciampea-Rancabungur, Kang Dechan Ingin Jembatan Gantung Benteng Cisadane Dirawat dan Dijaga

0

Ciampea | Jurnal Bogor
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Bogor Dede Chandra Sasmita mengingatkan masyarakat agar bisa menjaga dan merawat jembatan yang keberadaannya penting menjadi akses warga Ciampea dan Rancabungur.

“Dengan pengecatan ini bisa juga untuk memberikan contoh agar jembatan dirawat dan supaya area jembatan juga tetap asri maka kita tanam pohon juga,” jelas anggota DPRD Provinsi Jabar yang akrab disapa Kang Dechan disela-sela Ekspedisi Bogor Biru #4 yang digelar DPC Partai Demokrat Kabupaten Bogor di Kampung Lebak Gunung, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Jumat (31/7/2026).

Ekspedisi Bogor Biru #4 ini direspons positif aparatur desa, muspika dan warga setempat yang selain melakukan pengecatan Jembatan Gantung Benteng Cisadane, juga dilakukan penanaman pohon dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Khusus untuk pengecatan jembatan, Kepala Desa Benteng, Ciampea H. Faka Harika mengungkapkan terimakasih kepada Partai Demokrat karena berkat aspirasi wakil rakyatnya, warga Ciampea dan Rancabungur terhubung. “Sebelum ada jembatan ini kalau mau ke Rancabungur itu memutar jauh sekali, begitu juga sebaliknya dari Rancabungur yang mau ke Ciampea. Jembatan ini bermanfaat bagi warga,” ujarnya.

Jembatan Gantung Benteng Cisadane sendiri dibangun 2002 dengan panjang 80 meter berasal dari dana aspirasi anggota DPR RI asal Partai Demokrat, H.Anton Sukartono Suratto sehingga agar tidak mudah keropos dan tetap awet, jembatan ini dilakukan pengecatan.

“Jembatan ini sudah ada besinya yang berkarat makanya perlu dicat lagi. Ya jembatan ini aspirasi kami agar tetap awet harus dipelihara,” kata H.Anton Sukartono Suratto yang juga hadir pada Ekspedisi Bogor Biru #4 dalam rangkaian Gerakan Langit Biru Indonesia Asri HUT Partai Demokrat ke-25.

Camat Rancabungur Dita Aprillia menyambut positif upaya Partai Demokrat yang melakukan aktivitas sosial di wilayah perbatasannya. Ke depan dia mengharapkan ada upaya pembersihan sungai dari sampah yang diinisiasi wakil-wakil rakyat dari partai berlambang merci.

“Support sekali ya, terimakasih dengan adanya kegiatan di wilayah kami,” kata dia.

(yev/cc)

Usaha Kopi Hijau di Bogor Tumbuh, Petani dan Roastery Lokal Raup Peluang Baru

0

Megamendung| Jurnal Bogor
Tren ngopi yang terus naik membuat komoditas kopi hijau atau green bean semakin dilirik. Di Bogor dan sekitarnya, usaha jual beli biji kopi mentah seperti dalam foto ini mulai banyak dilakukan petani, pengepul hingga UMKM roastery.

Yusup, slah satu pengusaha UMKM Kopi Brand Rasio Kopi mengatakan, dalam 1 tahun terakhir permintaan green bean asal Bogor dan Puncak meningkat signifikan.

“Yang beli sekarang bukan hanya roastery besar. Banyak juga anak muda yang mulai usaha roasting di rumah. Belinya bisa eceran 1 Kg dulu seperti ini untuk coba profil sangrai,” ujarnya, Kamis 30/07/2026.

Yusup

Harga green bean Arabika asal daerah Bogor dan Sukabumi saat ini berada di kisaran Rp150.000 – Rp250.000 per kg, tergantung proses dan ketinggian lahan.

Dengan menjual dalam bentuk green bean, petani tidak perlu mengeluarkan biaya sangrai dan kemasan. Sistem kemas vakum juga membantu menjaga kualitas agar tahan lebih lama saat dikirim ke luar kota.

“Ini menguntungkan dua pihak. Petani dapat harga lebih baik, roaster dapat bahan baku yang fresh. Rantai distribusinya jadi lebih pendek,” kata Yusup .

Di Kabupaten Bogor ada puluhan kelompok tani kopi di wilayah Cijeruk, Tamansari, dan Megamendung yang kini mulai mengolah hasil panennya sendiri.

Selain pasar lokal, permintaan ekspor juga mulai masuk. Beberapa negara seperti Jepang dan Malaysia melirik kopi single original dari Jawa Barat karena karakter rasanya.

Namun tantangannya tetap pada kualitas. Standar kadar air, ukuran biji, dan kebersihan harus dijaga agar bisa bersaing.

Pemerintah daerah pun didorong memberi pelatihan pasca panen dan bantuan alat pengering agar mutu kopi Bogor bisa naik kelas.

Dengan potensi pasar yang besar, usaha kopi hijau diyakini akan terus menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif dan pertanian di Bogor.

(Wawan Hermawanto)

Wahyu Hidayat Bagi Waktu Antara Tugas Utama dan Usaha Sampingan

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Meski dalam kesehariannya sebagai Kepala Terminal Leuwiliang tipe B, namun Wahyu Hidayat bisa menjalankan usaha sampingannya beternak bebek petelur. Kiatnya yakni pandai-pandai membagi waktu antara tugas utama dan usaha sampingan.

Pada jam istirahat misalnya pukul 12.00 WIB, Wahyu Hidayat meluangkan waktu untuk memberikan pakan bebek. ‎Usaha yang dirintisnya dengan memelihara ratusan bebek petelur terbilang baru, omzetnya pun belum signifikan. Tetapi langkah uji coba ternak bebek petelur harus dilakukan karena memberikan nilai tambah ekonomi.

Wahyu Hidayat

‎”Yang penting tidak mengganggu jam kantor dan tetap  melaksanakan kewajiban tugas seperti biasanya,” kata Wahyu disela sela saat memberikan pakan ternak bebek petelurnya, Kamis (30/7/2026).

‎‎‎Sebagai abdi negara, antara tugas pokok dan sebagai pelaku usaha ternak baginya tak masalah karena jarak kediamannya ke tempat kerja tak jauh hanya berjarak sekitar 300 meteran.‎

‎“Misal, di pagi hari bisa difokuskan pada pekerjaan sebagai kepala terminal. Saat istirahat siang, bisa dimanfaatkan dengan memberikan pakan hewan ternak,” pungkasnya.

Usaha ternaknya pun tak rumit, dengan memanfaatkan sisa makanan yang berasal  dari dapur MBG, bebek petelurnya dikelola secara mandiri.

** Arip Ekon