25.2 C
Bogor
Tuesday, April 21, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Muscab PPP Tiga Wilayah Dibuka, Rahmat Yasin Dampingi Ketum Muhammad Mardiono

0

Cigombong | Jurnal Bogor – Tokoh masyarakat sekaligus kader senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Rahmat Yasin (RY), mendampingi Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono dalam pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) PPP untuk tiga wilayah, yakni Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Kota Depok. Kegiatan ini berlangsung di Lido Lake Resort pada Senin (20/4/2026).

Pembukaan Muscab berlangsung meriah dan penuh semangat. Kehadiran Rahmat Yasin bersama Muhammad Mardiono disambut antusias oleh kader PPP dari tiga wilayah yang hadir. Suasana kekeluargaan dan soliditas kader tampak kuat sejak awal kegiatan.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Bupati Sukabumi Asep Japar, Wakil Bupati Sukabumi Andreas, serta Ketua DPW PPP Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum. Kehadiran para pimpinan daerah tersebut menegaskan pentingnya Muscab sebagai momentum konsolidasi dan penguatan struktur partai di tingkat daerah.

Dalam sambutannya, Muhammad Mardiono menekankan bahwa Muscab merupakan forum strategis untuk memperkuat soliditas serta menyatukan visi kader PPP.

“PPP harus hadir sebagai solusi bagi umat dan masyarakat. Muscab ini menjadi momentum untuk memperkuat barisan serta menentukan arah perjuangan ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Rahmat Yasin menyampaikan bahwa antusiasme kader dalam Muscab ini menjadi sinyal positif bagi kebangkitan PPP, khususnya di wilayah Jawa Barat.

“Antusiasme kader hari ini luar biasa. Ini menunjukkan bahwa PPP masih memiliki kekuatan besar jika terus dirawat dengan kebersamaan dan kerja nyata,” kata Rahmat Yasin.

Para peserta Muscab tampak optimistis dalam menyongsong agenda politik ke depan. Muscab PPP tiga wilayah ini diharapkan mampu menghasilkan kepengurusan yang solid, progresif, serta mampu membawa partai semakin kuat dalam menghadapi dinamika politik, baik di tingkat daerah maupun nasional. Yudi

Hujan Deras Picu Luapan Selokan, 4 Rumah dan 1 Gudang di Ciawi Terendam

0

Ciawi | Jurnal Bogor
Hujan deras yang mengguyur wilayah Ciawi pada Minggu malam (19/04/2026) sekitar pukul 20.00 WIB menyebabkan luapan selokan yang merendam permukiman warga di RT 03/RW 01, Desa Ciawi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Banjir tersebut dipicu oleh meningkatnya debit air saat hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi diperparah oleh saluran air yang tersumbat sampah serta adanya bagian selokan yang tertutup bangunan, sehingga aliran air tidak berjalan normal dan meluap ke rumah warga.

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 4 rumah warga dan 1 gudang kaos kaki milik H. Syarif terdampak genangan air. Warga pun sempat panik dan berupaya menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah.

Kepala Desa Ciawi, H. Nana Sumarna, yang turun langsung ke lokasi menyampaikan bahwa permasalahan utama berasal dari penumpukan sampah dan kondisi saluran air yang tidak berfungsi optimal.

“Banyak penumpukan sampah, sama selokan juga ada yang tertutup bangunan, jadi air tidak mengalir dengan baik,” ujarnya di lokasi kejadian.

Sementara itu, Sekretaris Camat Ciawi, Deni Kuswara bersama tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Sektor Ciawi turut melakukan peninjauan dan membantu evakuasi warga terdampak. Petugas Damkar juga melakukan upaya penanganan dengan membantu pengurasan air serta memastikan kondisi lingkungan aman.

Aparat setempat mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan dan bersama-sama menjaga kebersihan saluran air guna mencegah kejadian serupa terulang.

Kondisi genangan air berangsur surut, namun warga tetap diminta siaga terhadap kemungkinan banjir susulan.

** Dadang Supriatna

Minyakita Menghilang di Pasar Cisarua

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Sudah satu bulan terakhir, produk Minyakita menghilang dari Pasar Tradisional Cisarua, Kabupaten Bogor. Kondisi ini dikeluhkan pedagang maupun konsumen yang kesulitan.

Edi(43) pengecer di pasar tersebut, mengatakan bahwa Minyakita sudah tidak tersedia sejak sebulan lalu, meskipun sebelumnya sempat dijual dengan harga yang tidak jauh berbeda dari merek lain.

“Sudah satu bulan Minyakita tidak ada di Pasar Cisarua ini. Padahal sebelumnya harga jualnya hampir sama dengan merek lain,” ujar Edi.

Ari menyebut, banyak konsumen yang masih mencari produk tersebut, namun stok di Pasar Tohaga benar-benar kosong.

“Memang sudah sekitar satu bulan hilang. Kondisi ini dikeluhkan pedagang dan konsumen karena kesulitan mendapatkan barangnya,” ungkapnya.

Menurut Ari, pasokan Minyakita sebelumnya memang tidak menentu dan terbatas. Pasar Tohaga biasanya mendapat jatah sekitar 50 dus per bulan, namun harus dibagi ke sejumlah pengecer sehingga tidak mencukupi kebutuhan.

“Sekarang benar-benar kosong, tidak ada barangnya sama sekali,” keluhnya.

Meski harganya relatif lebih tinggi, sekitar Rp21.000 per liter, Minyakita tetap diminati konsumen selama stok masih tersedia.

“Yang penting barangnya ada. Walaupun harganya sekitar Rp21 ribu per liter, tetap dibeli,” katanya.

Sementara itu, Kepala Unit Pasar Perumda Tohaga Cisarua Aria Maulana membenarkan, adanya kelangkaan distribusi Minyakita.

“Penjualan di Pasar Tohaga relatif stabil, tidak ada kenaikan harga yang signifikan. Namun, kelangkaan Minyakita sudah kami laporkan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan,” tandasnya.

** Dadang Supriatna

Penolakan BTS Tak Digubris, Warga Citeko Ngadu ke AMBS

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Ratusan warga Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, menolak pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS) di wilayahnya. Kendati belum mengantongi perizinan, pembangunan infrastruktur BTS tetap berjalan.

Penolakan warga sudah berjalan delapan bulan. Selain secara resmi membubuhkan tanda tangan sebagai bukti penolakan, ratusan warga pernah berunjukrasa selama dua kali pada Kamis, 9 April 2026.

Namun sebaliknya, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Citeko malah bertolak belakang dengan warga sehingga memberikan perizinan terhadap pembangunan BTS tersebut.

Warga yang merasa geram kemudian memilih mengadukannya ke Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS). Surat kuasa pun diteken oleh ratusan warga pada Senin, 20 April 2026. Penandatangan dan penyerahan berkas di Sekretariat AMBS ini disaksikan puluhan warga, tokoh masyarakat Bogor Selatan, serta sejumlah kuasa hukum dari LBH AMBS.

“Dengan dasar surat kuasa dari warga Desa Citeko, kami AMBS siap mengawal, mendampingi, dan membela masyarakat. AMBS bakal menindaklanjuti dengan bersurat keberatan atau penolakan pembangunan BTS ke provider, Camat, Pemkab, serta bakal mengadukan ke Ombudsman,” kata Ketua AMBS, Muhsin, SH.

Sekjen AMBS, Ajet Basuni, menjelaskan, proses pembangunan BTS di Desa Citeko telah melanggar sederet peraturan hukum, antara lain UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi di mana pembangunan wajib memerhatikan tata ruang dan lingkungan, Perda RTRW, Permen Kominfo No 2/2021 dimana wajib ada persetujuan warga sekitar dalam radius tertentu, serta UU No 32/2009 tentang lingkungan.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Citeko, H Anwar, memaparkan bahwa terdapat ketidaksesuaian izin lokasi di mana persetujuan warga tercatat di wilayah RW 08
sedangkan pembangunan fisik dilakukan di RT 01/02 RW 06.

Kedua, pembangunan BTS belum mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan ketiga, tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat dari pihak perusahaan maupun instansi terkait sehingga menimbulkan keresahan dan kekutiran akan dampak keselamatan serta lingkungan.

“Kami menyayangkan karena dalam prosesnya ada intimidasi ke Ketua RT dan RW serta ke warga yang ikut demonstrasi diancam tidak cair bansosnya,” ungkap H Anwar.

** Dadang Supriatna

Bangun Kesadaran Masyarakat Deteksi Dini Penyakit, RSUD R Moh Noh Nur Cek Kesehatan Gratis di CFD

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
RSUD R. Moh. Noh. Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor kembali menggelar kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kepada masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan disambut antusias oleh warga yang memanfaatkan momen Car Free Day untuk memeriksakan kesehatannya pada pukul 06.00 WIB, Minggu, 19 April 2026.

Kegiatan ini turut melibatkan berbagai fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama dan organisasi profesi, yakni Puskesmas Nanggung, Puskesmas Sukajaya, Puskesmas Dago, Puskesmas Parung Panjang, serta Ikatan Dokter Indonesia sebagai bentuk sinergi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diberikan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis, mulai dari pengecekan tekanan darah hingga skrining kondisi kesehatan dasar lainnya. Tercatat sebanyak 52 orang mengikuti pemeriksaan, terdiri dari 21 pasien laki-laki dan 31 pasien perempuan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini terhadap risiko penyakit.

Direktur RSUD R. Moh. Noh. Nur, dr. Vitrie Winastri, S.H., M.A.R.S., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kehadiran rumah sakit di tengah masyarakat. “Kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap pemeriksaan kesehatan, sehingga potensi penyakit dapat diketahui lebih awal dan ditangani dengan tepat,” ujarnya.

Kegiatan CKG ini juga menjadi sarana edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan secara rutin, terutama di tengah meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Warga yang hadir tidak hanya mendapatkan layanan pemeriksaan, tetapi juga informasi terkait pola hidup sehat.

Melalui kegiatan ini, RSUD R. Moh. Noh. Nur berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan semakin meningkat, sekaligus menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus hadir lebih dekat dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kabupaten Bogor.

(yev/cc)

Kondisi Rumah Tidak Layak Huni Sahari dan Asep di Sukaluyu Nanggung Terabaikan

0

Nanggung | Jurnal Bogor
Rumah tidak layak huni (RTLH) milik Sahari (65) dan Asep (55), warga Kampung Legok Jambu, RT 01 RW 03, Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, hingga kini masih luput dari perhatian pemerintah desa setempat. Padahal, kondisi tempat tinggal Sahari sudah lama memprihatinkan dan sangat layak mendapatkan bantuan program RTLH.

Rumah yang ditempati Sahari dan Asep tampak jauh dari kata layak. Bangunan rapuh, fasilitas minim, dan kedua warga ini diketahui hidup dalam keterbatasan ekonomi yang tergolong miskin ekstrem. Namun ironisnya, hingga saat ini belum ada bantuan nyata yang mereka terima.

Saat dikonfirmasi, Sahari dan Asep berharap Pemerintah Desa Sukaluyu segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi, memperbaiki sistem pendataan warga miskin, serta mengambil langkah konkret agar bantuan RTLH benar-benar tepat sasaran.

“Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini. Dinding miring, atap bocor tiap hujan. Tiap tahun liat tetangga dapat bantuan, saya mah cuma bisa pasrah. Saya hanya minta didata ulang sama pak RT dan pak RW. Siapa tahu masih ada rezeki untuk rumah saya,” ujar Sahari pada Senin (20/4/2026).

RTLH Sahari

Pemerintah desa diharapkan hadir sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, khususnya bagi warga yang berada dalam kondisi paling rentan dan membutuhkan perhatian serius dari negara.

“Kami tidak minta mewah. Cukup rumah yang layak untuk berteduh. Saya berharap pemerintah desa ke sini lihat langsung kondisi rumah kami,” tandasnya.

** Rahman Efendi

Dedie Rachim Usulkan Moratorium Angkot Kabupaten ke Dishub Jabar

0

Angkutan kota (angkot) dari Kabupaten Bogor dan sebagian kecil dari Kabupaten Sukabumi masuk ke wilayah Kota Bogor. Kondisi ini menjadi masalah tersendiri bagi Kota Bogor, yakni memperparah kepadatan lalu lintas.

Bagi warga Cisarua, Megamendung keberadaan angkot 02A jurusan Cisarua-Sukasari sangat menguntungkan. Begitu juga untuk warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi, angkot jurusan Cicurug-Sukasari sangat membantu aktivitas warga menuju Kota Bogor. Namun saat ini, keberadaan ini menambah padat lalu lintas di Kota Bogor.

Terlebih pada akhir pekan, kondisi lalu lintas di Kota Bogor semakin padat seiring dengan masuknya kendaraan pribadi dari luar Bogor.

Untuk itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengusulkan moratorium angkot kabupaten sebagai langkah penataan transportasi umum.

Dedie mengungkapkan, usulan moratorium tersebut telah disampaikan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, kebijakan ini penting agar jumlah angkot tidak terus bertambah.

“Kalau moratorium, tidak ada penambahan lagi. Saat ini saja jumlah angkot sudah mencapai 6 sampai 7 ribu unit,” ujar Dedie, Senin (13/4) lalu.

Ia berharap, Dishub Jawa Barat dapat lebih fokus pada penataan angkot kabupaten yang sudah beroperasi, bukan justru menambah izin baru.

“Jangan ditambah lagi izin-izin baru. Itu yang harus dikendalikan,” tegasnya.

Dedie menilai, penataan angkot kabupaten perlu segera dilakukan agar sejalan dengan kebijakan di Kota Bogor. Saat ini, Pemkot Bogor telah menerapkan pembatasan usia teknis angkot maksimal 20 tahun, sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 8 Tahun 2023.

“Jangan sampai angkot di Kota Bogor sudah ditata, tapi dari luar masih bebas masuk. Ini jadi bertolak belakang,” jelasnya.

Ia memastikan koordinasi lintas instansi terus berjalan, melibatkan Dishub Kabupaten Bogor, Dishub Kabupaten Sukabumi, Dishub Jawa Barat, dan Dishub Kota Bogor.

Keberadaan angkot kabupaten yang masuk ke Kota Bogor dinilai menjadi salah satu penyebab kepadatan jalan. Keluhan pun datang dari masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.

Sebelumnya, Dedie juga mengusulkan skema rerouting atau pengaturan ulang trayek angkot dari luar daerah. Berdasarkan data, jumlah angkot lokal di Kota Bogor kini tersisa sekitar 2.500 unit dari sebelumnya 3.800 unit. Sementara itu, angkot dari Kabupaten Bogor mencapai sekitar 6.000 unit.

Dalam skema tersebut, angkot dari arah Leuwiliang hanya beroperasi sampai Bubulak. Selanjutnya, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan Biskita Transpakuan.

Hal serupa juga direncanakan untuk angkot dari Cisarua, Cibedug (Kabupaten Bogor dan Cicurug (Kabupaten Sukabumi) yang cukup berhenti di Ciawi, tanpa masuk hingga pusat kota seperti Pasar Bogor.

“Ke depan, ketika jalur R3 selesai, kita siapkan kantong angkot. Untuk masuk Kota Bogor, masyarakat bisa beralih ke Biskita,” katanya.

Selain Latihan Fisik, Pesilat PSHT Diajarkan Ketuhanan

0

Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Puluhan pesilat yang tergabung di perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Batutulis, Nanggung, Kabupaten Bogor diajarkan ketuhanan. Nilai- nilai spiritual itu penting untuk memberikan makna, tujuan hidup, dan ketenangan batin, serta meningkatkan kesehatan mental dan keseimbangan emosional.

‎”Latihan silat, selain fisik tentu mereka juga perlu dibina dan diajarkan nilai- nilai spiritual,” kata salah satu pelatih silat Rena Zaqiah kepada Jurnal Bogor, Minggu (19/4/2026).

‎Dengan memiliki spiritual, akan lahir rasa kasih sayang antarsesama. ‎Hal ini pengamalan dari perguruan silat PSHT agar tidak disalahgunakan apalagi berbuat tercela.

‎Bahkan pencak silat tidak hanya fokus pada pembelajaran fisik, melainkan mereka juga diajarkan untuk memperkuat kerohanian.

‎‎Koordinator Olahraga Kecamatan (KOK) Nanggung termasuk pihak PT Antam mengapresiasi latihan pencak silat yang telah berlangsung selama enam bulan di Batutulis.

‎”Pencak silat mesti menjadi perhatian serius yang harus terus dikembangkan,” ujar manajer CSR PT Antam Arif Rahman Soleh.

** Arip Ekon

Lima Kampung di Rengasjajar Terendam Banjir

0

Cigudeg l Jurnal Bogor
‎Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. pada Sabtu (18/4/2026) malam, menyebabkan banjir di Desa Rengasjajar. Sedikitnya lima kampung dilaporkan terendam akibat meluapnya aliran sungai di sekitar permukiman warga.

‎Wilayah terdampak meliputi Kampung Kadaung, Pasir Sereh, Lebakwangi Hilir, hingga Kampung Lebakwangi Girang. Air yang meluap dengan cepat menggenangi rumah warga setelah sungai tidak lagi mampu menampung debit air hujan.

‎Dalam video yang beredar, terlihat air mengalir deras dan merendam permukiman warga. Ketinggian air di sejumlah titik bahkan mencapai pinggang orang dewasa.

‎Salah satu warga Kampung Kadaung, Sahyani, mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang miliknya saat banjir datang. Ia mengatakan, saat kejadian dirinya tengah membantu warga lain.

‎“Baju dan segalanya habis terendam. Saya tidak keburu mengangkat barang karena sedang membantu warga lain saat awal banjir datang. Begitu pulang ke rumah, air sudah sepinggang,” ujarnya.

‎Akibat banjir tersebut, sejumlah warga terpaksa mengungsi ke aula Masjid Al-Bashriyah karena rumah mereka tidak lagi layak ditempati untuk sementara waktu.

‎Meski tidak ada laporan korban jiwa, kerugian materiel diperkirakan cukup besar. Hingga saat ini, jumlah pasti rumah terdampak masih dalam pendataan oleh pihak terkait.

‎Sementara itu, Puskesmas Lebakwangi menyatakan kesiapsiagaan penuh selama 24 jam guna mengantisipasi dampak kesehatan pascabanjir bagi warga terdampak.

** Arip Ekon

Cisarua Darurat Resapan Air

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Wilayah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor membutuhkan area resapan air. Pasalnya, terus bertambahnya bangunan di wilayah Cisarua, mulai dari pembangunan vila, rumah penduduk, dan perumahan berbentuk kavling menjadikan area terbuka hijau di kawasan tersebut kini semakin berkurang.

Pesawahan dan perkebunan terus mengalami perubahan yang cukup pesat. Hal ini menjadikan iklim di kawasan Cisarua tidak sejuk lagi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari UPT Tata Bangunan Ciawi, sekitar seribu unit merupakan bangunan liar dan bangunan yang melanggar peraturan tanpa IMB. Bangunan-bangunan tersebut khususnya yang sudah terbukti melanggar aturan, merupakan milik warga Jakarta.

Kepala UPT Tata Bangunan Ciawi Agung Tarmedi menyatakan, kondisi bangunan yang dinilai melanggar itu datanya sudah dilimpahkan ke Satpol PP Kabupaten Bogor.

“Pembangunan di kawasan Puncak terus mengalami perubahan. Areal pesawahan kini menjadi pemukiman. Dari sebagian bangunan, hasil dari pemantauan petugas kami di lapangan, terdapat sekitar 1000 bangunan dinyatakan melanggar aturan. Pelanggarannya, mulai dari tidak memiliki IMB hingga pelanggaran lainnya. Dan data tersebut sudah kami limpahkan ke Satuan Pol PP Kabupaten Bogor, ” tandasnya.

Dampak dari gencarnya pembangunan itu pantauan di beberapa desa, seperti di Kampung Ciburial Tugu Utara, Lewimalang dan di Kelurahan Cisarua, jika turun hujan kawasan tersebut kini selalu kebanjiran.

“Hujan sebentar saja volume air di parit-parit jalan terlihat sangat besar. Bahkan perkampungan warga yang berada di Gangg Arayak Kelurahan Cisarua jika turun hujan selalu kebanjiran. Ini akibat saluran air tidak bisa lagi menampungnya,” pungkas Herul, warga Cisarua.

** Dadang Supriatna