28.2 C
Bogor
Saturday, July 4, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

DT Peduli dan Kampoong Ecopreneur Bersinergi Bangun Asrama Santri dan Dorong Ekspor Ubi

0

Bogor | Jurnal Bogor– Yayasan DT Peduli menyalurkan bantuan senilai Rp 973 juta untuk mendukung program ekspor ubi ungu petani Leuwisadeng sekaligus pembangunan asrama santri di Kampoong Ecopreneur, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Penyaluran bantuan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Executive Director DT Peduli, Jajang Nurjaman, dan Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, pada Kamis (2/7/2026).

Kerja sama tersebut mencakup pembangunan Asrama Tahfiz Al-Qur’an serta pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Asrama ditargetkan mulai beroperasi sebagai pusat pendidikan pada November 2026.

Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, mengatakan cita-cita besar yang tengah diwujudkan melalui kawasan tersebut adalah konsep “One Family One Ecopreneur”, yakni setiap keluarga memiliki satu wirausahawan berbasis ekologi.

“Kami ingin mewujudkan konsep One Family One Ecopreneur, yaitu satu keluarga memiliki satu entrepreneur berbasis ekologi,” ujar Jamil.

Acara penandatanganan kerja sama turut dihadiri Ketua Yayasan DT Peduli M. Bascharul Asana, Director of Impact & Civilization DT Peduli Fahrizal Amir, Head of Division Impact & Civilization Dede Sugih Hartono, serta jajaran pengurus dari kedua lembaga.

Jamil menjelaskan, Kampoong Ecopreneur mulai mengelola lahan seluas 1,7 hektare di Leuwisadeng sejak Desember 2025. Kawasan tersebut dipersiapkan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat sekaligus pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan kewirausahaan.

Saat ini, pembangunan asrama santri terus berjalan, sementara aula sementara untuk kegiatan pendidikan dan pertemuan telah selesai dibangun.

“Bantuan dari DT Peduli ini akan mempercepat pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dan kegiatan pembelajaran bagi para santri,” katanya.

Salah satu program unggulan yang tengah dikembangkan adalah budidaya ubi ungu bersama petani lokal. Hasil panen petani akan ditampung oleh Kampoong Ecopreneur dan direncanakan diekspor ke Singapura serta Malaysia.

“Kami berharap Leuwisadeng ke depan dikenal sebagai salah satu sentra ekspor ubi ungu,” ujar Jamil.

Ia menilai kolaborasi dengan DT Peduli merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan penguatan nilai-nilai spiritual.

Sementara itu, Executive Director DT Peduli, Jajang Nurjaman, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari upaya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang juga memiliki kemandirian ekonomi.

Ia berharap program pemberdayaan yang dijalankan di Kampoong Ecopreneur mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Leuwisadeng. Jajang juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah mendukung terlaksananya program tersebut.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Director of Impact & Civilization DT Peduli, Fahrizal Amir. Menurutnya, kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan santri yang tidak hanya unggul dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha.

“Harapannya, para santri nantinya menjadi agen perubahan yang mampu memberdayakan masyarakat melalui keterampilan bisnis yang mereka miliki,” kata Fahrizal.

Melalui kerja sama ini, DT Peduli dan Kampoong Ecopreneur berharap Leuwisadeng dapat berkembang menjadi kawasan percontohan pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan Qur’ani, kewirausahaan, dan ekonomi komunitas.

Bangun Jiwa Kepemimpinan, MTs dan MA Daarul Muhajirin Gelar LDKS 2026

0

Bogor | Jurnal Bogor
MTs dan MA Daarul Muhajirin sukses menyelenggarakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Tahun 2026 yang berlangsung pada 29–30 Juni 2026 di Gaza Stable Loji, Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Kegiatan yang mengusung tema “Syubbānul Yaum Rijālul Ghad” yang berarti “Pemuda Hari Ini adalah Pemimpin di Masa Depan” ini resmi dibuka pada Senin (29/6/2026) sebagai upaya membentuk generasi muda yang berjiwa pemimpin, berkarakter, dan berakhlakul karimah.

LDKS merupakan program pembinaan karakter yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, memiliki kemampuan berorganisasi, serta berakhlakul karimah sebagai bekal menjadi pemimpin di masa depan.

Sebanyak 49 peserta yang terdiri atas pengurus OSIS serta siswa kelas VIII, IX, X, dan XI mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi oleh kepala madrasah, dewan guru, pembina OSIS, panitia, serta para pemateri dan instruktur.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan karakter, keterampilan kepemimpinan, serta wawasan kebangsaan. Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pembukaan, dilanjutkan penyampaian materi kepemimpinan, wawasan kebangsaan, Peraturan Baris Berbaris (PBB), materi organisasi, pelatihan berkuda, leadership games, pengajian malam, renungan, senam pagi, tracking, api unggun dan malam keakraban, hingga ditutup dengan apel penutupan.

Melalui perpaduan antara teori, praktik lapangan, dan pembinaan berbasis nilai-nilai keislaman, peserta tidak hanya dibekali kemampuan memimpin, tetapi juga dilatih menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, komunikatif, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap sesama.

Kepala MTs Daarul Muhajirin, Muhammad Sulthan Alfadly Thalabi, S.Pd.Gr., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, pembina, pemateri, dewan guru, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, pembina, pemateri, dewan guru, serta semua pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan.”

Beliau juga mengungkapkan rasa bangga atas semangat, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang ditunjukkan para peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Kepada seluruh peserta, saya bangga atas semangat, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang telah ditunjukkan selama mengikuti LDKS. Jadikan pengalaman ini sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan siap menjadi pemimpin.”

Lebih lanjut, beliau berharap tema “Syubbānul Yaum Rijālul Ghad” tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi motivasi bagi seluruh peserta untuk terus belajar, berproses, dan memberikan teladan yang baik di lingkungan madrasah maupun masyarakat.

“Saya berharap LDKS ini dapat menjadi program tahunan yang terus melahirkan generasi pemimpin yang berilmu, berakhlakul karimah, dan siap mengabdi untuk agama, bangsa, dan masyarakat.”

Melalui kegiatan ini, MTs dan MA Daarul Muhajirin menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program pembinaan yang mampu mencetak generasi muda yang unggul, berintegritas, dan berjiwa kepemimpinan. Diharapkan seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama LDKS dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh menjadi pemimpin yang siap memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

(istikhoriyah aulia putri/cc)

Belanja Alat Kantor DPMD Bogor Rp4,2 Miliar Disorot, Dinilai Abaikan Kebutuhan Desa

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Anggaran belanja modal alat kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bogor senilai Rp4.242.680.006 menuai sorotan tajam. Pasalnya, anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan barang seperti videotron, CCTV, handy talky, dan rack audio, di tengah masih banyaknya kebutuhan desa yang dinilai jauh lebih mendesak.

Sorotan datang dari Korps Brigade GPII Bogor. Komandan Brigade GPII Bogor, Ardi Yansah, menilai kebijakan belanja miliaran rupiah tersebut menunjukkan arah anggaran yang patut dipertanyakan.

“DPMD seharusnya menjadi ujung tombak pemberdayaan desa, bukan justru sibuk mengalokasikan anggaran besar untuk pengadaan alat kantor yang urgensinya dipertanyakan. Di tengah banyak desa yang masih membutuhkan penguatan kapasitas aparatur, pemberdayaan UMKM, pendampingan program, hingga sarana dasar, belanja seperti ini jelas menimbulkan tanda tanya besar,” ujar Ardi Yansah, Kamis (2/7/2026).

Menurut Ardi, persoalan utama bukan semata pada besaran angka anggaran, melainkan pada kepekaan pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas belanja. Ia menilai publik berhak mempertanyakan urgensi pengadaan videotron, CCTV, handy talky, dan rack audio di tubuh DPMD dibandingkan dengan berbagai kebutuhan desa yang belum terselesaikan.

“Kalau bicara substansi, apa urgensi videotron, CCTV, handy talky, dan rack audio bagi DPMD sampai harus menghabiskan anggaran lebih dari Rp4,2 miliar? Fungsi utama DPMD itu memperkuat tata kelola pemerintahan desa, mendorong pemberdayaan ekonomi desa, dan menyelesaikan persoalan masyarakat di tingkat bawah. Sangat wajar kalau publik menilai belanja ini lebih dekat pada pemborosan birokrasi ketimbang keberpihakan terhadap desa,” tegasnya.

Ardi juga menyoroti lemahnya dasar perencanaan apabila pengadaan tersebut tidak disusun melalui kajian kebutuhan yang matang, analisis manfaat terukur, dan argumentasi programatik yang rasional.

“Belanja sebesar ini tidak boleh hanya dibungkus alasan sarana penunjang kerja. Harus jelas apa urgensinya, manfaat langsung bagi desa, dan indikator keberhasilannya. Jika tidak ada dasar kebutuhan yang kuat, ini berpotensi menjadi potret buruk tata kelola anggaran: besar nilainya, lemah urgensinya, dan minim dampak langsung untuk masyarakat desa,” ujar Ardi.

Korps Brigade GPII Bogor mendesak DPMD Kabupaten Bogor untuk membuka secara transparan dasar pengadaan tersebut kepada publik, mulai dari kajian kebutuhan, perhitungan kewajaran harga, spesifikasi barang, hingga manfaat programatik dari belanja alat kantor tersebut.

“Transparansi itu wajib. DPMD harus menjelaskan secara terbuka kepada publik, apa dasar kebutuhan pengadaan ini, siapa yang menyusun kajiannya, bagaimana hitungan kewajaran harganya, dan apa dampak konkretnya terhadap desa. Tanpa keterbukaan, publik akan melihat ini sebagai kebijakan yang problematik dan sarat tanda tanya,” ucapnya.

Tak hanya itu, Ardi juga meminta aparat penegak hukum dan lembaga pengawas untuk memberi perhatian serius terhadap belanja tersebut, terutama pada aspek perencanaan, kebutuhan, kewajaran harga, dan potensi pemborosan anggaran.

“Pengawasan jangan menunggu masalah meledak setelah uang rakyat dibelanjakan. Harus ditelusuri sejak tahap perencanaan dan penganggaran, supaya potensi penyimpangan bisa dicegah sejak awal. Kabupaten Bogor tidak membutuhkan anggaran yang habis untuk proyek-proyek miskin urgensi, sementara kebutuhan mendesak desa justru terabaikan,” pungkasnya.

(rahman)

SDN Cadas Leeur Nyaris Ambruk

0

Murid dan Guru Sering Tertimpa Material Genteng dan Plafon

‎‎Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Sejumlah guru dan murid dihantui ketakutan dan sering tertimpa reruntuhan material akibat gedung SDN Cadas Leueur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor nyaris ambruk.‎

‎Kepala SDN Cadas Leueur Hj. Juhaeriyah mengaku,  melihat kondisi sekolahnya yang sudah bertahun tahun sudah tak layak karena mengalami kerusakan yang sangat  berat.‎

‎”Hampir seluruh bangunan sekolah itu lapuk dan sangat membahayakan. Bahkan sejumlah guru dan murid seringkali tertimpa material genteng dan plafon,” kata Kepala Sekolah SDN Cadas Leueur Hj Juhaeriyah kepada Jurnal Bogor, Kamis (2/6/2026).‎

‎Menurutnya, kondisi sekolah tak layak dan sudah lama tidak berfungsi karena hampir seluruh  bangunan sekolah itu lapuk termakan usia. Dia pun meminta Bupati Bogor segera turun tangan untuk melihat kondisi bangunan SDN Cadas Leueur yang sudah lama tak layak itu.‎

‎”Kami harap  Bupati Bogor pak Rudy Susmanto  segera turun tangan, karena keadaan gedung SDN Cadas Leueur kerusakannya cukup parah dibanding gedung SDN Ciketug di Desa Pangkaljaya lingkup Kecamatan Nanggung yang belum lama ambruk,” harapnya.‎

‎Padahal kata dia, gedung SDN Ciketug yang ambruk itu, sepengetahuannya jsutru gedung SDN Cadas Leueur kerusakannya itu lebih parah dari sekolah SDN Ciketug.‎

‎Juhaeriyah menyebutkan, setiap tahunnya SDN Cadas Leueur diusulkan melalui desa hingga Kecamatan Nanggung, bahkan  ke Dinas Pendidikan maupun ke Bappeda Litbang untuk pengajuan pembangunan SDN Cadas Leueur.‎

‎”‎Pengajuan pembangunan SDN Cadas Leueur sudah ditemouh, sudah kemana -kemana. Namun, alasannya hanya  efesiensi anggaran dan efesiensi anggaran. Masalahnya ruang guru dan ruang kepala sekolah termasuk  dua ruang  kelas sudah tak layak,” jelasnya.‎

‎Dua ruang kelas itu kata dia sudah lama tak digunakan karena kondisinya sangat  membahayakan sehingga dengan terpaksa ratusan siswa menggunakan tiga ruang belajar yang dibagi dua shift.‎

‎‎Sementara Sekretaris Desa Bantarkaret H Sastra membenarkan kondisi sekolah SDN Cadas Leueur yang kerusakan sangat parah itu setiap tahunnya diusulkan pembangunannya.‎

‎”‎Setiap tahunnya diusulkan, namun hingga kini SDN Cadas Leueur masih dibiarkan rusak,” kata dia.

(Arip Ekon)

Layanan Kehati tak Respons Aduan Warga

0

Bogor | Jurnal Bogor
Layanan Kehati (Keanekaragaman Hayati) dikeluhkan warga Bogor, Reza Indragiri Amriel yang mengirimkan aduan adanya monyet dan burung merak yang tampak diperlakukan tidak semestinya.

“Sudah lebih dari 10 hari sejak saya mengirim informasi monyet dan burung merak tetap berada dalam perlakuan yang tidak semestinya di tempat mereka masing-masing,” kata Reza Indragiri Amriel dalam keterangannya, Kamis (1/7/2026).

Dalam laporan via chat What’s App aduan di nomor 085219807100, Reza mengirimkan kondisi monyet yang terikat di pohon lengkap dengan maps lokasi hewan tersebut, begitu juga dengan kondisi burung merak yang berada dalam sangkar. Reza menyayangkan Layanan Kehati tak merespons.

“Sampai hari ini, jangankan ditindaklanjuti, sebatas membalas WA pun tidak mereka lakukan. Kasihan satwa-satwa yang butuh bantuan,” ungkap Reza.

Seperti diketahui larangan memperlakukan tidak semestinya perihal satwa ini tertuang dalam Pasal 302 dan 540 KUHP yang melarang keras penganiayaan, penelantaran, dan penyiksaan hewan. Lalu  Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 yang mengatur tentang Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare), di mana hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut, dan bebas mengekspresikan perilaku alami.

(yev/cc)

Seren Taun Lembur Cigoong Kembali Digelar, Lestarikan Warisan Budaya Sunda

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor – Tradisi budaya Seren Taun Lembur Cigoong kembali digelar dengan meriah di Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7/2026). Mengusung tema “Maju Saparakanca, Nanjeurkeun Adat Dina Nyungsi Amparan Karahayuan”, kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat sekaligus komitmen melestarikan adat dan budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan tahunan tersebut dikemas dengan nuansa kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai sejarah dan budaya Sunda. Selain prosesi adat dan arak-arakan Dongdang sebagai simbol rasa syukur masyarakat, acara juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan permainan tradisional yang melibatkan berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Kepala Desa Puraseda, Asep Ruhiyat, mengatakan Seren Taun merupakan momentum penting bagi masyarakat untuk menjaga sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.

“Seren Taun Lembur Cigoong ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus upaya kita bersama dalam menjaga dan melestarikan adat budaya yang telah diwariskan para leluhur. Tema yang diusung memiliki makna bahwa kita ingin terus maju bersama, memperkuat kebersamaan, serta menjaga nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Desa Puraseda,” ujar Asep.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Seren Taun tidak lepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, panitia, dan berbagai pihak yang turut berkontribusi.

“Selain prosesi adat dan Dongdang, kami juga menghadirkan permainan tradisional agar generasi muda dapat mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Harapan kami, Seren Taun bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi wadah mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian budaya Sunda,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut hadir sejumlah tamu undangan, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Bogor, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PAN, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta unsur pemerintahan lainnya yang turut menyaksikan jalannya prosesi adat.

Sementara itu, Kasepuhan Cigoong, Abah Sarji, menegaskan bahwa Seren Taun merupakan tradisi turun-temurun yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat.

“Seren Taun bukan sekadar acara budaya, tetapi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil yang diberikan, sekaligus menjaga hubungan antara manusia, alam, dan adat yang menjadi pegangan masyarakat selama ini,” tuturnya.

Ia berharap generasi muda terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

“Adat harus terus dijaga karena di dalamnya terdapat pesan kebersamaan, gotong royong, dan saling menghormati. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya Seren Taun Lembur Cigoong. Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi warisan budaya yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya.

Seren Taun Lembur Cigoong menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Desa Puraseda masih memegang teguh nilai adat, budaya, dan kebersamaan. Tradisi ini diharapkan terus menjadi identitas masyarakat sekaligus ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah dan adat istiadat daerahnya. Arip Ekon

Cinta Quran Foundation dan RSI Bogor Berkolaborasi Bangun RS Berbasis Wakaf Produktif

0

Bogor | Jurnal Bogor – Cinta Quran Foundation dan Rumah Sakit Islam (RSI) Bogor resmi berkolaborasi mengembangkan fasilitas kesehatan berbasis wakaf produktif. Sinergi ini diumumkan bertepatan dengan momentum menyambut Tahun Baru Islam, Hari Jadi Bogor (HJB) sekaligus milad RSI Bogor, Rabu (1/7/2026).

Dewan Pembina Cinta Quran Foundation sekaligus Wakil Ketua Yayasan RSI Bogor, Ustadz Fatih Karim mengatakan bahwa integrasi ini mengubah model pelayanan rumah sakit. RSI Bogor kini menekankan sistem layanan kelas dhuafa dan premium.

Menurutnya, kelas premium dirancang bukan untuk menumpuk profit. Keuntungan bersih dari layanan tersebut akan dialirkan untuk membiayai operasional medis pasien dhuafa.

“Bukan untuk tujuan bisnis, tapi karena ini adalah wakaf atau wakaf produktif, revenue yang nanti masuk dari kelas premiumnya itu sendiri akan digunakan sebagai bantuan kepada masyarakat-masyarakat dengan kelas ekonomi yang lebih rendah,” kata Ustadz Fatih Karim.

Cinta Quran Foundation juga menyerahkan dana zakat kepada Rumah Sakit Islam (RSI) Bogor secara simbolis sebagai bentuk dukungan terhadap program bantuan biaya pengobatan bagi para mustahik. Penyaluran ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan agar memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih baik.

Langkah strategis ini hadir sebagai solusi atas tingginya kebutuhan akses kesehatan. Integrasi RSI Bogor ke jaringan Cinta Quran Foundation memastikan layanan medis di kedua kelas tetap bermutu tinggi tanpa membedakan status sosial pasien.

Sebelumnya, Cinta Quran Foundation telah menjalankan berbagai program di bidang kesehatan, di antaranya melalui Rumah Singgah Al Fatih dan Apotek Berkah Berjamaah di Bandung. Sinergi dengan RSI Bogor diharapkan semakin memperluas akses bantuan kesehatan bagi masyarakat.

Ustadz Fatih Karim melanjutkan, sistem rumah sakit berbasis wakaf diharapkan menjadi contoh nasional dalam mengelola aset umat. Sinergi ini juga diyakini mempercepat pembangunan fasilitas dan penyediaan alat medis agar pelayanan kesehatan di Bogor bisa lebih baik.

“Insya Allah, integrasi Cinta Quran Foundation memastikan aset umat akan dikelola secara profesional dan transparan, sebagaimana kami mengelola aset mat lainnya,” imbuhnya. (*)

Audiensi dengan Komisi V DPRD, BMPS Jabar Sampaikan Delapan Catatan Strategis

0

Bandung | Jurnal Bogor – Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Jawa Barat menggelar audiensi dengan Komisi V DPRD Jawa Barat, Selasa (30/6//2026) guna membahas berbagai persoalan pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan keberlangsungan sekolah swasta, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), serta kebijakan bantuan pendidikan.

Pertemuan berlangsung dalam suasana konstruktif dan penuh semangat untuk menjaga kualitas pendidikan di Jawa Barat. Kedua belah pihak sepakat bahwa penyelesaian persoalan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kebijakan yang bersifat sesaat atau viral, tetapi harus mampu menjaga ekosistem pendidikan secara menyeluruh tanpa merugikan pihak mana pun.

Dalam paparannya, Ketua BMPS Jawa Barat menyampaikan besarnya kontribusi sekolah swasta terhadap pemerataan akses pendidikan di Jawa Barat dengan didukung data dan fakta yang komprehensif.

BMPS menyampaikan sejumlah catatan strategis kepada Komisi V DPRD Jawa Barat. Di antaranya, kegaduhan dalam pelaksanaan SPMB dinilai tidak akan terjadi apabila pemerintah provinsi sejak awal melibatkan penyelenggara sekolah swasta yang bernaung di bawah BMPS dalam proses penyusunan kebijakan.

Selain itu, BMPS mempertanyakan keberlanjutan pendanaan program bantuan bagi sekolah swasta mengingat keterbatasan kemampuan fiskal APBD Jawa Barat. Menurut BMPS, perlu adanya kepastian agar program bantuan dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan persoalan baru.

BMPS juga menyoroti program Satuan Subsidi Pendidikan Khusus (SSK) yang saat ini hanya menyasar siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. Padahal, banyak peserta didik yang sejak awal memilih langsung mendaftar ke sekolah swasta karena berbagai pertimbangan, sehingga dinilai perlu mendapatkan perhatian yang sama.

Sorotan lainnya adalah pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) dan penambahan jumlah siswa dalam satu rombongan belajar di sekolah negeri yang dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan sekolah swasta. BMPS menilai kondisi tersebut dapat diminimalkan apabila pemerintah melibatkan organisasi penyelenggara sekolah sejak tahap perencanaan.

BMPS juga mengingatkan pentingnya melibatkan yayasan atau penyelenggara sekolah dalam setiap kebijakan maupun penandatanganan program bantuan. Selama ini, menurut BMPS, pemerintah lebih banyak berkoordinasi dengan kepala sekolah, padahal kepala sekolah dapat berganti sewaktu-waktu, sedangkan yayasan merupakan pihak yang bertanggung jawab atas keberlangsungan lembaga pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, BMPS menegaskan bahwa tingginya angka putus sekolah di Jawa Barat tidak dapat diselesaikan melalui solusi jangka pendek. Persoalan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial, ekonomi hingga demografi, sehingga diperlukan perencanaan yang matang dengan tetap memperhatikan mutu pendidikan.

BMPS juga menegaskan tidak melarang anggotanya menerima bantuan pemerintah. Namun, organisasi tersebut mempertanyakan kelayakan dan kecukupan besaran bantuan agar benar-benar mampu mendukung operasional sekolah swasta.

Sebagai bentuk dukungan terhadap sekolah swasta, BMPS mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengaktifkan kembali program Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU). Menurut BMPS, program tersebut seharusnya tidak dihapus, bahkan perlu ditingkatkan besarannya sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap kontribusi sekolah swasta dan masyarakat dalam memperluas akses pendidikan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Untung, menyampaikan apresiasi atas data dan masukan yang diberikan BMPS. Ia mengakui peran penting sekolah swasta dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di Jawa Barat serta menilai anggapan bahwa seluruh sekolah swasta berorientasi pada keuntungan merupakan persepsi yang tidak tepat.

Menurutnya, intervensi pemerintah memang diperlukan, namun tidak boleh sampai membatasi partisipasi masyarakat, terlebih apabila nilai bantuan yang diberikan belum mampu memenuhi kebutuhan operasional sekolah swasta.

Terkait program SSK, Untung menilai penyelenggara sekolah perlu dilibatkan secara langsung karena merupakan pemilik lembaga pendidikan. Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah aspek dalam program tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam, termasuk kejelasan hak dan kewajiban penerima bantuan serta mekanisme administrasinya. Selain itu, kebijakan SSK juga masih memerlukan persetujuan DPRD sebelum dapat diberlakukan secara penuh.

Komisi V DPRD Jawa Barat juga mengapresiasi BMPS atas penyampaian data yang dinilai komprehensif terkait pelaksanaan SPMB. Bahkan, DPRD meminta BMPS turut membantu melakukan kajian mengenai risiko implementasi bantuan pendidikan sesuai besaran yang telah dipublikasikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sebagai hasil pertemuan, Ketua Komisi V menyatakan seluruh masukan yang disampaikan BMPS merupakan materi yang sangat berbobot dan dapat menjadi dasar dalam membenahi berbagai persoalan pendidikan di Jawa Barat. DPRD juga berencana mengundang Dinas Pendidikan Jawa Barat setelah proses SPMB selesai agar pembahasan dapat dilakukan tanpa mengganggu pelaksanaan penerimaan peserta didik.

BMPS pun akan kembali diundang untuk memaparkan kondisi riil di lapangan sekaligus menyampaikan hasil kajian risiko terhadap besaran bantuan pendidikan yang direncanakan pemerintah.

Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama dan diskusi lanjutan guna memperkuat sinergi antara BMPS dan DPRD Jawa Barat. Momentum audiensi tersebut dinilai semakin strategis karena berlangsung bersamaan dengan pembahasan Panitia Khusus (Pansus) terkait SPMB dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pendidikan Jawa Barat. Yudi

Liburan Sekolah Lebih Bermakna, 70 Santri Assulukil Huda Antusias Ikuti Fun Learning Week 2026 Secara Gratis

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Liburan sekolah tak selalu identik dengan bermain di rumah atau menghabiskan waktu bersama gawai. Sebanyak 70 santri dari jenjang Playgroup, TK, SD, hingga SMP Assulukil Huda Gunung Putri, Kabupaten Bogor memulai liburan mereka dengan mengikuti Fun Learning Week (Sanlat) 2026, Minggu (28/6/2026).

Program untuk pendidikan karakter dan pengembangan potensi anak ini sejak hari pertama pembukaan, suasana penuh semangat dan keceriaan sudah terasa. Anak-anak tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia, mulai dari pembukaan, perkenalan peserta, permainan edukatif, hingga pembelajaran agama yang dikemas secara menyenangkan.

Ketua Yayasan Assulukil Huda, Ust. H. Iwan Setiawan, S.Pd.I, menyampaikan rasa syukur atas tingginya antusiasme terhadap kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih atas antusiasme yang sangat luar biasa dari Ayah dan Bunda yang telah mempercayakan putra-putrinya mengikuti kegiatan ini. Semoga Sanlat ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengisi liburan dengan aktivitas yang bermanfaat, menambah ilmu, memperkuat akhlak, serta menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan,” jelasnya.

Program Fun Learning Week (Sanlat) 2026 merupakan gagasan sekaligus didukung sepenuhnya oleh Dr. H. Arief Rachadiono Wismansyah, B.Sc., M.Kes., pemilik Yopadel Court & Cafe, Sambal Bakar Indonesia, dan Puri Safana Cikeas. Berkat dukungan tersebut, seluruh rangkaian kegiatan dapat diikuti secara gratis tanpa dipungut biaya, sehingga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas selama masa liburan.

Menurut Dr. Arief, masa liburan sekolah seharusnya tidak menjadi waktu yang terbuang, tetapi menjadi momentum bagi anak-anak untuk tumbuh melalui pengalaman yang positif.

“Saya ingin liburan sekolah menjadi waktu yang bermanfaat bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan. Saya juga ingin menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, seperti memilah sampah organik dan anorganik, membiasakan olahraga setiap hari, serta melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah agar nilai-nilai disiplin, kebersamaan, dan kepedulian tumbuh sejak usia dini,” ungkap Dr. Arief.

Selama delapan hari, para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang memadukan pendidikan agama, pembelajaran akademik, kreativitas, olahraga, hingga pembentukan karakter. Beragam aktivitas telah disiapkan, di antaranya English Fun Class, pembelajaran akidah dan akhlak, membaca Iqra’ dan Al-Qur’an, tahsin, kaligrafi, olahraga pagi setiap hari, permainan edukatif, melukis, cooking class membuat jasuke, praktik mencuci tangan yang benar, edukasi hidup sehat dan bergizi, memasak nasi, menanam sayuran, memberi makan ikan, memilah sampah organik dan anorganik, serta pembiasaan shalat Dzuhur berjamaah.

Tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan keagamaan, program ini juga dirancang untuk melatih kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, kemampuan bekerja sama, kreativitas, serta rasa percaya diri anak melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.

Dengan mengusung konsep “Learn, Play, Create and Grow Together”, Fun Learning Week (Sanlat) 2026 diharapkan menjadi contoh bahwa liburan sekolah dapat diisi dengan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu membentuk generasi yang berakhlak mulia, sehat, peduli lingkungan, kreatif, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.

**istikhoriyah aulia putri/cc

HJB ke-544, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang Partisipasi Budaya di Helaran Bogor dan Edukasi Kesehatan Masyarakat

0

Cibinong | Jurnal Bogor
RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang sukses menuntaskan rangkaian partisipasi aktif dalam kegiatan Pelayanan dan Edukasi Kesehatan dalam program CKG (Cek Kesehatan Gratis) yang diselenggarakan di kawasan Gelora Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Kegiatan yang berlangsung selama 17 hari sejak 29 Mei hingga 14 Juni, dan berakhir pada puncak penutupan Minggu, 28 Juni 2026 ini, menjadi bagian integral dari perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.

Program ini merupakan bentuk nyata sinergi lintas fasilitas pelayanan kesehatan dalam meningkatkan akses layanan bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Selama periode tersebut, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang hadir memberikan edukasi promotif-preventif serta pelayanan kesehatan gratis.

Rangkaian Edukasi dan Pelayanan Spesialis Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi kesehatan bertajuk “Kenali Hipertensi, Cegah Silent Killer” pada Sabtu, 30 Mei 2026, yang disampaikan oleh dr. Kandita Arjani, Sp.JP di Stadion Pakansari (Panggung Stage Udaya).

Memasuki minggu kedua dan ketiga, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang memperluas jangkauan layanan dengan menghadirkan edukasi tematik yang dipadukan dengan konsultasi spesialis:

Rabu, 10 Juni 2026: Edukasi pencegahan dan penanganan Morbili (Campak) pada anak sekaligus menghadirkan dr. Ammar Fauzan Islami, Sp.A untuk memberikan edukasi kesehatan anak yang komprehensif, Sabtu, 13 Juni 2026: Konsultasi kesehatan gigi gratis oleh drg. Try Septian Mustika Saragih yang disambut antusias oleh masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat juga dapat mengakses layanan pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), asam urat, konsultasi dokter umum, serta pelayanan fisioterapi. Tingginya antusiasme terlihat pada pelaksanaan tanggal 7 Juni 2026, di mana tercatat sebanyak 124 kunjungan masyarakat yang memanfaatkan layanan tersebut, mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya deteksi dini.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi strategis dengan berbagai fasilitas kesehatan lain, seperti RSUD Bakti Pajajaran, RSUD RH. Satibi, RSUD DR. K.H. Idham Chalid, serta dukungan dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) dan puskesmas se-Kabupaten Bogor.

Komitmen Humanis dan Pelestarian Budaya Direktur RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, dr. Vitrie Winastri, S.H., M.A.R.S., menegaskan bahwa kehadiran rumah sakit bukan sekadar untuk memberikan layanan medis, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sosial masyarakat Kabupaten Bogor.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen kami dalam mendekatkan akses pelayanan kesehatan. Kami berharap upaya edukasi dan deteksi dini ini dapat terus memperkuat budaya hidup sehat,” ujar dr. Vitrie.

Puncak rangkaian HJB ke-544 ditandai dengan partisipasi RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang dalam perhelatan budaya pada Minggu, 28 Juni 2026, yang meliputi Mapag Pajajaran Anyar: Fashion Ethnic Carnaval serta pemecahan Rekor MURI “Pentas 2.000 Karinding” di Alun-alun Tegar Beriman.

Dalam momentum HJB ke-544 ini, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang mengusung semangat “Anyar Gayana, Panceg Nilaina; Pelayanan Unggul, Humanis, dan Berdaya Saing.” Semangat ini divisualisasikan melalui simbol budaya Sunda seperti Prabu Siliwangi (kepemimpinan visioner), Nyi Pohaci Sanghyang Asri (kesehatan dan kesejahteraan), Maung Bodas (integritas), Paraji (kesehatan ibu dan anak), serta Tabib Kerajaan (sinergi ilmu modern dan kearifan lokal).

Melalui perpaduan teknologi kesehatan dan kearifan lokal, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang berkomitmen untuk terus menjadi pilar kesehatan yang mendukung Kabupaten Bogor yang sehat, kuat, dan sejahtera.

Selamat Hari Jadi Bogor ke-544. Semoga Kabupaten Bogor semakin maju, lestari budayanya, unggul pelayanannya, serta semakin sejahtera masyarakatnya.

(yev/cc)