26.6 C
Bogor
Sunday, February 15, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Posluhdes Tampan Berseri Perkuat Sinergi Petani dan Penyuluh

0

Tamansari | Jurnal Bogor – Pertemuan dan penyuluhan rutin digelar di Posluhdes Tampan Berseri, Desa Tamansari, sebagai sarana memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian di wilayah setempat.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Tamansari Sunandar, Koordinator Penyuluh Pertanian Wilayah VI Muhammad Casroni, seluruh jajaran penyuluh pertanian Wilayah VI, serta para petani Desa Tamansari.

Koordinator Penyuluh Pertanian Wilayah VI, Muhammad Casroni, menyampaikan bahwa pertemuan dan penyuluhan di Posluhdes menjadi wadah penting untuk meningkatkan kapasitas petani, sekaligus memperkuat pendampingan penyuluh di tingkat desa.

Sementara itu, Kepala Desa Tamansari Sunandar mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin bulanan Posluhdes Tamansari yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian.

“Melalui pertemuan rutin ini, para petani dapat menyampaikan berbagai kendala di lapangan, sehingga bisa dicarikan solusi bersama dengan para penyuluh,” ujar Sunandar, Sabtu (14/2/2026).

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi media untuk menggali potensi desa, khususnya di bidang pertanian secara menyeluruh. Ke depan, Pemerintah Desa Tamansari mendorong agar sektor pertanian tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu dikembangkan dari sistem agrokultur menjadi agrobisnis.

“Harapannya, masyarakat tani bisa lebih berdaya dan maju, tidak hanya dalam hal budidaya pertanian, tetapi juga dalam pengelolaan serta pemasaran hasil panen,” pungkasnya. Yudi

Serap Aspirasi Warga, Subhan Datang Semua Beres

0

Bogor | Jurnal Bogor

Anggota DPRD Kota Bogor dari Komisi IV, Subhan, menyoroti carut-marutnya pendataan bantuan sosial bagi masyarakat, khususnya terkait bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Hal ini terungkap saat dirinya melakukan reses di wilayah Cimanggu Kecil, Kecamatan Bogor Tengah.

Subhan menemukan fakta di lapangan bahwa banyak warga yang secara ekonomi layak menerima bantuan, justru terganjal oleh status Desil (tingkat kesejahteraan) yang tinggi dalam sistem data pemerintah.

Menurut Subhan, banyak warga di atas Desil 5 yang secara otomatis tidak mendapatkan PKH, padahal kondisi riil mereka sangat memprihatinkan.

“Yang menarik di hasil reses saya adalah mengenai banyaknya warga yang tidak mendapat bantuan PKH karena secara Desil mereka di atas Desil 5. Padahal, mereka mengaku benar-benar tidak mampu, pekerja lepas, tidak ada indikasi terlibat pinjaman online (pinjol) atau judi online (judol), dan rumahnya pun masih mengontrak,” ujar Subhan.

Ia menambahkan, masalah ini menjadi konsentrasi besar Komisi IV untuk mengevaluasi parameter Desil tersebut. Subhan mempertanyakan mekanisme pendataan yang membuat keluarga dengan beban ekonomi tinggi seperti suami tidak bekerja dan memiliki banyak anak usia sekolah justru dianggap mampu secara sistem.

“Ini tanggung jawab Dinas Sosial untuk membenahi masalah pendataan. Harus ada evaluasi dan verifikasi ulang yang intens agar data Desil ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan,” tegasnya.

Kendala RTLH di Rumah Induk dan PBI BPJS
Selain bansos, Subhan juga menampung keluhan terkait program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Di wilayah tersebut, banyak pengajuan RTLH terkendala status ‘Rumah Induk’ atau rumah warisan yang belum dipecah kepemilikannya.

“Di Cimanggu Kecil ini kendalanya adalah rumah induk. Orang tua sudah meninggal, rumah tidak layak, tapi pengajuannya terhambat. Saya akan dalami ini ke dinas terkait seperti Kesra dan Perkim untuk mencari solusinya,” jelas Subhan.

Masalah kesehatan juga tidak luput dari perhatian. Banyak warga mengeluhkan status PBI (Penerima Bantuan Iuran) BPJS Kesehatan yang tiba-tiba nonaktif tanpa alasan jelas. Terkait hal ini, Subhan memastikan bahwa saat ini sedang dilakukan proses integrasi sistem data agar pelayanan kesehatan masyarakat tidak terganggu.

Antisipasi Reptil dan Infrastruktur
Dalam kegiatan reses tersebut, Subhan juga menggandeng tim BPBD Kota Bogor serta tim ahli penanganan reptil untuk memberikan edukasi kepada warga. Hal ini dilakukan agar masyarakat tahu cara mengantisipasi masuknya hewan liar ke pemukiman.

Di sisi lain, persoalan infrastruktur seperti jalan berlubang dan minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) juga dilaporkan warga. Subhan menyayangkan usulan masyarakat di Musrenbang yang sangat minim terealisasi.

“RW sudah mengajukan lewat Musrenbang, tapi yang di-ACC cuma satu. Masalah PJU yang sudah lama diajukan pun tak kunjung tiba. Ini akan terus kami kawal di DPRD,” tutupnya.

** Fredy Kristianto

Jumsih, Siswa MTs Nurussa’adah Tamansari Bersihkan Lingkungan Sekolah

0

Tamansari | Jurnal Bogor – Siswa-siswi MTs. Nurussa’adah melaksanakan kegiatan Jumat Bersih (Jumsih) di lingkungan sekolah, Jumat. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan nyaman.

Kepala MTs. Nurussa’adah, Nazarudin Usman, mengatakan, kegiatan Jumat Bersih merupakan bagian dari program sekolah yang dilaksanakan melalui bimbingan kelas (BK) dan rutin digelar setiap pekan.

Menurutnya, program tersebut bertujuan menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab peserta didik.

“Setiap pelaksanaan, sebanyak 30 siswa dilibatkan secara bergiliran. Seluruh siswa nantinya akan mendapat jadwal secara merata,” ujarnya, Jum’at, (13/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, para siswa membawa kantong plastik masing-masing untuk memungut sampah, sekaligus menyisir seluruh area lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan rutin ini, pihak sekolah berharap seluruh warga sekolah semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan, sehingga tercipta suasana belajar yang lebih nyaman dan kondusif. Yudi

Ada Ketakutan di SPPG

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Badan Gizi Nasional masih dilanda ketakutan dalam memberikan informasi pelayanan publik. Jangankan memberi informasi terkait sajian menu dan perputaran uang, didatangi sejumlah wartawan, SPPG sudah panik dan berkilah tidak ada di tempat. Jurnal Bogor menyempatkan mengunjungi dua SPPG. SPPG di Kota Depok dan SPPG di Kabupaten Bogor. Kedua SPPG ini melalui para pekerjanya hanya bisa berbincang santai di luar pekerjaan utama di dapur SPPG.

“Situ aja yang ke sini duduknya,” kata wanita yang mengaku bernama Reno berusia 35 tahun dengan nada ketus saat berbincang dengan Jurnal Bogor di SPPG Kampung Cipayung Kelurahan Tengah, Cibinong, Kamis (12/2/2026). Wanita bertubuh agak gemuk berkerudung agak kusut itu disebut pekerja SPPG lainnya sebagai Asisten Lapangan, 2 tingkat di  bawah Kepala Dapur dan Ahli Gizi, meskipun saat dicek tidak ada yang disebut Asisten Lapangan dalam struktur organisasi SPPG.

Berbeda dengan Willy, pria 28 tahun ini bertugas mengantar MBG menggunakan mobil elf ke SDN Cipayung 1 dan 2, Madrasah Al Hidayah, TK Nurul Abror dan menu bagi ibu hamil dan anak balita ke Posyandu yang dititip melalui kelurahan Tengah setiap hari.

“Beda-beda bang jalurnya, kalau saya ke SDN Cipayung 1 dan 2, Al Hidayah, Nurul Abror dan Posyandu. Kalau mobil satu lagi beda lagi tempatnya,” kata Willy dengan santai yang bahkan bersedia difoto setelah bincang santai dengan Jurnal Bogor.

SPPG di Kampung Cipayung Kelurahan Tengah ini tidak diketahui di mana dipasang struktur organisasi yang dapat menerangkan Yayasan dan kepala dapur serta jajaran nama pekerja yang ada. SPPG yang berlokasi di bekas restoran sunda berukuran sangat luas itu, kini sudah disulap jadi SPPG. Nampak jelas bahwa SPPG itu bermodal sangat besar dan dikelola bukan warga biasa yang punya kemampuan ekonomi menengah bawah.

Terpisah, perlakuan berbeda terhadap jurnalis yang datang meliput aktivitas SPPG di wilayah Kota Depok. Salah satunya adalah SPPG yang berlokasi di Gragas Resto and Coffee. Ditemui Wanita yang mengaku bernama Mei mengatakan bahwa kepala SPPG tidak ada di lokasi dan harus membuat surat pengantar seperti layaknya permohonan pembuatan KTP dari ketua RT ke ketua RW untuk disampaikan ke kelurahan.

“Arahan dari BGN lewat zoom meeting, harus ada surat permohonan dulu dari media ke kami baru bisa kami terima dan layani,” kata Wanita itu yang didamping 2 wanita muda lainnya yang juga berkerudung. Namun saat ditanya mana surat dari BGN, wanita itu tidak dapat menunjukannya dan berkukuh harus ada surat untuk berupaya melindungi diri dari cecaran pertanyaan wartawan.

Di struktur organisasi SPPG Cilodong milik Yayasan Yasspira Indonesia Maju ini tidak terdapat nama Mei. Sementara di dapur, nampak sejumlah pekerja sedang sibuk mencuci alat makan yang baru turun dari mobil SPPG. Tak lama kemudian datang satu mobil SPPG membawa alat makan untuk dibersihkan. Kepala SPPG tertulis Bernama M Sholehuddin AA.

Dari dua lokasi SPPG di Kota Depok dan Kabupaten Bogor dapat ditangkap ada nuansa ketakutan saat dikunjungi wartawan. Tak diketahui penyebabnya apa, namun yang pasti para pekerja SPPG rerata berada di usia di bawah 40 tahun bahkan didominasi berusia di bawah 30 tahun. Mereka hanya ingin bekerja dan memiliki penghasilan bulanan meski berstatus relawan.

Saat ditanya akan dapat THR atau tidak dari Yayasan, pria yang mengaku bernama Bois 27 tahun dan mengaku bertugas sebagai petugas keamanan berkata,”Dapat pak, dapat kali?” lalu berseloroh sambil tersenyum perih karena statusnya yang bukan PPPK BGN.n Herry Setiawan

Bencana Banjir dan Angin Ribut Hanya Terjadi Dekat Pusat Kekuasaan

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Bencana banjir dan angin ribut menerjang wilayah Kabupaten Bogor. Petaka tersebut seperti petanda bahwa alam sedang marah. Sebab, peristiwa dahsyat ini hanya terjadi dekat pusat kekuasaan negara dan daerah.

Musibah banjir terjadi di Bojong Koneng, Babakan Madang, tak jauh dari kediaman Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Derasnya arus banjir membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut.Peristiwa itu terjadi pada Rabu (11/2) pukul 16.06 WIB.

Sehari kemudian, pada Kamis (12/2/2026) siang, hujan deras disertai angin puting beliung memporak-porandakan kawasan Stadion Gelora Pakansari, Cibinong. Area ini berada di pusat Ibukota Kabupaten Bogor, yang dekat dengan kediaman Bupati Rudy Susmanto.

Menurut Kyai Haji Nurul Atiq Tadjudin, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Bogor itu bukan klenik, tetapi fakta alam yang sudah bersuara dan menunjukan kekuasaannya. Kata dia, harmoni antara manusia dengan alam ada yang terganggu ,karena keserakahan dan keras kepalanya pejabat dalam menggunakan kewenangan memerintah dan menerbitkan kebijakan.

“Rangkaian bencana alam itu bukan terjadi tanpa sebab, jelas ada yang membuat alam di Bogor murka. Padahal Desa Cijayanti adalah pintu masuk ke kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang. Sementara angin puting beliung yang hanya ada di sekitar Stadion Gelora Pakansari juga jadi petanda alam ke Bupati dan Wakil Bupati Bogor,” kata Kyai Nurul Atiq yang menelepon Jurnal Bogor sesaat setelah terjadi angin puting beliung di Pakansari, Kamis siang (12/2/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren At Taqwa Bekasi ini menceritakan, ada yang salah dalam mengelola kekuasaan di Bogor dan mungkin juga termasuk pemimpin nasional. Padahal, lanjutnya, paku-paku bumi secara spiritual ada di Bogor.

“Orang-orang soleh yang tidak masyhur banyak di Bogor, tapi para penguasanya justru mengundang orang yang dianggap soleh namun punya popularitas dan masyhur di kalangan pejabat dan masyarakat,” ujar Kyai Atiq.

Kyai Atiq mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, kekuasaan militer selalu merangkul para pemuka agama dari pendatang sementara para spiritualis dan pemuka agama yang sudah menjaga berdirinya kondusivitas, keamanan dan kenyamanan alam Nusantara justru diabaikan dan ditinggalkan.

“Padahal para pemuka agama dan spiritualis Nusantara itu tidak pernah mendatangi kemasyhuran, popularitas apalagi kegilaan menumpuk harta termasuk memamerkan kekayaan. Para kyai dan alim ulama itu justru hanya duduk tekun di ruang-ruang kecil dan tersembunyi, namun doanya mampu menembus langit dan langsung dikabul Allah SWT. Para pemuka agama yang datang ke penguasa hanya akan membawa malu bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya,” kata Kyai Atiq.

Selain itu, Kyai Atiq membaca bahwa saat ini perputaran uang hanya ada di segelintir orang yang dekat dan sedang berkuasa. Sementara kebijakan yang dihasilkan mereka justru merugikan masyarakat kecil, termasuk orang-orang soleh yang mencari uang demi sesuap makan namun tak pernah melepas tasbih dan berzikir dalam setiap aktivitas mereka.

“Kebijakan MBG ini juga merugikan pedagang kecil di sekitar sekolah. Pedagang cilok, cilor di sekitar sekolah itu jangan dianggap sekedar pedagang biasa. Justru sebagian di antara mereka ada yang tidak pernah lepas berzikir dan bertasbih. Doa-doa mereka langsung tembus langit. Pendapatan mereka sekarang sangat menurun. Siapa yang perhatikan mereka?” kata Kyai yang punya sejarah perang melawan Sekutu Belanda dan kemudian dijadikan puisi terkenal Chairil Anwar berjudul Karawang Bekasi.

Peristiwa banjir yang masuk ke dalam Istana Merdeka di tahun 2006 di saat Presiden SBY berkuasa jadi bukti bahwa para orang soleh Nusantara saat itu kecewa dengan kepemimpinan Presiden SBY. Saat ini, banjir sudah melanda halaman depan kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng. Termasuk wilayah kebanggaan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Stadion Pakansari yang menjadi sentrum pembangunan bersumber APBD bernilai ratusan miliar.

“Jangan sampai kejadian yang dialami Presiden SBY dengan banjir masuk ke halaman Istana Merdeka terjadi lagi. Sekarang sudah dikasih tanda. Mereka bekerja sebelum kejadian. BMKG tugasnya membaca apa yang sudah dan akan terjadi. Tapi Orang-orang soleh itu bekerja agar tidak terjadi,” tandasnya.

Seperti diketahui, angin ribut menerjang kawasan Stadion Gelora Pakansari. Angin itu merusak atap Stadion Internasional Pakansari, meporak-porandakan para pedagang di sekitar stadion.

Warga yang sedang beraktivitas di Laga Tangkas, Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bogor, dan warga yang sedang berolahraga memutari stadion, kaget kedatangan embusan angin dan air hujan yang sangat deras turun membanjiri Kawasan itu. Anehnya, keluar dari wilayah Stadion, cuaca hanya hujan ringan.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan cukup besar mengingat banyaknya fasilitas bangunan dan tiang-tiang di sekitar Stadion Gelora Pakansari yang mengalami kerusakan parah.

Sebelumnya, bencana banjir terjadi di Desa Bojong Koneng dan Cijayanti , Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Arus deras sungai membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap pemicu banjir tersebut.

“Kejadian ini disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan air dari anak kali di kawasan perumahan meluap dan membawa material lumpur serta bebatuan ke area permukiman dan akses jalan,” kata Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Kamis (12/2/2026).
Banjir tersebut mengakibatkan tertutupnya satu titik ruas jalan oleh material lumpur dan batu. Selain itu, satu unit kendaraan roda empat sempat terbawa arus banjir. n-Herry Setiawan

Hutan Kota Diresmikan, Megamendung Targetkan Sentra Alpukat Micky

0

Megamendung | Jurnal Bogor
Pemerintah Kecamatan Megamendung meresmikan hutan kota seluas 2,5 hektar, Kamis, 12 Februari 2026. Hutan kota sesuai instruksi Bupati Bogor ini berlokasi di Kampung Arca, Desa Sukaresmi.

“Hari ini kami meresmikan Hutan Kota sesuai instruksi Bupati Bogor dalam program Satu Kecamatan Satu Hektar Hutan Kota. Untuk Kecamatan Megamendung luas Hutan Kota 2,5 hektar,” kata Camat Megamendung, Ridwan, S.Sos.

Hutan Kota Kecamatan Megamendung cukup berbeda dari kecamatan lain. Dari 2.000 bibit pohon yang ditanam semuanya berjenis Alpukat Micky.

“Target kami, Kecamatan Megamendung menjadi sentra Alpukat Micky. Sehingga orientasinya ke masa depan, ada nilai ekonomis bagi masyarakat. Tiga tahun ke depan buah alpukatnya bisa dipanen dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Di lahan hutan kota, masyarakat juga bisa memanfaatkannya untuk melakukan tumpang sari,” ungkapnya.

Agar Hutan Kota terawat dengan baik, lanjut Ridwan, pengelolaan dilakukan oleh masyarakat melalui kelompok tani berkerjasama dengan RSUD Idham Chalid Ciawi.

Sementara itu, Kepala Desa Sukaresmi, Iip Ibrahim, menjelaskan, bahwa selain berlokasi di Hutan Kota seluas 2,5 hektar, penanaman Alpukat Micky ini juga ditanam di total lahan seluas 20 hektar hasil kerja sama dengan PTPN 1 Regional 2 dalam program Pemberdayaan Masyarakat Dalam Kebun (PMDK).

“Di lokasi Hutan Kota dan di lahan 20 hektar ini kami berdayakan penanaman pohon Alpukat Micky yang terintegrasi dengan pertanian dan peternakan 400 kambing. Sedangkan yang mengelola adalah lima kelompok tani bekerjasama dengan BUMDes dan Koperasi Merah Putih,” pungkasnya.

** Dadang Supriatna

Pemdes Cileungsi Sampaikan LPPD Secara Transparan

0

Ciawi | Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Cileungsi menggelar kegiatan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LPPD) Tahun Anggaran 2025 di aula desa, Kamis (12/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, RT/RW, lembaga desa, serta perwakilan warga dari seluruh wilayah desa.

Kepala Desa Cileungsi, Baban Subandi, A.Md., menegaskan bahwa penyampaian laporan tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban kepala desa sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan.

Sudah menjadi kewajiban kepala desa untuk melaporkan realisasi kinerja dan pengelolaan anggaran setiap tahun. Laporan ini disampaikan kepada masyarakat melalui BPD dan juga kepada Bupati melalui Camat,” ujar Baban.

Dalam paparannya, Baban menjelaskan bahwa pada Tahun Anggaran 2025 Pemerintah Desa Cileungsi menerima dana dari lima sumber utama, yakni Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Kabupaten Bogor, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (BHPRD), bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, program bantuan keuangan satu miliar satu desa, serta Dana Desa dari Pemerintah Pusat.

Total anggaran yang dikelola Desa Cileungsi sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp3,8 miliar.
Namun demikian, ia mengakui bahwa nilai BHPRD yang diterima Desa Cileungsi masih tergolong kecil dibandingkan desa lain, yakni sekitar Rp460 juta per tahun.

“Idealnya bisa mencapai Rp800 juta agar program pemberdayaan dan kegiatan sosial bisa lebih maksimal. Saat ini, kami harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang ada,” jelasnya.

Keterbatasan anggaran tersebut berdampak pada beberapa program, termasuk bantuan bagi guru ngaji dan kegiatan TP PKK. Dari total lebih dari 40 guru ngaji di desa, baru sekitar 20 orang yang dapat menerima bantuan. Sementara itu, anggaran untuk TP PKK dinilai masih terbatas dibandingkan banyaknya kegiatan yang dijalankan.

Menurut Baban, salah satu faktor rendahnya pendapatan desa dari sektor BHPRD adalah keterbatasan aktivitas ekonomi dan pembangunan di wilayah Desa Cileungsi. Ia menilai regulasi tata ruang yang berlaku membuat desa belum dapat mengembangkan sektor perumahan maupun usaha skala besar yang berpotensi meningkatkan pendapatan asli desa.

“Di beberapa desa lain terdapat kawasan industri, perumahan besar, atau fasilitas komersial yang berdampak langsung pada peningkatan pajak dan retribusi. Di Cileungsi, hal itu belum memungkinkan sesuai aturan tata ruang yang ada,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan ada kajian ulang terhadap kebijakan tata ruang agar pembangunan yang terkontrol dan sesuai aturan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan desa tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 120 peserta hadir dan mengikuti pemaparan laporan secara langsung. Pemerintah desa juga menyampaikan rincian kegiatan secara lebih detail dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, termasuk lokasi pembangunan, jenis kegiatan, serta besaran anggaran yang digunakan.
“Sekarang tidak lagi disampaikan secara global. Kami tampilkan titik kegiatannya, besaran anggaran, dan realisasinya. Ini bagian dari komitmen transparansi kepada masyarakat,” pungkas Baban.

** Dadang Supriatna

Melalui Program SeHATI, RSUD R. Moh. Noh Nur Edukasi Deteksi Dini Kanker

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor kembali mengambil peran dalam edukasi kesehatan masyarakat melalui siaran “SEHATI: Sehat Tiap Hari” bersama Teman FM, Selasa (10/2/2026).

Pada kesempatan ini, dr. Tutik Nur’ Ayni, Sp.P.A., Dokter Spesialis Patologi Anatomik RSUD R. Moh. Noh Nur, hadir sebagai narasumber dengan tema “Sayangi Diri, Tangani Kanker Sejak Dini” dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2026.

Siaran yang berlangsung pukul 09.00 hingga 10.00 WIB tersebut dipandu oleh host Teman FM, Inggar Prilda, dan disimak oleh pendengar dari Bogor serta wilayah sekitarnya.

Dalam dialog yang interaktif, dr. Tutik menjelaskan pentingnya mengenali tanda awal kanker, langkah deteksi dini, serta peran pemeriksaan patologi anatomik untuk memastikan diagnosis secara tepat dan terarah.

“Banyak orang datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi sudah lanjut. Padahal, jika kanker ditemukan lebih awal, peluang sembuhnya jauh lebih besar,” ujar dr. Tutik dalam siaran tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa deteksi dini tidak selalu harus menunggu keluhan berat, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan memeriksa diri sendiri dan melakukan kontrol kesehatan berkala. Secara tidak langsung dr. Tutik mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap setiap perubahan pada tubuh dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

Menurutnya, banyak kasus kanker dapat ditangani dengan hasil lebih baik apabila ditemukan pada tahap awal. Kesadaran inilah yang perlu terus dibangun di tengah masyarakat. Dalam pesannya, ia menyampaikan ajakan yang menyentuh, “Sayangilah diri kita sendiri, karena tubuh ini adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga.”

Ia menegaskan bahwa setiap individu merupakan orang pertama yang paling mengenal tubuhnya, sehingga perubahan sekecil apa pun sebaiknya tidak diabaikan. dr. Tutik juga menekankan pentingnya kepercayaan pasien terhadap tenaga medis.

Ia mengatakan, “Hubungan saling percaya antara dokter dan pasien akan sangat menentukan keberhasilan terapi. Jangan ragu bertanya dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan.” Pernyataan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar masyarakat tidak takut mencari pertolongan medis.

Manajemen RSUD R. Moh. Noh Nur menyambut baik kegiatan edukasi seperti ini dan menilai program SeHATI efektif sebagai media penyampaian informasi kesehatan yang ringan namun tetap berbobot.

Rumah sakit berkomitmen untuk terus terlibat dalam kegiatan promotif dan preventif guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan kanker.

(yev/cc)

Jalanan di Cisarua Dipenuhi Lumpur Bak Kubangan Kerbau

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Jalan berlubang seperti kubangan kerbau yang dipenuhi lumpur memicu kemarahan warga di Desa Cisarua, Nanggung, Kabupaten Bogor.

Ruas jalan di Desa Cisarua yang dipenuhi lumpur yang belum dibangun permanen itu, memantik banyaknya protes warga terutama pengendara karena sering terjadi kecelakaan karena licinnya jalan tersebut.

Protes jalanan licin berlumpur itu datang dari Ubuy, salah seorang tokoh masyarakat. Ia mengaku geram melihat kondisi jalan tak layak itu.

Aksi protes jalan rusak tepatnya di Kampung Babakan Sawah Cisarua hingga viral sejak 4 bulan terakhir.

“Jalan pemukiman di Babakan Sawah ini seperti tidak diakui. Padahal ini mobilitas warga setiap hari,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).

“Jalan itu menggantung, belum juga dibangun permanen. Terkesan, kami merasa dianaktirikan,” ungkap dia lagi.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan, menurutnya, sejak akhir Oktober 2025, kawasan yang berdekatan dengan Babakan Baru ini sempat menjadi sorotan publik setelah warga turun ke jalan mendemo kondisi infrastruktur yang dinilai membahayakan pengendara, terutama kendaraan roda dua.

Namun hingga Februari 2026, tak ada kejelasan jadwal perbaikan. Warga pun mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor segera turun tangan.

“Kami ingin jalan ini segera ditangani sebelum jatuh korban atau kerusakan kendaraan makin parah. Jangan sampai baru bergerak setelah ada korban,” tegas Ubuy.

** Rahman Ependi

Pramuka SMAN 1 Cijeruk Tanam Pohon Bersama Kwarran dan Aparat Kecamatan

0

Cijeruk | Jurnal Bogor
Pramuka Penegak Pangkalan SMAN 1 Cijeruk menggelar kegiatan peduli lingkungan melalui aksi penanaman pohon yang dilaksanakan pada 12 Februari 2006 di daerah Cihideung bersama Kwartir Ranting (Kwarran) Cijeruk dan aparat Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.

Puluhan anggota Pramuka terlibat langsung dalam penanaman bibit pohon di beberapa titik wilayah Cijeruk. Dengan mengenakan seragam Pramuka, para siswa tampak antusias menyiapkan lahan, menggali tanah, hingga menanam bibit pohon secara gotong royong.

Aksi nyata ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan yang ditanamkan kepada generasi muda.

Pembina Pramuka SMAN 1 Cijeruk kak Angga Pamungkas dan kak Fitriyani menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam sejak dini.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Kolaborasi antara Pramuka, Kwarran Cijeruk, dan aparat kecamatan diharapkan dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat. Penanaman pohon ini juga menjadi langkah kecil namun berarti dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mencegah kerusakan lingkungan.

Dengan semangat bahu-membahu, para peserta berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh subur dan memberi manfaat bagi generasi mendatang. Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa Pramuka tidak hanya belajar baris-berbaris, tetapi juga berperan aktif dalam aksi sosial dan pelestarian alam.

(Wawan Hermawanto)