32.7 C
Bogor
Friday, October 30, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Jejaring Pelayanan Stunting dan Wasting Diperkuat RSUD R.Moh.Noh Nur Bersama FKTP Serta Rumah Sakit Tipe C dan D

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Dalam upaya memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan guna menekan angka prevalensi stunting dan wasting, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang sukses menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Penguatan Jejaring Rumah Sakit Terkait Pelayanan Stunting dan Wasting dengan FKTP, RS Tipe D, dan RS Tipe C. Kegiatan penting ini dilaksanakan di Aula Soekarno Hatta, Lantai 2 RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Acara ini dihadiri oleh jajaran manajemen rumah sakit, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, para ahli gizi, serta perwakilan dari puluhan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas di wilayah kerja sekitar, serta rumah sakit mitra seperti RS Assyifa Leuwiliang dan RS Karya Bhakti Pratiwi.

Pertemuan dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur Pelayanan RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, dr. Esther Melanni, M.Kes, yang menekankan pentingnya membangun sinergi dan ruang diskusi terbuka bersama Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam menangani persoalan gizi anak secara komprehensif.

Sesi pemaparan materi menghadirkan narasumber ahli, di antaranya Dokter Spesialis Anak dr. Ammar Fauzan Islami, Sp.A, yang memaparkan materi mengenai “Program Nasional Penurunan Prevalensi Stunting dan Wasting”, serta pemaparan materi “Tata Laksana Nutrisi Gizi Kurang Tanpa Komplikasi” oleh Desy Nur Arista, A.Md. Gz. Selain itu, kegiatan ini turut diisi dengan edukasi kesehatan mengenai peran probiotik oleh perwakilan PT. Yakult Indonesia Persada.

Berikut adalah poin-poin penting yang dibahas dalam rangkaian pertemuan penguatan jejaring tersebut:

Urgensi Program Nasional: Stunting dan wasting menjadi perhatian serius pemerintah mengingat dampaknya pada jangka pendek berupa gagal tumbuh dan gangguan motorik, di mana Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dan Provinsi Jawa Barat berada di urutan pertama.

Intervensi Dini di Puskesmas: Pencegahan terbukti jauh lebih efektif dibanding pengobatan, dengan mengoptimalkan 11 program intervensi spesifik dan sensitif pada sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak hingga usia 6 tahun.

Penguatan Alur Rujukan dan Rujuk Balik: Penyelarasan mekanisme rujukan dari posyandu ke Puskesmas, hingga penanganan lanjutan di rumah sakit melalui pemantauan indikator kunjungan rujuk balik yang terkoordinasi.

Tata Laksana Nutrisi Terpadu: Standarisasi asesmen status gizi (pengukuran antropometri BB/U, PB/U, TB/U, dan BB/TB) serta penentuan jenis makanan dan evaluasi berkala guna mencegah perburukan kondisi gizi anak.

“Pertemuan ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar fasilitas pelayanan kesehatan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting serta wasting, sehingga pelayanan kesehatan bagi anak dapat berjalan lebih optimal dan berkesinambungan,” pihak manajemen RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang menyampaikan dalam sesi penutupan.

Melalui jejaring pelayanan yang terintegrasi antara rumah sakit rujukan, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang optimis penanganan kasus stunting dan wasting di wilayah Kabupaten Bogor dapat ditangani secara cepat, tepat, dan berkelanjutan demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.

(yev/cc)

Dua Tahun Prabowo–Gibran, PMII dan GMKI Kota Bogor Gelar Aksi di Depan Istana: Suarakan Perlawanan Terhadap Ketidakadilan

0

Bogor | Jurnal Bogor
Memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Bogor bersama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kota Bogor menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Kepresidenan, Kamis (29/10/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk kritik mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan membawa tuntutan perubahan, massa aksi menyuarakan persoalan krisis ekologis, kenaikan harga kebutuhan pokok, komersialisasi pendidikan, perampasan ruang hidup masyarakat, hingga penyempitan ruang demokrasi.

Di tengah jalannya demonstrasi, semangat perjuangan mahasiswa terus menggelora. Seruan perlawanan, orasi politik, dan tuntutan keadilan menggema di sekitar lokasi aksi. Dinamika demonstrasi turut diwarnai aksi saling dorong antara demonstran dan aparat keamanan ketika situasi di lapangan memanas.

Meski berlangsung dalam situasi yang dinamis, mahasiswa menegaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat.

Ketua PC PMII Kota Bogor, Toni Alfazri, menegaskan bahwa dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran harus menjadi momentum untuk mengevaluasi arah kebijakan negara secara menyeluruh, terutama dalam memastikan kesejahteraan masyarakat.

“Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka masih jauh dari janji kesejahteraan rakyat. Krisis ekologis, melambungnya harga kebutuhan pokok, komersialisasi pendidikan, dan penyempitan ruang demokrasi menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah kian berpihak pada oligarki dan korporasi, sementara penderitaan rakyat terus diabaikan,” tegas Toni Alfazri.

Menurutnya, negara tidak boleh hanya hadir untuk melayani kepentingan pemilik modal dan kelompok elite, tetapi juga harus menjamin keadilan sosial, melindungi hak-hak rakyat, serta memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan tidak mengorbankan kehidupan masyarakat.

Senada dengan itu, Ketua GMKI Cabang Kota Bogor, Abel Marcelino Tampubolon, turut menegaskan pentingnya keberanian mahasiswa dalam mengawal demokrasi dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

PMII dan GMKI Cabang Kota Bogor menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah. Pertama, menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional serta mencabut izin korporasi yang terbukti merusak lingkungan. Kedua, menghentikan kebijakan ekonomi yang membebani rakyat dan menstabilkan harga kebutuhan pokok.

Ketiga, menolak komersialisasi pendidikan dan mewujudkan pendidikan gratis yang berkeadilan. Keempat, mengevaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terbukti merampas ruang hidup masyarakat. Kelima, memulihkan marwah demokrasi, menghentikan tindakan represif terhadap masyarakat sipil, serta memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

Bagi kedua organisasi mahasiswa tersebut, pembangunan nasional tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak-hak masyarakat. Setiap proyek dan kebijakan negara harus berpijak pada prinsip keadilan sosial, perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta kepentingan rakyat secara luas.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk penolakan terhadap negara, melainkan upaya menjalankan fungsi kontrol sosial agar kekuasaan tetap berada di bawah pengawasan publik.

“Jika tuntutan ini diabaikan, kami akan melipatgandakan perlawanan, turun ke jalan, dan memastikan suara rakyat tak dibungkam oleh kekuasaan yang zalim,” demikian bunyi pernyataan sikap bersama PMII dan GMKI Cabang Kota Bogor.

Aksi ini menegaskan bahwa mahasiswa masih menempatkan diri sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang bertugas mengawal demokrasi, mengkritisi ketimpangan, dan memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Bagi PMII dan GMKI Cabang Kota Bogor, dua tahun pemerintahan bukan sekadar hitungan waktu, melainkan momentum untuk mengukur sejauh mana janji politik diwujudkan dalam kehidupan nyata. Kedua organisasi tersebut menegaskan akan terus mengawal kebijakan pemerintah dan menyuarakan tuntutan masyarakat selama persoalan ketidakadilan belum terselesaikan.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)

Dari Pemesanan Kamar Jadi Aksi Sosial, THE 1O1 Bogor Bantu Penuhi Nutrisi Ibu dan Anak

0

Bogor | Jurnal Bogor
Kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak dapat diwujudkan melalui berbagai cara, termasuk kontribusi dari sektor perhotelan. Melalui program HOPE FOR GENERATIONS, THE 1O1 Bogor Suryakancana menyalurkan bantuan nutrisi bagi anak-anak yang mengalami stunting dan wasting serta ibu hamil di Kota Bogor, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Bantuan disalurkan kepada masyarakat di Kelurahan Babakan Pasar dan Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah. Adapun bantuan yang diberikan terdiri atas 95 boks susu balita, lima boks susu ibu hamil, dan 95 boks telur omega.

Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan bertajuk HOPE – Stay With Purpose. Melalui program tersebut, setiap pemesanan kamar turut berkontribusi dalam aksi sosial berupa donasi satu boks susu.

Marketing Communication Manager THE 1O1 Bogor Suryakancana, Reyza Christian, mengatakan program tersebut bertujuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitar hotel.

“Melalui program HOPE – Stay With Purpose, kami ingin menghadirkan pengalaman menginap yang tidak hanya berkesan bagi para tamu, tetapi juga memberikan makna dan dampak positif bagi masyarakat sekitar,” ujar Reyza, dikutip dari pemberitaan KlikBogor.

Ia berharap keterlibatan tamu dalam program tersebut dapat menumbuhkan kepedulian bersama terhadap pemenuhan nutrisi ibu hamil dan tumbuh kembang anak.

Kegiatan ini turut dihadiri Camat Bogor Tengah, Dheri Wiriadirama, serta perwakilan bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia. Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak.

Melalui kegiatan tersebut, THE 1O1 Bogor Suryakancana berharap kontribusi sosial dapat terus berlanjut untuk mendukung pemenuhan nutrisi dan kualitas hidup masyarakat. Upaya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun generasi masa depan membutuhkan kepedulian dan keterlibatan berbagai pihak.

(Najwa Putri Maulida/mg-uika)

HMI Komisariat Agama Islam Cabang Kota Bogor Gelar Kajian Jumat, Perdalam Pemahaman Mission HMI

0

Bogor | Jurnal Bogor
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor akan menggelar Kajian Jumat pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan yang mengangkat materi Mission HMI tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemahaman kader terhadap nilai-nilai perjuangan serta tujuan organisasi.

Kajian tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 17.00 WIB hingga selesai di Sekretariat HMI Cabang Kota Bogor. Kegiatan akan menghadirkan Kakanda Moeltazam sebagai pemateri dan diikuti oleh para kader HMI.

Melalui kajian ini, kader diharapkan tidak hanya memahami HMI sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, tetapi juga mengetahui arah perjuangan serta fungsi dan peran HMI dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.

Ketua Umum Komisariat Agama Islam HMI Cabang Kota Bogor Muadz Ibnu Muttafaq mengatakan, kajian rutin merupakan kegiatan yang sangat baik bagi kader karena dapat menjadi ruang untuk memahami lebih jauh fungsi dan peranan HMI di tengah masyarakat.

“Menurut saya, kajian rutin itu merupakan sesuatu hal yang sangat baik. Dari kajian tersebut, kader-kader dapat mengetahui sebenarnya apa fungsi dan peranan HMI di masyarakat, khususnya di Indonesia, serta apa tujuan HMI itu sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, kajian rutin yang dilaksanakan setiap Jumat juga tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menambah wawasan kader, tetapi menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarkader.

“Selain untuk menjalankan fungsi dan peranan HMI, kajian rutin HMI setiap Jumat ini juga berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi serta mengembangkan kedekatan emosional sesama kader,” tambahnya.

Menurutnya, kedekatan emosional antar-kader menjadi salah satu hal penting dalam membangun kekompakan organisasi. Dengan adanya kegiatan rutin, kader memiliki ruang untuk berdiskusi, bertukar pemikiran, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam menjalankan aktivitas organisasi.

Kajian Jum’at tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi kader untuk terus memperdalam pemahaman terhadap Mission HMI, sehingga nilai-nilai perjuangan organisasi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan semangat Yakin Usaha Sampai, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader yang memahami arah perjuangan HMI serta memiliki komitmen untuk menjalankan peran keumatan dan kebangsaan.

(Arif Rizky Effendi/mg-uika)

Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Dukung Gerakan Indonesia ASRI Melalui Penanaman Pohon

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor melaksanakan kegiatan penanaman pohon di bantaran Sungai Ciliwung, Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari aksi susur Sungai Ciliwung yang sebelumnya dilaksanakan melalui pembersihan sampah dan penebaran benih ikan endemik. Upaya tersebut terus berlanjut melalui penghijauan kawasan hulu guna menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber air baku.

Sejalan dengan arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Perumda Air Minum Tirta Kahuripan dalam menjaga ekosistem sungai, mendukung ketahanan air nasional, serta melestarikan sumber air bagi generasi mendatang.

Jaga Hutan, Jaga Sungai, untuk Air yang Berkelanjutan.

(yev/cc)

Simbol Tiga Jari Warnai Aksi PMII dan GMKI di Bogor, Isyarat Perlawanan Terhadap Ketidakadilan

0

Bogor | Jurnal Bogor
Aksi massa yang melibatkan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di depan Markas Detasemen Polisi Militer (Denpom) III/1 Bogor pada Kamis (29/10/2026) diwarnai dengan pengangkatan tiga jari oleh sejumlah peserta aksi. Gestur tersebut dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang dinilai tidak berpihak pada keadilan, sekaligus menandai semangat pembebasan dari berbagai bentuk ketidakadilan.

Sejumlah peserta terlihat mengangkat tangan dengan formasi tiga jari di tengah kerumunan massa. Aksi tersebut juga diwarnai dengan kehadiran bendera berwarna kuning serta orasi yang disampaikan di tengah kerumunan.

Simbol tiga jari atau three-finger salute memiliki beragam makna, bergantung pada konteks penggunaannya. Dalam sejumlah gerakan sosial dan politik, gestur ini digunakan sebagai bentuk solidaritas, penolakan terhadap kekuasaan yang represif, serta pernyataan sikap terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.

Dalam konteks aksi mahasiswa, simbol tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penyampaian aspirasi politik melalui bahasa tubuh. Pengangkatan tiga jari merepresentasikan keberanian untuk bersuara, mempertahankan kebebasan berekspresi, dan mendorong terwujudnya keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keterlibatan massa PMII dan GMKI dalam aksi tersebut juga menunjukkan ruang partisipasi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik. Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, mahasiswa memiliki peran dalam mengawasi jalannya kekuasaan, menyuarakan persoalan publik, serta mengkritisi kebijakan maupun tindakan yang dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan.

Meski demikian, pemaknaan simbol tiga jari tidak dapat dilepaskan dari tuntutan dan konteks yang melatarbelakangi aksi. Oleh karena itu, penafsiran terhadap gestur tersebut perlu merujuk pada pernyataan peserta aksi atau koordinator lapangan agar makna yang disampaikan tidak semata-mata didasarkan pada asumsi.

Lebih dari sekadar gestur tangan, three-finger salute dalam konteks ini menjadi ekspresi politik yang merepresentasikan keberanian menyampaikan kritik dan tuntutan atas keadilan. Simbol tersebut juga mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan demokratis.

Aksi ini sekaligus menegaskan bahwa ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, mengawasi kekuasaan, dan memperjuangkan perubahan melalui penyampaian aspirasi secara terbuka.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)

Kericuhan Warnai Aksi Massa di Bogor, Diduga Dipicu Saling Dorong Antara Aparat dan Demonstran

0

Bogor | Jurnal Bogor
Kericuhan mewarnai jalannya aksi massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di depan Istana Bogor pada Kamis malam (29/10/2026). Situasi di lokasi aksi memanas ketika massa dan aparat kepolisian terlihat berdesakan di tengah kerumunan. Insiden tersebut diduga dipicu oleh aksi saling dorong antara aparat dan peserta demonstrasi.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aparat kepolisian tampak membentuk barisan untuk mengendalikan situasi di hadapan massa yang berkumpul. Di sisi lain, sejumlah peserta aksi terlihat mengangkat tangan dan berkerumun di tengah kepadatan massa. Kondisi tersebut menggambarkan situasi yang semakin padat dan berpotensi memicu ketegangan.

Dugaan aksi saling dorong antara aparat dan massa menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri untuk mengetahui penyebab kericuhan. Namun, kronologi awal insiden, pihak yang memulai dorongan, serta pemicu utama ketegangan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Ketika situasi memanas, penanganan di lokasi menjadi perhatian penting guna mencegah ketegangan berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar. Aparat diharapkan tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan proporsional, sementara massa diharapkan dapat menyampaikan aspirasi tanpa melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan bersama.

Kericuhan dalam aksi demonstrasi menjadi pengingat bahwa penyampaian pendapat di muka umum membutuhkan pengelolaan situasi yang baik dari seluruh pihak. Komunikasi antara aparat dan peserta aksi menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat memperburuk keadaan.

penyebab pasti kericuhan, kronologi lengkap kejadian, serta kemungkinan adanya korban atau kerusakan belum dapat dipastikan. Konfirmasi dari pihak kepolisian dan perwakilan massa diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai insiden tersebut.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)

(Kericuhan Warnai Massa Aksi/Zacky Bariq/Jurnal Bogor)

Diguyur Hujan dan Dihadang Malam, Massa Aksi di Bogor Tetap Bertahan

0

Bogor | Jurnal Bogor
Hujan dan gelapnya malam tak menyurutkan semangat massa aksi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) untuk tetap bertahan di deoan Istana Bogor. Di tengah guyuran hujan dan suasana yang semakin larut, para peserta aksi masih memadati lokasi untuk menyuarakan aspirasi yang mereka perjuangkan.

Pantauan di lokasi pada Kamis malam, 29 Oktober 2026, menunjukkan massa masih berkumpul di tengah jalan yang basah akibat hujan. Dengan pakaian yang mulai lembap dan tubuh yang terpapar udara dingin, para peserta aksi tetap berdiri bersama. Sorot lampu jalan menerangi kerumunan yang terus bertahan, menghadirkan gambaran nyata tentang semangat yang tidak mudah dipadamkan oleh keadaan.

Bagi massa aksi, hujan bukan alasan untuk mundur, sementara malam bukan tanda bahwa perjuangan harus berakhir. Di tengah kondisi yang tidak mudah, kebersamaan menjadi salah satu kekuatan yang menjaga semangat mereka tetap menyala.

Barisan massa yang bertahan hingga malam memperlihatkan tekad untuk terus menyampaikan aspirasi. Mereka tetap berada di lokasi dan saling menguatkan di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa menyuarakan pendapat membutuhkan keberanian, keteguhan, dan solidaritas.

Hujan boleh membasahi tubuh, malam boleh membatasi pandangan, tetapi semangat untuk menyuarakan aspirasi tidak semestinya padam. Bagi para peserta aksi, bertahan di tengah cuaca yang tidak bersahabat menjadi bagian dari perjuangan untuk memastikan suara mereka tetap terdengar.

Suasana malam itu menjadi potret keteguhan massa yang memilih untuk tetap berdiri bersama di tengah berbagai tantangan. Di bawah cahaya lampu jalan dan di atas aspal yang basah, mereka menunjukkan bahwa semangat kolektif dapat terus menyala meskipun keadaan tidak selalu berpihak.

Aksi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa aspirasi masyarakat perlu didengar dan ditanggapi secara serius. Penyampaian pendapat di muka umum merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dijalankan dengan tetap mengedepankan keselamatan, ketertiban, dan penghormatan terhadap hak semua pihak.

Hingga malam tiba, semangat massa yang masih bertahan menjadi gambaran kuat tentang keteguhan dalam memperjuangkan aspirasi. Hujan dan waktu boleh menguji daya tahan, tetapi bagi mereka yang masih berada di lokasi, perjuangan untuk menyampaikan suara belum tentu berakhir ketika malam datang.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)

Aksi Lempar Tomat Jadi Simbol Kekecewaan Massa, Masker Hitam Sebagai Bentuk Empati Terhadap Karhutla

0

Bogor | Jurnal Bogor
Aksi massa mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) diwarnai pelemparan tomat menjadi simbol kekecewaan terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam aksi di depan Istana Bogor tersebut, massa juga mengenakan masker hitam sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, sejumlah peserta aksi berkumpul di area terbuka dengan pengawalan aparat keamanan. Di tengah kerumunan, terlihat tomat berserakan di jalan serta bekas pembakaran yang mengeluarkan asap. Aksi simbolis tersebut menjadi salah satu cara massa menyampaikan keresahan dan ketidakpuasan terhadap persoalan lingkungan yang dinilai membutuhkan perhatian serius.

Pelemparan tomat dimaknai sebagai ekspresi kekecewaan massa atas dampak karhutla yang mengancam kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat. Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap persoalan yang dinilai memerlukan penanganan lebih serius dari pihak terkait.

Selain itu, penggunaan masker hitam menjadi simbol keprihatinan terhadap dampak karhutla, terutama pencemaran udara akibat kabut asap. Simbol tersebut merepresentasikan solidaritas terhadap warga yang harus menghadapi penurunan kualitas udara, gangguan aktivitas sehari-hari, hingga risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga masalah yang berdampak langsung pada kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan langkah konkret, mulai dari pencegahan kebakaran dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran ilegal hingga perlindungan bagi masyarakat yang terdampak.

Melalui aksi tersebut, massa berupaya menyampaikan pesan bahwa persoalan karhutla tidak boleh dianggap sepele. Simbol-simbol yang digunakan dalam demonstrasi diharapkan dapat menarik perhatian publik sekaligus mendorong pihak terkait untuk mengambil langkah yang lebih serius dalam menangani bencana tersebut.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)

Massa PMII dan GMKI Gelar Aksi di Depan Istana Bogor, Lalu Lintas Padat

0

Bogor | Jurnal Bogor
Aksi massa yang melibatkan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) berlangsung di depan Istana Bogor, Kota Bogor.

Kehadiran massa aksi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran arus lalu lintas serta aktivitas masyarakat yang melintas di sekitar lokasi demonstrasi.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, massa mahasiswa menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Istana Bogor. Konsentrasi peserta aksi di kawasan tersebut menjadi perhatian pengguna jalan, mengingat lokasi itu merupakan salah satu kawasan penting di pusat Kota Bogor dengan aktivitas lalu lintas yang cukup tinggi.

Keberadaan massa aksi di sekitar lokasi demonstrasi dapat menyebabkan perlambatan arus kendaraan, terutama apabila peserta aksi menggunakan sebagian badan jalan. Pengendara yang melintasi kawasan sekitar Istana Bogor diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kepadatan lalu lintas.

Aksi yang melibatkan PMII dan GMKI ini menjadi bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap persoalan yang menjadi perhatian mereka. Dalam pelaksanaannya, ketertiban peserta aksi serta pengamanan oleh pihak berwenang menjadi faktor penting untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Di sisi lain, masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Istana Bogor diharapkan dapat menyesuaikan perjalanan dan mempertimbangkan jalur alternatif apabila terjadi kepadatan kendaraan. Pengguna jalan juga diimbau untuk mengikuti arahan petugas guna menjaga kelancaran lalu lintas dan keselamatan bersama.

(Zacky Bariqlana/mg-uika)