28.8 C
Bogor
Tuesday, April 7, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Dipanggil KONI Jabar Dedi Bachtiar Mangkir

0

Bandung | Jurnal Bogor
Ketua KONI Kabupaten Bogor tak memenuhi panggilan KONI Jawa Barat atas adanya surat mosi tidak percaya yang dilayangkan sejumlah Cabang Olahraga (Cabor) di Bumi Tegar Beriman.

Wakil Ketua I KONI Jabar, Andrian Tejakusuma mengatakan, bahwa pemanggilan terhadap Dedi Bachtiar selaku Ketua KONI Kabupaten Bogor akan kembali dilayangkan oleh pihaknya.

“Pemanggilan pertama tidak hadir, makanya kami akan kembali melakukan pemanggilan terhadap Ketua KONI Kabupaten Bogor tersebut,” ujar Andrian kepada Wartawan melalui sambungan teleponnya, Senin (6/4).

Ia menambahkan, bahwa pihaknya akan kembali melakukan pemanggil lanjutan pada pekan ini, maksimal sebanyak tiga kali.

“Kamis (9/4) akan dipanggil kedua kali. Kalau yang bersangkutan tidak kembali memenuhi panggilan, kami akan panggil lagi dengan batas maksimal tiga kali,” kata Andrian.

Ia mengungkapkan, pihaknya akan langsung turun ke Kabupaten Bogor ketika pemanggilan tidak dipenuhi hingga batas akhir yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) KONI.

“Kami akan langsung mengkroscek ke anggota KONI Kabupaten Bogor atas adanya surat mosi tidak percaya yang telah diterima oleh KONI Jabar,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa pihaknya akan ambil langkah kebijakan sesuai aturan terhadap adanya mosi tidak percaya.

“Kalau benar mosi tidak percaya itu dari anggota KONI Kabupaten Bogor, kami akan lakukan karteker. Makanya, kami lakukan pemanggilan terhadap Ketua KONI Kabupaten Bogor itu untuk mengecek kebenaran adanya surat mosi tidak percaya tersebut,” paparnya. n Noverando H

Petani dan Peternak Terdampak Perang

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Sejumlah petani dan peternak mengaku terdampak perang Iran melawan Amerika dan Israel. Para petani merasakan kebutuhan plastik untuk green house kini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan peternak dengan adanya kenaikan harga pakan.

“Harga plastik naik 50 persen dari harga biasanya. Jika harga plastik tersebut mahal, usaha petani akan sangat terancam, ” ujar salah seorang petani di Cisarua, Akip.

Green house sendiri merupakan model pertanian yang bisa mempertahankan kualitas produk pertanian menjadi bagus, yang cukup berbeda dengan cara konvensional.

“Melalui green house pertanian kita berjalan secara teratur. Cuaca atau iklim bisa stabil. Dengan demikian, hasil pertanian kita berjalan bagus. Tetapi adanya kenaikan plastik kita menjadi pesimis, ” imbuh dia.

Tidak hanya plastik yang mengalami kenaikan. Sektor peternakan ayam juga kini terkena imbasnya. Harga pakan yang mengalami kenaikan 20 persen dirasakan sangat memberatkan para peternak.

“Sejak terjadinya perang Iran, harga pakan mengalami kenaikan sebesar 20 persen. Pemerintah harus ambil sikap, supaya pata petani atau peternak tetap bisa beroperasi tanpa kerugian, ” pungkas Indra, salah seorang peternak ayam telur.

** Dadang Supriatna

Sampah di Puncak Dominan dari Tempat Wisata

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Kondisi sampah di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor sebagian besar dihasilkan dari tempat-tempat wisata yang ada di dua kecamatan yakni Cisarua dan Megamendung. Di dua kecamatan itu terdapat tempat wisata dan perhotelan yang menghasilkan sampah dsetiap harinya. Terlebih, hari libur volume sampah dari tempat wisata tersebut mengalami peningkatan.

“Sampah dari tempat wisata, yang terkadang dibuang oleh pengunjungnya secara sembarangan bisa disaksikan kita semua. Seperti, jika terjadi libur panjang dimana banyak pengunjung ke tempat wisata menimbulkan kekotoran di kawasan wisata itu. Mulai dari areal masuk hingga ke pinggirannya banyak ditemukan serakan sampah plastik”, tutur Sopian warga Cusarua.

Warga lain menanggapi, Kabupaten Bogor saatnya untuk serius melakukan penanganan sampah di setiap desanya. Melalui pengelolaan sampah terpadu, dinilai sangat tepat untuk menangani sampah desa desa yang ada di dua kecamatan itu. Selama ini, berdasarkan keterangan dari beberapa desa, sampah yang berasal dari masyarakat diangkut oleh DLH Ciawi.

“Kabupaten Bogor harus serius untuk melakukan penanganan sampah di setiap desa. Karena, sesuai perkembangan dunia tempat wisata di Cisarua dan Megamendung akan berdampak terhadap tingginya volume sampah di wilayah ini. Jadi, berkembangnya dunia pariwisata harus dibarengi oleh penanganan lingkungan khususnya sampah, “, pungkas Jatnika.

** Dadang Supriatna

Pohon Bambu Tumbang Tutup Akses Jalan Barengkok–Pabangbon Leuwiliang

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor – Hujan deras yang mengguyur wilayah Leuwiliang menyebabkan rumpun pohon bambu berukuran besar tumbang dan menutup akses Jalan Raya Barengkok–Pabangbon, Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Akibat kejadian tersebut, arus lalu lintas menuju Kecamatan Nanggung sempat terganggu lantaran sebagian badan jalan tertutup batang bambu yang melintang.

Saat ini, petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Infrastruktur Jalan dan Jembatan (IJJ) Wilayah Leuwiliang telah melakukan penanganan di lokasi.

Staf UPT IJJ Leuwiliang, Mudrikah Maulana, mengatakan penanganan darurat dilakukan atas instruksi langsung pimpinan menyusul kondisi cuaca ekstrem.

“Iya, akibat cuaca ekstrem, pohon bambu tumbang dan sempat menutupi akses jalan raya menuju Kecamatan Nanggung,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kondisi jalan sempat terhambat karena separuh badan jalan tertutup.

“Tidak ada korban. Hanya separuh jalan tertutup pohon, dan saat ini sudah berhasil ditangani,” katanya.

Dalam proses evakuasi, petugas sempat mengalami kendala karena ukuran batang bambu yang besar serta akar yang rapat hingga menutup sebagian jalan. Penanganan pun dilakukan menggunakan mesin pemotong dan alat berat.

“Memang cukup sulit karena batangnya besar dan akarnya rapat. Jadi harus menggunakan alat berat. Alhamdulillah sekarang sudah bisa ditangani,” pungkasnya. Arip Ekon

Kades Dramaga Bantu Warga Pabangbon Gunakan Mobil Siaga

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Dramaga dan Muspika Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor patut diapresiasi atas kepeduliannya terhadap warga meskipun bukan asal wilayahnya. Kejadiannya ketika seorang warga berinisial Y (56), warga Kampung Pabangbon Baru, Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, mengembuskan napas terakhir di wilayah Lingkar Dramaga saat dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjalani pengobatan rutin.

Peristiwa itu terjadi ketika keluarga berupaya membawa Y ke RSUD Cibinong guna melakukan kontrol kesehatan. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di pertigaan Jalan Babakan Raya, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, kondisi korban memburuk.

Melihat situasi tersebut, sejumlah aparatur dari Muspika Kecamatan Dramaga segera memberikan pertolongan pertama di lokasi. Korban kemudian dialihkan ke RS Karya Bhakti Pratiwi (KBP) yang dinilai lebih dekat untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya.

Setibanya di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RS KBP, tim medis langsung melakukan tindakan penyelamatan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan korban dinyatakan meninggal dunia.

Pihak keluarga mengungkapkan bahwa almarhum telah lama berjuang melawan penyakit komplikasi, yakni tuberkulosis tulang dan paru-paru. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan. Rencana kontrol ke RSUD Cibinong pada hari kejadian pun menjadi harapan untuk memantau kondisi kesehatannya.

“Rencananya pagi ini kami ingin kontrol ke RSUD Cibinong, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Camat Dramaga dan petugas IPSM yang sudah membantu,” ujar salah satu anggota keluarga, Senin (6/4/2026).

Sementara itu, petugas Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Dramaga, Herni, menyampaikan bahwa proses penanganan di rumah sakit berjalan dengan baik. Namun, kendala sempat muncul saat hendak memulangkan jenazah. Mobil siaga dari Desa Pabangbon dinilai terlalu jauh untuk dijangkau dalam waktu cepat. Sebagai solusi, pihak IPSM berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Dramaga meminta bantuan mobil siaga setempat.

“Alhamdulillah, kami mendapat bantuan dari Kepala Desa Dramaga untuk penggunaan mobil siaga desa, sehingga jenazah bisa segera dipulangkan ke rumah duka di Pabangbon,” pungkasnya.

** Arip Ekon

Sekolah Online di Bogor Batal, Pemerintah Pilih Tatap Muka

0

Bogor | Jurnal Bogor – Kebijakan pendidikan di Bogor kembali menjadi perhatian setelah pemerintah daerah memutuskan membatalkan rencana sekolah online yang semula digagas untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Wacana ini muncul sebagai respons atas lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, namun akhirnya dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak.

Pada awalnya, sekolah daring dianggap solusi praktis untuk mengurangi mobilitas harian siswa dan guru. Dengan berkurangnya perjalanan ke sekolah, konsumsi BBM di sektor transportasi diyakini bisa ditekan. Namun, pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh memiliki konsekuensi serius, terutama dalam hal interaksi sosial, motivasi belajar, dan pemerataan akses teknologi.

Dikutip dari harian pikiran rakyat, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Herry Karnadi, kegiatan belajar mengajar mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) akan tetap dilaksanakan secara tatap muka. ”Jadi, tidak ada kebijakan sekolah jarak jauh atau daring,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Ia mengatakan bahwa kebijakan untuk tetap melaksanakan sekolah tatap muka ini sesuai dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana memberlakukan kembali pembelajaran daring sebagai strategi penghematan energi.

Wacana sekolah daring demi efisiensi BBM dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak. Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh sering menimbulkan learning loss, menurunkan motivasi belajar, serta memperlebar kesenjangan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan. Selain itu, interaksi sosial yang penting bagi pembentukan karakter tidak dapat tergantikan oleh layar komputer. Karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya berorientasi pada kepentingan anak dan kualitas pembelajaran, bukan semata pada angka efisiensi

Di lapangan, orang tua murid menyambut baik pembatalan kebijakan ini. Ibu Tritia Anita (34 tahun), wali murid SD Negeri Taman Pagelaran Bogor, mengungkapkan bahwa anaknya lebih fokus belajar tatap muka. “Kalau daring, sering terganggu sinyal dan anak jadi malas. Sekarang saya lega karena sekolah tetap berjalan normal,” ujarnya.

Testimoni ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap ketimpangan akses teknologi yang masih nyata. Para guru juga menilai pembatalan kebijakan sebagai langkah bijak. Guru SD Negeri Dewi Sartika 2 di Bogor, Dinda Nirmala (25 tahun), mengatakan bahwa interaksi langsung di kelas tidak bisa digantikan oleh layar komputer. “Mengajar bukan hanya soal materi, tapi juga membangun karakter dan kedekatan emosional. Itu sulit dilakukan secara daring,” jelasnya.

Sebagai alternatif, pemerintah kini mendorong solusi lain untuk efisiensi energi tanpa mengganggu pendidikan. Di antaranya adalah penggunaan kendaraan untuk mengurangi konsumsi BBM, digitalisasi administrasi birokrasi agar lebih hemat energi, serta investasi panel surya di sekolah-sekolah. Langkah ini diharapkan mampu menekan penggunaan BBM sekaligus menjaga kualitas pembelajaran.

Pembatalan sekolah daring di Bogor menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh dilepaskan dari konteks sosial dan psikologis anak. Efisiensi energi memang mendesak, tetapi harus dicari di sektor lain yang tidak mengorbankan hak anak untuk belajar. Pendidikan tetap menjadi prioritas utama, karena dari sanalah masa depan bangsa dibentuk.

Dengan demikian, keputusan pemerintah daerah Bogor membatalkan kebijakan sekolah online demi penghematan BBM adalah langkah yang tepat. Anak-anak tetap bisa belajar dengan optimal, sementara solusi energi dicari melalui jalur yang lebih relevan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan, sekaligus mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas hidup generasi penerus.

Laporan: Nusrat Synthia Riagustiani – Universitas Negeri Jakarta

CFD Tegar Beriman Jadi Ajang Edukasi Lingkungan Hidup

0

Jurnal Bogor | Cibinong – Kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, tidak hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi bagi masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan hidup. Berbagai kegiatan kampanye pengelolaan sampah digelar untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Salah satunya melalui kegiatan karnaval daur ulang yang diikuti sejumlah komunitas dan pegiat lingkungan. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar mulai memilah dan mengolah sampah rumah tangga sehingga dapat memberikan manfaat.

Ival, salah satu peserta karnaval daur ulang, menyatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah.

“Saya mengikuti kegiatan karnaval daur ulang. Melalui kegiatan ini kami ingin mengedukasi masyarakat, khususnya di momentum CFD, bahwa sudah saatnya kita mulai memilah dan mengolah sampah yang kita hasilkan sehari-hari agar menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Ia berharap upaya edukasi tersebut dapat membantu Kabupaten Bogor dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan bersama.

“Semoga upaya ini dapat membantu Kabupaten Bogor dalam menyelesaikan persoalan sampah, bahkan ke depan bisa mencapai zero waste, sehingga lingkungan kita menjadi lebih asri,” tambahnya.

Selain itu, para aktivis lingkungan juga menggelar kampanye sederhana yang melibatkan langsung partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan program penukaran botol plastik bekas dengan souvenir yang disediakan di lokasi CFD.

Aktivis lingkungan hidup Kabupaten Bogor, Bambang Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan melalui langkah-langkah sederhana.

“Hari ini kami hadir di CFD untuk mengajak warga lebih peduli terhadap lingkungan hidup. Salah satunya dengan program menukar botol air kemasan bekas dengan souvenir yang sudah disediakan di sini,” kata Bambang.

Menurutnya, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi budaya baru di CFD, sehingga masyarakat tidak hanya datang untuk berolahraga atau bersantai, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi budaya di CFD, tidak hanya sekedar jalan-jalan atau olahraga, tetapi juga menumbuhkan kepedulian lingkungan melalui hal-hal kecil, seperti memanfaatkan botol plastik untuk didaur ulang,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor juga turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengolahan sampah organik. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah pengolahan sampah menggunakan teknik maggot.

Pendamping Lingkungan Hidup wilayah Kecamatan Cibinong dari Dinas Lingkungan Hidup, Ahmad Danial, menjelaskan bahwa metode tersebut dinilai lebih cepat dibandingkan proses pengomposan konvensional.

“Di CFD kali ini kami memberikan edukasi tentang pengolahan sampah organik atau sampah basah yang sering menjadi permasalahan. Kami memperkenalkan pengolahan sampah organik dengan teknik maggot, karena metode ini lebih cepat dibandingkan kompos dan bisa diproses hanya dalam beberapa jam,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan sampah di Kabupaten Bogor saat ini menjadi perhatian serius, terutama karena kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang sudah melebihi daya tampung.

“Harapannya, persoalan sampah di Kabupaten Bogor yang saat ini menjadi perhatian serius—terutama karena volume sampah di TPA Galuga sudah over capacity—dapat diatasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat,” katanya.

Melalui kegiatan CFD, pihaknya berharap masyarakat dapat mulai mengelola sampah dari rumah dengan cara memilah sampah organik dan anorganik sehingga limbah yang dihasilkan dapat diolah dan memberikan manfaat.

“Melalui CFD ini kami mengedukasi warga agar dapat mulai mengolah sampah dari rumah, terutama dengan memilah sampah rumah tangga. Dengan begitu, limbah yang dihasilkan juga bisa memberikan manfaat,” pungkasnya. (*/dr)

Peringatan Hari Air Sedunia 2026 di Puncak Bogor, Wamen LH: Krisis Air Nyata

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Dalam memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menggelar rangkaian kegiatan bertema Water and Gender di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Minggu (5/4/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di PTPN 1 Regional 2 Unit Agrowisata Gunung Mas ini meliputi penanaman 1.500 pohon, penyerahan bantuan perahu karet, alat pembuat lubang biopori, serta pembagian 500 tabung biopori kepada masyarakat di 10 desa wilayah Kecamatan Cisarua. Selain itu, digelar pula sarasehan bersama komunitas sungai, Saka Kalpataru, dan PHRI Kabupaten Bogor.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa peringatan Hari Air Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis air yang tengah terjadi.

“Kita memperingati Hari Air Sedunia di lokasi ini untuk mengingatkan betapa pentingnya fungsi air. Saat ini kita memang sedang menghadapi krisis air. Sekitar 71 persen permukaan bumi adalah air asin yang tidak bisa langsung dimanfaatkan,” ujarnya.

Diaz menjelaskan, ketersediaan air tawar yang bisa digunakan manusia sangat terbatas dan sebagian besar berada di kutub, sehingga sumber air yang dapat dimanfaatkan sehari-hari hanya berasal dari sungai, danau, serta air tanah.

Menurutnya, perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan ke sungai memperparah kondisi tersebut.

“Jika sungai tercemar, maka suplai air bersih akan terganggu dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan dampak perubahan iklim terhadap siklus air. Curah hujan ekstrem dapat menyebabkan banjir, sementara peningkatan suhu mempercepat proses penguapan air.

Sebagai solusi, pemerintah mendorong penggunaan lubang biopori sebagai alternatif sumur resapan yang lebih mudah diterapkan masyarakat.

“Kami membagikan 500 biopori untuk 10 desa di Cisarua. Alatnya sederhana, tetapi sangat efektif untuk mengurangi risiko banjir,” jelasnya.

Selain itu, gerakan penanaman pohon juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan air. Diaz mengimbau masyarakat untuk menerapkan gerakan satu orang satu pohon atau minimal satu rumah satu pohon.

Sementara itu, Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan di kawasan Puncak.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini dengan menanam pohon dan menyediakan biopori agar air dapat terserap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga berkomitmen dalam pengelolaan sampah di kawasan Gunung Mas. Sampah dari aktivitas operasional akan dikumpulkan dan dikelola sesuai aturan lingkungan yang berlaku, termasuk bekerja sama dengan mitra KSO.

“Pengelolaan sampah adalah kewajiban kami sebagai pengelola kawasan. Nantinya akan ada lokasi khusus yang ditentukan untuk pengolahan sampah di Gunung Mas,” tandasnya.

Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga air dan lingkungan semakin meningkat, guna menghadapi tantangan krisis air dan perubahan iklim di masa depan. Dadang Supriatna.

Erif Farm dan Gayatri Camp Peduli Warga Kurang Mampu

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Beberapa tempat wisata yang ada di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor khususnya yang ada di Desa Citeko kini bersinergi dengan warga sekitar. Mulai dari memanfaatkan tenaga kerja pribumi hingga kepedulian terhadap warga yang kurang mampu.

Sebagai jembatan untuk berkontribusi kepada masyarakat sekitar, selain pemerintahan desa, mereka menggandeng organisasi kepemudaan seperti karang taruna. Melalui karang taruna mereka mengetahui kondisi perekonomian warga sekitar.

Tempat wisata seperti Erif Farm dan Gayatri Camp diketahui telah sepakat akan peduli kepada warga sekitar. Dikatakan Ketua Karang taruna, Desa Citeko Indra, dua tempat wisata tersebut telah terbukti peduli kepada warga sekitar.

“Kita selaku karang taruna desa harus menjalankan amanah dari pengusaha wisata yang peduli kepada warga sekitar. Seperti dari tempat wisata Erif Farm, mereka selalu menyisihkan bantuan berupa beras untuk warga yang benar benar perlu bantuan. Kita sebagai kepanjangan tangannya dari mereka untuk mendistribusikan bantuan tersebut bertekad melaksanakan sebaik baiknya, ” ujar Indra.

Tidak hanya cukup sebagai penyalur bantuan, tetapi karang taruna juga turut berpartisipasi dengan memberikan telur ayam disatukan dengan beras tersebut.

“Tidak hanya beras saja yang kita salurkan, melainkan ada tambahan telur ayam kepada mereka. Dan kuota penerimanya masih terbatas, kita masih menyesuaikan dengan kondisi jumlah bantuannya, ” pungkas dia.

** Dadang Supriatna

Peredaran Narkoba di Puncak Diawasi Super Ketat

0

Megamendung | Jurnal Bogor
Komitmen Bupati Bogor Rudy Susmanto untuk memberantas berbagai jenis narkoba di wilayahnya kini terus digencarkan. Mulai dari patroli aparat gabungan hingga nomor telepon untuk pengaduan dari masyarakat disiagakan 24 jam. Untuk memberantas berbagai jenis narkoba diawasi super ketat mulai dari jenis sabu hingga ke pil tramadol.

“Kawasan kita merupakan kawasan wisata yang selalu dikunjungi oleh pihak luar. Dengan demikian, untuk menekan dan memberantas terhadap pengedaran narkoba kita harus benar-benar selalu sigap. Mudah-mudahan, dengan pengawasan yang super ketat ini, kawasan kita bisa bersih dari berbagai jenis narkoba, ” kata Kasi Trantib Kecamatan Cisarua Momo, Minggu (5/4/2026).

Bupati beserta para camat yang ada di setiap wilayah kini dalam kondisi siaga mengawasi dan sekaligus memberantas jika ditemukan adanya peredaran tramadol dan sejenisnya.

Beberapa waktu lalu, Camat Megamendung, Ridwan melakukan tindakan terhadap beberapa kios milik pedagang kaki lima yang dicurigai sebagai ajang transaksi pil tramadol yang kini tengah merasuki pemuda.

“Harus kita berantas pelaku pengedar narkoba termasuk pil tramadol. Pergerakannya kita sempitkan dengan terus melakukan pengawasan di setiap desa. Beberapa waktu lalu kita sudah melakukan tindakan terhadap kios milik pedagang kaki lima yang dicurigai sebagai tempat transaksi pil tersebut,”’ ujarnya.

Untuk benar-benar bersih dari peredaran narkoba, kata dia, telah menggerakkan jajaran trantib yang ada di kecamatan. Patroli terhadap tempat dan lokasi lokasi yang sifatnya rawan terjadinya pengedaran narkoba kerap dilakukannya.

** Dadang Supriatna