28.1 C
Bogor
Monday, May 4, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Botani Square dan Hotel Santika Bogor Bantah Tuduhan Pencemaran Limbah

0

Bogor | Jurnal Bogor

Manajemen Botani Square dan Hotel Santika Bogor memberikan klarifikasi resmi terkait isu pengelolaan limbah dan dugaan dampak lingkungan yang sempat mencuat. Pihak manajemen menegaskan seluruh proses pengolahan limbah telah berjalan sesuai regulasi dan standar lingkungan pemerintah.

Dalam klarifikasinya Manajemen menilai tudingan pencemaran lingkungan hingga penyebab banjir tidak memiliki dasar yang kuat.

Pengelolaan Limbah Diklaim Sesuai Standar

Manajemen menegaskan operasional pusat perbelanjaan dan hotel mengedepankan prinsip keberlanjutan. Seluruh air limbah disebut telah melalui proses pengolahan di instalasi khusus sebelum dialirkan ke saluran akhir.

“Kami memiliki komitmen penuh dalam pengelolaan lingkungan. Sistem operasional kami telah terpantau dan teruji sesuai ketentuan,” ujar perwakilan manajemen dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026).

Pemantauan kualitas limbah, lanjutnya, dilakukan secara rutin sesuai izin yang dimiliki. Hasil uji laboratorium menunjukkan seluruh parameter limbah masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan peraturan perundang-undangan.

Perizinan dan Sistem Drainase Dipastikan Lengkap

Dalam klarifikasinya, manajemen juga memaparkan aspek teknis dan legalitas operasional. Botani Square disebut telah mengantongi izin lingkungan yang sah, termasuk sistem pengelolaan drainase.

Manajemen menegaskan sistem drainase internal dirancang untuk mendukung kelancaran aliran air, bukan menjadi penyebab genangan atau banjir di wilayah sekitar.

Buka Ruang Transparansi

Manajemen menyatakan terbuka untuk berkoordinasi dengan pihak terkait guna menjaga kondisi lingkungan tetap kondusif. Klarifikasi ini diharapkan dapat meluruskan persepsi publik sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Operasional Botani Square dan Hotel Santika Bogor dipastikan tetap berjalan normal dengan pengawasan ketat terhadap standar operasional pengelolaan limbah.

** Fredy Kristianto

PTPN Apresiasi Pelaku KSO

0

Cisarua | Jurnal Bogor
Kehadiran para pelaku Kerjasama Operasional ( KSO) di areal lahan PTPN Regional 1 dan 2, dalam mengelola lahannya terus mendapat pengawasan dari pihak perkebunan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi tabrakan dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh pihak perkebunan. Yakni, mulai harus tepatnya membayar administrasi dalam waktu yang sudah ditentukan, hingga kepada pengawasan pengelolaan lahan yang dilakukan oleh pemegang KSO.

“Pelaku KSO harus mentaati kesepakatan yang sudah dituangkan dalam drap kerjasama operasional. Mulai dari membayar pajak tepat waktu, hingga kepada pengelolaan lahan tidak boleh sembarangan. Perkebunan memiliki misi untuk menjaga kelestarian alam. Melalui perkebunan dengan tanaman yang sudah ditentukan. Keseimbangan alam dan pasilitas yang dimiliki oleh pemegang KSO harus diperhatikan. Dalam arti, areal tidak boleh gundul, melainkan hari ditanami pepohonan sebagai resapan air dan penguat tanah, ” ujar Asisten Manager PTPN 1 Regional II Gunung Mas, Zaenal Mutaqin.

Sementara itu ditambahkan dia, pihak perkebunan mengapresiasi terhadap para pelaku KSO yang menepati terhadap aturan-aturan sebagaimana yang sudah tertuang di draf perjanjian kerjasama operasional itu.

“Dari sejumlah pemegang KSO ada saja yang perlu ditegur. Tetapi banyak juga pelaku KSO yang taat dan patuh terhadap komitmennya. Seperti Eri Farm, Gayatri, mereka cukup disiplin dalam mengelola lahan milik PTPN-nya. Mulai dari melakukan penanaman berbagai jenis pepohonan, hingga kepada yang lainnya, ” imbuhnya.

Zaenal juga menyoroti kondisi ekosistem kawasan yang sempat terganggu akibat praktik penanaman sayuran di lahan terbuka. Hal ini membuat lahan gundul dan mengurangi keberadaan tanaman keras.

Untuk itu, PTPN menjalin kerja sama dengan Taman Safari guna memperkuat konservasi. Luas area yang dikerjasamakan sekitar 200 hektare di bagian atas kawasan, khusus untuk penanaman kembali dan konservasi, bukan untuk komersialisasi.

“Tujuannya jelas, untuk penguatan konservasi. Kita tidak mengizinkan penanaman sembarangan, kecuali pola tumpang sari di bawah pohon keras seperti dulu, supaya alam tetap terjaga tapi masyarakat tetap bisa berusaha,” pungkasnya.

** Dadang Supriatna

KTC Geruduk PTUN Bandung

0

Caringin | Jurnal Bogor
Ratusan petani anggota Kerukunan Tani Cimande (KTC) Desa Lemah Duhur, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, menggeruduk Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/4/2026). Mereka yang berjumlah 120 orang itu sedang berjuang mencari keadilan dalam agenda sidang pembuktian di PTUN.

Ke-120 petani berangkat menggunakan satu unit bus dan satu unit kendaraan roda empat dengan biaya patungan menuju PTUN Bandung di Jalan Diponegoro No. 34, Kota Bandung.

Mereka hadir dalam sidang pembuktian untuk memberikan dukungan moral terhadap KTC yang diwakili oleh H Achmad Suhaimi, sebagai Ketua Umum yang juga sebagai penggugat atau principal. Sedangkan tergugat I BPN Kabupaten Bogor dan tergugat II intervensi PT Panorama Agro Lemah Duhur.

“Saya mengapresiasi kehadiran para petani yang turut hadir di PTUN Bandung atas keinginan para petani sendiri. Kehadiran ratusan petani ini adalah untuk memberikan dukungan moral kepada KTC sebagai bentuk kesamaan orang-orang yang terdzolimi oleh oknum para biong-biong mafia tanah dan meminta kepada majelis hakim PTUN Bandung untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya, bagaimana nasib masa depan kami para petani yang sudah berpuluh puluh tahun bertani sebagai penggarap,” ungkap Achmad Suhaimi.

KTC, lanjut Suhaimi, meminta kepada Menteri ATR BPN RI Nusron Wahid, Dirjen Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan Iljas Tedjo Prijono, dan Kepala Kanwil BPN Jabar Yuniar Hikmat Ginanjar untuk menindak oknum yang telah bermain sehingga terbitnya SHGB No 170, 182, 183, 184 atas nama PT Panorama Agro Lemah Duhur yang terbit tahun 2023.

“Terbitnya SHGB ini disinyalir adanya mall administrasi karena tidak dilakukan secara prosedur,” pungkasnya.

Sedangkan kuasa hukum KTC, Pahala Manurung dan Stenny Widya Asmara dalam keterangan persnya mengatakan akan mengawal dalam memperjuangkan para petani sampai tuntas.

“Garapan ini merupakan hak para petani, jadi akan kami perjuangkan semaksimal mungkin agar tanah garapan itu tidak lepas,” tuturnya.

Sementara itu Udin, salah satu petani penggarap, meminta agar para petani tetap menggarap lahannya.

“Karena inilah mata pencaharian kami sehingga bisa untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak. Tanah bagi para petani adalah nyawa yang harus dirawat dan dipertahankan agar tetap lestari,” harapnya.

** Dadang Supriatna

Kawal Percepatan Tanam, UPT Pelatihan Kementan Turun Langsung di Indramayu

0

Indramayu | Jurnal Bogor
Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produksi padi melalui Gerakan Tanam Padi Serentak yang digelar secara nasional di 25 provinsi.

Di Jawa Barat, kegiatan ini dikawal langsung oleh Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) di Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Kamis (30/4/2026).

Gerakan Tanam Padi Serentak

Pada kegiatan tersebut, tanam padi dilakukan di lahan seluas sekitar 80 hektare. Secara keseluruhan, luas tanam serentak di Jawa Barat pada hari yang sama mencapai sekitar 386 hektare.

Gerakan ini menjadi bagian dari strategi percepatan tanam melalui peningkatan indeks pertanaman, optimalisasi lahan, serta penguatan kelembagaan petani guna mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam harus terus dilakukan secara konsisten melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani.

“Penguatan peran penyuluh serta dukungan sarana produksi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan peningkatan produksi,” ujarnya.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa percepatan tanam perlu diiringi dengan pendampingan berkelanjutan, mulai dari kesiapan lahan hingga pelaksanaan tanam yang tepat waktu.

Sementara itu, Kepala BBPMKP, Sukim Supandi, yang hadir di lokasi menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga memastikan seluruh ekosistem pendukung berjalan optimal.

“Mulai dari kesiapan lahan hingga pendampingan petani harus terintegrasi agar hasilnya maksimal,” jelasnya.

Di Indramayu, percepatan tanam juga diperkuat melalui Brigade Pangan yang berperan sebagai motor penggerak di lapangan. Tercatat lima Brigade Pangan telah terbentuk di Kecamatan Terisi dan Gantar dengan dukungan alat dan mesin pertanian.

Keberadaan Brigade Pangan ini diharapkan mampu mempercepat olah tanah dan tanam, meningkatkan efisiensi usaha tani, sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pertanian modern.

Melalui gerakan ini, Kementan optimistis percepatan luas tanam dapat terus ditingkatkan guna mendukung pencapaian target produksi dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

(Restu/BBPMKP)

Kelurahan Babakan Fokus Bina PKL

0

Bogor | Jurnal Bogor

Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, dikenal memiliki potensi kuliner dan jasa. Tetali, wilayaj ini masih menghadapi tantangan klasik perkotaan mulai dari penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) hingga masalah banjir lintasan.

​Lurah Babakan, Andri Junizar, mengatakan bahwa dengan luas wilayah sekitar 146,2 hektar, Babakan memiliki karakteristik unik karena berbatasan langsung dengan Kelurahan Tegallega di berbagai sisi.

Menurut dia, secara kondisi ekonomi, Babakan merupakan salah satu kelurahan dengan jumlah pelaku usaha terbanyak di Bogor Tengah.

Andri menyatakan, terdapat sebanyak 17 hotel berbintang serta puluhan kafe dan restoran yang menjadi penyumbang aktif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan jumlah wajib pajak mencapai 1.953.

​”Kelurahan Babakan ini banyak pelaku usaha, termasuk hotel, resto, dan kafe yang jika dibandingkan dengan 10 kelurahan lain di Bogor Tengah, kita termasuk yang paling banyak. Di sektor pendidikan, kita juga memiliki aset besar seperti SD Gunung Gede, SD Papandayan, hingga SMK Negeri 3 Bogor,” ujar Andri.

Kata dia, salah satu yang krusial adalah keberadaan 1.115 PKL yang tersebar di titik-titik strategis seperti Jalan Malabar, Sancang, hingga kawasan Rumah Sakit.

Andri menekankan bahwa pihaknya tengah melakukan pembinaan intensif agar para pedagang tidak menggunakan trotoar secara sembarangan.

​Ia menjelaskan bahwa dalam waktu tiga bulan ke depan, pihaknya menargetkan penataan yang lebih rapi sesuai dengan arahan pimpinan.

“Konsepnya adalah pembinaan dan penataan. Karena kita tidak memiliki lahan khusus untuk relokasi, maka pendekatannya adalah pembinaan agar penggunaan bahu jalan dan trotoar bisa lebih tertata,” tuturnya.

​Selain ekonomi, masalah infrastruktur seperti banjir lintasan di wilayah RW 03 dan RW 06 menjadi perhatian serius.

Lebih lanjut, sambung dia, banjir sering terjadi akibat buruknya kontrol drainase di pemukiman warga.

​”Masalahnya seringkali karena drainase itu ditutup permanen oleh masyarakat untuk keperluan dapur atau bangunan mereka, sehingga ketika banjir besar, mereka bingung karena tidak bisa dikontrol. Kami sudah berkomunikasi dengan Dinas PUPR dan Perkim untuk normalisasi drainase serta sungai kecil di wilayah tersebut,” ungkapnya.

Kata dia, saat ini kegiatan sarana prasarana (sarpras) dari APBD seperti pengaspalan jalan di RW 02 sedang berjalan sebagai bentuk peningkatan kualitas infrastruktur wilayah.

Pada bidang sosial, Kelurahan Babakan terus memantau angka kesehatan masyarakat. Saat ini terdapat 14 anak dalam kategori stunting yang terus mendapatkan intervensi.

Ia menambahkan, pihaknya juga rutin menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) kepada 471 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

“Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh Yayasan KBLM untuk pemberian susu dan makanan tambahan bagi anak-anak. Fokus kami adalah bagaimana angka 14 ini terus berkurang setiap bulannya,” tandasnya.

​Dengan berbagai potensi dan permasalahan yang ada, Andri berharap adanya kolaborasi yang lebih kuat antara dinas terkait, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mewujudkan Kelurahan Babakan yang lebih tertata dan mandiri.

** Fredy Kristianto

Kelurahan Gudang Komitmen Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Warga

0

Bogor | Jurnal Bogor

Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, berupaya meningkatkan kualitas wilayah dan kesejahteraan warganya.

Lurah Feri Setiawan mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi prioritas utama guna menciptakan lingkungan pemukiman yang nyaman, bersih, dan asri.

​Feri mengakui bahwa karakteristik Kelurahan Gudang sebagai wilayah padat penduduk memiliki tantangan tersendiri.

Namun, hal itu tidak menyurutkan komitmennya untuk menghadirkan perubahan nyata, terutama dalam hal ketertiban lingkungan.

​”Misi kami yaitu mewujudkan lingkungan pemukiman yang nyaman, bersih, dan asri. Meskipun semua tahu kondisi Kelurahan Gudang seperti apa, kami terus berupaya maksimal,” ujar Feri Setiawan di hadapan awak media.

​Ia juga menyoroti perubahan signifikan terkait isu keamanan. Jika sebelumnya wilayah ini kerap diidentikkan dengan potensi konflik antarwarga atau tawuran, kini kondisi tersebut telah berubah total.

​”Dulu mungkin orang mendengar kata ‘Gudang’ pasti identik dengan tawuran. Tapi Alhamdulillah, selama dua tahun kepemimpinan saya, tidak ada lagi tawuran. Kami menggalakkan program Jaga Lembur setiap malam Sabtu dan Minggu untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan,” tegasnya.

​Secara administratif, Kelurahan Gudang memiliki luas wilayah 32,5 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 6.447 jiwa (data Maret 2026).

Lokasinya yang bersinggungan langsung dengan kawasan niaga Surya Kencana menjadikan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai agenda rutin.

​Hingga saat ini, pihak kelurahan telah melakukan sosialisasi dan penertiban di sejumlah titik, seperti Jalan Bataman, Jalan Pedati, dan Jalan Lawang Saketeng.

Total terdapat ratusan PKL yang terus dikomunikasikan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengganggu ketertiban umum.

​Selain infrastruktur fisik, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pilar penting. Kelurahan Gudang aktif memfasilitasi kelompok belajar PKBM (Paket A, B, dan C) untuk menekan angka putus sekolah, serta menjalin kerja sama dengan Universitas BSI dalam pelatihan komputer grafis bagi kader PKK dan pengurus RT/RW.

Feri juga mengungkapkan keberhasilan pembangunan 10 titik septic tank komunal bantuan pemerintah pusat serta perintisan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

​”Kami juga merintis Kelompok Wanita Tani (KWT) Geulis. Meski kami tidak punya lahan pertanian yang luas, kami berkolaborasi dengan pihak KAI untuk memanfaatkan lahan di pinggir rel demi produktivitas warga,” tambah Feri.

​Menutup pemaparannya, Lurah yang dikenal akrab dengan warganya ini mengajak rekan-rekan media untuk terus berkolaborasi, terutama dalam mempromosikan potensi lokal.

Ia juga menyambut baik rencana aksi sosial seperti “Jumat Bersih” yang melibatkan organisasi profesi jurnalis.

​”Kami membuka pintu lebar untuk kolaborasi. Jika ada event yang bisa memunculkan potensi UMKM kami, silakan. Mari kita sama-sama menjaga kenyamanan wilayah ini,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Terjunkan 103 Petugas untuk Pemeriksaan Hewan Kurban

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menurunkan sebanyak 103 petugas untuk memastikan kesehatan hewan kurban menjelang Idul Adha 1447 Hijriah.

Sebanyak 78 orang berasal dari tenaga medik veteriner dan paramedik veteriner, serta 25 orang petugas penyuluh swadaya.

Mereka telah dibentuk dalam tim pemeriksa kesehatan hewan kurban dan daging qurban, dan mulai bertugas sejak 13 April hingga 30 Mei 2026.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran penyakit hewan menular strategis (PHMS), penyakit zoonosis maupun food borne disease selama pelaksanaan kurban di wilayah Kabupaten Bogor.

“Menjelang Idul Adha, kami melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban untuk memastikan hewan qurban bebas dari penyakit,” ujar drh. Siswiyani Medik Veteriner Ahli Muda Dinas Peternakan Kabupaten Bogor, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, hewan kurban harus memenuhi persyaratan kesehatan dan umur. Untuk sapi minimal berusia dua tahun, sedangkan kambing dan domba minimal satu setengah tahun.

Selain itu, hewan harus dalam kondisi sehat, tidak cacat, serta dilengkapi dokumen persyaratan lalu lintas, terutama bagi hewan yang didatangkan dari luar daerah maupun luar pulau.

Sementara itu, Medik Veteriner Ahli Muda drh. Siswiyani juga mengimbau para peternak untuk menyediakan fasilitas yang layak bagi hewan kurban.

Hal ini penting sebagai salah satu penerapan prinsip kesejahteraan hewan

“Peternak harus memastikan hewan tidak kekurangan air minum dan pakan, menjaga kebersihan kandang, serta tidak mencemari lingkungan sekitar,” jelasnya.

(Leonita)

IDI Kota Bogor Tampilkan Inovasi Digital, Wujudkan Dokter Cerdas dan Masyarakat Sehat

0

Bogor | Jurnal Bogor

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Bogor siap menggelar perhelatan akbar berskala nasional pada 8–10 Mei 2026. Mengusung semangat kolaborasi dan transformasi digital, rangkaian acara ini memadukan penguatan kompetensi medis, pelestarian budaya, hingga aksi sosial yang melibatkan masyarakat luas.

Ketua IDI Cabang Kota Bogor, dr. Armein Sjuhary Rowi, M.Kes., M.Si., M.M, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis IDI untuk tetap relevan di tengah dinamika kesehatan global.

“IDI Kota Bogor hadir bukan hanya untuk menaungi anggota, tetapi sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan. Kami ingin memastikan dokter tetap kompeten, adaptif, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar dr. Armein.

Rangkaian acara ini terbagi ke dalam tiga pilar besar yang dirancang secara komprehensif. Yakni, Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVI: Inovasi Digital & Penyakit Kronis

Berfokus pada tema “Navigating The Future Chronic Care: Digital Innovations and Challenges”, agenda ini akan menghadirkan 28 pakar nasional di IPB International Convention Center. Menariknya, peserta berkesempatan memperoleh hingga 44 SKP Kemenkes.

Kemudian, simulasi robotic surgery, pemanfaatan AI dalam diagnosis, dan workshop manajemen obesitas. Dilanjuy Malam Keakraban & Budaya (MKB) yang menguak sisi humanis sang dokter.

Diselenggarakan pada 9 Mei, acara ini mengusung tema “Silang Sang Dokter Silang Sang Kesehatan” sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai kemanusiaan dan budaya Jawa Barat. Di antaranya fashion show batik Jawa Barat oleh keluarga besar IDI, pemberian penghargaan bagi para mantan ketua IDI, serta aksi donasi untuk Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kota Bogor.

“Sebagai puncak acara pada 10 Mei, IDI mengajak warga Bogor dan sekitarnya untuk jalan sehat sejauh 4 KM di Summarecon Bogor dengan tema “Walk Together, Live Healthier”, ucapnya.

Selain itu, sambungnyq, IDI juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan melaksanakan cek kesehatan gratis dari Dinkes Kota Bogor, donor darah bersama PMI, dan senam yang dipandu oleh instruktur yang juga seorang dokter, dr. Maria Yuliana.

Kesuksesan acara ini didukung oleh sinergi kuat antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, hingga komunitas hobi.

“Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak. Semoga forum ini menjadi penguatan nilai pengabdian dalam dunia kesehatan,” tandas Armein.

Sementara itu,
Ketua Panitia Malam Keakraban (MK), dr. Irma Rossalina, M.Biomed., Dipl. AAAM., CBA. MSC, menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadirkan sebagai ruang hangat untuk merawat kebersamaan ditengah padatnya dinamika profesi.

“Dokter Tidak hanya identik dengan pelayanan medis, tetapi juga memiliki sisi empati, budaya dan kebersamaan. Kegiatan ini juga sebagai pengingat kekuatan profesi tidak hanya pada ilmu tetapi pada nilai kemanusiaan,” katanya.

Dalam kegiatan ini juga akan diberikan penghargaan kepada para mantan Ketua IDI Cabang Kota Bogor.

Selain itu, akan ada aksi penggalangan donasi yang akan disalurkan kepada Yayasan Kanker Indonesia Cabang Kota Bogor.

** Fredy Kristianto | *

Kuatkan Pelayanan Spesialistik Anak, Poliklinik Bedah Anak di RSUD R. Moh. Noh Nur Mulai Beroperasi 4 Mei

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan anak, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor menghadirkan layanan Poliklinik Bedah Anak yang ditangani langsung oleh dr. Makburi, M.Biomed, Sp.BA, FIAPS yang mulai beroperasi pada 4 Mei 2026.

Layanan ini hadir untuk memberikan penanganan medis yang profesional, aman, dan menyeluruh bagi pasien anak.

Poliklinik Bedah Anak menjadi solusi bagi orang tua yang membutuhkan pemeriksaan dan tindakan medis terkait kondisi yang memerlukan evaluasi bedah, mulai dari bayi, balita, hingga remaja.

Pelayanan dilakukan dengan pendekatan yang teliti, nyaman, dan ramah anak.

Adapun layanan yang tersedia meliputi konsultasi dan penanganan berbagai kondisi seperti hernia atau benjolan pada anak, gangguan saluran cerna, kelainan bawaan, infeksi jaringan lunak, masalah pada area kelamin, luka yang memerlukan tindakan khusus, hingga kontrol pascaoperasi.

Setiap pasien akan mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh agar orang tua memahami kondisi anak dan langkah penanganan yang tepat.

Layanan ini didukung oleh tenaga medis kompeten serta fasilitas rumah sakit yang memadai, sehingga masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sejak dini guna mencegah kondisi yang lebih serius.

Poliklinik Bedah Anak mulai beroperasi pada 4 Mei 2026, dengan jadwal praktik:

Rabu : 07.00 – 11.00 WIB

Kamis : 07.00 – 11.00 WIB

Jumat : 07.00 – 11.00 WIB

Sabtu : 07.00 – 11.00 WIB

Pada kesempatan Upacara Hari Senin, 20 April 2026, Kepala Bidang Pelayanan Medik, dr. Rosmalina Agustina, MARS, menyampaikan bahwa kehadiran layanan ini merupakan langkah penguatan pelayanan spesialistik anak di RSUD R. Moh. Noh Nur.

Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan apabila anak mengalami keluhan terkait kondisi bedah. Penanganan yang cepat dan tepat merupakan kunci untuk menjaga kesehatan anak secara optimal.

(yev/cc)

Dugaan Pencemaran Sungai Oleh Botani dan Santika, Wali Kota Tunggu Laporan Resmi

0

Bogor | Jurnal Bogor

Adanya dugaan pencemaran Sungai Ciparigi yang menyeret Hotel Santika dan Botani Square mendapat sorotan serius.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor masih menunggu laporan resmi dari aparat wilayah sebelum mengambil langkah tegas, di tengah keluhan warga terkait bau tak sedap dan perubahan kondisi air sungai.

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, mengatakan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima laporan lengkap dari wilayah. Informasi awal, kata dia, akan segera disampaikan oleh Lurah Tegallega dan Camat Bogor Tengah.

“Saya masih menunggu laporan. Hari ini rencananya Pak Lurah Tegallega dan Pak Camat Bogor Tengah akan menyampaikan,” ujar Dedie kepada wartawan usai kegiatan deklarasi Kecamatan Tangguh Bencana di Kantor BPBD Kota Bogor, Kecamatan Tanah Sareal, Kamis (30/4).

Menurut dia, Pemkot Bogor belum bisa memastikan bentuk maupun mekanisme dugaan pencemaran tersebut, dengan cara mengumpulkan data detail mulai dari cara membuang limbah, lokasi pembuangan sampai ke dampak.

“Kami belum tahu praktik pembuangannya seperti apa dan ke mana limbah itu dibuang. Nanti setelah ada informasi lebih detail, pihak terkait akan kami panggil,” ucapnya.

Sebelumnya, Lurah Tegallega, Hardi, mengungkap dugaan pembuangan limbah ke Sungai Ciparigi oleh Hotel Santika dan Botani Square. Temuan itu disampaikan setelah pihak kelurahan melakukan peninjauan langsung ke saluran limbah pada Rabu (29/4).

Menurut Hardi, pihaknya telah melayangkan teguran, baik secara lisan maupun tertulis, kepada manajemen kedua pihak. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut.

“Kami sudah memberikan teguran, baik tertulis maupun lisan. Tapi sampai hari ini belum ada tindakan. Limbah masih dibuang ke sungai,” kata Hardi.

Ia juga mengaku telah meminta hasil uji laboratorium terkait kualitas limbah dari pihak hotel. Namun permintaan tersebut belum dipenuhi.

“Kami sudah minta hasil uji laboratorium untuk memastikan limbah itu tidak berdampak. Tapi sampai sekarang belum ada hasil yang diberikan, baik dari Santika maupun Botani Square,” ujarnya.

Hardi menambahkan, dampak yang dirasakan warga antara lain bau tidak sedap serta perubahan kondisi air sungai.

Ia juga menyoroti ukuran pipa pembuangan milik Botani Square yang dinilai cukup besar dan diduga memengaruhi debit air.

“Dampaknya bau, dan kondisi air berubah. Pipa dari Botani juga besar sekali,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto