30.3 C
Bogor
Thursday, May 7, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Pengelola Arung Jeram Pastikan Wisata Aman Berstandar

0

Caringin | Jurnal Bogor

Buntut viral tewasnya wisatawan yang terbawa arus deras di kawasan Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP), Curug Cisadane, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pekan kemarin.

Rupanya berdampak lesu bagi para pengelola wisata arus deras atau rafting di wilayah Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Pasalnya, tidak sedikit para calon pengunjung urung niat untuk berwisata adrenalin sungai Cisadane setelah melihat video tragedi Curug Cisadane

“Iya, kemarin saya juga ada pertanyaan dari tamu untuk booking tanggal 9 sama tanggal 31. Mereka lihat berita kaitan adanya insiden di Curug Cisadane. Saya pun jelaskan kalau itu bukan di area pengarungan kali Cisadane, namun lokasinya itu merupakan hulu Cisadane,” jelas H. Saprudin Jepri, Owner rafting Grand Titik Kumpul (Tikum), menyampaikan kepada Jurnal Bogor, Kamis (7/5/2026).

H.Jepri melanjutkan, lokasi kejadian yang heboh di media sosial itu berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP)’ Curug Cisadane. Jaraknya pun kata dia, amat jauh dengan lokasi rafting yang dikelolanya.

“Kalau kejadian kemarinkan di Ciwaluh, di Desa Wates Jaya. Dan itu kebetulan adanya di Curug. Ketika wisatawan sedang berkunjung ke situ, tiba-tiba hujan besar, air Curugnya besar, dan itu terkena terhadap tiga orang wisatawan, yang salah satunya meninggal dunia,” lanjutnya.

Untuk itu, kata dia, para pengunjung jangan khawatir untuk berwisata menggunakan jasa rafting Grand Titik Kumpul. Karena jasa wisata yang di kelolanya memiliki personil yang sudah mengantongi standar operasional dan berpengalaman. Hingga keselamatan pengunjung menjadi yang terkuat.

“Saya sudah coba jelaskan, bahwa kalau Kali Cisadani ini, untuk pengarungan, untuk tim arung jeram itu, kita punya SOP yang ketat,” kata H.Jepri yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Bogor Selatan.

Mantan Kades Ciherang itu pun menambahkan, untuk para pengelola rafting di wilayah Caringin sendiri memiliki ikatan emosional melalui paguyuban. Sehingga komunikasi terkait aktivitas arung jeram dapat dikoordinasikan dengan baik, termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca

” Kita punya paguyuban. Yang ketiga juga kita punya teamwork. Bahwa apabila Kali Cisadane meluap dan airnya naik gitu ya, pasang, maka seluruh operator yang ada di Caringin ini tidak melakukan pengarungan. Ini menjadi sesuatu yang paling penting untuk menjaga keselamatan para tamu,” tambahnya.

Oleh karena itu, untuk mengutamakan keselamatan, rafting memiliki pemberlakuan jam operasional yang memungkinkan adanya aktivitas pengarungan di sungai Cisadane.

“Pagi diutamakan dengan siang ya. Nah ketika jam 4 ke atas. Kita sudah tidak lagi ada pengarungan. Karena situasi hujan sekarang ini terus-menerus. Dan kita sepakat semua. Pokoknya setelah jam 4 tidak ada pengarungan. Nah kalaupun misalnya di bawah jam 4. Ada hujan deras. Kemudian menimbulkan air meluap. Maka pengarungan distop gitu,” pungkasnya.n Herry Setiawan (AR)

Pengelola Wisata Diminta Koordinasi Muspika Cigombong

0

Cigombong | Jurnal Bogor

Kapolsek Cigombong, Kompol Uba Subrata dengan tegas meminta kepada para pengelola tempat wisata untuk berkoordinasi dengan Muspika. Hal itu disampaikan Kapolsek, pasca terjadinya tragedi tewasnya seorang wisatawan asal Jakarta di lokasi wisata Kawasan Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP), Curug Cisadane, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pekan kemarin.

“Kami, Pak camat juga sampaikan kaitan wisata alam apalagi wisata air yang memiliki potensi bahaya. Agar tiap pengelola untuk berkoordinasi dengan Muspika,”tegas Kompol Uba Subrata, kepada Jurnal Bogor, di halaman Kantor Kecamatan Cigombong, Kamis (7/5/2026).

Mantan Kapolsek Cigudeg itu melanjutkan, untuk sementara lokasi wisata yang ada di Kawasan TNGP ditutup sementara pasca terjadinya musibah tersebut. Pihaknya juga menyampaikan bahwa, peristiwa itu harus menjadi pembelajaran bagi para pengelola wisata untuk mempertimbangkan cuaca.

“Karena cuaca di Bogor ini masih buruk, jadi pihak TNGP menutup sementara tempat wisata. Karena faktor alam tidak bisa di ajak kompromi jadi kita harus mengutamakan keselamatan,” imbuhnya.

Ketika disinggung adakah unsur kelalaian dari pihak pengelola wisata?, pihaknya pun menjelaskan bahwa, hal itu tengah di dalaminya. Pihak pengelola pun sudah di panggil untuk dimintai keterangan.

“Nah, kita sedang didalami dulu apakah ada unsur kelalaian atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, Sekcam Cigombong, Yedi Surachman menambahkan, pihak pengelola beserta unsur Muspika sudah duduk bareng di Kantor Kecamatan Cigombong, untuk mempertanyakan kronologis kejadian naas tersebut.

“Kan rilis kronolgisnya juga sudah ada alamat laman TNGP,” tandasnya.

Viral di Media Sosial (Medsos) seorang wisatawan tewas terbawa arus deras di area Ciwaluh, Curug Cisadane, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pada Jum’at (6/5/2026).

Dikonfirmasi, Sekdes Watesjaya, Wawan, membenarkan adanya peristiwa naas yang menimpa wisatawan berjenis perempuan tersebut. Pihaknya mengaku tidak tahu persis atas musibah yang terjadi.

“Kalau infonya tiga orang wisatawan tengah menyebrang. Tiba-tiba datang air bah datang sehingga mereka terjebak di sebrang sungai. kemungkinan waktu itu cuaca LG buruk,” terang Wawan kepada Jurnal Bogor, Rabu (6/5/2026).

Wawan pun menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui pengelola tempat wisata yang telah menelan korban tersebut. Sebab kata dia, pihak pengelola belum berkoordinasi dengan pihak desa setempat.

“Justru saya tahu ada tempat wisata itu setelah viral ada yang kena musibah. Untuk lokasinya itu jauh di daerah Ciwaluh,” terangnya.n Herry Setiawan (AR)

Pasca Tragedi Curug Cisadane, Kapolsek Minta Pengelola Wisata Berkoordinasi Muspika

0

Cigombong- Kapolsek Cigombong, Kompol Uba Subrata dengan tegas meminta kepada para pengelola tempat wisata untuk berkoordinasi dengan Muspika. Hal itu disampaikan Kapolsek, pasca terjadinya tragedi tewasnya seorang wisatawan asal Jakarta di lokasi wisata Kawasan Taman Nasional Gunung Pangrango (TNGP), Curug Cisadane, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pekan kemarin.

“Kami, Pak camat juga sampaikan kaitan wisata alam apalagi wisata air yang memiliki potensi bahaya. Agar tiap pengelola untuk berkoordinasi dengan Muspika,”tegas Kompol Uba Subrata, kepada Jurnal Bogor, di halaman Kantor Kecamatan Cigombong, Kamis (7/5/2026).

Mantan Kapolsek Cigudeg itu melanjutkan, untuk sementara lokasi wisata yang ada di Kawasan TNGP ditutup sementara pasca terjadinya musibah tersebut. Pihaknya juga menyampaikan bahwa, peristiwa itu harus menjadi pembelajaran bagi para pengelola wisata untuk mempertimbangkan cuaca.

“Karena cuaca di Bogor ini masih buruk, jadi pihak TNGP menutup sementara tempat wisata. Karena faktor alam tidak bisa di ajak kompromi jadi kita harus mengutamakan keselamatan,”imbuhnya.

Ketika disinggung adakah unsur kelalaian dari pihak pengelola wisata?, pihaknya pun menjelaskan bahwa, hal itu tengah di dalaminya. Pihak pengelola pun sudah di panggil untuk dimintai keterangan.

“Nah, kita sedang di dalami dulu apakah ada unsur kelalaian atau tidak. “jawabnya.

Sementara itu, Sekcam Cigombong, Yedi Surachman menambahkan, pihak pengelola beserta unsur Muspika sudah duduk bareng di Kantor Kecamatan Cigombong, untuk mempertanyakan kronologis kejadian naas tersebut.

“Kan rilis kronolgisnya juga sudah ada alamat laman TNGP,”singkatnya.

Viral di Media Sosial (Medsos) seorang wisatawan tewas terbawa arus deras di area Ciwaluh, Curug Cisadane, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pada Jum’at (6/5/2026).

Di konfirmasi, Sekdes Watesjaya, Wawan, membenarkan adanya peristiwa naas yang menimpa wisatawan berjenis perempuan tersebut. Pihaknya mengaku tidak tahu persis atas musibah yang terjadi.

“Kalau infonya tiga orang wisatawan tengah menyebrang. Tiba-tiba datang air bah datang sehingga mereka terjebak di sebrang sungai. kemungkinan waktu itu cuaca LG buruk,”terang Wawan kepada Jurnal Bogor, Rabu (6/5/2026).

Wawan pun menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui pengelola tempat wisata yang telah menelan korban tersebut. Sebab kata dia, pihak pengelola belum berkoordinasi dengan pihak desa setempat.

“Justru saya tahu ada tempat wisata itu setelah viral ada yang kena musibah. Untuk lokasinya itu jauh di daerah Ciwaluh,”terangnya.n Herry Setiawan (AR)

KMPD Cimande Hilir Terus Berburu Lahan

Caringin | Jurnal Bogor

Hampir semua desa di Kabupaten Bogor, terkendala ketersediaan lahan untuk pembangunan gerai koperasi desa. Seperti Koperasi Merah Putih Desa (KMPD) Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, yang masih mencari solusi lahan.

“Kami memiliki tanah aset desa, namun lokasinya jauh dari akses jalan sehingga tidak memungkinkan untuk dibangun. Ada pun alternatif yang tengah diupayakan adalah lahan milik PU,” kata Mulyadi, Sekdes Cimande Hilir, kepada Jurnal Bogor, Selasa (5/5/2026).

Menurut pria yang akrab disapa Damuy, area lahan itu sangat memungkinkan untuk mendirikan gedung koperasi desa. Selain strategis, lokasi lahan milik PU itu mudah terjangkau lantaran akses jalannya amat memungkinkan.

“Kami akan berupaya berkirim surat permohonan untuk pembangunan gerai koperasi merah putih. Mudah-mudahan responnya sesuai yang diharapkan,” ujar Damuy.

Koperasi merah putih yang merupakan program nasional, kata dia, menjadi agenda prioritas desa untuk melaksanakan kebijakan pemerintah pusat tersebut. Meskipun masih terkendala pembangunan gerai, namun untuk kepengurusannya sudah terbentuk.

“Alhamdulillah, untuk kepengurusan koperasi sendiri sudah terbentuk dan sudah memiliki anggota. Kaitan kegiatannya kami masih bermusyawarah kira-kira produk apa saja yang akan dijadikan giat usaha,” ujar Damuy yang diamini Ketua KMPD, Hendi Suratman.

Sementara itu, Hendi Suratman menambahkan, untuk permodalan kegiatan koperasi desa bersumber dari iuran para anggota.

“Ya, sementara kita mengandalkan iuran dari anggota saja. Untuk kegiatan usahanya sedang kami rumuskan kiranya produk unggulan apa saja yang nanti dijalankan,”tukasnya menambahkan.nHerry Setiawan (AR)

KMPD Citapen Niat Rangkul Dapur MBG

Ciawi | Jurnal Bogor

Keberadaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di tiap desa menjadi potensi ekonomi yang dapat menunjang perputaran ekonomi. Hal itu pun menjadi kepekaan Koperasi Merah Putih Desa (KMPD) Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, untuk menjalin mitra kerjasama dengan pengelola dapur.

“Ya, koperasi desa ke depan akan bekerjasama dengan dapur MBG. Kami pun telah berkomunikasi dengan pengelola dapur, mereka pun menyambut dengan baik. Kebetulan disini ada dua dapur, satu sedang berjalan dan satu lagi dalam proses pembangunan,” jelas Soemantri Kosih, Sekdes Citapen, ketika disambangi Jurnal Bogor, Senin (4/5/2026) di ruang kerjanya.

Sekdes yang memiliki nama beken Bering itu melanjutkan, jika koperasi desa (Kopdes) yang sudah terbentuk kepengurusan dengan jumlah anggota sementara 70 orang. Akan dikolaborasikan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memiliki sektor usaha dibidang peternakan, pertanian dan lainya.

“Jadi nantinya koperasi bisa menampung produk-produk masyarakat, seperti hasil bumi dan lainya. Bahkan produk BumDes seperti ayam telur, pertanian sayur, ini kan dapat menopang keberadaan koperasi,”lanjut Bering.

Dia pun menjelaskankan, untuk permodalan KMPD Citapen sendiri untuk saat ini bersumber dari iuran para anggota yang terdiri dari lapisan masyarakat. Untuk gerainya, Bering, mengatakan, sudah tersedia lahan milik desa yang sudah sia di bangilun.

“Alhamdulillah, lokasi lahan untuk pembangunan gerai koperasi desa kita sudah ada, persisnya dekat lapangan Citapen. Tinggal nanti kita bangun setelah pos anggarannya tersedia. Walau bagai mana pun ini program pemerintah yang harus kita laksanakan dengan sukses,” tegasnya.n Herry Setiawan (AR).

UPT Bangunan Ciawi Usut Izin Dapur MBG

Ciawi | Jurnal Bogor

PT Penataan Bangunan II Ciawi akan melayangkan surat teguran kepada pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di Wilayah Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Surat yang bakal dikirim pekan depan itu guna mempertanyakan kelengkapan perizinan peruntukan pembangunan.

“Jika tidak berhalangan kami akan berkirim surat kepada dapur-dapur MBG di wilayah Kecamatan Cigombong untuk pemberitahuan kaitan perizinan yang harus sesuai dengan peruntukannya,”jelas Lukman, pengawas lapang di UPT Penataan Bangunan II Ciawi untuk wilayah Cigombong, kepada Jurnal Bogor, Senin (4/5/2026).

Lukman melanjutkan, Ia akan mendata keberadaan lokasi-lokasi dapur yang ada di Kecamatan Cigombong. Pihaknya pun terlebih dahulu berkordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat.

“Nanti kami komunikasi dengan pihak kecamatan untuk kaitan data dapur,”lanjut Lukman yang baru saja bertugas mengawasi bangunan di Cigombong.

Selain dapur, Lukman pun akan menginventaris bangunan-bangunan vila yang berdiri diatas lahan Kawasan Gunung Salak. Langkah itu dilakukakanya supaya bangunan tak berizin agar segera melengkapi perizinan sesuai peraturan berlaku.

“Yang pasti fokus dulu ke dapur MBG. Lagian kan saya disini baru. Kalau surat kerjang per April,”tukas Lukman yang awalnya berdinas di bagian administrasi Dinas Penataan Bangunan Kabupaten Bogor.

Ada pun sebelumnya, Camat Cigombong, menjelaskan bahwa, terdapat 21 dapur MBG yang sudah berjalan. Kemungkinan jumlah itu bisa bertambah jika mendapati adanya pembangunan dapur di wilayah tersebut.n Herry Setiawabln (AR)

Inflasi Penjilat

0

Sudah 80 tahun Indonesia merdeka namun perlawana atas feodalisme dan budaya paternalistik masih bersarang dan belum usai. Praktik feodalisme malahan makin kuat dan massif menyebar di semua lini birokrasi, partai politik dan lingkar kekuasaan.

Akibatnya, terjadi inflasi penjilat di semua lini kehidupan. Praktik menjilat kekuasaan rela dilakukan demi mencapai tujuan-tujuan bertahan hidup. Ya cuma sekedar bertahan hidup. Seperti hidup di hutan belantara atau di padang pasir tandus. Hanya untuk cari makan dan memenuhi dorongan syhawat. Utamanya syahwat duniawi!

Padahal kehidupan kita akan tetap terus berjalan tanpa perlu menjilat pemilik modal, penguasa politik bahkan menjilat ludah sendiri. Namun praktik menjilat kini lazim dan sangat umum berlaku di sekitar kita. Kita hanya butuh sedikit untuk cukup pada kebutuhan dasar, makan, sandang, papan. Selebihnya syhawat duniawi.

Inflasi penjilat juga menggerogoti aktivis di tengah suara keras mereka soal kondisi problematika hukum, ekonomi dan sosial budaya di sekitar kita yang makin degradasi dari cita ideal berdirinya Republik Indonesia. Godaan .asuk dalam struktur kekuasaan selalu ada di depan pintu rumah mereka. Saat ini, nyaris semua elemen gerakan aktivis sudah masuk dalam struktur kekuasaan. Menambah populasi penjilat kekuasaan sehingga mengerek angka para penjilat menjadi over populasi. Jadilah inflasi penjilat.

Kenaikan jumlah penjilat di sekitar kehidupan kita juga diiringi dengan memburuknya kondisi ekonomi untuk keberlangsungan hidup. Seandainya kehidupan ekonomi dasar lapisan masyarakat menengah bawah terjamin murah, mudah diakses dan berkualitas baik, kita meyakini tidak akan terjadi over populasi penjilat yang menyebabkan inflasi penjilat.

Sudah jadi suratan takdir bahwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 baru tercapai karena peran penting para aktivials muda penggerak bandul revolusi. Mereka yang namanya tak semasyur Bung Karno, Bung Hatta termasuk Tan Malaka, adalah faktor penentu sehingga 2 bung besar itu bersedia membacakan proklamasi di Gedung Joang 45, Jakarta. Proklamasi itu terjadi karena perbandingan jumlah aktivis penjilat dan aktivis organik profetik berat sebelah. Lebih banyak aktivis profetik organik yang tulus dan murni ingin mencapai kemerdekaan sejati.

Sayangnya, saat ini jumlah aktivis profetik-organik itu kalah jumlah dengan aktivis penjilat yang hanya mementingkan isi perut dan dorongan syahwat segelintir orang. Cuma 1 persen dari 267 juta rakyat Indonesia yang mengatur dan memainkan bandul termasuk menciptakan para penjilat. Sisanya mengambang, tanpa arah, tersesat arus deras kebingungan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah. Postruth politics era. Apalagi suasana itu diperkeruh dengan inflasi penjilat. Makin kusut benang layangan republik untuk mengudara.

Kini, saatnya percepatan perbaikan kondisi ekonomi rakyat sipil di menengah ke bawah. Agar ruang permainan para penjilat dibatasi hanya pada elit saja. Karena menjilat perlu seni tersendiri. Ada kalanya atraktif dan ada saatnya bermain halus. Anda ada di mana? Tabik!

Makanan Terbuang MBG Telan 1,27 Triliun Perhari

Bogor | Jurnal Bogor

Studi Internal yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap potensi kerugian akibat makanan yang terbuang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai Rp 1,27 triliun setiap pekan. CELIOS merekomendasikan pemerintah untuk melakukan moratorium sementara terhadap program MBG untuk melakukan reformasi tata kelola.
“Kalau kita membicarakan MBG memang tidak ada habisnya. Banyak sekali keresahan terutama dari para orang tua. Makanannya itu banyak yang dibuang dan belum ada yang bisa meng-capture sebenarnya loss-nya itu seberapa,” ujar Peneliti CELIOS Isnawati Hidayah dalam konferensi pers, beberapa waktu lalu.
Isnawati mengatakan, CELIOS mencoba melakukan kalkulasi untuk memperkirakan potensi uang negara yang terbuang akibat makanan yang ditolak atau tidak dikonsumsi anak-anak. Ada sejumlah faktor menyebabkan penolakan, antara lain rasa yang tidak sesuai, kebersihan yang dinilai kurang higienis, serta kualitas gizi yang dianggap belum memadai.
CELIOS menghitungnya dalam dua skenario, yakni minimal dan maksimal. Skenario minimal yakni mencapai 62 juta porsi terbuang setiap minggu, dengan estimasi kerugian mencapai Rp 622 miliar per minggu.
Sedangkan dalam skenario maksimal potensi kerugian bisa mencapai Rp1,27 triliun per minggu jika tingkat penolakan lebih tinggi. 
“Kalau kita menggunakan asumsi penolakan maksimal, itu bisa mencapai Rp 1,27 triliun setiap minggunya,” kata Isnawati.
Sebagai informasi, pada kuartal pertama tahun ini, pemerintah berencana membelanjakan APBN sebesar Rp 62 triliun untuk program MBG. Sedangkan pada tahun lalu realisasi belanja sepanjang tahun mencapai Rp 51,5 triliun.  
Menurut perhitungan CELIOS, dalam skenario minimal, dana yang terbuang per bulan setara dengan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi sekitar 15,5 juta jiwa selama satu bulan penuh.
Sementara dalam skenario maksimal, dana tersebut setara dengan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi sekitar 31,6 juta jiwa selama satu bulan.
“Jadi sebenarnya uang yang terbuang sebanyak itu dalam perminggunya, kalau kita asumsikan satu bulan saja, bisa untuk membayar BPJS masyarakat secara gratis,” ujarnya. 
Atas temuan tersebut, CELIOS merekomendasikan moratorium sementara program MBG, diikuti reformasi total dalam tata kelola dan distribusi. Selain itu, diperlukan audit transparan serta evaluasi menyeluruh guna mencegah pemborosan anggaran yang lebih besar.
“Rekomendasi kami konsisten, yaitu moratorium, reformasi total MBG, dan audit transparan evaluasi, sehingga mencegah pemborosan uang rakyat yang lebih besar,” kata Isnawati.n Irwan Hasby

Viral Wisatawan Terbawa Arus di Curug Cisadane

0

Cigombong- Viral di Media Sosial (Medsos) seorang wisatawan tewas terbawa arus deras di area Ciwaluh, Curug Cisadane, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pada Jum’at (6/5/2026).

Di konfirmasi, Sekdes Watesjaya, Wawan, membenarkan adanya peristiwa naas yang menimpa wisatawan berjenis perempuan tersebut. Pihaknya mengaku tidak tahu persis atas musibah yang terjadi.

“Kalau infonya tiga orang wisatawan tengah menyebrang. Tiba-tiba datang air bah datang sehingga mereka terjebak di sebrang sungai. kemungkinan waktu itu cuaca LG buruk,”terang Wawan kepada Jurnal Bogor, Rabu (6/5/2026).

Wawan pun menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui pengelola tempat wisata yang telah menelan korban tersebut. Sebab kata dia, pihak pengelola belum berkoordinasi dengan pihak desa setempat.

“Justru saya tahu ada tempat wisata itu setelah viral ada yang kena musibah. Untuk lokasinya itu jauh di daerah Ciwaluh,”terangnya.

Kapolsek Cijeruk Kompol Uba Subrata membenarkan kejadian itu. Dia mengatakan peristiwa itu sendiri terjadi pada hari Jumat (1/5) lalu.

“Sudah ketemu, satu orang informasi yang meninggal. Sudah dievakuasi,” kata dia.

Uba mengatakan korban berjenis kelamin perempuan. Korban saat ini sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Selain itu, dia mengimbau pengelola wisata agar memperhatikan keselamatan wisatawan.

“Sudah diserahin ke keluarga, kita juga mengimbau ke pengelola itu (wisata) artinya utamakan faktor keselamatan dan harus mitigasi bencana musim hujan,” pungkasnya.n Herry Setiawan (AR)

Cigombong Lumbung Ayam Petelur

0

Cigombong | Jurnal Bogor

Wilayah Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, menjadi lumbung telur ayam. Musababnya, hampir semua desa di daerah ujung paling selatan di Bumi Tegar Beriman itu memiliki peternakan ayam yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMD).

Seperti disampaikan, Sekcam Cigombong, Yedi Surachman bahwa, peternakan ayam telur di hampir setiap desa merupakan implementasi dari program Ketahanan Pangan (Ketapan) 2004-2005 tersebut.

“Kecuali Desa Tugu Jaya, menjadi ternak kambing dan Desa Cigombong disektor perikanan juga ayam. Selebihnya desa-desa berternak ayam telur. Ini merupakan program Ketapan,”jelas Yedi saat ditemu Jurnal Bogor, di salah satu rumah makan depan Kantor Kecamatan Cigombong, Rabu (6/4/2026).

Dilanjutkan, untuk sementara, tiap desa tidak memiliki kendala dalam mengembangkan usaha ternak ayam petelur. Bahkan untuk pemasaran, jelas Yedi, setiap desa sudah memiliki pasar sendiri untuk penjualan telur.

“Alhamdulillah, dalam prosesnya tidak ada kendala. Karena untuk pasar mereka rata-rata sudah ada penampungnya. Apalagi untuk Desa Ciburayut tiap harinya sudah menghasilkan 300-400 butir telur,”Lanjutnya.

Dijelaskannya juga, bahkan ada desa yang sudah menyuplai kebutuhan telur untuk dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan begitu, keberadaan dapur MBG menjadi salah satu potensi pasar penjualan telur.

“Sudah ada juga desa yang bekerjasama dengan dapur MBG. Meskipun terkadang kebutuhan telurnya disesuaikan dengan menu,” pungkasnya.n Herry Setiawan (AR)