28.6 C
Bogor
Tuesday, July 7, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog

Termasuk Gedung MTS, Ponpes dan Pelebaran Jalan di Bangun Secara Swadaya.

0


Nanggung l Jurnal Bogor – ‎Mesjid Al-Hidayah yang berlokasi di Kampung Pabangbon dilingkungan RW 04 di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor yang dibangun berbasis swadaya dengan menggunakan arsitektur khusus hingga menghabiskan anggaran cukup pantastis.

‎2019 berawal bantuan CSR PT Antam tbk, UBPE Pongkor kini masyarakat terus berpartisipasi dan bergotong royong melangsungkan pembangunan mesjid megah Al- Hidayah yang berukuran 20×28 meter itu.

‎Secara berkala pembangunan Mesjid masih berlangsung, saat ini tengah fokus pada pengerjaan empat titik menara.” kata masyarakat sekitar H Hidayat kepada Jurnal Bogor, Senin (6/7/2026).

‎Animo masyarakat akan pembangunan mesjid itu begitu tinggi, maka itu masyarakat berinisiatif untuk membangun kembali dengan skala besar dan bisa menampung jamaah dengan jumlah banyak.

‎Kini mesjid itu bisa menampung jamaah jumlah banyak.

‎Apalagi jamah pada sholat Jumat maupun hari raya Idul Fitri, masyarakat dilingkungan di lima RT biasa beribadah di mesjid itu.” kata Hidayat.

‎Tak sampai disitu, selain berswadaya membangun tempat ibadah mesjid Al-Hidayah masyarakat juga bersukarela membangun Pondok pesantren dan sarana pendidikan Gedung sekolah Madrasah Tsanawiyah Ibtidaiyah (MTS) berikut insfratruktur pelebaran jalan.

‎Dengan keguyuban dan kompak, sangat bersyukur beragam fasilitas masyarakat bisa dibangun secara swadaya.” ujar ketua DKM Masjid Al- Hidayah Baekandi.

Foto: Arip Ekon


Baekandi yang merupakan pemilik Yayasan Jahrotul Hidayah mengaku, bersyukur gedung sekolahnya yang dibangun masyarakat dengan cara bergotong royong.

‎Ditengah sulitnya ekonomi, Alhamdulillah masyarakat begitu guyug dan telah membangun fasilitas umum.” aku Baekandi bersyukur.

‎Ditempat yang sama, H Padli sekaligus Ketua pembangunan menyebut, partisipasi dan peran serta masyarakat dalam dalam membangun beragam fasilitas, menurutnya, sebagai bentuk kepedulian sebagai warga dilingkungan.


‎Membangun itu tidak ada batasan, sepanjang untuk kepentingan umat baginya tak masalah, sah- sah saja.

‎Namun, itupun sesuai dengan kemampuan,” tukasnya Arip Ekon

Muarasari Protes Zonasi SPMB

0

Bogor | Jurnal Bogor

Warga Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, mengeluhkan minimnya akses terhadap sekolah menengah pertama (SMP) negeri dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Bogor. Mereka menilai wilayah Muarasari seharusnya masuk dalam Zonasi 2 karena berdekatan dengan sejumlah SMP negeri, namun hingga kini masih berada di Zonasi 3.

Keluhan tersebut disampaikan masyarakat kepada Pemerintah Kelurahan Muarasari melalui Komite SDN Muarasari 1. Warga berharap kebijakan zonasi dapat ditinjau ulang agar anak-anak di wilayah tersebut memiliki peluang lebih besar untuk diterima di sekolah negeri terdekat.

Lurah Muarasari, Firman Kusnadi, membenarkan pihaknya telah menerima surat keberatan dari masyarakat terkait pelaksanaan SPMB tahun ini.

“Memang ada keluhan dari warga mengenai minimnya kesempatan anak-anak Muarasari untuk mengikuti SPMB SMP negeri di Kota Bogor. Kami sudah menerima surat dari orang tua murid SDN Muarasari 1 melalui komite sekolah,” ujar Firman.

Menurutnya, masyarakat mempertanyakan alasan Kelurahan Muarasari tidak masuk ke dalam Zonasi 2, padahal secara geografis lebih dekat dengan SMP Negeri 17, SMP Negeri 18, dan SMP Negeri 22 Kota Bogor.

“Yang menjadi pertanyaan warga, Muarasari tidak masuk Zonasi 2. Padahal sekolah negeri yang paling dekat dengan wilayah kami adalah SMPN 17, SMPN 18, dan SMPN 22,” katanya.

Firman menjelaskan, aspirasi tersebut telah diteruskan kepada instansi terkait. Selain menyampaikan secara lisan kepada Dinas Pendidikan Kota Bogor, masyarakat juga telah mengirimkan surat kepada DPRD Kota Bogor agar persoalan tersebut mendapat perhatian.

“Kami sudah menyampaikan secara lisan kepada Dinas Pendidikan. Informasinya, masyarakat juga telah mengirimkan surat kepada DPRD Kota Bogor agar persoalan ini dapat ditindaklanjuti,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Fajar Muhammad Nur, mengaku telah menerima aspirasi dari warga Muarasari terkait permintaan perubahan zonasi. Menurutnya, secara substansi masyarakat menginginkan Kelurahan Muarasari dipindahkan dari Zonasi 3 ke Zonasi 2 dalam sistem SPMB.

Fajar menjelaskan, meski Muarasari masih difasilitasi dalam Zonasi 3, aspirasi tersebut telah ditindaklanjuti dengan menyurati Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor. Selain Muarasari, wilayah Cikaret dan beberapa kawasan lain juga menjadi perhatian karena menghadapi persoalan serupa.

“Kami langsung menyampaikan surat kepada Kepala Dinas Pendidikan agar persoalan zonasi Muarasari, Cikaret, dan beberapa wilayah lainnya bisa menjadi bahan kajian,” ujarnya.

Namun demikian, usulan perubahan zonasi tidak dapat dilakukan pada pelaksanaan SPMB tahun ini. Menurut Fajar, pemerintah terikat ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yang mengatur asas kepastian hukum, sehingga perubahan sistem di tengah proses penerimaan peserta didik berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan membuka peluang terjadinya kecurangan.

“Kalau sistem diubah ketika proses sudah berjalan, asas kepastian hukumnya bisa terganggu. Itu juga berpotensi membuka celah terjadinya penyimpangan, sehingga perubahan tidak memungkinkan dilakukan pada tahun ini,” jelasnya.

Meski demikian, Fajar memastikan DPRD bersama Pemerintah Kota Bogor telah sepakat menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi menyeluruh dalam penyusunan kebijakan SPMB tahun 2027.

Menurutnya, evaluasi tidak hanya akan menyasar Kelurahan Muarasari, tetapi juga wilayah Cikaret dan daerah lain yang dinilai layak dipertimbangkan masuk ke Zonasi 2 berdasarkan kondisi geografis.

“Untuk SPMB 2027 kami akan melakukan penyempurnaan sistem zonasi. Muarasari, Cikaret, dan wilayah lain yang selama ini berada di Zonasi 3 akan kami evaluasi agar bisa dipertimbangkan masuk ke Zonasi 2,” tegas Fajar.

Selain sistem zonasi, Komisi IV DPRD Kota Bogor juga akan mengevaluasi program beasiswa pendidikan yang dinilai masih membutuhkan penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Menurut Fajar, jumlah penerima beasiswa memang terus meningkat, namun masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu dibenahi agar penyalurannya lebih tepat sasaran.

“Kami ingin memastikan seluruh program pendidikan, baik sistem zonasi maupun beasiswa, berjalan sesuai tujuan sehingga benar-benar memberikan akses pendidikan yang adil bagi masyarakat,” ungkap dia.

Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengakui daya tampung SMP negeri di Kota Bogor hingga kini masih belum mampu mengakomodasi seluruh lulusan sekolah dasar. Karena itu, Pemerintah Kota Bogor menyiapkan sejumlah alternatif, salah satunya melalui program beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang melanjutkan pendidikan di sekolah swasta.

“Kita akui sekolah negeri memang masih sangat jauh dari cukup. Walaupun tahun ini sudah menambah SMP Negeri 22 dan 23, daya tampungnya masih belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat,” kata Jenal.

Ia menjelaskan, program beasiswa tersebut diperuntukkan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin dan telah terdaftar dalam Data SIANTAN atau kelompok desil 1 sampai 5. Dengan skema tersebut, siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri tetap dapat melanjutkan pendidikan di sekolah swasta dengan biaya yang ditanggung pemerintah.

“Bagi masyarakat yang tidak terakomodasi di sekolah negeri, selama masuk dalam data desil dan memenuhi persyaratan, akan kami fasilitasi melalui sekolah swasta dengan pembiayaan dari pemerintah,” ujarnya.

Selain beasiswa sekolah swasta, Jenal mengatakan pemerintah juga menyediakan jalur pendidikan kesetaraan atau sekolah paket sebagai alternatif terakhir bagi siswa yang belum memperoleh bangku sekolah.

Meski demikian, Jenal mengakui pelaksanaan SPMB tahun ini masih menyisakan sejumlah persoalan teknis. Menurutnya, sistem penerimaan belum sepenuhnya sempurna sehingga masih ditemukan kasus siswa yang memiliki jarak tempat tinggal dekat dengan sekolah, namun tidak lolos melalui jalur domisili maupun prestasi.

“Sistem ini memang belum sesempurna yang kita harapkan. Masih ada masyarakat yang mempertanyakan kenapa rumahnya dekat tetapi tidak diterima. Itu perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.

Terkait keluhan warga Muarasari yang merasa tidak memiliki akses ke Zonasi 2, Jenal menilai kondisi tersebut bukan berarti wilayah tersebut diabaikan, melainkan dipengaruhi oleh mekanisme sistem yang mengutamakan calon peserta didik dengan radius tempat tinggal yang lebih dekat.

“Kalau ada yang tidak diterima, bisa jadi tergeser oleh calon siswa yang jaraknya lebih dekat lagi. Sistem bekerja secara otomatis berdasarkan radius. Karena itu saya berharap sekolah dapat menjelaskan hasil seleksi secara transparan kepada masyarakat agar tidak muncul persepsi yang keliru,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Dewan Desak Pemkot Tindak Tipzy Bears

0

Bogor | Jurnal Bogor

Kenyamanan warga Kota Bogor, khususnya yang melintas atau tinggal di sekitar Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, mulai terusik.

Pasalnya, salah satu tempat hiburan malam, Tipzy Bears, kerap menjadi arena keributan antar-pengunjung yang dinilai sudah sangat meresahkan masyarakat setempat.

​Insiden terbaru pecah pada Jumat (3/7/2026) malam.

Dalam rekaman video yang beredar luas, tampak sejumlah pengunjung terlibat perselisihan sengit hingga berujung pada keributan fisik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan kuat pemicu seringnya terjadi gesekan ini adalah karena bebasnya penjualan minuman keras (miras) beralkohol di lokasi tersebut.

Akibat pengaruh alkohol, urusan sepele seperti saling senggol antar pengunjung pun dengan cepat menyulut emosi dan berakhir baku hantam.

​Kondisi yang berulang ini akhirnya memantik perhatian serius dari parlemen.

Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bogor, Edi Kholki Zaelani, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat terkait keresahan tersebut dan kini tengah melakukan pembahasan internal.

​”Kami sudah mendapatkan laporan dari warga dan saat ini sedang kami bahas secara intensif di Komisi I,” ujar Edi saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

​Tak main-main, Edi menambahkan, bahwa DPRD Kota Bogor berencana memanggil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor untuk meminta klarifikasi dan penjelasan mendalam. Pemanggilan ini bertujuan untuk memeriksa legalitas operasional tempat hiburan tersebut, terutama mengenai izin peredaran minuman beralkohol yang dijual di sana.

​”Kami berencana memanggil Satpol PP Kota Bogor untuk meminta penjelasan terkait jenis minuman alkohol apa saja yang dijual di sana, apakah sudah mengantongi izin resmi, serta bagaimana pengawasannya selama ini,” tegas Edi.

​Lebih lanjut, Komisi I DPRD Kota Bogor berkomitmen untuk menelusuri secara tuntas akar permasalahan dari setiap keributan yang terjadi di Tipzy Bears.

“Langkah tegas diharapkan segera diambil oleh Pemerintah Kota Bogor agar fungsi pengawasan berjalan optimal, demi mengembalikan rasa aman dan ketertiban masyarakat di kawasan Bogor Tengah,” katanya.

** Fredy Kristianto

Lantik Ribuan Relawan, PAN Bidik 10 Kursi

0

Bogor | Jurnal Bogor

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Bogor memperkuat konsolidasi internal dengan melantik pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di enam kecamatan serta mengukuhkan sekitar 3.200 relawan. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan partai menghadapi Pemilu 2029 sekaligus memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Salak, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu (5/7/2026), itu juga dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD PAN Kota Bogor untuk menyusun arah kebijakan dan program kerja organisasi selama satu tahun ke depan.

Wakil Ketua Umum DPP PAN sekaligus Anggota DPR RI, Eddy Soeparno, mengatakan pembentukan ribuan relawan merupakan strategi partai untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat kerja-kerja politik di tingkat akar rumput.

Menurutnya, relawan akan menjadi ujung tombak PAN dalam menyerap aspirasi warga, memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menghadirkan solusi melalui kerja nyata.

“Hari ini kami melaksanakan pelantikan relawan di Kota Bogor. Jumlahnya sudah mencapai sekitar 3.200 orang. Bersamaan dengan itu juga dilaksanakan Rakerda yang dipimpin Ketua DPD PAN Kota Bogor, Kang Dedie Rachim,” ujar Eddy kepada wartawan.

Ia menegaskan, fungsi partai politik bukan hanya mengikuti kontestasi pemilu, tetapi juga memastikan kader terus hadir bersama masyarakat.

“Fungsi partai politik adalah hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan, aspirasi, memahami permasalahan, dan mampu memberikan solusi. Itu yang ingin terus kami lakukan,” katanya.

Eddy menilai PAN Kota Bogor memiliki modal yang kuat untuk menghadapi pemilu mendatang. Selain memiliki kepala daerah dari PAN, partai juga didukung lima anggota DPRD Kota Bogor serta anggota DPR RI yang terus aktif membangun komunikasi dengan masyarakat.

Sementara itu, Ketua DPD PAN Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan pelantikan pengurus DPC di enam kecamatan menandai rampungnya struktur organisasi partai hingga tingkat wilayah. Dengan struktur yang lengkap, PAN siap menjalankan berbagai program yang telah disusun dalam Rakerda.

“Hari ini kita melengkapi struktur organisasi Partai Amanat Nasional Kota Bogor. Alhamdulillah para Ketua DPC di enam kecamatan sudah dilantik. Artinya kita siap melaksanakan rencana kerja ke depan,” ujar Dedie.

Ia menjelaskan, Rakerda menjadi forum penting untuk menyusun strategi menghadapi berbagai agenda politik, mulai dari Pemilu Legislatif hingga Pemilihan Kepala Daerah.

Dedie pun memasang target ambisius bagi PAN Kota Bogor pada pemilu mendatang. Partainya menargetkan perolehan 10 kursi di DPRD Kota Bogor atau dua kali lipat dibandingkan capaian saat ini.

“Target kita 10 kursi di DPRD Kota Bogor. Untuk DPRD Provinsi Jawa Barat tentu kita ingin mempertahankan bahkan menambah keterwakilan dari Kota Bogor,” tegasnya.

** Fredy Kristianto

LGBTQ jadi ancaman nonmiliter, Dewan Desak Wali Kota Terbitkan Perwali P4S

0

Bogor | Jurnal Bogor

Anggota DPRD Kota Bogor Komisi IV, Dedi Mulyono, mendesak Wali Kota Bogor segera menerbitkan Peraturan Wali Kota sebagai aturan teknis pelaksanaan Perda Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perilaku Penyimpangan Seksual atau Perda P4S.

Desakan itu disampaikan Dedi setelah isu LGBTQ kembali menjadi perhatian nasional menyusul terbitnya Perpres Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.

Dalam lampiran Perpres tersebut, penyebaran budaya LGBTQ masuk dalam daftar ancaman nonmiliter.

Menurut Dedi, Kota Bogor sebenarnya sudah memiliki dasar hukum daerah melalui Perda P4S.

Namun, perda itu membutuhkan aturan teknis agar pencegahan, pembinaan, pengawasan, koordinasi lintas dinas, dan perlindungan keluarga bisa berjalan lebih operasional.

“Perda P4S sudah disahkan sejak 2021. Artinya, Kota Bogor tidak mulai dari nol. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian eksekutif untuk menerbitkan Perwali agar perda ini tidak hanya menjadi dokumen hukum, tetapi benar-benar bekerja melindungi masyarakat,” kata Dedi, Senin (6/7/2026).

Politisi PKS dari Dapil Bogor Selatan itu menilai pemerintah daerah tidak boleh menunggu persoalan sosial ini membesar. Apalagi, Perpres 111/2025 telah memberi sinyal bahwa isu penyebaran budaya LGBTQ tidak lagi bisa dilihat sebagai urusan privat semata, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial, keluarga, dan generasi muda.

Dedi menegaskan, Perwali P4S harus diarahkan untuk memperkuat pencegahan, edukasi keluarga, pendampingan masyarakat, pengawasan ruang publik, serta perlindungan anak dan remaja dari paparan kampanye perilaku seksual yang bertentangan dengan nilai agama, norma sosial, dan ketahanan keluarga.

“Ini bukan soal membenci orang. Ini soal negara dan daerah hadir melindungi keluarga, anak-anak, remaja, dan masyarakat dari kampanye perilaku seksual berisiko yang makin terbuka dan terorganisir. Pemerintah harus punya instrumen yang jelas,” ujarnya.

Ia menilai Perwali P4S penting agar perangkat daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas sosial, DP3A, Satpol PP, kecamatan, kelurahan, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu memiliki pembagian peran yang jelas.

“Tanpa Perwali, koordinasi bisa lemah. Perda sudah memberi arah, tetapi teknisnya harus diturunkan. Siapa melakukan apa, alurnya bagaimana, pencegahannya seperti apa, pembinaannya siapa, pelaporan masyarakat ke mana, semua harus jelas,” kata Dedi.

Dukung Penuh langkah MUI untuk menyiapkan Naskah Akademik Pidana bagi pelaku LGBTQ

Dedi juga menyatakan mendukung penuh langkah MUI yang mendorong negara dan pemerintah daerah mengambil sikap lebih tegas terhadap penyebaran perilaku LGBTQ. Menurutnya, MUI memiliki peran penting sebagai penjaga moral publik, penguat ketahanan keluarga, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam melindungi masyarakat.

“Kami mendukung penuh MUI dan siap bersinergi agar Kota Bogor memiliki pagar sosial, hukum, dan edukasi yang kuat. Tujuannya jelas: melindungi warga Kota Bogor, terutama anak-anak dan generasi muda, dari penyebaran perilaku LGBT yang bertentangan dengan nilai agama, norma sosial, dan ketahanan keluarga,” ujar Dedi.

Dedi mengingatkan, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap adanya indikasi gerakan yang semakin masif, terbuka, dan sistematis dalam menormalisasi perilaku LGBTQ di ruang publik, media sosial, komunitas, hingga lingkungan anak muda. Karena itu, Perwali P4S dinilai mendesak agar Pemkot Bogor punya instrumen pencegahan yang jelas.

“Kalau ini dibiarkan, warga Kota Bogor bisa menjadi target normalisasi perilaku yang menyimpang dari nilai keluarga dan agama. Negara tidak boleh kalah oleh gerakan yang ingin menggeser nilai masyarakat secara pelan-pelan. Pemerintah daerah harus hadir lebih cepat,” tegasnya.

Menurut Dedi, Kota Bogor harus mengambil posisi sebagai kota yang serius menjaga ketahanan keluarga. Pemerintah daerah tidak cukup hanya bicara kota ramah anak, kota sehat, atau kota religius, tetapi juga harus berani membuat instrumen perlindungan sosial yang konkret.

Ia meminta Wali Kota Bogor segera memerintahkan perangkat daerah terkait untuk menyusun draf Perwali P4S, membuka ruang masukan dari ulama, akademisi, tenaga kesehatan, psikolog, pendidik, dan organisasi masyarakat, lalu menetapkannya dalam waktu yang terukur.

“Jangan tunggu masalah membesar. Perda sudah ada, konteks nasional sudah jelas, data kesehatan sudah memberi peringatan. Sekarang saatnya Pemkot Bogor bergerak. Terbitkan Perwali P4S, lindungi keluarga Kota Bogor, dan pastikan generasi muda tidak dibiarkan tanpa pagar nilai,” tutup Dedi.

** Fredy Kristianto

Adimitra Kreasi Bogor Luncurkan Welcome Drink, Servis Motor Gratis Minuman Segar dari Cafe Teras Ketje

0

Bogor | Jurnal Bogor
Bengkel resmi Honda AHASS 07723 Adimitra Kreasi menghadirkan inovasi layanan baru. Setiap konsumen yang servis motor kini mendapat minuman segar gratis dari Cafè Teras Ketje Indonesia.

Program bertajuk Welcome Drink ini dibuat agar waktu tunggu servis terasa lebih nyaman. Konsumen tidak hanya dapat minuman seger kekinian dengan cup bertuliskan Bengkelnya Perut, tapi juga bisa menikmati ruang tunggu bergaya kafe.

Fasilitas yang disediakan AHASS Adimitra Kreasi:
– Minuman Gratis: minuman segar dari Cafè Teras Ketje biar nunggu nggak haus
– Ruang Tunggu Nyaman: Kursi ala kafe, boleh nyantai
– Free WiFi + Charger: Tetap produktif atau scroll HP sepuasnya
– Mekanik Profesional: Motor beres, hati tenang

“Kami ingin mengubah pengalaman servis jadi lebih menyenangkan. Kepuasan konsumen adalah prioritas kami,” ujar Irin  Selaku  PIC AHASS Adimitra Kreasi, Jumat (3/7/2026).

Program ini sejalan dengan semangat Honda One HEART dan tagline Bersama Honda Penuh Arti. “Servis motor plus nongkrong cantik gratis. Rugi banget kalau nggak cobain di sini,” ungkap Julia, salah satu konsumen.

AHASS Adimitra Kreasi berlokasi di Jalan Raya Tajur No.81 Muarasari, Bogor Selatan, Kota Bogor.

 (Wawan Hermawanto)

Akses Jalan Terdampak Longsor, Pemdes Pasirmuncang Bangun TPT

0

Caringin | Jurnal Bogor. – Akses pejalan kaki di Kampung Selaawi RT 001/RW 001, Desa Pasirmuncang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, yang mengalami kerusakan parah akibat bencana longsor beberapa bulan lalu, akhirnya mulai diperbaiki pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT).

Longsor yang dipicu tingginya curah hujan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran bagi warga karena jalur itu merupakan akses penting bagi aktivitas sehari-hari.

Sebelumnya, aspirasi warga disampaikan Ketua RW 001, Edi Sudrajat, kepada Pemerintah Desa Pasirmuncang. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Desa Pasirmuncang, Yudi Wahyudin, berkomitmen untuk segera merealisasikan pembangunan.

“Insya Allah di tahun 2026 ini terealisasi pembangunan TPT dan kami anggarkan sesuai kebutuhan,” ujar Yudi Wahyudin.

Komitmen tersebut kini mulai diwujudkan. Ketua RW 001, Edi Sudrajat, mengungkapkan rasa syukurnya karena pengerjaan perbaikan akses jalan yang terdampak longsor telah dimulai pada awal Juli 2026.

“Alhamdulillah, di awal bulan Juli ini pelaksanaan pengerjaan akses jalan yang terdampak longsor di wilayah RT 001 Kampung Selaawi sudah mulai dilaksanakan,” katanya, Sabtu (4/7/2026).

Perbaikan infrastruktur tersebut disambut antusias oleh warga. Novi, salah seorang warga RT 001, mengaku lega karena akses yang sebelumnya rusak kini mulai diperbaiki sehingga memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi longsor.

“Dengan perbaikan ini, rasa khawatir kami akan hal-hal yang tidak diinginkan hilang, apalagi tempat tinggal kami sangat dekat dengan lokasi yang pernah longsor ini. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Desa Pasirmuncang yang telah tanggap dan cepat menindaklanjuti keluhan kami,” ungkap Novi.

Warga berharap proses pembangunan dapat berjalan lancar dan segera rampung sehingga akses pejalan kaki kembali aman serta nyaman digunakan oleh masyarakat. Yudi

Cari Ketua Baru, HISWANA MIGAS Bogor Matangkan Muscab

0

Bogor | Jurnal Bogor

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (HISWANA MIGAS) Bogor memastikan seluruh persiapan Musyawarah Cabang (Muscab) VII hampir rampung. Forum organisasi yang akan digelar pada 29 Juli 2026 di International Convention Center (ICC) Botani, Kota Bogor itu menjadi momentum penting dalam menentukan kepemimpinan dan arah organisasi untuk empat tahun ke depan.

Sekretaris DPC HISWANA MIGAS Bogor, Hakanna, mengatakan seluruh perangkat pelaksanaan Muscab telah disusun dan kini tinggal menunggu pengesahan dari Steering Committee (SC). Menurutnya, berbagai materi persidangan telah dipersiapkan sebagai acuan pelaksanaan musyawarah.

“Seluruh rancangan materi Muscab VII telah selesai disusun dan dalam waktu dekat akan disahkan oleh Steering Committee sebagai pedoman pelaksanaan musyawarah,” ujar Hakanna dalam konferensi pers di Clovey Kitchen, Jumat (3/7/2026).

Menurut dia, Muscab VII direncanakan dibuka oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama General Manager Pertamina Wilayah Jawa Bagian Barat. Sejumlah pengurus, anggota, serta para pemangku kepentingan di sektor energi juga dijadwalkan menghadiri agenda tersebut.

Sementara itu, Ketua Steering Committee Muscab VII, Untung Kurniadi, menjelaskan proses penjaringan calon Ketua DPC HISWANA MIGAS Bogor periode 2026–2030 akan dimulai pada 15 Juli dan berakhir pada 22 Juli 2026.

Untung menegaskan, seluruh tahapan pencalonan akan dilaksanakan secara terbuka dengan berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi beserta ketentuan yang berlaku.

“Steering Committee telah menetapkan jadwal pembukaan pendaftaran bakal calon ketua mulai 15 hingga 22 Juli 2026. Seluruh proses akan berlangsung secara terbuka, transparan, dan sesuai aturan organisasi,” katanya.

Ia menjelaskan, persyaratan pencalonan disusun secara ketat guna memastikan sosok yang terpilih memiliki kapasitas, integritas, pengalaman organisasi, serta komitmen dalam memajukan HISWANA MIGAS Bogor.

Sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi di antaranya berstatus Warga Negara Indonesia, memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) HISWANA MIGAS yang masih berlaku dengan masa keanggotaan minimal satu tahun, memiliki integritas dan kepemimpinan yang baik, serta bersedia mengemban amanah sebagai ketua.

Calon juga diwajibkan aktif berkontribusi dalam organisasi, telah melunasi iuran keanggotaan, menjaga nama baik HISWANA MIGAS maupun PT Pertamina (Persero) beserta subholding-nya, tidak memiliki perkara pidana yang berkekuatan hukum tetap, dan pernah menjadi pengurus DPC HISWANA MIGAS Bogor.

Selain itu, setiap bakal calon harus mengantongi dukungan sedikitnya 30 persen dari peserta Muscab, menyerahkan surat pernyataan kesediaan beserta visi dan misi, berusia maksimal 80 tahun, melampirkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), surat keterangan bebas pidana dari Pengadilan Negeri, surat keterangan sehat dari dokter atau rumah sakit pemerintah, serta memiliki pengalaman menjadi pengurus organisasi sekurang-kurangnya satu periode.

Untung menambahkan, hak mengikuti Muscab hanya dimiliki anggota yang telah memiliki KTA terbaru yang diterbitkan melalui sistem keanggotaan HISWANA MIGAS dan telah melunasi iuran hingga 31 Mei 2026.

“Peserta yang berhalangan hadir dapat memberikan kuasa kepada pihak lain sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia,” jelasnya.

Anggota Steering Committee, Yogi Rhamdani, menilai Muscab VII tidak hanya menjadi ajang memilih ketua baru, tetapi juga menjadi forum strategis untuk menyusun arah kebijakan organisasi dalam empat tahun mendatang.

Melalui Muscab tersebut, peserta juga akan menetapkan formatur yang bertugas menyusun kepengurusan DPC HISWANA MIGAS Bogor periode 2026–2030, sekaligus membahas dan menetapkan program kerja organisasi yang akan menjadi pedoman dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota, memperkuat sinergi dengan PT Pertamina dan pemerintah daerah, serta mendorong pengembangan usaha anggota di sektor minyak dan gas bumi.

Panitia berharap seluruh anggota dapat berpartisipasi aktif sehingga Muscab VII berlangsung lancar, demokratis, dan mampu menghasilkan kepemimpinan yang membawa DPC HISWANA MIGAS Bogor semakin profesional, solid, serta siap menghadapi tantangan industri energi di masa mendatang.

** Fredy Kristianto

Rusaknya Irigasi Palayangan Ancam Pertanian dan Air Bersih Warga

0

Caringin | Jurnal Bogor – Kerusakan Irigasi Palayangan di Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, khususnya para petani di Desa Ciherang Pondok. Saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air bagi Desa Ciderum dan Desa Ciherang Pondok belum mendapat penanganan maksimal sehingga menyebabkan krisis air berkepanjangan.

Dampak paling parah dirasakan warga di RW 01, RW 02, dan RW 03 Desa Ciherang Pondok. Sejumlah wilayah mengalami kesulitan memperoleh pasokan air, baik untuk mengairi lahan pertanian maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Akibat minimnya pasokan air sejak beberapa tahun terakhir, puluhan hektare sawah yang sebelumnya produktif beralih fungsi menjadi lahan perkebunan. Namun, perubahan tersebut belum mampu menjadi solusi karena tanaman di lahan kebun juga banyak mengalami gagal panen akibat kekurangan air.

Ketua RT 06 RW 03 Desa Ciherang Pondok, Aep Saepudin, mengatakan persoalan kekeringan bukanlah hal baru. Menurutnya, warga telah merasakan dampak kerusakan irigasi sejak 2022 dan hingga kini belum ada perubahan yang berarti.

“Sudah sekitar empat tahun masyarakat mengalami dampaknya. Sawah yang dulunya produktif sekarang banyak berubah menjadi kebun karena air sulit didapat. Bahkan sekarang kebun yang tadinya menjadi harapan warga juga terus mengalami gagal panen,” ujar Aep, Sabtu (4/7/2026)

Ia menjelaskan, dampak kerusakan irigasi tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Sumur-sumur milik warga juga mulai mengalami penyusutan debit air, bahkan sebagian mengering saat musim kemarau.

“Banyak sumur warga yang mulai kering. Ini menjadi masalah besar karena masyarakat juga membutuhkan air untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” katanya.

Menurut Aep, masyarakat selama bertahun-tahun berharap adanya penanganan serius terhadap kerusakan Irigasi Palayangan. Namun hingga kini, warga mengaku belum melihat solusi nyata yang mampu mengatasi persoalan tersebut secara menyeluruh.

Hal senada disampaikan Ketua RW 03 Desa Ciherang Pondok, Ujang Suganda. Ia menilai penanganan kerusakan irigasi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum belum dilakukan secara optimal.

“Selama ini kami melihat belum ada keseriusan dalam penanganan Irigasi Palayangan. Padahal dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat secara umum. Air merupakan kebutuhan utama,” tegas Ujang.

Ia mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa perbaikan menyeluruh, luas lahan pertanian produktif yang hilang akan terus bertambah. Dampaknya, perekonomian masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian akan semakin terpuruk.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kerusakan Irigasi Palayangan. Selain mengancam keberlangsungan sektor pertanian, kerusakan irigasi tersebut juga berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih. Yudi

DT Peduli dan Kampoong Ecopreneur Bersinergi Bangun Asrama Santri dan Dorong Ekspor Ubi

0

Bogor | Jurnal Bogor– Yayasan DT Peduli menyalurkan bantuan senilai Rp 973 juta untuk mendukung program ekspor ubi ungu petani Leuwisadeng sekaligus pembangunan asrama santri di Kampoong Ecopreneur, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Penyaluran bantuan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Executive Director DT Peduli, Jajang Nurjaman, dan Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, pada Kamis (2/7/2026).

Kerja sama tersebut mencakup pembangunan Asrama Tahfiz Al-Qur’an serta pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Asrama ditargetkan mulai beroperasi sebagai pusat pendidikan pada November 2026.

Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, mengatakan cita-cita besar yang tengah diwujudkan melalui kawasan tersebut adalah konsep “One Family One Ecopreneur”, yakni setiap keluarga memiliki satu wirausahawan berbasis ekologi.

“Kami ingin mewujudkan konsep One Family One Ecopreneur, yaitu satu keluarga memiliki satu entrepreneur berbasis ekologi,” ujar Jamil.

Acara penandatanganan kerja sama turut dihadiri Ketua Yayasan DT Peduli M. Bascharul Asana, Director of Impact & Civilization DT Peduli Fahrizal Amir, Head of Division Impact & Civilization Dede Sugih Hartono, serta jajaran pengurus dari kedua lembaga.

Jamil menjelaskan, Kampoong Ecopreneur mulai mengelola lahan seluas 1,7 hektare di Leuwisadeng sejak Desember 2025. Kawasan tersebut dipersiapkan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat sekaligus pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan kewirausahaan.

Saat ini, pembangunan asrama santri terus berjalan, sementara aula sementara untuk kegiatan pendidikan dan pertemuan telah selesai dibangun.

“Bantuan dari DT Peduli ini akan mempercepat pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dan kegiatan pembelajaran bagi para santri,” katanya.

Salah satu program unggulan yang tengah dikembangkan adalah budidaya ubi ungu bersama petani lokal. Hasil panen petani akan ditampung oleh Kampoong Ecopreneur dan direncanakan diekspor ke Singapura serta Malaysia.

“Kami berharap Leuwisadeng ke depan dikenal sebagai salah satu sentra ekspor ubi ungu,” ujar Jamil.

Ia menilai kolaborasi dengan DT Peduli merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan penguatan nilai-nilai spiritual.

Sementara itu, Executive Director DT Peduli, Jajang Nurjaman, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari upaya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang juga memiliki kemandirian ekonomi.

Ia berharap program pemberdayaan yang dijalankan di Kampoong Ecopreneur mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Leuwisadeng. Jajang juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah mendukung terlaksananya program tersebut.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Director of Impact & Civilization DT Peduli, Fahrizal Amir. Menurutnya, kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan santri yang tidak hanya unggul dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha.

“Harapannya, para santri nantinya menjadi agen perubahan yang mampu memberdayakan masyarakat melalui keterampilan bisnis yang mereka miliki,” kata Fahrizal.

Melalui kerja sama ini, DT Peduli dan Kampoong Ecopreneur berharap Leuwisadeng dapat berkembang menjadi kawasan percontohan pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan Qur’ani, kewirausahaan, dan ekonomi komunitas.