Leuwiliang | Jurnal Bogor
Keluhan mata merah masih sering dianggap sebagai gangguan ringan oleh masyarakat sehingga tidak sedikit yang langsung menggunakan obat tetes mata tanpa pemeriksaan medis terlebih dahulu. Padahal, mata merah atau hiperemia konjungtiva dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari iritasi ringan, alergi, infeksi virus dan bakteri, sindrom mata kering, hingga penyakit yang lebih serius seperti keratitis, uveitis, maupun glaukoma akut yang berisiko mengganggu penglihatan secara permanen apabila tidak ditangani dengan tepat. Sebagai bentuk peningkatan edukasi kesehatan kepada masyarakat, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang melalui dr. Diniar Syabillania memberikan penyuluhan mengenai pentingnya penanganan mata merah secara tepat pada Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam edukasi tersebut dijelaskan bahwa penggunaan obat tetes mata secara sembarangan, terutama yang mengandung steroid tanpa pengawasan tenaga medis, dapat menimbulkan dampak serius. Steroid pada mata diketahui dapat meningkatkan tekanan intraokular, memperburuk infeksi virus maupun jamur, memperlambat proses penyembuhan luka pada kornea, hingga meningkatkan risiko terjadinya glaukoma dan katarak apabila digunakan dalam jangka panjang. Selain itu, penggunaan antibiotik tetes mata tanpa indikasi yang tepat juga dapat memicu resistensi bakteri dan menyebabkan pengobatan menjadi kurang efektif.
“Setiap mata merah memiliki penyebab yang berbeda sehingga penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui sumber keluhan secara pasti. Penggunaan obat tetes mata tanpa diagnosis yang jelas justru dapat memperburuk kondisi mata dan meningkatkan risiko komplikasi,” jelas dr. Diniar Syabillania.
Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai tanda bahaya pada mata merah yang memerlukan pemeriksaan segera ke fasilitas kesehatan, seperti nyeri hebat pada mata, penglihatan kabur atau menurun mendadak, sensitif terhadap cahaya berlebihan, keluarnya sekret berwarna kuning atau hijau, riwayat trauma mata, paparan bahan kimia, hingga keluhan yang disertai mual dan sakit kepala berat. Gejala tersebut dapat mengarah pada kondisi kegawatdaruratan mata yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen.
Selain edukasi mengenai bahaya penggunaan obat tetes mata tanpa indikasi, masyarakat juga diimbau menerapkan langkah penanganan awal yang aman apabila mengalami mata merah ringan akibat iritasi atau kelelahan, seperti mengurangi paparan layar gadget dalam waktu lama, menghindari kebiasaan mengucek mata, menjaga kebersihan tangan, melakukan kompres dingin, serta menghentikan sementara penggunaan lensa kontak. Namun demikian, masyarakat tetap dianjurkan untuk tidak melakukan pengobatan mandiri berkepanjangan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.
Melalui edukasi kesehatan ini, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang berharap masyarakat semakin memahami bahwa mata merah bukan kondisi yang selalu ringan dan memerlukan penanganan berdasarkan penyebabnya. Pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi, mempertahankan fungsi penglihatan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mata.
(yev/cc)


