Megamendung | Jurnal Bogor
Tuntutan warga warga melalui aksi unjukrasa di jembatan rawayan pada Sabtu, 9 Mei 2026 yang diikuti para tokoh masyarakat, Ketua RT dan RW, tokoh pemuda, ibu-ibu, hingga anak-anak mendapat respons dari Bupati Bogor Rudy Susmanto.
Adanya aksi yang dilakukan warga dan didampingi oleh Aliasi Masyarakat Bogor Selatan ( AMBS), direspons oleh Bupati melalui Ketua AMBS, Muhsin yang menyampaikan bahwa lambatnya penanganan atau pembangunan jembatan tersebut adanya miskomunikasi antara pemerintah Desa Kopo dengan pihak Pemkab. Jembatan tersebut statusnya milik desa.
“Kami AMBS sudah berkomunikasi dengan Bupati Bapak Rudy Susmanto. Beliau merospons cepat terkait adanya unjuk rasa tersebut. Beliau mengemukakan, adanya miskomunikasi terkait status jembatan itu. Tetapi, dalam komunikasi lewat telepon itu, di tahun 2026 ini bupati akan membangun jembatan permanen. Kepada warga supaya bersabar, saya yakin bupati akan menepati janjinya di tahun 2026 ini, ” pungkas Muhsin.
Sebelumnya warga berdemo, “Kami berkumpul di sini menagih janji Bupati Bogor Pak Rudy Susmanto yang berjanji setahun lalu bahwa akan membangun jembatan secara permanen tahun 2026. Kami hanya meminta kejelasan, bulan berapa akan dibangun tahun 2026 ini,” ungkap Ketua RW 05 Kampung Cijulang Desa Kopo, Opay.
Ketua RT 02 Kampung Cijulang, Udu, menjelaskan mobilitas ribuan warga sangat terdampak akibat Jembatan Leuwi Ceot putus karena mayoritas warga banyak beraktivitas menuju Jalan Raya Puncak.
“Kami bukan menolak jembatan sementara yang sekarang, tapi saat ini hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Kondisi jembatan sementara ini sudah banyak yang rusak. Tali sling jembatan sering putus, banyak kayu alasnya juga patah. Warga juga yang memperbaikinya secara swadaya. Sudah puluhan pengendara motor yang kecelakaan akibat jembatan yang bergoyang dan licin,” jelasnya.
** Dadang Supriatna


