Bogor | Jurnal Bogor
Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, kini menjelma menjadi laboratorium inovasi kemasyarakatan. Di bawah kepemimpinan Lurah Hardi Suhardiman, wilayah ini berhasil mengubah wajah kawasan yang dulunya dikenal keras menjadi sentra ekonomi kreatif dan ketahanan pangan yang diakui di tingkat nasional.
Inovasi paling mencolok dimulai dari RW 01 melalui program Kampung Literasi Mandiri Sampah (KLMS). Menariknya, petugas pengelola sampah di wilayah ini adalah mantan pengamen, preman, dan pak ogah.
“Dulu mereka bilang sendiri kalau mereka itu ‘sampah masyarakat’, tapi sekarang mereka justru yang mengelola sampah,” ujar Hardi kepada wartawan, Senin (27/4).
Menurut dia, program yang berjalan sejak 2025, program ini telah mengubah perilaku warga yang dulunya membuang sampah ke sungai. Berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi IPB, sampah organik diolah menjadi Bata Terawang (kompos).
“Sementara sampah anorganik disalurkan ke bank sampah. Berkat inovasi ini, KLMS Tegallega menyabet Juara 1 Tingkat Nasional dalam lomba yang diadakan Kemendikti,” ucapnya.
Selain itu, perubahan sosial paling menyentuh terjadi di RW 06 atau yang dikenal sebagai kawasan Kampung Mongol. Di sini, Hardi membentuk kelompok Taruna Tani yang beranggotakan pemuda usia di bawah 30 tahun.
“Dulu mereka itu tukang mabuk, tukang palak, dan calo. Sekarang mindset-nya berubah. Mereka sibuk mengelola pertanian di lahan Jasa Marga,” jelas Hardi.
Ia menegaskan bahwa para pemuda ini kini mengelola greenhouse mini dan kolam ikan nila. Hasil panennya didistribusikan untuk mencukupi pangan warga sekitar dan disuplai ke pelaku usaha kuliner (Warimindo) di Tegallega.
Hardi juga mengklaim Tegallega adalah wilayah pertama di Kota Bogor yang memiliki kelompok Taruna Tani dengan latar belakang pemberdayaan pemuda jalanan.
** Fredy Kristianto


