Bogor | Jurnal Bogor
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mempertegas komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui dukungan pada kegiatan Road to Seminar Nasional 2026 bertajuk “Pengembangan Carbon Project di Sektor Pertanian” yang diselenggarakan oleh Himpunan Alumni Tanah IPB (HATI). Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Sabtu (28/2).
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi ANTAM bersama Jejak.in serta HATI sebagai penggagas forum akademik. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi lintas sektor—mempertemukan akademisi, perencana pembangunan nasional, lembaga riset, pelaku pasar karbon global, dan pengembang proyek—untuk merumuskan arah pengembangan carbon project pertanian yang kredibel, berintegritas, dan berdampak nyata bagi petani.
Sebagai perusahaan pertambangan yang terus memperkuat agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan operasional, ANTAM memandang carbon project pertanian sebagai bagian dari pendekatan strategis perusahaan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Agustinus Toko Susetio, Java Region ER & CSR Subdivision Head PT ANTAM Tbk, menegaskan bahwa dukungan ANTAM terhadap forum ini sejalan dengan roadmap ESG perusahaan yang menempatkan keberlanjutan sebagai inti strategi bisnis.
Menurutnya, ANTAM melalui berbagai program CSR telah secara konsisten mendorong penguatan ketahanan pangan sekaligus mitigasi perubahan iklim di wilayah operasional. Salah satunya melalui Program Garitan di Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung, Bogor, yang mengembangkan praktik pertanian ramah lingkungan, pemanfaatan limbah organik, serta penguatan kapasitas kelompok tani sebagai bagian dari pendekatan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Puji Mudiana, S.P., M.A., Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University, mewakili Rektor IPB University, serta dihadiri oleh Dr. Ir. R.A. Dyah Tjahyandari Suryaningtyas, M.App.Sc., Kepala Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, yang menegaskan pentingnya fondasi ilmiah dalam pengembangan carbon project pertanian.
Hadir sebagai keynote speaker dan narasumber dalam kegiatan tersebut yaitu: Dr. Prayudi Syamsuri, S.P., M.Si., Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Konektivitas pada Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB; Jarot Indarto, S.P., M.T., M.Sc., Ph.D., Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas; Dr. Ratih Damayanti, S.Hut., M.Si., Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN; Erlinda Ekaputri, Country Director Wildlife Works Indonesia; M. Nizar Zulkarnaen, Group Lead Forestry and Nature-Based Solutions dan Partner PT Hatfield Indonesia; Prof. Dr. Suria Darma Tarigan, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University; Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University; serta Imam Basuki, Senior Wetland Specialist.
Diskusi dipandu oleh Haris Iskandar, Chief of Climate Solutions and Services Jejak.in, yang memoderatori pembahasan mengenai tantangan implementasi carbon project pertanian, mulai dari aspek additionality, permanence, biaya MRV, hingga kebutuhan agregasi kelembagaan petani agar proyek menjadi layak secara ekonomi dan berdaya saing global.
Para pembicara menegaskan bahwa carbon project pertanian memiliki posisi strategis dalam menjembatani target penurunan emisi nasional dan agenda ketahanan pangan. Namun implementasinya harus memenuhi prinsip additionality, permanence, sistem MRV yang kredibel, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil agar berkelanjutan secara sosial dan ekonomi.
Melalui kolaborasi multipihak ini, ANTAM menegaskan bahwa komitmen keberlanjutan perusahaan tidak terbatas pada operasional pertambangan, tetapi juga pada penguatan ekonomi lokal dan kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan rendah karbon Indonesia.
** Arip Ekon


