Megamendung | Jurnal Bogor
Di bulan puasa kali ini, keberadaan petasan jenis granat yang dibakar sumbunya dan dilempar lalu meledak cukup keras kini bisa didapatkan dengan mudah. Anak-anak tinggal pergi ke padat atau ke tukang kembang api, mereka bisa mendapatkannya. Dengan mudah dan bebasnya menyulut petasan jenis ini, suasana setelah buka puasa di wilayah Megamendung dan Cisarua udaranya bau mesiu dari petasan yang dibakar anak-anak.
Bahkan di beberapa desa, seperti di Desa Gadog, Cipayung Datar dan desa lainnya di wilayah Kecamatan Cisarua, perang petasan usai shalat tarawih kini menjadi kebiasaan. Dengan kondisi tersebut, tidak jarang ibu-ibu yang pulang tarawih merasa ketakutan.
“Ini berbahaya sekali, anak anak suka perang petasan setelah bubar shalat tarawih. Kita yang baru bubar saat pulang menuju rumah menjadi ketakutan. Anak-anak saling lempar petasan yang bersuara keras, ” tutur Rodiah.
Bukan hanya meresahkan lingkungan saja suara petasan tersebut. Tetapi membahayakan sekali bagi anak anak kecil sebagai penggunanya. Dengan kondisi ini, warga berharap pihak kepolisian jangan melakukan pembiaran terhadap para pedagang petasan.
“Mudah sekali anak kecil mendapatkan petasan ini. Mereka minta uang buat jajan, padahal dibelikan petasan, ini sangat berbahaya sekali. Kita minta polsek-polsek Megamendung dan Cisarua untuk melakukan tindakan. Jangan sampai perang petasan menjadi tradisi di setiap bulan puasa,” pungkas Ardi.
** Dadang Supriatna


