Bogor | Jurnal Bogor
Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi, ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, hingga penanganan kesehatan.
Wilayah yang dikenal warga dengan sebutan Bondes tersebut memiliki luas sekitar 104 hingga 108 hektare. Meski berada di kawasan perkotaan yang cukup padat, Kebon Pedes masih memiliki beragam potensi ekonomi lokal yang terus dikembangkan.
Mulai dari peternakan sapi perah penghasil susu segar, industri kreatif kerajinan sandal hotel yang pemasarannya telah menjangkau luar Pulau Jawa, hingga usaha katering makanan tradisional, pie rumahan, kafe dan warung kopi.
Lurah Kebon Pedes, Lulut Wiyono, mengatakan keberagaman potensi tersebut menjadi kekuatan masyarakat yang terus didorong agar memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kemandirian wilayah.
Hal itu disampaikan Lulut saat memaparkan sejumlah potensi unggulan Kebon Pedes kepada awak media, Kamis (20/8/2026).
Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bersahaja di RT 04 RW 07. Kelompok tersebut menjadi salah satu penggerak kegiatan ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
“Hari ini kami sengaja mengenalkan potensi wilayah, salah satunya KWT Bersahaja di RT 04 RW 07. Ini diinisiasi oleh ibu-ibu lansia yang luar biasa dan konsisten menjadi penggiat lingkungan. Mereka mengelola pengolahan sampah menjadi pupuk hingga memanfaatkan lahan tidur milik warga untuk pembibitan dan penanaman yang sudah berjalan selama dua tahun,” ujar Lulut.
Menurutnya, KWT Bersahaja memanfaatkan lahan warga melalui pola kolaborasi. Sebanyak 11 titik lahan dimanfaatkan dengan skema pinjam-pakai tanpa biaya selama kurang lebih dua tahun.
Lahan tersebut kemudian dikelola oleh anggota KWT dan dipadukan dengan fasilitas umum yang tersedia. Selain membuat lingkungan lebih hijau, hasil panen juga dapat memberikan nilai tambah bagi keluarga.
Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi berbagai program penilaian kebersihan lingkungan, termasuk Bogor Bersih.
Saat ini, Kebon Pedes memiliki tiga kelompok wanita tani, yakni KWT Bersahaja, KWT Mekar Sari, dan KWT Wijaya Kusuma.
KWT Wijaya Kusuma bahkan telah menjadi salah satu kelompok percontohan yang pernah mendapat kunjungan langsung dari Presiden dan Menteri. Pengalaman tersebut kemudian menjadi contoh yang dikembangkan di wilayah sekitar untuk mendukung program pemberdayaan dan ketahanan pangan.
Penguatan lingkungan juga dilakukan melalui pengelolaan sampah. Kelurahan Kebon Pedes memiliki Bank Sampah serta unit pengolahan sampah mandiri yang menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah dari sumbernya.
Edukasi pemilahan sampah terus dilakukan kepada masyarakat melalui sosialisasi rutin setiap Sabtu, pengajian malam Sabtu, serta pertemuan RW pada Minggu.
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mempersiapkan masyarakat menghadapi kebijakan pengelolaan sampah Pemerintah Kota Bogor, termasuk rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PESEL) di Kelurahan Kayumanis.
Selain lingkungan, persoalan kesehatan juga menjadi perhatian. Kelurahan Kebon Pedes menjalankan inovasi “Bonteng” atau Bondes Leungit Keun Sesanti untuk mempercepat penanganan stunting.
Dari total 1.717 balita yang tercatat di wilayah Kebon Pedes, saat ini terdapat 20 kasus stunting yang masih mendapatkan pendampingan hingga tuntas.
Upaya pemberdayaan masyarakat juga diperkuat melalui kegiatan gotong royong yang digelar setiap pekan secara bergilir di sejumlah wilayah.
Kegiatan bersih-bersih tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pengurus RT dan RW, Karang Taruna, LPM, Bojer, KNPI, lembaga masyarakat hingga Ormas GRIB.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui skema sinergi “Korpri Bersih” yang diterapkan secara berjenjang mulai dari pemerintah pusat hingga tingkat kelurahan.
Lulut mengatakan keberhasilan berbagai program di Kebon Pedes sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
Dengan mengembangkan potensi UMKM, memperkuat ketahanan pangan melalui KWT, meningkatkan pengelolaan sampah, serta mempercepat penanganan stunting, Kebon Pedes terus diarahkan menjadi wilayah perkotaan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga bersih, sehat dan mandiri.
“Semua potensi ini tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci agar program yang ada bisa terus berkembang dan manfaatnya dirasakan langsung oleh warga,” pungkasnya.
** Fredy Kristianto


