Bogor | Jurnal Bogor
Bank Sampah Barokah Bogor kembali menggulirkan program ekonomi sirkular bagi masyarakat. Melalui program tersebut, minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga dan limbah usaha kuliner kini dapat ditukarkan dengan uang tunai disertai bonus cashback.
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis pada Kamis (16/7/2026), Bank Sampah Barokah memberikan bonus cashback sebesar Rp200.000 bagi setiap penyetor yang berhasil mengumpulkan 100 Kg minyak jelantah. Selain bonus, minyak jelantah juga tetap dibayar tunai sesuai ketentuan yang berlaku.
Program ini berlangsung selama satu minggu, yakni mulai 16 hingga 22 Juli 2026. Masyarakat dapat menghubungi Bank Sampah Barokah melalui nomor WhatsApp 0888-0900-2226, termasuk untuk informasi lebih lanjut terkait mekanisme penimbangan, penjemputan, dan pembayaran.
Pengelola Bank Sampah Barokah, Darga menyatakan, program ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengelola limbah, khususnya minyak jelantah.
Minyak jelantah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari tanah dan sumber air. Sementara itu, jika dikumpulkan, limbah tersebut memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi biodiesel, sabun, dan produk turunan lainnya.
“Dengan adanya insentif tunai dan bonus, kami berharap semakin banyak warga, pelaku UMKM kuliner, RT/RW, hingga institusi pendidikan yang ikut serta mengumpulkan jelantah. Ini bagian dari upaya kita bersama menjaga lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Darga .
Program ini terbuka untuk umum di wilayah Kota Bogor dan sekitarnya. Masyarakat cukup mengumpulkan minyak jelantah, kemudian menghubungi petugas Bank Sampah Barokah untuk proses selanjutnya. Pembayaran dilakukan secara tunai pada saat penyerahan.
Inisiatif ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Bogor dalam mendorong pengurangan sampah dari sumbernya dan penguatan kelembagaan bank sampah sebagai mitra pengelolaan lingkungan.
Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah meningkat, sekaligus tercipta nilai tambah ekonomi dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.
(Wawan Hermawanto)


