23.6 C
Bogor
Wednesday, April 17, 2024

Buy now

spot_img

Warga Sukaluyu Gotong-royong Bangun Tempat Tinggal Seorang Janda yang Sempat Tinggal di Gubuk Beratap Terpal

jurnalinspirasi.co.id – Warga Kampung Cepak Tangkil RT 02 Rw 05 Desa Sukaluyu, Nanggung, Kabupaten Bogor patut diapresiasi. Pasalnya, salah satu nilai yang dimiliki masyarakat dalam melakukan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan menolong secara sukarela itu masih dipertahankan.

Salah satunya, seperti pada Selasa (20/02/2024) puluhan masyarakat berduyun-duyun membangun sebuah rumah milik seorang janda beranak dua, yang sempat viral dalam sebuah video memperlihatkan bertempat tinggal di sebuah gubuk beratap terpal.

Setelah mengetahui ada informasi warganya dengan kondisi demikian, pemuda dan masyarakat sekitar langsung membangun kediaman Sacih (33) tersebut.

“Keluarga ini memang masuk dalam kategori orang tidak mampu, sehingga kewajiban kami sebagai ketua RT untuk menggerakkan masyarakat untuk melakukan gotong-royong,” kata Ketua RT 04 Yani.

Dia menjelaskan, awalnya Sacih dan kedua anak semata wayangnya tinggal satu atap dengan keluarganya di kampung tersebut. Namun entah mengapa Sacih malah pilih tinggal di gubuk beratap terpal tersebut.

Kini, ketua RT telah melaporkan ke pemerintahan desa setempat dan untuk sementara waktu pihaknya bergotong royong membangun rumah Sacih.

“Baru ditinggal suaminya sekitar  7 bulanan yang kedua kalinya meninggal dan meninggalkan dua orang anak. Sempat tinggal di gubuk beratap terpal sekitar beberapa hari,” jelasnya.

“Setelah mengetahui Sacih ini pilih tinggal  di gubuk beratap terepal, kita langsung melaporkan ke pemerintahan desa sehingga pihak desa merespons. Pihak desa memberikan bantuan material seperti asbes GRC dan paku, untuk  tempat tinggal sementara,” tambahnya menegaskan.

Sementara Sacih mengatakan, hal tersebut bermula saat dirinya bereserta kedua anaknya terkatung-katung lantaran suami telah tiada di lokasi tambang ilegal.

“Iya sempat tinggal di tenda beralasan terpal, ya kira-kira hampir 15 hari lebih tinggal disitu berdua sama anak saya,” katanya, sambil meneteskan air mata.

Menurutnya, sang suami meninggal dunia akibat menjadi korban reruntuhan di lokasi tambang ilegal, bahkan naasnya reruntuhan material longsor menimpa bagian kaki sang suami hingga harus diamputasi di lokasi tambang.

“Suami saya meninggal akibat jadi kuli pikul ditambang emas, saat istirahat ada pohon tumbang yang menimpa suami saya bahkan kaki suami saya tertimpah batu besar, hingga suami saya meninggal dunia,” ujarnya.

Saat ini dirinya harus merawat kedua anaknya yang masih balita bahkan dengan adanya bantuan yang diberikan oleh warga sekitar sangat membantu dirinya dan keluarga kecilnya.

“Ada baru dua kali mendapatkan bantuan dari pemerintah, saat ini warga membantu membangun rumah saya secara sukarela, bahkan RT, RW dan Kepala Desa memberikan bantuan juga,” pungkasnya.

(andres)

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest Articles