Catatan Dialog Ketiga Capres RI 2024 di Forum Silaknas ICMI Tahun 2023

0
Apendi Arsyad (AA)

Jurnalinspirasi.co.id – Kemunculan ketiga Capres RI tahun 2024 yakni bapak Ganjar Pranowo (GP), Prabowo Subianto (PS) dan Anis R Baswedan (ARB) di forum Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI pada tanggal 4-5 November 2023 yang lalu, bertempat di Ballroom Hotel Four Ponits by Sheraton, Kota angin mamiri Makassar, Sulsel sesungguhnya sangat berarti, bermakna, dan merupakan sebuah kejutan. Selaku anggota SC Silaknas ICMI 2023 melalui beberapa kali rapat kepanitiaan, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan siapa-siapa bakal Capres RI yang bakal hadir, sebab sistem perpolitikan nasional kita sangatlah dinamis, penuh kejutan dan turbulensi.  Bahkan siapa Cawapres RI yang akan berpasangan dengan Capres RI saat rapat itu, belumlah ada dan tidak jelas (very uncertainty).

Tetapi, alhamdulillah pada waktunya, moment Silaknas ICMI yang ke-33 tahun 2023 dihadiri oleh ketiga putra bangsa Indonesia yang terbaik saat ini sebagai Calon Presiden Republik Indonesia (Capres RI). Ini sebuah anugerah dan kehormatan bagi warga bangsa yang bergabung dalam wadah organisasi ICMI, yang telah berdiri sejak 7 Desember 1990 di Kampus Universitas Brawijaya Kota Malang, Jawa Timur.

Event ini sungguh menarik, mengesan dan insya Allah mencerahkan publik, terutama kaum Cendekiawan Muslim se-Indonesia yang sempat hadir sebagai peserta Silaknas ICMI 2023. Mereka bisa memahami dengan jelas presentasi atau paparan visi, misi, tujuan, sasaran, program, pendekatan dan strata dari ketiga Capres RI yang akan bertarung amat ketat nanti pada Pemilu-Pilpres RI, yang akan digelar Pebruari 2024 mendatang.

Saya sendiri AA sebagai salah aatu peserta dan anggota SC Silaknas ICMI tahun 2023, sangat antusias mendengar dan menyimak kata demi kata, narasi dan gaya bahasa dari ketiga Capres RI tersebut. Saya pun tak ketinggalan, mengambil posisi duduk di kursi terdepan, agar lebih dekat ke podium, dimana ketiga sang orator GP, PS dan ARB berpidato, berbicara dengan serius, terkadang adanya juga selingan humornya.

Mereka menurut pendapat saya  amat cerdas dan piawai membahas berbagai isu-isu strategis nasional dan global tentang mengapa, apa dan bagaimana rencana pembangunan Indonesia 5 tahun kedepan, seandainya mereka terpilih dan diberi amanah oleh rakyat menjadi Presiden RI masa bhakti 2024-2029.

Harap maklum, mereka bertiga itu adalah orang-orang WNI pilihan yang terbaik atas usulan dan dukungan sekelompok Parpol berkoalisi, peserta Pemilu thn 2024.

Saya melihat momen kehadiran ketiga Capres RI 2024 di forum Silaknas ICMI ke-33 tahun 2023 tersebut memberikan warna dan suntikan energi baru bagi ICMI, bahkan memperkuat kewibawaan dan martabat organisasi Cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia bahkan di mata dunia.

MPP ICMI saat ini dibawah kepemimpinan Ketua Umumnya Prof Arif Satria, Rektor IPB University telah menampakan daya tariknya (magnitutenya) dengan berbagai kreatifitas dan inovasi programnya, yang misinya konsen dengan agenda-sgenda perumusan dan pengarahan public policy dan regulasi negeri ini yang terbaik, termasuk juga membicarakan gagasan pemberdayaan sosial (social enfowering), terutama yang berkaitan dengan kontek Keislaman / keummatan, Kebangsaan / Keindonesiaan dan Kecendekiawanan / Keilmuwan serta kepakaran sebagaimana AD dan ART (Khittah, Kode Atik, dan Wawasan Pengabdian ICMI).

Bagi warga ICMI, ketiga aspek dan dimensi tersebut yang menjadi konsen dan fokus untuk menilai narasi gagasan-gagasan briliyan tentang visi dan misi ketiga Capres RI 2023  yang hadir di forum Silaknas ICMI tersebut. Kehadiran ketiga Capres RI disambut meriah oleh warga Makassar yang berada dan memadati ruangan di sekitar hotel dan juga peserta Silaknas ICMI sangat antusias, dan berebut berswafoto dengan sang Capres RI yang menjadi idolanya.

Jujur saya berkata bahwa ketiga Capres RI dilihat dari paparannya, saya menilai baik semua, (all good ideas) alhamdulilah, subhanallah. Akan tetapi diantara yang baik tersebut, naluri saya barang tentu akan mencari yang terbaik, sebagai modal saya untuk menjatuhkan satu pilihan vigur Capres RI menjadi Presiden RI periode 2024-2029 mendatang.

Memang pekerjaan menilai dan memilih sosok seorang figur Capres RI 2024 yang terbaik memang bukanlah pekerjaan yang tak mudah, karena menyangkut banyak faktor dan elemen yang dipertimbangkan, yang kemudian diperbandingkan baik secara objektif (akal pikiran) maupun subjektif (rasa). Dalam hal ini masing-masing orang yang memiliki dan menyalurkan hak pilihnya akan berbeda dan beragam macam sikap dan pola berperilaku secara dinamis.

Unsur atau variabel yang menjadi pertimbangan untuk menilai pada umumnya, diantaranya ada faktor seperti bobot dan kualitas gagasan, rekam jejak perjalanan kariernya, kepemimpinan, pendidikan dan narasi keberhasilannya (succes story), riwayat hidupnya, serta gaya penampilan dalam berkomunikasi publik yang ramah, santun dan retorik, mempesona, termasuk kesiapan logistik, “money politik” dsb.

Akan tetapi biasanya porsi terbesar unsur penilaian menurut pendapat saya AA, bagi kita kaum cerdik-pandai dalam memberikan penilaian adalah unsur bobot dan kualitas gagasannya yang menjadi perhatian utama. Apakah relevan dengan aspirasi, kebutuhan atau keluh-kesah dengan kondisi kekinian kehidupan negara-bangsa saat ini ?

Disinilah pendekatan pemikiran berupa konsep-konsep agenda program kerja dan perasaan, sentimental ideologis, apiliasi politik, kepentingan secara subjektif mesinnya otak dan hati bekerja, berkecamuk.

Saya AA menilai cukup simpel saja, dengan menggunakan hipotesa yang ada. Jika rezim yang tengah berkuasa (the ruling party) saat ini sukses dalam mensejahterakan rakyat dan  membangun Indonesia yang beradaban maju dan rakyatnya sejahtera, adil dan makmur, artinya kepemimpinan saat ini dinilai sukses, maka Capres RI 2023 yang akan dipilih rakyat Indonesia adalah Capres RI 2024 yang bervisi dan misi yang kontennya berjargon “melanjutkan” atau istilah lainnya “pro status quo” alias konservatif. Sebaliknya jika rezim yang tengah berkuasa (the ruling party) dinilai “gagal” dalam membangun Indonesia yang dicita-citakan, masyarakat adil-makmur, maka secara logis, waras dan akal sehat (common sense), para pemilih dalam Pemilu Pilpres thn 2024 mendatang akan melirik dan bersimpati kepada Capres RI tahun 2024 yang mengusung isu-isu strategis “perubahan” baik dalam strategi dan perioritas pembangunan nasional maupun keberpihakan terhadap rakyat, bukan kepada oligarky.

Selama di forum dialog Silaknas ICMI 2023 yang bersifat analitik, santifik dan kritis dalam mempersoalkan berbagai problem kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara  dewasa ini, yang dihadiri lk 500 orang peserta Silaknas ICMI, dan mereka bertanya-jawab dengan ketiga orang Capres RI 2024 yakni GP, PS dan ARB.

Maaf, saya menilai dari konten visi dan visi serta gerak gerik (gesture) dari ketiga Capres RI, yang jelas, tegas dan terang-benderang yang mengusung semangat perubahan adalah ARB. Sedangkan Capres RI GP dan PS lebih cenderung mendukung dan melanjutkan kepemimpinan bpk Jokowi saat ini, artinya kedua capres RI 2023 “pro status quo”, hal ini sejalan dengan opini publik yang beredar di mass media mainstream  diantaranya seperti berita-berita di HU Kompas dll.

Berdasarkan narasi ringkas tersebut, sekarang, tinggal bagaimana sikap publik memberikan penilaian terhadap the ruling party apakah “sukses” atau sebaliknya “gagal”. Dugaan saya siapa pemenang Capres RI 2023, tergantung efek jas rezim penguasa bpk Jokowi, silakan Rakyat memilih secara Luber dan jurdil.

Menurut pendapat saya Capres RI ARB jika para pemilihnya terdidik dan terpelajar (cerdas) dominan, beliau berpeluang menang dalam satu putaran Pemilu 2024. Sebab gagasan-gagasan perubahan dalam konten visi dan misinya sangat relevan dgn sikon sekarang.

ARB berani dan cerdas mengoreksi public policy yang tidak mengedepankan pendekatan teknokratis berbasis saintifik (public policy isnot science), dan saat ini lebih memperioritas selera dan keinginan kaum pemodal besar (oligarky) selaku investor dan pebisnis.

Persoalan ini pernah saya tulis sekitar tahun lalu, terpublikasi di media sosial. Rezim Jokowi, public policynya banyak yang terdistorsi dari kepentingan rakyat, kebijakan dan regulasi agak “ngawur,” banyak bertentangan dengan norma dan kaidah masyarakat global Sustainable Development (SD) dan tertuang dalam narasi tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ada 18 tujuan, belasan indikator dan dua ratusan parameter yang harus dicapai oleh setiap negara anggota PBB.

Contoh terakhir adalah kasus pelanggaran HAM pada implementasi proyek strategis nasional (PSN) Eco City Rempang Kepulauan Riau, terbukti melanggar Hak-hak azasi Manusia (HAM) sebagaimana hasil investigasi Komnas HAM di lokasi kejadian. Artinya rezim yang berkuasa saat ini (the ruling party) mengabaikan “core value system” norma dan kaidah.Ecososial yang tertuang dalam dokumen SD dan SDGs. Ini sebuah contoh kasus yang amat telanjang.

Banyak kasus-kasus usaha-usaha bisnis dan investasi lainnya di sektor pertambangan di daerah membuat konflik-konflik sosial dengan local community, rakyat terpinggirkan seperti yang terjadi di daerah Kuansing Riau, Maluku Utara, Jawa Tengah, dll, karena proyek-proyek investasi yang dipaksakan nir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akibat terbitnya UU Omnibuslaw Ciptaker yang sesat yang mengabaikan studi AMDAL dan pro oligarky.

Dokumem AMDAL adalah produk saintis antar dan multidisipilin mengkaji kelayakan dan dampak proyek investasi dalam perspektif 3 dimensi Ekonomi, Ekologi dan Ekologi secara sinegis dan harmony. Itu namanya konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustaible Development/SD) yang kemudian dijabarkan secara detail menjadi SDGs.

Rezim penguasa Jokowi-Amin selama 5 tahun terakhir mengabaikan SDGs. Mereka berlindung atas nama proyek strategis nasional (PSN) yang tidak jelas kelayakan dan studi AMDAL.

Dalam hal ini yang amat fatal adalah public policy PSN ibu kota negara (IKN) Nusantara dengan legalitas UU IKN yang tak jelas  naskah akademiknya, dan studi AMDAL penentuan lokasi IKN Nusantara di Paser Penajam Utara Kaltim, beresiko bencana alam tinggi, berdasarkan hasil riset disertasi Dr.Bahtiar.

Perkiraan saya saat ini dan dikemudian hari ini proyek IKN akan menjadi beban Rakyat dan Negara, sebab proyek IkN kurang menggunakan nalar sains, dominan landasan berpikirnya hegemoni politik dan bisnis para ologarky. Hal inilah nanti, salah satu agenda pembangunan PSN yang kemungkinan akan dikoreksi oleh Capres RI 2023, ARB jika menang.

Maaf untuk menjelaskan gejala sosial berdampak negatif keberadaan PSN IKN Nusantara di Kaltim yang mengancam kedaulatan negara-bangsa (state nation dignity), pemborosan dan ada ‘hidden agenda” memarginalkan kekuatan politik massa Islam, ahistoris dll sudah saya ulas dan narasikan pada 4-6 tulisan AA di beberapa medsos 1 atau 2 tahun lalu, seperti Lead.co.id, Amanahnews, dll.

Saya sependapat dengan pendapat Capres ARB. Ini harus dikoreksi public policy yang sesat dan menyesatkan tersebut Semoga AMIN menang dalam Pilpres tahun 2024 yang akan datang. Aamin YRA.

Demikian itu narasi catatan forum Silaknas ICMI 2023 yang merupakan sebuah harapan dan aspirasi cerdas dari kalangan Cendekiawan Indonesia. Insya Allah NKRI tetap berjaya dan Rakyatnya hidup adil, makmur dan sejahtera, jika Presiden RI tahun 2024 terpilih yang berwatak siddiq, amanah, tablig dan fathonah. Syukron barakallah. Wasallam.

====✅✅✅

Penulis: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si
(Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat Sosial serta Pendiri dan Aktivis ICMI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here