31 C
Bogor
Wednesday, February 28, 2024

Buy now

spot_img

Mengharapkan Kepemimpinan Baru Indonesia Raya Tahun 2024

jurnalinspirasi.co.id – Wow, hasil polling TribunNews, Capres RI yang akan berkompetisi dalam Pemilihan Presiden RI tahun 2024, Dr.Anis R Baswedan (ARB) sangat unggul fantastis 76 persen, jauh melampaui hasil polling Capres RI Ganjar Pranowo (GP) hanya 12 persen dan Prabowo Subianto (PS) juga 12 persen. Jadi berdasarkan polling, media grup Kompas ini, menghasilkan angka seperti itu. Kata para pakar, gejala sosial ini terjadi akibat adanya pergeseran dukungan ke ARB, setelah lolosnya Gibran Rakabuming Raka (GRK) anak sulung Presiden RI Joko Widodo menjadi Capwapres RI mendampingi PS, wallahu ‘alam bissawab, namanya persaingan politik penuh dengan dinamika.

Saya berharap, semoga hasil polling ini benar adanya, bukan berita hoaks untuk menjatuhkan pihak lawan, kompetitor Capres lainnya GP dan PS.

Saya merasa agak terkaget juga membaca hasil postingan TribunNews grup Kompas ini, telah viral di beberapa medsos, yang memberitakan Capres RI ARB sangat unggul, boleh dikatakan fantastis. Sebelumnya kita tahu, polling-polling yang dimuat di Harian Umum (HU) Kompas, selalu menempatkan PS dan atau GP lebih unggul dibandingkan ARB. ARB selalu ditempatkan diurutan ketiga.

Walaupun saya sendiri dan sejumlah teman meragukan hasil polling yang dipublish HU Kompas, beberapa waktu lalu, saya sempat melakukan kritik dalam 1 atau 2 tulisan saya dimuat di medsos, bahwa hasil polling HU Kompas tersebut, kental berbau rekayasa mendukung gerakan anti Capres RI ARB, sebab tidak sesuai fakta di lapangan, dimana Capres RI berkunjung ke daerah-daerah, rakyat sangat antusias menyambut kedatangan ARB.

Sepanjang jalan raya yang ditempuh ARB dari Bandara menuju lokasi pertemuan di lapangan terbuka yang begitu luas, dipadati dan dipenuhi para pendukungnya. Bahkan ada sebagian rakyat pendukungnya naik atau memanjat ke pohon, pertanda adanya kerinduan lahirnya kepemimpinan baru Indonesia (new leader of Indonesia), seraya mereka para pendukung fanatik mengelu-elukan ARB adalah Presiden RI pada Pilpres RI tahun 2024 mendatang.

Sementara untuk Capres RI PS dan Capres RI GP, saya melihat dari hasil pemberitaan dan postingan di medsos, jika turun ke daerah-daerah, jika berada di lapangan terbuka (outdoor), maaf jujur saya berkata agak sepi pendukung, contoh kasus kunjungan GP berada di Menado Sulut, agak sepi, padahal Sulut kita mengetahuinya merupakan basis PDIP, parpol yang mengusung capres RI GP.

Alhamdulillah, semoga suara dukungan capres RI ARB sebagaimana dilansir TribunNews, dukungan sangat tinggi tetap seperti itu hingga menjelang hari H, Pilpres 2024 yang sebentar lagi tiba. Harapanya kita Pilpres 2024 terselenggara dengan baik dan bersih berdasarkan azaz Luber dan Jurdil menurut UU Pemilu, terhindar dari perbuatan kriminal penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dari Presiden RI yang gemar “cawe-cawe” dan ‘sukses” menempatkan putra sulungnya menjadi pasangan Cawapres RI pada Pileg 2024.

Dan kita tahu bahwa masuknya GRR terjadi atas pelanggaran etik Ketua MK RI Anwar Usman, pamannya. Publik sangat  paham bahwa dinamika perpolitikan nasional kita sarat dengan perbuatan nepotisme untuk membangun dinasti baru,  seolah-olah Indonesia adalah negara kerajaan, berbudaya feodal, bukan Republik Indonesia yang demokratik.

Mengapa dukungan Capres RI ARB sekitar 76 persen hasil polling TribunNews tersebut, berdasarkan analisis sosiologis, bahwa rakyat Indonesia tengah merindukan lahirnya kepemimpinan baru nasional, yang membawa perubahan ke arah perubahan.

Capres RI ARB dalam visi dan misi menggunakan jargon-jargon “perubahan”. Jargon ini masuk ke alam sadar sebagian besar penduduk Indonesia, karena mereka sudah merasa selama lebih kurang satu dasawarsa terakhir kepemimpinan Presiden RI Jokowi, situasi kecenderungan semakin memburuk ditinjau dari dalam berbagai aspek ipoleksosbudhankam.

Data indeks yang telah terpublish tentang indikator kinerja pemerintahan dan hasil pembangunan  memburuk, seperti carut marut praktik hukum, dimana supremasi hukum melemah, korupsi-kolusi dan nepotisme (KKN) musuh gerakan Reformasi semakin menjadi-jadi, direduksi sekecil mungkin, pelanggaran HAM dalam mendewakan investasi semakin tampak seperti kasus Rempang, angka stunting masih tinggi 27 persen akan berakibat lose generation, politik LN tidak bebas aktif, lebih condong/pro China dengan poros Jakarta-Peking, kita sebagai WNI agak ketir-ketir masuknya kembali paham dan ideologi komunis seperti tahun 1965-an, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi, penyenggaraan negara dgn public policy diwarnai cengkraman oligarky dan terlalu pragmatisme (didn’t science) melemah pro social walfare.

Kekayaan negara berupa aset SDA dan jasa-jasa lingkungan dikuasai koorporasi swasta seperti tanah, air dan hutan/perkebunan dll akibat regulasi yang pro oligarky, SDA bukan lagi dikelola negara (BUMN) untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya sesuai pesan amanat UUD 1945 pasal 33.

Sistem kelembagaan tata negara berupa UUD 1945 hasil amandemen 4 kali semakin menjauh dari kedaulatan Rakyat, yang muncul kedaulatan Parpol, sehingga kekuasaan Presiden RI sangat kuat dengan kekuasaan tanpa batas akibat MPR RI tidak berfungsi lsgi sebagai Lembaga Negara Tertinggi penjelmaan kedaulatan Rakyat.

Kemudian pelaksanaan sila-sila Pancasila dalam kehidupan bernegara oleh para elite politik kita semakin tidak beretika dan bermoral, bahkan ada yang memusuhi agama seperti Islamphobia seolah-olah tidak percaya hari akhirat, munculnya ide ngawur eka sila, azan subuh seperti anjing menggonggong, buka shaum Ramadan di birokrasi pemborosan, juga the ruling party tampak memusuhi ulama dengan memunculkan framing radikal dan ektrimis bagi warga negara yang kritis dan menegakan moral dan etika beragama.

Daya saing dan kualitas SDM dalam bisnis masih sangat rendah jika dibanding negara-negara lain, angka indeks IPM yang mencerminkan kemampuan daya beli rakyat secara ekonomi, tingkat pendidikan dan kesehatan masih sangat rendah, dan banyak lagi indikator eksisting ipoleksosbudkam yang merisaukan atau mengkhawatirkan banyak pihak (main stakeholders) yang waras, peduli dan mau berpikir ke arah perubahan,  perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bangsa dan Rakyat Indonesia harus keluar dari berbagai krisis dan kritis akan nasib  Indonesia Raya. Padahal Indonesia kekayaan alamnya berupa SDA dan jasa-jasa lingkungan pada ekosistem tropika melimpah-ruah dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) sebagai sumber kemakmuran bersama rakyat. Akan tetapi negara ini dikelola dengan buruk (bad governance) akibat rendahnya kualitas dan kapasitas kepemimpinan nasional, ya akibatnya nasib rakyat atau penduduk Indonesia sebagian besar masih miskin, antri sembako BLT, berbagai bantuan sosial dan subsidi lainnya dll.

Untuk keluar dari krisis dan kritis akan nasib rakyat dan bangsa tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, kita WNI harus berjuang untuk mendapatkan perubahan perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara agar NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 berkemajuan dan bermartabat.

Sebaliknya barangtentu, kita WNI yang berpikir rasional (waras), peduli akan nasib rakyat dan bangsa yang berkeinginan untuk maju dan beradab, tidaklah masuk akal (irrasional) mempertahan dan membela kepemimpinan nasional Presiden RI yang “gagal”, yakni Capres RI yang konservatif dan pro status quo.

Kedua Capres RI PS dan GP berdasarkan publikasi seperti spanduk di pasang di jalan raya, termasuk visi dan misi kedua Capres RI tersebut kontennya masih pro Presiden Jokowi, dengan istilah dan jargon “melanjutkan” kepemimpinan Jokowi. Jika bertolak dari angka indeks dari sejumlah variabel dan indikator tersebut, dapat kita simpulkan paradoks, dan Capres RI ARB berpeluang besar menang satu putaran Pilpres RI tahun 2024, insya Allah jika pemilunya Luber dan Jurdil, tanpa kecurangan.

Kerinduan untuk perubahan perbaikan kehidupan dalam sejumlah aspek ipoleksusbudhamkam semakin kuat dan deras. Indikator hasil polling TribunNews terpublikasi baru-baru ini, insya Allah menjawab hipotesa itu bahwa Capres RI ARB akan memenangkan kompetisi Pilpres RI tahun 2024.  Karena semuanya itu menghendaki dan menuntut kualifikasi persyaratan seorang Presiden RI yang terdidik, terpelajar dan berpengalaman dalam good governance.

Capres RI ARB memenuhi persyaratan dan unggul dalam segi pendidikan, pengalaman membangun DKI Jakarta selaku Gubernur dengan banyak mendapat penghargaan bertaraf nasional dan internasional atas berbagai prestasinya (begitu yang saya baca dalam biodatanya/CV-nya).

Capres RI ARB adalah pemimpin muda yang energik, cerdas dan bersih dari perikaku jahat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang merusak sendi-sendi bernegara. Sepengetahuan kita Capres RI ARB belum pernah terdengar dan terpublikasi ARB tersangkut perbuatan korupsi, berbeda dengan kedua Capres RI yang lainnya, ada isu “miring dan kurang sedap” kasus korupsi KTP elektronik, film porno, dan kasus proyek Food Estate, kasus penculikan aktivis 1998 sebagai pelanggaran HAM dan noda-noda yang lainnya, mudah-mudahan itu fitnah (hoaks), wallahu ‘alam bissawab.

Opini ini terbangun atas dasar fakta, informasi media massa, media sosial dan kajian femomena sosial dalam perspektif sains dan etik, bahwa kita harus memilih yang terbaik dari ketiga Capres RI yang baik yang ada. Saya berharap Capres RI ARB, salah seorang capres RI thn 2024 bisa memenangkan pertarungan nanti untuk perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik, dan berani serta mampu mengkoreksi atas kelemahan rezim berkuasa saat ini agar negara ini tidak terjerembab dalam berbagai krisis dan kritis.

Saya menyimak presentasi visi dan misi Capres RI ARB, jika beliau terpilih akan mengusung agenda perubahan dengan pergeseran paradigma (sifting paradigm) dari era, gaya dan pendekatan kepemimpinan Presiden RI yang tengah berkuasa saat ini bpk Jokowi yang memang konsepnya Capres RI ARB agak berbeda, bahkan akan mengkorekasinya, ARB tidak konservatif atau jauh dari mempertahankan status quo.

Saya dengan sejumlah kawan peserta Silaknas ICMI 2023 di Makasar, 4-5 November 2023 yang lalu, dialog ketiga Capres RI bertempat di Ballroom Hotel Four Points by Sheraton Makasar, terus terang dan jujur berkata  jatuh hati pada Capres RI ARB.  Maaf, itu sebuah harapan saya dan kami sebagian warga ICMI yang masih waras, mendambakan munculnya perubahan ke arah perbaikan (restorasi).

Mudah-mudahan itu bukan sekedar jargon-kosong, janji-janji palsu, tetapi sungguhan, sehingga ke depan NKRI di tahun emas 2045, 100 tahun Indonesia Merdeka menjadi negara yang maju dan beradab, rakyatnya sejahtera yang berkeadilan dan negaranya berdaulat yang disegani dan setara negara-negara maju lainnya di belahan dunia.

Untuk meraih kemajuan, kesejahteraan rakyat dan NKRI berdaulat, rezim yang berkuasa (the ruling party) nanti, jangan lagi membuat hutang negara seperti sekarang ini yang semakin menumpuk dan membesar, kasihan anak cucu kita yang mewariskannya. Rezim yang berkuasa nanti harapannya menghindarlah dari perbuatan pelanggaran HAM terhadap rakyatnya seperti kasus PSN Eco Rempang Kep.Riau yang memilukan hati, juga kasus konflik sosial ketenagakerjaan migran China vs pribumi dalam investasi pertambangan nikel yang pro asing based China, oknum pejabat negara dan pemerintahan berperilaku bebas dari perbuatan kriminal.

KKN, supremasi hokum jangan dipermainkan untuk melanggengkan kekuasaan seperti kasus penyalahgunaan oleh Ketua Hakim MK baru-baru ini, regulasi dan public policy dibuat berdasarkan konsep sains, tidak ngawur seperti ini bias pro oligarky, dsb. Harapan kita yang waras hendaknya perilaku buruk itu sirna dari bumi Indonesia, yang masyarakatnya religius, harus hidup bermoral dan beretika, insya Allah Aamiin.

Begitu sekilas opini saya ibuku Dr.Sri Hastuti Bukhori/Waket Wankar ICMI Pusat beserta kawan-kawan seperjuangan, yang cukup  kritis nan cerdas serta cukup peduli dalam berwacana dalam WAG Wankar MPP ICMI ini tentang nasib negara-bangsa kaitan dengan kandidat pasangan Capres dan Cawapres RI 2024. Harapan saya hasil polling TribunNews yang viral di sejumlah medsos, menempatkan Capres RI ARB pada peringkat pertama, di angka 76 persen, itu benar adanya dan para pendukungnya tetap konsisten, teguh pendirian (istiqomah) hingga momentum Pilpres 2024 tiba.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam mendayagunakan akal-pikiran (nalar sehat dan cerdas) dan hati-perasaan yang mulia dan suci (qalbun salim) dalam menggunakan hak memilih kita dalam Pemilu Pilpres dan Pileg RI tahun 2024 yang akan datang. Insya Allah NKRI semakin berjaya, digdaya, rakyatnya hidup berkemakmuran yg berkeadilan, aman, rukun dan damai, insya Allah Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita.

Saya memohon maaf bagi yang tidak sependapat, berbeda dengan opini ini. Saya hanya menggunakan hak berpendapat atas dasar demokrasi menurut UUD 1945. Saya mengajak mari kita jadikan perbedaan itu sebagai Rahmatulilalamin.

Ingat slogan kehidupan berbangsa dan bernegara kita “Binneka Tunggal Ika”, walaupun kita berbeda kita tetap satu jua, bersatu dan menyatu dalam wadah NKRI, dan siapa pun yang memenangkan kompetisi Pilpres RI yang Luber dan Jurdil nanti tahun 2024, tanpa ada kecurangan, kita wajib menghormati dan menerima keputusan KPU RI itu.
Fastabiqul khairats.
Syukron barakallah
Wassalam.

===✅✅✅

Penulis:
Dr. Ir.H.Apendi Arsyad, M.Si
(Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pengamat Sosial, Pendiri dan Wasek Wankar ICMI Pusat merangkap.Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,832FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -
- Advertisement -

Latest Articles