Aktivis PMII UIKA Ingatkan Rawat Tradisi Prinsip ASWAJA

0
Diskusi Rayon PMII Fakultas Agama Islam UIKA Bogor dengan tema "Merawat Dan Meraut Nilai - Nilai ASWAJA "

Bogor | Jurnal Bogor

Sebagai organisasi kemahasiswaan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki organanisasi lain. Tidak hanya mengedepankan aspek modernitas saja, namun juga tetap membawa aspek tradisionalitas. Sama halnya dengan kaidah fiqih, al-muhafadhatu alal-qadimish-shalih wal akhdzu bil jadiidil-ashlah (melestarikan tradisi lama yang bagus dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih bagus).

Demikian yang disampaikan Muhammad Abdillah Alburhani, aktivis PMII UIKA Bogor pada Diskusi Rayon PMII Fakultas Agama Islam UIKA Bogor dengan tema “Merawat Dan Meraut Nilai – Nilai ASWAJA “.

Aktivis UIKA Bogor Fakultas Agama Islam ini menyatakan bahwa kader PMII hendaknya  tidak mengabaikan bidang akademik. “Kelemahan anak-anak PMII itu kalau ditanya soal akademik pasti pada kalang kabut,” ujarnya sambil terkekeh.

Muhammad Abdillah Alburhani menegaskan betapa pentingnya dunia akademik dalam menjawab tantangan zaman. Beberapa di antaranya yaitu PMII harus mengembangkan riset yang mendalam, sebagai katalis wacana dalam berbagai bidang, menjadi gerakan intelektual di tengah kemacetan wacana, tempat titik temu antara teoritis dan praktis, membangun sumber daya sesuai keilmuan masing-masing.

Berbeda halnya yang dikatakan Fajril Misftahul Kirom, Ketua Rayon PMII Fakultas Agama Islam UIKA Bogor bahwa penting anggota dan kader PMII juga memahami aspek politik secara utuh. Namun, tanpa harus meninggalkan tradisi yang dianut. “Politik yang harus diperagakan kader PMII yaitu politik nilai, bukan politik praktis,” tuturnya.

Banyak orang yang salah mengartikan tentang makna politik. Sebenarnya politik merupakan wasilah (alat) untuk membawa nilai-nilai yang diyakini dan dianut ke ranah manajemen pemerintahan. “Sedangkan nilai-nilai kita itu Ahlussunnah wal Jama’ah,” ujarnya

Sudah kita ketahui bersama bahwasannya, tradisi-tradisi yang berjalan di tengah masyarakat tentu ada yang baik, dan atau sebaliknya. Beragam tradisi yang memberi dampak positif, baik terhadap pribadi seseorang maupun kepada masyarakat secara kolektif hendaklah dijaga, bahkan harus terus dirawat agar tidak ‘punah’ meski zaman terus berkembang.

Menjaga dan merawat tradisi itu adalah sebuah kemaslahatan, bahkan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib,lanjut ketika memahami hadist ‘wa khaliqin nasa bikhulukin hasanin (dan pergauliah manusia dengan akhlak yang bagus)menyatakan,bahwa arti pada kalimat itu adalah menyesuaikan dengan masyarakat dalam hal yang bukan maksiat.

Penjelasan ini menurutnya sangat sesuai dengan sikap seseorang ketika melihat tradisi yang berkembang di masyarakat. Tidak boleh kemudian semua yang baru itu dianggap salah dan melarang orang lain mengikutinya. Justru yang baik adalah bersikap lentur sepanjang tradisi itu tidak terdapat nilai-nilai kemaksiatan.

Sesama anak bangsa harus menghormati dan menjaganya. Jangankan hanya tradisi, sesuatu yang sudah jelas memiliki hukum seperti qunut itu terdapat perbedaan pendapat, ulama terdahulu yang menentukan hukum qunut itu tidak saling menyalahkan, malah sebaliknya mereka menghargai.

Puncaknya yang ingin dicapai PMII dari asas ASWAJA adalah prinsip tawasut/moderat dan merawat sunnah rasul dan sunah para sahabat.  Pada konteks saat ini aswaja tidak hanya dimaknai sebagai ajaran teologis semata, karena problem yang dihadapi oleh umat muktahir ini tidak mudah periode Islam terdahulu.

Ada 4 prinsip ASWAJA sebaga manhaj Al-fikr

Tawasuth/moderat

Prinsip ini menekankan pentingnya berada di posisi tengah tidak condong ke kanan juga todak condong ke kiri, sehingga corak pemahaman nya sealu tampil pada jalur tengah dalam menjawab tantangan umat.

Tawadzun/menyeimbangkan

Yakni sebuah prinsip istiqomah dalam membawa nilai-nilai ASWAJA tanpa interpensi kekuatan manapun.sebuah pola pikir yang selalu berusaha untuk menuju ketitik pusat ideal (keseimbangan)

Tasamuth/toleransi

Prinsip dalam keterbukaan dalam menerima perbedaan. Sikap toleransi ini adalah membebaskan atau melepaskan diri atau golongan darisifat egoistic dan sentimen pribadi atau kelompok.

Ta’adul/bersikap adil

Yakni kesetaraan atau keadilan. Sebuah konsep adanya propor sionalitas dalam pemikiran maupun tindakan dengan demikian segala bentuk sikap selalu mengedepankan pkemaslahatan dengan visi keadilan bersama.

Empat prinsip ASWAJA sebagai kerangka berfikir ini merupakan solusi konkrit untuk menjawab berbagai persoalan zaman yang sangat kompleks. Dengan kerangka berfikir seperti ini maka problem-problem yang berkembang masa kini sangat mungkin menemukan solusi. Empat prinsip tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Nabi dan justru merupakan prinsip-prinsip dasar universalitas ajaran Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Adapun merawut atau mengasah tentang keASWAJAan kita harus mempunyai empat prinsip di atas seperti tawasuth, tawadzun, tasamuth, ta’adul sehingga kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan khususnya untuk berdakwah.

Juga seperti apa yang sudah dijelaskan di atas cara merawat budaya ASWAJA dengan melakukan kegiatan-kegiatan atau diskusi tentang keislaman ASWAJA agar para pemuda atau kader-kader PMII dapat mengetahui sekaligus memahami tentang sejarah ASWAJA itu sendiri, sehingga benar – benar paham, tertanam dalam diri, dan dapat mengamalkan sekaligus mensyi’arkan Islam Ahlussunnah Waljama’ah dengan baik.

** Abdillah Al Burhani/rls

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here