Pembelajaran Online Membuat Orang Tua Resah

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Virus corona sudah berlangsung selama 15 bulan berada di Indonesia, itu artinya sejak diumumkan bahwa virus corona telah masuk ke Indonesia pada Maret 2020 lalu, pembelajaran online sudah berlangsung selama itu.

Rencana pelaksanaan pembelajaran tatap muka pun terus menerus dibatalkan hingga sudah memasuki bulan ke -15 ini.

Pada awal diberlakukan pembelajaran online orang tua masih mampu mengajarkan dengan gaya-gaya kreatifnya, namun kini setelah berlangsung selama 15 bulan bukan hanya orangtua yang mengeluhkan tetapi banyak anak-anak yang sudah bosan dan jenuh dengan pembelajaran online.

Tidak sedikit orang tua yang kehabisan cara mengajarkan anaknya, belum lagi emosional yang harus tetap dijaga menghadapi sikap anaknya yang menyepelekan pelajaran.

Pembelajaran online ini telah memberikan dampak negatif bagi pelajar, banyak pelajar yang mengeluhkan jenuh dan tidak memahami apa yang sudah dipelajari karena harus mencerna semua materi sendiri tanpa ada penjelasan dari guru secara terperinci.

Belum lagi begitu banyak pelajar yang menghabiskan waktu bukan lagi dengan buku pelajaran tetapi dengan games online dan pergi bermain bersama teman. Tidak semua orang tua mampu mengontrol setiap perkembangan anaknya, apalagi orang tua yang memang memiliki pekerjaan diluar rumah harus kerja lebih ekstra dan kadang tidak bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan mengasuh anaknya.
Tidak sedikit kita temui beberapa kasus para pelajar sibuk menghabiskan waktunya di warnet berjam-jam untuk bermain games diwaktu yang seharusnya ia belajar.

Belum lagi pembentukan akhlak dan tanggungjawab semakin minim akibat pembelajaran online ini. Begitu banyak orang tua yang resah tentang masa depan anaknya jika pembelajaran ini terus saja diberlakukan.

Selain itu masih begitu banyak kendala yang terjadi dalam pembelajaran online beberapa hal yang seperti tidak semua orang tua berkecukupan untuk membeli sebuah smartphone dalam menunjang pembelajaran online, tidak semua orang tua mampu selalu membeli data internet untuk pembelajaran online dan tidak semua orang tua mampu mengoperasikan Smartphone untuk membantu anaknya dalam proses belajar, ditambah minimnya pengetahuan orangtua sehingga kesulitan dalam mengajarkan anaknya yang tidak paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru.

Pemerintah harus mengambil keputusan tegas untuk menjamin bahwa pembelajaran online ini tidak membuat generasi penerus bangsa menjadi manusia yang lemah, minim akhlak dan tidak memiliki tanggungjawab.

Jika pembelajaran online terus diberlakukan maka akan semakin berkurang semangat pelajar untuk bersekolah, salah satu yang membuat pelajar bersemangat menuntut ilmu jika pembelajaran tatap muka diberlakukan adalah ingin bertemu teman-temannya.

Urgensi pemerintah saat ini adalah memberikan solusi untuk pendidikan Indonesia dan mengusahakan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan ketat agar orang tua tidak menjadi resah terhadap masa depan anaknya.

** Adinda Oktavia Lestari [MG/UIK-Jb]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here