Tebingan Longsor di Sukamana Belum Juga Dibangun TPT, Aktivis Sebut Kinerja PUPR Lamban

0

Leuwiliang l Jurnal Inspirasi

Aktivis Bogor Rahmatullah menyebut kinerja Dinas PUPR lamban menangani permasalahan insfastruktur di Kabupaten Bogor, salah satunya tebingan yang pernah terjadi longsor pada tahun 2017, tepatnya di Kampung Sukamana, RT 01 RW 02 RW 09, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang yang seharusnya ini menjadi anggenda serius dan telah dibangun pada tahun lalu setelah terjadi longsor.

“Khawatir sewaktu waktu bisa membahayakan warga, kenapa TPT tersebut tidak segera dibangun, selama ini dinas terkait kemana saja, apa nunggu ada bencana lagi dan memakan korban,” kata Rahmat kepada Jurnal Bogor, Minggu (3/1).

Rahmatullah yang akrab disapa Along menyebutkan, bahwa tebingan longsor di Kampung Sukamana seharusnya sudah dibangun 2018 atau 2019 karena kejadiannya beberapa tahun lalu dan sudah cukup lama. ” Ini kan sifatnya urgen, dan harus menjadi catatan serius paling tidak untuk pemabanguna TPT bisa masuk dia anggaran tahun 2021 sekarang,” sebutnya.

“Antisipasi musibah longsor mesti diantisipasi terjadi dikemudian hari, kami akan dorong agar perencanaan untuk dibangunnya tebingan tersebut bisa segera terealisasi,” paparnya.

Terlebih, Along juga mengaku kecewa atas kinerja Kepala Dinas PUPR sekrang yang dinilai sulit untuk diminta informasi seputar pembangunan di wilayah Kabupaten Bogor. “Ketika telepon atau mengirimkan pesan singkatnya sebagai informasi lanjutan keluhan dari masyarakat, namun pihaknya tak merespon dengan baik dan cepat,” kata dia.

“Jangan begitulah kalau konteknya untuk membangun Bogor seharusnya cepat respon jadi jangan mentang mentang pejabat pada prinsipnya kalau pelayan tentu harus melayani dengan baik. Ini harus juga dipanggil dan dievaluasi oleh bupati masa anak buahnya begitu dan ini bukan satu dua orang yang mengeluhkan sikap kepala dinas,” kata Along.

Perlu diingat, tegas Along, Dinas PUPR bagian dari pelayanan masyarakat karena mereka sudah digaji yang menggunakan uang rakyat. ” Jadi harus tanggap ketika warga meluhkan dan teman-teman jurnalist menkorfirmasi dengan kondisi masih buruknya insfrastruktur,” tegasnya.

Sebelumnya telah diberitakan, musibah longsor sudah lama terjadi beberapa tahun lalu. Namun yang menjadi kekhawatirannya karena keberadaan tebingan di atasnya dipenuhi rumah warga dan juga ada warga yang rumahnya tinggal dibawah tebingan. “Panjang tebing 150 meter dengan ketinggian sekitar 6 meter, namun yang paling urgen yang harus dibangun TPT sekitar 50 meter,” kata Sekretaris Desa Leuwimekar, Ade Umyana.

“Rumah warga sangat padat sekali kurang lebih di tiap pinggiran tanah tebing itu ya sekitar 30 rumah. Memang sepengetahuan kami hanya satu kali longsor tetapi kondisinya parah sekali dan jangan sampai terjadi dan kami ingin ada upaya antisipasi,” paparnya.

Atas kejadian ini pihaknya sering melaporkan ke pihak terkait bahkan sudah membuat ajuan proposal meminta tebingan tersebut untuk segera dibangun TPT. “Paling terakhir itu kami ajukan ke Dinas PUPR bahkan sudah disurvei, hanya realisasinya saja yang belum sudah akhir tahun 2020 ini tidak ada juga,” beber Ade.

** Arip Ekon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here