Bangun Laboratorium Penyuluhan, Kementan Siapkan Produk Diseminasi Teknologi untuk Petani

0

Malang | Jurnal Inspirasi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan, mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian unggul merupakan pilar dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Salah satunya melalui pendidikan vokasi.

“Ada empat jurus jitu yang harus ditekankan dalam pendidikan vokasi, antara lain yakni karakter dan pengembangan keterampilan yang menyatukan intelektual sistem dengan manajemen praktis. Pendidikan vokasi harus menciptakan generasi milenial yang memiliki karakter seorang petarung, tidak mudah menyerah, dan memiliki jiwa yang tangguh,” ujar Mentan SYL.

Semangat Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mencetak SDM unggul terus berlanjut. Diantaranya melalui penyediaan Sarana Prasarana Pembelajaran berupa Laboratorium di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang.

Dalam kesempatan Peresmian Laboratorium Penyuluhan sekaligus Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan UPT di Wilayah Malang, Jawa Timur, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi  didampingi Sekretaris Badan PPSDMP Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Ir. Sumardi Noor, M.Si serta pejabat Eselon 3 dan 4.

Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya dalam menyiapkan SDM bidang pertanian yang profesional, berjiwa wirausaha dan berdaya saing, Sabtu (19/09/20). Dalam kesempatan itu kepala Badan PPSDMP mengamanatkan agar kegiatan-kegiatan badan SDM yang dilakukan oleh para UPT yang ada di Malang yaitu Polbangtan, BBPP Batu dan BBPP Ketindan ketiga UPT ini harus saling bersinergi dan saling berkoordinasi dengan UPT lainnya di bawah Kementerian Pertanian supaya semua program berjalan lancar, utamanya implementasi program kegiatan Kostratani di Jawa Timur.

Khusus untuk Polbangtan Malang, Prof. Dedi mengakui terdapat modifikasi pada mekanisme pendidikannya seperti melalui daring dan online system di tengah pandemi Covid-19. Untuk menyempurnakan sistem yang telah berjalan, akan segera dilakukan evaluasi agar sistem pembelajaran semakin efektif dan tepat guna.

“Segala yang menjadi kekurangan harus segera diatasi, di tindaklanjuti, meskipun sekarang metode daring tidak kalah efektif dengan metode konvensional,” tuturnya. Selanjutnya, Dedi menyampaikan juga peran laboratorium amat penting bagi pengembangan sektor pertanian Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

“Laboratorium Penyuluhan itu dapur untuk menghasilkan makanan. Kalau di penyuluhan ini berarti dapur untuk menghasilkan produk-produk penyuluhan dalam berbagai metode. Tapi yang utamanya adalah bagaimana diseminasi teknologi kepada petani, kepada praktisi pertanian, kepada stakeholder. Itu utamanya,” tegas Dedi.

Saat ini, dengan berkembang pesatnya teknologi, salah satu mekanisme penyuluhan tak mesti bertatap muka. “Sekarang penyuluhan harus bisa memanfaatkan sarana IT dengan baik. Nah produk-produk ini yang dihasilkan oleh Laboratorium Penyuluhan itu dan pada saat yang sama laboratorium ini juga bisa buat diseminator,” ujarnya.

Menurutnya diseminasi produk yang dihasilkan dari Laboratorium ini bukan hanya disampaikan kepada khalayak, petani, tapi juga kepada stakeholder yang terkait misalnya perguruan tinggi, dengan pemerintah daerah, dan sesama himpunan profesi. “Sampaikan bahwa kita punya produk ini lho, Kami mempunyai metode penyuluhan sesuai dengan inovasi teknologi. Itu yang bisa disampaikan dengan umpan balik perbaikan-perbaikan metodologi yang kita susun,” tambah Dedi.

Sebagai agen perubahan, Dedi berharap mahasiswa akan memanfaatkan dengan baik produk-produk penyuluhan tersebut. Di sisi lain, ia juga memotivasi mahasiswa agar mampu memformulasikan, memodifikasi metode penyuluhan yang saat ini sudah ada.

“Bahkan mahasiswa nantinya harus mampu melihat kondisi saat ini. Metode penyuluhan yang paling bagus itu seperti apa, karena zaman selalu berubah. Apalagi sekarang ada Covid-19 yang memaksa kita untuk sistemnya virtual, sistem jarak jauh,” papar Dedi.

Ia juga meminta mahasiswa untuk dapat menelurkan inovasi pembaruan dalam metodologi penyuluhan. “Tentu dengan menyeimbangkan efektivitas penyuluhan itu sampai kepada petani. Di saat yang sama, juga harus mempertimbangkan kondisi lingkungan yang saat ini terjadi, khususnya di masa pandemi Covid-19,” tutup Dedi.

Sementara dalam waktu yang bersamaan Sekretaris Badan PPSDMP Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si, mengingatkan berkaitan dengan dibangunnya labolatorium,  tentu akan diikuti oleh  peningkatan /tambahan sarana dan prasarana. Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) harus dilaksanakan secara transparan dan akuntabel. Untuk mencapai itu, penghapusan sebagai salah satu alur pengelolaan BMN yang harus diperhatikan, agar tercipta neraca keseimbangan Asset.

Dalam Penjelasannya, Munifah menekankan bahwa Persetujuan dari Pengelola, belum menghapus BMN dari daftar barang (belum keluar dari SIMAK BMN) sementara, jika sudah terbit Surat Keputusan Penghapusan BMN (baik karena Pemindahtangan atau sebab lainnya), maka BMN sudah bisa dihapus dari Daftar BMN atau dengan kata lain Penghapusan adalah Siklus Terakhir dari Proses Pengelolaan BMN.

Mekanisme pemusnahan BMN dan kriteria BMN yang dapat dialihkan ke pengelola barang, Munifah menjelaskan bahwa pemusnahan dikhususkan untuk barang-barang yang  tidak lagi dapat digunakan, dimanfaatkan atau dipindahtangankan dan barang-barang yang kalau dijual akan membahayakan masyarakat seperti obat-obatan yang sudah kadaluarsa.

T2S/Wan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here