Rizal Ramli: Industri Makin Anjlok, Sektor Pertanian Fokus Digenjot

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Pertumbuhan industri nasional pada 2019 sebesar 5,04 persen yang tidak terpaut jauh dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 yang tumbuh 5,02 persen dinilai tidak ideal. Untuk memajukan sebuah negara, sejatinya industri harus tumbuh dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi. 

“Pertumbuhan industri harus dua kali dari pertumbuhan ekonomi. Misalnya pertumbuhan ekonomi 6 persen maka industri harus 10-15 persen. Industri harus lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Tunggu aja Rizal Ramli jadi presiden,” ujar ekonom senior, Rizal Ramli dalam Webinar Ngopi Bareng RR, Kamis (23/7/2020).

Mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu berpendapat, pertumbuhan industri harus dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi, sebab dengan demikian artinya industri bisa menciptakan lapangan kerja lebih banyak, kemudian tingkat upah bisa naik dan produktivitas juga tinggi.

Rizal-pun mengungkapkan bahwa pada medio 1980-an, Indonesia pernah berada pada posisi tersebut. Kala itu pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 6,5 persen. Sedangkan industrinya tumbuh dua digit sekitar 15-18 persen.

Sayangnya, menurut Rizal, kondisi itu tidak pernah lagi terjadi setidaknya dalam 5-6 tahun terakhir. Bahkan menurutnya, keadaan justru berbalik yaitu pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, sedangkan industri tumbuh lebih lambat yaitu sekitar 3-4 persen. 

Kondisi ini menurut Rizal menunjukkan bahwa industri Indonesia terutama manufacturing semakin tidak kompetitif. Bahkan kini sektor industri tidak bisa lagi diandalkan sebagai pencetak lapangan kerja. 

“Semakin lama semakin kecil, enggak bisa lagi jadi sumber penciptaan lapangan kerja formal. Makanya sekarang banyak tumbuh pekerja informal,” pungkas Rizal Ramli.

*Fokus Genjot Sektor Pertanian*

Ekonom senior, Rizal Ramli, kembali mengingatkan pemerintah untuk fokus pada pengembangan sektor pertanian di tengah pandemi Corona atau Covid-19. Menurut mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu, Jawa Barat adalah salah satu Provinsi yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan produk-produk pertanian.   

“Dunia termasuk Indonesia sangat membutuhkan sektor pertanian terutama pangan dan sayur-sayuran. Nah, Jabar sangat cocok mengembangkan bidang tersebut,” ujar Rizal Ramli saat mengisi acara Ngopi (Ngobrol Perkembangan Terkini) Bareng Rizal Ramli #2 secara virtual, Kamis petang (23/7/2020).

Selain wilayah yang mendukung, menurut Rizal Ramli, banyak juga warga Jabar yang senang dan rajin jadi petani.

Terlebih lagi, sambung Rizal Ramli, bila pemerintah fokus pada pertanian, maka hal itu bisa mengantisipasi adanya ancaman kelangkaan pangan.

“Di tengah pandemi Corona, banyak negara eksportir komoditas seperti Vietnam dan Thailand mengurangi kuota ekspornya ke beberapa negara termasuk Indonesia. Jadi, ini saatnya pemerintah untuk lebih serius menggenjot produk pertanian agar kita terancam kelangkaan pangan,” tegas Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu.

Dan setelah pertanian pesat dan corona mulai berkurang, Jabar bisa menggenjot bidang industri. Industri di Jabar sangat berpeluang besar karena berbatasan langsung dengan Jakarta dan Jabodetabek.

“Tapi lagi-lagi, ini hanya bisa dikerjakan oleh pemimpin yang punya visi misi, punya rekam jejak yang bagus, trust, berpihak pada rakrat, tidak cuma pencitraan. Saya sering sampaikan, pemimpin itu harus punya visi misi, strategi dan personilia yang bagus,” tutur pria yang karib disapa RR itu.

Terkait target Gubernur Jabar, Ridwan Kamil pertumbuhan ekonomi Jabar sebesar 9 persen pada 2021, RR melihatnya hanya sebatas pencitraan.

“Emil (Ridwan Kamil) ngomong gede 9 persen, yang kongkrit saja, 6 atau 7 sudah bangus,” ucap RR.

Dia menyebut Ridwan Kamil ngomong gede soal pertumbuhan ekonomi itu, karena belum terlihat langkah ataupun srtategi untuk mencapainya.

“Saya belum lihat rencana dan langkah-langkahnya, jangan pencitraan saja,” tandas Rizal Ramli.

Handy Mehonk | **

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here