Ade Yasin: Jangan Demo Dong, Temui Saya

0
Ade Yasin

Dramaga, Jurnal Inspirasi

Disoal dan dicap ingkar janji soal keberpihakan terhadap madrasah, Bupati Bogor Ade Yasin akhirnya  angkat biacara. Menurunya aksi demo yang terjadi  belum lama ini di depan kantornya itu dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab yang mengatasnamakan madrasah. “Jangan demo dong, bicara saja sama Bupati kenapa harus demo  kan Bupati sudah mengeluarkan kebijakan- kebijakan soal madradah.”

“Tapi, kalau keinginan seseorang mengatasnamakan sendiri jangan juga mengatasnamakan madrasah dong, per aja dong siapa si yang gak setuju, temuin saya jangan ada orang di belakang madrasah. Saya tahu siapa dibelakang aksi demo kemarin,” tegas Bupati Bogor Ade Yasin, baru-baru ini.

Ade Yasin mengaku dirinya telah bertemu dengan orang-orang madrasah. Mereka diakuinya tidak keberatan dan mereka tahu bahwa Bupati telah merealisasikan kebijakannya itu. “Udah deh jangan  mengatasnamakan madrasah saya sudah ketemu dengan orang madrasah itu mereka gak keberatan. Mereka seneng kok Bupati sudah merealisasikan janji sudah melaksanakan janji kalau ada seseorang yang gak suka yang tampil saja kedepan,”sindir Ade.

Lebih lanjut  kata Ade Yasin soal madrasah,  Pemkab Bogor melalui kebijakanya Bupati bersama Wakil Bupati Iwan Setiawan untuk madrasah telah menganggarkan  Rp 20 miliar  untuk insfrastuktur dan insentif guru madrasah. “Dan tahun ini (2020) realisasinya,” kata Ade.

Sementara itu Ikatan Alumni Madrasah Bogor  Lokomotif Aksi Bela Madrasah Jilid II Asep Kurnia mengatakan,  carut marut rencana pengelolaan dana hibah tahun anggaran 2020 untuk madrasah menuai banyak kritikan dari kalangan pemerhati pendidikan, tokoh pendidikan Islam, dan aktivis Bogor masih bergulir. Bahkan ada upaya konsolidasi lebih masif dengan ada gelaran aksi bela madrasah jilid II.

“Gerakan ini murni kesadaran para penggiat madrasah, guru madrasah, dan alumni madrasah yang masih banyak ketimpangan di madrasah baik dari kesejahteraan guru yang belum sertifikasi, maupun infrastruktur madrasah yang notabenenya belum representatif menunjang karsa Bogor cerdas yang menjadi misi dari Bogor  Pancakarsa,” kata Asep Kurnia yang juga korlap aksi bela madrasah jilid.

Selain itu ketika ditanyakan tentang gerakan ini sebagai gerakan sakit hati pribadi,  ia menegaskan, bahwa  gerakan ini bukan gerakan kelompok organisasi atau lembaga Islam yang sentimen karena persoalan pribadi yang  hari ini menjadi stigma publik Kabupaten Bogor. “Gerakan ini murni dari keprihatinan situasi madradsah dan hal ini sudah disampaikan dengan undangan seruan aksi bela madrasah  ke semua rekan-rekan guru madrasah, alumni madrasah namun belum ada kesadaran yang masif dari rekan-rekan itu, tapi saya tegaskan gerakan ini bukan berbicara kuantitas tetapi kualitas tuntutan,” kata Asep mengakhiri.

Cepi Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here