Anak di Kota Bogor Masih Stunting

0
Ilustrasi

Bogor, Jurnal Inspirasi

Jumlah anak penderita stunting di Kota Bogor, rupanya masih tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan tercatat pada tahun 2019 ada sekitar 3.757 anak yang menderita stunting. Kepada wartawan, Kepala Seksi Pembinaan dan Pelayanan Gizi Dinkes Kota Bogor, Ida Djubaed mengatakan, stunting berbeda dengan penderita gizi buruk. Sebab, penyalit tersebut merupakan kurangnya asupan makanan yang bergizi yang berlangsung lama atau berkepanjangan.

“Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi,” ujarnya, belum lama ini.

Menurut dia, dari 3.757 penderita, paling banyak di wilayah Kelurahan Barangnangsiang 170 anak, Cikaret 161, Empang 146, Pasir Kuda 132 dan Bondongan 113 anak. “Sisanya menyebar di beberapa wilayah seperti Kelurahan Sukaresmi 94 anak, Tanah Sareal 84, Muarasari 75, Babakan Pasar 53 dan Panaragan 31 anak,” paparnya.

Sementara untuk penderita gizi buruk pada 2019, terdapat 54 anak. Sedangkan di 2018 ada sekitar 58 anak. Kendsti setiap tahunnya menurun namun penderitaan gizi buruk maupun stunting tetap menjadi fokus Dinkes untuk ditekan.

“Tiap tahun menurun karena rata rata penyebaran gizi buruk terhadap balita ini antara satu sampai dua anak pada berbagai wilayah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, gizi buruk terjadi lantaran beberapa faktor. Di antaranya pola makan, lingkungan dan perilaku dari orangtua. Selain itu,  Bahkan, faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi.

“Derajat kesehatan itu ditentukan oleh empat faktor diantaranya faktor keturunan sebesar lima persen. Faktor pelayanan kesehatan 20 persen dan terakhir faktor lingkungan dan perilaku sebesar 75 persen. Perilaku dan lingkungan ini sangat besar pengaruhnya dalam derajat kesehatan. Contohnya, apabila faktor perilakunya jelek seperti tidak mau menyusui atau merokok ditambah lingkungan tidak mendukung, akhirnya terjadi gizi buruk,” tutur Ida.

Ia menambahkan bahwa gizi buruk terjadi tidak hanya di kalangan masyaraka ekonomi rendah. Sebab, pola asuh, hidup dan makanan adalah penyebab utama.

“Rentan sekali anak yang memiliki ekonomi tinggi pola asuhnya tidak oleh orang tua, melainkan mengandalkan pembantu sehingga tidak mendapat perhatian khusus dari orang tuanya. Selain itu, Kota Bogor merupakan kota pertama yang menerapkan program Sekolah Ibu dengan tujuan supaya menjadi ibu asuh yang sehat buat anak dan suaminya,” ungkapnya.

Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here