Kementan dan DPR RI Dorong Petani Keluar dari Cara Bertani Konvensional

0
50

Majalengka | Jurnal Inspirasi

Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan produktivitas serta kualitas hasil pertanian,  Kementerian Pertanian (Kementan) dan Komisi IV DPR RI terus berupaya mendorong petani keluar dari cara bertani konvensional.  Cara ini memicu biaya produksi menjadi lebih mahal dan berakibat kelebihan yang diperoleh petanipun menjadi kecil. Tak hanya itu kualitas dan produktivitaspun menurun karena kondisi tanah berkurang kesuburannya.

Hal ini menjadi bahasan Anggota Komisi IV dan Badan Musyawarah DPR RI Sutrisno dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Petani Penyuluh Kementerian Pertanian Aspirasi Komisi IV DPR RI, Angkatan III dan IV di Majalengka, Minggu (21/02/2021).

“Kondisi ini membuat produk Indonesia sulit bersaing dengan produk luar. Kenapa mahal? Karena petani masih menerapkan cara – cara konvensional dalam berusaha tani,“ ujarnya.

Didampingi Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor, Yusral Tahir, Sutrisno mencontohkan penanganan panen yang masih manual, sehingga menelan  beban tenaga kerja. Ada pula petani yang masih menggunakan ilmu Katon.

“Upah buruh tani terus mengalami kenaikan, ada juga yang pake ilmu katon menyebabkan pemupukan terlambat, sehingga berpengaruh pada produksi, “ bebernya dihadapan 200 Petani dan Penyuluh   peserta bimtek Kabupaten Majalengka.

Untuk bisa bersaing di pasar dalam dan luar negeri, petani hendaknya memperhatikan variabel – variabel yang mempengaruhi produktivitas, yakni bibit berkualitas, menjalankan teknologi dan  mekanisasi pertanian. Selain itu pemupukan yang benar dan pengendalian hama.

“Variabel yang mempengaruhi produktivitas itu  pertama adalah bibit harus berkualitas, teknologi harus dijalankan, pengolahan tidak bisa lagi dengan manual harus dengan mekanisasi, pemupukan harus benar, penanganan hama harus juga dijalankan dengan benar,“ sebutnya.

Untuk bibit saat ini Komisi IV DPR RI bersama Kementan tengah memperjuangkan agar ada pengembangan penangkaran bibit didaerah – daerah agar bisa cepat dengan harga yang murah.  Guna mengembalikan kesuburan tanah yang saat ini dinilai sudah jenuh dan asam juga untuk mendorong produktivitas maka tahun 2021 dikeluarkan juga kebijakan penggunaan pupuk organik oleh petani.  Sementara untuk menghemat biaya produksi, petani diminta memanfaatkan bantuan fasilitas alsintan yang bisa menghemat tenaga kerja serta mempercepat proses produksi.

“Kami di komisi IV sepakat, kondisi tanah sudah jenuh akibat setiap tahun dihantam an organik. Dulu lahan sawah itu lumpurnya bisa sampai sedengkul, sekarang paling diatas mata kaki, karena tanah mengeras, “ ujarnya.

Sementara itu Kepala PPMKP Yusral Tahir berharap setelah mengikuti bimtek produktivitas yang diusahakan petani meningkat hingga dua kali lipat dari sebelumnya. “Kita harus menjadi orang yang beruntung, hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Dalam pertanian itu dicapai dengan produksi yang terus meningkat,“ ujarnya.

Kementerian Pertanian di era Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus berupaya meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia. Disamping pemberian bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, Mentan terus mendorong para petani menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster.

“Fakta kontribusi positif pertanian terhadap produk domestik brutto (PDB) menunjukkan sektor pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan. Memberikan solusi. Karena semua orang butuh makan. Syaratnya adalah kita harus mau berkeringat, serius dan fokus,” tegas Syahrul.

Untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di manca negara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan  terus mendorong kreativitas generasi muda dalam meningkatkan produksi yang layak ekspor. Cara ini dapat meningkatkan jumlah eksportir terutama dikalangan generasi milenial.

“Upaya strategis peningkatan dan percepatan ekspor komoditas pertanian menjadi modal bagi bangsa Indonesia,” kata Dedi.

** Regi/PPMKP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here