Sediakan Kebutuhan Air, PT SEG dan Perumda Tirta Pakuan Tandatangani Kerjasama

0

Bogor | Jurnal Bogor

PT. Sejahtera Eka Graha (SEG) selaku pengembang kawasan Bogor Heritage Ecopark melaksanakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Selasa (15 Desember 2020).

MoU yang dilakukan di Bogor Raya Sport Club antara PT SEG dan Perumda Tirta Pakuan terkait kebutuhan dan penyediaan air bersih di kawasan yang akan dibangun menjadi icon baru di Kota Bogor

“Jadi dalam MoU ini, Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor akan melakukan pengelolaan air danau (air baku) menjadi air minum. Dan kami, PT SEG selaku pengembangan kawasan Bogor Heritage Ecopark, berkomitmen untuk mengembalikan fungsi Danau Bogor Raya tersebut sebagai sumber air minum, pengendali banjir dan wisata air,” kata Direktur Operasional PT. SEG, Wahyu Kurniawan.

Dalam rangkaian yang sama disepakati pula perjanjian Kerjasama antara PT. Bimayasa Parwata Gemilang dengan Marriott Internasional Hotel yang telah membeli sebidang lahan tanah untuk investasi pembangunan hotel bintang lima taraf nasional yakni Bogor Heritage Ecopark.

“Kami menunjuk Marriott Internasional sebagai pengelola hotel bintang lima yang akan kami bangun di kawasan Bogor Heritage Ecopark. Ini perusahaan hotel yang bermarkas di Amerika Serikat yang sudah dikenal sejak lama. Design hotelnya nanti akan di design oleh arsitektur dari Singapura. Di sini juga nanti akan ada helipad VVIP yang bisa digunakan oleh tamu penting atau tamu kenegaraan nantinya,” kata Ayu, Owner PT. Bimayasa Parwata Gemilang.

“Sejalan dengan kawasan Bogor Heritage Ecopark, di sini juga nantinya akan menjadi Pusat pemerintahan Kota Bogor yang baru,” timpal Ivan Widarmana selaku Vice President Hotel Development Asia Pasific Marriott Internasional.

Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan, mengatakan, pihaknya sudah menghitung untuk pengelolaan air bersih di danau Bogor Raya dengan potensi air baku 400 liter per detik.

“Ini peluang bagi Perumda Tirta Pakuan dan peluang bagi masyarakat Kota Bogor. Saya pikir ini pasti bermanfaat besar di kawasan yang luasnya mencapai 90 hektar,” ujar Rino Indira.

Dari taksiran atau hitungan kasar, dijelaskan dia, anggaran yang dibutuhkan dengan kapasitas produksi air 400 liter per detik sekitar Rp40 miliar. Namun jumlah itu belum termasuk pembangunan reservoar dan jaringan distribusi baru.

“Melihat pengalaman di SPAM Katulampa mencapai Rp 80 miliar dengan kapasitas produksi air 300 liter per detik. Di sini kurang lebih hampir sama SPAM juga. Tapi tetap harus kita hitung betul secara detail,” paparnya.

Rino Indira mengaku memiliki target untuk pembangunan dimana akan menyesuaikan dengan target pembangunan dari PT SEG. SPAM ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di zona baru, yaitu kawasan Bogor Raya.

“Yang pasti kami harus lebih cepat menyediakan air sebelum pembangunan infrastruktur dari PT SEG selesai,” terang Rino Indira.

Sementara itu, Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan, kawasan Danau Bogor Raya memang merupakan lahan tidur yang selama ini tidak produktif (mati suri). Oleh karenanya, lanjut Dedie,  setelah melalui proses panjang mulai dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) kemudian direstrukturisasi oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) akhirnya kawasan tersebut kembali akan menjadi lahan produktif.

“Setelah proses dilalui lahan ini akhirnya dibagi dua. Pertama, lahan atau aset kredit, kedua lahan atau aset persediaan negara. Nah, untuk lahan PT SEG ini 90 persen kepemilikannya adalah milik Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Jadi, lahan tidur yang tidak produktif ini oleh PT SEG akan dimanfaatkan menjadi lahan produktif,” kata Dedie.

Rencana PT SEG yang bekerjasama dengan PT Bimayasa Parwata Gemilang juga Marriott Internasional untuk pembangunan Bogor Heritage Ecopark, kata Dedie, pemerintah daerah harus mensupport upaya dari Kementrian Keuangan yang sudah membuat lahan mati suri ini kembali menjadi lahan produktif.

“Maka tidak ada halangan untuk pemerintah daerah untuk memberikan apapun kebutuhan dari Kementrian Keuangan khususnya yang direpresentasikan oleh PT SEG,
karena ini urusannya negara sama negara yang memanfaatkan lahan tidur, lahan yang tidak produktif, lahan yang mati suri dioptimalkan kembali menjadi lahan produktif,” tuturnya.

“Dikawasan ini juga, Kota Bogor akan mendapatkan sekitar 6 hektar yang nantinya akan dimanfaatkan untuk komplek perkantoran Kota Bogor.  Permintaan ini sudah diminta pemerintah daerah kepada pemerintah pusat yakni Kementrian Keuangan DJKN,” tambahnya.

Handy Mehonk | Rilis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here