31.5 C
Bogor
Saturday, April 11, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 234

Ambil Pelajaran dari Bencana Alam yang Pernah Terjadi

0

JURNAL Inspirasi – Bismillahir Rahmanir Rahiem. Begitu banyak peristiwa bencana alam yang pernah terjadi di negeri ini, dan baik untuk ditarik pelajaran (lesson learn) diantaranya tanah longsor di daerah perbukitan di Kawasan Puncak Bogor dan Cianjur, sekitar 2 thn lalu (2021).

Bencana tanah longsor telah menghancurkan dan meluluhlantahkan perkampungan penduduk di daerah itu, sehingga memakan banyak korban harta dan bahkan nyawa pun melayang.

Banyak yang komentar atas peristiwa yang memilukan itu, diantaranya fenomena sosial yang menyesengsarakan penduduk tersebut, maaf azab bagi penduduk setempat. Itu dimaknai adanya teguran dan turunnya berupa “azab” dari Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Pemilik Alam jagat raya ini.

Sebab di lokasi desa terjadi bencana alam tanah longsor, yang telah menghancurkan beberapa kampung yang dihuni penduduk sudah lama berkembang kemaksiatan. Diantaranya

ada program pemurtadan penduduk muslim, dan perlu kita pikirkan, apa yang seharusnya kita harus lakukan? Hal ini menarik untuk kita perbincangkan atau diskusikan guna menemukan solusi dan program aksinya seperti apa !.

Membaca informasi dari beberapa postingan di media sosial tentang “permurtadan” di desa-desa miskin di daerah perbukitan Cianjur, dan  saat ini terkena musibah (azab) gempa bumi, dan tanah longsor, sangat menarik dijadikan objek kajian untuk mencarikan berbagai solusinya. Termasuk merajalela gejala sosial perbuatan sosial kawin kontrak, prostitusi/zina, dan sodomi/LGBT, selain  permurtadan.

Sebaiknya, pimpinan ICMI Orwilsus Bogor menginisiasi penyusunan konsep rencana program aksi, menawarkan sejumlah kegiatan sosial, bagaimana solusi untuk penanggulangan krisis sosial, krisis lingkungan (degradasi ekosistem alam perbukitan) dan terlebih bagaimana strategi dan taktik (strarak) pencegahan program Kristenisasi Ummat Islam Indonesia ditinjau atau dianalisis dalam berbagai perspektif.

Saran saya, hasil rumusan diskusi atau seminar tentang pemulihan dampak bencana alam Cianjur tersebut, selanjutnya disampaikan dan dibahas dalam forum Silaknas ICMI Awal  Desember 2024 di Surabaya.

Kita dari Orwilsus ICMI Bogor seharusnya mengajak ICMI Orsat Cianjur, yang dahulu menjadi bagian dari ICMI Orwilsus Bogor yang ditetapkan Ketua Umum MPP ICMI bpk Prof Dr.Ing BJ Habibie, tgl 31 Maret 1991.. Mereka Orsat ICMI Cianjur sebaiknya kembalilah ke pangkuan koordinasi ICMI Orwilsus Bogor, dan hijrah dari Orwil Jawa Barat.

Saya menilai tokoh masyarakat (tokmasy) dan cendekiawan muslim Indonesia, janganlah berperilaku pasif, permisif atau kurang peduli dengan berbagai pelanggaran yang dibuat oleh pemimpin agama lain di Indonesia.

Mereka melanggar  perizinan IMB, tata ruang, memanipulasi  dan diduga memalsukan tandatangan masyarakat muslim lokal, mengkooptasi aparat keamanan, dan melanggar Kepmen 2 Menteri ttg persyaratan pendirian rumah ibadah dan tata penyiaran agama, dll.

Tokmasy dan MUI, belakangan ini gesturnya pasif, permisif, alias diam saja (cicing wae).

Apalagi komentar-komentar yang bersifat  “nyeleneh” dan “apatis-sinis” serta permisif dari beberapa sahabat di WAG ini, seperti kristenisasi itu sejak zaman kolonial dulu sudah ada, mengapa itu dipersoalkan? etc. Demikian itu jawaban atau komentar yang permisif dan tak peduli (careless).

Apalagi, hal yang demikian itu sudah pernah disuarakan penolakannya realokasi IMB-nya, etc.

Fakta dan data pelanggaran penempatan bangunan dan peruntukan (fungsi) bangunan beserta sarana-prasarananya sudah sangat jelas banyak pelanggaran, dimana tidak sesuai dengan dokumen perizinanannya yang dikeluarkan resmi Dinas Pemerintahan (PUPR) setempat.

Jika perlu lakukan lagi observasi di lapangan, disertai informasi media sosial, untuk mengetahui soal permurtadan dan rusaknya ekosistem alam, sudah semakin jelas adanya. Akibat dan dampak dari semua penyimpangan tata guna lahan tersebut, akhirmya rakyat lokal (local community) menjadi miskin akibat kelangkaan sumberdaya alam, yaitu kekurangan air akibat degradasi ekosistem alam pegunungan, sehingga lahan padi-sawah, ladang dan perkebunannya menjadi lahan kritis dan kekeringan (lahan tandus).

Dampak negatifnya, hilang dan rusaknya lingkungan alam (natural ecosystem demage) karena adanya alih fungsi lahan, hutan lindung berubah kawasan pemukiman dan wisata budaya kuliner, maka masyarakat muslim menjadi miskin, sehingga menjadi mangsa kristenisasi, dimurtadkan di kawasan perdesaan, terutama daerah bertopografi perbukitan seperti di daerah Cianjur Jawa Barat.

Hal ini masuk diakal bahwa kata bunyi hadist  nabi Muhammad SAW …”kemiskinan itu akan mendatangkan kekufuran”, pindah keyakinan agama, aqidah DinnulIslam,.menjadi murtad. Istilah lainnya bahwa  kasus murtad itu bisa dimaknai atau dianologikan pada penyelenggaraan Pemilu Pilpres RI thn 2024 bahwa Rakyat awam di desa-desa dan kelurahan areal kumuh (slum area) di kota-kota terkena “politik sembako” guna merebut suara rakyat, karena adanya perbuatan curang yang TSM tsb dalam berbagai modus. Nauzubillahi minzaliq

Teman-teman ICMI memiliki imtaq (hati yang merasakan, qalbunsalim) dan iptek (otak utk berpikir), Hayoo ICMI  peduli dan sdh saatnya kita proaktif, bersuara, bergerak untuk mereduksi terlalu banyaknya permasalahan ummat yang diskenariokan pihak lain yang memarjinalkan umat, sehingga merugikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan barang tentu itu sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Syukron barakallah.
Save umat, save NKRI.
Wassalam

=====✅✅✅

Dr. Ir.H.Apendi Arsyad, M.Si (Pendiri ICMI thn 1990 di Malang dan Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bgr merangkap Wasek Wankar MPP ICMI, Pendiri Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor thn 1986, Dosen UNIDA selama 37 thn, 1987-2024, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat serta Kritikus Sosial melalui tulisan di media sosial)

Sempat Dicopot OTK, Warga BGH Kembali Memasang Spanduk Penyerahan PSU dari Sentul City ke Pemkab Bogor

0

Bogor, Jurnal inspirasi – Ketua Rukun Warga (RW) 08 bersama Ketua Rukun Tetangga (RT) dan warga penghuni Perumahan Sentul City, klaster Bukit Golf Hijau (BGH), Desa Cijayanti, Babakan Madang secara simbolis melakukan pemasangan spanduk yang memuat informasi telah diserahterimakannya sebagian Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) di Kawasan Perumahan Sentul City.
Spanduk tersebut dipasang pada 4 titik, yakni di wilayah setelah pintu masuk gerbang BGH, pintu masuk gerbang Mediterania 1, pintu masuk gerbang Mediterania 2 dan pintu masuk gerbang Mediterania Golf Hill.
Sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus 2024, Agung Hermawan selaku Ketua RW 08 menyatakan bahwa salah satu hadiah kemerdekaan bagi warga Sentul City yakni sudah diserah terimakan sebagian PSU dari PT Sentul City kepada Pemkab Bogor.
Pernyataan tersebut disampaikan pada saat memimpin upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-79 di wilayah RW 08 Desa Cijayanti.
Agung Hermawan menyampaikan bahwa serah-terima PSU khususnya di wilayah RW 08 yang dia pimpin sudah dilaksanakan sejak bulan Desember 2018.
Hal tersebut semakin dikuatkan setelah adanya undangan dari Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor pada tanggal 15 Mei 2024.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh para Ketua RT pada RW 08, perwakilan Desa Cijayanti, perwakilan Camat Babakan Madang, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Kepala Bidang PSU Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP),ditegaskan bahwa PSU di klaster BGH telah diserah terimakan.
Agung Hermawan dan para pengurus RT/RW di wilayahnya selama ini mengeluhkan tidak dapat menjalankan fungsi RT/RW berupa pemeliharaan keamanan, ketertiban dan kerukunan hidup (K3) antar warga sebagaimana diatur dalam Perda Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2011 tentang Lembaga Kemasyarakatan di Desa dan Kelurahan.
Hal ini karena ketidak jelasan penyerahan PSU, meskipun telah ada Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung Nomor: 51/G/TF/2022/PTUN. Bdg., tertanggal 15 November 2022 (Putusan PSU).
“Selama ini RT/RW belum Merdeka untuk mengelola K3 seperti di lapangan RT/RW mengalami sengketa kewilayahan, terkendala dan sulit untuk memanfaatkan PSU yang ada,” kata Agung Hermawan.
Agung Hermawan menuturkan Pihak pengembang masih merasa wilayah RT/RW beserta PSU yang ada di dalamnya merupakan asetnya, meskipun telah diserahkan berdasarkan Berita Acara Serah Terima (BAST) Fisik Nomor 648/4542-PSU-DPKPP/2018, tanggal 3 Desember 2018.
“Namun serah terima tersebut tidak disosialisasikan kepada Masyarakat dengan baik. Ada dugaan bahwa terdapat pihak tertentu yang berupaya menutupi informasi penyerahan PSU kepada Masyarakat. Bahkan spanduk yang pernah dipasang dan berisi informasi penyerahan PSU pada tahun 2018 maupun 17 Agustus 2024 lalu dicopot atau dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab atau orang tak dikenal (OTK),” tuturnya.
Ia mengatakan dengan adanya kejelasan serah terima PSU di klaster BGH, Agung Hermawan meminta Pemkab Bogor mengelola PSU yang telah diserah terimakan, serta memfasilitasi RT/RW dalam memanfaatkan PSU yang ada kaitannya dengan pengelolaan K3 sesuai perundang-undangan yang berlaku.
“Kami, para Ketua RT di wilayah RW 08 Desa Cijayanti berharap bisa segera menjalankan fungsi K3 secara merdeka. Warga RW 08 Desa Cijayanti mendukung program pemerintah berupa pengelolaan K3 melalui RT/RW, dengan membayar iuran dan para Ketua RT/RW di seluruh Kawasan Sentul City mendorong percepatan penyerahan PSU di wilayahnya masing-masing agar dapat menjalankan fungsinya,” katanya. Aga

Lewat BOC, Kementan Berbagi Tips Berkebun Melon

0

JURNAL Inspirasi – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah sukses menggelar kegiatan Bertani on Cloud (BOC) Volume 272, Kamis (22/08/2024).

Hal ini merupakan bagian dari komitmen Kementan untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian serta mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan dan inovasi dalam sektor pertanian.

Langkah ini sejalan dengan tekad Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk mencapai swasembada pangan dan memastikan bahwa setiap inisiatif praktis berperan penting dalam memperkuat kemandirian pangan nasional.

Menggandeng narasumber Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Artansi Chandra Kahuripan dari Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, BOC Volume 272 mengangkat tema “Tips dan Trik Petani Handal dalam Budidaya Melon”.

Kegiatan dilaksanakan Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) secara daring di Ciawi Bogor.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti mengungkapkan, Bertani on Cloud (BOC) bertujuan untuk menambah wawasan dan memberikan motivasi kepada insan pertanian agar dapat meraih keuntungan maksimal.

“Budidaya melon yang kami bahas menawarkan peluang pasar yang signifikan dengan harga jual yang tinggi. Inisiatif ini tidak hanya bermanfaat bagi petani, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati melon berkualitas hasil dari inovasi dalam sektor pertanian”, ujar Santi.

Sektor pertanian memainkan peran krusial dalam perekonomian Indonesia dan di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor ini tetap menjadi pilar penting. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, terutama dalam budidaya tanaman buah seperti melon, menawarkan peluang pengembangan yang sangat menguntungkan.

Tri Bowo Pangestika, Ketua P4S berbagi pengetahuan mendalam mengenai teknik budidaya melon hidroponik dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT). Peserta mendapatkan wawasan berharga tentang berbagai strategi efektif dan tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola usaha pertanian modern, terutama dalam budidaya melon.

Program BOC juga bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, termasuk keterbatasan modal, akses pasar, dan teknologi. Dengan memfokuskan pada pemilihan komoditas yang tepat dan inovasi dalam budidaya, seperti melon hidroponik yang dikembangkan oleh P4S Artansi Chandra Kahuripan, diharapkan dapat mendorong lebih banyak generasi muda untuk terlibat dalam usaha pertanian yang berkelanjutan.

Sukim Supandi selaku Kepala BBPMKP menyapa peserta dqn mengungkapkan harapannya pada kegiatan BOC Volume 272 tersebut.

“Kami berharap, materi yang disampaikan dalam acara ini dapat memperkuat komitmen kami untuk menjaga ketahanan pangan nasional serta memacu semangat generasi muda untuk berpartisipasi dalam sektor pertanian,” ujar Sukim.

Acara yang disiarkan secara daring ini berhasil menjangkau peserta dari berbagai daerah dan menarik perhatian lebih dari 500 peserta melalui aplikasi Zoom Meeting dan Youtube Streaming.

Informasi yang dibagikan selama sesi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas petani dan memacu semangat mereka untuk mengembangkan usaha pertanian. Dengan demikian, diharapkan akan muncul lebih banyak inovator di bidang pertanian yang dapat mendorong kemajuan dan ketahanan pangan nasional.

(yev/bbpmkp-rls)

Autokritik Terhadap Peranan ICMI

0

JURNAL Inspirasi – Menarik membaca pesan-pesan dan berita-beserta aktivitas ICMI Pusat, di WAG Wankar ICMI. Dari sekian berita aktivitas MPP ICMI, yang mendapat perhatian adalah adanya kegiatan silaturrahmi Ketum ICMI dan jajarannya dengan Pimpinan Partai Politik (Parpol) Umat. Wajar kiranya memunculkan diskusi, mempertanyakan apakah ICMI mau berpolitik? Mudah-mudahan saya tak keliru menyimak berbagai pesan, yang bersahut-sahutan tersebut.

Saya terpanggil juga untuk berbagi (sharing) gagasan dan pendapat, mana tahu ada manfaatnya untuk menyamakan cara pandang antarsesama kita, atau persepsi internal kolektif aktivis MPP ICMI periode tahun 2022-2027.

Mohon izin saya bernarasi untuk meluruskan, ada kata-kata atau istilah ICMI agar masuk ke wilayah “politik praktis”. Kita harus open-mind, dan AD/ART bukan aturan yang kaku, “…seharusnya menyesuaikan situasi kekinian”.

Begini komentar saya. Dalam memahami gejala sosial, adanya “audiensi” pimpinan Parpol Umat ke MPP ICMI, atau sebaliknya. Agar kita tidak salah jalan dan tidak tersesat. Maka kembalilah kita ke Khittah ICMI thn 1990.!!!

Bedakan peran dan fungsi politik praktis sebagai intrumen untuk meraih jabatan dan kedudukan publik, dengan versus (vs) peran dan fungsi ICMI pada tataran politik tingkat tinggi (high politic), yang mewarnai dan berkontribusi dalam kebijakan publik (public policy).

Baca lagi bro Jas AD dan ART ICMI thn 2021, bahwa ICMI tetap concent and focused ke public policy.

Dalam AD ICMI pasal 7 (Kegiatan ICMI) ayat 2 disebutkan, ICMI “mengembangkan pemikiran, menyelenggarakan penelitian dan pengkajian yang inovatif, strategis, dan antisipatif dalam rangka mempengaruhi kebijakan publik (public policy) serta berupaya merumuskan dan memecahkan berbagai masalah strategis lokal, regional, nasional dan global…”. Demikian bunyi pasal Kegiatan ICMI yang tersurat dalam AD ICMI.

Seandainya, ada diantara personal pengurus dan warga ICMI ingin berpolitik praktis, dipersilakan masuk ke Parpol yang ada sesuai seleranya. Janganlah membawa atribut dan bendera ICMI jika berkiprah Parpol tersebut. ICMI tidak beraffiliasi ke Parpol mana pun di negeri ini.

Pilihan yang bijak sesuai amanah konstitusi ICMI, AD dan ART kita harus dekat dengan semua Parpol tapi dengan jarak yang sama, tidak ada “anak emas dan anak tiri”, perlakukan mereka sebagai mitra yang sama dalam membangun umat, bangsa dan negara.

Dengan indefedensi keislaman, kecendekiawan dan keindonesiaan, insya Allah ketiga watak ICMI tersebut, kita bisa berkontribusi positif dan mewarnai secara proaktif public policy NKRI ini, bukan fasif “wait and see” sebagaimana kita lihat gesture MPP ICMI, fenomena 10 tahun terakhir hingga saat ini.

Barang tentu, kita sangat berharap, jangan terlalu lama MPP ICMI berperan sebagai pengamat, dan kita sudah waktunya menjadi pemain dalam merumuskan dan mengkoreksi public policy,  yang tampaknya semakin keluar dari sistem nilai dan norma Pancasila, apalagi Dinnul Islam, sudah banyak terdistorsi melayani kaum oligarky dan sekuler serta kontradiksi atau semakin menjauh dari akidah, syariah dan moral agama, etika dan akhlaq mulia sebagaimana firman Allah dalam Al Quranulkarim.

Sebut saja misalnya, yang dilewatkan tanpa “ICMI Voice” terbitnya RUU HIP yang melenceng dari Sila Ketuhanan Maha Esa, agak berbau komunisme yang didemo dengan maraknya oleh Ormas Islam; UU Cipta Kerja alias “Cilaka” menyediakan karpet merah bagi pemilik modal dan keset alas kaki bagi kaum buruh yang hingga didemo para buruh; UU Minerba yang kental pro-oligarky (kapitalist) yang mengabaikan BUMN dan Badan Usaha Koperasi; UU KPK untuk “pemanjaan” kalangan koruptor yang menjarah harta negara; UU kekerasan rumah tangga “keluarga” yang membuka ruang hidup bagi kaum Sodom/LGBT, dan terakhir UU tentang Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang paradoks, ilusi dan halusinasi, etc etc.

MPP ICMI sibuk berwacana saja, “no action talk only (Nato)”. ICMI belum menunjukan gesture sebagai kelompok penekan (pressure group), kritis, dan akhirnya tidak diperhitungkan oleh the ruling party pada beberapa dasa warsa terakhir. Ummat Islam Indonesia kehilangan rumah besar tempat berlindung. Terpaan proses penetapan kebijakan publik yang dirumuskan tanpa menghiraukan aspirasi umat terus berjalan, keluar (bias) dari budaya demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Demikian kuatnya hegemoni koalisi kekuatan politik di dalam forum parlemen pada era rezim Jokowi-Ma’ruf, dan bahkan isunya, disinyalir proses pengambilan keputusan publiknya, ditunggangi kepentingan para pemilik modal besar (oligarky) yang berhasil masuk dan akses ke lingkaran kekuasaan (the ruling party).

Saya pun tidak tahu mengapa demikian, “ICMI Voice” di publik tidak muncul dalam merespons, mengkritisi semua public policy itu?. Apakah para ilmuwan yang cerdas dan berpikir independen, kaum terdidik dan terpelajar, ikhlas (no think to lose) tanpa tergoda tahta dan harta, apakah telah semakin berkurang? atau sudah menghilang?, nihil sama sekali di jajaran person MPP ICMI di masa lalu dan atau sekarang? Dan kini lebih banyak atau didominasi mereka berwajah-berwatak pebisnis dan atau politisi yang diekspor Parpol untuk masuk ke habitat ICMI?.

Kita semua paham, watak pebisnis atau politisi itu, mereka berkecenderungan melihat sesuatu atau momen berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok afiliasinya, ofortunis, apa ini menguntungkan atau sebaliknya, jelas tampak lebih pragmatis dan transaksional. Hal ini tentunya sangat berbeda jauh dengan watak (karakter, tabiat) kaum intelektual (cendekiawan) apalagi menggunakan status dan predikat muslim. 

Mereka Cendikiawan Muslim (ulil albab) itu harus peduli akan nasib umat, terus berpikir, jelas dan tegas dalam bersikap dan berbuat atas landasan kebenaran sains (ipteks) dan keyakinan beragamanya, Dinnul Islam. Pola pikir ipteksnya dan imtaqnya berjalan seiring secara terintegrasi, tidak menjadi sosok pribadi yang terpecah/ split personality (ambigu, mendua dan munafik). Semoga perilaku buruk dan jahat yang menyimpang tersebut tidak ada, terhindar dari wadah ICMI. Wallahu ‘alam bissawab.

Hal ini akibat ICMI fasif bahkan alfa, absennya ICMI dalam public hearing di arena persidangan DPR RI, dan tidak mendekat memberikan masukan kepada Presiden RI untuk hal-hal strategis dan urgent.

Akibatnya marwah (dignity) ICMI, terasa agak menurun dan melemah belakangan ini. Inilah tugas kita saat ini, untuk melakukan penguatan kembali (revitalisasi) peran dan fungsi ICMI secara organisatoris dan kelembagaan dalam rangkaian kegiatan untuk berkontribusi cerdas membuat public policy yg sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasul Muhammad SAW. Kita buat gerak gerik (gesture) Pemerintah (umaro) sejalan dan senapas dengan kaum ulama dan watak cendekiawan muslim Indonesia.

Mengapa seharusnya demikian? Sebab Cendekiawan Muslim itu adalah perpanjangan tangan dari visi dan misi dari para Ulama.

Harap dibaca lagi AD dan ART ICMI produk Muktamar ke-7 di Bandung Desember 2021, dengan cermat, yang baik dan benar pasal demi pasal, dan Bab demi Bab. Sehingga kita tidak salah melangkah dalam mengarungi lautan samudera berbagai kepentingan politik di tanah air kita saat ini, yang begitu komplek dengan wujudnya multiparpol, berwarna-warni, berpotensi membuat kegaduhan.

Hal ini perlu kita sadari dan saling mengingatkan antar sesama fungsionaris, bahwa ICMI habitatnya para ilmuan, ulama, pekerja sosial, kaum profesional bahkan ada orang-orang yang masih aktif di Parpol (anggota DPR RI dan Ketua Umum Parpol), berafiliasi politik yang juga beragam (pluralistik).

Apabila kita salah membawa jati diri dan sikap ICMI secara ekslusif, bukan inklusi sosial, maka potensial akan terjadi perpecahan di ICMI. Jika demikian yang terjadi, sayang aset wadah perjuangan kaum intlektual dan abdi umat bisa-bisa hilang di bumi Nusantara.  

Jadi kita memang harus lebih bijak dan lebih berhati-hati membicarakan untuk masuk ke arena politik praktis yang sebenarnya. ICMI harus berjarak yang sama dengan semua  Parpol yang ada, dan proaktif memberikan pemikiran-pemikiran cerdasnya yang berbasis imtaq dan iptek yang terpadu kepada mereka. ICMI jangan masuk ke politik murahan (low politic) untuk mencari kursi dan materi harta, tetapi masuklah ke arena “high politic” yang menentukan arah kebijakan, strategi dan pendekatan pembangunan beserta sejumlah program aksi yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Demikian, itulah khittah dan jati diri Pengabdian ICMI yang sebenarnya, yang wajib kita pahami dan laksanakan secara bersama-sama (kejemaahan).

Demikian narasi singkat untuk sumbang-saran dalam wacana pro-kontra peran ICMI dalam dunia politik. Mohon maaf juga, ada “auto-kritik” yang saya sampaikan dalam tulisan ini dengan niat yang tulus agar ICMI tetap bermanfaat untuk membela dan melindungi kepentingan ummat Islam dan bangsa agar terus berjaya. Jayalah ICMI kita, begitu bunyi salah satu bait dalam Hymne ICMI.

Syukron barakallah
Wabillahit taufik walhidayah wr wb
Wassalam

====✓✓✓
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad,M.Si (Wasek Wankar MPP ICMI, Ketua Wanhat ICMI Orwilsus Bogor, dan salah seorang Pendiri ICMI di Malang 1990, serta Dosen-Pendiri Universitas Djuanda Bogor)

Luncurkan Desa Kreatif, Pj. Bupati Bogor Tekankan Pentingnya Desa Kreatif untuk Kembangkan Potensi Lokal

0

Citeureup, jurnal inspirasi – Pj. Bupati Bogor, Asmawa Tosepu meluncurkan Desa Kreatif Kabupaten Bogor Tahun 2024. Acara berlangsung di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kamis (22/8/24). Asmawa Tosepu menegaskan diluncurkannya program Desa Kreatif adalah bagian dari upaya bersama untuk mengembangkan desa-desa yang ada di Kabupaten Bogor jadi desa kreatif dalam rangka mengembangkan desa potensial untuk kesejahteraan masyarakat.

Perlu diketahui, ada 14 desa dan 1 kelurahan kreatif di Kabupaten Bogor Tahun 2024 yang tersebar di 12 Kecamatan se-Kabupaten Bogor, diantaranya Desa Kiarasari Kecamatan Sukajaya dengan Kategori Desa Produktif, Desa Malasari Kecamatan Nanggung dengan Kategori Desa Inisiatif, Desa Pasir Mukti Kecamatan Citeureup dengan Kategori Desa Berkelanjutan, Desa Megamendung Kecamatan Megamendung dengan Kategori Desa Inovatif, Desa Tajurhalang Kecamatan Cijeruk dengan Kategori Desa Produktif.

Desa Benteng Kecamatan Ciampea dengan Kategori Desa Inovatif, Desa Pagelaran Kecamatan Ciomas dengan Kategori Desa Inovatif, Desa Cibunar Kecamatan Parungpanjang dengan Kategori Desa Inovatif, Desa Jagabita Kecamatan Parung Panjang dengan Kategori Desa Inovatif, Desa Gintung Cilejet Kecamatan Parung panjang dengan Kategori Desa Desa Produktif.

Desa Lumpang Kecamatan Parungpanjang dengan Kategori Desa Produktif, Desa Tenjo Kecamatan Tenjo dengan Kategori Desa Produktif, Desa Bojonggede Kecamatan Bojonggede dengan Kategori Desa Inisiatif, Desa Tanjungrasa Kecamatan Tanjungsari dengan Kategori Desa Inovatif dan Kelurahan Cisarua Kecamatan Cisarua dengan Kategori Desa Produktif.

Pj. Bupati Bogor, Asmawa Tosepu mengungkapkan, bahwa diluncurkannya program Desa Kreatif adalah bagian dari upaya bersama untuk mengembangkan desa-desa yang ada di Kabupaten Bogor jadi desa kreatif. Kreatif itu bisa mulai dari inisiatif, produktif, inovatif dan berkelanjutan.

“Harapan kita dengan launching ini, maka desa yang lainnya yang belum menjadi desa kreatif bisa menjadi pemicu dan pemacu semangat untuk menjadi yang terbaik. Desa kreatif ini dimaksudkan sebagai sebuah inovasi atas ide dan gagasan yang mengintegrasikan dan menggabungkan kreatifitas dan potensi lokal yang ada di desa,” ujar Pj. Bupati Bogor.

Lanjut Asmawa Tosepu menyatakan, apresiasi dan penghargaan kepada para Camat, Kades juga masyarakat yang telah kompak dalam menciptakan desanya menjadi desa kreatif. Mereka mampu menampilkan potensi lokal yang dimiliki digabungkan dengan kreatifitas itulah desa kreatif tentu tujuannya adalah dalam rangka mengembangkan desa potensial untuk kesejahteraan masyarakat.

“Tadi saya lihat kreatifitas dari masyarakat yang berasal dari bawah kemudian dipadukan dengan unsur lokalitas kearifan yang dimiliki sangat luar biasa, misalnya Desa Pasir Mukti terkenal dengan produk kaleng ditampilkan dengan kreatifitas, Desa Ciomas dengan produk sepatunya, kemudian Desa Tajurhalang, Bojonggede dan lainnya,” tegas Asmawa Tosepu

Ia meyakini bersama jika desa-desa ini berkembang sudah pasti UMKM nya akan berkembang, infrastrukturnya akan jadi perhatian pemerintah, potensi lokalnya bisa dikembangkan. Mudah-mudahan ini bagian dari semangat bersama untuk membangun Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten yang maju, berkelanjutan dan berkeadilan.

“Kami Pemda memberikan apresiasi dan penghargaan tadi saya lihat, bagaimana miniatur yang ditampilkan oleh para peserta kualitasnya tidak kalah dengan produk luar. Ke depannya mudah-mudahan dengan memunculkan desa kreatif maka desa-desa di Kabupaten Bogor ini semakin berkembang,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor Yudi Santosa menjelaskan, kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu media perwujudan komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor dalam mendukung percepatan pengembangan ekonomi kreatif, dilaksanakan untuk mendukung percepatan pengemmbangan desa kreatif dan ragam kawasan dan kluster kreatif berbasis potensi desa dan 17 sub sektor ekonomi kreatif.

“Kegiatan hari ini adalah puncak kegiatan rangkaian yang telah dilaksanakan mulai dari sosialisasi desa kreatif untuk 40 kecamatan, usulan desa kreatif 27 desa pada 19 kecamatan se-Kabupaten Bogor, pendataan dan monitoring desa kreatif oleh tim efektif desa kreatif, krusial 15 desa kreatif terpilih oleh tim efektif dan Keputusan Bupati tentang penetapan desa kreatif. Acara hari ini dikemas melalui event festival desa kreatif, tentunya kami sangat apresiasi dan penghargaan kepada kades dan masyarakat yang telah mensukseskan acara ini dengan sangat luar biasa,” beber Yudi Santosa.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Pasir Mukti, Kamaludin menyampaikan, terimakasih kepada Pj. Bupati Bogor, jajaran Pemkab Bogor, Disbudpar Kabupaten Bogor, Pemerintah Kecamatan Citeureup dan seluruh masyarakat khususnya Desa Pasir Mukti tidak menyangka acaranya bisa spektakuler, ramai dan sukses bahkan antusias masyarakat juga luar biasa.

“Desa Pasir Mukti adalah desa yang penuh dengan kecintaan, desa berbasis logam yang secara turun temurun bahkan sebagian besar masyarakatnya bergerak di bidang logam. Saya berharap ke depannya desa berbasis logam seperti agar Desa Tarikolot, Desa Gunungsari, Desa Sukahati yang berbasis logam dan desa lain mempunyai kreatifitas semakin maju, berkembang dan kreatif,” tandasnya.

Hadir pada kegiatan ini para Kepala Perangkat Daerah, para Camat, para Kepala Desa dan Pj. Ketua TP PKK Kabupaten Bogor. Aga

Kementan Dorong Korporasi Petani Lewat IMMACo

0

JURNAL Inspirasi – Kementerian Pertanian mendorong petani di Wilayah Kabupaten Indramayu-Jawa Barat untuk membangun korporasi yang mandiri dan professional melalui program  Indonesian Millenial for Modern Agriculture (IMMACo).

Dengan melibatkan Mahasiswa/Siswa/Alumni dan Milenial program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai pendamping, IMMACo mendorong para petani untuk memiliki kelembagaan di bidang usaha Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang lebih baik dan professional.

Hadirnya kelembagaan yang baik dan professional dengan proses bisnis yang jelas dan menguntungkan di bidang usaha Alsintan, tentunya akan mendorong peningkatan level mekanisasi pertanian. Hal ini juga akan berdampak pada peningkatan produktivitas padi dan kesejahteraan petani.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat Peringatan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)  Kemerdekaan Ke-79 Republik Indonesia baru-baru ini mengatakan Indonesia harus bangkit menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2029.

“Mari kita jadikan hari kemerdekaan ini sebagai momentum bagi sektor pertanian untuk bangkit menjadi lumbung pangan dunia,” sebut Menteri Amran.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti dalam kesempatan menghadiri rapat koordinasi progress IMMACo di BBPMKP, Rabu (21/08) mengatakan peran BPPSDMP sebagai pusat pengembangan SDM pertanian sangat signifikan dalam mendukung program IMMACo.

“Terkait dengan korporasi petani, kita akan melakukan pendampingan sehingga proses bisnis korporasi ini bisa dapat berkembang dengan cepat dan baik dan tentu saja memberikan manfaat bagi para petani dan anggotanya”, jelas Santi.

Lebih lanjut Santi mengatakan peran penting milenial dalam membangun korporasi.

“Milenial menjadi pengungkit korporasi yang akan kita bangun bersama, karena itu dibutuhkan pendampingan secara intensif dari para milenial untuk mendukung berkembangnya korporasi”, lanjut Santi.

IMMACo merupakan program inisiatif Kementerian Pertanian untuk memperluas lahan produktif padi dengan mengintegrasikan sub sektor terkait dalam rangka mewujudkan Swasembada dan Lumbung Pangan Dunia tahun 2029.

Staf Khusus Menteri bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian mengatakan, adanya IMMACo diharapkan proses produksi padi akan semakin efisien, petani semakin produktif, dan bargain position petani semakin tinggi.

“Kedepan IMMACo akan menggunakan pertanian modern, alat-alat modern berbasis IoT sehingga petani akan lebih mudah dan milenial akan lebih tertarik dengan pertanian”, jelas Sam.

Kepala Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP), Sukim Supandi, penanggungjawab program IMMACo Wilayah Kabupaten Indramayu mengatakan komitmennya untuk terus melakukan pengawalan pendampingan secara intensif dan aktif memonitoring perkembangan pembangunan korporasi.

Pendampingan kepada petani dilakukan melalui pengawalan pemanfaatan program dan bantuan pemerintah serta pelaporan aktifitas harian, mingguan dan bulanan.

Para pendamping nantinya akan tinggal di posko-posko wilayah pengembangan yang tersebar di lima Kecamatan di Kabupaten Indramayu selama dua atau tiga bulan kedepan untuk melakukan pendampingan secara intensif, agar para petani dapat leluasa melakukan konsultasi dan koordinasi terkait pengembangan korporasi.

(yev/bbpmkp-rls)

Warga Serbu Kecamatan Sukaraja Demi Program Gerah Aja

0

Sukaraja, Jurnalinspirasi – Pemerintah Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor menggelar Gerakan Beras Murah Sukaraja (Gerah Aja) untuk masyarakat kalangan menengah kebawah, Kamis (22/8).

Gerakan ini sudah ketiga kalinya pemerintah Kecamatan Sukaraja sebagai upaya meringankan masyarakat ditengah melonjaknya harga beras.

Ribuan masyarakat dari 13 desa di Kecamatan Sukaraja mengantre di halaman kantor kecamatan untuk menukarkan kupon beras murah yang telah dibagikan sebelumnya. Kupon tersebut dapat ditukar dengan beras lima kilogram seharga Rp50.000.

“Kecamatan Sukaraja menyediakan seribu kupon dengan lima ton beras berukuran lima kilogram untuk membantu masyarakat,” Kata Camat Sukaraja, Ria Marlisa, Kepada awak media.

Lanjut Ria, Program Gerah Aja ini yang ketiga kali dilaksanakan di Kecamatan Sukaraja, dan masyarakat sangat antusias dengan adanya program ini, terlebih harga beras yang sekarang di pasaran saat ini melambung tinggi di kisaran 14 ribu perkilo gram. “Di sini kita menjual hanya 10 ribu perkilogram,” ucapnya.

Ria menambahkan, program gerakan beras murah ini dilaksanakan per triwulan dan akan terus dilakukan agar bisa membantu masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, Salah satu warga dari Desa Cilebut Timur, Warnih mengaku dengan adanya program beras murah yang dilaksanakan oleh pemerintah kecamatan Sukaraja sangat membantu.

“Saya beli satu karung berukuran lima kilo gram harganya lumayan murah cuma 50 ribu, mudah- mudahan program beras murah ini bisa rutin dilaksanakan,” tandasnya. Aga

Sungai Ciapus Tercemar Akibat Sampah Liar Yang Dibuang Sembarangan

0

Tamansari | Jurnal Bogor – Tumpukan sampah liar berserakan di Sungai Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, yang pada akhirnya mencemari sungai Ciapus.

Menurut warga sekitar, sampah-sampah liar itu bersumber dari mana-mana. Jadi, banyak warga dari luar dan pengendara buang sampah ke situ.

“Dengan adanya sampah liar itu sungai jadi kotor, bukan hanya aroma bau tak sedap saja yang tercium, melainkan banyak lalat dan juga nyamuk. Dia berharap, sampah-sampah tersebut segera diangkut dan dibersihkan,” ucap pengendara Rahman.

Sementara itu, wakil ketua karang taruna Kecamatan Tamansari Asep Suryana mengatakan, kondisi Sungai Ciapus hari ini cukup memprihatinkan, apalagi kondisi visualnya terlihat kurang mengenakan dipandang, kontradiksi nya kalo kita renungkan bahwa kita tinggal di kaki Gunung salak, sementara sungai kita rusak.

“Maka dalam kesempatan pada hari Jumat besok kolaboratif Bersama PSKS untuk on the spot lakukan giat bersih di sungai Ciapus,” ungkap Asep, Kamis (22/8/24).

Dan Pasca kegiatan tersebut, kami berharap ada regulasi khusus dari pemerintah menerbitkan aturan terkait prilaku kebiasan buruk ,sambil juga menciptakan solusi nya untuk masyarkat

“Kita PSKS Tamansari hanya berikhtiar untuk berbuat saja dan mengedukas,” tandasnya.

Yudi

Ayo! Cobain Cireng Rujak Enaki Bikin Ketagihan

0

Bogor Selatan | Jurnal Bogor – Cemilan yang satu ini tidak asing lagi bagi semua orang, yaitu cireng yang di gemari mulai anak anak hingga orang dewasa. Cering bisa juga untuk cemilan di acara acara arisan keluarga dan acara lainnya.

Salah satunya Yanti warga Kampung lemah duhur RT 04/01, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, memproduksi cireng rujak dan cireng isi ayam suwir pedas dengan nama Enaki.

Dirinya mulai memproduksi cireng rujak dan cireng isi ayam suwir Enaki pedas sejak 2012. “Alhamdulillah sampai sekarang masih memproduksi cireng Enaki,” ujar Yanti, Rabu (21/8/24).

Lanjut dia, untuk bahan baku sagu dan tepung panir dalam sehari bisa menghabiskan 4 sampai 6 kilo gram sagu, dan tepung panir.

Biacara harga, Cireng rujak per pack isi 10 biji Rp. 10 ribu plus sambal, untuk cireng isi ayam suwir pedas per pack isi 10 biji Rp. 15000.

“Untuk pemasarannya sendiri dari mulut ke mulut, di media sosial,” ucapnya.

Ia mengeluhkan dengan kenaikan bahan baku seperti sagu, tepung panir, cabai untuk bahan sambal.

“Meskipun bahan baku naik tidak merubah cita rasa cireng Enaki itu sendiri,” tutur Yanti.

Ia berharap, usaha produksi rumahannya banyak lagi pesanan. “Dan kepada pemerintah memberikan bantuan kepada UMKM seperti saya ini,” harapnya.

Yudi

Warga Kongsi Digegerkan Penemuan Mayat Bayi di Area Pembuangan Sampah

0

Cigombong | Jurnal Bogor – Warga Kongsi digegerkan adanya penemuan mayat bayi di tempat pembuangan sampah di jalan Kampung Kongsi RT 01/03, Desa Cigombong, Kecamatan Cigombong, pada Minggu siang (18/8) sekitar pukul 11.30 WIB.

Kapolsek Cijeruk AKP Didin Komarudin mengatakan,
penemuan bayi pertama kali ditemukan Sujatna seorang pemulung sedang mengais sampah dipenampungan bak sampah melihat ada koper warna biru kotak kotak dan setelah di buka ada bungkusan plastik yang didalamnya berisi mayat bayi laki-laki dan didapati masih ada tali pusar.

“Atas temuan mayat tersebut dilaporkan ke polsek cijeruk,” ungkap AKP Didin Komarudin, Senin (19/8/24).

Dari hasil olah TKP didapati pihak kepolisian, bahwa benar mayat seorang bayi laki-laki yang belum diketahui indetitasnya.

Para saksi saksi telah di mintai keterangan pihak Kepolisian Polsek Cijeruk untuk melakukan penyelidikan terkait siapa orangtua yang telah membuang darah dagingnya sendiri dengan kejam di tumpukan sampah.

“Kpolisian masih terus dilakukan penyelidikan, dan korban mayat bayi telah di kirim RS Polri Kramatjati Jakarta untuk dilakukan otopsi jenazah,” tandasnya.

Yudi