28.3 C
Bogor
Wednesday, July 8, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 213

Wamen Yuliot Tanjung Tinjau SPBE Gadog. Gas Elpiji 3 Kg Bakal Kembali Normal

0

Ciawi – Jurnal Bogor

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Wamen ESDM Yuliot Tanjung memastikan ketersediaan LPG 3 KG mulai dari tingkat pedagang pangkalan hingga Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) tidak terjadi kendala.Pasca berubahnya pengaturan rantai pasok penjualan elpiji bersubsidi.
Yuliot Tanjung mengakui terjadi rush atau panik buying di tengah masyarakat karena tidak dapat lagi membeli gas isi ulang di warung kelontong terdekat. Alhasil mereka mendatangi langsung pangkalan elpiji 3 kg dan terjadi antrian Panjang di hamper seluruh pangkalan elpiji 3 kg.
Dalam kunjungannya di SPBE Gadog Ciawi Bogor, Wamen ESDM Yuliot Tanjung memastikan pedagang pengecer dan warung kelontong dapat Kembali menjual gas elpiji 3 kg dengan meningkatkan status menjadi sub pangkalan.

“Demi masyarakat khususnya untuk kebutuhan elpiji 3 kilo gram kini kita terjun langsung untuk melihat situasi di lapangan. Dan mulai hari di Kabupaten Bogor gas elpiji 3 kilogram mulai normal kembali, pengiriman ke SPBE, agen dan ke pangkalan dengan harga yang sama,” tandas Wamen, saat melakukan kunjungan di Gadog Ciawi 4/2/25.

Sementara itu SPBE Gadog sendiri memproduksi isi ulang gas elpiji 3 kg sebanyak 50 hingga 60 ton per hari. Dengan jangkauan melayani 2 wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Terbaik di Indonesia.
Naiknya status pedagang pengecer menjadi sub pangkalan memangkas rantai pasok penjualan gas elpiji 3 Kg .Kepala Operasional SPBE Gadog di bawah PT Mitra Harun Jasindo. Yayan Sofyan menambahkan, “jika sub pangkalan nantinya dapat langsung mengisi ulang ke SPBE dengan harga yang sama dengan harga isi ulang dari pangkalan.
Pemangkasan rantai pasok juga di harapkan menurunkan harga jual di tingkat konsumen yang saat ini berkisar 19 ribu hingga 20 ribu rupiah per isi ulangnya,” tuturnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pangdam 3 Siliwangi Mayjen Dadang Arif Abdurrahman, Danrem 061 Suryakencana Brigjen Faisol, Dandim 0621 Letkol Infanteri Henggar Tri Wahono serta Pj Bupati Bogor Bachril Bakrie.

Sementara itu, pasca adanya kunjungan Wamen ESDM, kondisi elpiji masih belum merata didapatkan oleh masyrakat. “Kata di daerah lain sudah ada gas 3 kilo gram. Tapi ke sini belum ada. Mungkin masih dalam pengiriman ya,” ujar Erni, warga Cisarua. Dadang Supriatna.

UPT JJ Ciawi Siap Lakukan Perbaikan Jalan Di Kopo

0

Ciawi – Jurnal Bogor
Keluhan masyarakat Desa Kopo khususnya para pengguna jalan di ruas jalan alternatif yang bisa keluar ke Lembah Nyiur, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua direspon oleh UPT Jalan dan Jembatan wilayah Ciawi. Melalui pengawas untuk wilayah Kecamatan Cisarua Yanto, pihak menyebutkan kerusakan badan jalan milik Kabupaten Bogor yang salah satunya di ruas jalan alternatif Desa Kopo tengah dilakukan pembahasan.

“Iya kondisi jalan yang keluar du Lembah Nyiur Desa Kopo mengalami kerusakan. Salah satu paktor penyebab kerusakan itu adalah cuaca yang terus turun hujan,” ujarnya.

Untuk langkah yang akan dilakukan pihak UPT JJ, menjelang idul fitri atau di bulan puasa jalan jalan milik kabupaten Bogor yang berada di wilayah Ciawi dan sekitarnya akan dilakukan perbaikan. “Sebetulnya untuk ruas jalan menuju Lembah Nyiur itu rencana akan dibeton melalui pihak ketiga. Tetapi, karena kondisinya cukup mendesak mudah mudahan bisa dilakukan perbaikan sementara,” imbuh Yanto.

Untuk memastikan waktu perbaikan, di jajaran UPTJJ Ciawi mereka tengah melakukan pembahasan. “Untuk kegiatan perbaikannya tengah kita bahas bersama pimpinan. Yang jelas sebelum idul fitri kerusakan di beberapa titik jalan milik Kabupaten Bogor khususnya di ruas jalan Cikopo Desa Kopo akan dilakukan perbaikan,” pungkasnya. Dadang Supriatna.

Biskita tak Mengaspal, Salah Siapa?

0

jurnalinspirasi.co.id – Tidak mengaspalnya Biskita di Kota Bogor sejak 1 Januari 2025 lantaran distopnya subsidi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub), rupanya menarik perhatian Pengamat Transportasi dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Trsnsportasi Infonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.

Ia justru menyinggung DPRD yang dinilai tidak berpihak terhadap alokasi anggaran transportasi.

“Tinggal bagaimana APBD Kota Bogor saja, dimasa peralihan dari pusat ke daerah, tinggal bagaimana Bogor menganggarkan untuk biskita,” ungkapnya.

Apabila alasan tidak setuju lantaran keterbatasan anggaran atau kecilnya APBD. Ia pun mempertanyakan daerah lain yang APBD dibawah Kota Bogor, namun tetap bisa menganggarkan.

“Nggak usah beli bis, pakai saja bis yang ada operator yang ada, sambil berproses kalau Perumda kedepan ingin membeli unit dan ikut menjadi operator yang bisa saja nanti kedepan seperti itu,” katanya.

Terpisah, Pengamat Kebijakan Publik, Dwi Arsywendo justru menilai bahwa tersendatnya Biskita di Kota Bogor lantaran Pemkot Bogor sejak awal terkesan lalai dalam mempersiapkan langkah strategis, pasca Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menstop subsidi BTS.

“Dari awal pemerintah kan sudah tahu, kalau subsidi ini tidak abadi. Mestinya disiapkan langkah strategis untuk menyikapi bila subsidi distop,” ucapnya.

Dwi mengaku tak sependapat bila tidak mengaspalnya Biskita di Kota Bogor lantaran tidak berpihaknya DPRD terhadap penganggaran.

“Saya nggak setuju, sebab APBD kita terbatas, dan di Kota Bogor masih banyak permasalahan sosial yang mesti dientaskan, seperti sarana pendidikan, kesehatan, RTLH, dan lain sebagainya,” ucapnya.

Justru, sambung dia, apabila Pemkot Bogor sejak awal menyiapkan kajian skema pembiayaan Biskita pasca distopnya subsidi, polemik seperti saat ini takkan terjadi.

“Ini murni kesalahan Pemkot Bogor. Karena sejak awal tidak mempersiapkan langkah strategis, bila subsidi distop pusat,” tandasnya.

Lebih lanjut, Dwi berharap agar Pemkot Bogor dapat memberikan full support kepada PTP agar dapat berkembang. Di antaranya dengan memberikan kepercayaan PTP mengelola Biskita ke depannya.

Namun untuk saat ini, sambung dia, sharing profit antara pemenang tender Biskita dan PTP harus transparan, dengan persentase yang adil.

“Persentasenya harus adil, jangan sampai kehadiran Biskita hanya menguntungkan swasta. Sementara PTP kembali merana, hidup segan mati tak mau,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

PTP ‘Nyerah’ Takkan Ikut Lelang Biskita

0

jurnalinspirasi.co.id – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Transportasi Pakuan (PTP) dipastikan tidak akan mengikuti lelang operator Buy The Service (BTS) Biskita Trans Pakuan.

Direktur Utama PTP Rachma Nissa Fadliya menegaskan bahwa pihak lnya tidak akan mengikuti lelang Biskita di unit Pengadaan Barang Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor.

Rachma berdalih bahwa tidak berpartisipasinya PTP dalam lelang Biskita lantaran pihaknya sama sekali belum memiliki unit bus.

“Kami belum memiliki unit sebagai persyaratan lelang, maka kami sendiri juga tidak akan mengikuti proses lelang operator,” ujarnya kepada wartawan, Senin (3/2/2025).

Kepala Dishub Kota Bogor, Marse Hendra Saputra mengatakan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) terkait pelaksanaan lelang, dan mengenai penggunaan e-katalog versi lima atau enam.

“Selain itu kami juga sudah menyiapkan persyaratan administrasi dan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang kini sedang direview Inspektorat,” ujar Marse.

Marse juga menegaskan bahwa pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengenai IT dan manajemen pengelolaan (MP).

“Ya, mudah-mudahan pertengahan Februari sudah bisa jalan lagi,” ucapnya.

Saat disinggung mengenai peluang besar Kodjari memenangkan tender dan kurang transparannya mengenai sharing profit dengan PTP. Marse mengaku tidak mengetahui mengenai hal itu.

“Kalau sharing profit itu kan B To B antara PTP dan Kodjari,” ucap dia.

Yang pasti, kata dia, pengelolaan halte Biskita akan dilakukan oleh PTP. Kemudian Terminal Bubulak difungsikan sebagai pul serta pemberangkatan awal juga dikelola PTP.

“Begitu juga di Ciparigi, diharapkan bisa dikerjasamakan lagi,” kata mantan Camat Bogor Utara itu.

** Fredy Kristianto

Gas Melon Langka, DID Sebut Kebijakan Pemerintah Pusat Perburuk Kondisi Rakyat

0

jurnalinspirasi.co.id – Kebijakan pemerintah yang melarang pendistribusi gas elpiji 3 kilogram ke pengecer, menyebabkan kelangkaan hampir di semua daerah.

Wakil Ketua III DPRD Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata (DID) menyebut bahwa kebijakan tersebut justru memperburuk kondisi rakyat, terutama kalangan menengah ke bawah.

Menurut dia, kebijakan ini menciptakan ketidaknyamanan dan kesulitan bagi masyarakat, dimana sebelumnya warung-warung menjadi titik distribusi yang paling dekat dengan masyarakat. Namun, dengan adanya larangan penjualan gas melon 3 kilogram, membuat masyarakat kini harus pergi ke pangkalan yang lokasinya seringkali jauh dan tidak mudah dijangkau.

“Bagi masyarakat di daerah terpencil atau mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi, hal ini menjadi beban tambahan yang menyulitkan. Harus bayar ojek atau yg lainnya, Akibatnya, banyak orang terpaksa mengantri berjam-jam, tak jarang warga harus hujan-hujanan saat mengantre sehingga ada yang sakit, bahkan sampai meninggal karena kelelahan. Parahnya, setelah lama antre justru tidak kebagian,” jelasnya kepada wartawan, Senin (3/2).

DID menilai bahwa kebijakan tersebut membuat penyaluran gas menjadi terbatas, sehingga membuat pangkalan tak mampu memenuhi permintaan pasar. Akibatnya stok gas cepat habis.

“Situasi ini diperburuk oleh kurangnya antisipasi pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan logistik yang memadai untuk mendukung kebijakan baru ini,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa kebijakan tersebut sama saja menggerus pedagang kecil yang telah lama menjadi ujung tombak distribusi dengan memutus mata rantai.

“Kebijakan tersebut dibuat tanpa kajian mendalam terhadap realitas sosial dan ekonomi masyarakat. Padahal beberapa warung sendiri bisa jadi solusi buat warga yang tidak nmmampu, selain dekat rumah, warga juga bisa mengambil dulu gas melonnya dan bayar belakangan (dihutang),” tuturnya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyebut bahwa kebijakan ini berpotensi memicu praktik penimbunan dan pasar gelap, atau menjual dengan harga lebih tinggi.

“Jelas itu akan memberatkan masyarakat kecil. Akibatnya, masyarakat yang tidak mampu mendapatkan gas terpaksa beralih ke sumber energi alternatif yang lebih mahal atau kurang aman, seperti minyak tanah atau kayu bakar. Hal ini tidak hanya memberatkan ekonomi keluarga, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan dan lingkungan,” tuturnya.

Atas dasar itu, kata dia, pemerintah perlu segera mengevaluasi kebijakan ini dan mempertimbangkan langkah-langkah perbaikan.

“Pemerintah harus mengembalikan peran warung sebagai titik distribusi gas melon 3 kilogram. Warung-warung kecil telah terbukti efektif dalam mendistribusikan gas ke masyarakat, terutama di daerah terpencil,” katanya.

Kemudian, sambung dia, pemerintah harus meningkatkan jumlah pangkalan resmi, dan memastikan distribusi yang merata ke seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil.

“Harus diperkuat juga pengawasan dan transparansi dalam rantai distribusi untuk mencegah penimbunan dan praktik pasar gelap. Pemerintah perlu mendengarkan masukan dari berbagai pihak, termasuk pedagang kecil dan konsumen, sebelum menerapkan kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat,” paparnya.

Selain itu, kata dia, pemerintah mesti menyediakan infrastruktur dan logistik yang memadai untuk mendukung distribusi gas melon 3 kuligramsecara efektif dan efisien.

“Kebijakan distribusi gas melon yang hanya mengandalkan pangkalan resmi jelas tidak sesuai dengan kebutuhan dan realitas kehidupan masyarakat. Pemerintah harus menyadari bahwa kebijakan yang baik adalah kebijakan yang memudahkan, bukan mempersulit, akses rakyat terhadap kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Apabila tidak segera diperbaiki, sambung ya, kebijakan ini hanya akan menambah daftar penderitaan rakyat dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

** Fredy Kristianto

Sukses Gelar Program Kita Peduli Stunting yang Diinisiasi INH Diharapkan Bisa Dilaksanakan Kembali

0

Jurnal Inspirasi – Program sosial ‘Kita Peduli Stunting’ sukses digelar di Kampung Tegal Luhur RT 02 RW 02, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ‘Kita Peduli Stunting” ini diadakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah stunting yang masih menjadi tantangan di masyarakat.

Dalam kegiatan ini, sebanyak 232 penerima manfaat mendapatkan hidangan kebaikan, termasuk peserta dan panitia.

Selain itu, 80 anak menerima bantuan susu dan telur sebagai upaya meningkatkan asupan gizi mereka di masa pertumbuhannya.

Lalu juga dilakukan, pemeriksaan kesehatan dengan 35 strip check yang digunakan untuk memantau kondisi kesehatan peserta.

“Program ini terselenggara berkat kerja sama berbagai komunitas dan organisasi, antara lain, INH, Share INH, Satuan Tagana Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Dedikasi Kita, Belajar Sehat, BEM IPB, TKSK (Cibinong, Citeureup, dan Babakan Madang) dan tentunya juga Ibu-ibu PKK dan PKH Babakan Madang,” kata Manager Program International Networking for Humanitarian (INH) Muhammad Hadiyan Abshar kepada wartawan, Senin, 3 Februari 2025.

Muhammad Hadiyan Abshar menuturkan kegiatan ‘Kita Peduli Stunting’ ini merupakan langkah nyata dalam upaya penanganan stunting yang tidak hanya melibatkan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga edukasi gizi dan pemberian makanan bergizi.

“Melalui sinergi berbagai pihak, diharapkan angka stunting di daerah ini dapat terus ditekan dan kualitas kesehatan anak-anak semakin meningkat,” tutur Muhammad Hadiyan Abshar.

Program “Kita Peduli Stunting” merupakan inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam mengatasi permasalahan stunting.

Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi model keberlanjutan dalam upaya peningkatan gizi dan kesehatan anak-anak Indonesia.

Sementara itu, Elis Novita salah seorang penerima manfaat dari program ‘Kita Peduli Stunting’ tersebut mengucapkan sangat berterimakasih atas bantuan dan terselenggarakanya program tersebut.

Menurutnya, kegiatan yang bersifat positif ini sangat membantu dan sangat dibutuhkan hingga harus dilakukan di banyak tempat.

“Terima kasih kepada INH dan Sahabat Rewalan INH yang telah menginisiasi kegiatan ini, semoga kedepannya bisa dilaksanakan kembali program serupa,” ucap Elis Novita.

(aga)

Pria Tewas Ditembak OTK di Pasar Mawar

0

jurnalinspirasi.co.id – Torang Heriyanto, pria berusia 45 tahun tewas ditembak orang tak dikenal (OTK) di kawasan Pasar Mawar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah pada Senin (3/2/2025) sekitar pukul 01.30 WIB.

Hingga kini belum diketahui motif penembakan itu. Korban mengalami luka bersimbah darah dan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS Ciawi Bogor.

Kepada wartawan, Kasar Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Aji Riznaldi, membenarkan kejadian tersebut.

Ia mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan proses penyelidikan guna mengungkap pelaku dan motif di balik aksi penembakan tersebut.

“Betul adanya kejadian penembakan pada pukul 01.30 WIB di Jalan Perintis, Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Saat ini kami masih melakukan proses penyelidikan,” ungkapnya.

Polresta Bogor Kota menegaskan komitmennya untuk menindak tegas segala bentuk aksi premanisme dan kriminalitas yang mengancam keamanan serta keselamatan masyarakat.

“Segala tindakan premanisme di Kota Bogor akan ditindak tegas. Kami akan terus mengusut kasus ini,” ungkapnya.

** Fredy Kristianto

Pembentukan Tim Transisi Dipertanyakan

0

jurnalinspirasi.co.id – Pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akhir-akhir ini tengah disibukan oleh agenda rapat-rapat yang melibatkan Tim Transisi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor terpilih, Dedie A Rachim dan Jenal Mutaqin (JM).

Hal itu pun mendapat sorotan dari Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Yusfitriadi. Ia mengaku tidak paham dengan maksud dan tujuan Tim Transisi.

“Apakah tim transisi dibentuk resmi oleh pemerintah kota atau pasangan kepala daerah yang menang,” ujar Yusfitriadi kepada wartawan, Minggu (2/2/2025).

Namun, kata dia, sebuah tim dibentuk ketika tengah menghadapi situasi yang sangat berat dan sulit. Apabila, pemerintah yang membuat berarti telah terjadi masalah besar soal transisi perpindahan kekuasaan hasil Pilkada 2024.

“Kalau tidak ada masalah besar, Tim Transisi buat apa. Terlebih tim tersebut berisikan fungsionaris-fungsionaris partai politik. Ada kegentingan apa dengan transisi kekuasaan di Kota Bogor?,” ucap Yus.

“Apakah sudah sedemikian tidak berdaya sehingga harus dibentuk Tim Transisi. Dan akan lebih buruk stigmanya jika Tim Transisi ini menggunakan anggaran negara,” katanya.

Selain pemborosan, sambung dia, akan muncul stigma pejabat dan oknum partai politik sedang butuh dengan Tim Transisi.

“Tentu saja hal ini bersebrangan dengan prinsip efektif dan efisiensi yang selalu digembar-gemborkan oleh Presiden Prabowo,” tegas dia.

Kata Yus, apabila Kota Bogor kondisinya baik-baik saja, seharusnya tidak perlu dibuat Tim Transisi. Kecuali, jika ada masalah dalam transisi kekuasaan.

“Kalau ada masalah boleh saja dibentuk. Karena kita kan tidak tahu kondisinya saat ini,” imbuh dia.

Yus menilai bahwa dalam konteks transisi kekuasaan di Kota Bogor tidak terlihat masalah besar. Sehingga kehadiran Tim Transisi cenderung mengada-ngada.

Diketahui, pada Jumat (31/1/2025) Tim Transisi batal melaksanakan rapat bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) di Balai Kota. Hal itu pun dibenarkan oleh Ketua Tim Transisi, Sopian Ali Agam.

“Waalaikumsalam, iya (batal rapat),” kata Sopian dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp.

Sopian mengatakan bahwa tujuan utama pembentukan Tim Transisi adalah untuk memastikan visi misi wali kota dan wakil wali kota dapat dijalankan di semua OPD.

Saat disinggung mengenai sempat beredarnya surat dari Tim Transisi kepada Pemkot Bogor mengenai permintaan bantuan konsumsi untuk rapat dengan OPD. Sopian mengatakan bahwa hal itu diurungkan.

“Sudah beres, nggak jadi (rapat) di posko, jadinya di Pemkot,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Loket Stasiun KRL Akan Diganti Digital

0

Jurnal Inspirasi – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter mengungkapkan rencana akan mengganti skema pembelian tiket KRL Commuter Line melalui loket menjadi digital.

Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto mengatakan, hal ini merupakan bentuk transformasi digital yang akan dilakukan KCI secara bertahap.

“Sistem pembayaran di tahun ini segera kita launching dengan beberapa bank, top up dengan menggunakan QRIS yang nanti kita lama-lama akan menghilangkan loket-loket. Semuanya dengan digital,” ujarnya dikutip akhir pekan kemarin.

Adapun tahap awal penerapan digitalisasi ini akan dilakukan di Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman dengan membangun Smart Station.

“Jadi semuanya nanti dilayani secara digital,” imbuh Asdo.

Di Smart Station ini, kata dia, layanan digital akan diterapkan pada layanan in-out, toilet hingga Musolah dan akan mengurangi sumber daya manusia.

“Nanti dengan menggunakan teknologi digitalisasi dan mengurangi manpower di situ. Semuanya dilayani dengan alat,” tutur Asdo.

Asdo bilang, penerapan smart station ini akan diterapkan di stasiun-stasiun besar, sementara stasiun kecil lainnya akan dilayani secara manual. Hal ini lantaran masih banyak masyarakat yang belum familiar dengan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Jadi nanti untuk awalnya akan kita coba di stasiun-stasiun besar, yang mayoritas masyarakatnya sudah familiar dengan QRIS,” tandas Asdo.

(Dedi R)

Berapa Sih Sebenarnya Harga Asli LPG 3 Kg?

0

Jurnal Inspirasi – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membeberkan harga asli LPG 3 Kg yang biasa dibeli masyarakat dengan harga Rp20 ribuan. Menurutnya, harga asli LPG 3 kg adalah Rp42.750 per tabung.

“(Subsidi) LPG 3 kg ini sangat besar, harga sesungguhnya satu tabung adalah Rp42.750,” ungkap Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kemenkeu, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Namun, Suahasil menegaskan masyarakat tak mesti membayar semahal itu. Harga gas melon yang dibayar rakyat di toko eceran adalah Rp12.750 per tabung.

Ia menyebut ini terjadi berkat subsidi yang diberikan dari APBN. Suahasil mengatakan subsidi per tabung LPG 3 kg mencapai Rp30 ribu atau 70 persen.

“Realisasi belanja subsidi LPG 3 kg di 2024 adalah Rp80,2 triliun. Cukup besar kalau kita lihat, dibandingkan yang lain (BBM hingga pupuk),” jelas Suahasil.

“Ini digunakan sekitar 40,3 juta pelanggan, biasanya digunakan oleh UMKM dan rumah tangga,” tutupnya.

Subsidi LPG, BBM, hingga listrik masuk dalam kelompok belanja perlindungan sosial (perlinsos). Wakil dari Sri Mulyani itu mengatakan perlinsos naik dari Rp436,2 triliun di 2023 ke Rp455,9 triliun pada 2024.

Khusus untuk subsidi LPG 3 kg alias gas melon, Suahasil mengatakan total realisasinya mencapai 8,3 juta metrik ton.

(Dedi R)