Walikota Bogor, Bima Arya saat memberikan keterangan pers di Balaikota pada Selasa (26/5/2020).
Bogor | Jurnal Inspirasi
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengklaim bahwa jumlah positif Covid-19 menurun. Pemkot pun bersiap menyongsong fase baru sesudah PSBB selesai pada 4 Juni mendatang.
Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa sejak tahap pertama hingga ketiga jumlah positif Covid-19 mengalami penurunan yang sangat drastis.
Diketahui, saat tahap pertama PSBB ada 15 kasus positif corona. Kemudian di tahap kedja ada 14 kasus, sedangkan di tahap ketiga turun menjadi lima.
“Ada fase yang semakin melandai dan Rasionya 0,74. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kontaminasi di Kota Bogor relatif sudah bisa dikendalikan. Tantangan terbesar adalah di arus mudik yang masuk ke Kota Bogor,” ujar Bima pada Selasa (26/5/2020).
Atas dasar itu, kata Bima, yang harus dilakukan oleh pemkot Bogor adalah mempertahankan secara ketat protokol kesehatan sembari memastikan tidak ada penularan baru melalui orang yang masuk ke Kota Bogor, khususnya saat arus balik Lebaran.
“Saya sudah perintahkan seluruh aparat, camat dan lurah dengan RW Siaga memastikan sistem isolasi dan pemantauan orang masuk ke Kota Bogor akan jauh lebih diperketat,” katanya.
Bima menambahkan bahwa fase tatanan baru akan dimulai di Kota Bogor Insya Allah pada 4 Juni 2020.
Kepala Satpol PP Kota Bogor, Agustian Syah saat memberikan teguran tertulis bagi tempat usaha yang melanggar PSBB
Bogor | Jurnal Inspirasi
Satpol PP Kota Bogor telah menindak 1.502 pelanggar dan menyetorkan hasil sanksi administrasi ke kas daerah dari 5 tempat usaha sebesar Rp 22 juta sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan 15 April 2020 lalu.
“Total di kami dari PSBB tahap I,II dan III ada 1.502 pelanggar, diantaranya 819 pelanggar tidak menggunakan masker, berboncengan beda alamat 56 orang,” kata Kasatpol PP Kota Bogor, Agustian Syah di Balai Kota Bogor, Selasa (26/05/2020).
Agus merinci, dari data pemantauan selama PSBB tahap I ada 22 pelanggar tidak menggunakan masker, 28 tempat usaha melanggar jam operasional, 31 lokasi kerumunan yang dibubarkan.
Sedangkan PSBB tahap II ada 360 pelanggar tidak menggunakan masker, 257 tempat usaha melanggar jam operasional, 24 lokasi kerumunan yang dibubarkan dan 6 tempat usaha yang disegel.
Kemudian, PSBB tahap III ada 437 pelanggar tidak menggunakan masker, 213 tempat usaha melanggar jam operasional, 74 lokasi kerumunan yang dibubarkan, 56 orang berboncengan berbeda alamat, dan 5 tempat usaha yang disegel dan membayar sanksi denda ke Kas Daerah sebesar Rp 22 juta.
“Kami menerapkan sanksi administrasi di PSBB tahap III dengan total denda Rp 22 juta terdiri dari toko baju dan toko sepatu. Penerapan denda ini berlaku sesuai Perwali Nomor 37 Tahun 2020 tentang Juknis pelaksanaan penerapan sanksi pelanggaran PSBB dalam penanganan Covid-19,” jelasnya.
Berdasarkan hasil evaluasi, PSBB tahap I warga lebih patuh. PSBB tahap II disiplin warga mulai menurun dan tahap III lebih banyak lagi yang tidak disiplin.
“Tapi kami tetap terapkan sanksi yang tegas,” katanya.
Mengenai sanksi hingga pencabutan izin usaha bagi toko hingga saat ini kata Agus belum ada. Pasalnya, setelah disegel tokonya pelanggar langsung membayar dendanya ke kas daerah.
“Kalau memang masih buka setelah di segel dan di denda rekomendasinya kita akan cabut izinnya. Tapi sampai saat ini Alhamdulillah belum ada,” katanya. Saat disinggung pemberlakuan Perwali Nomor 37 Tahun 2020 hingga kapan, pihaknya masih menunggu keputusan Wali Kota Bogor mengenai apakah PSBB diperpanjang atau tidak.
Walikota Bogor Bima Arya menyatakan bahwa Pemkot Bogor tetap menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 4 Juni 2020 mendatang. Berbeda dari PSBB sebelumnya, mulai Rabu (27/5/2020) akan dilakukan beberapa penyesuaian. Seperti apa?
“PSBB Tahap ketiga akan berakhir (Rabu dini hari jam 00.00 WIB). Insya Allah Kota Bogor akan bersiap-siap memasuki fase tatanan baru yang akan dimulai pada 4 Juni 2020. Ini menyesuaikan dengan masa akhir dari PSBB di DKI Jakarta. Karena Bogor tidak terlepas dan terintegrasi dari Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Bima Arya dalam keterangannya dihadapan media di Balaikota Bogor, Selasa (26/5/2020).
“Karena itu kita harus selaras, harus seirama. Tadi saya pun sudah berkomunikasi dengan Gubernur Jabar, Pak Ridwan Kamil. Beliau memberikan ruang bagi Kota Bogor untuk memutuskan dengan pertimbangan kedekatan dengan Jakarta. Walaupun PSBB di Jawa Barat ujungnya 29 Mei, tapi karena pertimbangan berdekatan dengan Jakarta maka fase tatanan baru dari Kota Bogor akan dimulai pada 4 Juni,” tambahnya.
Meski demikian, lanjut Bima, Kota Bogor akan mulai melakukan penyesuaian mulai Rabu, 27 Mei 2020. “Pada prinsipnya protokol kesehatan akan kami perketat, pengawasan di wilayah (RT/RW) untuk arus keluar masuk orang akan kami perketat, namun kami akan memberikan izin bagi toko non-pangan, pasar serta restoran untuk bisa beroperasi dengan sejumlah persyaratan,” jelasnya.
Persyaratan yang dimaksud adalah tempat usaha wajib menerapkan protokol kesehatan, baik bagi pengunjung maupun karyawannya. “Boleh makan di tempat tapi harus ada pembatasan-pembatasan. Misalnya untuk restoran atau cafe diwajibkan tetap dengan standar protokol kesehatan. Ditambah juga dengan pembatasan atas kapasitas yang ada. Jadi tidak diperbolehkan beroperasi dengan kapasitas yang penuh, maksimal adalah 50 persen dari kapasitas pengunjung sebelumnya dengan kursi yang disimpan (tidak disediakan penuh atau tidak sekedar diberi tanda silang),” beber Bima.
Kemudian, kata dia, untuk pasar dan toko-toko non-pangan (pakaian, sepatu, bengkel, dll) diizinkan beroperasi juga dengan catatan diberlakukan protokol kesehatan. “Ada batasan dalam jumlah pengunjung. Perwali akan kami revisi dan ditetapkan besok supaya bisa menjadi panduan Satpol PP dan Dishub. Apabila ada pelanggaran-pelanggaran tetap kami akan berlakukan sanksi. Apabila ada toko, resto yang kemudian beroperasi dengan full kapasitas dan tidak ada protokol kesehatan, tentu akan ada tindakan-tindakan penerapan sanksi berdasarkan Perwali yang telah direvisi nanti,” jelas Bima.
Aktivasi Masjid
Bima Arya juga memerintahkan Camat dan Lurah berkomunikasi dengan seluruh tokoh-tokoh untuk mengaktivasi masjid. “Masjid-masjid harus diaktivasi sebagai pusat edukasi dan juga lumbung pangan atau logistik. Tetap ada pembatasan dan tata cara beribadah dengan protokol yang ketat juga. Kami berharap, masjid-masjid ini aktif mengambil peran, tidak saja untuk mengedukasi warga melalui DKM, speakernya, tetapi juga bisa menjadi tempat alternatif untuk pusat logistik, lumbung pangan selain dapur-dapur umum yang kita aktivasi di setiap kelurahan,” katanya.
Kajian Epidemiologis
Pemkot Bogor telah mengadakan focus group discussion (FGD) untuk meminta masukan dari semua kalangan, seperti akademisi, pengusaha, para ahli dan dari berbagai elemen di Kota Bogor. “Kami meminta masukan untuk rumusan PSBB atau pasca PSBB ke depan. Kemudian Pemkot juga mendengar rekomendasi atau kajian dari pakar epidemiologis dari UI,” terang Bima.
“Pada intinya yang disampaikan oleh Pakar Epidemiologis adalah bahwa apabila tren PSBB tahap ketiga di Kota Bogor sudah dikatakan landai, pertumbuhan kasus positif makin minim dan juga angka reproduksi atau reproductive number (RO) virus corona di bawah satu, maka Kota Bogor bisa untuk memulai memasuki fase baru pasca PSBB,” tandasnya.
Ia menyatakan, berdasarkan data yang dipaparkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor, tercatat ada penambahan 15 kasus positif sepanjang penerapan PSBB tahap pertama. “Lalu PSBB tahap kedua ada kasus positif 14 yang disampaikan berdasarkan kejadian, bukan laporan. PSBB tahap ketiga kemarin ada 5 positif. Jadi, ada fase yang semakin melandai dan RO-nya 0,74 (di bawah 1),” katanya.
“Jadi bisa disimpulkan bahwa kontaminasi di Kota Bogor relatif sudah bisa dikendalikan. Tantangan terbesar adalah di arus mudik yang masuk ke Kota Bogor. Karena itu dengan hasil yang seperti ini, yang harus dilakukan oleh Pemkot Bogor adalah mempertahankan secara ketat protokol kesehatan sembari memastikan tidak ada penularan baru yang masuk melalui orang-orang yang masuk ke Kota Bogor, khususnya arus balik,” pungkasnya.
Fredy Kristianto | *
Walikota Bogor Bima Arya saat memberikan keterangan pers pada Selasa (26/5/2020)
Meskipun pemerintah telah melarang tempat wisata dibuka ditengah pandemi Covid-19, namun nampaknya beberapa wisata di wilayah Bogor barat masih buka salah satunya Gunung Salak Endah (GSE) dan Curug Cigamea, Kecamatan Pamijahan. Bahkan, pengunjung bukan dari Bogor saja melainkan dari Jakarta sampai Tangerang.
Pengelola wisata GSE, Endang menjelaskan, meskipun buka namun pihak pengelola tetap mengikuti protokoler kesehatan, salah satunya menyediakan ruangan disinfektan dan pengatur suhu bagi pengunjung yang datang.
“Alasan kita membuka wisata karena sudah hampir tiga bulan tidak ada pemasukan dan sebagian besar mayoritas pegawai wisata berasal dari Kecamatan Pamijahan,” ucapnya kepada wartawan kemarin.
Ia juga menambahkan, jumlah pengunjung yang datang pun tidak membludak karena masih berasal dari area Kabupaten Bogor dan wilayah Depok.
“Kalau wisatawan mayoritas area Kabupaten Bogor saja, kalau kota Bogor belum ada, paling wisata dari Depok, Tangerang itupun hanya beberapa orang saja,” tuturnya
Sementara itu, salah satu pengunjung asal Tangerang Rahmat (57) mengaku, dirinya bersama keluarga belibur ke wilayah Bogor karena memang sekalian silaturahmi ke saudara.
“Ini sekalian lewat karena rumah saudara tidak jauh dari area wisata, mumpung masih di Bogor dan saya sudah dua kali kesini dan tahun sekarang tidak sedikit sepi berbeda tahun kemarin,” pungkasnya
Seorang pengendara motor meninggal secara mendadak di sebuah warung bakso di jalan raya Cigudeg Kebun Kelapa Sawit, Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, saat perjalanan menuju Tangerang, Senin (25/5) sore. Korban langsung dievakuasi Tim Gugus Tugas COVID-19 Puskesmas Kecamatan Cigudeg.
“Kemarin di Sawit Bawah, (kejadian) sore. Pukul 19.00 WIB kita baru evakuasi ke RS,” kata Kepala Puskesmas Cigudeg, Bogor, dr Suparno, saat dikonfirmasi, Jurnal Bogor, Selasa (26/5).
Suparno mengatakan, korban berangkat dari Sukabumi menuju Tangerang untuk mengantar anaknya bekerja. Hal ini berdasarkan pengakuan anak korban.
“Beliau dan anaknya istirahat sebentar di lesehan sawit untuk makan bakso,” katanya.
Polisi tak membeberkan identitas korban dan anak korban, namun menurut Suparno, korban ber-KTP Bandung. Sementara untuk penyebab kematian, lanjut Suparno, pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan.
Warung bakso pun sudah disterilkan guna mengantisipasi adanya penyebaran virus corona. Saat proses evakuasi korban, petugas dilengkapi APD dan menerapkan protokol penanganan jenazah COVID-19.
“Langsung kita evakuasi ke RS karena prosedurnya begitu untuk jenazah yang ditemukan di jalan atau orang dalam perjalanan langsung ke RS. Penanganan tetep pakai protokol COVID-19. Penyebab kematian masih nunggu hasil pemeriksaan RS. Pasien sudah ada di RS nunggu hasil autopsi dari RS,” pungkas Suparno.
Ahmad bin Mani’ menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah memberitahukan kepada kami, Sa’ad bin Sa’id memberitahukan kepada kami dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka sama seperti ia berpuasa selama satu tahun.
Waktu pertama kali mendengar wabah korona di Wuhan, China, waktu itu kita masih santai saja, kemudian kita mulai bertanya, penyakit apa itu”Wuhan Corona Virus” lalu ketika penyakit ini mulai menular keluar kota wuham, kita juga masih santai, masih jauh disana, lalu ketika negar-negara tetangga kita sudah mulai ada kasus kita mulai sedikit kawatir. Jangan-jangan akan tertular juga kita. Ketika sudah mulai ditemukan orang dalam pemanyauan, Pasien dalam pengawasan, kita sudah mulai waspada. Pintu-masuk masuk diawasi, jangan ada orang sakit yang masuk ke Indonesia. Dipintu-pintu masuk Negara, bandara, pelabuhan dipasang termal alert, kemudian rumah sakit mulai merawat suspek. Ketika kasus pertama ditemukan, kita baru sadar, ternyata ada disini, bukan nun jauh disana.
Saat ini kasus sudah semakin banyak, banyak sekali. Yang sakit tidak hanya orang yang baru dating dari luar negri. Yang sakit tidak hanya orang yang dating dari Jakarta. Yang sakit bukan hanya yang merawat orang sakit Covid -19. Yang sakit sudah bangat banyak. Ada satu keluarga saling menularkan, ada orang-orang satu kantor yang saling menularkan, ada sesame jamaah masjid dan gereja yang saling menularkan, ada sesame peserta seminar yang saling menularka, bahkan ada yang tertular dari bis umum, kereta, pasar dan sebagainya. Saat ini udah ditemukan orang yang toidak menunjukkan gejala tetapui menularkan. Saat ini banyak yang masih beraktivitas diluar rumah namun menularkan. Dan kita tidak tahu itu orang yang mana.
Apakah kita mau membiarkan diri kita tertular, keluarga kita tertular? Memang jika tertular hari ini besok mati? Nggak juga kan? Tetapi apakah kita akan membiarkan diri kita tertular dan kemudian kita menularkan juga kepada keluarga, orang-orang dekat, teman-teman kantor, tetangga atau orang-orang lainnya? Nggak juga kan? Lalu bagaimana? Kita sudah tidak lagi bisa hanya mengandalkan deteksi di pintu2 masuk, bandara, dan sebagainya. Kita sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan deteksi panas badan dan hand sanitizer saja. Tidak cukup. Orang-orang yang sakit Covid -19 tengah diisolasi, tetapi virus corona menyebar dengan cepat di lingkungan kita, di wilayah kita. Melalui apa? Melalui kontak jarak dekat. Ini adalah penularan komunitas (Community transmission).
Semakin meluas penularan komunitas terjadi, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan, yaitu mengurangi kontak Antara satu warga yang satu dengan yang lainnya (Sosial Distancing) yang dalam Bahasa kita adalah mengurangi kontak antar warga. Yaitu mengurangi kegiatan-kegiatan yang mendatangkan orang, membuat orang berkumpul, berkerumun, berdesakan dan sejenisnya. Sosial Distancing termasuk tindakan mengurangi pertemuan di tempat umum, menutup sekolah, kegiatan keagamaan, mengurangi penggunaan transpotasi umum yang tidak penting.
Beberapa panduan para ahli:
menghindar pertemuan besar ( lebih dari 10 orang)
Jaga jarak (1 meter atau lebih) dengan orang lain.
Jangan pergi ke sarana kesehatan kecuali diperlukan.Bila mempunyai anggota keluarga yang di rumah sakit, batasi pengunjung terutama jika mereka adalah anak-anak atau kelompok risiko tinggi (misalnya lanjut usia, berpenyakit kronisyang dapat memperberat seperti jantung, diabetes dan penyakit kronis lainnya)
Orang berisiko tinggi sebaiknya tetap dirumak dan menghindari pertemuan atau kegiatan yang berpotensi terpapar virus.
Beri dukungan pada anggota keluarga, teman , atau tetangga yang terinfeksi tanpa harus bertemu langsung misalnya melalui telepon, WA dan sebagainya.
Ikuti panduan pemerintah
Ikuti perkembangan informasi karena situasi dapat berubah dengan cepat sesuai perkembangan penyakit dan penyebarannya.
Beberapa saran dari WHO untuk social Distancing Antara lain: Menghindari kerumunan, menjaga jarak minimal 1 meter, menghindari berjabat tangan, fokuskan kegiatan didalam rumah,
Mudik adalah ritual yang kita temui setiap tahun di Indonesia. Pergerakan manusia secara besar, secaras ukarela dan suasana sukacita. Ritual besar dalam perayaan besar, perayaan kemenangan setelah melalui serangkaian ibadah selama satu bulan di b7ulan Ramadan. Mudik menjadi agenda setiap orang, sehingga melibatkan setiap dan banyak aktiviras. Apa yang terjadi saat mudik Antara lain adalah berkumpul di masjid atau tanah lapang untuk sholat id, saling mengunjungi, berkumpul dengan keluarga, dan lain-lain. Tempat wisata, sarana transportasi, pasar, mall tumpah ruah, jalanan macet, jalan tol pun penuh sesak. Makanan, baju baru, bagi-bagi uang, perjalanan, macet, rasanya sudah identik dengan lebaran. Bahkan berkah mudik dan lebaran tidak hanya dirasakan oleh kaum muslim saja, tetapi juga penganut agama lainnya. Namun lebaran kali ini akan terasa lain. Lebaran dalam situasi pandemic Covid-19, ditengah pelaksanaan pembatasan social berskla besar (PSBB). Bagaimana merayakan lebaran tanpa penularan penyakit COVID-19 tentu ini adalah tantangan. Masyarakat harus tetap dirumah untuk menghentikan penyebaran Covid-19, dan mematuhi aturan-aturan PSBB selama masa PSBB berlangsung. Lebaran kali ini adalah lebaran yang berbeda, lebaran yang :
tanpa berkumpul
Hindari berkumpulnya warga, terutama perkumpulan dalam jumlah yang besar. Jadi tidak ada lagi berkumpul di tanah lapang atau di masjid untuk sholat id. Tidak ada acara arisan keluarga atau kumpul keluarga besar. Sholat id dilakukan dirumah saja dengan anggota keluarga. Kumpul-kumpul cukup dengan keluarga yang serumah saja. Tidak ada acara halal bihalal seRT, se RW, se kampong, se kantor, tidak ada reuni SD, reuni SMP, atau reuni-reuni yang lainnya. Pokoknya tidak ada kumpul-kumpul.
tanpa saling mengunjungi
Tidak usah saling mengunjungi kerabat, teman, tetangga, atau rekan bisnis. Sebaiknya tidak menerima tamu walaupun itu kerabat kita. Sampaikan salam dan ucapan dengan memanfaatkan teknologi. Jika mengantar atau mengirim sesuatu lakukan dengan kurir atau jasa pengantaran.
tanpa sungkem dan berjabat tangan
Lebaran kali ini tidak ada sungkeman, tidak ada jabatan tangan. Cukup tanda salam dari jauh saja. Ibu-ibu biasanya tidak hanya bersalaman tetapi juga cipika cipiki. Lebaran kali ini tidak lagi.
tidak keluar rumah, keluar kota , ke mall, ke pasar
Fokuskan semua kegiatan untuk dilakukan dirumah. Kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan diluar rumah jadi dialihkan untuk dilakukan didalam rumah. Tidak ada kegiatan di luar rumah, tidak mengunjungi mall, pasar, teman wisata, tempat kuliner, tempat nongkrong, atau tempat-tempat lain yang memungkinkan orang berkumpul atau berkerumun atau berdesakan. Jika memerlukan belanja, sebisa mungkin lakukan secara elektronik, atau gunakan jasa pengantaran. Jika terpaksa harus keluar rumah rencanakan sedmikian rupa sehingga tidak lama berada di luar rumah, dan tidak beramai-ramai.
Tetap menggunakan masker,
Selama berkegiatan, tetap menggunakan masker, untuk melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Jika tidak ada persediaan masker bedah, gunakan masker kain atau masker buatan sendiri. Saat ini banyak masker dengan model-model yang kekinian. Jika tidak ada masker sama sekali gunakan apa saja, kain, kerudung, saputangan, atau sesuatu lainnya sebagai pengganti masker.
Tetap jaga jarak
Jika harus berhubungan dengan orang lain, bertemu kawan, menunggu sesuatu, atau antri, lakukan dengan tetap menjaga jarak. Jarak aman minimal satu meter.
Ya, itulah bedanya lebaran kali ini. Tidak seperti lebaran lebaran sebelumnya, namun semoga berkah lebaran tetap bisa dirasakan oleh semua orang. Dan meski begitu, tidak akan kehilangan momen Lebaran dengan memanfaatkan teknologi. ada baiknya untuk menyiapkan diri dan mengetahui cara bersilaturahmi lewat dunia digital.
Berikut sejumlah aplikasi dan layanan digital yang dirangkum Antara untuk dapat dimanfaatkan menjelang dan pada saat lebaran.
Aplikasi kartu ucapan Lebaran
Kartu Lebaran umumnya dikirimkan kepada relasi, teman dan sanak-saudara menjelang Lebaran. Pengiriman kartu lebaran melalui kantor pos biasanya mulai ramai dua pekan sebelum Lebaran. Pada saat PSBB seperti sekarang ini, dapat memanfaatkan kartu lebaran digital.
Anda dapat memilih aplikasi-aplikasi cara pembuatan kartu ucapan lebaran tersebut di Play Store. Anda bisa mendesain sendiri kartu ucapan Lebaran dengan berbagai aplikasi. Dan dapat mengirimkan ucapan lebaran anda kapan saja sesuai keinginan.
Stiker/GIF
Jika kartu ucapan Lebaran dirasa kaku, Anda bisa menggunakan cara lainnya untuk bersilaturahmi adalah saling berkirim stiker maupun GIF di aplikasi pesan instan atau di media sosial.
Salah satunya, lewat Instagram, Anda dapat memanfaatkan GIF yang tersedia. Tinggal ambil atau pilih foto atau video yang diinginkan, kemudian klik ikon GIF. Setelah itu, ketik “lebaran” atau “Idul Fitri” pada kolom pencarian, untuk mendapatkan GIF dengan tema tersebut.
Panggilan video
Tidak ada yang menggantikan pengalaman bersilaturahmi secara tatap muka. Meski saat ini tidak dapat dilakukan secara langsung, Anda dapat melakukannya secara virtual dengan memanfaatkan sejumlah aplikasi dan layanan dari perusahaan teknologi. Sejumlah perusahaan raksasa mengembangkan layanan konferensi video yang dapat kita manfaatkan.
Jadi, meskipun sedang PSBB Anda tidak akan kehilangan momen Lebaran. Ada baiknya untuk menyiapkan diri dan mengetahui cara bersilaturahmi lewat dunia digital, tetap sehat dan lebaran dengan cara baru
Yayasan Visi Nusantara Maju bersama MAN (Maju Anak Nusantara), ALINEA (Aliansi Perempuan Peduli Indonesia), Koperasi Galang Visi Nusantara (GVN) dan Pusat Kajian Gender dan Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PKG-P3A) menginisisasi gerakan Dapur Vinus yang telah ada di 9 desa di Kabupaten Bogor. Gerakan ini merupakan bagian dari Gerakan Lawan Covid-19 dengan 2.000 Rupiah Dari, Oleh dan Untuk Kita Semua.
“Gerakan Lawan Covid-19 dengan 2000 Rupiah melalui Dapur Vinus Masak Bersama Makan Bersama berharap menjadi sebuah gerakan solidaritas antar sesama untuk tetap menjaga rasa empati dan peduli di saat pandemi Covid-19,” kata Yusfitriadi Ketua Yayaysan Visi Nusantara Maju dalam keterangan pers, Sabtu (23/5/2020).
Dapur Vinus telah dilaksanakan di berbagai titik lokasi di antaranya Desa Leuwisadeng Kecamatan Leuwisadeng, Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang, Desa Leuweungkolot Kecamatan Cibungbulang, Desa Barengkok Kecamatan Leuwiliang, Desa Cibeber 1 Kecamatan Leuwiliang, Desa Cibeber 2 Kecamatan Leuwiliang, Desa Cibitung Wetan Kecamatan Pamijahan, Desa Gunung Bunder Kecamatan Pamijahan, dan dan Desa Ciasihan Kecamatan Pamijahan.
Yusfitriadi, menuturkan, dapur vinus itu sebuah gagasan untuk melahirkan tradisi dan budaya solidaritas sosial dan kemanusiaan yang saat ini sudah mulai bergeser dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena konsep dapur vinus menggunakan beberapa keluarga yang membuat masakan lebih untuk tetangganya atau masyarakat lainnya.
“Dapur vinus hanya membuat gerakan stimulan saja, selanjutnya sangat berharap bisa muncul gerakan solidaritas yang digerakkan oleh masyarakat itu sendiri. Karena kita faham betul, dalam kondisi yang sangat susah ini, hanya kepemimpinan yang bisa membagun tradisi solidaritas yang mampu meminimalisir kesulitan masyarakat,” kata Yusfitriadi.
Yusfitriadi mengatakan respon warga dari berbagai desa tersebut sangat baik dan berterima kasih atas bantuan pangan yang sudah diberikan melalui Dapur Vinus ini.
” Karena Dapur Vinus ini memberdayakan kemampuan masyarakat dalam mengakomodir bantuan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dapur Vinus juga bekerja sama dengan berbagai gerakan yang ada di titik-titik lokasi, seperti dengan Ikatan Remaja Masjid, Pemuda Kampung, dan komunitas yang berbasis masyarakat inti lainnya,”ujar Yusfitriadi.
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ciasihan Jaris Sunardi mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bagus untuk dilakukan karena sangat membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sementara salah satu koordinator pelaksana Dapur Vinus di Desa Ciasihan Asep Saepudin mengatakan, Dapur Vinus di Desa Ciasihan melibatkan para Ibu Kader Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiah Ciasihan dan Ciasmara untuk memasak dan menyiapkan makanannya.
“Hal ini bertujuan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam gerakan-gerakan sosial.