Jakarta | Jurnal Inspirasi
Dana hibah ratusan miliar untuk organisasi pendidikan milik perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) yang dikucurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendapat sorotan. Mendikbud Nadiem Makarim menganggarkan hingga Rp595 miliar untuk program Organisasi Penggerak. Sejauh ini jumlah peserta yang lolos seleksi evaluasi ada 183 organisasi.
Hibah dana tersebut diberikan dalam program Organisasi Penggerak yang dibuat Nadiem untuk digunakan dalam pelatihan guru dan kepala sekolah. “Ketika saya telaah saya agak heran, organisasi seperti [Yayasan Bhakti] Tanato dan Sampoerna Foundation juga melamar dan memperoleh dana gajah,” ujar salah satu penggagas Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika, Ahmad Rizali.
Program ini dilakukan dengan melibatkan organisasi
masyarakat sebagai pihak yang membuat dan mengelola pelatihan guru. Ormas
diseleksi dengan cara mengirimkan proposal rencana pelatihan yang dievaluasi
Kemendikbud.
Jika lolos seleksi, maka organisasi masyarakat bakal
diberi dana yang besarnya sesuai kategori. Kategori gajah diberi dana hingga
Rp20 miliar, kategori macan dengan dana hingga Rp5 miliar, dan kategori kijang
dengan dana hingga Rp1 miliar.
Ahmad yang juga mengikuti seleksi tersebut mengatakan
keputusan Kemendikbud meloloskan kedua organisasi itu pada kategori gajah
dinilai tidak elok, karena keduanya merupakan organisasi CSR. “APBN tidak
pantas dihibahkan kepada organisasi yang didirikan dengan semangat membangun
CSR, karena mereka akan memperoleh keringanan pajak dari dana yang disisihkan
oleh perusahaan induk,” lanjutnya.
Ia menilai seharusnya Kemendikbud memberikan kesempatan
tersebut pada organisasi masyarakat yang benar-benar berkecimpung di dunia
pendidikan. Dari data organisasi masyarakat yang lolos evaluasi proposal,
Yayasan Putera Sampoerna lolos pada kategori Macan dan Gajah. Yayasan ini milik
PT HM Sampoerna Tbk.
Sedangkan Yayasan Bhakti Tanoto lolos pada kategori gajah
sebanyak dua kali. Pertama untuk pelatihan guru SMP, dan kedua untuk guru SD.
Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Tenaga Guru dan
Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril mengatakan pihaknya tidak ikut campur
dalam teknis seleksi peserta Organisasi Penggerak.
“Kami melibatkan lembaga independen [untuk seleksi
proposal pelatihan], yaitu Smeru Research Institute. Penentuan ormas yang lolos
dilakukan di mana Kemendikbud tidak intervensi,” katanya melalui
konferensi video.
Ia pun menegaskan pihaknya juga sangat berhati-hati dalam
menjalankan program ini karena melibatkan uang negara hingga ratusan miliar.
Untuk itu, ia menekankan seleksi dilakukan secara objektif tanpa memandang asal
organisasi.
“Dalam konteks implementasinya nanti juga sama.
Keterlibatan Itjen dan juga organisasi yang nanti kita libatkan, seperti KPK
juga penting untuk memastikan dana yang diberikan untuk peningkatan kualitas
pendidikan,” ungkapnya.
Pelatihan ini ditargetkan untuk menunjang kemampuan literasi dan numerasi guru serta kepala sekolah. Literasi dan numerasi adalah salah dua aspek yang ditekankan dalam asesmen kompetensi dan survei karakter yang menjadi pengganti ujian nasional (UN).
ASS |*