25.2 C
Bogor
Monday, April 13, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1290

Pulihkan Lahan Kritis, Kementan dan DPR Kompak Ajak Petani Pakai Pupuk Organik

0

Purwakarta | Jurnal Inspirasi

Dalam upaya mengembalikan kesuburan tanah, Kementerian Pertanian dan Komisi IV DPR RI mengajak petani mengubah metode budidaya tanaman ke organik.  Ajakan tersebut  disampaikan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Petani dan Penyuluh Kabupaten Purwakarta Wilayah Koordinasi Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor, di Purwakarta belum lama ini.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan dalam jangka panjang, dia ingin para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini.

“Hasil pertanian non pestisida itu kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” ujar SYL.

Terkait produksi pupuk organik Dedi Nursyamsi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mengatakan  petani, hanya perlu diberi pelatihan oleh para penyuluh pertanian untuk memproduksi pupuk secara baik.

“Tinggal diajarkan bagaimana mengumpul kompos. Itu memang butuh keahlian dan itu peran penyuluh untuk mengajarkan,” ucapnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan pemulihan lahan pertanian mendesak dilakukan. Caranya dengan mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik. Menurut Dedi lahan yang mulai jenuh akan mempengaruhi produksi pertanian. Untuk itu   petani diajak memakai pupuk kandang, pupuk kompos dan pupuk hijau mulai pengolahan tanah, tanam dan pencegahan organisme pengganggu tanaman (OPT). Iapun berharap setiap petani diberi hewan ternak dan menjalankan pertanian secara terpadu.

Membahas hal ini bimtek menghadirkan narasumber  Dimyati Ketua P4S Terpadu Ikamaja Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut dan Agus Ali Nurdin Ketua P4S Okiagaru Cianjur Jawa Barat. Selain teori belajar agribisnis sapi potong dan menjalankan pertanian organik Dimyati mengajak peserta praktek membuat  fermentasi pakan ternak,  pemanfaatan limbah ternak untuk membuat pupuk organik Bokashi,  dan membuat  pestisida hayati.

“Tujuan dari materi ini yakni mengajak petani megenal pertanian terpadu, dengan megedepankan bahwa pupuk organik menjadikan jembatan petani mandiri, “ ujar Dimyati.

Pemateri lain Agus Ali Nurdin membahas Mengenal Organisme Pengganggu Tanaman dan Musuh Alami. Guslee demikian ia akrab disapa, menyampaikan dengan materi ini peserta diajak mendeskripsikan organisme pengganggu tanaman dan musuh alami.

Kompetensi ini sangat penting dalam rangka pemeliharaan tanaman. Untuk mendukung kompetensi ini diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap tentang pengenalan organisme pengganggu tanaman, hama, penyakit  dan musuh alami. Untuk itu petani diajak langsung ke lahan praktek yang tersedia disekitar lokasi untuk langsung melakukan pengamatan.

“Dengan pelaksanaan bimtek ini petani  dapat membedakan antara hama dan serangga serta musuh alami tanaman, juga mengenal gulma dan penyakit tanaman, “  terangnya.

** Regi/PPMKP

HADITS HARI INI

0

09 Maret 2021
25 Rajab 1442 H

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَاللَّهُ الْمُعْطِي وَأَنَا الْقَاسِمُ وَلَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

Telah bercerita kepada kami Hibban bin Musa, telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy dari Humaid bin Abdur Rahman bahwa dia mendengar Mu’awiyah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang Allah kehendaki baik pada dirinya maka Allah akan pahamkan orang itu dalam urusan agama. Allah adalah Yang Maha Pemberi sedangkan aku hanya Al Qasim (yang membagi-bagi) dan akan senantiasa umat ini menang atas orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang urusan Allah, sedang mereka berjaya dengan kemenangan.

HR Bukhari No. 2884.

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

KLB Miliki Preseden Buruk

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Ada dua preseden buruk diungkap Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah atas sikap politik Presiden Joko Widodo menyikapi keterlibatan anak buahnya Moeldoko yang menjabat Kantor Staf Kepresidenan (KSP) melakukan gerakan pegambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dedi Kurnia Syah mengatakan, sikap dingin Jokowi mengkhawatirkan konflik antara Moeldoko dengan Partai Demokrat. Dedi kemudian menyampaikan ada dua pertanda yang akan menghantui Jokowi jika tidak segera menyampaikan sikap politiknya.  

Kata Dedi, jika Jokowi tidak segera mencopot, publik akan menafsirkan Jokowi tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Moeldoko. “Pertama, jika tidak memberhentikan Moeldoko dari kepala KSP maka ada anggapan presiden sekurang-kurangnya tidak mempermasalahkan apa yang telah dilakukan Moeldoko,” demikian analisa Dedi, Senin (8/3).

Penanda buruk kedua, dijelaskan Dedi, tindakan Moeldoko merupakan pertaruhan nama baik presiden Jokowi. Dengan demikian, analisa Dedi, apabila nantinya pemerintah lebih memilih mengakui hasil Kongres Luar Biasa sepihak yang dilakukan di Sibolangit, Deli Serdang, Sumut maka publik akan menyimpulkan bahwa gerakan “kudeta” memang direstui oleh orang nomor satu di Indonesia.

“Jika sampai pemerintah justru memihak pada putusan KLB yang tidak memenuhi syarat itu. Publik akan beranggapan jika langkah Moeldoko telah direstui Presiden,” demikian analisa Dedi.

Sedangkan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menduga ada maksud terselubung di balik upaya pengambilalihan Partai Demokrat. Pangi khawatir salah satu tujuannya agar Joko Widodo dapat menjadi Presiden untuk ketiga kalinya. Pangi merasa prihatin atas pihak Istana yang mengabaikan upaya Moeldoko merebut kepemimpinan Partai Demokrat. Menurutnya, hal itu memunculkan spekulasi di masyarakat akan maksud pihak Istana.

“Kita juga layak bertanya dan patut curiga agenda apa yang sedang di desain pemerintah? Mungkinkah amandemen UUD 1945 terutama kaitannya dengan periode jabatan presiden yang mau ditambah menjadi tiga periode? Apa pun agendanya, kita layak curiga karena cara-cara culas sudah pasti tujuannya akan merugikan kita semua,” kata Pangi dalam keterangan, Senin (8/3).

Pangi menilai, manuver politik Moeldoko patut dicurigai bukan hanya demi kepentingan pribadinya. Ia malah menyinggung kemungkinan bahwa Moeldoko cuma sekadar alat guna mencapai tujuan utama.

“Apakah dengan langkah sembrono dan ugal-ugalan itu Moeldoko mau jadi calon presiden 2024? Atau beliau melakukan itu semua atas restu Istana dan Moeldoko hanya pion untuk memuluskan ambisi politik yang sedang berkuasa?” sindir Pangi.

Selain itu, Pangi menyayangkan dengan praktik politik belah bambu yang menyasar partai oposisi. Ia menilai, hal itu sebagai cara berpolitik yang tidak etis di masa saat ini dimana penguasa sudah sangat dominan. “Apalagi komposisi koalisi pemerintahan hari ini sudah terlalu gemuk, enam dari sembilan partai di parlemen dengan total 75 persen kursi sudah menjadi bagian dari koalisi pemerintahan, apakah ini belum cukup?” ujar Pangi.

Pangi mengkritik praktik memecah belah partai oposisi lalu menjadikannya bagian partai koalisi pemerintah. Kondisi ini hanya menjadikan DPR kembali ke masa orde baru. “Sekadar stempel bagi kekuasaan, menjadi lembaga yes man,” ungkap Pangi.

Sebelumnya, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam KLB, Jumat (5/3). Kubu Ketua Umum Demokrat AHY dan Ketua MTP Demokrat SBY menyatakan KLB itu ilegal karena tak sesuai AD/ART partai. Keputusan Moeldoko sebagai Ketua Umum Demokrat periode 2021-2026 dibacakan oleh mantan kader Demokrat yang baru saja dipecat, Jhoni Allen. Pengangkatan Moeldoko sontak mengundang reaksi keras kubu Cikeas hingga menggelorakan “perang mencari keadilan”.

Kantor Staf Presiden menepis tudingan adanya keterlibatan Presiden Jokowi dalam manuver politik Kepala KSP Moeldoko. KSP menegaskan bahwa sikap Moeldoko merupakan keputusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan presiden.
Tenaga Ahli Utama KSP, Ali Mochtar Ngabalin menyampaikan, pihak istana kepresidenan atau Presiden Jokowi sekalipun tidak ada tendensi dan intervensi ke partai politik. Menurutnya, langkah politik Moeldoko adalah keputusan pribadi yang dijamin undang-undang (UU).

“Sikap, pikiran, dan pandangan beliau untuk aktif di Partai Demokrat adalah sikap pribadi. Itu sebabnya, kenapa saya menolak orang-orang yang mengaitkan sikap pribadi ini dengan keterlibatan Presiden Joko Widodo,” ujar Ngabalin, Senin (8/3).

Sementara pada Senin (8/3), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono melakukan safari ke beberapa lembaga negara. Tujuanya untuk memberikan data autentik tentang keabsahan struktur partainya. Beberapa lembaga itu di antaranya, Kemenkum HAM, KPU dan Kemenko Polhukam.

** ass

Peserta KLB Demokrat Marah

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Sejumlah peserta Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara mengaku berontak dan marah. Hal ini diungkap mantan Wakil Ketua DPC Demokrat Kota Kotamobagu, Gerald Piter Runtuthomas. Dia memberikan kesaksian selama mengikuti KLB karena tergiur iming-iming uang Rp 100 juta oleh penggerak KLB.

Namun kenyataannya, para peserta KLB hanya mendapatkan uang Rp 5 juta saja. Karena tak sesuai janji, para peserta KLB memberontak. “Yang pertama dari Maluku berontak, karena tak sesuai harapan tidak sesuai iming-iming, tidak sesuai janji,” katanya dalam video yang ditayangkan DPP Partai Demokrat, Senin (8/3).

Lantas, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang juga motor KLB, M Nazaruddin turun tangan. Nazaruddin memberikan uang tambahan sebesar Rp 5 juta kepada peserta KLB yang marah. “Kedua dari Papua mereka lakukan lagi pemberontakan tiba-tiba diamankan oleh Pak Nazaruddin begitu juga daerah lain terakhir Sulawesi Utara salah satunya saya,” lanjutnya.

“Kami memberontak karena tidak sesuai harapan tiba-tiba dipanggil dan ditambahin uang Rp5 juta oleh bapak M Nazaruddin,” ungkap Gerald.

Dia menjelaskan, awalnya mereka dijanjikan total Rp 100 juta jika mengikuti KLB meski bukan pemilik sah suara Demokrat. Dengan pembayaran awal Rp 25 juta setibanya di lokasi Kongres, kemudian Rp 75 juta dibayar belakangan. Kenyataannya, kata Gerald, dirinya hanya diberikan Rp 5 juta di awal. Total ia hanya mengantongi Rp 10 juta dengan tambahan dari Nazaruddin. “Total kita dapat uang Rp 10 juta,” tandasnya.

Gerald juga menceritakan sejumlah kejanggalan penyelenggaraan KLB Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara. “Yang menjadi rancu dalam proses KLB, yaitu pemilihan ketua umum,” dia.

Gerald mengatakan, pemilihan ketua umum dilakukan secara voting. Mulanya, pimpinan KLB bertanya kepada peserta siapa yang bakal dicalonkan menjadi ketua umum. Kemudian, kata dia, peserta menjawab Moeldoko. “Ditanya lagi, siapa lagi yang bisa menjadi calon ketua umum, para peserta berteriak Marzuki Alie, dicatat oleh pimpinan sidang dalam hal ini Pak Jhoni Allen,” katanya.

Setelah mendapat dua nama kandidat ketua umum, Gerald mengatakan Jhoni Allen meminta peserta berdiri, mengangkat tangan ke atas jika memilih Moeldoko. Hal yang sama dilakukan saat nama Marzuki Alie disebut. Namun, kata Gerald, Jhoni Allen tiba-tiba mengetuk palu dan menyatakan bahwa Moeldoko yang terpilih sebagai ketua umum. “Sementara Pak Moeldoko tidak ada di tempat KLB. Hanya ada Pak Marzuki Alie. Tapi sudah ditetapkan sebagai ketua,” ujarnya.

Kejanggalan kedua, Gerald mengungkapkan bahwa Moeldoko tidak terdaftar sebagai kader Demokrat maupun pimpinan ranting, cabang dan daerah. Namun, dalam tata tertib yang dibacakan Jhoni Allen, anggota dan kader Partai Demokrat dibuktikan dengan kartu tanda anggota, atau kader yang baru masuk KLB ditetapkan telah memiliki KTA dengan nomor khusus atau spesial.

“KTA Pak Moeldoko ini siapa yang tandatangan? Kan harus ditandatangani Ketua Umum. Kebetulan saya punya KTA juga yang ditandatangani oleh ketua umum waktu itu masih Pak SBY,” kata Gerald.

Sementara rencana pendaftaran hasil KLB Partai Demokrat ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) awalnya dijadwalkan Senin (8/3). Namun pendaftaran hasil KLB Demokrat ke Kemenkumham belum dilakukani. “Belum,” kata salah seorang penggagas KLB Demokrat, Hencky Luntungan.

Namun Hencky tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai jadwal pendaftaran hasil KLB Demokrat ke Kemenkumham. Hencky mengisyaratkan penyelesaian administrasi KLB Demokrat masih berlangsung. “Mudah-mudahan semua administrasi yang dibutuhkan sudah selesai,” sebut Hencky.

** ass

Hotma Sitompul dan Ketua DPC PDIP Kendal Kecipratan Fee Bansos

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Nama Hotma Sitompul disebut Adi Wahyono, tersangka sekaligus mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kepala Biro Umum Kementerian Sosial. Adi Wahyono mengaku pernah menyerahkan uang Rp3 miliar kepada pengacara kondang tersebut. Uang itu berasal dari fee vendor bansos Covid-19. Selain Hotma, juga ada pemberian uang kepada Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kendal, Ahmad Suyuti sebesar Rp2 miliar.

Hal itu diungkapkan oleh Adi saat bersaksi dalam persidangan kasus suap pengadaan Bansos di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (8/3). Adi yang juga menjabat sebagai Plt Direktur Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kementerian Sosial (PKBS) mengaku juga pernah dimintai sejumlah uang oleh Menteri Sosial Juliari P Batubara. “Jadi saya komunikasi dengan Pak Joko (PPK) untuk mengumpulkan fee setiap pak menteri meminta dana,” kata Adi.

Awalnya, Adi berbelit-belit saat ditanyakan ihwal permintaan apa saja oleh Juliari. Namun setelah jaksa KPK memintanya jujur terbuka, akhirnya Adi pun membeberkannya. “Dana operasional apa saja?” tanya jaksa. “Dari beli tiket ke Semarang lalu kemudian untuk bayar pengacara,” kata Adi.

Adi menjelaskan bahwa ada sebuah kasus yang menyidangkan seorang anak tapi tak didampingi oleh pengacara. “Jadi ada bagian di Kemensos yang menangani anak pak. Yang disidangkan di Pengadilan Tangerang itu tidak ada pengacaranya makanya pak menteri meminta untuk didampingi pengacara,” ujarnya.

Saat ditanya Jaksa siapakah pengacara itu, Adi pun menjawab Hotma Sitompul. “Pak Hotma Sitompul pak sebesar 3 miliar,” kata Adi. Adi juga mengaku, dia sendiri yang menyerahkan langsung uang tersebut. “Saya sendiri pak yang menyerahkan uang tersebut ke Pak Hotma,” ujarnya.

KPK sendiri beberapa waktu lalu sempat memeriksa Hotma, dan Hotma mengaku sudah mengembalikan uang tersebut. Hanya saja, Hotma mengaku pembayaran anak buahnya hanya 2-5 juta ketika itu. Bukan senilai Rp3 miliar seperti diungkapkan dalam sidang oleh Adi Wahyono.

Adi Wahyono juga menyebut ada pemberian uang kepada Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kendal, Ahmad Suyuti, sebesar Rp2 miliar dari fee Bansos Covid-19. Hal itu diungkapkannya saat bersaksi untuk dua orang terdakwa, yaitu untuk Harry Van Sidabukke yang didakwa menyuap bekas Menteri Sosial, Juliari P Batubara, senilai Rp1,28 miliar dan Ardian Iskandar Maddanatja yang didakwa memberikan suap senilai Rp1,95 miliar terkait penunjukkan perusahaan penyedia bansos sembako Covid-19.

“Ada rencana pemberian uang saat kunjungan ke Semarang untuk beberapa anggota PDIP,” kata Wahyono.

Uang itu, menurut Wahyono, didapat dari Pembuat Komitmen pengadaan bansos sembako Covid-19 pada Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso.

Santoso menyerahkan uang Rp2 miliar ke Wahyono di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, saat Batubara akan kunjungan kerja ke Semarang.

Uang berasal dari pengumpulan fee perusahaan yang mendapat jatah pengadaan bantuan sosial Covid-19 Kementerian Sosial. Jaksa kemudian memutar rekaman sadapan percakapan antara Wahyono dan Santoso. “Ada titipan duit dari Pak Menteri, acaranya tertutup nanti ta’ kirim,” demikian ucapan Wahyono yang disadap KPK kepada Santoso.

Belakangan Adi tahu bahwa uang Rp2 miliar itu untuk Ketua DPC PDI Perjuangan Kendal, Ahmad Suyuti. “Saya tidak tahu persis apa hubungan Pak Menteri dengan Pak Ahmad Suyuti, tapi Pak Menteri dari daerah pemilihan Kendal, Semarang, Kabupaten Semarang sama Salatiga,” kata Wahyono.

Ia pun mengaku pernah bertemu Suyuti saat pemeriksaan di KPK. “Saya pernah ketemu dengan Pak Suyuti saat istirahat di KPK, katanya yang menyerahkan uang itu Pak Kukuh (staf khusus menteri) tapi saya serahkan uang itu ke Pak Eko selaku ADC menteri,” kata Wahyono.

** ass

Dikudeta, Ketua KNPI Jadi Sasaran Adu Domba

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) digoyang perpecahan pasca pelaporan terhadap Permadi Arya (Abu Janda) atas kasus isu rasial. Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat KNPI, Gandung Rafiul N. Huda menegaskan, bahwa Haris Pertama merupakan Ketua Umum DPP KNPI yang sah sesuai Kongres KNPI XV di Bogor, 18 hingga 22 Desember 2020.

Penegasan itu menyikapi adanya Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menggelar rapat pleno di Hotel Rizt Carlton, Jakarta, Sabtu (6/3). Rapat pleno tersebut dipimpin Wakil Ketua Umum Ahmad A. Bahri dengan agenda mencopot Haris Pertama dari jabatan ketua umum.

Gandung pun mengingatkan salah satu musuh pemuda Indonesia saat ini adalah oknum pemuda yang suka mengintervensi organisasi untuk tujuan memecah belah dengan mengadu domba sesama anak bangsa. “Mental buruk tersebut pernah menjadi cara-cara khas penjajah melemahkan soliditas kaum muda,” ujar Gandung, Senin (8/3).

Menurutnya, DPP KNPI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Haris Pertama menjadi sasaran politik adu domba dari antek neo imperialisme tersebut yang antara lain dengan mendukung adanya rapat pleno abal-abal di Hotel Ritz Carlton pada Sabtu, 6 Maret 2021, yang dirilis media sebagai ajang “kudeta” Ketua Umum DPP KNPI yang sah dan legitimate.

Oleh karena itu, sebagai alumni GMNI, yang tegak lurus pada ajaran Bung Karno, dia menyatakan sikapnya mengutuk pelanggaran organisasi yang dilakukan oknum-oknum pengurus DPP KNPI di acara “Pleno Ritz Carlton” dan menyatakan pertemuan tersebut sebagai bentuk skenario jahat memecah belah pemuda Indonesia. “Menegaskan bahwa Haris Pertama adalah Ketua Umum DPP KNPI yang didukung barisan pemuda yang solid dan tegak lurus pada idealisme gerakan,” ujarnya.

Dia juga menyatakan ‘perang’ terhadap semua pihak yang terlibat pada agenda pemecah belah pemuda yang berupaya mendelegitimasi DPP KNPI melalui rencana “kongres bersama”.

**

Guru Agama tak Masuk Rekrutmen Kemendikbud

0

Jakarta | Jurnal Inspirsi

Para guru agama terus menyuarakan aspirasinya. Mereka meminta agar ada formasi bagi mereka dalam rekrutmen satu juta guru pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) itu ada menyikapi rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

DPP Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Mahnan Marbawi berharap pemerintah segera memasukkan guru PAI di sekolah dalam formasi PPPK, agar mereka tidak mogok mengajar dan tenang melaksanakan tugas mengajar serta mendidik anak bangsa menuju Indonesia emas.

“Sampai sekarang belum memasukan untuk formasi guru agama di sekolah. Atau pendidikan agama akan dihapus di negeri ini sampai tidak ada formasi untuk guru agama?” tandas Manhan.

Dia menyebutkan, sejak Desember 2020, DPP AGPAII telah melakukan focus grup discussion (FGD) dengan Kemendikbud, Kemenag, DPR RI Komisi VIII, dan Komisi IX. Saat itu mereka meminta agar guru agama diikutsertakan dalam rekrutmen PPPK tersebut mengingat sebagian besar guru agama statusnya honorer.

“Yang menjadi keprihatinan kami adalah tidak masuknya unsur guru agama dalam rekrutmen guru PPPK,” kata Manhan Marbawi.

Anggota AGPAII mencapai 235 ribu guru PAI di seluruh Indonesia. Dan 70 sampai 80 persen dari angka itu adalah guru honorer dengan tingkat kesejahteraan jauh di bawah UMR. Jika rekrutmen PPPK tidak menyertakan guru agama, lanjut Manhan, menunjukkan negara abai terhadap guru agama.

“Guru pendidikan agama diperlakukan tidak adil oleh negara, padahal mereka telah mengabdi berpuluh tahun dengan tingkat kesejahteraan memprihatinkan,” tegasnya.

Manhan mengaku tidak bisa menolak jika terjadi gerakan masal untuk melakukan mogok mengajar agama secara nasional bila tuntunan guru agama tidak dipenuhi. Guru agama hanya menuntut diberikan formasi PPPK agar punya kesempatan sama dengan guru mata pelajaran lainnya.

“Kami tidak bisa mencegah bila hal itu terjadi. Kami hanya meminta agar pemerintah baik Kemendikbud atau pun Kemenag, segera membuka formasi PPPK untuk guru pendidikan agama,” terangnya.

Dia mengatakan, tidak masuknya guru agama dalam formasi PPPK, menyebabkan guru agama Islam dari berbagai provinsi menyampaikan aspirasi ke DPP AGPAII agar diperjuangkan nasibnya.

Banyak guru agama merasa dizalimi oleh pemerintah. Bagaimana perasaan mereka di saat teman satu sekolah bisa ikut seleksi PPPK, sedangkan guru agama tidak bisa ikut seleksi, karena tidak ada formasinya.

“Jika sampai akhir Maret ini, rekrutmen satu juta guru PPPK tidak menyertakan guru agama maka teman-teman di berbagai daerah akan melakukan mogok mengajar secara nasional,” tegasnya. Dia memperkirakan untuk guru PAI saja yang akan mogok sekitar 188 ribu orang.

** ass

Cerdas Tangani Virus Corona

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Tenaga perawat dan sumber daya masyarakat (SDM) kesehatan lainnya memiliki risiko 3 kali lipat lebih besar terinfeksi Covid-19 meskipun pada negara yang pengendalian virus corona baik sekalipun.

Demikian hasil jurnal terbaru disampaikan Sekretaris Bidang Perlindungan Tenaga Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 dr Mariya Mubarika dalam Nursing Zoominar Episode ke-226 bertema “Perlindungan Perawat di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Senin (8/3).

Pada zoominar yang dihadiri 1.530 perawat se-Indonesia, baik dari zoom dan live YouTube, Mariya mengungkapkan banyak laporan dokter menyampaikan keluhan perawat khawatir tertular Covid-19. Perawat tidak memiliki tempat khusus ketika pulang ke rumah. Di tambah lagi terdapat bayi di rumah, orang tua dengan komorbid (penyakit penyerta), yang berakibat perawat bekerja dengan mental dilema antara tuntutan keselamatan diri dan orang tua.

“Ini jadi imbalance kerja dan kehidupan yang sadar atau tidak ini pernah dialami semua. Keluarga terlantar, dan kurangnya informasi akurat,” ujar dr Mariya Mubarika.

Ketua Bidang Advokasi Legislasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini dalam presentasinya mengajak tenaga perawat lebih cerdas dari virus. Artinya, perawat harus bisa memahami dengan benar karakteristik virus agar dapat menghindar atau jangan sampai tertular dari virus corona ini dan jika terinfeksi sekalipun tidak sampai parah, cukup di fase 1 yang tidak ada resiko kerusakan apa-apa pasca penyembuhan. Salah satunya dengan menjaga imunitas kesehatan tubuh tetap prima serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Namun, permasalahan di Indonesia, terutama tenaga kesehatan banyak yang tidak mengenali status kesehatan.

Perawat merasa tidak punya riwayat gula darah tinggi, dan hipertensi namun baru ketahuan setelah terinfeksi Covid-19. “Makanya penting mengetahui status kesehatan kita jika terinfeksi pun kita langsung bisa teratasi dengan baik. Dan sejauh data yang didapat saat ini bahwa imunitas yang dibentuk dari vaksin atau pasca infeksi sekalipun sangat individual, sehingga meskipun sudah divaksin harus tetap protokol kesehatan, agar tidak terinfeksi,” ujar dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Mariya mengimbau perawat mengupayakan skrining komorbid. Alasannya, orang dengan komorbid, seperti kolesterol tinggi dan diabetes dengan kadar gula tinggi mudah terinfeksi. Kemudian, jika terinfeksi Covid-19, pasien komorbid cenderung mudah sekali ke fase kritis dan untuk menurunkan kolesterol itu tidak bisa dalam satu dua hari, tapi bisa mencapai mungkin sampai tiga bulan.

Begitu juga dengan penderita diabetes melitus, Mariya menyarankan agar dilakukan pengecekan HB A1C. Penderita diabetes yang kadar gulanya stabil itu seperti orang biasa, tapi kalau gula darahnya tinggi dia memiliki tingkat risiko tinggi dan berpotensi masuk ruang ICU. Satgas Bidang Perlindungan Tenaga Kesehatan, kata Mariya berencana melakukan advokasi juga n ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar program skrining komorbid untuk tenaga kesehatan yang dilaksanakan di setiap daerah masing-masing ditanggung PEMDA, karena ini sangat penting.

“Bagi perawat yang memiliki komorbid jangan kecil hati. Asalkan terkontrol itu menjadi aman,” ujar Mariya.

Sebelum mengakhiri presentasinya, Ia meminta perawat terutama yang bertugas di ruang UGD menandai pasien dari tenaga kesehatan untuk segera mendapat penanganan cepat. Semua tenaga kesehatan terinfeksi Covid-19 bisa menghubungi layanan bantuan Helpline 117 ext.3 untuk mendapatkan penanganan. “Semua nakes harus selamat, jangan sampai masuk ke fase berat.”

Ketua DPP PPNI Bidang Pelayanan Dr Ati Suryamediawati, S.Kp, M.Kep membenarkan permasalahan yang banyak dihadapi perawat khususnya dalam menangani pasien terinfeksi Covid-19. Ati mengutip data rata-rata perawat memiliki angka beban kerja sebanyak 7-8. Artinya kemampuan beban adaptasi perawat untuk melayani pasien Covid-19 mampunya dua sampai tiga pasien. “Mereka dari diri sendiri rendah kemampuan adaptasinya,” ujarnya.

Anggota Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia ini mengatakan perawat merupakan tenaga kesehatan terbanyak dan paling lama kontak dengan pasien. Perawat juga memiliki banyak peran dalam menangani pasien. Mulai dari berperan sebagai konektor, langsung atau tidak langsung ke pasien, komunikator antara keluarga dan perawat, kolaborator untuk mengambil keputusan bersama. Hingga sebagai advocator membantu klien yang bermasalah dengan keluarga dan stigma dari masyarakat sekitar. “Perawat juga sebagai aplikator hingga menjelaskan ke masyarakat,”ujarnya.

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, ini mengatakan kunci perlindungan perawat yakni melakukan tugas berdasarkan kode etik organisasi profesi, standar pelayanan, standar profesi dan standar operasional prosedur (SOP). “Kalau teman-teman berpedoman pada ini bisa melindungi teman-teman,”ujarnya.

**w2n H

Wakil Ketua DPD Demokrat Jabar Minta KLB Bodong tak Disahkan

0

Parung | Jurnal Inspirasi

Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Asep Wahyuwijaya meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia dan Kemenkumham agar tidak menerima, melegitimasi apapun, keputusan yang dihasilkan dari KLB Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatra Utara karena bodong.

“Yang harus ditangkap pesannya adalah ketika ada pihak-pihak yang mencoba mengambil alih partai politik yang kebetulan hari ini dialami oleh Partai Demokrat, buat kita kedzaliman itu harus dilawan,” kaya Asep Wahyuwijaya ketika menghadiri reses di wilayah Parung, Senin (8/3).

Pria yang disapa AW menjelaskan, bahwa bukan semata-mata Partai Demokrat diobrak-abrik tetapi bangunan demokrasi yang ditumbuhkan dengan baik akan rusak. Sebab prilaku politik seperti itu kata dia, kurang beradab dan harus dihentikan.

“Ini sudah masuk dalam kategori dzalim yang sesungguhnya. Jadi kita harus serta merta bergandengan tangan secara internal Partai Demokrat yang resmi pengurusnya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, dari 514 DPC, 34 DPD harus menyelamatkan organisasi partai ini. Karena, kalau berhasil melawan kedzaliman ini maka demokrasi di Indonesia bisa diselamatkan. “Prinsipnya kita menemukan secara tekstual, secara ketentuan sesuai peraturan yang mana KLB gerombolan liar itu sangat tidak legitimed,” tuturnya.

Bahkan, ia mengaku, sepanjang informasi yang didapatkan, AHY selaku Ketua Umum itu membawa AD/ART yang dimiliki sudah disahkan oleh Kemenkumham. “Jadi disini Partai Demokrat dengan seluruh piranti dan kepengurusannya meminta kepada negara, Kemenkumham agar tidak menerima, melegitimasi apapun, keputusan apapun yang dihasilkan dari KLB bodong tersebut,” tegasnya.

** Cepi Kurniawan

Demokrat Lawan Upaya Pengambilalihan Paksa Partai

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Puluhan kader Partai Demokrat berkumpul di halaman Kantor DPC Partai Demokrat Kota Bogor, Senin (8/3). Mereka berkumpul untuk menyatakan penolakan terhadap Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat (5/3), dimana Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko didaulat menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bogor, R. Dodi Setiawan mengatakan bahwa seluruh kader partai berlambang mercy itu tegak lurus mendukung AHY sebagai ketua umum hasil Kongres 2020. “Kami tegak lurus mendukung AHY dan fatsun terhadap hasil kongres 2020,” ujar Dodi kepada wartawan, Senin (8/3).

Dodi menegaskan, DPP Partai Demokrat telah menyambangi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) pada Senin (8/3) untuk menyerahkan bukti keabsahan legalitas Partai Demokrat dibawah kepemimpinan putra sulung Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

“DPP sudah mendatangi Kemenkum HAM untuk menunjukan legalitas Partai Demokrat dibawah komando AHY. Makanya kami meminta negara untuk tidak mengesahkan hasil KLB,” ungkapnya.

Dodi menegaskan, berdasarkan investigasi DPP, banyak peserta KLB yang berasal dari partai politik (parpol) lain, yang sengaja ‘dibirukan’ secara tiba-tiba sebelum kegiatan ilegal itu diselenggarakan.

“Jadi bukan kader Demokrat. Banyak anggota parpol lain yang tiba-tiba menggunakan atribut Demokrat. Ada yang dulunya kader, kemudian keluar. Tapi saat KLB mereka ikut hadir. Selain itu, yang hadir juga banyak yang tak memiliki kapasitas dalam partai pada giat tersebut,” tegas pria yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Bogor itu.

Dodi menambahkan, Demokrat akan melawan seluruh upaya pengambilalihan paksa partai melalui cara-cara yang inskonstitusional. “Langkah tersebut jelas tidak etis, karena jelas inskonstitusional. Dan ini sangat mencederai iklim demokrasi Indonesia,” katanya.

Sementara itu, AHY meminta Kemenkumham menolak hasil KLB, sebab itu adalah kegiatan ilegal. “Meminta Kementerian Hukum dan HAM menolak dan tentunya menyatakan bahwa gerakan pengambilalihan kekuasaan atau kepemimpinan Partai Demokrat melalui yang para pelaku klaim sebagai KLB atau kongres luar biasa tanggal 5 Maret di Deli Serdang, Sumatera Utara, sebagai kegiatan yang ilegal, kegiatan yang inkonstitusional, kami sebut KLB abal-abal,” kata AHY seperti dikutip dari Kompas.

Kata AHY, pihaknya memiliki berkas lengkap dan otentik yang menunjukkan penyelenggaraan KLB tersebut tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat.

AHY menyebut peserta KLB Deli Serdang itu bukanlah kader-kader Partai Demokrat pemilik hak suara yang sah. “Mereka hanya dijaketkan, diberikan jas Partai Demokrat seolah-olah mewakili suara yang sah. prses pengambilan keputusannya pun tidak sah, kuorumnya tidak dipenuhi sama sekali, tidak ada unsur DPP,” ujar AHY.

Kata dia, berdasarkan AD/ART, KLB baru dapat diselenggarakan jika disetujui dan diikuti oleh sekurang-kurangnya 2/3 ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 1/2 ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Indonesia.

KLB juga harus disetujui oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang dijabat oleh SBY. Faktanya, sambungnga, syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi oleh penyelenggara KLB Deli Serdang.

** Fredy Kristianto