30.1 C
Bogor
Tuesday, October 27, 2026

Buy now

spot_img

Diduga Keracunan  MBG, 417 Siswa di Dramaga Dirawat di Rumah Sakit

‎‎Dramaga l Jurnal Bogor
‎‎Sebanyak 417 siswa yang berasal dari sekolah SMPN 1 dan 2 Dramaga, Kabupaten Bogor, mengalami gangguan kesehatan setelah diduga mengkonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (27/10/2026).‎

‎Ratusan siswa diduga mengalami keracunan setelah santap MBG hingga mengeluhkan sakit dengan  kondisi yang berbeda-beda.‎

Data sementara menyebutkan, sebagian siswa telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik, sementara lainnya masih menjalani perawatan medis.‎

‎Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi atau yang akrab disapa Jaro Ade, mengatakan pemerintah daerah bergerak cepat setelah menerima laporan mengenai banyaknya siswa yang mengalami gangguan kesehatan.‎

‎Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan medis secara optimal.‎

‎“Sebagian sudah dipulangkan ke rumah setelah dinyatakan membaik oleh tim medis. Sebagian masih dirawat di Puskesmas Dramaga, dan beberapa siswa lainnya dirujuk ke RSUD Leuwiliang serta Rumah Sakit Medika untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Jaro Ade.‎

‎Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor akan terus memantau kondisi para siswa hingga seluruhnya pulih. Pemerintah juga berupaya memastikan tidak ada korban yang luput dari penanganan.‎

‎“Data sementara siswa yang mengalami sakit di SMPN 1 Dramaga dan SMPN 2 Dramaga totalnya ada 417 anak. Prinsipnya, pemerintah daerah hadir untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak kita. Jangan sampai ada yang sakit di rumah tanpa diketahui, apalagi orang tuanya sedang bekerja,” tegasnya.‎

‎Terkait penyebab kejadian tersebut, dugaan sementara mengarah pada makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.‎

‎Sampel makanan telah diambil untuk menjalani pengujian laboratorium. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mengetahui kemungkinan adanya masalah pada bahan baku, bumbu, maupun proses pengolahan makanan.‎

‎Jaro Ade menilai program MBG merupakan upaya positif untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah. Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan.‎

‎“Program pemenuhan gizi ini adalah program yang mulia. Namun, tata kelolanya harus terus kita perbaiki dan evaluasi. Kami meminta seluruh pengelola SPPG untuk mematuhi standar operasional dan rekomendasi yang telah disepakati dalam setiap penyajian makanan,” katanya.‎

‎Pemerintah Kabupaten Bogor saat ini melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPPG dengan berkoordinasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN).‎

‎Langkah tersebut dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan program MBG sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di wilayah lain.‎

‎Pemkab Bogor juga menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan para siswa, termasuk menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.‎

‎“Semoga seluruh anak-anak kita segera pulih dan bisa kembali belajar seperti biasa. Perkembangan informasi mengenai hasil uji laboratorium dan pembaruan data korban akan terus kami sampaikan secara berkala,” pungkas Jaro Ade.‎

‎Hingga berita ini disusun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 417 siswa tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

(Arip Ekon)

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles