Leuwiliang | Jurnal Bogor
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggelar kegiatan edukasi publik melalui siaran radio program SEHATI (Sehat Setiap Hari) di Teman 95,3 FM pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan interaktif ini menghadirkan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, dr. Ardiansyah, Sp. KJ, sebagai narasumber utama untuk membahas isu krusial seputar kesehatan mental di era modern.
Mengangkat tema besar “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” (Pengalaman Nyata Didengar, Suara Nyata, Perubahan Nyata), perbincangan ini menekankan bahwa mendengarkan pengalaman hidup orang yang mengalami masalah kesehatan mental merupakan langkah awal yang esensial dalam memberikan dukungan serta memicu perubahan positif di masyarakat.
Dalam paparannya, dr. Ardiansyah, Sp. KJ, menjelaskan bahwa definisi kesehatan mental yang utuh mencakup kemampuan fisik, mental, spiritual, dan sosial individu dalam menghadapi tekanan hidup serta berkembang secara optimal. Namun, hingga kini stigma negatif terhadap psikiater masih cukup tinggi di tengah masyarakat, sehingga banyak pasien baru datang berobat ketika gangguan kejiwaannya sudah berada pada tahap berat.
Berikut adalah poin-poin penting serta sesi tanya jawab interaktif yang dibahas dalam acara tersebut:
1. Pengenalan Tanda Awal Gangguan Mental: Masyarakat diimbau untuk peka terhadap perubahan suasana hati (mood), kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, penurunan kualitas tidur, serta rasa apatis yang berlangsung terus-menerus.
2. Perbedaan Stres dan Gangguan Mental: Stres biasa merupakan reaksi sementara terhadap tekanan yang masih dapat dikelola sendiri, sementara gangguan mental ditandai dengan gejala berlanjut yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari selama lebih dari dua minggu.
3. Faktor Risiko Lintas Usia: Masalah keluarga, trauma masa kecil, perundungan (bullying), tekanan sosial, penggunaan zat adiktif/narkoba, hingga dampak negatif penggunaan media sosial menjadi pemicu utama kerentanan mental, terutama pada kalangan remaja dan dewasa muda.
4. Pengelolaan Stres Kerja dan Burnout: Disarankan untuk melakukan healing atau refreshing, menjaga komunikasi dengan keluarga, serta menghindari pengambilan keputusan besar secara terburu-buru saat kondisi emosional sedang tidak stabil.
5. Bijak Bermedia Sosial & Batasan Emosi: Pemanfaatan media sosial harus dijaga agar tidak menjadi sumber stres akibat bullying atau perbandingan sosial. Selain itu, saat mendengarkan teman yang sedang curhat, seseorang harus berempati namun tetap menjaga batasan emosi agar tidak ikut terbebani secara psikologis.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab interaktif, beberapa hal penting turut dikupas untuk menjawab kebingungan pendengar:
1. Kapan Harus ke Psikiater?: Seseorang dianjurkan segera berkonsultasi ke profesional apabila gejala psikologis atau perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari sudah berlangsung lebih dari dua minggu dan sangat mengganggu fungsi hidup.
2. Mengatasi Stres dengan Hiburan: Menonton film atau bermain gim dapat membantu mengalihkan pikiran sementara, namun jika sudah mengganggu pola tidur dan aktivitas, hal tersebut perlu dibatasi dan diimbangi dengan kegiatan fisik yang sehat seperti olahraga atau bersosialisasi.
“Orang yang perlu bantuan kesehatan mental ingin didengar, bukan dihakimi. Pengalaman hidup dan suara mereka perlu didengar agar terjadi perubahan nyata dalam sistem dukungan sosial kita,” tegas dr. Ardiansyah, Sp. KJ, saat menggarisbawahi pentingnya empati.
Secara tidak langsung, pihak manajemen rumah sakit juga menyampaikan bahwa deteksi dini, dukungan keluarga yang kuat, serta akses layanan kesehatan jiwa yang terbuka lebar sangat menentukan keberhasilan pemulihan pasien dari gangguan seperti depresi berat.
Melalui program siaran ini, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang berpesan agar masyarakat tidak ragu untuk segera berkonsultasi ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila merasakan gejala psikologis yang mengganggu, demi mewujudkan masyarakat Kabupaten Bogor yang sehat secara fisik maupun mental.
(say/cc)


