Nanggung l Jurnal Bogor
Ratusan warga yang menjadi konsumen Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) di Desa Bantarkaret, Nanggung, Kabupaten Bogor mengeluhkan akibat debit air yang menyusut. Keluhan warga bukan tanpa sebab, lantaran konsumen atau pengguna air itu per setiap bulannya harus membayar ke pengelola Pamsimas akan tetapi masyarakat masih kesulitan akan sumber air bersih sejak 4 bulan terakhir.
Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kasi Kesra) Desa Bantarkaret Makmur membenarkan, progam Sanitasi Pamsimas yang berada di wilayahya desanya dikeluhkan warga konsumen akibat debit air yang mulai mengecil. Tak sedikit warga yang datang ke desa, mengeluhkan saluran air dari Pamsimas itu.
Meski pengguna air Pamsimas setiap bulannya bayar, namun debit air yang disalurkan ke masing- masing rumahnya itu tetap saja kecil.
“Kondisi ini karena masyarakat merasa kesulitan karena krisis air bersih. Buat mandi juga susah, karena masyarakat kesulatan mendapatkan air bersih,” kata Makmur kepada Jurnal Bogor, Senin (17/8/2026).
Makmur atau biasa dipanggil Chemeonk berpendapat, seharusnya masyarakat tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan pasokan air bersih, sebab, pengelolaan Pamsimas yang sumber airnya dari perbukitan Berantas itu keadaannya masih normal dan masih mencukupi untuk dialirkan.
”Masih mencukupi, asal penyaluran air itu tidak keluar dari Desa Bantarkaret. Difokuskan, karena warga Desa Bantarkaret masih banyak yang membutuhkan pasokan sumber air bersih,” paparnya.
Masyarakat setiap bulan kena iuran dan harus membayar, dia berharap pengelola Pamsimas untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan agar saluran air yang diterima masyarakat berjalan maksimal.
Sementara, Dede Piter yang merupakan mantan Sekretaris Desa Bantarkaret dimana pembangunan Pamsimas 2020 lalu itu mengaku, tidak begitu mengetahui perihal program sanitasi air bersih yang kini banyak dikeluhkan masyarakat.
”Waktu itu tahu, cuman hanya sebatas perencanaan awal, setelah itu sampai Pamsimas itu dibangun kami sudah tidak mengikuti lagi karena sudah risen dan tidak bekerja lagi di desa lagi,” tandasnya.
Adapun masyarakat mengeluhkan saluran air Pamsimas mengecil, menurutnya, pengelola Pamsimas harus memperbaikinya.
”Jangan jadi alasan dengan kemarau panjang ini, sebabnya debit air dari sumber Berantas itu keadaanya masih normal dan masih cukup untuk dialirkan. Buktinya saluran air yang dimanfaatkan untuk kolam ikan Kawaci itu jelas sumbernya dari Berantas. Saluran air untuk kolam ikan termasuk stem mobil, itu masyarakat menggunakan air sisa dari sumber Berantas sepanjang 3 kiloan,” pungkasnya.
Sementara, pengelola Pamsimas Ahyani saat dikonfirmasi perihal tersebut tak merespons.
(Arip Ekon)


