Leuwiliang | Jurnal Bogor
Meski dalam kesehariannya sebagai Kepala Terminal Leuwiliang tipe B, namun Wahyu Hidayat bisa menjalankan usaha sampingannya beternak bebek petelur. Kiatnya yakni pandai-pandai membagi waktu antara tugas utama dan usaha sampingan.
Pada jam istirahat misalnya pukul 12.00 WIB, Wahyu Hidayat meluangkan waktu untuk memberikan pakan bebek. Usaha yang dirintisnya dengan memelihara ratusan bebek petelur terbilang baru, omzetnya pun belum signifikan. Tetapi langkah uji coba ternak bebek petelur harus dilakukan karena memberikan nilai tambah ekonomi.

”Yang penting tidak mengganggu jam kantor dan tetap melaksanakan kewajiban tugas seperti biasanya,” kata Wahyu disela sela saat memberikan pakan ternak bebek petelurnya, Kamis (30/7/2026).
Sebagai abdi negara, antara tugas pokok dan sebagai pelaku usaha ternak baginya tak masalah karena jarak kediamannya ke tempat kerja tak jauh hanya berjarak sekitar 300 meteran.
“Misal, di pagi hari bisa difokuskan pada pekerjaan sebagai kepala terminal. Saat istirahat siang, bisa dimanfaatkan dengan memberikan pakan hewan ternak,” pungkasnya.
Usaha ternaknya pun tak rumit, dengan memanfaatkan sisa makanan yang berasal dari dapur MBG, bebek petelurnya dikelola secara mandiri.
** Arip Ekon


