Megamendung| Jurnal Bogor
Tren ngopi yang terus naik membuat komoditas kopi hijau atau green bean semakin dilirik. Di Bogor dan sekitarnya, usaha jual beli biji kopi mentah seperti dalam foto ini mulai banyak dilakukan petani, pengepul hingga UMKM roastery.
Yusup, slah satu pengusaha UMKM Kopi Brand Rasio Kopi mengatakan, dalam 1 tahun terakhir permintaan green bean asal Bogor dan Puncak meningkat signifikan.
“Yang beli sekarang bukan hanya roastery besar. Banyak juga anak muda yang mulai usaha roasting di rumah. Belinya bisa eceran 1 Kg dulu seperti ini untuk coba profil sangrai,” ujarnya, Kamis 30/07/2026.

Harga green bean Arabika asal daerah Bogor dan Sukabumi saat ini berada di kisaran Rp150.000 – Rp250.000 per kg, tergantung proses dan ketinggian lahan.
Dengan menjual dalam bentuk green bean, petani tidak perlu mengeluarkan biaya sangrai dan kemasan. Sistem kemas vakum juga membantu menjaga kualitas agar tahan lebih lama saat dikirim ke luar kota.
“Ini menguntungkan dua pihak. Petani dapat harga lebih baik, roaster dapat bahan baku yang fresh. Rantai distribusinya jadi lebih pendek,” kata Yusup .
Di Kabupaten Bogor ada puluhan kelompok tani kopi di wilayah Cijeruk, Tamansari, dan Megamendung yang kini mulai mengolah hasil panennya sendiri.
Selain pasar lokal, permintaan ekspor juga mulai masuk. Beberapa negara seperti Jepang dan Malaysia melirik kopi single original dari Jawa Barat karena karakter rasanya.
Namun tantangannya tetap pada kualitas. Standar kadar air, ukuran biji, dan kebersihan harus dijaga agar bisa bersaing.
Pemerintah daerah pun didorong memberi pelatihan pasca panen dan bantuan alat pengering agar mutu kopi Bogor bisa naik kelas.
Dengan potensi pasar yang besar, usaha kopi hijau diyakini akan terus menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif dan pertanian di Bogor.
(Wawan Hermawanto)


