Bogor | Jurnal Bogor
Kelurahan Tegallega bersama Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) terus menggencarkan edukasi mitigasi melalui simulasi kebencanaan di sekolah-sekolah. Program tersebut dimulai di SMPN 3 Bogor dan akan diperluas ke sejumlah sekolah serta wilayah permukiman di Kelurahan Tegallega.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko mengatakan, kegiatan simulasi kebencanaan itu menjadi contoh gerakan mitigasi berbasis masyarakat yang lahir dari inisiatif aparatur wilayah melalui Keltana.
“Yang ingin saya sampaikan adalah apresiasi kepada jajaran aparatur Kelurahan Tegallega dan teman-teman Kelurahan Tangguh Bencana yang menginisiasi roadshow Sekolah Tangguh Bencana. Ini murni gerakan dari wilayah,” ujar Dimas, Rabu (20/5).
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang tengah dijalankan BPBD Kota Bogor secara bertahap di berbagai sekolah.
Dimas menilai, semangat kemandirian yang ditunjukkan Keltana menjadi kekuatan penting dalam memperluas edukasi kesiapsiagaan bencana di masyarakat.
“Mereka bisa menyebarluaskan virus mitigasi dan kesiapsiagaan. Ini tidak berhenti di sini,” katanya.
Ia juga mengaku terkejut dengan antusiasme siswa saat simulasi berlangsung. Awalnya kegiatan hanya ditujukan bagi pengurus OSIS, namun akhirnya melibatkan seluruh siswa sekolah.
“Ketika bicara bencana pasti panik, tapi siswa-siswi tadi menunjukkan bagaimana tetap tenang dan peduli terhadap teman-temannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman menegaskan pihak kelurahan akan terus mendukung seluruh kegiatan Keltana karena dinilai langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kelurahan Tegallega intinya men-support kegiatan Kelurahan Tangguh Bencana karena selalu beririsan dengan masyarakat. Jadi kami selalu mendukung kegiatan-kegiatan Keltana untuk memberikan rasa aman dan nyaman di wilayah,” kata Hardi.
Menurutnya, setelah pelaksanaan di SMPN 3 Bogor, kegiatan serupa akan diperluas ke sejumlah sekolah lain di wilayah Tegallega, mulai dari SD hingga sekolah luar biasa (SLB).
“Kita akan berkoordinasi dengan SD Malabar, SD Baranangsiang, SD Tegallega 1, SD Tegallega 2, TK Maksindo dan juga SLB Negeri Kota Bogor,” ujarnya.
Hardi mengatakan, kerja sama dengan SLB menjadi perhatian khusus karena berkaitan dengan edukasi mitigasi bagi kelompok rentan.
“Kaum rentan juga harus diberikan informasi terkait mitigasi bencana,” tegasnya.
Selain menyasar sekolah, Keltana Tegallega juga akan memperluas sosialisasi ke tingkat RW melalui program RW Siaga Kebencanaan. Saat ini Kelurahan Tegallega memiliki sembilan RW dan simulasi kebencanaan sudah dilakukan di RW 5 dengan fokus penanganan banjir.
Menurut Hardi, potensi bencana terbesar di wilayah Tegallega bukan longsor, melainkan banjir, gempa bumi dan pohon tumbang.
“Kalau longsor di Tegallega tidak terlalu banyak. Yang paling besar risikonya justru banjir, gempa bumi dan pohon tumbang,” tutupnya.
Ketua Keltana Tegallega, Sudarsono menambahkan, inisiatif roadshow simulasi kebencanaan ke sekolah muncul dari kepedulian warga terhadap pentingnya edukasi kesiapsiagaan sejak dini.
“Ini bentuk kepedulian kami sebagai warga. Kami fokus dulu ke ranah pendidikan,” kata Sudarsono
Ia menyebut, kegiatan di SMPN 3 Bogor baru menjadi langkah awal sebelum dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain di wilayah Tegallega, termasuk SLB dengan konsep simulasi yang disesuaikan.
“Next-nya mungkin kita ke sekolah luar biasa dulu karena tentu konsepnya berbeda untuk disabilitas,” ujarnya.
Untuk sementara, Keltana masih memprioritaskan sosialisasi di lingkungan sekolah sebelum menyasar instansi lain.
“Karena ini anak didik kita juga. Di Tegallega sendiri ada dua SMP dan empat SD. Insyaallah semuanya nanti akan kita datangi untuk simulasi kebencanaan,” tutup Suseno.
Kepala SMPN 3 Bogor, Reni Supriati mengatakan, simulasi kebencanaan menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan tangguh menghadapi situasi darurat.
“Simulasi ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami bahwa SMP Negeri 3 adalah sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan dan juga tangguh menghadapi bencana,” ujar Reni.
Ia menjelaskan, kegiatan simulasi melibatkan seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9, sementara sosialisasi materi kebencanaan diberikan kepada perwakilan OSIS.
“Kalau simulasinya semua siswa ikut. Tapi untuk sosialisasi materinya perwakilan OSIS,” katanya.
Reni berharap ke depan sekolah dapat memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga penanganan bencana, termasuk pemadam kebakaran, guna meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah terhadap berbagai potensi bencana.
“Mudah-mudahan nanti kita bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait supaya siap menghadapi bencana yang rawan terjadi di sini,” ujarnya.
Menurutnya, potensi bencana yang perlu diantisipasi di lingkungan SMPN 3 Bogor antara lain longsor dan banjir.
“Semoga kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi seluruh siswa dan lingkungan sekolah,” tutup Reni.n Fredy Kristianto


