31.2 C
Bogor
Tuesday, May 19, 2026

Buy now

spot_img

Rupiah Anjlok, Eksportir Dapat Penyeimbang Tekanan Biaya

Cibinong | Jurnal Bogor

Dewan Pengurus Kabupaten Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPK Apindo) Kabupaten Bogor memberikan tanggapan realistis terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sektor dunia usaha. Meski di satu sisi dinilai menguntungkan sektor orientasi ekspor, kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa fluktuasi mata uang ini tidak serta-merta mendatangkan lonjakan keuntungan (booming profit) bagi para pengusaha.
​Ketua DPK Apindo Kabupaten Bogor, Rizal SAH., mengungkapkan bahwa dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada karakteristik dan struktur bisnis masing-masing perusahaan. Bagi industri yang masuk dalam kategori net importir—terutama yang ketergantungan terhadap bahan baku, mesin, atau komponen impornya masih tinggi—situasi ini menjadi tekanan berat.
​”Pelemahan rupiah tentu memberi tekanan bagi pengusaha yang net importir. Biaya produksi dipastikan naik dan margin keuntungan berpotensi tertekan,” ujar Rizalsah dalam keterangan tertulisnya.
​Ia menambahkan, pengusaha net importir kini dihadapkan pada dilema yang sulit. Sebagian kenaikan biaya produksi mau tidak mau harus diteruskan ke harga jual produk. “Namun langkah itu tidak selalu mudah, karena pengusaha juga harus menjaga daya beli pasar yang saat ini sedang menantang,” jelasnya.
​Dampak Bagi Sektor Eksportir
​Di sisi lain, Rizalsah tidak menampik bahwa bagi perusahaan net eksportir, pelemahan mata uang garuda ini di atas kertas memberikan keuntungan tersendiri. Pendapatan dalam denominasi dolar AS akan bernilai lebih besar saat dikonversi ke dalam mata uang rupiah.
​Kendati demikian, Rizal SAH. meluruskan persepsi publik bahwa seluruh eksportir otomatis meraup untung besar. Sektor yang relatif diuntungkan biasanya adalah industri berbasis ekspor yang memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) atau kandungan lokal yang tinggi. Ia mencontohkan sektor komoditas, perkebunan, perikanan, furnitur, alas kaki, tekstil dan garmen tertentu, serta manufaktur ekspor.
​”Tetapi tidak semua eksportir otomatis mengalami booming profit. Hal itu sangat tergantung pada struktur biaya masing-masing perusahaan, porsi bahan baku impor yang digunakan, kepemilikan utang valuta asing (valas), serta kondisi permintaan pasar ekspor itu sendiri,” tegasnya.
​Kondisi Riil Perusahaan Regional
​Sebagai gambaran nyata di wilayah Kabupaten Bogor, Riza SAH. mencontohkan kondisi yang dialami oleh perusahaannya sendiri, di mana porsi pasar ekspor bergerak di angka sekitar 50 persen.
​Meskipun pelemahan rupiah diakui membantu mendongkrak pendapatan dari lini ekspor, situasi tersebut tidak lantas membuat kinerja keuangan perusahaan melonjak drastis tanpa hambatan. Tekanan dari pos-pos pengeluaran lain tetap membayangi operasional industri.
​”Bagi perusahaan kami yang sekitar 50 persen ekspor, pelemahan rupiah memang membantu dari sisi pendapatan ekspor. Namun, kami tidak menyebutnya sebagai booming profit,” kata Rizal SAH.
​Menurutnya, keuntungan dari selisih kurs tersebut habis terserap untuk menutupi kenaikan pos biaya lainnya yang ikut merangkak naik akibat efek domino ekonomi global.
​”Kami tetap menghadapi tekanan dari biaya bahan baku, biaya logistik, energi, serta dinamika kondisi pasar. Jadi, (pelemahan rupiah) ini lebih tepat disebut sebagai penyeimbang sebagian terhadap tekanan biaya, bukan lonjakan keuntungan otomatis,” pungkasnya.n Herry Setiawan

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles